Kemenangan dalam Kehilangan

WHITE BOOK

Dalam buku Option B, Sheryl Sandberg & Adam Grant mengeksplorasi secara mendalam tentang kehilangan dan kesukaran hidup (grief & adversity). Tahun 2015 lalu, Sheryl kehilangan suaminya yang meninggal tiba-tiba karena serangan jantung. Pengalaman dan perjalanannya melalui kedukaan inilah yang menjadi tema sentral dari buku Option B.

Jika Sheryl menceritakan pengalaman pribadi yang penuh pencerahan dan penghayatan, Adam Grant melengkapinya dengan segenap data, riset, dan pengetahuan yang dimilikinya sebagai Profesor Psikologi. Alhasil, buku ini tidak hanya sukses menyentuh perasaan kita sebagai pembaca (affection) , tapi juga sukses membuka wawasan (cognition) dan membekali kita akan apa yang bisa dilakukan (behaviour). Affection, Behaviour, Cognition. ABC. Lengkap sudah.

Teori yang Berjejak

Di buku ini, teori-teori Psikologi berkenaan dengan kedukaan tidak sebatas menjadi teori tak berjejak yang berada di menara gading. Sheryl telah menjalaninya. Juga sekian banyak orang yang turut berbagi pengalaman mereka di buku ini. Mereka menjalani dan menghidupi apa yang disampaikan teori-teori tersebut. Membuat teori yang sekilas terdengar rumit dan klise, sampai taraf tertentu menemukan kebenarannya.

Sebut saja konsep 3 P dari Martin Seligman: Personalisation, Pervasiveness & Permanence. Tiga hal ini akan lumrah terjadi ketika kita mengalami kesukaran hidup. Kita tidak berhenti menyalahkan diri sendiri (personalisation). Kita menganggap satu hal buruk akan merembet ke segala aspek lain yang akhirnya menghancurkan citra diri kita seutuhnya (pervasiveness). Terakhir, kita menganggap kesedihan dan kegagalan yang dialami akan bertahan selamanya (permanence). Ketika kita bisa mengidentifikasi ketiga hal ini, dan melawannya, proses kita melalui kedukaan akan jauh lebih mudah.

Buku ini tidak hanya mengajarkan dan memandu kita melewati kedukaan. Ia juga membantu kita untuk menjadi teman, sahabat, pasangan, dan keluarga yang lebih baik, dalam membantu orang terdekat kita melewati kedukaan. Berapa dari kita yang tidak tahu harus melakukan apa kala teman kita kehilangan pasangan atau orangtuanya? Berapa dari kita yang bingung harus berkata apa kala sahabat kita baru saja dipecat? Berapa dari kita yang takut salah ucap kepada keluarga yang baru saja divonis kanker? Pendidikan formal tidak pernah menyiapkan kita untuk itu. Kita juga kadang terlalu sibuk untuk merefleksikan kehidupan. Di sinilah buku ini menjadi sangat penting dan menarik.

Menjadi Tombol

Ada salah satu eksperimen menarik yang diceritakan di buku ini. Tim peneliti ingin menelaah bagaimana pengaruh distraksi pada stres. Sekelompok anak muda diminta mengerjakan tes yang membutuhkan konsentrasi tinggi dalam waktu yang terbatas. Di tengah-tengah tes, peneliti membunyikan suara berisik yang amat mengganggu. Mereka ingin melihat pengaruhnya pada sekelompok anak muda tadi. Hasilnya? Konsentrasi mereka terganggu. Keresahan meningkat. Hasil tes pun memburuk.

kristina-flour-185592-unsplash
Photo by Kristina Flour on Unsplash

Di kali berikutnya, tim peneliti mengenalkan keberadaan sebuah tombol “mute” di masing-masing meja anak muda tersebut. Tugas mereka sama: mengerjakan sebuah tes. Distraksinya pun sama: suara berisik yang mengganggu. Tapi kini mereka memiliki tombol yang bisa mereka pencet kala mereka merasa terganggu, untuk menghilangkan suara berisik yang muncul. Hasilnya? Konsentrasi mereka tetap baik. Tidak lagi resah. Hasil tes membaik. Masuk akal bukan? Ya jelas. Tapi yang menarik adalah fakta bahwa tidak ada satupun yang benar-benar memencet tombol tersebut! Mereka jadi jauh lebih tenang, meski sekadar mengetahui bahwa mereka memiliki tombol yang dapat membantu mereka. Memberi mereka kuasa dan kendali akan hidup mereka.

Tombol inilah yang seringkali tidak kita miliki dalam hidup. Saat kita merasa tidak berdaya dan tidak berkuasa melakukan apa-apa saat kesukaran hidup melanda. Padahal, sekadar mengetahui bahwa tombol itu ada, sudah membuat kita jauh lebih baik. Jauh lebih tenang. Perbanyaklah tombol-tombol ini dalam hidup, yang bisa berwujud dalam kehadiran teman, keluarga, guru, rekan kerja, dan lainnya. Dan yang terpenting: jangan pernah ragu menjadi tombol bagi orang lain.

Mereka-mereka yang tak Seberuntung Itu

Yang juga menarik di buku ini adalah kesadaran Sheryl, bahwa ia beruntung memiliki keamanan finansial dan teman-teman serta keluarga yang amat mendukungnya. Mark Zuckerberg dan segenap rekan kerjanya di Facebook. Malala Yousafzai. Elon Musk. Adam Grant. Bill Gates. Dan sekian banyak lagi orang-orang hebat yang ada di sekitarnya. Ia sadar bahwa yang ia lalui memang berat, namun masih banyak orang-orang lain yang tidak seberuntung dirinya. Para wanita yang menjadi orangtua tunggal. Para imigran yang terbebani diskriminasi. Para minoritas di negara dunia ketiga.

alex-wigan-16999-unsplash
Photo by Alex Wigan on Unsplash

Untuk itu ia tidak sekalipun mencoba berkata bahwa pengalamannya dan pelajarannya adalah yang paling benar. Buku ini pun tidak hanya berisi pengalaman Sheryl, tapi juga pengalaman sekian banyak orang yang menghadapi hal-hal tak terkira dalam hidupnya. Orangtua yang kehilangan anaknya. Penyintas bunuh diri. Orang yang keluarganya dibunuh atau menjadi korban aksi terorisme. Penyintas pemerkosaan. Cerita dari Amerika. Eropa. Hingga Asia dan Afrika.

Akhir kata, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca setiap orang. Karena kehilangan dan kesukaran hidup bukanlah masalah “jika” yang belum tentu datang. Ia hanya menunggu waktu, yang pada suatu titik dalam hidup akan kita jumpai. Resiliensi, atau ketabahan / daya lenting dalam bahasa Indonesianya, bukanlah suatu kemampuan yang datang tiba-tiba. Ia seperti otot yang perlu kita latih. Sehingga jika saatnya tiba, kita jauh lebih siap. Selamat membaca!

Judul buku: Option B: Facing Adversity, Building Resilience, and Finding Joy

Penulis: Sheryl Sandberg dan Adam Grant

Terbit: April 2017

Penerbit: Knopf Doubleday

Tebal: 240 halaman

Jakarta, 1 Maret 2018

Okki Sutanto

Anna Akana Yang Mengena

Screen Shot 2018-02-24 at 6.55.50 AM

Sebagai pembaca setia 9gag dan hobi berselancar ga juntrung di internet, nama Anna Akana tidak asing bagi saya. Video Youtubenya beberapa kali melintas, dan wajahnya yang oriental dan mata kucingnya cukup mudah diingat. Selain kreator Youtube, ia juga artis, stand-up comedian, serta pebisnis dan penulis. Sekilas mirip-mirip dengan Ali Wong lah (penulis serial televisi Fresh Off The Boats), sama-sama oriental (Anna keturunan Jepang dan Ali keturunan Vietnam), komika wanita di Amerika Serikat yang banyak bekerja di industri TV, juga banyak mengeksplor seksualitas dengan cerdas dalam materi humornya.

Terakhir saya lihat Anna sepertinya di film Ant Man. Maka ketika kemarin melihat bukunya di toko buku, saya penasaran untuk ikut membacanya. Apalagi dari judul dan sinopsisnya, yang mengeksplorasi bagaimana sebuah pengalaman traumatik (adiknya meninggal bunuh diri kala remaja), bisa meninggalkan bekas, membentuk kita, dan membuat kita berada di titik kekinian dalam hidup.

Anna Akana GIF

Saya pribadi amat menyukai bukunya, karena temanya yang cukup luas. Tentang kesehatan mental. Tentang menjadi penyintas bunuh diri. Tentang menjadi kreator. Tentang pencarian identitas dan perjuangan memasuki masa dewasa. Tentang bisnis, relasi, dan seksualitas. Khas memoir sebenarnya, agak meluas dengan benang merahnya ya perjalanan hidup sang penulisnya. Cuma ini juga yang jadi kelemahan buku ini. Temanya terlalu luas. Tidak semua orang punya ketertarikan akan itu semua. Saya juga jadi bingung kalau harus merekomendasikan buku ini kepada siapa. Tidak ada target spesifik.

Pada mereka-mereka yang pernah ditinggal oleh orang terdekatnya karena bunuh diri? Bisa sih, tapi eksplorasi di sana tidak terlalu mendalam juga. Meski Anna berulang kali menyatakan bahwa buku ini didedikasikan dan terinspirasi oleh adiknya yang meninggal bunuh diri, nyatanya hampir 80% dari buku ini sama sekali tidak terkait itu.

Pada mereka-mereka yang ingin menjadi Youtuber? Bisa sih, di tataran inspirasi dan membuka wawasan. Karena pengalaman Anna yang luas. Dari membuat konten sendiri. Berkolaborasi. Membuat film pendek. Menerima sponsor. Menjual kontennya ke Netflix. Dan lainnya. Jika mencari tips praktikal ya tidak terlalu mendalam juga.

Screen Shot 2018-02-24 at 7.40.57 AM

Pada remaja dan dewasa muda yang kesulitan menavigasikan hidup di masa kini? Kurang tepat juga. Karena selain konteksnya sangat Amrik sekali, banyak pelajaran dari Anna yang terlalu unik dan kurang aplikatif bagi anak muda kebanyakkan. Tapi bagian relasi-relasi yang beracun (toxic relationship) bagus juga, sih.

Terlepas dari itu semua, buku ini ditulis dengan bahasa yang renyah dan sederhana, sekaligus cerdas dan jenaka. Bisa dinikmati tanpa harus banyak mikir, meski ada juga isu yang turut mengajak kita berpikir.

Buat saya buku ini mengena. Terlebih di bagian depresi, saat Anna ogah-ogahan mengakui bahwa dirinya depresi dan menolak mengikuti saran dari terapisnya. Kalimat dari terapisnya ini akhirnya menyadarkan ia:
“Tekanan darah saya tinggi. Hal ini genetis, dan memang ada di keluarga saya. Kalau saya tidak mengkonsumsi obat-obatan hipertensi, saya akan sengsara. Apa saya akan mati tanpa obat? Tentu tidak. Tapi itu membuat hidup saya jadi jauh lebih mudah. Sama seperti depresimu. Apakah antidepresan akan membuat depresimu hilang? Tidak juga. Tapi yang pasti akan membuat hidupmu jauh lebih mudah.”

Di saat itulah Anna tersadar, bahwa mengkonsumsi obat antidepresan penting. Ia akhirnya meminum Lexapro dan merasakan manfaat darinya. Tidak ada lagi kecemasan konstan akan hal-hal tak relevan. Pikiran lebih ringan. Tidur lebih mudah.

Hal lain yang saya suka adalah kedewasaan Anna untuk ukuran wanita usianya (28, sama kayak saya kelahiran 89). Ia berbagi pelajaran tanpa menggurui. Dan meyakini bahwa cara dan pilihannya bukanlah satu-satunya cara yang paling benar. Ia meyakini bahwa setiap orang punya caranya sendiri, punya keunikan sendiri, tanpa perlu dibebani dengan penghakiman dari kita. Ia tidak berusaha menjadi kompas moral, tapi lebih menjadi seorang kakak yang berbagi pengalaman hidup untuk adiknya. Satu hal yang makin kesini makin sulit ditemukan, kala kebanyakkan orang berlomba menjadi guru dan menjadi yang paling benar.

 

Singapura, 24 Februari 2018
Okki Sutanto

Berjejaring Dengan Tulus

Gambar dari Goodreads.com

Penulis: Jeffrey Meshel & Douglas Garr
Tahun terbit: 2005
Jumlah halaman: 256
ISBN: 1591840902
Judul: One Phone Call Away: Secrets of a Master Networker

Ini adalah buku yang saya beli dengan penuh kebetulan. Kebetulan pertama adalah bahwa saya sedang ada di luar kota. Kebetulan kedua adalah saya sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Kebetulan ketiga adalah saya tidak masuk ke toko buku, malah melihat-lihat buku obralan di depan toko buku tersebut. Berbagai kebetulan tersebut membuat saya menemukan buku ini di depan Gramedia Mal Ekalokasari Bogor dengan harga hanya Rp 10.000 saja.

Awalnya saya berpikir bahwa buku ini hanya akan berisi tentang bagaimana pentingnya memiliki koneksi yang baik dan luas untuk mendapatkan peluang dan profit bisnis. Ternyata tidak. Buku ini bahkan hingga derajat tertentu melawan segala komersialisasi & pengejar profit dari kekuatan koneksi. Mengenal banyak orang hanya untuk mencari keuntungan bisnis adalah perjalanan melelahkan dan tanpa henti. Di buku ini, Jeffrey Meshel yang mendapat julukan “orang yang mengenal semua orang” oleh rekan-rekan bisnisnya, mencoba mengubah paradigma tersebut:

Perluaslah koneksi anda, kenallah banyak orang, bukan untuk mendapat keuntungan, tapi agar anda bisa membantu banyak orang. Kenikmatan yang anda dapat ketika bisa membantu orang sungguh tidak bisa dibandingkan dengan keuntungan-keuntungan bisnis semata.

Hah? Buku tentang bisnis mengapa malah mengajarkan untuk tidak mengejar profit? Hmm.. Tidak sepenuhnya juga sih. Buku ini tidak berusaha menjadikan kita sebagai juruselamat yang wajib membantu semua orang di dunia yang sedang kesusahan. Buku ini membuka paradigma kita bahwa memperluas jaringan perkenalan dengan tujuan tulus akan jauh lebih nikmat daripada hanya mengejar profit.

Semangat Membantu Orang Lain

Jangan bertanya apa keuntungan atau manfaat yang bisa kita dapatkan dari orang lain. Tanyakanlah, “Apa yang bisa saya bantu?”

Melalui beberapa cerita yang semuanya didasari oleh pengalaman penulisnya, buku ini berusaha menjelaskan bahwa ketika kita berusaha membantu orang lain dengan tulus, entah bagaimana caranya suatu kebaikan tersebut akan kembali lagi ke kita. Kebaikan kita akan dibalas entah oleh orang yang pernah kita bantu, entah melalui teman atau keluarga orang yang pernah kita bantu, entah orang lain yang tidak kita kenal sama sekali. Dalam cara yang kadang tidak bisa dijelaskan oleh logika, kebaikan itu akan kembali ke kita seperti karma.

Lagi-lagi, penulisnya juga mengatakan bahwa JANGAN menolong orang dengan berharap kebaikan kita akan dibalas. Kebaikan itu bisa saja dibalas dengan segera, bisa saja berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelahnya, bisa juga tidak sama sekali. Dan yang terakhir biasanya lebih sering terjadi. Hal ini tidak perlu mengecilkan semangat kita dalam membantu orang lain, tetaplah tulus dalam membantu orang. Setidak-tidaknya, rasa nikmat dan kepuasan batin ketika seseorang mengucapkan terima kasih sudah sangat berarti.

Berjejaring Tanpa Batasan Waktu dan Tempat

Di buku ini Jeff juga menceritakan berbagai pengalamannya dalam berkenalan dengan orang-orang baru. Ia meyakinkan pembaca bahwa hal itu bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, cukup dengan hal-hal sederhana. Dari pesta cocktail, pernikahan kolega, acara amal, reuni sekolah, penerbangan, hingga keanggotaan di sebuah pusat kebugaran adalah waktu dan tempat yang tepat untuk berkenalan dengan orang baru. Suatu kali, Jeff sedang naik pesawat untuk melakukan perjalanan bisnis, di sampingnya ada seorang wanita karir yang sedang mengerjakan presentasi. Jeff memberikan sedikit masukan pada presentasi wanita karir tersebut. Awalnya, si wanita merasa risih dengan perilaku Jeff tersebut. Lama-kelamaan, melihat ketulusan Jeff dan masukannya yang cukup logis, ia pun bisa menerima masukan dari Jeff. Perbincangan pun dimulai. Akhirnya, bertahun-tahun setelahnya mereka malah menjadi sahabat yang sering saling memberi masukan.

Keterkaitan antara Berjejaring, Pemasaran, dan Membangun Citra Personal

Saya cukup setuju dengan salah satu pernyataan Jeff: “A great networker is a great marketer!“. Ada berbagai kesamaan yang perlu dimiliki oleh networker ataupun marketer. Sebagai contoh, pentingnya untuk selalu mengedepankan kenyamanan lawan bicara atau rekan bisnis. Hal ini sangat dibutuhkan baik oleh networker maupun marketer.  Networker yang baik juga harus bisa membangun citra personal yang sesuai dengan dirinya.

Ada sebuah cerita dimana Jeff mengenal seorang notaris hebat yang selalu tampil urakan dan tidak formal. Jeff sangat menyayangkan bagaimana notaris tersebut menyembunyikan kehebatannya di balik tampilan yang tidak rapih. Akhirnya Jeff memberi masukan pada notaris tersebut. Awalnya notaris tersebut tidak merasa penampilan adalah suatu hal yang penting. Pada suatu ketika, Jeff membelikan satu stel jas pada notaris tersebut, dengan harapan tulus hanya ingin sang notaris mencoba menggunakannya dan melihat perbedaannya. Hasilnya? Tingkat kepercayaan diri sang notaris meningkat, orang-orang jadi jauh lebih respek pada sang notaris, dan jumlah klien pun meningkat dengan signifikan.

Jeff mengakui, banyak orang merasa penampilan bukanlah aspek penting dan seringkali penampilan rapih serta formal bertentangan dengan idealisme orang tersebut. Namun, bagaimana pun dunia memandang kita dengan seperangkat norma tertentu. First impression tidaklah dibangun melalui pertimbangan logis-matematis, melainkan lebih ke instant judgment yang sifatnya afektif dan normatif. Tidak ada salahnya mengikuti bagaimana cara dunia bekerja, salah satunya melalui penampilan yang sesuai dengan norma yang berlaku.

Manajemen Kontak & Mengembangkan Jaringan

Setelah bercerita bagaimana pentingnya mengenal banyak orang, nikmatnya membantu orang lain, hingga tips praktis berkenalan dengan orang-orang baru, Jeff juga membagikan pengalamannya dalam mengelola database kontak yang kita miliki. Kurang tepat jika kita hanya mengandalkan album kartu nama atau malah hanya mengandalkan ingatan kita. Ada baiknya kita mendokumentasikan dengan sederhana daftar orang-orang yang kita kenal. Cukup dengan membuat kolom nama, nomor telepon, alamat email, lokasi, pekerjaan, dan deskripsi singkat tentang orang tersebut. Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dengan membuat dan terus memperbarui daftar ini.

Suatu ketika, Jeff ingin melakukan ekspansi bisnis ke Cina. Ia memiliki wawasan, sistem, dan modal yang besar. Namun ia tidak mengenal satu pun pebisnis Cina. Akhirnya ia melakukan pencarian di databasenya, untuk mencari tahu rekan-rekan bisnisnya yang pernah berbisnis dengan pebisnis Cina atau mengenal pejabat Cina yang bisa membantu. Hanya dalam hitungan detik ia berhasil melakukannya. Ia pun langsung menelepon rekan-rekan bisnisnya tersebut untuk dikenalkan ke para pejabat atau pebisnis Cina. Cara tersebut berhasil. Dalam kurun waktu beberapa bulan, perusahaan Jeff memiliki cabang di Cina.

Jeff juga membagikan tips praktis bagi para pebisnis, manajer, dan direksi perusahaan terkait bagaimana mengembangkan jaringan. Salah satu cara yang lazim dipakai di Amerika adalah menggunakan pertemuan kelompok semacam Metropolitan Business Network. Kelompok ini tidak terlalu sering berkegiatan, dalam sebulan cukup sekali. Namun, kelompok ini mempertemukan direksi ataupun CEO dari berbagai perusahaan untuk membicarakan kolaborasi yang mungkin dilakukan di antara mereka. Hasil dari pertemuan-pertemuan semacam ini bisa jadi tidak terduga. Mulai dari membuat acara amal bersama, mengawali perjanjian bisnis bernilai jutaan dolar, hingga kerjasama memulai usaha baru bisa terjadi dari pertemuan-pertemuan kelompok semacam ini.

Sekali lagi Jeff menekankan pentingnya untuk terus mengevaluasi dan mengoptimalkan database yang dimiliki bahkan oleh kelompok semacam ini. Ada baiknya database dikelola secara profesional dan ada administrator 24 jam yang siap memberikan informasi dari database ini. Sebagai contoh, suatu ketika ibu dari seorang CEO perusahaan mengalami stroke hebat. Ia menghubungi administrator database untuk mencari dokter stroke terhebat yang dimiliki database. Administrator lantas mengirimkan pesan singkat ke SELURUH dokter / kepala rumah sakit yang ada di dalam database mengabarkan hal ini. Dalam hitungan menit, beberapa kepala rumah sakit memberikan respon, mereka siap memberikan perawatan terbaik di rumah sakit mereka. Administrator lantas mengabarkan kembali sang CEO. Hasilnya, ibu CEO tersebut terselamatkan dan mendapatkan pelayanan luar biasa. Semua berkat manajemen yang baik akan sebuah database.

Tantangan Aplikasi di Indonesia

Sedikit banyak, saya telah menjalankan apa yang dilakukan oleh Jeff selama saya berkarir di dunia organisasi kemahasiswaan. Saya setuju, penting sekali mengenal dan menjalin hubungan yang baik dengan banyak orang. Di kampus misalnya, saya seringkali mendapatkan banyak kemudahan karena memang mengenal orang-orang yang memiliki posisi kunci mulai dari petugas keamanan, petugas kebersihan, pejabat biro, pemimpin fakultas maupun universitas.

Hal yang saya utarakan di atas bukan dalam konteks nepotisme ya! Saya tetap melakukan prosedur yang sama dengan mahasiswa lainnya, hanya saja sering diprioritaskan karena keramahan mereka juga saya balas dengan keramahan. Makanya saya agak bingung ketika pengurus organisasi tertentu merasa dipersulit oleh Biro Kemahasiswaan misalnya, padahal itu karena mereka sendiri tidak berusaha mengikuti gaya kerja para petugas di Biro Kemahasiswaan. Kadang proposal dan laporan pertanggungjawaban saya ditolak, namun saya tetap menjalin hubungan yang baik dengan para petugas di biro tersebut.

Berurusan dengan salah seorang petugas sekretariat fakultas yang kerap kali disegani mayoritas mahasiswa juga saya bisa santai dan tidak pernah merasa disulitkan. Kuncinya adalah tetap ramah dan berusaha menempatkan diri di posisi orang lain. Ketika petugas sekretariat sedang sibuk dan repot, saya tidak akan memaksakan permintaan saya untuk dituruti. Saya bisa menunggu kesibukan mereka sedikit reda atau membuat janji untuk datang kembali keesokan harinya. Menurut saya wajar sekali petugas sekretariat tersebut menjadi kesal dan tidak ramah terhadap banyak mahasiswa, wong mahasiswanya saja sering “maksa” dan tidak tahu sopan santun. Kalau saya jadi petugas sekretariat tersebut, mungkin sudah saya stapler lidahnya. hehe..

Kembali ke aplikasi buku ini, saya rasa ada tantangan yang membuat aplikasinya di Indonesia menjadi agak sulit. Yang terutama adalah kebiasaan untuk selalu berhati-hati dan curiga pada orang lain, khususnya yang sedang menawarkan bantuan / berbuat baik. Entah kenapa, sebagian dari kita selalu berpikir bahwa semua orang pasti memiliki maksud tersembunyi di balik kebaikan. Tidak ada orang yang tulus. Hal ini pada akhirnya membuat orang kesulitan berbuat baik.

Saya pernah menanyakan pada seorang teman, apa visinya lima tahun dari sekarang, sehingga saya mungkin bisa membantunya mencapai visi tersebut. Ternyata responnya cukup negatif, dimana ia menyuruh saya melihat saja lima tahun dari sekarang ia bisa menjadi apa. Saya mendapat kesan teman saya tersebut takut mimpinya dicontek atau diolok-olok oleh saya. Padahal, saya benar-benar ingin membantu loh! Saya yakin bisa mendayagunakan sumber daya dan kompetensi yang saya miliki untuk membantu teman saya itu, karena saya tahu ia cukup visioner dan mimpinya agak berat jika dijalankan sendirian.

Di lain kesempatan, saya bertanya kepada seorang teman yang mempunyai bisnis kuliner, dimana ia biasanya membeli daging ayam (kebetulan bisnis keluarga saya adalah daging ayam). Dengan terburu-buru ia mengatakan “Oh kita udah punya langganan tetap kok untuk daging ayam”. Teman saya tersebut seakan memunculkan kesan tidak ingin saya jadikan target pemasaran dan pengerukan untung dari bisnis keluarga saya. Padahal, saya bisa memberikan berbagai kemudahan pembayaran dan harga yang bisa membantu bisnisnya, justru karena ia adalah teman saya. Sekalipun tidak menjadi mitra bisnis, saya juga tetap ingin melakukan riset pasar tentang apa yang diharapkan oleh restoran dari pedagang daging ayam. Yah, akhirnya saya tidak jadi melakukan hal itu karena sudah terlanjur mendapatkan penolakan.

Begitulah kurang lebih tantangan terbesar aplikasi buku ini di Indonesia. Meski demikian, saya tetap merasa buku ini tepat dibaca oleh siapa pun khususnya para anak muda yang masih belum terpapar akan pentingnya memiliki koneksi yang luas. Jika mereka sudah menyadari hal ini sedari sekarang, saya yakin mereka akan mendapatkan satu keunggulan yang bisa mereka gunakan dalam hidup mereka, entah sebagai pekerja kantoran ataupun wirausahawan. Bagi saya, apa yang diberikan buku ini jauh lebih bermanfaat dibanding ratusan buku motivasi yang meyakinkan pembacanya bahwa kesuksesan hanya ditentukan oleh diri sendiri saja. Sejalan dengan hampir seluruh kisah orang hebat dan besar di dunia, buku ini justru memberi penekanan pada pentingnya mengenal banyak orang. Ya, kesuksesan (baik dalam karir atau kehidupan), tidak semata ditentukan oleh diri sendiri. Kolaborasi, bagaimana pun, jauh lebih penting!

 
Jakarta, 19 Februari 2012
Okki Sutanto

Buku Kedua di 2011 – "OUTLIERS"

“Outliers” karya Malcolm Gladwell.
Sumber: SINI

Resolusi tahun 2011 saya adalah membaca dua puluh buku. Ini adalah buku kedua yang saya baca di tahun 2011. Sebenarnya saya sudah mulai membacanya sejak akhir 2010, namun baru sempat saya selesaikan beberapa waktu yang lalu. Berikut ulasan singkatnya.

Dalam Outliers, Malcolm Gladwell untuk ketiga kalinya sukses merajut berbagai penelitian, eksperimen, dan telaah Psikologi menjadi bahan yang menarik untuk dibaca. Dalam buku ketiganya ini, Gladwell seakan melontarkan pertanyaan besar pada pembacanya:
“Mungkinkah kesuksesan ditelaah?”,
“Apa rahasia di balik setiap kisah kesuksesan?”.

Gladwell  memang tidak secara gamblang menjawab pertanyaan itu di awal buku. Ia lebih memilih menjelaskan secara perlahan melalui berbagai cerita, contoh kasus, data, dan fakta yang terjadi dalam kisah penciptaan orang-orang sukses yang luar biasa. Banyak sekali faktor yang bisa mempengaruhi kesuksesan seseorang. Gladwell memahami betul hal tersebut. Dengan cerdas ia berusaha mengintisarikan berbagai faktor yang menurutnya penting, tentu didukung oleh argumentasi dan data yang kuat.

Tidak sedikit pandangan yang menyatakan bahwa kesuksesan seseorang adalah hasil dari kerja keras dan keberuntungan. Dalam dunia Psikologi, perdebatan tentang dominasi faktor bawaan atau lingkungan pada kehidupan seseorang belum kunjung usai. Gladwell tidak melupakan hal-hal di atas. Dalam bukunya ia justru berusaha menjelaskan lebih mendalam dan berdasar pada contoh kasus, kerja keras dan “keberuntungan” seperti apa yang bisa mengantar seseorang pada kesuksesan. Sejauh mana faktor bawaan dan lingkungan mempengaruhi kesuksesan seseorang pun dijabarkannya dengan apik.

Dalam buku ini banyak sekali kisah orang sukses yang coba ditelaah Gladwell melalui kacamatanya. Mulai dari kisah atlet-atlet berbakat, siswa-siswa jenius, pemusik ternama (The Beatles), penemu hebat (Bill Gates dkk), pengacara kawakan, pengusaha sukses, dan masih banyak lagi. Berulang kali Gladwell mencoba menyampaikan bahwa berbagai faktor yang sering dipandang semata sebagai “keberuntungan”, nyatanya tidak sepenuhnya terjadi secara acak dan kebetulan.

Halaman demi halaman ditulis Gladwell dengan gaya penceritaan yang mudah dan menarik untuk dibaca. Berbagai fakta mengagumkan diutarakannya, termasuk yang awalnya sulit dipercaya. Namun dengan cerita yang mendetil dan bertahap, pembaca menjadi memahami proses yang terjadi dalam setiap fakta mengagumkan tersebut. Mulai dari bagaimana bulan kelahiran bisa menentukan apakah seseorang memiliki kans untuk menjadi atlet hebat atau tidak. Bagaimana negara asal pilot dan struktur pembagian tugas bisa mempengaruhi kesuksesan sebuah penerbangan. Bagaimana tahun kelahiran yang berbeda bisa membuat dua orang yang “kembar” bisa memiliki nasib jauh berbeda. Bagaimana sia-sianya kecerdasan intelektual sebagian orang terhadap kesuksesan orang tersebut. Dan masih banyak lagi.

Secara keseluruhan buku ini sangat bagus dan layak untuk dibaca siapa pun. Perhatian Gladwell pada hal-hal detil, risetnya yang mendalam, dan gaya penulisan yang menarik rasanya wajar membuat buku ini sangat laris terjual. Sekali lagi, Gladwell berhasil membuat penelitian-penelitian ilmiah, khususnya Psikologi, yang seringkali membosankan, menjadi sangat menarik untuk dibaca. Selamat membaca!

First Book in 2011: Speed Reading Better Recalling

Speed Reading Better Recalling
(oleh Gordon Wainwright)
Pratinjaunya bisa dibaca di SINI

Salah saru Resolusi Tahun 2011 saya adalah membaca 20 buku.
Kemarin saya baru saja menyelesaikan membaca buku pertama saya di tahun 2011 ini.
Judulnya adalah Speed Reading Better Recalling, karya Gordon Wainwright.
Saya tidak membeli buku ini, buku ini saya pinjam dari perpustakaan kampus saya. Ketika melihat judulnya, saya tertarik. Siapa tahu buku ini bisa membuat saya membaca dengan lebih cepat, toh memang saya gemar membaca.

Setelah membaca, ternyata tidak terlalu banyak hal yang saya dapatkan dari buku setebal 136 halaman ini. Bukan karena bukunya “tidak berisi”, tapi karena kebanyakan metode yang diajarkan memang sudah saya lakukan ketika membaca. Bagaimana pun, buku ini memang dirancang sebagai modul latihan membaca cepat. Ada program yang dirancang, dan evaluasi kuantitatifnya berupa tingkat kecepatan membaca (dalam kata-per-menit / kpm), dan pemahaman membaca (dalam %). Bagi yang merasa kecepatan membacanya cukup lambat, saya sangat menyarankan untuk membaca buku ini.

Secara garis besar saja, beberapa tips yang menurut saya cukup berguna setelah membaca buku ini antara lain (tidak semua ya, silakan baca buku ini saja jika ingin tahu semuanya):
1. BERUSAHALAH untuk membaca lebih cepat dari biasanya, kebanyakan dari kita belum membaca dengan kecepatan maksimum yang kita miliki.
2. Tak perlu sering-sering KEMBALI lagi ke paragraf / kalimat sebelumnya ketika membaca, seringkali ini dilakukan hanya karena kita kurang percaya diri / yakin akan kemampuan kita.
3. Bacalah SEKELOMPOK KATA sekaligus daripada membaca kata-per-kata karena memang mata kita memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut.
4. Tahulah kapan harus mengatur TEMPO membaca kita. Ada kalanya kita perlu melakukan skimming (baca sepintas lalu), ada kalanya kita harus membaca dengan sangat mendetil. Sesuaikan dengan kebutuhan.
5. Sering-seringlah membaca dan LATIHAN membaca cepat.

Ya, demikianlah buku pertama di tahun 2011 yang saya baca.
Nantikan buku-buku selanjutnya! =)

Sebagai sebuah buku “How-To” / Tutorial, rating saya untuk buku ini adalah sbb:
Rating buku:  (6/10)

Smokol; Gak Berat Koq!

Ketikan Pinggir Hari Ini

Beberapa minggu terakhir buku kumpulan cerpen KOMPAS tahun 2008, ‘SMOKOL’, bersarang di tas saya. Meski setiap hari selalu saya bawa kemana-mana, nyatanya keterbatasan waktu membuat saya baru selesai membacanya hari ini. Reaksi pertama: Huff!! Kelar juga. Entah mengapa selalu ada kepuasan tersendiri setiap kali menyelesaikan membaca sebuah buku. hahaha.

Entah mengapa, sukar menemukan anak muda yang tertarik membaca buku tersebut. Mungkin sudah terlanjur ‘ngeri’, mendengar kumpulan cerpen ini diterbitkan oleh KOMPAS. Padahal, cerpen-cerpen yang terdapat di buku ini cukup menarik dan tergolong enak untuk dibaca. Ceritanya pun tidak semuanya berat, meski harus diakui beberapa membutuhkan pengetahuan historis, filosofis, dan wawasan yang cukup.

Awalnya, ketika membaca PROLOG oleh Rocky Gerung, saya sempat merasa: ‘Wah, salah beli buku nih!’. Bagaimana tidak? Dari PROLOG yang hanya 13 halaman itu, rasanya tangan saya sudah keburu pegal membolak-balik kamus dan thesaurus untuk mencari arti sebuah kata (umumnya kata serapan yang langka digunakan). Namun setelah membaca satu per satu cerpennya, saya mulai kepincut juga untuk membacanya.

Ada cerita tentang seorang gastronom (ahli di bidang masakan) yang membentuk kelompok pecinta smokol (makan tanggung di antara sarapan pagi dan makan siang), yang secara berkala menikmati budaya smokol yang mereka ciptakan sendiri. Ada tema, ritual penyajian, dan pemaknaan folisofis dari setiap kesempatan mereka ber-smokol ria.

Ada pula cerita tentang kisah cinta rahasia berselimutkan konflik politik di Thailand. Panglima Pemberontak dan gembong bisnis Segitiga Emas, menjalin hubungan intim dengan seorang wanita pejuang yang amat membenci Junta. Pemaknaan Zita, sang wanita simpanan tersebut, terhadap hidup ketika sang panglima meninggal, mengalir indah dalam cerpen ‘Iblis Paris’.

Tak melulu kompleks, ada juga cerita-cerita sederhana macam ‘Kartu Pos Dari Surga’ dan ‘Merah Pekat’. Cerita pertama cukup mengharu biru menceritakan tentang seorang anak yang tiap hari merindukan kartu pos dari Ibunya, meski ternyata sang Ibu sudah lama meninggal karena kecelakaan pesawat. ‘Merah Pekat’ berhasil membangun ketegangan dan suasana mencekam bagi pembacanya. Dante, sang drakula kecil di cerita tersebut, memberikan pilihan pada si tokoh utama wanita, mau memilih siang atau malam? Seketika wanita tersebut memilih malam, Dante pun menjadikan wanita tersebut vampir.

Ke-15 cerpen yang ada di buku tersebut pada akhirnya bisa dinikmati terpisah, sama sekali tanpa keterkaitan. Warna berbeda dari masing-masing cerpen justru membuat buku ini semakin menarik untuk dinikmati. Mengutip kalimat di EPILOG yang ditulis Linda Christanty: ‘Tak peduli seberapa canggih gagasan si penulis, tak peduli seberapa dalam makna historis dan filosofis sang penulis, kecakapan berbahasa tetap merupakan kunci utama untuk terhubung dengan pembaca.’

Itu dia yang membuat para penulis cerpen tersebut mampu menuliskan cerpen-cerpen hebat.
Ah! Kapan kecakapan berbahasa ini bisa setara mereka. Iri rasanya melihat profil para penulis yang sudah sangat mumpuni di dunia kepenulisan. hahaha.
Kapan yah saatnya tiba?
Hmm… Pelan-pelan saja lah, Ki! =)

Jakarta, 17 Oktober 2009
Okki Sutanto
(makin terpacu untuk menulis)

Bumi Manusia; karya besar yang tak lekang oleh waktu

Ketikan Pinggir Hari Ini

Mungkin sebagian di antara kita ada yang pernah membaca buku ‘Bumi Manusia’ karya Pramoedya Ananta Toer (Pram). Buku tersebut adalah buku pertama dari rangkaian Tetralogi Buru, yang ditulis Pram saat ia ditahan dan diasingkan di pulau Buru. Saya sendiri membaca buku tersebut dan mulai mengenal karya-karya Pram saat semester 2, ketika mengikuti kuliah Filsafat Manusia. Tak akan cukup satu notes untuk mengagumi Pram, beliau terlampau hebat, dengan segala kontroversinya. Cukup ijinkanlah saya dalam kesempatan ini menceritakan sedikit mengenai buku Bumi Manusia tersebut. Siapa tahu bisa menjadi pencerahan, bisa juga tidak.

Dalam buku tersebut, melalui kehidupan sang tokoh utama, Minke, realita kehidupan pada akhir abad 19 terdeskripsi dengan amat baik. Negri ini masih berupa angin, belum terlahir seutuhnya, bahkan masih belum terkonsepsi. Mungkin kata “Indonesia” belum sekali pun terucap. Belanda masih menjadi penguasa, sepeda masih menjadi barang mewah, koran masih belum terdengar, dan sekolah pun masih diperuntukkan untuk bangsawan belaka. Intinya, ‘jadul’ dalam arti sebenar-benarnya.

Yang menarik dari buku tersebut adalah problematika yang terjadi persis seabad yang lalu. Permasalahan mendasar yang dihadapi Minke pada masa itu kurang lebih ada 2. Yang pertama adalah pemerintahan yang ‘sakit’. Pemerintahan korup, otoriter, ‘jauh’ dari rakyat, dan gagal. Masalah kedua adalah tidak adanya gerakan persatuan. Minke yang berkoar-koar demi persatuan pada saat itu sungguh kesulitan dan mendapat tekanan luar biasa dari Belanda. Berbagai pihak umumnya mencari aman di bawah perlindungan Belanda saja.

Buku tersebut bersetting seabad yang lalu. Bahkan di saat negri ini belum terbentuk. Jika dipikir, rasanya mustahil permasalahan yang sama tetap berputar dan menggerogoti sebuah negri dalam jangka waktu seabad. Namun ternyata jika ditilik lebih jauh, berbagai masalah yang terjadi pada saat itu masih juga kita rasakan di masa sekarang. Pemerintahan yang gagal, jauh dari usaha pensejahteraan rakyat. Persatuan, yang harusnya sudah kita dapatkan sejak enam puluh empat tahun yang lalu, nyatanya tidak lebih dari ikatan semu belaka. Tidak ada lagi kebanggaan dari hari kemerdekaan. Sulit membuat suatu simbol persatuan yang dihormati semua kalangan. Lagu kebangsaan tak sanggup, bendera tak mampu, bahkan presiden pun tak bisa menjadi ikon penyatu bangsa. Nasionalisme lambat laun menggerogoti dari dalam, dan bangsa ini pun sakit tanpa ada obatnya.

Berapa lama lagi yang harus kita habiskan untuk menunggu?
Berapa banyak lagi rakyat yang harus menderita dalam penantian itu?
Berapa banyak manusia gagal lagi yang harus duduk di kursi pemerintahan?
Cukupkah 1 abad lagi?
Bisakah lebih cepat?

Jakarta, 6 Oktober 2009
Okki Sutanto
(kangen membaca karya Pram lainnya)