Golput dan Psikologi

Belakangan Golput sedang ramai dibahas. Ada yang makin terang-terangan mengkampanyekan Golput berikut argumennya, ada yang makin terang-terangan mengecam Golput. Setidaknya dua tokoh sudah mengecam Golput dengan amat keras: Romo Magnis dan Megawati.

Romo Magnis berkata Golput adalah tindakan bodoh, benalu, dan psycho-freak. Megawati menyamakan Golput dengan kepengecutan dan tak layak jadi Warga Negara. Wah, terkutuklah mereka-mereka yang golput yah.

timon-studler-70888-unsplash
Photo by Timon Studler on Unsplash

Mengapa Golput? Argumen yang ramai ada dua: apatis dan traumatis. Alasan apatis ya karena tidak peduli saja. Nah traumatis ini yang belakangan ramai: tidak memilih karena merasa tidak ada pilihan yang baik, kecewa, dan menjadikan Golput sebagai bentuk protes kepada sistem.

Pertama-tama saya setuju dengan pendekatan partai baru, PSI (Partai Solidaritas Indonesia), yang penuh simpati dan empati tanpa membenci Golput. Golput adalah hak. Dan tugas para Capres dan Partai adalah berusaha ekstra untuk meyakinkan dan membuat Golputers jatuh cinta dengan mereka. Bukan memusuhinya.

Bagi saya, Golput sebenarnya mirip-mirip dengan fenomena learned helplessness dalam dunia Psikologi. Contohnya begini: dua kelompok orang ditaruh di dua ruangan. Di kedua ruangan sama-sama ada bunyi berisik yang mengganggu tiap beberapa menit. Bedanya, di kelompok pertama ada tombol yang kalau dipencet akan menghilangkan bunyi berisik tersebut. Di kelompok kedua, tidak ada.

Setelah terekspos selama beberapa saat, orang-orang di kelompok kedua akan belajar bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghindari gangguan tersebut. Akhirnya pasrah dan pasif saja. Ketika akhirnya orang-orang ini dipindah ke ruangan baru, yang sebenarnya memiliki tombol untuk menghentikan bunyi berisik tadi, mereka terlanjur sudah “belajar dari pengalaman” untuk diam saja. Pasrah sama bunyi berisik itu. Ketidakberdayaan mereka sudah terinternalisasi. Learned helplessness.

Nah mirip kan sama Golput? Ngerti kan? Iya aja deh, jadi saya ga usah jelasin panjang-panjang. hehe.

Intinya, teman-teman Golput sudah sering berpengalaman bahwa politik dan pemerintah itu di luar kuasa mereka. Suara mereka tidak bisa mengubah apa-apa. Jadinya, ketika masuk ke ruangan baru yang bisa jadi suara mereka berarti pun, mereka sudah terlanjur merasa tidak berdaya.

Oke, ini bisa jadi penyederhanaan. Tentu masalahnya bisa jadi lebih kompleks dari itu. Bisa jadi teman-teman yang Golput sebenarnya punya pertimbangan-pertimbangan lain, pemikiran-pemikiran lain, faktor-faktor lain, yang membuat mereka enggan untuk ikut Pemilu. Lebih-lebih nyaleg atau berkontribusi dalam sistem politik entah bagaimana pun caranya itu.

“Kan gue bukan anak orang kaya, mana bisa nyaleg”, atau “Gue mikirin studi sama organisasi aja udah susah, masih lu suruh ikut-ikutan politik”, atau “Duh gue sih mao aja terjun politik, tapi temen dan keluarga gue ga ngedukung.” dan segudang alasan lain untuk bisa memunculkan solusi sempurna atas segala carut-marut politik ini.

Nah, persis! Di situlah poinnya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kita saja yang bukan siapa-siapa pasti punya segudang pertimbangan untuk melakukan A dan B. Apalagi kalau jadi presiden (yang sering diprotes setengah mati). Dukungan politik, dinamika koalisi, avoiding unnecessary social unrest, tentu hal-hal yang patut dipertimbangkan sebelum memutuskan sesuatu. Kalau terlampau idealis dan enggan berkompromi, ya bisa jadi lengser prematur macam Gus Dur. Lalu lebih banyak untungnya atau ruginya?

Ada sekat antara kacamata pemerhati, dengan kacamata pelaku. Actor-observer effect, kalau dalam konteks Psikologi. Kita cenderung bilang bahwa presiden itu jahat kalau tidak sempurna, tanpa tahu konteks lingkungan dan situasinya. Sedangkan saat kita sendiri tidak bisa berlaku sempurna, kita menyalahkan lingkungan dan situasi kita. Adilkah?

Jadi, kalau alasan Golputnya sesimpel karena presidennya tidak sempurna dan tidak melakukan apa keinginan saya, jangan-jangan ya memang di belahan dunia mana pun tidak akan ketemu presiden yang demikian. Dan Golput adalah hak tapi bukan sebuah solusi. Carilah Capres dan Partai yang paling sejalan dengan nilai-nilai perjuanganmu, dan berikanlah suaramu untuk mereka.

Jangan buru-buru menilai bahwa kita tidak berdaya, padahal jangan-jangan kita cuma perlu mencari tombol untuk dipencet saja.

Salam optimis!

Jakarta, 3 April 2019
Okki Sutanto

Film OKB, Kesenjangan, dan Literasi Finansial

Diposkan ulang dari catatan Facebook, 26 Januari 2019

 

Film OKB

Semalam saya menonton film Orang Kaya Baru (2019). Yang bikin saya tertarik menonton bukan Raline Shah, bukan juga sutradaranya, namun skenarionya yang ditulis sineas favorit saya: Joko Anwar.

Menurut saya pribadi karakternya kurang kuat, komedi dan dramanya agak “kentang”, serta arc konfliknya yang cukup “absurd”. Intinya dari segi pengembangan skenario menurut saya ini bukan kemampuan terbaik Joko. Mungkin juga memang skenarionya ditulis sejak lama, sebelum dirinya sematang sekarang. Entahlah, ini hanya asumsi saja.

Terlepas dari semua itu, filmnya cukup menghibur. Bercerita seputar keluarga sederhana yang tiba-tiba menjadi kaya mendadak. Lalu melihat bagaimana kekayaan mengubah mereka. Menjadi lebih baikkah? Atau burukkah? Silakan nonton sendiri saja, saya gak mau spoiler. Intinya saya setuju dengan salah satu kalimat di film: “duit itu kalau dikit cukup, kalau banyak ga cukup.”

Menonton film ini membuat saya teringat akan kesenjangan ekonomi, yang kian menjadi isu serius di tataran global. World Economy Forum 2019 yang baru saja berlangsung beberapa hari lalu dimulai dengan laporan dari OXFAM: si kaya makin kaya, si miskin makin miskin. Jika tahun 2017, butuh 46 orang terkaya untuk memiliki 50% kekayaan seluruh dunia, maka di tahun 2018 cukup 26 orang saja. Bayangkan: kekayaan 26 orang, setara dengan kekayaan nyaris 4 miliar orang. Tajir melintir. Crazy rich.

Fakta ini tentu membuat mual dan marah para “aktivis”. Banyak yang ingin keadaan ini berubah. Bahkan ada yang memikirkan skenario ekstrem: Bagaimana jika kekayaan global didistribusikan secara merata? Orang-orang miskin diberikan uang secara tiba-tiba, seperti di film OKB? Apakah dunia akan menjadi lebih baik?

Sayangnya tidak. Sejumlah ahli menilai, keadaan ini tidak akan berlangsung lama. Dalam waktu beberapa tahun, kesenjangan akan kembali ke titik semula, dimana yang miskin akan tetap miskin, dan yang kaya akan kembali menjadi kaya. Kenapa? Karena kekayaan bukan hanya sekadar kepemilikan, tapi juga budaya dan pola pikir, dua hal yang sangat dipengaruhi pendidikan.

Jika orang secara tiba-tiba mendapat uang banyak, kemungkinan besar yang terjadi tidak akan jauh berbeda dengan di film OKB: menghabiskan uang berlebih untuk keperluan konsumtif. Beli mobil baru, rumah baru, gadget baru. Tidak terpikir untuk ditabung, investasi, pun aktivitas ekonomi produktif lainnya. Inilah yang membedakan mereka dengan orang-orang tajir melintir: yang tak sekadar sibuk bekerja mencari uang, tapi juga membuat uang bekerja untuk mereka. Beli saham, properti, reksa dana, obligasi, modal usaha, dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, film OKB menjadi pengingat akan betapa pentingnya kecerdasan keuangan. Literasi finansial. Suatu hal yang tak pernah kita pelajari di bangku sekolah, hingga akibatnya banyak dari kita memiliki hubungan yang tak sehat dengan uang. Itu juga yang membuat kita tidak pernah merasa berkecukupan, meski uang kita terus bertambah. Akhirnya kehidupan keuangan kita tak jauh-jauh dari genre film OKB: drama dan komedi.

 

 

Jakarta, 26 Januari 2019.

Pemenang Giveaway Podcast Pinteran

Hai teman-teman sekalian!

 

Terima kasih banget buat segala respon, masukan, dan partisipasi teman-teman untuk giveaway Podcast Pinteran gue yak (https://okkisutanto.com/2019/01/12/podcast-pinteran-giveaway/). Terima kasih banget juga buat yang udah bantu nyebarin info ini, khususnya Kokoh Handoko Tjung (@handokotjung) yaaa yang udah bantu me-RT twit gue kemarin sampe banyak yang denger. I owe you brooo.. 🙂

Naaah, kali ini gue mau umumin pemenangnya!

Jeng jeng jeng jeng… Ga sabar kan? hehe..

.

.

.

.

PEMENANGNYA ADALAH….

.

.

.

Eh sebelomnya gue jelasin dulu ya ini berdasarkan keberuntungan saja ya. Gue milihnya agak-agak random sampling saja, soalnya setiap yang berpartisipasi tuh beneran bikin gue terharu dan semangat untuk terus berkarya. Jadi jangan sedih, terus ikutin Podcast gue untuk mendapatkan hadiah-hadiah menarik di balik tutup botol kalian. #LOH haha..

.

.

.

PEMENANG GIVEAWAY PODCAST PINTERAN

  1. @alfinovriando (Instagram)

  2. @Faruq_AlBanna (Twitter)

  3. @azure_snowflake (Instagram)

 

SELAMAAAAT buat teman-teman yang beruntung ya. Semoga makin semangat dengerin Podcast gue. Nantikan episode berikutnya segera ya, dari kemarin mau recording tapi saya sariawan. hahaha..

 

Buat yang gak beruntung, jangan berkecil hati. Kalian tau kan kalo Coca Cola atau McDonald bikin kompetisi gitu, semua staf dan anggota keluarganya gak boleh ikutan. Jadi, mungkin aja kalian gak menang bukan karena kurang beruntung, tapi karena kalian gue anggep sebagai keluarga sendiri. Jadi gak menang biar gak dikira ada praktik nepotisme di sini. hahahaha.. Bisa aja ya gue ngelesnya? haha..

 

Oke, untuk yang beruntung, silakan email buku yang kalian inginkan (judul + penulisnya), serta alamat lengkap kalian ke email gue di okki.sutanto@gmail.com ya. Abis email boleh colek gue juga di Instagram / Twitter, biar gue notice emailnya. Takutnya keskip.

 

Email kalian ditunggu sampai Senin depan (11 Februari 2019) pukul 23.59 ya. Kalau gak tau mau buku apa, kalian ceritain aja kira-kira lagi tertarik sama bidang apa nanti gue cariin buku yang menurut gue sesuai buat kalian! Hadiah akan dikirimkan paling lambat Senin (18 Februari 2019) ke alamat kalian ya.

 

Sekian pengumuman kali ini. Sekali lagi selamat buat teman-teman yang beruntung ya. Juga terima kasih sebanyak-banyaknya buat setiap insan yang sudah berpartisipasi di giveaway ini. Kalian semua sungguh terbhaiiique! :’)
Sampai jumpa di lain kesempatan… Salam Pinteran!

Podcast Pinteran Giveaway

Oke, jadi belakangan ini gue lagi suka bikin podcast di Spotify, namanya Podcast Pinteran. Di episode kelima kali ini, gue ingin berbagi sesuatu bagi para pendengar setia gue (sekalian promoin Podcast gue, sekali mendayung dua pulau terlewati) hahaha..

Caranya sederhana, cukup share di medsos kalian, boleh Twitter/Facebook/Instagram, tentang episode podcast mana yang paling kalian suka dan kenapa. Sekalian tag gue ya biar gue tau (@okki_sutanto di Twitter atau @okkisutanto di Instagram).

Udah gitu aja. Gampang kan? Hehe..

Tiga pemenang beruntung akan dapat hadiah menarik: any book on earth. Yap. Buku. Apa pun. Selama buku itu dijual untuk umum (Gramed / Kino / Amazon / Apps Store / Google Play), dan selama ada di bumi. Buku fisik. Buku digital. Bahasa indo. Bahasa Inggris. Sampe bahasa tronjal-tronjol. Bebas. Pokoknya buku. Kalo ga tau mau buku apa, ya nanti gue yang pilihin. Tenang saja.

Kalo dijual tapi di planet Mars gimana? Ya ga bisa. Kalo ada di bumi tapi ga dijual misalnya naskah orisinil konstitusi Amrik, ya ga bisa juga. Jangan aneh-aneh lah ya Ferguso. 😂

Giveaway berakhir akhir bulan ini: 31 Januari 2019, pukul 23.59 WIB. Pemenang akan gue publish dan gue DM yak.

Good luck guys!

Dua Puluh Sembilan

 

brian-patrick-tagalog-700814-unsplash
Photo by Brian Patrick Tagalog on Unsplash

Beberapa hari lalu saya memulai tahun terakhir usia dua puluhan. Ya, dua puluh sembilan tahun sudah saya numpang bernapas di muka bumi. Melihat segala yang indah dan buruk. Tak lupa mengecap segala yang manis, asam, pun pahit. Ya begitulah hidup, bukan? Kalau melulu manis, ya gak seru. Sesekali haruslah mengecap yang pahit, biar bisa lebih menghargai yang manis.

Tiga ratus enam puluh hari lagi, saya akan memasuki usia tiga puluhan. Ga tahu sih, apa bedanya usia dua puluhan dan tiga puluhan. Apa mendadak jadi lebih bijak dalam menjalani hidup? Ya kan gak juga. Apa mendadak jadi botak dan ubanan? Ya semoga tidak.

Rasa-rasanya sih, tiga puluh bukan suatu “jenjang” baru yang berubah drastis banget yak. Ga kayak empat puluh, setidaknya. Kan katanya life begins at forty. Majalah Fortunes juga seringnya bikin “40 Under 40” untuk orang-orang berprestasi di bawah usia 40. Jadi, apa ada beda signifikan bagi kita saat beranjak dari 20-an tahun ke 30-an tahun? Ya tidak tahu juga.

Yang pasti, sudah tidak muda-muda banget lagi. Muda, masih. Cuma ya ga muda-muda amat. Kalau dengar ada orang bilang usianya “dua puluhan”, kan mungkin yang terbayang itu gambaran anak kuliahan, atau orang yang baru lulus dan mulai cari kerja. Kalau “tiga puluhan” kan pasti gambarannya udah beda. Bukan lagi dedek-dedek gemes yang masih bingung hidupnya mau dibawa kemana. Masih mencari jati diri. Masih haha-hihi terombang-ambing ketidakpastian hidup.

Ya harusnya sih lebih dewasa. Whatever the hell that means. haha.

Lebih dewasa, artinya tugas perkembangannya juga berbeda kalau kata Erikson. Ini Erikson psikolog perkembangan ya, bukan Sven-Goran Eriksson eks pelatih timnas Inggris.

Umumnya sih, “tiga puluhan” ya sudah bukan waktunya lagi mikirin kuliahan, nongkrong dimana, dan milih karir apa. Biasanya sih, “tiga puluhan” identik dengan hal-hal yang lebih dewasa. Ya mikirin pasangan hidup, anak (kalau yang sudah menikah), dan segala macam cicilan.

Eh tapi menikah, berkeluarga, dan pencapaian materialistik itu cuma konstruksi sosial semata yang dibentuk dan diharapkan masyarakat. Sejatinya ya setiap orang punya pilihan bebasnya. Mau nikah boleh. Enggak juga bebas. Mau punya anak silakan (asal jangan kebanyakan, nanti dimarahin Thanos). Enggak ya monggo. Mau jadi crazy rich asian boleh. Mau jadi crazy asian doang juga silakan.

Intinya, saya ingin menjalani tahun terakhir sebelum memasuki 30 ini sebaik-baiknya. Mempersiapkan diri sesanggup-sanggupnya menyongsong tugas-tugas kehidupan berikutnya yang mungkin lebih berat. Ya iya sih harusnya begitu, kalau ga makin berat artinya jalan di tempat dong. Masa badan doang yang makin berat, tantangan hidup juga dong!

Juga tak lupa saya berterima kasih dan bersyukur, atas segala yang sudah saya alami sepanjang dua puluh sembilan tahun ini. Ya keluarga dan teman. Ya orang-orang yang melalui persinggungan dengan mereka mendewasakan saya. Ya orang-orang luar biasa hebat yang membuat saya terinspirasi. Juga orang-orang luar biasa brengsek yang membuat saya bersyukur bahwa saya tidak demikian. Untuk segala nikmat yang tak mungkin terdustai. Untuk segala bencana yang mendewasakan. Untuk memori-memori menghangatkan yang sulit membuat lupa. Juga memori-memori menyesakkan yang pernah membuat luka.

Terima kasih, ya Tuhan dan semesta.

Semoga ke depannya saya bisa makin berguna, bagi keluarga, lingkungan, bangsa dan negara. Makin dipercayakan perkara-perkara yang lebih besar. Makin diberi kesempatan untuk berkarya sekecil apa pun.

Itu saja. Kali ini.

 

Jakarta, 25 Oktober 2018
Okki Sutanto

Mengulas Incurable

Screen Shot 2018-06-11 at 8.08.14 PM

Kali ini, mari kita bahas sebuah buku. Novel pertama karya Stella Azasya, seorang penulis muda dari Surabaya. Saya pertama kali mengenal Stella dari karya tulisannya yang lain, di media tempatnya bekerja. Lantas saya ikuti dia (setidaknya di Media Sosial, soalnya Surabaya jauh), lalu saya beli novelnya. Biar lebih mengenal penulisnya, ceritanya. Lho, ini kita mau bahas novel apa penulisnya? Novel aja deh, ya. Biar penulisnya saya bahas di kesempatan lain. #Eh

Buat saya, membaca Incurable menjadi pengalaman pertama akan banyak hal. Ini kali pertama saya membeli buku via online. Maklum, anaknya oldschool kalau urusan buku, harus dilihat-diraba-diterawang dulu sebelum beli. Ini juga kali pertama saya membaca buku dari penerbit indie. Dengar sering, beli belum. Terakhir, ini juga kali pertama saya membaca novel perdana dari seorang penulis muda. Bukan bermaksud sombong (biasa kalimat yang diawali begini ujungnya sombong sik, maklumin aja udah), tapi saya sangat selektif dalam membaca. Kalau nonfiksi, minimal harus direkomendasikan New York Times atau Oprah. Kalau fiksi, minimal penulisnya pernah meraih penghargaan. Atau eks tapol. Atau karyanya telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Eh, ini ga lagi ngomongin Pram, kok.

Yha, bagaimanapun, dalam hidup selalu ada pengalaman pertama, bukan? Dan belum tentu pengalaman pertama berakhir buruk. Persis! Saya tidak menyesal membeli dan membaca buku ini. Iya, banyak ruang untuk perbaikan di sana-sini. Iya, gaya penulisan dan kedalaman karakter masih bisa dielaborasi. Iya, ada banyak tanya yang tidak terjawab. Tapi, nanti dulu. Mari saya ceritakan kenapa saya menyukai buku ini (bukunya ya, urusan penulisnya sih belakangan, lain kali).

Bagaimana membeli buku ini merupakan hal baru bagi saya, sudah saya ceritakan di awal. Ternyata, tak berhenti sampai di situ, buku ini juga membawa rasa dan pengalaman baru saat dibaca. Kebebasan mengeksplorasi dan kelenturan berbahasa, misalnya, membuat buku ini renyah untuk dibaca. Bahasanya sederhana, bahasa sehari-hari, akan kehidupan tiga anak manusia yang juga pada umumnya, membuat kisah Bayu, Sam, dan Bianka (Bianka pake K, bukan pake C, kenapa demikian tanya saja penulisnya) jadi amat relatable. Akan menarik dibaca oleh pembaca remaja dan dewasa muda! Problematika keseharian, yang dibungkus dengan luka masa lalu dan pergumulan batin, membuat kita menerka-nerka bagaimana akhir dari kisah ini.

Saya selalu kagum dengan mereka-mereka yang bisa menyelesaikan sebuah buku, terlebih karena saya sendiri belum sanggup. Nafasnya kurang panjang! hehe.. Begitu pun saya kagum pada Stella Azasya, yang sanggup menyelesaikan novel perdananya ini di tengah kesibukannya bekerja di media. Tapi, bukan berarti bisa berpuas diri, bukan? Saya yakin di usianya yang masih sebelia ini, ke depannya masih banyak karya lain yang bisa kita nantikan. Tapi, apa yang masih bisa disempurnakan? Nah, pertanyaan itu yang lebih penting untuk kita bahas bersama-sama.

Pertama-tama, fokus pada perkara-perkara kecil. Saya masih menjumpai beberapa kesalahan penulisan (typo), yang makin ke belakang makin banyak (saya berasumsi halaman 150 ke atas ditulis dengan lebih terburu-buru dan kurang tidur, benar tidak, Stella?). Biasanya ini urusan editor, sih. Mungkin editornya kurang minum Aqua? Bisa jadi. Pembaca awam mungkin tidak akan terlalu sadar juga, tapi karena saya bekas editor, asdos kepenulisan, dan memang hobi membaca, jadinya sulit untuk tidak terganggu.

Yang kedua, realisme dialog. Memang, bahasa lisan dan tulisan tentu berbeda, tapi ada banyak dialog sehari-hari, pun pembatinan, yang membuat saya merasa sepertinya  karakter ini sedang monolog di Salihara. Padahal tidak, sedang ngobrol biasa saja. Urusan dialog ini masih perlu dilenturkan lagi sehingga sungguh-sungguh terkesan seperti dialog dua kolega kantor pada umumnya, yang pas kuliah ga ngambil jurusan Sastra Jerman.

Yang ketiga, membangun tokoh atau karakter dengan lebih dalam dan kompleks. Oke, masing-masing karakter di novel ini punya masa lalu yang bisa dikatakan tragis. Masing-masing berhak menjadi karakter yang rumit di masa kini. Namun, pembaca (saya) masih kesulitan memahami tindak dan keputusan yang diambil di hari ini, karena kurang mendapatkan kepribadian si tokoh secara lebih utuh. Kenapa dia begini? Kenapa dia begitu? Ingin ini ingin itu, banyak sekali. Lho malah jadi nyanyi Doraemon. Mungkin cara ini membantu: membuat kuesioner detil akan tiap karakter (klik aja ada linknya). Memang sangat detil, ya gak semuanya juga harus diisi, dan lebih-lebih gak semuanya perlu dijejalkan ke pembaca. Disisipkan sedikit demi sedikit di banyak kesempatan. Bisa membantu membuat karakter kita lebih kuat dan tidak kontradiktif.

Keempat, bermain dan bereksplorasi dengan beragam gaya bercerita dan alur. Alur tidak harus senantiasa maju ke depan. Maju mundur kadang lebih sip (?). Apalagi masing-masing karakter memiliki masa lalu yang menarik untuk dibahas. Ya gak harus seekstensif The Odyssey-nya Homer juga, sih, urusan bereksplorasinya.

 

Apa pun itu, variasi membuat segala sesuatu menjadi lebih menarik, toh (?) Selain itu, dengan mengeksplorasi berbagai gaya bercerita, lambat laun kita akan menemukan gaya kita sendiri. Yang akan menjadi kekhasan dan membedakan kita dari penulis lainnya.

Demikianlah!

Sekian kiranya ulasan saya terhadap buku Incurable ini. Salut dan proficiat, Stella Azasya, atas buku perdananya! Ditunggu karya-karya berikutnya yang lebih matang, dahsyat, dan menunjukkan ciri khasmu sebagai penulis.

Semoga ulasan ini tidak dianggap lancang (lancang apanya wong saya sendiri belum pernah nulis buku kok. haha), karena jujur pembahasan di sini tidak sekejam pembahasan Dewan Kesenian Jakarta atas Sayembara Novel tahun 2016 lalu:

https://dkj.or.id/artikel/pertanggungjawaban-dewan-juri-sayembara-menulis-novel-dewan-kesenian-jakarta-2016/

 

Eh, tapi boleh banget sih dibaca sebagai pembelajaran. Ada aja yang bisa dipetik.

Demikian ulasan saya atas buku Incurable karya Stella Azasya, yang diterbitkan oleh Stilleto Book pada April 2018 lalu. Yang tertarik dan ingin membaca, silakan membelinya dari: http://www.stilettobook.com/incurable.html

Selamat menikmati!

 

Jakarta, 11 Juni 2018

REVIEW FILM RAMPAGE! DOR DOR JEGER!

rampage_ver2
Makanya pelihara kucing atau marmut aja, kalau ngamuk minimal cakar-cakar manja. Kalau gorila / buaya / serigala ngamuk kan ribet.

 

Akhir pekan lalu gue nonton Rampage. Yaaah, biasa lah tipikal film-film beginian. Setipe sama Jurassic World atau King Kong, dengan nuansa San Andreas, dimana sutradara dan pemain bintangnya kebetulan kerja bareng lagi di film ini. Ancur-ancuran, destruksi total, dan “kiamat” kecil, dimana jagoan kita berjuang menyelamatkan kota / negara / planet.

Typecast juga sih ini si Dwayne Johnson. Lelaki perkasa anti mati dengan nyawa lebih banyak dari kucing. Bahkan backstory-nya lama-lama mirip juga: ex military personnel yang kesulitan berinteraksi dengan manusia. Yah cocok-cocok aja sih. Tapi boleh lah sekali-kali jadi ex ballerina dancer gitu. Atau ex pemandu karaoke Alexis.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.47.38 AM
Inget sesuatu? Jumanji misalnya? Pilem doi sblom ini? haha.. Ada the rock di balik the rock. (?)

Jadi ceritanya si The Rock jadi pawang gorila di sebuah pusat konservasi. Doi punya sahabat baik namanya George, gorila albino langka. Si George pinter, sampe-sampe bisa berkomunikasi dengan sangat lancar menggunakan bahasa isyarat.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.50.35 AM
gitu coy. Bisa ga lu bahasa isyarat? Ga bisa kan? Makanya ga usah sok pinter. Kalah lu sama gorila. Lah, kenapa gua ngegas gini. haha..

Suatu saat, terkontaminasi sama suatu serum misterius hasil eksperimen, si George jadi agresif dan bertumbuh dengan luar biasa pesat. Dalam sehari bisa membesar berkali-kali lipat, dan bawaannya ngamuk-ngamuk ngancur-ngancurin apa aja yang bisa diancurin.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.51.16 AM
lu juga sih kayak netijen Indonesia, George. Kepo anaknya. Coba lu ga kepo megang-megang tuh benda. Aman sentosa deh.

Alhasil, George yang liar dan beringas ini menjadi ancaman nasional. Doi diincar sama militer (yang ingin menyelamatkan masyarakat), diburu sama pasukan sebuah perusahaan (yang ingin menyelamatkan “aset” perusahaan), dan dikejar-kejar sama si The Rock (yang ingin menyelamatkan si George). Sebenarnya kalau cuma si George doang, masalah mungkin ga segitu rumit karena sedikit banyak masih bisa diajak komunikasi sama si The Rock. Meski sudah berubah drastis, mungkin rasa sayang itu masih tersisa. Nyet ini ngomongin pilem apa mantan?

Semua menjadi ribet karena ternyata yang terkontaminasi sama serum misterius itu bukan cuma George, tapi ada juga serigala raksasa yang bisa terbang dan buaya raksasa yang berenangnya lebih cepet dari Michael Phelps. Belum lagi si The Rock harus berpacu dengan waktu karena militer udah bohwat dan milih untuk nge-MOAB (mother of all bomb) satu kota kayak di pilem Avengers pertama.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.50.48 AM
Cute lho doi sblom kena serum misterius. Kekar, berbulu, ganteng. Kalo masuk Tinder mungkin lebih banyak yang swipe daripada gue. Lha malah curcol!

Yah, kurang lebih begitulah filmnya. Gih nonton di bioskop mumpung masih ada. Atau nunggu streaming juga boleh. Jujur agak kecewa karena filmnya ga “senyawa” dengan video game aslinya, dimana perspektifnya itu ya perspektif si monster ngamuk, dimana kehancuran dilakukan dengan tujuan. Di sini kita diajak melihat dari perspektifnya si The Rock, dan destruksi dilakukan sebatas ekstasi tanpa esensi. Horor yang mencekam dan membahayakan masyarakat. Ga lebih dan ga kurang. Jadinya ga semudah itu bersimpati pada George dan kawan-kawannya.

Terlepas dari itu semua, juga ceritanya yang standar dan bisa ditebak (endingnya Jurassic World abis), film ini bisa dinikmati tanpa banyak mikir (dumb fun movies). Seru-seruan aja laaah daripada hampa kan akhir pekan lu gak ngapa-ngapain. Ye gak?

 

Jakarta, 20 April 2018.
Okki Sutanto