Pemenang Giveaway Podcast Pinteran

Hai teman-teman sekalian!

 

Terima kasih banget buat segala respon, masukan, dan partisipasi teman-teman untuk giveaway Podcast Pinteran gue yak (https://okkisutanto.com/2019/01/12/podcast-pinteran-giveaway/). Terima kasih banget juga buat yang udah bantu nyebarin info ini, khususnya Kokoh Handoko Tjung (@handokotjung) yaaa yang udah bantu me-RT twit gue kemarin sampe banyak yang denger. I owe you brooo.. ūüôā

Naaah, kali ini gue mau umumin pemenangnya!

Jeng jeng jeng jeng… Ga sabar kan? hehe..

.

.

.

.

PEMENANGNYA ADALAH….

.

.

.

Eh sebelomnya gue jelasin dulu ya ini berdasarkan keberuntungan saja ya. Gue milihnya agak-agak random sampling saja, soalnya setiap yang berpartisipasi tuh beneran bikin gue terharu dan semangat untuk terus berkarya. Jadi jangan sedih, terus ikutin Podcast gue untuk mendapatkan hadiah-hadiah menarik di balik tutup botol kalian. #LOH haha..

.

.

.

PEMENANG GIVEAWAY PODCAST PINTERAN

  1. @alfinovriando (Instagram)

  2. @Faruq_AlBanna (Twitter)

  3. @azure_snowflake (Instagram)

 

SELAMAAAAT buat teman-teman yang beruntung ya. Semoga makin semangat dengerin Podcast gue. Nantikan episode berikutnya segera ya, dari kemarin mau recording tapi saya sariawan. hahaha..

 

Buat yang gak beruntung, jangan berkecil hati. Kalian tau kan kalo Coca Cola atau McDonald bikin kompetisi gitu, semua staf dan anggota keluarganya gak boleh ikutan. Jadi, mungkin aja kalian gak menang bukan karena kurang beruntung, tapi karena kalian gue anggep sebagai keluarga sendiri. Jadi gak menang biar gak dikira ada praktik nepotisme di sini. hahahaha.. Bisa aja ya gue ngelesnya? haha..

 

Oke, untuk yang beruntung, silakan email buku yang kalian inginkan (judul + penulisnya), serta alamat lengkap kalian ke email gue di okki.sutanto@gmail.com ya. Abis email boleh colek gue juga di Instagram / Twitter, biar gue notice emailnya. Takutnya keskip.

 

Email kalian ditunggu sampai Senin depan (11 Februari 2019) pukul 23.59 ya. Kalau gak tau mau buku apa, kalian ceritain aja kira-kira lagi tertarik sama bidang apa nanti gue cariin buku yang menurut gue sesuai buat kalian! Hadiah akan dikirimkan paling lambat Senin (18 Februari 2019) ke alamat kalian ya.

 

Sekian pengumuman kali ini. Sekali lagi selamat buat teman-teman yang beruntung ya. Juga terima kasih sebanyak-banyaknya buat setiap insan yang sudah berpartisipasi di giveaway ini. Kalian semua sungguh terbhaiiique! :’)
Sampai jumpa di lain kesempatan… Salam Pinteran!

Podcast Pinteran Giveaway

Oke, jadi belakangan ini gue lagi suka bikin podcast di Spotify, namanya Podcast Pinteran. Di episode kelima kali ini, gue ingin berbagi sesuatu bagi para pendengar setia gue (sekalian promoin Podcast gue, sekali mendayung dua pulau terlewati) hahaha..

Caranya sederhana, cukup share di medsos kalian, boleh Twitter/Facebook/Instagram, tentang episode podcast mana yang paling kalian suka dan kenapa. Sekalian tag gue ya biar gue tau (@okki_sutanto di Twitter atau @okkisutanto di Instagram).

Udah gitu aja. Gampang kan? Hehe..

Tiga pemenang beruntung akan dapat hadiah menarik: any book on earth. Yap. Buku. Apa pun. Selama buku itu dijual untuk umum (Gramed / Kino / Amazon / Apps Store / Google Play), dan selama ada di bumi. Buku fisik. Buku digital. Bahasa indo. Bahasa Inggris. Sampe bahasa tronjal-tronjol. Bebas. Pokoknya buku. Kalo ga tau mau buku apa, ya nanti gue yang pilihin. Tenang saja.

Kalo dijual tapi di planet Mars gimana? Ya ga bisa. Kalo ada di bumi tapi ga dijual misalnya naskah orisinil konstitusi Amrik, ya ga bisa juga. Jangan aneh-aneh lah ya Ferguso. ūüėā

Giveaway berakhir akhir bulan ini: 31 Januari 2019, pukul 23.59 WIB. Pemenang akan gue publish dan gue DM yak.

Good luck guys!

Dua Puluh Sembilan

 

brian-patrick-tagalog-700814-unsplash
Photo by Brian Patrick Tagalog on Unsplash

Beberapa hari lalu saya memulai tahun terakhir usia dua puluhan. Ya, dua puluh sembilan tahun sudah saya numpang bernapas di muka bumi. Melihat segala yang indah dan buruk. Tak lupa mengecap segala yang manis, asam, pun pahit. Ya begitulah hidup, bukan? Kalau melulu manis, ya gak seru. Sesekali haruslah mengecap yang pahit, biar bisa lebih menghargai yang manis.

Tiga ratus enam puluh hari lagi, saya akan memasuki usia tiga puluhan. Ga tahu sih, apa bedanya usia dua puluhan dan tiga puluhan. Apa mendadak jadi lebih bijak dalam menjalani hidup? Ya kan gak juga. Apa mendadak jadi botak dan ubanan? Ya semoga tidak.

Rasa-rasanya sih, tiga puluh bukan suatu “jenjang” baru yang berubah drastis banget yak. Ga kayak empat puluh, setidaknya. Kan katanya life begins at forty. Majalah Fortunes juga seringnya bikin “40 Under 40” untuk orang-orang berprestasi di bawah usia 40. Jadi, apa ada beda signifikan bagi kita saat beranjak dari 20-an tahun ke 30-an tahun? Ya tidak tahu juga.

Yang pasti, sudah tidak muda-muda banget lagi. Muda, masih. Cuma ya ga muda-muda amat. Kalau dengar ada orang bilang usianya “dua puluhan”, kan mungkin yang terbayang itu gambaran anak kuliahan, atau orang yang baru lulus dan mulai cari kerja. Kalau “tiga puluhan” kan pasti gambarannya udah beda. Bukan lagi dedek-dedek gemes yang masih bingung hidupnya mau dibawa kemana. Masih mencari jati diri. Masih haha-hihi terombang-ambing ketidakpastian hidup.

Ya harusnya sih lebih dewasa. Whatever the hell that means. haha.

Lebih dewasa, artinya tugas perkembangannya juga berbeda kalau kata Erikson. Ini Erikson psikolog perkembangan ya, bukan Sven-Goran Eriksson eks pelatih timnas Inggris.

Umumnya sih, “tiga puluhan” ya sudah bukan waktunya lagi mikirin kuliahan, nongkrong dimana, dan milih karir apa. Biasanya sih, “tiga puluhan” identik dengan hal-hal yang lebih dewasa. Ya mikirin pasangan hidup, anak (kalau yang sudah menikah), dan segala macam cicilan.

Eh tapi menikah, berkeluarga, dan pencapaian materialistik itu cuma konstruksi sosial semata yang dibentuk dan diharapkan masyarakat. Sejatinya ya setiap orang punya pilihan bebasnya. Mau nikah boleh. Enggak juga bebas. Mau punya anak silakan (asal jangan kebanyakan, nanti dimarahin Thanos). Enggak ya monggo. Mau jadi crazy rich asian boleh. Mau jadi crazy asian doang juga silakan.

Intinya, saya ingin menjalani tahun terakhir sebelum memasuki 30 ini sebaik-baiknya. Mempersiapkan diri sesanggup-sanggupnya menyongsong tugas-tugas kehidupan berikutnya yang mungkin lebih berat. Ya iya sih harusnya begitu, kalau ga makin berat artinya jalan di tempat dong. Masa badan doang yang makin berat, tantangan hidup juga dong!

Juga tak lupa saya berterima kasih dan bersyukur, atas segala yang sudah saya alami sepanjang dua puluh sembilan tahun ini. Ya keluarga dan teman. Ya orang-orang yang melalui persinggungan dengan mereka mendewasakan saya. Ya orang-orang luar biasa hebat yang membuat saya terinspirasi. Juga orang-orang luar biasa brengsek yang membuat saya bersyukur bahwa saya tidak demikian. Untuk segala nikmat yang tak mungkin terdustai. Untuk segala bencana yang mendewasakan. Untuk memori-memori menghangatkan yang sulit membuat lupa. Juga memori-memori menyesakkan yang pernah membuat luka.

Terima kasih, ya Tuhan dan semesta.

Semoga ke depannya saya bisa makin berguna, bagi keluarga, lingkungan, bangsa dan negara. Makin dipercayakan perkara-perkara yang lebih besar. Makin diberi kesempatan untuk berkarya sekecil apa pun.

Itu saja. Kali ini.

 

Jakarta, 25 Oktober 2018
Okki Sutanto

Mengulas Incurable

Screen Shot 2018-06-11 at 8.08.14 PM

Kali ini, mari kita bahas sebuah buku. Novel pertama karya Stella Azasya, seorang penulis muda dari Surabaya. Saya pertama kali mengenal Stella dari karya tulisannya yang lain, di media tempatnya bekerja. Lantas saya ikuti dia (setidaknya di Media Sosial, soalnya Surabaya jauh), lalu saya beli novelnya. Biar lebih mengenal penulisnya, ceritanya. Lho, ini kita mau bahas novel apa penulisnya? Novel aja deh, ya. Biar penulisnya saya bahas di kesempatan lain. #Eh

Buat saya, membaca Incurable menjadi pengalaman pertama akan banyak hal. Ini kali pertama saya membeli buku via online. Maklum, anaknya oldschool kalau urusan buku, harus dilihat-diraba-diterawang dulu sebelum beli. Ini juga kali pertama saya membaca buku dari penerbit indie. Dengar sering, beli belum. Terakhir, ini juga kali pertama saya membaca novel perdana dari seorang penulis muda. Bukan bermaksud sombong (biasa kalimat yang diawali begini ujungnya sombong sik, maklumin aja udah), tapi saya sangat selektif dalam membaca. Kalau nonfiksi, minimal harus direkomendasikan New York Times atau Oprah. Kalau fiksi, minimal penulisnya pernah meraih penghargaan. Atau eks tapol. Atau karyanya telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Eh, ini ga lagi ngomongin Pram, kok.

Yha, bagaimanapun, dalam hidup selalu ada pengalaman pertama, bukan? Dan belum tentu pengalaman pertama berakhir buruk. Persis! Saya tidak menyesal membeli dan membaca buku ini. Iya, banyak ruang untuk perbaikan di sana-sini. Iya, gaya penulisan dan kedalaman karakter masih bisa dielaborasi. Iya, ada banyak tanya yang tidak terjawab. Tapi, nanti dulu. Mari saya ceritakan kenapa saya menyukai buku ini (bukunya ya, urusan penulisnya sih belakangan, lain kali).

Bagaimana membeli buku ini merupakan hal baru bagi saya, sudah saya ceritakan di awal. Ternyata, tak berhenti sampai di situ, buku ini juga membawa rasa dan pengalaman baru saat dibaca. Kebebasan mengeksplorasi dan kelenturan berbahasa, misalnya, membuat buku ini renyah untuk dibaca. Bahasanya sederhana, bahasa sehari-hari, akan kehidupan tiga anak manusia yang juga pada umumnya, membuat kisah Bayu, Sam, dan Bianka (Bianka pake K, bukan pake C, kenapa demikian tanya saja penulisnya) jadi amat relatable. Akan menarik dibaca oleh pembaca remaja dan dewasa muda! Problematika keseharian, yang dibungkus dengan luka masa lalu dan pergumulan batin, membuat kita menerka-nerka bagaimana akhir dari kisah ini.

Saya selalu kagum dengan mereka-mereka yang bisa menyelesaikan sebuah buku, terlebih karena saya sendiri belum sanggup. Nafasnya kurang panjang! hehe.. Begitu pun saya kagum pada Stella Azasya, yang sanggup menyelesaikan novel perdananya ini di tengah kesibukannya bekerja di media. Tapi, bukan berarti bisa berpuas diri, bukan? Saya yakin di usianya yang masih sebelia ini, ke depannya masih banyak karya lain yang bisa kita nantikan. Tapi, apa yang masih bisa disempurnakan? Nah, pertanyaan itu yang lebih penting untuk kita bahas bersama-sama.

Pertama-tama, fokus pada perkara-perkara kecil. Saya masih menjumpai beberapa kesalahan penulisan (typo), yang makin ke belakang makin banyak (saya berasumsi halaman 150 ke atas ditulis dengan lebih terburu-buru dan kurang tidur, benar tidak, Stella?). Biasanya ini urusan editor, sih. Mungkin editornya kurang minum Aqua? Bisa jadi. Pembaca awam mungkin tidak akan terlalu sadar juga, tapi karena saya bekas editor, asdos kepenulisan, dan memang hobi membaca, jadinya sulit untuk tidak terganggu.

Yang kedua, realisme dialog. Memang, bahasa lisan dan tulisan tentu berbeda, tapi ada banyak dialog sehari-hari, pun pembatinan, yang membuat saya merasa sepertinya  karakter ini sedang monolog di Salihara. Padahal tidak, sedang ngobrol biasa saja. Urusan dialog ini masih perlu dilenturkan lagi sehingga sungguh-sungguh terkesan seperti dialog dua kolega kantor pada umumnya, yang pas kuliah ga ngambil jurusan Sastra Jerman.

Yang ketiga, membangun tokoh atau karakter dengan lebih dalam dan kompleks. Oke, masing-masing karakter di novel ini punya masa lalu yang bisa dikatakan tragis. Masing-masing berhak menjadi karakter yang rumit di masa kini. Namun, pembaca (saya) masih kesulitan memahami tindak dan keputusan yang diambil di hari ini, karena kurang mendapatkan kepribadian si tokoh secara lebih utuh. Kenapa dia begini? Kenapa dia begitu? Ingin ini ingin itu, banyak sekali. Lho malah jadi nyanyi Doraemon. Mungkin cara ini membantu: membuat kuesioner detil akan tiap karakter (klik aja ada linknya). Memang sangat detil, ya gak semuanya juga harus diisi, dan lebih-lebih gak semuanya perlu dijejalkan ke pembaca. Disisipkan sedikit demi sedikit di banyak kesempatan. Bisa membantu membuat karakter kita lebih kuat dan tidak kontradiktif.

Keempat, bermain dan bereksplorasi dengan beragam gaya bercerita dan alur. Alur tidak harus senantiasa maju ke depan. Maju mundur kadang lebih sip (?). Apalagi masing-masing karakter memiliki masa lalu yang menarik untuk dibahas. Ya gak harus seekstensif The Odyssey-nya Homer juga, sih, urusan bereksplorasinya.

 

Apa pun itu, variasi membuat segala sesuatu menjadi lebih menarik, toh (?) Selain itu, dengan mengeksplorasi berbagai gaya bercerita, lambat laun kita akan menemukan gaya kita sendiri. Yang akan menjadi kekhasan dan membedakan kita dari penulis lainnya.

Demikianlah!

Sekian kiranya ulasan saya terhadap buku Incurable ini. Salut dan proficiat, Stella Azasya, atas buku perdananya! Ditunggu karya-karya berikutnya yang lebih matang, dahsyat, dan menunjukkan ciri khasmu sebagai penulis.

Semoga ulasan ini tidak dianggap lancang (lancang apanya wong saya sendiri belum pernah nulis buku kok. haha), karena jujur pembahasan di sini tidak sekejam pembahasan Dewan Kesenian Jakarta atas Sayembara Novel tahun 2016 lalu:

https://dkj.or.id/artikel/pertanggungjawaban-dewan-juri-sayembara-menulis-novel-dewan-kesenian-jakarta-2016/

 

Eh, tapi boleh banget sih dibaca sebagai pembelajaran. Ada aja yang bisa dipetik.

Demikian ulasan saya atas buku Incurable karya Stella Azasya, yang diterbitkan oleh Stilleto Book pada April 2018 lalu. Yang tertarik dan ingin membaca, silakan membelinya dari: http://www.stilettobook.com/incurable.html

Selamat menikmati!

 

Jakarta, 11 Juni 2018

REVIEW FILM RAMPAGE! DOR DOR JEGER!

rampage_ver2
Makanya pelihara kucing atau marmut aja, kalau ngamuk minimal cakar-cakar manja. Kalau gorila / buaya / serigala ngamuk kan ribet.

 

Akhir pekan lalu gue nonton Rampage. Yaaah, biasa lah tipikal film-film beginian. Setipe sama Jurassic World atau King Kong, dengan nuansa San Andreas, dimana sutradara dan pemain bintangnya kebetulan kerja bareng lagi di film ini. Ancur-ancuran, destruksi total, dan “kiamat” kecil, dimana jagoan kita berjuang menyelamatkan kota / negara / planet.

Typecast juga sih ini si Dwayne Johnson. Lelaki perkasa anti mati dengan nyawa lebih banyak dari kucing. Bahkan backstory-nya lama-lama mirip juga: ex military personnel yang kesulitan berinteraksi dengan manusia. Yah cocok-cocok aja sih. Tapi boleh lah sekali-kali jadi ex ballerina dancer gitu. Atau ex pemandu karaoke Alexis.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.47.38 AM
Inget sesuatu? Jumanji misalnya? Pilem doi sblom ini? haha.. Ada the rock di balik the rock. (?)

Jadi ceritanya si The Rock jadi pawang gorila di sebuah pusat konservasi. Doi punya sahabat baik namanya George, gorila albino langka. Si George pinter, sampe-sampe bisa berkomunikasi dengan sangat lancar menggunakan bahasa isyarat.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.50.35 AM
gitu coy. Bisa ga lu bahasa isyarat? Ga bisa kan? Makanya ga usah sok pinter. Kalah lu sama gorila. Lah, kenapa gua ngegas gini. haha..

Suatu saat, terkontaminasi sama suatu serum misterius hasil eksperimen, si George jadi agresif dan bertumbuh dengan luar biasa pesat. Dalam sehari bisa membesar berkali-kali lipat, dan bawaannya ngamuk-ngamuk ngancur-ngancurin apa aja yang bisa diancurin.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.51.16 AM
lu juga sih kayak netijen Indonesia, George. Kepo anaknya. Coba lu ga kepo megang-megang tuh benda. Aman sentosa deh.

Alhasil, George yang liar dan beringas ini menjadi ancaman nasional. Doi diincar sama militer (yang ingin menyelamatkan masyarakat), diburu sama pasukan sebuah perusahaan (yang ingin menyelamatkan “aset” perusahaan), dan dikejar-kejar sama si The Rock (yang ingin menyelamatkan si George). Sebenarnya kalau cuma si George doang, masalah mungkin ga segitu rumit karena sedikit banyak masih bisa diajak komunikasi sama si The Rock. Meski sudah berubah drastis, mungkin rasa sayang itu masih tersisa. Nyet ini ngomongin pilem apa mantan?

Semua menjadi ribet karena ternyata yang terkontaminasi sama serum misterius itu bukan cuma George, tapi ada juga serigala raksasa yang bisa terbang dan buaya raksasa yang berenangnya lebih cepet dari Michael Phelps. Belum lagi si The Rock harus berpacu dengan waktu karena militer udah bohwat dan milih untuk nge-MOAB (mother of all bomb) satu kota kayak di pilem Avengers pertama.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.50.48 AM
Cute lho doi sblom kena serum misterius. Kekar, berbulu, ganteng. Kalo masuk Tinder mungkin lebih banyak yang swipe daripada gue. Lha malah curcol!

Yah, kurang lebih begitulah filmnya. Gih nonton di bioskop mumpung masih ada. Atau nunggu streaming juga boleh. Jujur agak kecewa karena filmnya ga “senyawa” dengan video game aslinya, dimana perspektifnya itu ya perspektif si monster ngamuk, dimana kehancuran dilakukan dengan tujuan. Di sini kita diajak melihat dari perspektifnya si The Rock, dan destruksi dilakukan sebatas ekstasi tanpa esensi. Horor yang mencekam dan membahayakan masyarakat. Ga lebih dan ga kurang. Jadinya ga semudah itu bersimpati pada George dan kawan-kawannya.

Terlepas dari itu semua, juga ceritanya yang standar dan bisa ditebak (endingnya Jurassic World abis), film ini bisa dinikmati tanpa banyak mikir (dumb fun movies). Seru-seruan aja laaah daripada hampa kan akhir pekan lu gak ngapa-ngapain. Ye gak?

 

Jakarta, 20 April 2018.
Okki Sutanto

A QUIET PLACE: BERBUNYI DALAM SUNYI.

Udah lama sik sebenernya nonton A Quiet Place. Cuma karena lagi kekurangan objek buat ditulis yaudalah gue review juga. Toh sekarang kan jadwal tayang di bioskop bukan segalanya, siapa tahu ada yang baru mau nonton streaming atau rental via Google Play pun iTunes. Atau beli bajakan. Nyet, hina banget sih idup lo masih aja bajakan. 2018 ini lho!

A QUIET PLACE

Film ini sebenarnya simpel dan minimalis. Baik plotnya pun pemainnya. Bahkan di credit title aja semua nama pemain cukup 3/4 layar udah ketulis semua, tanpa perlu scroll ke bawah. Kalah panjang deh sama nama-nama yang lo terimakasihin di kata pengantar skripsi.

Pas awal tau ini film horor sebenernya gue ga minat-minat amat nonton. Tapi pas tau ternyata horornya adalah makhluk luar angkasa (alien), bukan makhluk halus (setan-setanan), jadi tertarik juga. Simpel aja lah. Kalo horornya makhluk halus, bisa aja kan beneran kejadian. Pas lu nyetir di kursi belakang tiba-tiba ada Sadako. Pas lu lagi mandi tiba-tiba dikeramasin sama suster keramas. Ngeri coy! Kalo alien mah gue ga takut. Sebodo amat deh kalo lagi mandi ada alien nimbrung. Mandi bareng lah kuy. Apalagi alien macam Gamora atau Nebula-nya Guardians of Galaxy!

Kembali ke pilem. Ceritanya ada invasi alien ke bumi. Banyak kota-kota hancur dan penduduk yang selamat pun sedikit dan terpencar-pencar. Film ini fokus sama satu keluarga yang berjuang bertahan hidup. Ada emak, bapak, sama 3 anaknya. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, semua dilakukan penuh kesunyian. Kenapa? Karena aliennya ini ga bisa ngeliat, cuma punya telinga super yang sensitif sama suara-suara berisik. Begitu ada yang berisik atau gaduh langsung dimangsa sama mereka. Cocok deh buat jadi pengawas ujian. Jadinya, sepanjang film komunikasi harus bisik-bisik atau pakai bahasa isyarat.

Filmnya ya seputaran itu sih. Bagaimana mereka bertahan hidup, mencari cara untuk hidup normal tanpa “mengundang” perhatian si alien. Juga mengatasi rasa kehilangan, rasa bersalah, dan segenap luka masa lalu mereka.

Konflik-konflik psikologis yang sederhana tapi mengena itu menjadi rumit…..tatkala si emaknya hamil coy! Gue sih gak abis pikir apa yang ada di pikiran mereka. Kenapa harus begituan? Sabar ngapa men! Jelas-jelas lagi ada alien, lu ga boleh berisik, kenapa juga masih begituan? Enak apa begituan diem-dieman? Gimana caranyaa? Dan berjuta pertanyaan lain.

Okelah kalau mereka punya cara ajaib untuk bisa begituan tanpa suara. Tapi ya minimal pake kondom lah coy atau metode kontrasepsi lain. Kenapa harus hamiil? Kebayang ga sih gimana caranya melahirkan tanpa suara? Ya pas ngedennya, ya pas tuh jabang bayi keluar kan pasti nangiis! Emang pas lahir langsung bisa bahasa isyarat? Kan kagaaak men! Yah begitulah. Tapi emang tanpa bagian hamil dan melahirkan, mungkin konflik filmnya ga sedahsyat itu. Mungkin juga mereka lagi mempraktikkan kearifan lokal khas Indonesia: banyak anak banyak rejeki. Ye gak?

Demikianlah filmnya. Sesederhana itu sih, simpel tapi seru dan sukses membuat penonton menahan nafas, ketakutan, serta penasaran sama ceritanya. Untuk ukuran film pertama, John Krasinski terbilang sukses menghasilkan karya yang berkesan dan serius. Gue tau doi dari serial tivi The Office. Di sana sih doi gak ada serius-seriusnya. Tapi di sini ya layak diapresiasi lah. Cukup berbunyi meski filmnya sunyi!

Btw, entah kenapa di beberapa momen gue berasa lagi nonton Logan coy. Lelaki brewokan berbadan kekar. Hubungan ayah dan anak perempuan yang canggung. Adegan kejar-kejaran di hutan. Lelaki yang irit bicara tapi bisa diandalkan. Serta pengorbanan sang ayah sepanjang film. Jadi penasaran juga kira-kira menang Logan apa Alien yah kalo mereka berantem? Nantikan di sekuel film “James Bond Cowboy versus Aliens”! Ciao!

 

Jakarta, 19 April 2018

Okki Sutanto

Review Ready Player One: Meriah Referensi, Murah Esensi!

Screen Shot 2018-04-15 at 6.12.00 PM
Auk ah kenapa itu trailer di yutub subtitlenya bahasa Jawa. Intinya semua orang di film itu main game pakai kacamata VR kayak gitu.

Di suatu saat di masa depan, ceritanya dunia nyata sudah tidak lagi menawarkan kesenangan dan keseruan. Hampir semua orang “melarikan diri” ke dunia virtual dengan bermain game. Sebenarnya sekarang juga udah mulai banyak kacamata VR (Virtual Reality) ditemui di pasaran kok, di Tokopedia paling 100ribu-an ada. Beberapa permainan, video, sampai film bokep juga udah mulai dikembangkan untuk VR, meski kualitasnya belum bagus-bagus amat. Plis jangan tanya kenapa gue tau! Tapi kalau ada yang mau tau untuk kepentingan riset¬†japri aja nanti gua share. #lho

Nah, di film ini teknologi udah kian canggih. Tahun 2045 ceritanya. Tahun dimana Indonesia baru saja melewati bonus demografi. INI FAKTA APAAN RANDOM AMAT NYET! Ya biarin, nih film juga random banget coy easter egg dan referensi budaya pop tahun 80-90an! Mulai dari The Iron Giant, Batman, Gundam, Street Fighter, Star Wars, Pac-Man, Minecraft, King Kong, Jurassic Park, Joker & Harley Quinn, sampe film The Shining-nya Jack Nicholson! Random abis lah pokoknya. Referensi nih film lebih panjang dari skripsi lu pada deh dijamin. Nih daftar lengkapnya: http://www.vulture.com/2018/03/here-are-all-the-references-in-ready-player-one.html

Screen Shot 2018-04-15 at 6.08.56 PM
IRON GIANT coy! Nostalgia abis.. Dulu nobar bareng anak-anak komunitas pilem di Kampus. Pas masih muda.

 

Kembali ke pilem. Jadi dunia virtual berupa permainan all-in-one di film ini namanya OASIS. Semua orang main OASIS. Kebayang gak tuh sekaya apa yang bikin nih OASIS? Dulu aja pas Flappy Bird ngehits, developernya langsung tajir mampus mendadak. Nah, pembuat OASIS adalah seorang jenius bernama Halliday. Saking nerdnya si Halliday kerjanya dari kecil main game terus, alhasil ga berkeluarga. Sebelum meninggal, doi ngasih pengumuman bahwa ia meninggalkan warisan tersembunyi di dunia OASIS. Pemain yang bisa menemukannya akan mendapatkan hadiah super mevvah di dunia virtual OASIS, serta saham mayoritas perusahaan OASIS di dunia nyata! Gokil kan.

Alhasil semua penghuni OASIS berlomba-lomba menemukan hadiah tersembunyi tersebut. Termasuk si karakter utama Parzival dan gengnya. Cewek misterius si Art3mis. Juga perusahaan 101, bukan hotel lho ya! Sebuah perusahaan teknologi yang berusaha mengalahkan OASIS menjadi perusahaan game terbesar di dunia. Penting ini coy, soalnya semua orang kan main game di film ini! Mereka punya karyawan segambreng yang tugasnya tiap hari cuma main game doang:

Screen Shot 2018-04-15 at 6.09.41 PM
Lagi-lagi, ini bukan iklan hotel lho gaes.

Yha gitu deh intinya, semua orang berusaha sekuat tenaga menemukan warisan tersembunyi si Halliday. Ya main game balapan. Ya main game jadul. Ya perang-perangan. Ya cari-cari hint di “perpustakaan” canggih yang berisi setiap detil kehidupan si Halliday.

Semua jadi kian rumit kala konflik di dunia virtual OASIS berimbas pada kehidupan nyata Parsival dan gengnya. Nyawa mereka terancam, baik di game pun di dunia nyata mereka dikejar pasukan 101. Siapakah yang menang? Bagaimana endingnya? Yha nonton lah bos. Mumpung masih ada tuh di bioskop!

Intinya film ini menurut gue menarik dan menghibur banget. Apalagi dengan segenap kemeriahan referensi pop culturenya! Cuma entahlah kalau buat generasi di luar segmen utamanya, atau emang mereka-mereka yang gak doyan video game, buku, dan film. Mungkin jadi kurang mengena ya. Iya, rada-rada eksklusif kayak anak Psikologih. #Lho

Screen Shot 2018-04-15 at 6.08.00 PM
Ini ceritanya dunia nyata di pilem. Sama aja mau dunia nyata pun dunia OASIS, dua2nya CGI super keren yang memanjakan mata. Maklum lah ini karyanya om Spielberg.

Terlepas dari begitu banyaknya referensi pop culture yang terus muncul tanpa jeda, esensi dan pesan yang ingin disampaikan sama film ini kurang nampol sik. Terlalu klise semacam “jangan kecanduan game”, “jangan lupakan dunia nyata”, atau “dahulukan keluarga dan persahabatan”. Tapi yah ga semua film harus berisi pesan sedahsyat celotehan Mario Teguh juga kan?

 

Jakarta, 15 April 2018
Okki Sutanto