Gutenberg, Media Sosial, dan Pemerataan Kebodohan

nordwood-themes-359015
Photo by NordWood Themes on Unsplash

Meski meninggal dalam kemiskinan dan tidak dikenal luas, sumbangsih Gutenberg pada dunia amatlah signifikan. Berkat penemuan mesin cetaknya di abad ke-15, Gutenberg memantik revolusi pengetahuan. Buku dan pengetahuan tidak lagi menjadi milik segelintir orang kaya saja, tapi juga bisa dinikmati masyarakat luas. Kitab suci yang sebelumnya hanya dimiliki gereja, menjadi mudah ditemui. Secara simbolik, kebenaran tidak lagi terkungkung rapat di balik petinggi gereja pun bangsawan. Kini kebenaran dimiliki masyarakat luas.

Tanpa Gutenberg, bisa jadi zaman pencerahan dan era Renaissance mundur beberapa ratus tahun atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Berkatnya, pengetahuan baru bisa tersebar luas dengan cepat. Diskursus bisa terjadi dengan mudah. Sebelumnya, buku dan segala tulisan umumnya ditulis manual dengan tangan. Kebayang kan, betapa sulitnya pengetahuan dan kebenaran tersebar luas ke khalayak? Ibarat zaman SD kudu bikin contekan nulis di kertas semalaman suntuk. Sekarang tinggal jepret foto, bagikan di WhatsApp, satu sekolahan tahu jawabannya dalam hitungan detik.

Revolusi pengetahuan yang digulirkan oleh Gutenberg membuat semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam pembelajaran. Pemerataan terjadi. Banyak orang bisa mengakses kitab suci, surat kabar, pun buku-buku terbaru. Ini salah satu tonggak penting dalam sejarah perjalanan kita sebagai Sapiens.

Di abad ke-21, revolusi berikutnya hadir: media sosial. Mirip seperti era Gutenberg, kini pemerataan terjadi. Semua orang mendapat kebebasan yang baru. Kita semua terkoneksi dan batasan jarak pun waktu menjadi nyaris tidak ada. Tidak ada lagi ketimpangan kesempatan untuk eksis. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bersuara dan melantangkan pendapatnya. Melalui dinding Facebook, melalui grup WhatsApp, atau melalui beragam cara lain yang tersedia berkat internet. Inikah revolusi berikutnya yang akan membawa peradaban menjadi jauh lebih maju lagi? Eits, tunggu dulu.

Will Smith dalam salah satu wawancara pernah menyebutkan bahwa zaman internet dan media sosial amatlah mengerikan. Setiap orang, khususnya di masa muda, pasti pernah melakukan kebodohan. Jika dulu orang bisa melakukan banyak hal bodoh tanpa harus diketahui khalayak, kini tidak. Setiap kebodohan bebas tersiarkan dan tersebar luas pada khalayak tanpa tersaring. Dan sekali terpampang di internet, tidak ada cara untuk menghilangkannya.

Sayangnya, di tengah berbagai kemungkinan dan potensi lain yang bisa dihadirkan oleh media sosial, kekhawatiran Will Smith di ataslah yang kerap terjadi. Setiap orang bebas mempertontonkan kebodohan tanpa batas. Dan seringkali mereka tidak sadar bahwa yang apa mereka lakukan adalah bodoh. Akibatnya, yang terjadi sekarang adalah pemerataan pembodohan.

Saat orang bijak cenderung mawas diri dan berpikir berkali-kali sebelum berpendapat, mereka yang bodoh tanpa ragu melantangkan pendapatnya karena mereka yakin itu adalah kebenaran. Maka jangan heran ketika konten dan materi yang mendominasi di media sosial adalah kabar bohong dan misinformasi.

Jika seribu orang diberi mikrofon, berapa seringkah kita akan mendengar nyanyian merdu macam Via Valen? Jangan-jangan, sebelum diberi mikrofon, pertama-tama kita harus diajari dulu dua hal: Yang pertama adalah teknik menyanyi, sehingga seburuk-buruknya kita menyanyi masih layak didengar khalayak. Yang kedua dan terpenting: sebuah kesadaran bahwa tidak semua mikrofon harus digunakan untuk menyanyi.

Mungkin ada yang perlu menggunakannya untuk sekadar memperkenalkan diri. Atau untuk berpidato. Untuk memberi pengumuman. Untuk menegur jika ada yang salah. Atau untuk dilempar ketika ada penyanyi fals yang memaksakan diri terus menerus bernyanyi.

Jakarta, 14 November 2017
Okki Sutanto

Seminggu Gubernur Baru

samantha-sophia-199598
Photo by NordWood Themes on Unsplash

 

Tepat seminggu sudah Jakarta punya gubernur baru. Kalau anak alay pacaran, pasti dirayain nih. Week-versary! hehe. Ya anggap saja saya alay, deh. Jadi kudu “merayakan” seminggu perjalanan pemimpin baru di Jakarta. Setidak-tidaknya dengan satu tulisan ga penting. hehe..

Sebenarnya agak susah menggambarkan apa yang dirasakan terkait gubernur baru, tapi gampangnya kita pake analogi saja deh. Perasaan ini tuh mirip-mirip kayak nonton Transformers yang terakhir. Sebenernya saya ga memilih untuk nonton film ini, tapi karena “kalah voting” ya apa boleh buat. Sebenernya saya ga suka-suka amat sama film sejenis ini, tapi yaudah lah toh tiket sudah dibeli. Dan terakhir, sebenernya saya udah ga menaruh harapan apa-apa pas nonton. Tapi entah kenapa, dengan ajaibnya film ini tetap sukses MENGECEWAKAN.

PERSIS! Kurang lebih begitu perasaan saya. Sudah ga naruh harapan apa-apa, tapi masih bisa dikecewakan. Ini ajaib, sih. Momen-momen yang seharusnya bisa lewat dengan biasa-biasa saja, tak gitu berkesan, entah mengapa bisa penuh kesan negatif dan kekecewaan.

Pidato pelantikan, misalnya. Ini bisa banget berlalu tanpa hujatan. Minimal tak berkesan, deh. Cukup kalimat-kalimat normatif, penuh syukur dan ajakan membangun, macam pidato kepala sekolah yang bikin ngantuk pas upacara bendera. Bisa kok! Eh, ajaibnya malah berujung polemik, pendikotomian masyarakat, dan penistaan terhadap sejarah.

Hari-hari awal kerja, misalnya. Bisa banget berlalu dengan adaptasi dan liputan-liputan membosankan. Pelajari sistem ini misalnya, berkenalan dengan dinas itu, misalnya. Eh, entah kenapa jadi ajang “kampanye” yang penuh dengan pesan ofensif terhadap rezim terdahulu. Dari peraturan pakai sepatu, sampai mengkritik macetnya Jakarta. Ya elah udah jadi Gubernur masih aja baru tau Jakarta macet? haha..

Akhir pekan pertama, lebih-lebih. Bisa banget berlalu dengan acara seremonial minim pemberitaan. Gunting pita di sini, hadiri perkawinan warga di sana. Yang netral-netral deh pokoknya. Eh, entah kenapa bisa berujung tindakan “semau gue” di wilayah tetangga. Duh, beneran deh. Udah miskom sama polisi, minta diistimewakan kebangetan, buat klarifikasi dan justifikasi yang malah ketahuan blundernya.

Intinya seminggu ini lucu, deh. Kayak lagi nonton sitkom, yang sayangnya ternyata berita politik beneran.

Ini baru seminggu loh, belum ada yang penting-penting banget. Belum ada kebijakan strategis. Belum ada urusan anggaran triliunan. Gimana lima tahun ke depan, ya?

Harapannya sih semoga semakin baik. Semoga ke depan makin profesional, mawas diri, dan menginspirasi. Tapi ujung-ujungnya saya ga berani berharap, sih. Wong tanpa harapan aja bisa kecewa, apa lagi berharap? Takutnya doi malah berubah jadi DECEPTICON.

Jakarta, 23 Oktober 2017
Okki Sutanto

Siti, Kim Jong-Nam, dan Ranca Sumur

Siti lahir dan besar di Ranca Sumur, sebuah desa di kawasan Banten. Di desa kecil berpenduduk kurang lebih 500 jiwa ini, keseharian Siti diisi dengan mengurus sawah, kebun, kerbau, dan bersekolah. Siti mengenyam pendidikan hanya sampai kelas 6 SD, karena di Ranca Sumur belum terdapat SMP. Sebuah ironi memang, meski Ranca Sumur hanya berjarak 50KM dari jantung Ibu Kota. Sebuah jarak yang bahkan bisa ditempuh cukup dua kali menyambung Gojek.

 

***

 

Kim Jong-Nam terlahir sebagai putra pertama Kim Jong-Il. Saat kecil ia digadang menjadi penerus ayahnya memimpin Korea Utara. Dibesarkan di Mansion dengan 100 orang pembantu dan 500 orang pengawal, Jong-Nam justru tumbuh tanpa memiliki tiga hal yang teramat penting menjadi pemimpin Korea Utara: ketertarikan pada politik, kekejaman, dan insting membunuh. Meski demikian, sebagai putra pertama ia masih disiapkan menjadi pemimpin dengan disekolahkan di Jenewa dan diberi posisi penting di badan teknologi Korut.

Segala usaha mengkader Jong-Nam menjadi pemimpin berikutnya praktis berhenti pada tahun 2001, saat ia kedapatan menggunakan paspor palsu untuk masuk ke Jepang. Alasannya sederhana: Ingin bermain di Disneyland Tokyo. Namun angan-angan wajar selayak anak muda zaman now tersebut menjadi tamparan memalukan bagi Korea Utara. Jong-Nam lantas dikucilkan dan hidup di Makau.

 

***

 

Siti hidup sederhana di Ranca Sumur. Satu-satunya hiburan mungkin televisi. Dan dari televisi itu pula ia belajar betapa nikmatnya hidup di kota besar. Sejak lama ia memendam hasrat hijrah ke Jakarta, ibu kota yang menawarkan jutaan hiburan dan kesempatan. Sebuah kota dimana ia bisa melihat sesuatu yang lain daripada hamparan sawah, kerbau, atau masjid, tiga hal yang menjadi kesehariannya di Ranca Sumur.

Maka saat berusia 14 dan ia diajak saudaranya bekerja di Jakarta, gayung pun bersambut. Ia bekerja di konveksi kecil, membanting tulang 13 jam sehari dan mendapat gaji 500ribu sebulan. Cukup untuk membeli beberapa gelas kopi di Starbucks, yang kini hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat Siti hidup dan bekerja.

Usaha konveksi tempat Siti bekerja bangkrut pada 2011. Ia lantas bersama beberapa rekan kerjanya berangkat ke Malaysia, mengadu nasib dengan kerja serabutan di restoran atau toko kelontong. Sebuah nasib yang dibagi bersama dengan jutaan TKI lainnya. Sebuah nasib, karena kadang jalan hidup bukanlah pilihan. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pendidikan, menjadi TKI baik legal pun ilegal adalah jalan keluar bagi jutaan warga Indonesia. Gaji yang lebih besar. Kehidupan yang lebih baik. Maka Siti tak ragu mengadu nasib di Malaysia.

 

***

 

Kim Jong-Nam mulai menjadi incaran rezim sejak ayahnya meninggal dan adik tiri bungsunya naik tahta: Kim Jong-Un. Jong-Nam yang pernah memegang jabatan penting di biro nasional, memiliki koneksi ke Cina dan Jepang, juga dekat dengan sang paman Jang Song-Thaek yang merupakan pria paling berkuasa nomor 2 di Korea Utara, tak sungkan menyuarakan kritik dan pentingnya reformasi di Korea Utara.

Pada 2013, sang paman dieksekusi oleh Jong-Un karena merencanakan kudeta menjatuhkan Jong-Un dan menaikkan Jong-Nam. Praktis tak ada lagi pelindung Jong-Nam. Beberapa usaha agen Korut membunuh Jong-Nam gagal. Berkat kedekatan dan sikap kooperatif Jong-Nam dengan agen intelijen Cina dan Amerika. Jong-Nam pun sering berpindah-pindah, Makau, Jepang, Cina, Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara Eropa.

Beberapa kali lolos dari usaha pembunuhan agen Korut, bukan berarti Jong-Nam bisa hidup tenang. Ia amat ketakutan dan bahkan pernah mengirim surel pribadi pada Jong-Un. Isinya permohonan sederhana: “Tolong cabut segala perintah untuk mengeksekusi saya dan keluarga. Kami tidak bisa kabur. Satu-satunya jalan keluar adalah bunuh diri.”

Tidak jelas apakah Jong-Un menerima dan membaca surel tersebut. Yang jelas perintah dan plot untuk membunuh Jong-Nam tidak pernah ditarik. Berbagai skenario dan pion disiapkan oleh agen Korut. Salah satunya skenario tabrak lari oleh sopir taksi. Yang kemudian gagal. Lainnya adalah pembunuhan dengan racun. Yang melibatkan Siti. Skenario ini berhasil. Berhasil membunuh Jong-Nam serta menghancurkan hidup Siti & Doan, dua wanita yang dijadikan pion oleh agen Korut.

 

***

 

Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran Siti ia akan terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan terkait geopolitik global. Lebih-lebih menjadi tersangka dan bersiap menghadapi hukuman mati. Jangankan kenal dengan Kim Jong-Nam, ia bahkan tidak tahu bedanya Korea Utara & Korea Selatan!

Yang mengerikan dari pembunuhan Jong-Nam adalah bagaimana Siti dan Doan, seorang wanita asal Vietnam, yang dilatih khusus oleh agen Korea Utara untuk menjadi pembunuh, sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka hanya imigran ilegal yang sedang mengadu nasib di Malaysia, yang kebetulan ditawari terlibat dalam sebuah produksi acara televisi bertema “prank”.

Kesempatan mendapat uang tambahan? Tentu Siti mau. Kesempatan masuk televisi dan jadi artis? Apalagi. Tanpa ragu Siti mengiyakan ajakan dari sopir taksi langganannya, yang hanya meneruskan tawaran tersebut dari penumpang taksinya, yang ternyata adalah seorang agen Korea Utara.

Tugas mereka sederhana: menyentuh seseorang di bandara dan mengoleskan cairan tertentu. Cairan yang tidak berbahaya jika disentuh masing-masing, namun jika kedua cairan berbeda tersebut bercampur dan bereaksi, maka efeknya mematikan syaraf. Dan kedua cairan tersebut dioleskan terpisah oleh Siti dan Doan pada wajah dan tubuh Jong-Nam. Yang dalam hitungan jam bereaksi dan menyerang syaraf dan jantung Jong-Nam. Ia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit, setelah tidak mendapat pertolongan memadai di Kuala Lumpur International Airport.

 

***

 

Kini Siti dan Doan ditahan oleh kepolisian Malaysia dan sedang menjalani proses pengadilan. Rekaman CCTV jelas membuktikan mereka menyentuh dan mengoleskan sesuatu, yang kemudian dikenal sebagai racun VX, pada Jong-Nam. Terlepas dari ketidaktahuan mereka akan apa yang dilakukan, juga berbagai bukti yang menunjukkan bahwa Siti dan Doan tidak tahu siapa Jong-Nam, kepolisian Malaysia bersikeras menjatuhkan hukuman setinggi-tingginya bagi Siti dan Doan. Selain merasa kecolongan telah menjadi “tuan rumah” kasus pembunuhan Jong-Nam, mereka juga merasa harus “menutup” kasus ini dengan menghukum pelakunya.

Entah apa yang bisa kita lakukan. Entah apa yang bisa negara lakukan. Yang jelas Siti hanyalah korban kegagalan negara selama puluhan tahun mengurus kesejahteraan dan pendidikan penduduknya. Siti tidak sendiri. Jutaan TKI bernasib sama seperti Siti ada di segala penjuru dunia. Dan mereka bisa saja sewaktu-waktu bernasib sama seperti Siti. Mereka yang penuh kerawanan. Kini hidup dalam tahanan. Tanpa pertahanan. Tanpa kawan. Hanya bisa melawan.

 

Jakarta, 14 Oktober 2017
Okki Sutanto

Referensi:
https://www.gq.com/story/kim-jong-nam-accidental-assassination

How to Get Away with Corruption!

Step one: discredit the witness. Step two: introduce a new suspect. Step three: bury the evidence. That’s how you get away with murder. Demikianlah kalimat sakti dari Annalise Keating, sang profesor hukum sekaligus pengacara, ketika mengawali kuliah di depan ratusan mahasiswanya, di episode pertama serial drama televisi produksi ABC yang sedang hangat di Amerika.

Saran yang amat dipertanyakan moralitasnya itu diucapkan tanpa ragu, berdasarkan pengalaman menjadi praktisi dan akademisi hukum selama bertahun-tahun. Ya, siapapun tahu, hukum tak selalu menjunjung tinggi etika, apalagi moralitas. Selalu ada celah dalam sebuah sistem hukum, dimana kebenaran amat bergantung pada saksi, tersangka, bukti, juri, dan penegak hukum, yang tentunya selalu punya ruang untuk dimanipulasi dan diagendakan.

Serial drama How to Get Away with Murder tersebut, seberapapun seru dan bagusnya, baik dari segi rating, kritik, maupun penghargaan, tentu kalah seru dengan drama politik yang sedang berlangsung di negeri ini. Dua institusi penegak hukum, Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sedang berseteru hebat dengan plot, karakter, hingga kejutan yang mengalahkan sinetron manapun.

Semua bermula dari penetapan Budi Gunawan, sang calon Kapolri yang sudah diusulkan Jokowi dan disetujui DPR, sebagai tersangka korupsi oleh KPK. Semenjak itu, sejumlah jurus dan manuver pun dilancarkan entah oleh Budi, Ibu Budi, atau Kawan-kawan Budi. Melihat segala macam manuvernya, mau tak mau, saya teringat kalimat sakti di awal tulisan ini, yang teramat mirip.

Step one: discredit the witness (law enforcer). Selang sehari setelah penetepan Budi sebagai tersangka, muncul serangan terhadap Ketua KPK, Abraham Samad. Serangan berupa foto-foto mesra palsu dengan Puteri Indonesia. Diikuti serangan dari Plt. Sekjen PDI-P yang menyatakan pertemuan rahasia Abraham Samad dengan petinggi PDI-P di masa Pemilu lalu, dan ambisi Samad menjadi Wakil Presiden Jokowi. Belum lagi serangan dari Istana yang menyatakan KPK bermain politik praktis dan mengincar Budi Gunawan. Intinya, sejumlah serangan tersebut mendiskreditkan Abraham Samad secara individu maupun KPK secara institusi.

Step two: introduce a new suspect (target). Drama makin seru ketika Wakil Ketua KPK, Bambang Widjonanto, ditangkap dengan tuduhan membuat saksi memberikan keterangan palsu di persidangan. Kasus lama bertahun-tahun lalu, yang diadukan oleh politisi gagal, dan diproses oleh Polri lebih cepat dari delivery KFC, dengan prosedur yang lebih aneh dari sinetron Indonesia manapun. Media dan masyarakat pun diperkenalkan dengan target dan tersangka baru: para pimpinan KPK. Segera setelah Bambang, satu per satu pimpinan KPK lain pun diadukan ke polisi atas kasus aneh bertahun-tahun lalu, oleh pelapor yang entah mencari popularitas atau memang mendapat “instruksi” entah dari mana.

Step three: bury the evidence. Hingga kini drama belum usai. Tahap terakhir, pengaburan dan penghilangan bukti, masih belum sempurna dilaksanakan. Setelah pasukan gelap gagal “menyerbu” gedung KPK dan rumah ketua PPATK, dimana bukti-bukti kasus Budi potensial berada, jurus lain masih diusahakan. Saksi-saksi kasus Budi, para perwira yang dekat atau anak buah Budi, yang sudah dua kali dipanggil oleh KPK, mangkir dari panggilan, dan hingga kini entah dimana keberadaannya. Perusahaan-perusahaan terkait transaksi tak wajar Budi dan anaknya, sudah berstatus bangkrut / tutup dan tidak jelas rimbanya, termasuk perusahaan finansial asal Australia yang mengucurkan kredit puluhan miliar rupiah kepada anak Budi beberapa tahun silam.

Demikianlah. Formula yang mirip, dipraktikan dengan segala adaptasinya untuk drama bertajuk How to Get Away with Corruption di negeri ini. Drama jelas belum usai, entah akan sampai episode dan musim keberapa ini baru akan usai. Harapan publik jelas, kedua institusi tidak bergesekan, dan KPK tidak dilemahkan. Dan pemain kunci yang bisa membuat segalanya berubah, masih kita tunggu aksinya. Apapun itu, semoga tidak merupakan kompromi terhadap partai pendukung atau mafia hukum dan korupsi di Indonesia. Semoga.

Kuliah Itu Cuma Etalase Kok.

#Curhat070

Diposkan juga di Nota Facebook.

Kutipan yang saya jadikan judul tulisan ini dulu pernah saya dengar ketika mewawancara salah satu guru sekolah alam. Eh, sebelumnya, pada tahu gak sekolah alam itu apa? Bukan, ini bukan sekolah yang lulusannya jadi tarzan. Bukan pula sekolah yang lulusannya jadi pecinta alam hebat macam Soe Hok Gie. Di sekolah alam, anak-anak dibebaskan bereksplorasi, bereksperimen, berekspresi tanpa dibatasi sekat dinding dan berbagai aturan yang mengekang rasa ingin tahu mereka, yang membatasi interaksi mereka dengan kehidupan yang sebenarnya, yang membuat mereka tak berjarak dan akrab dengan alam lingkungan mereka (Website Sekolah Alam Indonesia).

Kembali ke awal. Guru tersebut mengemukakan bahwa kuliah itu tak lebih dari sekedar etalase saja. Mahasiswa hanya diperkenalkan secara sekilas saja tentang berbagai hal, tanpa tahu bagaimana pengaplikasian yang sebenarnya di kehidupan. Pada waktu itu guru yang saya wawancarai memberi contoh pula tentang bagaimana menangani anak-anak yang memiliki gangguan belajar dan kebutuhan khusus. Di buku-buku kuliah sih, tertulis dengan jelas penyebabnya apa, definisinya apa, dan intervensinya bagaimana. Tapi, apa iya menerjemahkan apa yang tertulis di dalam buku ke kehidupan nyata itu mudah? Ternyata tidak. Banyak loh tantangannya. Bisa dari ketidakpedulian orangtua, bisa keterbatasan ekonomi keluarga, dan segudang faktor lainnya. Hal-hal yang gak ada di perkuliahan. Gak tertulis di buku-buku kuliah.

Sebutlah sebuah kasus, dimana ada seorang anak SD yang suka menunjukkan perilaku kurang “sopan” ke teman-teman sebayanya. Ternyata, setelah ditelusuri, anak ini terkadang melihat orangtuanya melakukan hubungan suami-istri di rumah. Anak ini pun, tanpa paham apa yang dilakukan orangtuanya, mencoba meniru (walau dalam derajat tertentu). Nah, solusinya gimana? Gampang kan kalau di buku? Hilangkan penyebabnya! Minta orangtuanya jangan melakukan hal itu lagi di depan anaknya! Eh, sabar dulu. Usut punya usut, keluarga ini ternyata tinggal di sebuah kos sederhana, dan rumahnya itu cuma terdiri dari satu kamar kecil yang sempit. Semua anggota keluarga pun hidup dan beraktivitas di kamar sempit itu. Lantas, mau minta mereka sekeluarga pindah ke rumah yang lebih besar? Mana sanggup. Mau minta mereka gak melakukan hubungan suami-istri sama sekali? Mana tahan. Atau mau mereka ngungsi ke kamar tetangga kalau lagi kepepet? Mana enak sih.

Ya, itu baru satu kasus. Masih banyak kasus-kasus lain yang membuktikan bahwa kuliah itu cuma sebatas etalase, dan apa yang tertulis di buku itu gak banyak membantu di kehidupan nyata. Lantas, gimana dong? Ya, simpel aja, jangan cuma nuntut ilmu di kelas! Di luar kelas juga kan banyak tempat belajar yang bisa mengajarkan lebih dari sekedar etalase. Entah ikut organisasi, magang ke perusahaan, kembangin komunitas, atau apa lah. Di kelas pun, jangan mau cuma duduk diem dengerin dosen ngoceh. Kritisi dosen! Ajukan pertanyaan! Benturkan dengan realitas yang ada. Jangan biarin otak kita cuma jadi stasiun transit doang, sebelum ilmu itu berpindah dari buku dan mulut dosen ke lembar jawab ujian.

Jangan mudah puas. Hanya orang bodoh yang beli ember anti-pecah karena terlihat bagus di etalase (emang ada etalase yang muat ya?). Orang beli ember anti-pecah, setelah terbukti ember itu dibanting sekuat tenaga pun gak bakalan pecah. Ya, demikian pula dengan kuliah. Coba benturkan ilmu yang kita pelajari ke kenyataan, sampai terbukti kebenarannya. Banting sekuat mungkin. Sekali lagi, benturkan dan banting ilmunya ya. Bukan nilai Anda yang dibanting. Bukan pula pintu atau bangku kelas. Apalagi dosen.

Jakarta, 5 Desember 2011

Ini Namanya Ngupil Apa Ya?

#Curhat.070
Sebelumnya diposkan di Nota Facebook.

Anda tahu ngupil? Ternyata, ngupil itu ada banyak jenisnya. Jika Anda mengupil karena ingin menghilangkan rasa tak nyaman di hidung Anda, itu namanya Ngupil Instrumentalis. Jika Anda mengupil karena senang dengan sensasi rasa perih dan sakit yang timbul, namanya Ngupil Masokis. Jika Anda mengupil karena melihat orang lain ngupil, namanya Ngupil Konformis. Jika Anda mengambilkan upil orang lain dengan sukarela, namanya Ngupil Altruistik.

Oke, jangan sepenuhnya percaya dengan apa yang saya tulis di atas. Tulisan tersebut hanyalah ilustrasi mengenai apa yang saya rasakan, di masa-masa awal saya belajar Psikologi. Di masa itu, saya merasa ilmu Psikologi amat bernafsu memberi nama dan istilah akan segala sesuatu yang terjadi di sekitar manusia.

Psikologi seakan selalu mempunyai istilah untuk menggantikan berbagai kosakata yang normal digunakan khalayak. Ada “konformitas” untuk menggantikan “latah / ikut-ikutan”. Ada “Obul” untuk menggantikan “perfeksionis”. Ada “katarsis” untuk menggantikan “ngamuk-ngamuk”, dan masih banyak lagi.

Ya, begitulah kesan saya di masa awal berkuliah Psikologi. Setiap harinya, ada saja istilah-istilah baru yang dipelajari untuk menjelaskan berbagai fenomena keseharian. Alhasil, berbagai kosakata baru tersebut populer digunakan mahasiswa Psikologi dalam keseharian mereka. Di satu sisi, hal tersebut memang bagus, karena menandakan bahwa apa yang dipelajari di kelas tidak menguap begitu saja, dan dipahami melalui obrolan sehari-hari. Namun, di sisi lain penggunaan berbagai istilah tersebut juga seakan membangun dinding tak terlihat, antara mereka yang belajar Psikologi dan mereka yang tidak.

Semoga saja hal tersebut tidak membuat mahasiswa Psikologi menjadi terlalu nyaman dengan sesama mereka sendiri, pun sebaliknya mahasiswa non Psikologi jadi merasa kesulitan memahami mereka yang belajar Psikologi. Karena sejatinya ilmu Psikologi itu akan semakin bermanfaat, jika makin banyak orang yang mengerti. Semoga, ilmu Psikologi tak hanya tertransmisi di antara kepala dan mulut mahasiswa-mahasiswanya saja. Semoga saja!


Jakarta, 13 Oktober 2011
 Okki Sutanto. 

Waw, Ada Wanita Emas!

Kemarin, di tengah perjalanan ke kampus, perhatian saya mau tak mau tersedot oleh sebuah iklan kampanye. Di kaca belakang sebuah bis kota, terpampang wajah seorang wanita dengan tulisan “Ayo Saya Siap Menata Kota Jakarta”.

Selain tulisan tersebut, tentu tertulis pula nama dan gelar sang Calon Gubernur (Cagub) yang tidak terlalu saya perhatikan.Yang menyedot perhatian saya adalah dua kata yang cukup dominan dalam iklan tersebut: Wanita Emas. Julukan tersebut cukup jelas terpampang di atas gambar wajah sang Cagub. Di bagian bawah iklan pun, dicantumkan alamat email sebagai berikut: wanitaemas@xxxxx.com.

Jujur, saya bingung dan tak habis pikir, mengapa harus Wanita Emas? Apakah sekujur tubuh sang Cagub dilapisi emas? Atau sang Cagub kalau menghadiri pesta suka mengenakan perhiasan emas berkilo-kilo? Atau apa pun yang disentuh sang Cagub bisa berubah seperti emas layaknya raja Midas? Ataukah nanti jika terpilih menjadi gubernur, ia akan menjadikan Jakarta sebagai kota pertambangan emas? Ah, sudahlah.

Saya tahu, tahun depan Jakarta akan melaksanakan Pilkada lagi untuk menentukan Gubernur periode 2012 – 2017. Belakangan memang sudah mulai santer terdengar nama-nama yang akan mencalonkan diri menjadi Cagub. Saya juga tahu, sekarang ini dalam berkampanye harus semakin kreatif agar efektif menggalang suara pemilih. Namun, tetap saja menurut saya julukan Wanita Emas adalah sesuatu yang absurd dan kurang bisa diterima akal sehat. Apa tidak ada yang lain?

Pilkada 2012 DKI Jakarta akan berlangsung sekitar Juli – Agustus tahun depan. Ke depannya, tentu akan semakin banyak pasangan Cagub – Cawagub yang memproklamirkan diri dan berkampanye. Semoga saja tidak ada lagi Wanita-Wanita Emas, Perak, atau Perunggu lainnya yang menjadi Cagub. Cukuplah yang normal-normal saja, macam “Sang Ahli”, dijadikan julukan. Karena ternyata memenuhi janji sebagai “Sang Ahli” kota Jakarta saja tidak mudah. Apalagi menjadi Wanita Emas?

Jakarta, 11 Oktober 2011
Okki Sutanto