Podcast Pinteran Giveaway

Oke, jadi belakangan ini gue lagi suka bikin podcast di Spotify, namanya Podcast Pinteran. Di episode kelima kali ini, gue ingin berbagi sesuatu bagi para pendengar setia gue (sekalian promoin Podcast gue, sekali mendayung dua pulau terlewati) hahaha..

Caranya sederhana, cukup share di medsos kalian, boleh Twitter/Facebook/Instagram, tentang episode podcast mana yang paling kalian suka dan kenapa. Sekalian tag gue ya biar gue tau (@okki_sutanto di Twitter atau @okkisutanto di Instagram).

Udah gitu aja. Gampang kan? Hehe..

Tiga pemenang beruntung akan dapat hadiah menarik: any book on earth. Yap. Buku. Apa pun. Selama buku itu dijual untuk umum (Gramed / Kino / Amazon / Apps Store / Google Play), dan selama ada di bumi. Buku fisik. Buku digital. Bahasa indo. Bahasa Inggris. Sampe bahasa tronjal-tronjol. Bebas. Pokoknya buku. Kalo ga tau mau buku apa, ya nanti gue yang pilihin. Tenang saja.

Kalo dijual tapi di planet Mars gimana? Ya ga bisa. Kalo ada di bumi tapi ga dijual misalnya naskah orisinil konstitusi Amrik, ya ga bisa juga. Jangan aneh-aneh lah ya Ferguso. ūüėā

Giveaway berakhir akhir bulan ini: 31 Januari 2019, pukul 23.59 WIB. Pemenang akan gue publish dan gue DM yak.

Good luck guys!

Dua Puluh Sembilan

 

brian-patrick-tagalog-700814-unsplash
Photo by Brian Patrick Tagalog on Unsplash

Beberapa hari lalu saya memulai tahun terakhir usia dua puluhan. Ya, dua puluh sembilan tahun sudah saya numpang bernapas di muka bumi. Melihat segala yang indah dan buruk. Tak lupa mengecap segala yang manis, asam, pun pahit. Ya begitulah hidup, bukan? Kalau melulu manis, ya gak seru. Sesekali haruslah mengecap yang pahit, biar bisa lebih menghargai yang manis.

Tiga ratus enam puluh hari lagi, saya akan memasuki usia tiga puluhan. Ga tahu sih, apa bedanya usia dua puluhan dan tiga puluhan. Apa mendadak jadi lebih bijak dalam menjalani hidup? Ya kan gak juga. Apa mendadak jadi botak dan ubanan? Ya semoga tidak.

Rasa-rasanya sih, tiga puluh bukan suatu “jenjang” baru yang berubah drastis banget yak. Ga kayak empat puluh, setidaknya. Kan katanya life begins at forty. Majalah Fortunes juga seringnya bikin “40 Under 40” untuk orang-orang berprestasi di bawah usia 40. Jadi, apa ada beda signifikan bagi kita saat beranjak dari 20-an tahun ke 30-an tahun? Ya tidak tahu juga.

Yang pasti, sudah tidak muda-muda banget lagi. Muda, masih. Cuma ya ga muda-muda amat. Kalau dengar ada orang bilang usianya “dua puluhan”, kan mungkin yang terbayang itu gambaran anak kuliahan, atau orang yang baru lulus dan mulai cari kerja. Kalau “tiga puluhan” kan pasti gambarannya udah beda. Bukan lagi dedek-dedek gemes yang masih bingung hidupnya mau dibawa kemana. Masih mencari jati diri. Masih haha-hihi terombang-ambing ketidakpastian hidup.

Ya harusnya sih lebih dewasa. Whatever the hell that means. haha.

Lebih dewasa, artinya tugas perkembangannya juga berbeda kalau kata Erikson. Ini Erikson psikolog perkembangan ya, bukan Sven-Goran Eriksson eks pelatih timnas Inggris.

Umumnya sih, “tiga puluhan” ya sudah bukan waktunya lagi mikirin kuliahan, nongkrong dimana, dan milih karir apa. Biasanya sih, “tiga puluhan” identik dengan hal-hal yang lebih dewasa. Ya mikirin pasangan hidup, anak (kalau yang sudah menikah), dan segala macam cicilan.

Eh tapi menikah, berkeluarga, dan pencapaian materialistik itu cuma konstruksi sosial semata yang dibentuk dan diharapkan masyarakat. Sejatinya ya setiap orang punya pilihan bebasnya. Mau nikah boleh. Enggak juga bebas. Mau punya anak silakan (asal jangan kebanyakan, nanti dimarahin Thanos). Enggak ya monggo. Mau jadi crazy rich asian boleh. Mau jadi crazy asian doang juga silakan.

Intinya, saya ingin menjalani tahun terakhir sebelum memasuki 30 ini sebaik-baiknya. Mempersiapkan diri sesanggup-sanggupnya menyongsong tugas-tugas kehidupan berikutnya yang mungkin lebih berat. Ya iya sih harusnya begitu, kalau ga makin berat artinya jalan di tempat dong. Masa badan doang yang makin berat, tantangan hidup juga dong!

Juga tak lupa saya berterima kasih dan bersyukur, atas segala yang sudah saya alami sepanjang dua puluh sembilan tahun ini. Ya keluarga dan teman. Ya orang-orang yang melalui persinggungan dengan mereka mendewasakan saya. Ya orang-orang luar biasa hebat yang membuat saya terinspirasi. Juga orang-orang luar biasa brengsek yang membuat saya bersyukur bahwa saya tidak demikian. Untuk segala nikmat yang tak mungkin terdustai. Untuk segala bencana yang mendewasakan. Untuk memori-memori menghangatkan yang sulit membuat lupa. Juga memori-memori menyesakkan yang pernah membuat luka.

Terima kasih, ya Tuhan dan semesta.

Semoga ke depannya saya bisa makin berguna, bagi keluarga, lingkungan, bangsa dan negara. Makin dipercayakan perkara-perkara yang lebih besar. Makin diberi kesempatan untuk berkarya sekecil apa pun.

Itu saja. Kali ini.

 

Jakarta, 25 Oktober 2018
Okki Sutanto

Mengulas Incurable

Screen Shot 2018-06-11 at 8.08.14 PM

Kali ini, mari kita bahas sebuah buku. Novel pertama karya Stella Azasya, seorang penulis muda dari Surabaya. Saya pertama kali mengenal Stella dari karya tulisannya yang lain, di media tempatnya bekerja. Lantas saya ikuti dia (setidaknya di Media Sosial, soalnya Surabaya jauh), lalu saya beli novelnya. Biar lebih mengenal penulisnya, ceritanya. Lho, ini kita mau bahas novel apa penulisnya? Novel aja deh, ya. Biar penulisnya saya bahas di kesempatan lain. #Eh

Buat saya, membaca Incurable menjadi pengalaman pertama akan banyak hal. Ini kali pertama saya membeli buku via online. Maklum, anaknya oldschool kalau urusan buku, harus dilihat-diraba-diterawang dulu sebelum beli. Ini juga kali pertama saya membaca buku dari penerbit indie. Dengar sering, beli belum. Terakhir, ini juga kali pertama saya membaca novel perdana dari seorang penulis muda. Bukan bermaksud sombong (biasa kalimat yang diawali begini ujungnya sombong sik, maklumin aja udah), tapi saya sangat selektif dalam membaca. Kalau nonfiksi, minimal harus direkomendasikan New York Times atau Oprah. Kalau fiksi, minimal penulisnya pernah meraih penghargaan. Atau eks tapol. Atau karyanya telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Eh, ini ga lagi ngomongin Pram, kok.

Yha, bagaimanapun, dalam hidup selalu ada pengalaman pertama, bukan? Dan belum tentu pengalaman pertama berakhir buruk. Persis! Saya tidak menyesal membeli dan membaca buku ini. Iya, banyak ruang untuk perbaikan di sana-sini. Iya, gaya penulisan dan kedalaman karakter masih bisa dielaborasi. Iya, ada banyak tanya yang tidak terjawab. Tapi, nanti dulu. Mari saya ceritakan kenapa saya menyukai buku ini (bukunya ya, urusan penulisnya sih belakangan, lain kali).

Bagaimana membeli buku ini merupakan hal baru bagi saya, sudah saya ceritakan di awal. Ternyata, tak berhenti sampai di situ, buku ini juga membawa rasa dan pengalaman baru saat dibaca. Kebebasan mengeksplorasi dan kelenturan berbahasa, misalnya, membuat buku ini renyah untuk dibaca. Bahasanya sederhana, bahasa sehari-hari, akan kehidupan tiga anak manusia yang juga pada umumnya, membuat kisah Bayu, Sam, dan Bianka (Bianka pake K, bukan pake C, kenapa demikian tanya saja penulisnya) jadi amat relatable. Akan menarik dibaca oleh pembaca remaja dan dewasa muda! Problematika keseharian, yang dibungkus dengan luka masa lalu dan pergumulan batin, membuat kita menerka-nerka bagaimana akhir dari kisah ini.

Saya selalu kagum dengan mereka-mereka yang bisa menyelesaikan sebuah buku, terlebih karena saya sendiri belum sanggup. Nafasnya kurang panjang! hehe.. Begitu pun saya kagum pada Stella Azasya, yang sanggup menyelesaikan novel perdananya ini di tengah kesibukannya bekerja di media. Tapi, bukan berarti bisa berpuas diri, bukan? Saya yakin di usianya yang masih sebelia ini, ke depannya masih banyak karya lain yang bisa kita nantikan. Tapi, apa yang masih bisa disempurnakan? Nah, pertanyaan itu yang lebih penting untuk kita bahas bersama-sama.

Pertama-tama, fokus pada perkara-perkara kecil. Saya masih menjumpai beberapa kesalahan penulisan (typo), yang makin ke belakang makin banyak (saya berasumsi halaman 150 ke atas ditulis dengan lebih terburu-buru dan kurang tidur, benar tidak, Stella?). Biasanya ini urusan editor, sih. Mungkin editornya kurang minum Aqua? Bisa jadi. Pembaca awam mungkin tidak akan terlalu sadar juga, tapi karena saya bekas editor, asdos kepenulisan, dan memang hobi membaca, jadinya sulit untuk tidak terganggu.

Yang kedua, realisme dialog. Memang, bahasa lisan dan tulisan tentu berbeda, tapi ada banyak dialog sehari-hari, pun pembatinan, yang membuat saya merasa sepertinya  karakter ini sedang monolog di Salihara. Padahal tidak, sedang ngobrol biasa saja. Urusan dialog ini masih perlu dilenturkan lagi sehingga sungguh-sungguh terkesan seperti dialog dua kolega kantor pada umumnya, yang pas kuliah ga ngambil jurusan Sastra Jerman.

Yang ketiga, membangun tokoh atau karakter dengan lebih dalam dan kompleks. Oke, masing-masing karakter di novel ini punya masa lalu yang bisa dikatakan tragis. Masing-masing berhak menjadi karakter yang rumit di masa kini. Namun, pembaca (saya) masih kesulitan memahami tindak dan keputusan yang diambil di hari ini, karena kurang mendapatkan kepribadian si tokoh secara lebih utuh. Kenapa dia begini? Kenapa dia begitu? Ingin ini ingin itu, banyak sekali. Lho malah jadi nyanyi Doraemon. Mungkin cara ini membantu: membuat kuesioner detil akan tiap karakter (klik aja ada linknya). Memang sangat detil, ya gak semuanya juga harus diisi, dan lebih-lebih gak semuanya perlu dijejalkan ke pembaca. Disisipkan sedikit demi sedikit di banyak kesempatan. Bisa membantu membuat karakter kita lebih kuat dan tidak kontradiktif.

Keempat, bermain dan bereksplorasi dengan beragam gaya bercerita dan alur. Alur tidak harus senantiasa maju ke depan. Maju mundur kadang lebih sip (?). Apalagi masing-masing karakter memiliki masa lalu yang menarik untuk dibahas. Ya gak harus seekstensif The Odyssey-nya Homer juga, sih, urusan bereksplorasinya.

 

Apa pun itu, variasi membuat segala sesuatu menjadi lebih menarik, toh (?) Selain itu, dengan mengeksplorasi berbagai gaya bercerita, lambat laun kita akan menemukan gaya kita sendiri. Yang akan menjadi kekhasan dan membedakan kita dari penulis lainnya.

Demikianlah!

Sekian kiranya ulasan saya terhadap buku Incurable ini. Salut dan proficiat, Stella Azasya, atas buku perdananya! Ditunggu karya-karya berikutnya yang lebih matang, dahsyat, dan menunjukkan ciri khasmu sebagai penulis.

Semoga ulasan ini tidak dianggap lancang (lancang apanya wong saya sendiri belum pernah nulis buku kok. haha), karena jujur pembahasan di sini tidak sekejam pembahasan Dewan Kesenian Jakarta atas Sayembara Novel tahun 2016 lalu:

https://dkj.or.id/artikel/pertanggungjawaban-dewan-juri-sayembara-menulis-novel-dewan-kesenian-jakarta-2016/

 

Eh, tapi boleh banget sih dibaca sebagai pembelajaran. Ada aja yang bisa dipetik.

Demikian ulasan saya atas buku Incurable karya Stella Azasya, yang diterbitkan oleh Stilleto Book pada April 2018 lalu. Yang tertarik dan ingin membaca, silakan membelinya dari: http://www.stilettobook.com/incurable.html

Selamat menikmati!

 

Jakarta, 11 Juni 2018