REVIEW FILM RAMPAGE! DOR DOR JEGER!

rampage_ver2
Makanya pelihara kucing atau marmut aja, kalau ngamuk minimal cakar-cakar manja. Kalau gorila / buaya / serigala ngamuk kan ribet.

 

Akhir pekan lalu gue nonton Rampage. Yaaah, biasa lah tipikal film-film beginian. Setipe sama Jurassic World atau King Kong, dengan nuansa San Andreas, dimana sutradara dan pemain bintangnya kebetulan kerja bareng lagi di film ini. Ancur-ancuran, destruksi total, dan “kiamat” kecil, dimana jagoan kita berjuang menyelamatkan kota / negara / planet.

Typecast juga sih ini si Dwayne Johnson. Lelaki perkasa anti mati dengan nyawa lebih banyak dari kucing. Bahkan backstory-nya lama-lama mirip juga: ex military personnel yang kesulitan berinteraksi dengan manusia. Yah cocok-cocok aja sih. Tapi boleh lah sekali-kali jadi ex ballerina dancer gitu. Atau ex pemandu karaoke Alexis.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.47.38 AM
Inget sesuatu? Jumanji misalnya? Pilem doi sblom ini? haha.. Ada the rock di balik the rock. (?)

Jadi ceritanya si The Rock jadi pawang gorila di sebuah pusat konservasi. Doi punya sahabat baik namanya George, gorila albino langka. Si George pinter, sampe-sampe bisa berkomunikasi dengan sangat lancar menggunakan bahasa isyarat.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.50.35 AM
gitu coy. Bisa ga lu bahasa isyarat? Ga bisa kan? Makanya ga usah sok pinter. Kalah lu sama gorila. Lah, kenapa gua ngegas gini. haha..

Suatu saat, terkontaminasi sama suatu serum misterius hasil eksperimen, si George jadi agresif dan bertumbuh dengan luar biasa pesat. Dalam sehari bisa membesar berkali-kali lipat, dan bawaannya ngamuk-ngamuk ngancur-ngancurin apa aja yang bisa diancurin.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.51.16 AM
lu juga sih kayak netijen Indonesia, George. Kepo anaknya. Coba lu ga kepo megang-megang tuh benda. Aman sentosa deh.

Alhasil, George yang liar dan beringas ini menjadi ancaman nasional. Doi diincar sama militer (yang ingin menyelamatkan masyarakat), diburu sama pasukan sebuah perusahaan (yang ingin menyelamatkan “aset” perusahaan), dan dikejar-kejar sama si The Rock (yang ingin menyelamatkan si George). Sebenarnya kalau cuma si George doang, masalah mungkin ga segitu rumit karena sedikit banyak masih bisa diajak komunikasi sama si The Rock. Meski sudah berubah drastis, mungkin rasa sayang itu masih tersisa. Nyet ini ngomongin pilem apa mantan?

Semua menjadi ribet karena ternyata yang terkontaminasi sama serum misterius itu bukan cuma George, tapi ada juga serigala raksasa yang bisa terbang dan buaya raksasa yang berenangnya lebih cepet dari Michael Phelps. Belum lagi si The Rock harus berpacu dengan waktu karena militer udah bohwat dan milih untuk nge-MOAB (mother of all bomb) satu kota kayak di pilem Avengers pertama.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.50.48 AM
Cute lho doi sblom kena serum misterius. Kekar, berbulu, ganteng. Kalo masuk Tinder mungkin lebih banyak yang swipe daripada gue. Lha malah curcol!

Yah, kurang lebih begitulah filmnya. Gih nonton di bioskop mumpung masih ada. Atau nunggu streaming juga boleh. Jujur agak kecewa karena filmnya ga “senyawa” dengan video game aslinya, dimana perspektifnya itu ya perspektif si monster ngamuk, dimana kehancuran dilakukan dengan tujuan. Di sini kita diajak melihat dari perspektifnya si The Rock, dan destruksi dilakukan sebatas ekstasi tanpa esensi. Horor yang mencekam dan membahayakan masyarakat. Ga lebih dan ga kurang. Jadinya ga semudah itu bersimpati pada George dan kawan-kawannya.

Terlepas dari itu semua, juga ceritanya yang standar dan bisa ditebak (endingnya Jurassic World abis), film ini bisa dinikmati tanpa banyak mikir (dumb fun movies). Seru-seruan aja laaah daripada hampa kan akhir pekan lu gak ngapa-ngapain. Ye gak?

 

Jakarta, 20 April 2018.
Okki Sutanto

A QUIET PLACE: BERBUNYI DALAM SUNYI.

Udah lama sik sebenernya nonton A Quiet Place. Cuma karena lagi kekurangan objek buat ditulis yaudalah gue review juga. Toh sekarang kan jadwal tayang di bioskop bukan segalanya, siapa tahu ada yang baru mau nonton streaming atau rental via Google Play pun iTunes. Atau beli bajakan. Nyet, hina banget sih idup lo masih aja bajakan. 2018 ini lho!

A QUIET PLACE

Film ini sebenarnya simpel dan minimalis. Baik plotnya pun pemainnya. Bahkan di credit title aja semua nama pemain cukup 3/4 layar udah ketulis semua, tanpa perlu scroll ke bawah. Kalah panjang deh sama nama-nama yang lo terimakasihin di kata pengantar skripsi.

Pas awal tau ini film horor sebenernya gue ga minat-minat amat nonton. Tapi pas tau ternyata horornya adalah makhluk luar angkasa (alien), bukan makhluk halus (setan-setanan), jadi tertarik juga. Simpel aja lah. Kalo horornya makhluk halus, bisa aja kan beneran kejadian. Pas lu nyetir di kursi belakang tiba-tiba ada Sadako. Pas lu lagi mandi tiba-tiba dikeramasin sama suster keramas. Ngeri coy! Kalo alien mah gue ga takut. Sebodo amat deh kalo lagi mandi ada alien nimbrung. Mandi bareng lah kuy. Apalagi alien macam Gamora atau Nebula-nya Guardians of Galaxy!

Kembali ke pilem. Ceritanya ada invasi alien ke bumi. Banyak kota-kota hancur dan penduduk yang selamat pun sedikit dan terpencar-pencar. Film ini fokus sama satu keluarga yang berjuang bertahan hidup. Ada emak, bapak, sama 3 anaknya. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, semua dilakukan penuh kesunyian. Kenapa? Karena aliennya ini ga bisa ngeliat, cuma punya telinga super yang sensitif sama suara-suara berisik. Begitu ada yang berisik atau gaduh langsung dimangsa sama mereka. Cocok deh buat jadi pengawas ujian. Jadinya, sepanjang film komunikasi harus bisik-bisik atau pakai bahasa isyarat.

Filmnya ya seputaran itu sih. Bagaimana mereka bertahan hidup, mencari cara untuk hidup normal tanpa “mengundang” perhatian si alien. Juga mengatasi rasa kehilangan, rasa bersalah, dan segenap luka masa lalu mereka.

Konflik-konflik psikologis yang sederhana tapi mengena itu menjadi rumit…..tatkala si emaknya hamil coy! Gue sih gak abis pikir apa yang ada di pikiran mereka. Kenapa harus begituan? Sabar ngapa men! Jelas-jelas lagi ada alien, lu ga boleh berisik, kenapa juga masih begituan? Enak apa begituan diem-dieman? Gimana caranyaa? Dan berjuta pertanyaan lain.

Okelah kalau mereka punya cara ajaib untuk bisa begituan tanpa suara. Tapi ya minimal pake kondom lah coy atau metode kontrasepsi lain. Kenapa harus hamiil? Kebayang ga sih gimana caranya melahirkan tanpa suara? Ya pas ngedennya, ya pas tuh jabang bayi keluar kan pasti nangiis! Emang pas lahir langsung bisa bahasa isyarat? Kan kagaaak men! Yah begitulah. Tapi emang tanpa bagian hamil dan melahirkan, mungkin konflik filmnya ga sedahsyat itu. Mungkin juga mereka lagi mempraktikkan kearifan lokal khas Indonesia: banyak anak banyak rejeki. Ye gak?

Demikianlah filmnya. Sesederhana itu sih, simpel tapi seru dan sukses membuat penonton menahan nafas, ketakutan, serta penasaran sama ceritanya. Untuk ukuran film pertama, John Krasinski terbilang sukses menghasilkan karya yang berkesan dan serius. Gue tau doi dari serial tivi The Office. Di sana sih doi gak ada serius-seriusnya. Tapi di sini ya layak diapresiasi lah. Cukup berbunyi meski filmnya sunyi!

Btw, entah kenapa di beberapa momen gue berasa lagi nonton Logan coy. Lelaki brewokan berbadan kekar. Hubungan ayah dan anak perempuan yang canggung. Adegan kejar-kejaran di hutan. Lelaki yang irit bicara tapi bisa diandalkan. Serta pengorbanan sang ayah sepanjang film. Jadi penasaran juga kira-kira menang Logan apa Alien yah kalo mereka berantem? Nantikan di sekuel film “James Bond Cowboy versus Aliens”! Ciao!

 

Jakarta, 19 April 2018

Okki Sutanto

Review Ready Player One: Meriah Referensi, Murah Esensi!

Screen Shot 2018-04-15 at 6.12.00 PM
Auk ah kenapa itu trailer di yutub subtitlenya bahasa Jawa. Intinya semua orang di film itu main game pakai kacamata VR kayak gitu.

Di suatu saat di masa depan, ceritanya dunia nyata sudah tidak lagi menawarkan kesenangan dan keseruan. Hampir semua orang “melarikan diri” ke dunia virtual dengan bermain game. Sebenarnya sekarang juga udah mulai banyak kacamata VR (Virtual Reality) ditemui di pasaran kok, di Tokopedia paling 100ribu-an ada. Beberapa permainan, video, sampai film bokep juga udah mulai dikembangkan untuk VR, meski kualitasnya belum bagus-bagus amat. Plis jangan tanya kenapa gue tau! Tapi kalau ada yang mau tau untuk kepentingan riset japri aja nanti gua share. #lho

Nah, di film ini teknologi udah kian canggih. Tahun 2045 ceritanya. Tahun dimana Indonesia baru saja melewati bonus demografi. INI FAKTA APAAN RANDOM AMAT NYET! Ya biarin, nih film juga random banget coy easter egg dan referensi budaya pop tahun 80-90an! Mulai dari The Iron Giant, Batman, Gundam, Street Fighter, Star Wars, Pac-Man, Minecraft, King Kong, Jurassic Park, Joker & Harley Quinn, sampe film The Shining-nya Jack Nicholson! Random abis lah pokoknya. Referensi nih film lebih panjang dari skripsi lu pada deh dijamin. Nih daftar lengkapnya: http://www.vulture.com/2018/03/here-are-all-the-references-in-ready-player-one.html

Screen Shot 2018-04-15 at 6.08.56 PM
IRON GIANT coy! Nostalgia abis.. Dulu nobar bareng anak-anak komunitas pilem di Kampus. Pas masih muda.

 

Kembali ke pilem. Jadi dunia virtual berupa permainan all-in-one di film ini namanya OASIS. Semua orang main OASIS. Kebayang gak tuh sekaya apa yang bikin nih OASIS? Dulu aja pas Flappy Bird ngehits, developernya langsung tajir mampus mendadak. Nah, pembuat OASIS adalah seorang jenius bernama Halliday. Saking nerdnya si Halliday kerjanya dari kecil main game terus, alhasil ga berkeluarga. Sebelum meninggal, doi ngasih pengumuman bahwa ia meninggalkan warisan tersembunyi di dunia OASIS. Pemain yang bisa menemukannya akan mendapatkan hadiah super mevvah di dunia virtual OASIS, serta saham mayoritas perusahaan OASIS di dunia nyata! Gokil kan.

Alhasil semua penghuni OASIS berlomba-lomba menemukan hadiah tersembunyi tersebut. Termasuk si karakter utama Parzival dan gengnya. Cewek misterius si Art3mis. Juga perusahaan 101, bukan hotel lho ya! Sebuah perusahaan teknologi yang berusaha mengalahkan OASIS menjadi perusahaan game terbesar di dunia. Penting ini coy, soalnya semua orang kan main game di film ini! Mereka punya karyawan segambreng yang tugasnya tiap hari cuma main game doang:

Screen Shot 2018-04-15 at 6.09.41 PM
Lagi-lagi, ini bukan iklan hotel lho gaes.

Yha gitu deh intinya, semua orang berusaha sekuat tenaga menemukan warisan tersembunyi si Halliday. Ya main game balapan. Ya main game jadul. Ya perang-perangan. Ya cari-cari hint di “perpustakaan” canggih yang berisi setiap detil kehidupan si Halliday.

Semua jadi kian rumit kala konflik di dunia virtual OASIS berimbas pada kehidupan nyata Parsival dan gengnya. Nyawa mereka terancam, baik di game pun di dunia nyata mereka dikejar pasukan 101. Siapakah yang menang? Bagaimana endingnya? Yha nonton lah bos. Mumpung masih ada tuh di bioskop!

Intinya film ini menurut gue menarik dan menghibur banget. Apalagi dengan segenap kemeriahan referensi pop culturenya! Cuma entahlah kalau buat generasi di luar segmen utamanya, atau emang mereka-mereka yang gak doyan video game, buku, dan film. Mungkin jadi kurang mengena ya. Iya, rada-rada eksklusif kayak anak Psikologih. #Lho

Screen Shot 2018-04-15 at 6.08.00 PM
Ini ceritanya dunia nyata di pilem. Sama aja mau dunia nyata pun dunia OASIS, dua2nya CGI super keren yang memanjakan mata. Maklum lah ini karyanya om Spielberg.

Terlepas dari begitu banyaknya referensi pop culture yang terus muncul tanpa jeda, esensi dan pesan yang ingin disampaikan sama film ini kurang nampol sik. Terlalu klise semacam “jangan kecanduan game”, “jangan lupakan dunia nyata”, atau “dahulukan keluarga dan persahabatan”. Tapi yah ga semua film harus berisi pesan sedahsyat celotehan Mario Teguh juga kan?

 

Jakarta, 15 April 2018
Okki Sutanto

Review Film Arini

Beberapa hari lalu saya menonton film Arini….entah kenapa! Haha. Sebenarnya lebih niat nonton Teman Tapi Menikah dan Partikelir, tapi teman nonton saya memilih Arini karena hasil dia browsing katanya film ini adaptasi dari novelnya Mira W, jadi harusnya bagus. Wah, saya aja baru tahu ini adaptasi novel! Jadi ya udah deh boleh juga.

Tapi emang iya sik. Nih film kurang promosi banget. Tenggelam sama hingar bingar Teman Tapi Menikah yang dimainin sama si cantik Milea, dan Partikelir yang adalah proyek pertamanya Pandji. Teman-teman saya juga banyak yang gak tahu keberadaan nih film. Entah kurang budget promosinya. Entah Falcon Pictures kurang pede sama filmnya. Entah gara-gara posternya begini juga sik:

Screen Shot 2018-04-12 at 5.57.37 PM
Sungguh tidak menggambarkan tema filmnya kan? Apalagi taglinenya itu loh (yang sebenarnya judul novel aslinya Mira W), “Masih ada kereta yang akan lewat”. Kan kurang menggugah yak. Kirain ini iklan layanan masyarakat untuk menenangkan penumpang yang ketinggalan kereta. Petugas stasiun lagi ngasih pengumuman “tenang mbak, masih ada kereta yang akan lewat kok. Gak usah nangis. Sini saya cium.” Ya siapa juga yang gak mau dicium sama Morgan sik. Eks pentolan SM*SH itu loh. Iya, boyband paporit saya. You know me so well, deh.

Anyway, saya nonton film ini tanpa banyak ekspektasi. Harusnya sih ga akan jelek-jelek amat. Soalnya novel ini pernah diadaptasi juga ke layar lebar tahun 1987 dengan pemeran utamanya Rano Karno dan Widyawati. Bahkan ada sekuelnya: Arini II. Harusnya sih skrip dan plotnya cukup oke lah ya, sampe-sampe difilmkan ulang. Selain itu, ini nomat (nonton hemat) juga kok. Cuma bayar 40ribu udah dapet 2 tiket + popcorn + 1 minuman. Thanks to Kartu Kredit UOB dan CIMB Paywave. Ini link info lengkap promo nomatnya btw buat yang tertarik. LAH MALAH PROMOSI! Biarin. Yah seminimal-minimalnya toh nomat, film jelek pun ga rugi-rugi amat, gitu pikir saya.

Ternyata, saya cukup menikmati filmnya kok. Entah DoP-nya yang keren, atau simply romantisme syuting film di Eropa sik. Banyak syuting di tempat-tempat romantis di Jerman dan Paris. Juga Jogja. Dialog juga lumayan bagus meski sebagian masih terlalu bahasa “novel”.

Sederhanya sih, ceritanya tentang cinta beda usia. Morgan (ceritanya mahasiswa S1 di London), suatu hari lagi backpacking ketemu sama Aura Kasih (ceritanya janda 38 tahun) di sebuah kereta di Jerman.

Screen Shot 2018-04-12 at 5.52.24 PM
Gitu gaes. Agresip beut ni laki. Langsung nyosor dan ngajak kenalan. Ya iya tapi Aura Kasih juga sik. Jangankan di kereta bagus Jerman. Ketemu di kelas ekonominya Argo Parahyangan juga gue samperin sik.

Konflik cinta beda usianya jujur kurang dapet sih. Iya, di awal si Aura Kasih dingin dan ga nanggepin si Morgan. Iya, sempat dinyinyirin juga sama emaknya si Morgan pas suatu saat ketemu. Tapi ya udah sik gitu aja. Kalau gue jadi bapaknya Morgan juga gue ga bakal menentang atau gimana juga. Coy, kalo anak lu bisa dapetin cewek macam Aura Kasih sih itu namanya PRESTASI! Diaminin aja ngapa.

Screen Shot 2018-04-12 at 5.53.30 PM
Aura Kasih ini coy. Yang lagi menatap Jendela sambil nunggu sunset aja bisa bikin laki-laki manapun berdiri meleleh.

Kenapa akhirnya si Aura Kasih ga dingin lagi? Ya lu liat aja betapa romantis tempat-tempat ini deh:

Curang ini mah. Jangankan Morgan Oey. Morgan Freeman juga bisa bikin cewek meleleh kalau berduaan terus di tempat-tempat kayak gini. Lho? Ya ghitu deh.

Intinya kebersamaan mereka cukup kilat pas di Jerman. Tapi lumayan berkesan. Berkat  takdir (+ usaha + niat + uang), mereka bertemu kembali di Indonesia. Di sanalah konflik mulai terbangun. Antara masa depan yang mungkin terlalu manis dan luka masa lalu Arini yang belum usai.

Jadi kadang ada flashbacknya gaes, ke masa lalu Arini beberapa belas tahun lalu. Bedanya apa? Yak, cukup rambutnya Aura Kasih di-bonding aja ngikutin gaya masa lalu.

Mau tahu lengkapnya? Nonton aja deh, ga enak kalau di-spoiler-in di sini. Tentu masih jauh dari sempurna filmnya. Ada banyak tanya yang tak terjawab. Misalnya, kenapa sik ni cewek cakep tapi kayak ga bisa nolak banget jadi manusia? Dicomblangin iya aja. Diajak nikah iya aja. Dideketin brondong mau aja. Dipeluk dan dipegang tangannya juga mau aja. Hadeh! Mirip Milea juga nih cewek.

Terlepas dari semua itu, dinikmatin aja kalau kata gue mah. Dijalanin dulu aja. Eh, ini bahas film apa pacaran sih? Auk! hehe..

 

Jakarta, 12 April 2018
Okki Sutanto

BONUS SCENE:

Screen Shot 2018-04-12 at 6.38.34 PM
Ada satu scene dimana Aura Kasih masuk kamar dan menutup diri karena merasa “belum siap”. Si Morgan ngetuk-ngetuk. Lalu Aura Kasih nanya “Kamu mau apa?”, dengan ngehenya dijawab sama si Morgan “Aku mau masuk.”. Ya elah nyet, siapa juga yang ga mao masuuuuuuuuuuuuk!

 

Menelan Dilan Pelan-pelan

Dilan1990
Dari: http://img.jakpost.net/

Kali ini saya harus berterima kasih banyak pada media sosial. Karena begitu masifnya hiruk pikuk dan meme tentang Dilan dan Milea, akhirnya kemarin saya menyempatkan diri menonton Dilan 1990. Terima kasih untuk seratus delapan menit yang penuh nostalgia dan rasa syukur. Ya, rasa syukur. Syukurlah saya ga gitu-gitu amat zaman dulu. hehehe..

Menonton Dilan 1990 ya mau gak mau nostalgia ke masa SMA. Datang pagi ke sekolah naik motor demi ngelihat si doi? Pernah. Disetrap pas upacara karena baju ga rapih? Iya. Menyusup ke kelas lain dan kepergok guru? Pernah. Ngejar-ngejar anak pindahan dari kota lain? Nulis surat dan puisi? Berantem gara-gara cewek? Iyes.

Pernah semua deh rata-rata, eh tapi gak semua pas SMA sih. Ada yang pas SMP dan juga SD. Ya intinya masa sekolah lah. Gak terlalu signifikan juga, toh banyak gombalan dan obrolan di Dilan 1990 yang lebih cocoknya buat anak SD atau SMP.

Yang beda adalah jika Dilan beruntung menemukan gadis selugu dan sefiksional Milea, sayangnya saya tidak.

Coba saya samperin cewek baru pindah sekolah lalu ujug-ujug ngomong: “Saya ramal kita akan ketemu di kantin nanti”, yakinlah jawabannya tidak akan seperti di film. Mentok-mentok “JANGAN NGIKUTIN GUA LU STALKER!” atau “YA IYALAH DI KANTIN, KALO DI WC CEWEK KRIMINAL!” atau minimal dicuekin karena SKSD banget sih itu sumpah.

Untungnya Dilan bertemu Milea. Cewek yang tidak cerdas-cerdas amat padahal rajin baca buku. Cewek plegmatis yang ga bisa mengambil keputusan, padahal udah jelas pacarnya di Jakarta itu ga seru dan ga ada bagus-bagusnya selain bapaknya tajir. Cewek PHP yang baik ke semua cowok, padahal tahu semua cowok itu menaruh harapan. Tidak sulit berkata tegas dan menarik batasan yang jelas bahwa ia cuma menganggap mereka sebagai teman, tapi tidak tuh.

Lagi-lagi ini membawa saya ke masa SMP. Kala seorang cewek cantik bilang ke saya bahwa “Ga apa si Doni PDKT-in gua, gua mao tahu dia nembaknya gimana nanti.” Padahal dia jelas-jelas ga suka sama si Doni. Kan nyebelin yak. Padahal si Doni itu teman baik saya. Tapi ya seru juga sih emang liat dia PDKT dan nembak tapi ujung-ujungnya ditolak. haha.. Sadis juga saya ini.

Di balik semua keunikan dan kegombalan maha recehnya, Dilan itu ya bocah biasa. Tipikal berandal yang punya kebutuhan tinggi untuk jadi beda. Yang disalurkan melalui membaca sekian banyak buku, nulis puisi dan surat-surat romantis, dan……tawuran. Iya men, tawuran! Agak ga nyambung sih. Ibarat Rangga yang diam-diam ternyata panglima FPI. Atau Gie ternyata seorang pebalap liar. Tapi yaudahlah, namanya juga film.

Apalah saya ini cuma martabak keju kalau kata Dilan. Intinya saya ngiri kan pas zaman SMA gak ketemu Milea saya? Iya lah. Satu-satunya pelipur lara selama seratus delapan menit itu ya melihat cantik dan ayunya Milea. Cantiknya khas Sunda pula. Mojang Bogor-Bandung gitu. Gravitasinya kuat banget kalau buat saya euy! hehe..

Yah, akhir kata silakan menonton Dilan 1990. Tapi telanlah ia pelan-pelan, penuh kekritisan, karena bagaimanapun selalu ada jarak antara fiksi dan realita.

 

Jakarta, 30 Januari 2018
Okki Sutanto

Susah Sinyal dan Millenial

SUSAH SINYAL DAN MILLENIAL

Salah satu alasan saya amat menanti film terbaru Koh Ernest ini sebenarnya simpel: mau melihat MacBook saya. haha.. Kebetulan SuperMac Jakarta dipercaya menjadi penyedia setiap MacBook yang muncul di film ini. Rasanya baru kemarin kirim-kirim Mac ke Ciracas, Pejaten, gedung Top Building, sampai Artotel Thamrin sambil mantengin artis-artisnya syuting. Eh tiba-tiba sudah ada di bioskop. Nonton, deh! hehe..

Susah Sinyal Movie Poster

Selain itu, memang genrenya amat cocok untuk ditonton bersama keluarga. Film sebelumya, Cek Toko Sebelah, juga sangat bisa dinikmati oleh saya dan keluarga. Kan susah juga kalau ajak bokap nonton Lima Cowok Jagoan. Nanti ditanya kenapa saya ga termasuk salah satu jagoannya kan repot.

Terlepas dari sejumlah kekurangan di plot dan alur cerita, film ini menurut saya amat cocok dinikmati oleh millenial dan generasi sekitarnya. Terlebih betapa sukses film ini menggambarkan keindahan pulau Sumba. Wah, juara banget ini, dikit lagi kayaknya wisata di sana bakal booming.

Filmnya sangat menghibur, dengan tema yang relatable seputar keluarga dan karir. Mungkin tidak semenyentuh Cek Toko Sebelah, tapi tetep sukses tuh bikin nyokap nangis tersedu di beberapa bagian. hehe. Menurut saya pribadi amat cocok dengan Millenials karena sejumlah referensinya yang ngena, mulai dari generasi Instagram, acara reality show di televisi yang bisa jadi cara instan terkenal, gaya hidup eksplorasi dan jalan-jalan, candaan bumi datar, hingga perceraian artis. Hal-hal yang akrab menghiasi Millenials kala mereka tumbuh besar hingga kini.

Buat saya pribadi, juga beberapa penonton lain, peran Ge Pamungkas kurang maksimal di film ini. Tapi setelah dipikir-pikir, jika ini adalah easter egg atau referensi tersembunyi pada tokoh Michi & Yoshirin di komik Crayon Sinchan, maka Ge sebenarnya sukses banget. Pasangan eksentrik, pakai baju couple kemana-mana, si cowok yang hobi banget nangis, juga romantisme berlebih. Pas banget sih ini! Tapi lagi-lagi kan yang baca komik Crayon Sinchan itu ga banyak. Maklum lah, namanya juga komik terlarang pada masanya.

Yah, intinya film ini layak ditonton di masa liburan ini. Cocok buat pasangan, keluarga, atau jombloers yang suka nonton sendirian. Masing-masing bisa menikmatinya dan pulang dengan pesan dan pelajaran yang berbeda, kok. Buat lelaki ya film ini bisa jadi ajang cuci mata banget sih. Kayaknya nyaris semua aktrisnya cantik-cantik gimana gitu. Ya Ardinia Wirasti. Ya Aurora Ribero. Ya Valerie Thomas. Ya Giselle. Oh ya, ada Darius juga kok. Jadi lengkap pilihannya kan? hehe..

 

Jakarta, 25 Desember 2017.
Okki Sutanto

First Movie in 2011: Letters to God.

Image from HERE

Salah satu Resolusi Tahun 2011 saya adalah menonton 100 film selama satu tahun ini.
Gampang kan? Harusnya! Hehe..

Hari pertama di tahun 2011 kemarin, saya menonton film berjudul Letters to God.
Karena saya malas untuk menulis sebuah resensi, maka saya akan menuliskan lima hal yang (menurut saya) paling menggambarkan film ini. Anggap saja resensi singkat dalam lima kata. =)

SIMPLE | TOUCHING | FAMILY | FAITH | CANCER
Rating film: ✰ (7/10)