Anna Akana Yang Mengena

Screen Shot 2018-02-24 at 6.55.50 AM

Sebagai pembaca setia 9gag dan hobi berselancar ga juntrung di internet, nama Anna Akana tidak asing bagi saya. Video Youtubenya beberapa kali melintas, dan wajahnya yang oriental dan mata kucingnya cukup mudah diingat. Selain kreator Youtube, ia juga artis, stand-up comedian, serta pebisnis dan penulis. Sekilas mirip-mirip dengan Ali Wong lah (penulis serial televisi Fresh Off The Boats), sama-sama oriental (Anna keturunan Jepang dan Ali keturunan Vietnam), komika wanita di Amerika Serikat yang banyak bekerja di industri TV, juga banyak mengeksplor seksualitas dengan cerdas dalam materi humornya.

Terakhir saya lihat Anna sepertinya di film Ant Man. Maka ketika kemarin melihat bukunya di toko buku, saya penasaran untuk ikut membacanya. Apalagi dari judul dan sinopsisnya, yang mengeksplorasi bagaimana sebuah pengalaman traumatik (adiknya meninggal bunuh diri kala remaja), bisa meninggalkan bekas, membentuk kita, dan membuat kita berada di titik kekinian dalam hidup.

Anna Akana GIF

Saya pribadi amat menyukai bukunya, karena temanya yang cukup luas. Tentang kesehatan mental. Tentang menjadi penyintas bunuh diri. Tentang menjadi kreator. Tentang pencarian identitas dan perjuangan memasuki masa dewasa. Tentang bisnis, relasi, dan seksualitas. Khas memoir sebenarnya, agak meluas dengan benang merahnya ya perjalanan hidup sang penulisnya. Cuma ini juga yang jadi kelemahan buku ini. Temanya terlalu luas. Tidak semua orang punya ketertarikan akan itu semua. Saya juga jadi bingung kalau harus merekomendasikan buku ini kepada siapa. Tidak ada target spesifik.

Pada mereka-mereka yang pernah ditinggal oleh orang terdekatnya karena bunuh diri? Bisa sih, tapi eksplorasi di sana tidak terlalu mendalam juga. Meski Anna berulang kali menyatakan bahwa buku ini didedikasikan dan terinspirasi oleh adiknya yang meninggal bunuh diri, nyatanya hampir 80% dari buku ini sama sekali tidak terkait itu.

Pada mereka-mereka yang ingin menjadi Youtuber? Bisa sih, di tataran inspirasi dan membuka wawasan. Karena pengalaman Anna yang luas. Dari membuat konten sendiri. Berkolaborasi. Membuat film pendek. Menerima sponsor. Menjual kontennya ke Netflix. Dan lainnya. Jika mencari tips praktikal ya tidak terlalu mendalam juga.

Screen Shot 2018-02-24 at 7.40.57 AM

Pada remaja dan dewasa muda yang kesulitan menavigasikan hidup di masa kini? Kurang tepat juga. Karena selain konteksnya sangat Amrik sekali, banyak pelajaran dari Anna yang terlalu unik dan kurang aplikatif bagi anak muda kebanyakkan. Tapi bagian relasi-relasi yang beracun (toxic relationship) bagus juga, sih.

Terlepas dari itu semua, buku ini ditulis dengan bahasa yang renyah dan sederhana, sekaligus cerdas dan jenaka. Bisa dinikmati tanpa harus banyak mikir, meski ada juga isu yang turut mengajak kita berpikir.

Buat saya buku ini mengena. Terlebih di bagian depresi, saat Anna ogah-ogahan mengakui bahwa dirinya depresi dan menolak mengikuti saran dari terapisnya. Kalimat dari terapisnya ini akhirnya menyadarkan ia:
“Tekanan darah saya tinggi. Hal ini genetis, dan memang ada di keluarga saya. Kalau saya tidak mengkonsumsi obat-obatan hipertensi, saya akan sengsara. Apa saya akan mati tanpa obat? Tentu tidak. Tapi itu membuat hidup saya jadi jauh lebih mudah. Sama seperti depresimu. Apakah antidepresan akan membuat depresimu hilang? Tidak juga. Tapi yang pasti akan membuat hidupmu jauh lebih mudah.”

Di saat itulah Anna tersadar, bahwa mengkonsumsi obat antidepresan penting. Ia akhirnya meminum Lexapro dan merasakan manfaat darinya. Tidak ada lagi kecemasan konstan akan hal-hal tak relevan. Pikiran lebih ringan. Tidur lebih mudah.

Hal lain yang saya suka adalah kedewasaan Anna untuk ukuran wanita usianya (28, sama kayak saya kelahiran 89). Ia berbagi pelajaran tanpa menggurui. Dan meyakini bahwa cara dan pilihannya bukanlah satu-satunya cara yang paling benar. Ia meyakini bahwa setiap orang punya caranya sendiri, punya keunikan sendiri, tanpa perlu dibebani dengan penghakiman dari kita. Ia tidak berusaha menjadi kompas moral, tapi lebih menjadi seorang kakak yang berbagi pengalaman hidup untuk adiknya. Satu hal yang makin kesini makin sulit ditemukan, kala kebanyakkan orang berlomba menjadi guru dan menjadi yang paling benar.

 

Singapura, 24 Februari 2018
Okki Sutanto

Hai Gie

freddy-castro-133326
Photo by Freddy Castro on Unsplash

Gie, apa kabar? Lama sudah ku tak menulisimu. Atau sekadar menyapa. Semoga kau tenang di sana, Gie. Usah resah. Sudah cukup kau resah semasa hidup. Kala menjadi mahasiswa, aktivis, pun dosen. Benar katamu, orang-orang seperti kita ini memang senantiasa resah. Ya hidup, kampus, pergerakan, pun negara kita resahkan. Padahal siapa kita ini coba? Hobi kok resah, dasar aneh. Ya tapi lebih baik resah deh ya, daripada apolitis dan apatis karena enggan berpikir kritis.

Di sana ada bioskop gak, Gie? Kalau ada, coba kau tonton Dilan, Gie. Ku ingin tahu komentarmu tentang film itu. Masak katanya rindu itu berat, Gie. Pun memukul guru dan membakar sekolah itu boleh, selama punya pembenaran. Sekeras-kerasnya kau semasa muda, juga pernah menulis “dosen yang tidak bisa dikritik lebih baik masuk tong sampah”, rasanya kita masih tahu adab dan batasan, ya. Tapi ya begitulah, Gie. Zaman sudah banyak berubah. Lelaki semacam Dilan justru kini digandrungi. Coba tonton film itu, lalu kita diskusikan. Kau masih suka diskusi film, kan?

Ya, banyak sudah berubah kini. Naik gunung sudah jadi gaya hidup, Gie. Ramai sekali gunung-gunung itu setiap akhir pekan. Dan tidak hanya komunitas pecinta alam, kini virus menggunung sudah mewabah. Sayangnya, sebagian besar tidak naik gunung untuk menyatu dengan alam atau membumi ke masyarakat. Mereka hanya mencari latar foto yang bisa dipandang unik dan keren oleh teman-temannya, dan kebetulan saja mereka memilih gunung. Untunglah zamanmu dulu belum ada Instagram, Gie. Bisa-bisa kau terusik naik gunung bersama mereka.

Belakangan sedang ramai, Gie, tentang adik kelasmu yang berjaket kuning. Tingkahnya menggelikan, ia menyemprit peluit dan memberikan kartu kuning pada kepala negara. Katanya bentuk protes, Gie. Hah? Kau bingung? Sama, Gie. Ku pun. Kenapa tak menulis di media seperti kita semasa mahasiswa dulu? Jangan bertanya padaku, Gie. Tanyalah sana pada adik kelasmu itu.

Ramai respon masyarakat, Gie. Banyak yang mencibir, termasuk aku. Tidak sedikit yang memuji karena katanya heroik dan berani, Gie. Ah, taik kucing mereka itu. Mengobral label heroik dan berani demikian murahnya. Kalau mau protes begitu sih tidak perlu mahasiswa, ya. Tukang parkir juga bisa sekadar menyemprit peluit ke presiden. Sungguh sensasi yang kosong esensi. Tidak lebih dari erupsi emosi yang minim aksi. Setuju kau, Gie?

Sekian dulu, Gie. Masih banyak sebenarnya yang ingin kuceritakan. Tapi biarlah itu nanti di surat-surat berikutnya. Tak ingin ku mengganggu istirahatmu lebih dari ini. Selamat menikmati kedamaian, Gie.

Jakarta, 9 Februari 2018
Okki Sutanto

Menelan Dilan Pelan-pelan

Dilan1990
Dari: http://img.jakpost.net/

Kali ini saya harus berterima kasih banyak pada media sosial. Karena begitu masifnya hiruk pikuk dan meme tentang Dilan dan Milea, akhirnya kemarin saya menyempatkan diri menonton Dilan 1990. Terima kasih untuk seratus delapan menit yang penuh nostalgia dan rasa syukur. Ya, rasa syukur. Syukurlah saya ga gitu-gitu amat zaman dulu. hehehe..

Menonton Dilan 1990 ya mau gak mau nostalgia ke masa SMA. Datang pagi ke sekolah naik motor demi ngelihat si doi? Pernah. Disetrap pas upacara karena baju ga rapih? Iya. Menyusup ke kelas lain dan kepergok guru? Pernah. Ngejar-ngejar anak pindahan dari kota lain? Nulis surat dan puisi? Berantem gara-gara cewek? Iyes.

Pernah semua deh rata-rata, eh tapi gak semua pas SMA sih. Ada yang pas SMP dan juga SD. Ya intinya masa sekolah lah. Gak terlalu signifikan juga, toh banyak gombalan dan obrolan di Dilan 1990 yang lebih cocoknya buat anak SD atau SMP.

Yang beda adalah jika Dilan beruntung menemukan gadis selugu dan sefiksional Milea, sayangnya saya tidak.

Coba saya samperin cewek baru pindah sekolah lalu ujug-ujug ngomong: “Saya ramal kita akan ketemu di kantin nanti”, yakinlah jawabannya tidak akan seperti di film. Mentok-mentok “JANGAN NGIKUTIN GUA LU STALKER!” atau “YA IYALAH DI KANTIN, KALO DI WC CEWEK KRIMINAL!” atau minimal dicuekin karena SKSD banget sih itu sumpah.

Untungnya Dilan bertemu Milea. Cewek yang tidak cerdas-cerdas amat padahal rajin baca buku. Cewek plegmatis yang ga bisa mengambil keputusan, padahal udah jelas pacarnya di Jakarta itu ga seru dan ga ada bagus-bagusnya selain bapaknya tajir. Cewek PHP yang baik ke semua cowok, padahal tahu semua cowok itu menaruh harapan. Tidak sulit berkata tegas dan menarik batasan yang jelas bahwa ia cuma menganggap mereka sebagai teman, tapi tidak tuh.

Lagi-lagi ini membawa saya ke masa SMP. Kala seorang cewek cantik bilang ke saya bahwa “Ga apa si Doni PDKT-in gua, gua mao tahu dia nembaknya gimana nanti.” Padahal dia jelas-jelas ga suka sama si Doni. Kan nyebelin yak. Padahal si Doni itu teman baik saya. Tapi ya seru juga sih emang liat dia PDKT dan nembak tapi ujung-ujungnya ditolak. haha.. Sadis juga saya ini.

Di balik semua keunikan dan kegombalan maha recehnya, Dilan itu ya bocah biasa. Tipikal berandal yang punya kebutuhan tinggi untuk jadi beda. Yang disalurkan melalui membaca sekian banyak buku, nulis puisi dan surat-surat romantis, dan……tawuran. Iya men, tawuran! Agak ga nyambung sih. Ibarat Rangga yang diam-diam ternyata panglima FPI. Atau Gie ternyata seorang pebalap liar. Tapi yaudahlah, namanya juga film.

Apalah saya ini cuma martabak keju kalau kata Dilan. Intinya saya ngiri kan pas zaman SMA gak ketemu Milea saya? Iya lah. Satu-satunya pelipur lara selama seratus delapan menit itu ya melihat cantik dan ayunya Milea. Cantiknya khas Sunda pula. Mojang Bogor-Bandung gitu. Gravitasinya kuat banget kalau buat saya euy! hehe..

Yah, akhir kata silakan menonton Dilan 1990. Tapi telanlah ia pelan-pelan, penuh kekritisan, karena bagaimanapun selalu ada jarak antara fiksi dan realita.

 

Jakarta, 30 Januari 2018
Okki Sutanto

KKP: KUTUKAN KULIAH PSIKOLOGI

Tulisan Kelima.

abednego-setio-gusti-360294
Photo by abednego setio gusti on Unsplash

 

Kalau mengikuti tulisan-tulisan sebelumnya, mungkin teman-teman jadi tertarik untuk kuliah Psikologi. Nah, semoga tulisan ini bisa mengurungkan niat tersebut. Lah? haha..

Ada sejumlah “kutukan” belajar Psikologi. Kenapa disebut kutukan? Karena hal ini bisa jadi tidak dibayangkan sebelumnya, tidak termasuk tujuan kurikulum juga, serta bisa dianggap sebagai kelemahan.

Kutukan pertama adalah semakin lama kita belajar Psikologi, semakin sulit bagi kita untuk mengutuk orang lain. Mengutuk dan menyalahkan orang lain jadi tidak semudah dulu lagi. Kita jadi terbiasa untuk melihat setiap cerita dan konflik dari dua sisi (bahkan lebih). Kita belajar mendalami motivasi dan latar belakang seseorang melakukan sesuatu. Kita terbiasa memahami dan berempati pada orang lain, seburuk apa pun tindakannya.

Dimarahin atasan tanpa sebab di kantor? Oh, mungkin dia lagi ada masalah di rumahnya lalu mencari pelampiasan amarahnya di tempat kerja. Ada klien ngeselin yang selalu punya pertanyaan bodoh? Oh mungkin pas kecil orangtuanya ga pernah hadir dalam hidupnya jadi baru bisa punya pertanyaan bodoh sekarang.

Ngeliat gubernur gelagapan ngejawab pertanyaan pembawa acara? Oh, mungkin pas remaja fase oralnya kurang terpuaskan sehingga jilat-jilat bibir mulu pas lagi ngomong. Intinya jadi susah deh membenci, di kala kita terbiasa memosisikan diri di perspektif lain. Intinya buat yang hobi dan senang membenci, menilai, dan menghakimi orang lain, ga cocok kalian itu masuk Psikologi. Nanti ga tersalurkan hobi tersebut.

Kutukan lain adalah jadi sering mempertanyakan segala sesuatu. Kadang hal-hal yang sebenarnya ga penting dan bisa jadi bukan urusan kita. Program di sekolah ini kok kurang bagus ya, ga sesuai sama tahapan perkembangan kognitifnya Piaget dan tahapan Psikososialnya Erikson. Iklan Indo Eskrim Nusantara kok gitu ya, harusnya kan zaman itu belum ada kulkas. Nah ya gitu-gitu deh pokoknya. Dari yang penting sampai ga penting, apapun yang bisa ditanyakan ya dipertanyakan.

Hobi mempertanyakan segala hal itu bisa jadi disemai dari kuatnya budaya kritis dan ilmiah di Psikologi. Maklum, sebagai ilmu yang tidak bisa dilihat dan diraba, Psikologi perlu perjuangan berat untuk bisa diakui sebagai sebuah cabang Ilmu Pengetahuan. Maka dari itu pendekatan ilmiah nan metodologis dituntut banget bagi setiap individu yang belajar Psikologi. Termasuk skeptis dan kritis pada berbagai hal.

Kutukan terakhir adalah perasaan tidak berdaya menghadapi dunia. Seringkali, kita belajar bagaimana seharusnya sesuatu itu bekerja. Namun, realita dan segala faktor semesta membuat hal itu tidak bisa dicapai. Misalnya fakta akan pentingnya cukup tidur. Kekurangan tidur (sleep deprivation) bisa berdampak buruk pada fisik dan psikis seseorang. Tapi kita juga tahu seringkali itu cuma teori belaka. Wong di saat yang sama kita belajar itu saja, dosen-dosen Psikologi berlomba kasih tugas biar mahasiswanya ga bisa tidur cukup dan tenang.

Ya setidaknya kita jadi belajar, bahwa yang tertulis di buku catatan tidaklah selalu menjadi kenyataan. Dan setiap mantan tidaklah selalu berujung ke pelaminan. Lah? Move on ngapa.

Itu kira-kira sejumlah kutukan kala belajar Psikologi. Yakin, masih minat? hehe..

Jakarta, 27 Januari 2018
Okki Sutanto

Rawat Jalan Rame-Rame

Tulisan Keempat.

martins-zemlickis-57243.jpg
Photo by Mārtiņš Zemlickis on Unsplash

Lha apaan nih tiba-tiba ada lagi sambungannya. Kirain trilogi doang tiga tulisan kemarin. haha. Tenang, saya kan ga mau kalah sama Star Wars dan Cinta Fitri. Selama ada yang nikmatin, dibikin terus. hehe..

Ada beragam alasan seseorang memutuskan untuk kuliah Psikologi. Ada yang karena pas SMA sering jadi tempat curhat temen-temennya, lalu merasa menikmati, lalu memutuskan kuliah Psikologi. Sadis nih tipe-tipe begini, menikmati banget penderitaan orang. Buktinya seneng dicurhatin dan dengerin kesedihan temennya. hehe. Gak lah, bercanda. Tipe-tipe ini biasanya cewek cakep atau minimal populer di SMAnya, karena entah kenapa curhat ke cewek cakep kan lebih nyaman daripada curhat ke cowok jelek. Buktinya? Temen saya gak ada yang pernah curhat tuh ke saya pas SMA. hehe..

Selain itu, ada yang karena anggota keluarga atau kerabatnya sudah berkarir di bidang Psikologi. Jadi cukup tahu dan tertarik dengan bidang ini. Biasanya yang begini-begini lebih serius dan jelas pas kuliah. Udah tahu lah istilahnya mau belajar apa, lulus mau jadi apa, dan gak banyak melewati fase “pencarian jati diri” pas kuliah. Abis lulus S1 juga ga nunggu lama untuk lanjut ke S2, bahkan ke S3. Ya karena udah jelas banget mau jadi apa pokoknya.

Nah, lain lagi dengan yang masuk Psikologi karena merasa ada yang salah dengan dirinya. Jadinya ingin tahu lebih dalam tentang dirinya, syukur-syukur “menyembuhkan” diri. Jumlahnya ga banyak-banyak amat sih, tapi ya gak sedikit juga. Ini dia yang istilahnya kuliah sambil rawat jalan. Bisa jadi juga gak dari awal tujuannya itu sih, mungkin banget pas kuliah belajar banyak gangguan dan abnormalitas, lalu jadi mulai analisa diri sendiri dan ikutan “rawat jalan”. Belajar Psikologi, analisa diri sendiri, lalu intervensi diri sendiri.

Makanya jangan kaget ketika kuliah Psikologi, rasa-rasanya banyak banget temen-temen yang unik. Tapi tenang, keunikan-keunikan itulah yang bikin pertemanan jadi lebih berwarna dan kita belajar empati dengan lebih mudah. Gak cukup belajar Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau sering disingkat Obul dari buku saja, pasti banyak kok teman-teman di Psikologi nanti yang jadi contoh nyata. Atau bipolar. Atau narsistik. Atau insecure. Dan lainnya.

Yang perlu jadi perhatian adalah jangan merasa “pintar” hanya karena satu-dua tahun belajar Psikologi. Apalagi sampai rajin memberi label, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Selain belum tentu benar, memberi label bisa memberi konsekuensi jangka panjang yang tidak terkira loh pada orang tersebut. Serahkanlah hal tersebut pada ahlinya. Kalian kan masih belajar. Ga ada noda ya ga belajar, memang, tapi jangan juga justru jadi “menodai” orang lain kan. Lah apaan nih kok konotasinya jadi ga enak! Ya intinya demikian.

Patut diingat bahwa sebagai ilmu sosial, Psikologi seringkali ga punya jawaban pasti. Ada banyak perspektif. Ada banyak kemungkinan jawaban yang bisa berubah tergantung konteks. Jadi jangan sampai kalian memberi vonis yang bisa menghancurkan kehidupan seseorang, cuma karena ingin dianggap pintar. Takabur itu namanya. “Eh dia kan anak indigo, jangan dekat-dekat nanti diterawang”. Atau “Eh dia kan masokis, jangan dekat-dekat nanti minta dicambuk”.

Seperti film 50 Shades of Grey, dunia Psikologi itu banyak abu-abunya. Jadi jangan sering-sering sok jadi hakim yang memutuskan hitam-putihnya sesuatu. Tak cambuk loh nanti.

Jakarta, 24 Januari 2018
Okki Sutanto

Aku Membenci Maka Aku Ada

Descartes bisa saja berkata, “aku berpikir maka aku ada”. Tapi rasa-rasanya sih di masa sekarang kalimat tersebut tidak lagi relevan. Sekarang berpikir itu sudah jadi kemewahan. Barang langka yang hanya dimiliki segelintir masyarakat.

henry-be-253912
Photo by Henry Be on Unsplash

Ga percaya? Lihat saja betapa masifnya peredaran berita palsu, fitnah, dan hasutan. Yang kalau dipikirkan lebih kritis pasti tau itu cuma hoax. Atau betapa banyak pengikut teori bumi datar. Atau betapa banyak fans Manchester United yang masih yakin bisa menjuarai liga primer tahun ini. hehe.. Bercanda bro, saya juga fans MU, tapi saya masih realistis kok.

Zaman sekarang, berpikir itu bukan suatu prasyarat lagi bagi masyarakat. Eksis dahulu, mikir kemudian. Benci dahulu, benar dan salah belakangan.

Merasa ga sih, belakang ini membenci itu makin ngetren? Ada sebuah upaya masif dan terstruktur, untuk mengarusutamakan kebencian. Masyarakat teramat sering dibagi menjadi dua kutub tanpa boleh berada di tengah. Pro pemerintah atau anti pemerintah? Muslim apa kafir? Ngucapin natal apa nggak? Dukung LGBT atau anti LGBT? Vaksin apa nggak? Bumi datar apa bumi bulat? Pro ulama apa benci ulama? Messi apa Ronaldo? Raisa apa Isyana? Jonru apa Denny Siregar?

Kita dihadapkan pada segitu banyak situasi, dimana kita harus berdiri di titik ekstrem. Kita harus memilih salah satu, dan membenci yang lainnya. Seakan-akan kita ga bisa netral dan bersikap “biasa saja”. Padahal, kita ini sebenarnya masyarakat yang punya kecenderungan netral loh.

Lupa ya di masa perang dingin, dimana dunia terbelah blok timur dan barat, INDONESIA justru salah satu PEMRAKARSA Gerakan Non Blok. Bung Karno itu loh, yang sering dibilang eksentrik dan berani, pede-pede aja tuh berdiri netral di tengah tanpa berpihak. Atau ngisi kuesioner juga, kebanyakkan kita tuh jarang milih titik ekstrem setuju banget atau tidak setuju banget. Kita lebih condong ke tengah-tengah, netral. Ya agak setuju lah. Ya agak tidak setuju lah. Ga ekstrem-ekstrem amat.

Masa sih kalau dukung Messi harus benci Ronaldo? Masing-masing punya kelebihan dan karakternya sendiri, kan. Mungkin tiap orang ya simply punya selera dan kecocokkan dengan salah satu saja. Ga harus benci. Masa sih kalau beragama Islam harus banget benci sama agama lain? Harus banget kafir-kafir dan najis-najisin agama lain?

Ya bisa jadi masyarakat sebenarnya ga mau terkutub dan terkotak-kotak begini. Masyarakat kita cenderung netral kok. Sayangnya, kita juga kian malas berpikir. Dan hal ini dimanfaatkan oleh segelintir orang, bisa dengan jubah ulama atau politisi, untuk menebar kebencian.

Kebencian itu komoditi yang amat mudah dijual. Tahu kenapa? Karena dengan membenci dan merendahkan orang lain, kita jadi merasa lebih baik. Harga diri kita terselamatkan. Ingin merasa pintar? Bodoh-bodohi saja orang lain terus menerus, lama-lama juga kita merasa lebih pintar. Ingin merasa beriman? Kafir-kafirkan saja orang lain, nanti juga terasa kita lebih suci. Simpel kan? Obat ajaib yang bisa mengubah manusia-manusia pemalas yang enggan berpikir, jadi lebih tinggi derajatnya.

Maka jangan heran, jika kebencian mudah ditemui dimana-mana. Dan jangan juga kaget, jika konflik dapat dengan mudah disemai. Jerami sudah mengering. Tinggal tunggu api dipantik saja sampai kebakaran besar ini jadi kenyataan. Berlebihankah saya? Terlalu paranoidkah? Ya semoga saja. Saya sungguh berharap kali ini saya salah.

Singapura, 11 Januari 2018
Okki Sutanto

Ilusi Resolusi

Selamat tahun baru 2018!

rakicevic-nenad-490348
Photo by Rakicevic Nenad on Unsplash

Sudah punya resolusi tahun baru? Bagus! Semoga tercapai. Saya sih ga muluk-muluk, belajar dari pengalaman kan resolusi tahun baru itu biasanya bertahan ga lebih dari seminggu. Jadi saya ga mau terjebak dalam ilusi semu bernama resolusi. Dalam euforia sesaat yang seringnya berjalan di tempat.

Gak kok, punya resolusi itu gak salah. Malah bagus kan, jadi lebih optimis dan penuh target di tahun yang baru. Dari yang mau menurunkan berat badan sampai target jumlah buku yang dibaca. Dari yang mau nikah sampai beresin tesis tanpa meringis. Siapa pun itu, dimana pun itu, saya doakan Anda berhasil!

Saya pribadi ga punya resolusi khusus, intinya mau setiap hari itu jadi lebih baik dari hari sebelumnya. Mau lebih bijak memanfaatkan waktu dan tenaga. Mau lebih bisa membahagiakan orangtua. Mau menjadi pribadi yang lebih dewasa dengan mengurangi kesinisan dan kenyinyiran. Mau punya tubuh lebih sehat sehingga bisa makan yang haram-haram sampai tua nanti! haha..

Buat yang masih menyusun resolusi, usahakan membuat resolusinya menggunakan metode SMART ya. Biar ga cuma anget-anget tai ayam tuh resolusi. haha.. Buat yang belum tahu, SMART itu singkatan: Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Timely.

Sespesifik mungkin apa targetnya, jangan kayak saya di atas. Terukur, harus ada indikator keberhasilannya. Bisa dicapai, sesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki. Realistis, dengan turut mempertimbangkan faktor-faktor di luar diri seperti waktu, prioritas, sumber daya, lingkungan, dan lainnya. Terakhir, punya jangka waktu yang jelas, bulan 1 mencapai apa, bulan 3 mencapai mana, dan seterusnya.

Metode di atas sih harusnya membantu ya, biar resolusi tahun baru teman-teman tidak terlalu mengawang dan seabstrak lukisannya Pollock. Saya pribadi sih ga menyusunnya se-SMART itu, karena saya ga punya resolusi tahun baru. Target saya cuma resolusi hari baru. Yang tiap hari saya susun ulang, refleksikan ulang, dan usahakan sebaik-baiknya.

SEMANGAT! Mari jalani tahun ini dengan bahagia, damai, dan bijak.

Batam, 2 Januari 2018
Okki Sutanto