Mencari Sunyi di Dunia yang Penuh Bunyi

“Hah? Mencari sunyi? Elu kan hobinya ngebacot, Ki.”
Iya, iya. Saya paham. Gak usah ngegas dong.

Memang saya ini kelihatannya lebih sering membuat gaduh dan ramai,
padahal tak jarang saya lebih senang berteduh dan mencari damai.

Saya sempat berpikir begini, “Kalau semua orang bikin Podcast, siapa yang dengerin?”, atau “If we endlessly produce, when will we have the time to consume?”

Maka tak jarang saya memilih mencari sunyi di dunia yang penuh bunyi.

Saya berkeyakinan untuk bisa memproduksi sesuatu, entah itu konten, tulisan, pemikiran, atau apa pun itu, kita harus terlebih dahulu mengkonsumsi. Entah dengan membaca, menonton, atau mengobrol dengan orang lain. Kalau kita tidak “mengisi” dan memastikan otak kita mendapat “input” yang bergizi, bagaimana kita bisa menghasilkan “output” yang berkualitas?

Maka saya kagum, pada orang-orang yang begitu aktif memproduksi. Yang dalam sehari bisa terus menghasilkan tulisan setara 10 lembar halaman A4 bolak-balik kayak surat cinta Rachel ke Ross. Membagikan puluhan artikel untuk dibaca oleh followersnya. Membuat video atau konten secara konsisten tanpa henti.

Bagaimana caranya, ya? Saya sih gak bisa. Untuk setiap hal yang saya konsumsi, saya butuh waktu untuk memproses, memfilter, menganalisa dan mengkritisi, sehingga tidak semua bisa langsung saya bagikan begitu saja ke orang lain tanpa nilai tambah sama sekali.

Saya gemar membaca. Dalam sehari, entah berapa banyak artikel yang saya baca. Dari email saja, saya tiap hari akan mendapat newsletter dari Daily Pnut, Finimize, Tempo, dan Kompas. Untuk kilasan berita global, berita finansial, dan berita dalam negeri. Belum lagi newsletter dari Quora dan Pocket, yang untungnya tidak harian.

Dan itu baru email. Saya juga berlangganan Harian Kompas, Tempo, dan New York Times. Belum lagi artikel-artikel menarik di Flipboard atau Google News. Dan juga tentunya linimasa yang menarik, khususnya Twitter & Instagram. Dan itu baru konsumsi dalam bentuk teks saja ya, belum audio & video seperti Podcast, Youtube, atau Netflix.

Intinya, saya senantiasa berusaha mendapat konsumsi “gizi” yang cukup, sehingga kalau saya harus memproduksi sesuatu, kualitasnya ya gak jelek-jelek amat. Inilah yang kadang membuat saya tidak sebegitu produktifnya juga dalam berkarya (ya selain fakta bahwa saya juga punya kesibukan utama yakni mencari cuan).

Episode terakhir di Podcast saya sudah nyaris setahun yang lalu. Buku yang lagi saya tulis? Gak ada progres. Artikel di Blog? Jarang-jarang. Reels Instagram? Entah. Belakangan cuma ngonten di Instagram, itu juga gak sering. Lebih ke konten-konten ringan penyalur keresahan/kerecehan saja. Bukan konten yang serius.

Belum lama ini, saya agak tertohok ketika membaca artikel dari Omar Itani berikut:

Inti dari artikelnya adalah, it’s okay to consume less and produce more. Konsumsi secara pasif tak berujung, malah bisa berujung ilusi. Ilusi bahwa kita sedang menghasilkan sesuatu, padahal tidak. Di sisi lain, rutin berkarya, dalam bentuk apapun itu, terbukti berdampak positif bagi aspek emosional dan kesehatan mental kita.

Kita tidak perlu fokus pada hasil yang luar biasa (penyakit manusia perfeksionis dan overthinking macam saya), dalam berkarya tak jarang kuantitas lebih penting daripada kualitas. Selama kita rutin berkarya, kemampuan kita akan terus terasah, dan pada ujungnya karya kita pun akan makin berkualitas (ya mirip-mirip 10.000 hours rule-nya Gladwell, kira-kira).

Lalu, apa? Ya berkarya saja. Sesering mungkin. Konsumsi tetap penting, biar otak gak kosong-kosong amat, tapi ada baiknya dibatasi. Luangkan waktu lebih banyak untuk memproduksi, daripada mengkonsumsi.

Maka, untuk teman-teman di luar sana yang masih merintis atau baru memulai berkarya, tidak perlu khawatir. Tetap konsisten dan jangan patah semangat. Berkarya, berkarya, dan berkarya!

Eh kenapa jadi terasa seperti yel-yel partainya si pembunuh hakim agung ya? Cih.

Jakarta, 7 September 2021.

Merayakan Sang Penyepong Bocah

Kemarin, seorang pedangdut baru saja keluar dari penjara. Layaknya peraih medali emas Olimpiade, sambutannya luar biasa. Media meliputnya. Televisi menawarinya kontrak. Manajernya sampai kewalahan memilih tawaran mana yang dianggap terbaik untuk kliennya.

Apa yang membuat dia dipenjara? Narkoba? Bukan. Mengutil di Gramedia? Bukan. Korupsi saweran dangdut? Bukan. Ia terbukti bersalah menyepong (melakukan oral sex) ke korbannya, seorang anak di bawah umur. Itu kejahatan utamanya, di luar fakta bahwa dia juga terbukti bersalah berusaha menyuap hakim saat persidangan.

Kita tahu kualitas media & televisi kita memang buruk. Tapi, sesampah inikah? Sampai-sampai harus memberi ruang dan mengglorifikasi pelaku kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur? Atas nama rating? Demi viral? Demi pemasukan iklan? Tak peduli lagi dengan fungsi dan tanggungjawab media untuk senantiasa memberi informasi serta edukasi ke publik?

Pelaku kejahatan seksual, khususnya terhadap anak di bawah umur, tidak seharusnya diberi ruang dan dirayakan. Di luar negeri, ruang gerak mereka amat dibatasi. Mereka terdaftar di sex offenders list yang bisa diakses publik. Tidak boleh tinggal dalam radius tertentu dengan sekolah. Akses ke internet pun dibatasi. Tujuannya jelas: melindungi korban dan calon-calon korban.

Bayangkan kalau kamu adalah korban sang penyepong bocah, apa yang mesti kamu pikirkan kalau tiap kali menyalakan televisi, terpampang wajah sang pelaku? Sedang berjoged berkelakar bersenang-senang, saat kamu sendiri masih harus berjibaku dengan trauma dan luka batin yang belum usai.

Edukasi apa yang mau televisi berikan ke masyarakat, saat pelaku kejahatan biadab justru diglorifikasi, diberi nafkah dan ketenaran? Saat kuasa, uang, dan ketenaran adalah faktor penting di masa lalu yang membuatnya bebas berperilaku semena-mena dan melakukan kejahatannya.

Jika KPI (yang saat ini juga sebenarnya sedang bermasalah), membiarkan sang penyepong bocah bebas berseliweran di televisi, saya tidak tahu lagi apa yang bisa diharapkan dari negara ini. Jika negara lebih takut warganya ngaceng melihat keteknya Shizuka atau tititnya Spongebob, daripada melihat pelaku kejahatan seksual yang sebenarnya dirayakan di televisi, saya lebih memilih untuk mematikan televisi untuk selamanya.

Jakarta, 3 September 2021.

Tes Wawasan Kebangsatan

Belakangan, ramai pembahasan tentang tes kontroversial yang diberikan kepada para staf KPK. Katanya sih namanya Tes Wawasan Kebangsaan, tapi semakin ditelaah, sepertinya lebih cocok kita anggap Tes Wawasan Kebangsatan.

Buat yang belum tahu, coba saya jelaskan secara sederhana, ya. Jadi, para staf KPK diwajibkan melalui sebuah tes. Tes ini untuk menentukan apakah mereka bisa tetap bekerja di KPK dengan dijadikan ASN (Aparatur Sipil Negara), atau dipecat. Ternyata, ada sekitar 75 orang yang dinyatakan tidak lolos tes ini. Tidak sedikit yang merupakan penyidik senior dan memiliki rekam jejak panjang dan luar biasa dalam pemberantasan korupsi di tanah air selama bertahun-tahun.

Selain itu, ternyata materi tesnya sendiri bermasalah. Banyak sekali pertanyaan nyeleneh yang muncul di tes ini. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya cuma keluar dari mulut Bu Tedjo. Bukan penyelenggara negara yang berpendidikan. Pertanyaan-pertanyaan, yang bahkan mahasiswa psikologi semester 6 pun tahu, kalau diajukan ke dosen akan dirobek-robek dan diludahi.

Buat saya, tes ini tidak lebih dari ulangan PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) di masa SD. Baik murid dan guru sama-sama tahu, pelajaran ini tidaklah penting-penting amat. Formalitas. Semua tahu, jawaban yang diharapkan seperti apa. Dan semua juga tahu, murid yang dapat nilai bagus di pelajaran ini tidak berarti suatu saat nanti bakal jadi presiden atau minimal dapetin Kalpataru. Nggak, nggak gitu mainnya.

Dan menjadikan nilai ulangan PPKN sebagai landasan sebuah keputusan penting, tentunya tindakan tolol. Bayangkan kamu di kelas 6 SD, lalu ada pemilihan ketua kelas. Kandidatnya dua. Yang pertama Budi, yang sudah kamu tahu pandai bergaul, punya leadership skill, suka membantu, cerdas, murah hati, jago olahraga, rajin menabung, ibadah, serta penyayang binatang, tapi nilai PPKNnya cuma 6. Kandidat kedua Joko, yang kamu tidak kenal-kenal banget tapi nilai PPKNnya 9?

Kalau kamu memilih Budi, selamat! Artinya kita satu frekuensi. Kalau kamu memilih Joko, selamat! Artinya kamu cocok jadi Ketua KPK.

Tidak sulit menentukan sikap dan memilih untuk berdiri di sisi mana dalam sejarah dalam kasus ini. Kalau kamu masih mendukung pemecatan para staf KPK padahal kamu sudah melewati program Wajib Belajar 9 tahun, baiknya sih kamu minta refund aja ke sekolahanmu dulu.

Why? It’s clear that your education institution has failed you.
First as a logical being. Second and foremost, as a human being.

Jakarta, 31 Mei 2021.