BAHAYA BAHAGYA

(Photo by Josh Felise on Unsplash)

 

Kemarin kita baru saja memperingati hari bahagia internasional. Buku-buku laris di toko buku tak sedikit yang membahas kebahagiaan. Seminar dan pelatihan, belum lagi kelas-kelas edukasi, turut berlomba mengajarkan kebahagiaan. Iya bahagia itu penting. Tapi tak perlulah terfiksasi berlebih pada pencarian bahagia. Apa yang overrated akan mencapai titik jenuhnya.

Gak ada yang menyangkal bahagia itu penting dan baik bagi anda. Bahwa orang yang bahagia lebih sehat. Fisik pun psikologis. Luar dan dalam. Iya, gak salah kok. Tubuh dan pikiran itu dua entitas yang tak terpisah. Salah satu sakit ya yang lainnya ikutan. Kalau pikiran sudah tidak bahagia dan isinya yang buruk-buruk terus, ya hanya tunggu waktu saja tubuh pun memburuk. Baru saja kemarin ada om-om yang curhat di toko saya, bilang bahwa sejak pensiun satu per satu penyakitnya hilang. Tidak ada lagi beban pikiran. Bahagia lantas sehat.

Yang jadi bahaya adalah saat pencarian bahagia dikomersilkan, diglorifikasi berlebih, hingga menimbulkan ilusi-ilusi tak sehat bagi kita semua. Bahwa mencari kebahagiaan dan senantiasa bahagia adalah suatu kewajiban. Bahwa hidup anda belumlah hakiki ketika belum mencapai kebahagiaan nan sempurna. Nah, bahaya kan.

Karena manusia adalah makhluk dualistik yang jarang berada di satu titik spektrum saja. Senang dan sedih. Bahagia dan tidak. Suka dan benci. Tertawa dan menangis. Hidup itu terus berubah dan kita bergerak dari satu ujung spektrum ke ujung lainnya. Senantiasa. Ya sah-sah saja hari ini bahagia dan besok tidak. Sekarang menangis dan satu jam lagi tertawa. Homeostasis, keajegan untuk berada di satu kondisi saja, bisa jadi malah tidak sehat.

Kebahagiaan itu elusif. Saya suka sama salah satu tulisan yang saya lupa bacanya dimana. Kebahagiaan itu ibarat kupu-kupu yang sedang hinggap di pundak kita. Satu momen ia ada, lantas ia menghilang. Mau coba menangkapnya? Jangan-jangan malah kita menghancurkan dan membunuh kupu-kupu itu. Yang terpenting adalah menikmati kedatangannya, dan mengizinkannya pergi jika sudah saatnya. Sama kayak kebahagiaan. Usaha berlebih untuk mencari dan menjaganya bisa jadi malah menghancurkan kebahagiaan itu sendiri.

Lagipula dunia tidak bergerak maju di tangan orang-orang yang fokus hidupnya mencari kebahagiaan. Di balik setiap revolusi, penemuan-penemuan penting, pun kemajuan bersejarah, ada manusia-manusia yang diliputi kemarahan. Keresahan. Ketidakadilan. Penderitaan. Kalau Soekarno semasa hidupnya cuma fokus mencari kebahagiaan dirinya sendiri, mungkin kita belum merdeka. Kalau Einstein semasa hidupnya cuma fokus mencari formula kebahagiaan, mungkin dunia belum semaju ini. Ya gitu deh ngerti kan ya.

Jadi, sudahkah Anda bahagia? Kalau sudah ya bagus. Belum juga ga apa. Dunia terus berputar kok mau kita bahagia ataupun enggak. Yang baik dan buruk akan senantiasa datang. Hadapi dan nikmati saja. Saya gak protes kalau kita semua bahagia. Hanya saja jangan-jangan hidup tidak sekadar itu saja. Ye gak?

Jakarta, 21 Maret 2018
Okki Sutanto

Lingkaran Setan FPI

Photo by Bank Phrom on Unsplash

Membahas FPI itu seperti membahas kemiskinan atau kebodohan. Yang terjadi adalah lingkaran setan. Muter doang, ga kemana-mana. Ga faedah. Jalan di tempat. Hulu jadi hilir. Penyebab jadi dampak, lalu balik lagi jadi penyebab.

Ga punya uang maka pendidikan seadanya. Pendidikan seadanya maka kesempatan kerja juga seadanya. Kesempatan kerja seadanya maka pendapatan seadanya. Ya udah muter aja terus di situ. Selama negara gak hadir dan keadilan sosial belum terwujud, hampir setiap yang terlahir miskin ya akan di situ-situ aja. Lingkaran setan.

Sama halnya dengan kebodohan. Orang bodoh itu gak sadar mereka itu bodoh. Ga punya kemampuan mawas diri dan refleksi bahwa ada kebenaran lain di luar dirinya. Mau dikasih tahu bagaimana pun sama yang lebih pintar juga ujung-ujungnya defensif dan marah. Jadinya ya gak akan pintar-pintar. Terus aja bodoh dan bagi-bagiin berita hoax tiap hari. Yang bodoh makin bodoh. Berkutatnya di seputaran kenapa bumi itu datar dan kenapa ngucapin selamat natal itu haram.

Dan hal yang mirip-mirip terjadi seputaran FPI. FPI itu cuma organisasi masyarakat loh. Jumlah ormas itu banyak banget. Dan ga ada yang salah dengan ormas. Tapi kenapa kok kesannya FPI buruk banget dan sering banget bikin rusuh? Ya karena media gak pernah adil pada mereka. Tidak adil sejak masih di pikiran kalo kata Pram. Gak terpelajar.

Dari dulu yang diberitain dan digaungkan saat FPI ngerusuh doang. Pernah gak aksi-aksi sosial mereka disebut? Saat FPI berjibaku turun ke lapangan sehabis tsunami Aceh, jadi salah satu yang terdepan mencari jenazah korban tsunami? Saat aksi-aksi amar ma’ruf nahi munkar mereka betulan membasmi kemaksiatan di daerah-daerah dimana penegak hukum gak bisa diandalkan? Gak toh?

Yang diberitain kalau mereka bakar-bakaran. Demo-demoan. Bego-begoan. Terus situ berharap siapa yang jadi tertarik dan mau gabung sama FPI kalau gitu? Akademisi? Penemu bohlam? Dokter spesialis? Ya kagak lah tong. Jadinya ya ampas-ampas masyarakat yang tertarik sama FPI. Yang tertarik karena citra buruknya yang dibentuk sama media.

Jadinya semacam self-fulfilling prophecy juga, kan. FPI dicap sebagai tukang rusuh. Diperlakukan seperti tukang rusuh. Dimusuhin karena tukang rusuh. Ya jadinya tukang rusuh beneran lah. Situ guru? Coba aja sana ada murid yang dari awal situ cap bego. Situ anggep bego. Gak pernah dipeduliin. Lama-lama juga bego beneran dia. Itu mekanisme self-fulfilling prophecy. Jangan dicobain beneran, plis.

Maka saya sih gak heran kalau belakangan FPI sedang dimusuhi lagi karena berseteru dengan Tempo. Saya ga nyalahin Tempo pasti, tapi juga jadi sulit menyalahkan FPI. Wong dia dianaktirikan sama media sekian lama. Orang-orang baiknya juga keburu males kali berbenah di dalem. Udah terlanjur ancur. Jadinya yang bertahan ya yang emang suka rusuh.

Ya gitu deh kalau menurut saya mah. Jangan tanya solusi, saya juga bingung udah keburu kusut ini mah. Intinya ke depannya janganlah kita (dan media) ciptakan FPI-FPI berikutnya. Adillah sejak dalam pikiran. Benci perilakunya boleh tapi jangan benci pelakunya. Kalau kadung benci sama pelakunya, mau sebaik apapun dia ya gak akan kita anggap baik. Susah? Ya iya. Kapan sih idup itu gampang.

 

Jakarta, 19 Maret 2018.
Okki Sutanto

 

Hai Gie

freddy-castro-133326
Photo by Freddy Castro on Unsplash

Gie, apa kabar? Lama sudah ku tak menulisimu. Atau sekadar menyapa. Semoga kau tenang di sana, Gie. Usah resah. Sudah cukup kau resah semasa hidup. Kala menjadi mahasiswa, aktivis, pun dosen. Benar katamu, orang-orang seperti kita ini memang senantiasa resah. Ya hidup, kampus, pergerakan, pun negara kita resahkan. Padahal siapa kita ini coba? Hobi kok resah, dasar aneh. Ya tapi lebih baik resah deh ya, daripada apolitis dan apatis karena enggan berpikir kritis.

Di sana ada bioskop gak, Gie? Kalau ada, coba kau tonton Dilan, Gie. Ku ingin tahu komentarmu tentang film itu. Masak katanya rindu itu berat, Gie. Pun memukul guru dan membakar sekolah itu boleh, selama punya pembenaran. Sekeras-kerasnya kau semasa muda, juga pernah menulis “dosen yang tidak bisa dikritik lebih baik masuk tong sampah”, rasanya kita masih tahu adab dan batasan, ya. Tapi ya begitulah, Gie. Zaman sudah banyak berubah. Lelaki semacam Dilan justru kini digandrungi. Coba tonton film itu, lalu kita diskusikan. Kau masih suka diskusi film, kan?

Ya, banyak sudah berubah kini. Naik gunung sudah jadi gaya hidup, Gie. Ramai sekali gunung-gunung itu setiap akhir pekan. Dan tidak hanya komunitas pecinta alam, kini virus menggunung sudah mewabah. Sayangnya, sebagian besar tidak naik gunung untuk menyatu dengan alam atau membumi ke masyarakat. Mereka hanya mencari latar foto yang bisa dipandang unik dan keren oleh teman-temannya, dan kebetulan saja mereka memilih gunung. Untunglah zamanmu dulu belum ada Instagram, Gie. Bisa-bisa kau terusik naik gunung bersama mereka.

Belakangan sedang ramai, Gie, tentang adik kelasmu yang berjaket kuning. Tingkahnya menggelikan, ia menyemprit peluit dan memberikan kartu kuning pada kepala negara. Katanya bentuk protes, Gie. Hah? Kau bingung? Sama, Gie. Ku pun. Kenapa tak menulis di media seperti kita semasa mahasiswa dulu? Jangan bertanya padaku, Gie. Tanyalah sana pada adik kelasmu itu.

Ramai respon masyarakat, Gie. Banyak yang mencibir, termasuk aku. Tidak sedikit yang memuji karena katanya heroik dan berani, Gie. Ah, taik kucing mereka itu. Mengobral label heroik dan berani demikian murahnya. Kalau mau protes begitu sih tidak perlu mahasiswa, ya. Tukang parkir juga bisa sekadar menyemprit peluit ke presiden. Sungguh sensasi yang kosong esensi. Tidak lebih dari erupsi emosi yang minim aksi. Setuju kau, Gie?

Sekian dulu, Gie. Masih banyak sebenarnya yang ingin kuceritakan. Tapi biarlah itu nanti di surat-surat berikutnya. Tak ingin ku mengganggu istirahatmu lebih dari ini. Selamat menikmati kedamaian, Gie.

Jakarta, 9 Februari 2018
Okki Sutanto

Menelan Dilan Pelan-pelan

Dilan1990
Dari: http://img.jakpost.net/

Kali ini saya harus berterima kasih banyak pada media sosial. Karena begitu masifnya hiruk pikuk dan meme tentang Dilan dan Milea, akhirnya kemarin saya menyempatkan diri menonton Dilan 1990. Terima kasih untuk seratus delapan menit yang penuh nostalgia dan rasa syukur. Ya, rasa syukur. Syukurlah saya ga gitu-gitu amat zaman dulu. hehehe..

Menonton Dilan 1990 ya mau gak mau nostalgia ke masa SMA. Datang pagi ke sekolah naik motor demi ngelihat si doi? Pernah. Disetrap pas upacara karena baju ga rapih? Iya. Menyusup ke kelas lain dan kepergok guru? Pernah. Ngejar-ngejar anak pindahan dari kota lain? Nulis surat dan puisi? Berantem gara-gara cewek? Iyes.

Pernah semua deh rata-rata, eh tapi gak semua pas SMA sih. Ada yang pas SMP dan juga SD. Ya intinya masa sekolah lah. Gak terlalu signifikan juga, toh banyak gombalan dan obrolan di Dilan 1990 yang lebih cocoknya buat anak SD atau SMP.

Yang beda adalah jika Dilan beruntung menemukan gadis selugu dan sefiksional Milea, sayangnya saya tidak.

Coba saya samperin cewek baru pindah sekolah lalu ujug-ujug ngomong: “Saya ramal kita akan ketemu di kantin nanti”, yakinlah jawabannya tidak akan seperti di film. Mentok-mentok “JANGAN NGIKUTIN GUA LU STALKER!” atau “YA IYALAH DI KANTIN, KALO DI WC CEWEK KRIMINAL!” atau minimal dicuekin karena SKSD banget sih itu sumpah.

Untungnya Dilan bertemu Milea. Cewek yang tidak cerdas-cerdas amat padahal rajin baca buku. Cewek plegmatis yang ga bisa mengambil keputusan, padahal udah jelas pacarnya di Jakarta itu ga seru dan ga ada bagus-bagusnya selain bapaknya tajir. Cewek PHP yang baik ke semua cowok, padahal tahu semua cowok itu menaruh harapan. Tidak sulit berkata tegas dan menarik batasan yang jelas bahwa ia cuma menganggap mereka sebagai teman, tapi tidak tuh.

Lagi-lagi ini membawa saya ke masa SMP. Kala seorang cewek cantik bilang ke saya bahwa “Ga apa si Doni PDKT-in gua, gua mao tahu dia nembaknya gimana nanti.” Padahal dia jelas-jelas ga suka sama si Doni. Kan nyebelin yak. Padahal si Doni itu teman baik saya. Tapi ya seru juga sih emang liat dia PDKT dan nembak tapi ujung-ujungnya ditolak. haha.. Sadis juga saya ini.

Di balik semua keunikan dan kegombalan maha recehnya, Dilan itu ya bocah biasa. Tipikal berandal yang punya kebutuhan tinggi untuk jadi beda. Yang disalurkan melalui membaca sekian banyak buku, nulis puisi dan surat-surat romantis, dan……tawuran. Iya men, tawuran! Agak ga nyambung sih. Ibarat Rangga yang diam-diam ternyata panglima FPI. Atau Gie ternyata seorang pebalap liar. Tapi yaudahlah, namanya juga film.

Apalah saya ini cuma martabak keju kalau kata Dilan. Intinya saya ngiri kan pas zaman SMA gak ketemu Milea saya? Iya lah. Satu-satunya pelipur lara selama seratus delapan menit itu ya melihat cantik dan ayunya Milea. Cantiknya khas Sunda pula. Mojang Bogor-Bandung gitu. Gravitasinya kuat banget kalau buat saya euy! hehe..

Yah, akhir kata silakan menonton Dilan 1990. Tapi telanlah ia pelan-pelan, penuh kekritisan, karena bagaimanapun selalu ada jarak antara fiksi dan realita.

 

Jakarta, 30 Januari 2018
Okki Sutanto

Aku Membenci Maka Aku Ada

Descartes bisa saja berkata, “aku berpikir maka aku ada”. Tapi rasa-rasanya sih di masa sekarang kalimat tersebut tidak lagi relevan. Sekarang berpikir itu sudah jadi kemewahan. Barang langka yang hanya dimiliki segelintir masyarakat.

henry-be-253912
Photo by Henry Be on Unsplash

Ga percaya? Lihat saja betapa masifnya peredaran berita palsu, fitnah, dan hasutan. Yang kalau dipikirkan lebih kritis pasti tau itu cuma hoax. Atau betapa banyak pengikut teori bumi datar. Atau betapa banyak fans Manchester United yang masih yakin bisa menjuarai liga primer tahun ini. hehe.. Bercanda bro, saya juga fans MU, tapi saya masih realistis kok.

Zaman sekarang, berpikir itu bukan suatu prasyarat lagi bagi masyarakat. Eksis dahulu, mikir kemudian. Benci dahulu, benar dan salah belakangan.

Merasa ga sih, belakang ini membenci itu makin ngetren? Ada sebuah upaya masif dan terstruktur, untuk mengarusutamakan kebencian. Masyarakat teramat sering dibagi menjadi dua kutub tanpa boleh berada di tengah. Pro pemerintah atau anti pemerintah? Muslim apa kafir? Ngucapin natal apa nggak? Dukung LGBT atau anti LGBT? Vaksin apa nggak? Bumi datar apa bumi bulat? Pro ulama apa benci ulama? Messi apa Ronaldo? Raisa apa Isyana? Jonru apa Denny Siregar?

Kita dihadapkan pada segitu banyak situasi, dimana kita harus berdiri di titik ekstrem. Kita harus memilih salah satu, dan membenci yang lainnya. Seakan-akan kita ga bisa netral dan bersikap “biasa saja”. Padahal, kita ini sebenarnya masyarakat yang punya kecenderungan netral loh.

Lupa ya di masa perang dingin, dimana dunia terbelah blok timur dan barat, INDONESIA justru salah satu PEMRAKARSA Gerakan Non Blok. Bung Karno itu loh, yang sering dibilang eksentrik dan berani, pede-pede aja tuh berdiri netral di tengah tanpa berpihak. Atau ngisi kuesioner juga, kebanyakkan kita tuh jarang milih titik ekstrem setuju banget atau tidak setuju banget. Kita lebih condong ke tengah-tengah, netral. Ya agak setuju lah. Ya agak tidak setuju lah. Ga ekstrem-ekstrem amat.

Masa sih kalau dukung Messi harus benci Ronaldo? Masing-masing punya kelebihan dan karakternya sendiri, kan. Mungkin tiap orang ya simply punya selera dan kecocokkan dengan salah satu saja. Ga harus benci. Masa sih kalau beragama Islam harus banget benci sama agama lain? Harus banget kafir-kafir dan najis-najisin agama lain?

Ya bisa jadi masyarakat sebenarnya ga mau terkutub dan terkotak-kotak begini. Masyarakat kita cenderung netral kok. Sayangnya, kita juga kian malas berpikir. Dan hal ini dimanfaatkan oleh segelintir orang, bisa dengan jubah ulama atau politisi, untuk menebar kebencian.

Kebencian itu komoditi yang amat mudah dijual. Tahu kenapa? Karena dengan membenci dan merendahkan orang lain, kita jadi merasa lebih baik. Harga diri kita terselamatkan. Ingin merasa pintar? Bodoh-bodohi saja orang lain terus menerus, lama-lama juga kita merasa lebih pintar. Ingin merasa beriman? Kafir-kafirkan saja orang lain, nanti juga terasa kita lebih suci. Simpel kan? Obat ajaib yang bisa mengubah manusia-manusia pemalas yang enggan berpikir, jadi lebih tinggi derajatnya.

Maka jangan heran, jika kebencian mudah ditemui dimana-mana. Dan jangan juga kaget, jika konflik dapat dengan mudah disemai. Jerami sudah mengering. Tinggal tunggu api dipantik saja sampai kebakaran besar ini jadi kenyataan. Berlebihankah saya? Terlalu paranoidkah? Ya semoga saja. Saya sungguh berharap kali ini saya salah.

Singapura, 11 Januari 2018
Okki Sutanto

Catatan Akhir Tahun

michal-grosicki-366023
Photo by Michał Grosicki on Unsplash

 

Banyak manusia merindukan sesuatu yang konstan. Mencari pelarian dari begitu banyak hal yang senantiasa datang hanya untuk pergi kembali. Seperti debur ombak, yang kerap datang menyetubuhi bibir pantai, hanya untuk sejenak kemudian kembali pergi ke laut lepas. Seperti matahari, yang setiap pagi memberi salam, hanya untuk tenggelam kala tiba sang malam.

Sayangnya, sedikit sekali hal yang konstan dan abadi. Yang konstan itu hanya perubahan, kata orang bijak. Pun waktu, yang berlalu demikian cepat. Detik demi detik. Hari demi hari. Dan dalam hitungan hari, tahun ini pun akan segera berganti.

Buat saya, salah satu yang konstan itu adalah pembelajaran. Tiap momen, tiap kesempatan, tiap tahun, senantiasa ada hal baru yang dipelajari. Maka izinkan saya mencatat dan merefleksikan kembali sejumlah pelajaran yang saya dapat di tahun 2017 ini.

AH ELAH INTRONYA PANJANG BANGET BELOM SAMPE MANA MANA NYET! INI CATATAN APA PIDATO KEPALA SEKOLAH PAS TUJUH BELASAN! hahahaha.. Maap keleus. Saya bukan Fahri yang mahasempurna dengan segala kelaki-lakiannya.

Yang pertama adalah betapa tidak pentingnya PENGKULTUSAN dan pengidolaan terhadap seseorang. Seseorang itu, sebaik apapun terlihatnya, punya “harga” dan “keterbatasan”. Tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang bebas cela. Semua bisa mengecewakan. Semua bisa menjilat ludah sendiri. Saya sih ga mau kasih contoh. Tapi kurang lebih macam Aung San Su Kyii. Anies. Pun Trudeau dan Macron. LAH APANYA YANG GA MAO KASIH CONTOH SIH, INKONSISTEN LU KI!

Yang kedua adalah pentingnya MERELAKAN. Merelakan tanpa menghela nafas itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi yang sudah terjadi ya memang harus terjadi. Rezeki-rezeki yang hilang karena tangan-tangan jahil. Pintu-pintu yang tertutup karena ketidaksengajaan. Jembatan-jembatan yang terbakar karena api masa lalu. Banyak deh, pokoknya. Yang paling nyesek itu ya saat saya harus merelakan Raisa kepada Hamish. GA LAH BERCANDA, RAISA ITU BIASA AJA GA CAKEP-CAKEP AMAT! **bersiap disambit lelaki se-Indonesia**

Yang ketiga adalah tentang KESEDERHANAAN. Sejak menonton film dokumenter Minimalism, banyak yang saya konstruksi ulang dalam pikiran saya. Ada hal-hal yang tak lagi mengganggu pikiran saya. Ada barang-barang yang tak lagi “mengikat” saya. Ada pemicu-pemicu stres yang tak lagi saya pedulikan. Hidup itu simpel. Yang bikin ribet itu konstruksi realita yang seringkali kita buat-buat di dalam pikiran kita sendiri.

Yang keempat menyoal KESABARAN. Berjalan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, jauh lebih baik daripada berjalan di tempat. Apalagi enggan bergerak karena merasa beban itu terlalu berat. Tesis yang tak usai-usai itu toh selesai juga. Bisnis yang tak terbang-terbang itu toh lepas landas juga. Buku yang tak tamat-tamat itu toh terbaca juga. Satu langkah maju tetap lebih baik daripada seratus langkah mundur. YA IYALAH NENEK-NENEK CREAMBATH JUGA TAU KELEUS! INI KALIMAT APAAN!

Yang terakhir menyoal INOVASI DAN BERPIKIR KREATIF. Dua hal ini jadi jauh lebih saya perhatikan, terlebih selepas membaca buku Originals karya Adam Grant. Melihat hal yang sama dengan kacamata yang berbeda (vuja de, kebalikan dari deja vu). Senantiasa menantang kestabilan dan cara-cara konvensional. Selalu kritis pada pikiran sendiri pun orang lain. Hal ini membuat saya melihat berbagai aspek kehidupan secara berbeda, ya bisnis, ya relasi, ya struktur sosial, dan lain sebagainya.

Ya, mungkin demikian hal-hal yang saya pelajari. Mungkin ada yang lupa saya tulis, ya tak apa, saya sudah belajar merelakannya. hehe.. Terima kasih 2017! Yuk kita kemon, 2018!

Jadi… Apa yang sudah Anda pelajari di tahun ini?

Jakarta, 30 Desember 2017
Okki Sutanto

Ilusi Anti Korupsi

neonbrand-315896
Photo by NeONBRAND on Unsplash

 

Tidak sulit berkata bahwa kita ini anti korupsi. Bahwa kita ini pendukung KPK. Bahwa kita benci, menghujat, dan mengutuk tiap koruptor. Semua seakan satu suara merundung sang koruptor saat ia menabrak tiang listrik. Kita semua seakan satu suara membela KPK saat diserang oleh DPR. Tapi, apa yakin kita semua ini anti korupsi?

Kalau satu Indonesia sudah satu suara anti korupsi mah, yakin deh angka korupsi kita ga setinggi ini. Kalau satu Indonesia ini mulai dari anak kecil, ibu-ibu, bapak-bapak, tukang ojek, sampai mahasiswa dan pekerja kantoran semuanya anti korupsi, ga akan deh korupsi menggeliat dimana-mana.

Berteriak anti korupsi itu mah gampang, apalagi di depan publik. Itu kan memang norma yang diharapkan oleh masyarakat. Jawaban wajib pelajaran PPKN. Macam buang sampah sembarangan. Semua juga tahu jawabannya ga boleh. Nyatanya? Ga di kali ga di jalan tol kok. Banyak tuh yang buang sampah sembarangan.

Sejumlah riset Psikologi di Amerika menemukan adanya fenomena rasisme modern. Dimana orang bule menyatakan bahwa mereka anti tindakan rasialis, tapi saat memilih sekolah untuk anaknya mereka memilih yang ga ada siswa kulit hitamnya. Di saat mereka bilang semua ras itu sederajat, tapi menghindari pemukiman dan acara yang diikuti oleh ras kulit hitam. Intinya beda di mulut, beda di hati dan perbuatan.

Jangan-jangan kita juga begitu. Sok-sokan doang anti korupsi. Padahal mah kalau ngantri hobi nyerobot. Kalau lampu merah mah nyelonong. Kalau minta kuitansi buat belanja rumah atau kantor mah minta nominalnya dilebihin. Kalau ujian ya nyontek. Trotoar sih disikat pas naik motor. Kalau keluar tol atau putar balik wajib ambil jalur kelima yang paling luar, biar cepet meski bikin macet. Kalau cari pacar mah hobinya nikung di detik-detik terakhir. Eh, yang terakhir salah konteks kayaknya.

Ya gampanglah bilang anti korupsi pas kita ga punya kesempatan nyuri duit negara. Pejabat bukan, pengusaha gede bukan. Mao korupsi apaan? Sama mudahnya kayak bilang anti LGBT, saat diri sendiri pun keluarga ga ada yang LGBT. Sama mudahnya bilang orang lain itu kafir, saat semua teman kita itu ya emang ga makan babi. Gampang banget membenci sesuatu yang kita ga kenal. Kan katanya tak kenal maka tak sayang. Ya gampang banget emang sok-sokan benci korupsi, padahal kalau udah kenal mah sayang juga.

Tulisan ini tentu tidak bermaksud menyadarkan bahwa kita semua itu koruptor dan kita harus toleran terhadap korupsi. Tapi yuk mari introspeksi diri sama-sama. Benar ga sih kita ini anti korupsi dalam setiap aspek kehidupan? Sudah belum kita ini mengajarkan pada generasi penerus bangsa bahwa tindakan curang dan melanggar hukum sekecil apa pun itu tidak benar? Sudahkah kita di lingkungan terkecil kita berhenti bertoleransi pada bibit-bibit korupsi?

Kalau bapaknya aja ngelindes trotoar, nyelonong lampu merah, dan lawan arus pas nganterin anaknya sekolah, masa mau berharap anaknya pas gede anti korupsi? Ga sinkron pak! Lu tabrak aja tu tiang listrik biar benjol segede bakpao.

 

JAKARTA, 4 DESEMBER 2017
Okki Sutanto