Hai Gie

freddy-castro-133326
Photo by Freddy Castro on Unsplash

Gie, apa kabar? Lama sudah ku tak menulisimu. Atau sekadar menyapa. Semoga kau tenang di sana, Gie. Usah resah. Sudah cukup kau resah semasa hidup. Kala menjadi mahasiswa, aktivis, pun dosen. Benar katamu, orang-orang seperti kita ini memang senantiasa resah. Ya hidup, kampus, pergerakan, pun negara kita resahkan. Padahal siapa kita ini coba? Hobi kok resah, dasar aneh. Ya tapi lebih baik resah deh ya, daripada apolitis dan apatis karena enggan berpikir kritis.

Di sana ada bioskop gak, Gie? Kalau ada, coba kau tonton Dilan, Gie. Ku ingin tahu komentarmu tentang film itu. Masak katanya rindu itu berat, Gie. Pun memukul guru dan membakar sekolah itu boleh, selama punya pembenaran. Sekeras-kerasnya kau semasa muda, juga pernah menulis “dosen yang tidak bisa dikritik lebih baik masuk tong sampah”, rasanya kita masih tahu adab dan batasan, ya. Tapi ya begitulah, Gie. Zaman sudah banyak berubah. Lelaki semacam Dilan justru kini digandrungi. Coba tonton film itu, lalu kita diskusikan. Kau masih suka diskusi film, kan?

Ya, banyak sudah berubah kini. Naik gunung sudah jadi gaya hidup, Gie. Ramai sekali gunung-gunung itu setiap akhir pekan. Dan tidak hanya komunitas pecinta alam, kini virus menggunung sudah mewabah. Sayangnya, sebagian besar tidak naik gunung untuk menyatu dengan alam atau membumi ke masyarakat. Mereka hanya mencari latar foto yang bisa dipandang unik dan keren oleh teman-temannya, dan kebetulan saja mereka memilih gunung. Untunglah zamanmu dulu belum ada Instagram, Gie. Bisa-bisa kau terusik naik gunung bersama mereka.

Belakangan sedang ramai, Gie, tentang adik kelasmu yang berjaket kuning. Tingkahnya menggelikan, ia menyemprit peluit dan memberikan kartu kuning pada kepala negara. Katanya bentuk protes, Gie. Hah? Kau bingung? Sama, Gie. Ku pun. Kenapa tak menulis di media seperti kita semasa mahasiswa dulu? Jangan bertanya padaku, Gie. Tanyalah sana pada adik kelasmu itu.

Ramai respon masyarakat, Gie. Banyak yang mencibir, termasuk aku. Tidak sedikit yang memuji karena katanya heroik dan berani, Gie. Ah, taik kucing mereka itu. Mengobral label heroik dan berani demikian murahnya. Kalau mau protes begitu sih tidak perlu mahasiswa, ya. Tukang parkir juga bisa sekadar menyemprit peluit ke presiden. Sungguh sensasi yang kosong esensi. Tidak lebih dari erupsi emosi yang minim aksi. Setuju kau, Gie?

Sekian dulu, Gie. Masih banyak sebenarnya yang ingin kuceritakan. Tapi biarlah itu nanti di surat-surat berikutnya. Tak ingin ku mengganggu istirahatmu lebih dari ini. Selamat menikmati kedamaian, Gie.

Jakarta, 9 Februari 2018
Okki Sutanto

Menelan Dilan Pelan-pelan

Dilan1990
Dari: http://img.jakpost.net/

Kali ini saya harus berterima kasih banyak pada media sosial. Karena begitu masifnya hiruk pikuk dan meme tentang Dilan dan Milea, akhirnya kemarin saya menyempatkan diri menonton Dilan 1990. Terima kasih untuk seratus delapan menit yang penuh nostalgia dan rasa syukur. Ya, rasa syukur. Syukurlah saya ga gitu-gitu amat zaman dulu. hehehe..

Menonton Dilan 1990 ya mau gak mau nostalgia ke masa SMA. Datang pagi ke sekolah naik motor demi ngelihat si doi? Pernah. Disetrap pas upacara karena baju ga rapih? Iya. Menyusup ke kelas lain dan kepergok guru? Pernah. Ngejar-ngejar anak pindahan dari kota lain? Nulis surat dan puisi? Berantem gara-gara cewek? Iyes.

Pernah semua deh rata-rata, eh tapi gak semua pas SMA sih. Ada yang pas SMP dan juga SD. Ya intinya masa sekolah lah. Gak terlalu signifikan juga, toh banyak gombalan dan obrolan di Dilan 1990 yang lebih cocoknya buat anak SD atau SMP.

Yang beda adalah jika Dilan beruntung menemukan gadis selugu dan sefiksional Milea, sayangnya saya tidak.

Coba saya samperin cewek baru pindah sekolah lalu ujug-ujug ngomong: “Saya ramal kita akan ketemu di kantin nanti”, yakinlah jawabannya tidak akan seperti di film. Mentok-mentok “JANGAN NGIKUTIN GUA LU STALKER!” atau “YA IYALAH DI KANTIN, KALO DI WC CEWEK KRIMINAL!” atau minimal dicuekin karena SKSD banget sih itu sumpah.

Untungnya Dilan bertemu Milea. Cewek yang tidak cerdas-cerdas amat padahal rajin baca buku. Cewek plegmatis yang ga bisa mengambil keputusan, padahal udah jelas pacarnya di Jakarta itu ga seru dan ga ada bagus-bagusnya selain bapaknya tajir. Cewek PHP yang baik ke semua cowok, padahal tahu semua cowok itu menaruh harapan. Tidak sulit berkata tegas dan menarik batasan yang jelas bahwa ia cuma menganggap mereka sebagai teman, tapi tidak tuh.

Lagi-lagi ini membawa saya ke masa SMP. Kala seorang cewek cantik bilang ke saya bahwa “Ga apa si Doni PDKT-in gua, gua mao tahu dia nembaknya gimana nanti.” Padahal dia jelas-jelas ga suka sama si Doni. Kan nyebelin yak. Padahal si Doni itu teman baik saya. Tapi ya seru juga sih emang liat dia PDKT dan nembak tapi ujung-ujungnya ditolak. haha.. Sadis juga saya ini.

Di balik semua keunikan dan kegombalan maha recehnya, Dilan itu ya bocah biasa. Tipikal berandal yang punya kebutuhan tinggi untuk jadi beda. Yang disalurkan melalui membaca sekian banyak buku, nulis puisi dan surat-surat romantis, dan……tawuran. Iya men, tawuran! Agak ga nyambung sih. Ibarat Rangga yang diam-diam ternyata panglima FPI. Atau Gie ternyata seorang pebalap liar. Tapi yaudahlah, namanya juga film.

Apalah saya ini cuma martabak keju kalau kata Dilan. Intinya saya ngiri kan pas zaman SMA gak ketemu Milea saya? Iya lah. Satu-satunya pelipur lara selama seratus delapan menit itu ya melihat cantik dan ayunya Milea. Cantiknya khas Sunda pula. Mojang Bogor-Bandung gitu. Gravitasinya kuat banget kalau buat saya euy! hehe..

Yah, akhir kata silakan menonton Dilan 1990. Tapi telanlah ia pelan-pelan, penuh kekritisan, karena bagaimanapun selalu ada jarak antara fiksi dan realita.

 

Jakarta, 30 Januari 2018
Okki Sutanto

KKP: KUTUKAN KULIAH PSIKOLOGI

Tulisan Kelima.

abednego-setio-gusti-360294
Photo by abednego setio gusti on Unsplash

 

Kalau mengikuti tulisan-tulisan sebelumnya, mungkin teman-teman jadi tertarik untuk kuliah Psikologi. Nah, semoga tulisan ini bisa mengurungkan niat tersebut. Lah? haha..

Ada sejumlah “kutukan” belajar Psikologi. Kenapa disebut kutukan? Karena hal ini bisa jadi tidak dibayangkan sebelumnya, tidak termasuk tujuan kurikulum juga, serta bisa dianggap sebagai kelemahan.

Kutukan pertama adalah semakin lama kita belajar Psikologi, semakin sulit bagi kita untuk mengutuk orang lain. Mengutuk dan menyalahkan orang lain jadi tidak semudah dulu lagi. Kita jadi terbiasa untuk melihat setiap cerita dan konflik dari dua sisi (bahkan lebih). Kita belajar mendalami motivasi dan latar belakang seseorang melakukan sesuatu. Kita terbiasa memahami dan berempati pada orang lain, seburuk apa pun tindakannya.

Dimarahin atasan tanpa sebab di kantor? Oh, mungkin dia lagi ada masalah di rumahnya lalu mencari pelampiasan amarahnya di tempat kerja. Ada klien ngeselin yang selalu punya pertanyaan bodoh? Oh mungkin pas kecil orangtuanya ga pernah hadir dalam hidupnya jadi baru bisa punya pertanyaan bodoh sekarang.

Ngeliat gubernur gelagapan ngejawab pertanyaan pembawa acara? Oh, mungkin pas remaja fase oralnya kurang terpuaskan sehingga jilat-jilat bibir mulu pas lagi ngomong. Intinya jadi susah deh membenci, di kala kita terbiasa memosisikan diri di perspektif lain. Intinya buat yang hobi dan senang membenci, menilai, dan menghakimi orang lain, ga cocok kalian itu masuk Psikologi. Nanti ga tersalurkan hobi tersebut.

Kutukan lain adalah jadi sering mempertanyakan segala sesuatu. Kadang hal-hal yang sebenarnya ga penting dan bisa jadi bukan urusan kita. Program di sekolah ini kok kurang bagus ya, ga sesuai sama tahapan perkembangan kognitifnya Piaget dan tahapan Psikososialnya Erikson. Iklan Indo Eskrim Nusantara kok gitu ya, harusnya kan zaman itu belum ada kulkas. Nah ya gitu-gitu deh pokoknya. Dari yang penting sampai ga penting, apapun yang bisa ditanyakan ya dipertanyakan.

Hobi mempertanyakan segala hal itu bisa jadi disemai dari kuatnya budaya kritis dan ilmiah di Psikologi. Maklum, sebagai ilmu yang tidak bisa dilihat dan diraba, Psikologi perlu perjuangan berat untuk bisa diakui sebagai sebuah cabang Ilmu Pengetahuan. Maka dari itu pendekatan ilmiah nan metodologis dituntut banget bagi setiap individu yang belajar Psikologi. Termasuk skeptis dan kritis pada berbagai hal.

Kutukan terakhir adalah perasaan tidak berdaya menghadapi dunia. Seringkali, kita belajar bagaimana seharusnya sesuatu itu bekerja. Namun, realita dan segala faktor semesta membuat hal itu tidak bisa dicapai. Misalnya fakta akan pentingnya cukup tidur. Kekurangan tidur (sleep deprivation) bisa berdampak buruk pada fisik dan psikis seseorang. Tapi kita juga tahu seringkali itu cuma teori belaka. Wong di saat yang sama kita belajar itu saja, dosen-dosen Psikologi berlomba kasih tugas biar mahasiswanya ga bisa tidur cukup dan tenang.

Ya setidaknya kita jadi belajar, bahwa yang tertulis di buku catatan tidaklah selalu menjadi kenyataan. Dan setiap mantan tidaklah selalu berujung ke pelaminan. Lah? Move on ngapa.

Itu kira-kira sejumlah kutukan kala belajar Psikologi. Yakin, masih minat? hehe..

Jakarta, 27 Januari 2018
Okki Sutanto

Rawat Jalan Rame-Rame

Tulisan Keempat.

martins-zemlickis-57243.jpg
Photo by Mārtiņš Zemlickis on Unsplash

Lha apaan nih tiba-tiba ada lagi sambungannya. Kirain trilogi doang tiga tulisan kemarin. haha. Tenang, saya kan ga mau kalah sama Star Wars dan Cinta Fitri. Selama ada yang nikmatin, dibikin terus. hehe..

Ada beragam alasan seseorang memutuskan untuk kuliah Psikologi. Ada yang karena pas SMA sering jadi tempat curhat temen-temennya, lalu merasa menikmati, lalu memutuskan kuliah Psikologi. Sadis nih tipe-tipe begini, menikmati banget penderitaan orang. Buktinya seneng dicurhatin dan dengerin kesedihan temennya. hehe. Gak lah, bercanda. Tipe-tipe ini biasanya cewek cakep atau minimal populer di SMAnya, karena entah kenapa curhat ke cewek cakep kan lebih nyaman daripada curhat ke cowok jelek. Buktinya? Temen saya gak ada yang pernah curhat tuh ke saya pas SMA. hehe..

Selain itu, ada yang karena anggota keluarga atau kerabatnya sudah berkarir di bidang Psikologi. Jadi cukup tahu dan tertarik dengan bidang ini. Biasanya yang begini-begini lebih serius dan jelas pas kuliah. Udah tahu lah istilahnya mau belajar apa, lulus mau jadi apa, dan gak banyak melewati fase “pencarian jati diri” pas kuliah. Abis lulus S1 juga ga nunggu lama untuk lanjut ke S2, bahkan ke S3. Ya karena udah jelas banget mau jadi apa pokoknya.

Nah, lain lagi dengan yang masuk Psikologi karena merasa ada yang salah dengan dirinya. Jadinya ingin tahu lebih dalam tentang dirinya, syukur-syukur “menyembuhkan” diri. Jumlahnya ga banyak-banyak amat sih, tapi ya gak sedikit juga. Ini dia yang istilahnya kuliah sambil rawat jalan. Bisa jadi juga gak dari awal tujuannya itu sih, mungkin banget pas kuliah belajar banyak gangguan dan abnormalitas, lalu jadi mulai analisa diri sendiri dan ikutan “rawat jalan”. Belajar Psikologi, analisa diri sendiri, lalu intervensi diri sendiri.

Makanya jangan kaget ketika kuliah Psikologi, rasa-rasanya banyak banget temen-temen yang unik. Tapi tenang, keunikan-keunikan itulah yang bikin pertemanan jadi lebih berwarna dan kita belajar empati dengan lebih mudah. Gak cukup belajar Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau sering disingkat Obul dari buku saja, pasti banyak kok teman-teman di Psikologi nanti yang jadi contoh nyata. Atau bipolar. Atau narsistik. Atau insecure. Dan lainnya.

Yang perlu jadi perhatian adalah jangan merasa “pintar” hanya karena satu-dua tahun belajar Psikologi. Apalagi sampai rajin memberi label, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Selain belum tentu benar, memberi label bisa memberi konsekuensi jangka panjang yang tidak terkira loh pada orang tersebut. Serahkanlah hal tersebut pada ahlinya. Kalian kan masih belajar. Ga ada noda ya ga belajar, memang, tapi jangan juga justru jadi “menodai” orang lain kan. Lah apaan nih kok konotasinya jadi ga enak! Ya intinya demikian.

Patut diingat bahwa sebagai ilmu sosial, Psikologi seringkali ga punya jawaban pasti. Ada banyak perspektif. Ada banyak kemungkinan jawaban yang bisa berubah tergantung konteks. Jadi jangan sampai kalian memberi vonis yang bisa menghancurkan kehidupan seseorang, cuma karena ingin dianggap pintar. Takabur itu namanya. “Eh dia kan anak indigo, jangan dekat-dekat nanti diterawang”. Atau “Eh dia kan masokis, jangan dekat-dekat nanti minta dicambuk”.

Seperti film 50 Shades of Grey, dunia Psikologi itu banyak abu-abunya. Jadi jangan sering-sering sok jadi hakim yang memutuskan hitam-putihnya sesuatu. Tak cambuk loh nanti.

Jakarta, 24 Januari 2018
Okki Sutanto

Aku Membenci Maka Aku Ada

Descartes bisa saja berkata, “aku berpikir maka aku ada”. Tapi rasa-rasanya sih di masa sekarang kalimat tersebut tidak lagi relevan. Sekarang berpikir itu sudah jadi kemewahan. Barang langka yang hanya dimiliki segelintir masyarakat.

henry-be-253912
Photo by Henry Be on Unsplash

Ga percaya? Lihat saja betapa masifnya peredaran berita palsu, fitnah, dan hasutan. Yang kalau dipikirkan lebih kritis pasti tau itu cuma hoax. Atau betapa banyak pengikut teori bumi datar. Atau betapa banyak fans Manchester United yang masih yakin bisa menjuarai liga primer tahun ini. hehe.. Bercanda bro, saya juga fans MU, tapi saya masih realistis kok.

Zaman sekarang, berpikir itu bukan suatu prasyarat lagi bagi masyarakat. Eksis dahulu, mikir kemudian. Benci dahulu, benar dan salah belakangan.

Merasa ga sih, belakang ini membenci itu makin ngetren? Ada sebuah upaya masif dan terstruktur, untuk mengarusutamakan kebencian. Masyarakat teramat sering dibagi menjadi dua kutub tanpa boleh berada di tengah. Pro pemerintah atau anti pemerintah? Muslim apa kafir? Ngucapin natal apa nggak? Dukung LGBT atau anti LGBT? Vaksin apa nggak? Bumi datar apa bumi bulat? Pro ulama apa benci ulama? Messi apa Ronaldo? Raisa apa Isyana? Jonru apa Denny Siregar?

Kita dihadapkan pada segitu banyak situasi, dimana kita harus berdiri di titik ekstrem. Kita harus memilih salah satu, dan membenci yang lainnya. Seakan-akan kita ga bisa netral dan bersikap “biasa saja”. Padahal, kita ini sebenarnya masyarakat yang punya kecenderungan netral loh.

Lupa ya di masa perang dingin, dimana dunia terbelah blok timur dan barat, INDONESIA justru salah satu PEMRAKARSA Gerakan Non Blok. Bung Karno itu loh, yang sering dibilang eksentrik dan berani, pede-pede aja tuh berdiri netral di tengah tanpa berpihak. Atau ngisi kuesioner juga, kebanyakkan kita tuh jarang milih titik ekstrem setuju banget atau tidak setuju banget. Kita lebih condong ke tengah-tengah, netral. Ya agak setuju lah. Ya agak tidak setuju lah. Ga ekstrem-ekstrem amat.

Masa sih kalau dukung Messi harus benci Ronaldo? Masing-masing punya kelebihan dan karakternya sendiri, kan. Mungkin tiap orang ya simply punya selera dan kecocokkan dengan salah satu saja. Ga harus benci. Masa sih kalau beragama Islam harus banget benci sama agama lain? Harus banget kafir-kafir dan najis-najisin agama lain?

Ya bisa jadi masyarakat sebenarnya ga mau terkutub dan terkotak-kotak begini. Masyarakat kita cenderung netral kok. Sayangnya, kita juga kian malas berpikir. Dan hal ini dimanfaatkan oleh segelintir orang, bisa dengan jubah ulama atau politisi, untuk menebar kebencian.

Kebencian itu komoditi yang amat mudah dijual. Tahu kenapa? Karena dengan membenci dan merendahkan orang lain, kita jadi merasa lebih baik. Harga diri kita terselamatkan. Ingin merasa pintar? Bodoh-bodohi saja orang lain terus menerus, lama-lama juga kita merasa lebih pintar. Ingin merasa beriman? Kafir-kafirkan saja orang lain, nanti juga terasa kita lebih suci. Simpel kan? Obat ajaib yang bisa mengubah manusia-manusia pemalas yang enggan berpikir, jadi lebih tinggi derajatnya.

Maka jangan heran, jika kebencian mudah ditemui dimana-mana. Dan jangan juga kaget, jika konflik dapat dengan mudah disemai. Jerami sudah mengering. Tinggal tunggu api dipantik saja sampai kebakaran besar ini jadi kenyataan. Berlebihankah saya? Terlalu paranoidkah? Ya semoga saja. Saya sungguh berharap kali ini saya salah.

Singapura, 11 Januari 2018
Okki Sutanto

Ilusi Resolusi

Selamat tahun baru 2018!

rakicevic-nenad-490348
Photo by Rakicevic Nenad on Unsplash

Sudah punya resolusi tahun baru? Bagus! Semoga tercapai. Saya sih ga muluk-muluk, belajar dari pengalaman kan resolusi tahun baru itu biasanya bertahan ga lebih dari seminggu. Jadi saya ga mau terjebak dalam ilusi semu bernama resolusi. Dalam euforia sesaat yang seringnya berjalan di tempat.

Gak kok, punya resolusi itu gak salah. Malah bagus kan, jadi lebih optimis dan penuh target di tahun yang baru. Dari yang mau menurunkan berat badan sampai target jumlah buku yang dibaca. Dari yang mau nikah sampai beresin tesis tanpa meringis. Siapa pun itu, dimana pun itu, saya doakan Anda berhasil!

Saya pribadi ga punya resolusi khusus, intinya mau setiap hari itu jadi lebih baik dari hari sebelumnya. Mau lebih bijak memanfaatkan waktu dan tenaga. Mau lebih bisa membahagiakan orangtua. Mau menjadi pribadi yang lebih dewasa dengan mengurangi kesinisan dan kenyinyiran. Mau punya tubuh lebih sehat sehingga bisa makan yang haram-haram sampai tua nanti! haha..

Buat yang masih menyusun resolusi, usahakan membuat resolusinya menggunakan metode SMART ya. Biar ga cuma anget-anget tai ayam tuh resolusi. haha.. Buat yang belum tahu, SMART itu singkatan: Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Timely.

Sespesifik mungkin apa targetnya, jangan kayak saya di atas. Terukur, harus ada indikator keberhasilannya. Bisa dicapai, sesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki. Realistis, dengan turut mempertimbangkan faktor-faktor di luar diri seperti waktu, prioritas, sumber daya, lingkungan, dan lainnya. Terakhir, punya jangka waktu yang jelas, bulan 1 mencapai apa, bulan 3 mencapai mana, dan seterusnya.

Metode di atas sih harusnya membantu ya, biar resolusi tahun baru teman-teman tidak terlalu mengawang dan seabstrak lukisannya Pollock. Saya pribadi sih ga menyusunnya se-SMART itu, karena saya ga punya resolusi tahun baru. Target saya cuma resolusi hari baru. Yang tiap hari saya susun ulang, refleksikan ulang, dan usahakan sebaik-baiknya.

SEMANGAT! Mari jalani tahun ini dengan bahagia, damai, dan bijak.

Batam, 2 Januari 2018
Okki Sutanto

Catatan Akhir Tahun

michal-grosicki-366023
Photo by Michał Grosicki on Unsplash

 

Banyak manusia merindukan sesuatu yang konstan. Mencari pelarian dari begitu banyak hal yang senantiasa datang hanya untuk pergi kembali. Seperti debur ombak, yang kerap datang menyetubuhi bibir pantai, hanya untuk sejenak kemudian kembali pergi ke laut lepas. Seperti matahari, yang setiap pagi memberi salam, hanya untuk tenggelam kala tiba sang malam.

Sayangnya, sedikit sekali hal yang konstan dan abadi. Yang konstan itu hanya perubahan, kata orang bijak. Pun waktu, yang berlalu demikian cepat. Detik demi detik. Hari demi hari. Dan dalam hitungan hari, tahun ini pun akan segera berganti.

Buat saya, salah satu yang konstan itu adalah pembelajaran. Tiap momen, tiap kesempatan, tiap tahun, senantiasa ada hal baru yang dipelajari. Maka izinkan saya mencatat dan merefleksikan kembali sejumlah pelajaran yang saya dapat di tahun 2017 ini.

AH ELAH INTRONYA PANJANG BANGET BELOM SAMPE MANA MANA NYET! INI CATATAN APA PIDATO KEPALA SEKOLAH PAS TUJUH BELASAN! hahahaha.. Maap keleus. Saya bukan Fahri yang mahasempurna dengan segala kelaki-lakiannya.

Yang pertama adalah betapa tidak pentingnya PENGKULTUSAN dan pengidolaan terhadap seseorang. Seseorang itu, sebaik apapun terlihatnya, punya “harga” dan “keterbatasan”. Tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang bebas cela. Semua bisa mengecewakan. Semua bisa menjilat ludah sendiri. Saya sih ga mau kasih contoh. Tapi kurang lebih macam Aung San Su Kyii. Anies. Pun Trudeau dan Macron. LAH APANYA YANG GA MAO KASIH CONTOH SIH, INKONSISTEN LU KI!

Yang kedua adalah pentingnya MERELAKAN. Merelakan tanpa menghela nafas itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi yang sudah terjadi ya memang harus terjadi. Rezeki-rezeki yang hilang karena tangan-tangan jahil. Pintu-pintu yang tertutup karena ketidaksengajaan. Jembatan-jembatan yang terbakar karena api masa lalu. Banyak deh, pokoknya. Yang paling nyesek itu ya saat saya harus merelakan Raisa kepada Hamish. GA LAH BERCANDA, RAISA ITU BIASA AJA GA CAKEP-CAKEP AMAT! **bersiap disambit lelaki se-Indonesia**

Yang ketiga adalah tentang KESEDERHANAAN. Sejak menonton film dokumenter Minimalism, banyak yang saya konstruksi ulang dalam pikiran saya. Ada hal-hal yang tak lagi mengganggu pikiran saya. Ada barang-barang yang tak lagi “mengikat” saya. Ada pemicu-pemicu stres yang tak lagi saya pedulikan. Hidup itu simpel. Yang bikin ribet itu konstruksi realita yang seringkali kita buat-buat di dalam pikiran kita sendiri.

Yang keempat menyoal KESABARAN. Berjalan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, jauh lebih baik daripada berjalan di tempat. Apalagi enggan bergerak karena merasa beban itu terlalu berat. Tesis yang tak usai-usai itu toh selesai juga. Bisnis yang tak terbang-terbang itu toh lepas landas juga. Buku yang tak tamat-tamat itu toh terbaca juga. Satu langkah maju tetap lebih baik daripada seratus langkah mundur. YA IYALAH NENEK-NENEK CREAMBATH JUGA TAU KELEUS! INI KALIMAT APAAN!

Yang terakhir menyoal INOVASI DAN BERPIKIR KREATIF. Dua hal ini jadi jauh lebih saya perhatikan, terlebih selepas membaca buku Originals karya Adam Grant. Melihat hal yang sama dengan kacamata yang berbeda (vuja de, kebalikan dari deja vu). Senantiasa menantang kestabilan dan cara-cara konvensional. Selalu kritis pada pikiran sendiri pun orang lain. Hal ini membuat saya melihat berbagai aspek kehidupan secara berbeda, ya bisnis, ya relasi, ya struktur sosial, dan lain sebagainya.

Ya, mungkin demikian hal-hal yang saya pelajari. Mungkin ada yang lupa saya tulis, ya tak apa, saya sudah belajar merelakannya. hehe.. Terima kasih 2017! Yuk kita kemon, 2018!

Jadi… Apa yang sudah Anda pelajari di tahun ini?

Jakarta, 30 Desember 2017
Okki Sutanto