Ilusi Resolusi

Selamat tahun baru 2018!

rakicevic-nenad-490348
Photo by Rakicevic Nenad on Unsplash

Sudah punya resolusi tahun baru? Bagus! Semoga tercapai. Saya sih ga muluk-muluk, belajar dari pengalaman kan resolusi tahun baru itu biasanya bertahan ga lebih dari seminggu. Jadi saya ga mau terjebak dalam ilusi semu bernama resolusi. Dalam euforia sesaat yang seringnya berjalan di tempat.

Gak kok, punya resolusi itu gak salah. Malah bagus kan, jadi lebih optimis dan penuh target di tahun yang baru. Dari yang mau menurunkan berat badan sampai target jumlah buku yang dibaca. Dari yang mau nikah sampai beresin tesis tanpa meringis. Siapa pun itu, dimana pun itu, saya doakan Anda berhasil!

Saya pribadi ga punya resolusi khusus, intinya mau setiap hari itu jadi lebih baik dari hari sebelumnya. Mau lebih bijak memanfaatkan waktu dan tenaga. Mau lebih bisa membahagiakan orangtua. Mau menjadi pribadi yang lebih dewasa dengan mengurangi kesinisan dan kenyinyiran. Mau punya tubuh lebih sehat sehingga bisa makan yang haram-haram sampai tua nanti! haha..

Buat yang masih menyusun resolusi, usahakan membuat resolusinya menggunakan metode SMART ya. Biar ga cuma anget-anget tai ayam tuh resolusi. haha.. Buat yang belum tahu, SMART itu singkatan: Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Timely.

Sespesifik mungkin apa targetnya, jangan kayak saya di atas. Terukur, harus ada indikator keberhasilannya. Bisa dicapai, sesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki. Realistis, dengan turut mempertimbangkan faktor-faktor di luar diri seperti waktu, prioritas, sumber daya, lingkungan, dan lainnya. Terakhir, punya jangka waktu yang jelas, bulan 1 mencapai apa, bulan 3 mencapai mana, dan seterusnya.

Metode di atas sih harusnya membantu ya, biar resolusi tahun baru teman-teman tidak terlalu mengawang dan seabstrak lukisannya Pollock. Saya pribadi sih ga menyusunnya se-SMART itu, karena saya ga punya resolusi tahun baru. Target saya cuma resolusi hari baru. Yang tiap hari saya susun ulang, refleksikan ulang, dan usahakan sebaik-baiknya.

SEMANGAT! Mari jalani tahun ini dengan bahagia, damai, dan bijak.

Batam, 2 Januari 2018
Okki Sutanto

Catatan Akhir Tahun

michal-grosicki-366023
Photo by Michał Grosicki on Unsplash

 

Banyak manusia merindukan sesuatu yang konstan. Mencari pelarian dari begitu banyak hal yang senantiasa datang hanya untuk pergi kembali. Seperti debur ombak, yang kerap datang menyetubuhi bibir pantai, hanya untuk sejenak kemudian kembali pergi ke laut lepas. Seperti matahari, yang setiap pagi memberi salam, hanya untuk tenggelam kala tiba sang malam.

Sayangnya, sedikit sekali hal yang konstan dan abadi. Yang konstan itu hanya perubahan, kata orang bijak. Pun waktu, yang berlalu demikian cepat. Detik demi detik. Hari demi hari. Dan dalam hitungan hari, tahun ini pun akan segera berganti.

Buat saya, salah satu yang konstan itu adalah pembelajaran. Tiap momen, tiap kesempatan, tiap tahun, senantiasa ada hal baru yang dipelajari. Maka izinkan saya mencatat dan merefleksikan kembali sejumlah pelajaran yang saya dapat di tahun 2017 ini.

AH ELAH INTRONYA PANJANG BANGET BELOM SAMPE MANA MANA NYET! INI CATATAN APA PIDATO KEPALA SEKOLAH PAS TUJUH BELASAN! hahahaha.. Maap keleus. Saya bukan Fahri yang mahasempurna dengan segala kelaki-lakiannya.

Yang pertama adalah betapa tidak pentingnya PENGKULTUSAN dan pengidolaan terhadap seseorang. Seseorang itu, sebaik apapun terlihatnya, punya “harga” dan “keterbatasan”. Tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang bebas cela. Semua bisa mengecewakan. Semua bisa menjilat ludah sendiri. Saya sih ga mau kasih contoh. Tapi kurang lebih macam Aung San Su Kyii. Anies. Pun Trudeau dan Macron. LAH APANYA YANG GA MAO KASIH CONTOH SIH, INKONSISTEN LU KI!

Yang kedua adalah pentingnya MERELAKAN. Merelakan tanpa menghela nafas itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi yang sudah terjadi ya memang harus terjadi. Rezeki-rezeki yang hilang karena tangan-tangan jahil. Pintu-pintu yang tertutup karena ketidaksengajaan. Jembatan-jembatan yang terbakar karena api masa lalu. Banyak deh, pokoknya. Yang paling nyesek itu ya saat saya harus merelakan Raisa kepada Hamish. GA LAH BERCANDA, RAISA ITU BIASA AJA GA CAKEP-CAKEP AMAT! **bersiap disambit lelaki se-Indonesia**

Yang ketiga adalah tentang KESEDERHANAAN. Sejak menonton film dokumenter Minimalism, banyak yang saya konstruksi ulang dalam pikiran saya. Ada hal-hal yang tak lagi mengganggu pikiran saya. Ada barang-barang yang tak lagi “mengikat” saya. Ada pemicu-pemicu stres yang tak lagi saya pedulikan. Hidup itu simpel. Yang bikin ribet itu konstruksi realita yang seringkali kita buat-buat di dalam pikiran kita sendiri.

Yang keempat menyoal KESABARAN. Berjalan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, jauh lebih baik daripada berjalan di tempat. Apalagi enggan bergerak karena merasa beban itu terlalu berat. Tesis yang tak usai-usai itu toh selesai juga. Bisnis yang tak terbang-terbang itu toh lepas landas juga. Buku yang tak tamat-tamat itu toh terbaca juga. Satu langkah maju tetap lebih baik daripada seratus langkah mundur. YA IYALAH NENEK-NENEK CREAMBATH JUGA TAU KELEUS! INI KALIMAT APAAN!

Yang terakhir menyoal INOVASI DAN BERPIKIR KREATIF. Dua hal ini jadi jauh lebih saya perhatikan, terlebih selepas membaca buku Originals karya Adam Grant. Melihat hal yang sama dengan kacamata yang berbeda (vuja de, kebalikan dari deja vu). Senantiasa menantang kestabilan dan cara-cara konvensional. Selalu kritis pada pikiran sendiri pun orang lain. Hal ini membuat saya melihat berbagai aspek kehidupan secara berbeda, ya bisnis, ya relasi, ya struktur sosial, dan lain sebagainya.

Ya, mungkin demikian hal-hal yang saya pelajari. Mungkin ada yang lupa saya tulis, ya tak apa, saya sudah belajar merelakannya. hehe.. Terima kasih 2017! Yuk kita kemon, 2018!

Jadi… Apa yang sudah Anda pelajari di tahun ini?

Jakarta, 30 Desember 2017
Okki Sutanto

Alkisah Mas-mas Elpedepe

chris-liverani-552652
Photo by Chris Liverani on Unsplash

Jadi tadi siang ada mas-mas mampir ke toko. Gak tua-tua banget sih. Kayaknya seumuran. Udah, ga usah komen. Saya mawas diri kok sudah ga muda-muda banget lagi. Iya. Tahu. hehe..

Si mas keliling-keliling dengan muka setengah bingung. Kayak mau nanya tapi segan. Mau mampir tapi pesimis. Akhirnya dia bertanya juga sih. “Bisa install program SPSS untuk Mac?”. Oh, pantes. Di pusat perbelanjaan ini memang cuma satu-dua yang ngerti Mac. Program SPSS? Bah. Se-Jakarta mungkin cuma SuperMac Jakarta yang paham. Iya, ini nyombong. Ga apa lah sesekali. hehe..

Jadilah kita ngobrol-ngobrol. Ternyata si mas ini memang baru sampe Jakarta beberapa hari lalu. Asli dan besar di Makassar. Lulusan PTN Makassar juga. Kerja di Makassar juga. Baru ke Jakarta karena urusan beasiswa LPDP. Si mas ini mau ambil Master jurusan Kesehatan Masyarakat di Glasgow, Scotland, UK. Dapat beasiswa LPDP tahun lalu.. Dapet LoA belum lama ini. Besok baru tanda tangan kontrak sama LPDPnya.

Pas ditanya kenapa bisa nyasar ke tempat saya, katanya kebetulan saja lagi ke tempat teman dekat situ. Wah, beruntung sekali si mas ini. Coba kalau temannya di sekitaran Kemang atau Sudirman. Mungkin nyasarnya gak akan ke tempat saya. Dan SPSSnya juga mungkin gak bakal dapet. Dan mungkin gak akan dapat tips & trik bertahan hidup di Eropa. hehe..

Dari cerita dan antusiasmenya si Mas, saya rasa ia ga sekadar beruntung. Man Jadda WaJada. Siapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Siapa yang berusaha keras, akan ditolong semesta dengan tangan-tangan tak terlihatnya. Semesta melihat kerasnya perjuangan ia mendapat beasiswa dan kampus di luar negeri, akhirnya urusannya dimudahkan. Semesta melihat kesungguhannya mendalami bidang Kesehatan Masyarakat, maka urusannya dilancarkan. Intinya, sukseslah kau mas di segala petualanganmu ke depan!

Semesta memang kerjanya misterius. Ada kalanya kita ditempa sedemikian keras dan dihujani cobaan tanpa akhir, ada kalanya kita dihadiahi penolong tidak terduga. Kapan pun itu, di posisi mana pun itu, percayalah semua itu akan terlewati. This too, shall pass. Ya kesukaran hidup, ya kegembiraan duniawi. Semua ada masa dan waktunya untuk terlewati. Nikmati secukupnya. Risaukan seperlunya. Jangan terlena kekinian berlebihan.

Kalau kata biksu Tong: “Segalanya adalah hampa. Hampa adalah segalanya.” Jadi ya sudah. Anggap saja lemak di perut ini hanyalah kehampaan yang hakiki. Yeee… Ending apaan nih! Bodo ah. hehe..

 

Jakarta, 18 September 2017

Mata, Cerita, dan Wiraswasta.

Jadi beberapa hari lalu baca artikel entah di Quora atau Medium, tentang pentingnya menulis jurnal kebersyukuran (gratitude journal) setiap hari, yang bisa memrogram ulang cara berpikir kita, optimisme & kepercayaan diri, sampe peruntungan dan perilaku kita. Yah mirip-mirip sama The Secretnya si Rhonda Byrne lah sebenarnya. Atau tips-tips berpikir positifnya para motipator handal.

Tapi pas baca artikel itu jadi dapet penjelasan logis (ga ilmiah-ilmiah benget sih ya) yang rasa-rasanya ga ada salahnya juga dicoba, sih.

Iya, tau kok nulis rutin itu susah, apalagi setiap hari. Udah beberapa kali juga nyoba nulis rutin ujung-ujungnya gagal di tengah jalan. haha.. Jadi ga janji bakal nulis kayak gini setiap hari juga, ya. Setiap sempat dan ada mood aja, but i’ll try my best to stick to this habit. Sama kayak habit baru gue ngejawabin pertanyaan di Quora. haha..

Sederhana sih, intinya nulis beberapa hal yang patut disyukuri setiap hari. Nah berhubung gue kayaknya ga bakal bisa nulis tiap hari, gue rangkum pengalaman-pengalaman terakhir aja kali ya. Ya kalau ke depannya bisa rutin tiap hari, ya gue tulis pengalaman per hari. haha.. Ini dia sejumlah hal yang patut gue syukuri belakangan:

I Once Was Blind, But Now I See

Dua mingguan ini mata gue bermasalah. Awalnya merah aja. Terus bengkak. Terus jadi kayak rabun gitu kalau ngelihat. Macam agak berkabut. Udah pakai obat tetes mata, ga mempan. Udah ke dokter mata dan dikasih obat tetes + antibiotik, agak mempan. Akhirnya sih ya sembuh juga seiring waktu. Sembuhnya pun ga langsung gitu, berangsur-angsur banget. Dari hilang bengkaknya, hilang merahnya, sampai hilang matanya. (LAH?!). Gak lah, maksudnya proses terakhir yang agak lama itu hilang kerabun-rabunannya. Jadi semingguan belakangan kalau ngeliat masih agak berkabut gitu, misty bahasa Jawanya. Sekarang udah nyaris 100% senormal dulu, deh. Udah bisa lihat layar dan nulis normal lagi. Sebelumnya tuh lihat layar lamaan dikit udah ga enak banget, baru nonton 1 season TV series udah pegal dan sakit nih mata. Ya iyalah, wong 1 seasonnya sinetron Tersanjung! haha.. Gak, intinya 1-2 jam lihat layar udah ga enak banget. Untung sekarang udah normal lagi. Syukurlah!

Berbagi Pengalaman Ngebolang

Tadi pagi sukses berbagi pengalaman ke para generasi “penerus” beasiswa Frans Seda Foundation tahun ini. Setelah tahun lalu gue ngejalanin 3 bulan studi-slash-riset-slash-jalanjalan-slash-makantidurkayakbabi-slash-belajarhidupmandiri ke Eropa, kali ini giliran gue berbagi pengalaman tersebut ke bocah-bocah yang bakal berangkat ke sana bulan depan. Ada tiga anak manusia, gue udah lupa semua namanya kecuali Reynold yang emang udah sering kontek personal via WhatsApp sebelumnya. Topik riset mereka seru-seru, dari strategi menembus pasar eropa melalui batik ecolabel, preservasi musik tradisional batti-batti dari Selayar, sampai fenomena Teman Ahok ditinjau dari teori political arena-nya Mintzberg.

Gue mah asal ngecap aja pas sesi tanya jawab, gue suruh yang bahas fenomena Teman Ahok itu ngebandingin Teman Ahok sama fenomena partai Green Left di Belanda yang sukses narik minat politik anak muda di Belanda sampe berhasil memenangi sejumlah kursi di parlemen Belanda baru-baru ini. Mati ga lu? Gue aja disuruh riset gitu belom tentu bisa. hahaha.. Maap yah! Suka random aja emang gue ini anaknya.

Yah gitu lah, seru ketemu teman baru, ketemu teman lama, bagi-bagi pengalaman, dapet makan gratis, dapet buku gratis. Disyukuri aja, karena bisa berguna buat orang lain. Semoga apa yang gue bagikan tadi berguna ya kawans! hehe..

Rezeki Gak Kemana

Lapak kecil-kecilan gue di Cempaka Mas ada aja pemasukannya, padahal gue sendiri pesimis. haha. Lha gimana ga pesimis kalau seharian yang naik eskalator ke lantai 6 aja (Pusat Komputernya, dimana lapak gue berada) bisa dihitung pakai jari (jarinya siapa dulu coba? kalau jarinya hewan kaki seribu kan banyak juga! haha..) Tapi ya intinya memang gak rame-rame amat, harus andelin pemasaran dan penjualan online juga, yang kebetulan belakangan lagi gak gue garap. Toh ada saja minggu ini pemasukan, cukup lah buat nutup biaya sewa sama listrik. haha. Dari bapak-bapak yang beli MacBook puluhan juta di Infinite Pondok Indah tapi ga ngerti cara pakainya, lalu minta ditutorin dan akhirnya beli aksesoris, sampe CLBK (Customer Lama Berbisnis Kembali) yang pernah servis sebelumnya dan puas, balik lagi untuk servis gadget lainnya. hehe..

Sudah gitu karyawan gue juga makin pinter. Udah bisa ditinggal dia, kadang gue ga ke toko juga dia bisa tetap handle urusan-urusan servis dan instalasi. Udah gitu makin pinter menilai pelanggan. Dia tau pelanggan mana yang bisa dikasih harga lebih mahal. Yang sebenarnya bisa 150ribu, dia kasih harga 250ribu. Yang bisa 1juta. Dia tagih 1.3juta. Sumpah, gue aja kadang gak setega itu kalau ngasih harga. Tapi dia mah tega-tega aja. Jadi biasa kalau dia mahalin gitu, lebihnya sebagian gue kasih buat dia juga sih. haha.. Tenang, semahal-mahalnya harga di toko gue, jauh lebih murah dibanding lo ke mal kok! Don’t judge me. Or our business. Please! No! hehe..

Ya udah gitu aja dulu deh tulisan gue kali ini tentang kebersyukuran. Sampai jumpa besok nanti! Terima kasih semesta atas segala berkat yang sudi mampir ke kehidupan gue. 🙂

Jakarta, 8 April 2017

Tertipu “Iwan Fals”

Pertama-tama, jika Anda berharap tulisan ini akan menyoal tentang Iwan Fals sang penyanyi tenar yang suaranya serak-serak basah & lagunya enak-enak itu, bersiaplah untuk kecewa. Tidak, tulisan ini tidak bermaksud membahas atau menjelekkan beliau, kok. Sungguh.

Jadi, beberapa waktu lalu seperti biasa saya sedang berburu barang murah di internet. Karena saya jualan produk-produk Apple, maka yang saya cari kalau tidak MacBook ya iPad, atau iPhone dan kawan-kawannya. Nah, kebetulan saat sedang berselancar di internet, saya melihat ada orang yang menjual charger MacBook dengan harga cukup kompetitif. Dibilang murah banget sih gak juga, tapi bisa lah untuk dijual lagi dan profitnya buat ngopi-ngopi di emperan jalan.

Saat itu memang saya menemukan iklannya di situs *LX. Sebenarnya sudah agak malas sih cari barang di *LX, karena sistemnya kurang memfasilitasi pembeli melihat riwayat berjualan penjualnya. Kalau di Tok*pedia setiap transaksi akan berujung rating & feedback, dan di K*skus setiap lapak yang pernah dibuat akan tetap ada, maka lain halnya dengan *LX. Di sana, jika barang yang dijual sudah laku, maka iklan akan terhapus sama sekali dari akun sang penjual. Jadi untuk membedakan mana penjual yang beneran baru sekali jualan sama penipu yang ratusan kali beraksi, agak susah.

Singkat cerita, saya setuju untuk bertransaksi dengan penjual tersebut. Selain karena harganya yang gak seberapa, saya juga yakin karena penjual tersebut akun Whatsappnya aktif. Biasanya, penipu online gak akan repot-repot aktifin Whatsapp karena kartu SIM & nomornya tiap hari akan dibuang dan diganti. Ya sudah, saya transfer lah ke rekening pedagang. Barang pun dijanjikan dikirim sore harinya sepulang ia dari kantor.

Sampai sore, tak kunjung diberikan nomor resi pengiriman, saya menanyakan ke si penjual. Nah, ternyata baik SMS maupun Whatsapp saya tidak ada yang masuk. Saya telpon pun tidak aktif. Feeling mulai tidak enak, saya pun berinisiatif mencari nama orang tersebut dari nama di nomor rekening yang saya transfer sebelumnya. Inilah nama orang tersebut: Virgiawan Listanto.

Ketika saya mengetikkan nama tersebut di pencarian internet, semua berujung pada Iwan Fals sang penyanyi tenar! Ternyata oh ternyata, Virgiawan Listanto adalah nama asli Iwan Fals! Untuk beberapa detik saya masih berpikir positif bahwa saya sungguhan sedang bertransaksi dengan Iwan Fals, dan mungkin bung Iwan lagi sibuk manggung jadi belum sempat kirim charger MacBooknya. Namun sejurus kemudian saya tersadar dari lamunan dan kembali menjejak realita, untuk menyadari bahwa saya sudah menjadi korban penipuan.

Cuma ya saya masih penasaran aja sih, gimana ya proses kreatif sang penipu itu sampe mikir untuk memanfaatkan namanya yang kebetulan sama dengan orang terkenal, untuk hal yang gak terlalu membanggakan? Apa jangan-jangan bapaknya ngefans sama Iwan Fals, makanya dia dikasih nama asli Iwan Fals? Saking ngefansnya, bapaknya muterin lagu Iwan Fals terus di rumah sampai-sampai anaknya bosen & muak, lalu mengembangkan emosi negatif ke Iwan Fals, dan akhirnya menjadi penipu semata untuk menjelekkan nama Iwan Fals? Apa iya sebenarnya ini semua cuma karena daddy issues? Apa iya ini karena tipe attachment sang anak & bapaknya yang relatif distant? Owalaaah, sok banget saya ini mentang-mentang pernah icip-icip belajar Psikologi ya. Gak lah, rasanya gak serumit itu.

Akhir cerita, saya sih pasrahkan saja uang yang tidak seberapa tersebut. Meski tidak rela sih bagaimanapun, tertipu sesedikit apapun, karena nyari uang itu kan gak gampang-gampang banget ya. Tapi ya sudah lah, toh Tuhan pasti tidak menutup mata dan akan membukakan pintu rezeki lain di kemudian hari. Kalau urusan itu sih saya yakin, dan sejauh ini gak pernah tertipu, meski Tuhan tidak pakai Whatsapp. Setuju?

 

Jakarta, 18 Januari 2016

Dua Ribu Empat Belas: Bagian Pertama

Tak terasa, kita sudah sampai di penghujung tahun. Kurang dari seminggu, dua ribu empat belas akan berakhir. Kita masuk ke tahun 2015. Tiga tahun melebihi kalender suku Inca. Tahun Kambing Kayu kata mereka di negeri Tiongkok.

Bagamana tahun 2014 Anda? Tentunya selain yang diperlihatkan oleh mesin generator Facebook dan memenuhi lini masa belakangan ini. Bagi saya sendiri, tahun 2014 adalah tahun penuh perubahan, pilihan, dan ketidakpastian. Ya, ketidakpastian. Sama seperti judul tulisan saya ini. Meski saya bilang tulisan ini adalah bagian pertama, jangan terlalu berharap akan ada bagian kedua dan setelahnya, ya. Anggaplah tulisan ini sebagai tulisan independen yang berdiri utuh tanpa harus dikaitkan maknanya dengan entitas lain sesudahnya. Bergantung. Tak, tak harus demikian. Toh sebagaimana hal-hal lain dalam hidup, bagian pertama bisa tetap dinikmati dalam keberdiriannya sendiri. Kue misalnya, kita selalu menantikan potongan atau bagian kue pertama, apalagi di pesta ulang tahun ketujuh belas. Toh kita tak menanti-nantikan seperti apa dan bagaimana bagian kedua, ketiga, dan setelahnya, kan? Ah, yasudahlah. Kenapa jadi panjang sekali membahas judul.

Kalau harus memilih satu kata yang menggambarkan tahun 2014 ini, mungkin saya dengan sangat terpaksa harus memilih kata dalam bahasa Inggris. Saya belum berhasil menemukan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, entah mengapa. Dan kata itu adalah: rebound. Kata yang sering kita dengar di permainan bola basket tapi mungkin definisi sebenarnya kita kurang pahami. Begini kurang lebih maknanya:

1.to bound or spring back from force of impact.
2.to recover, as from ill health or discouragement.

Ya, intinya demikian. Suatu keadaan dimana suatu benda memantul kembali setelah menyentuh suatu titik dasar karena kekuatan daya, juga suatu keadaan dimana seseorang menjadi lebih baik dari penyakit atau kekecewaan. Hal yang menarik dari kedua definisi akan rebound ini adalah adanya kekuatan atau kejadian yang mendorong kita menuju suatu keadaan “terpuruk”. Kabar baiknya justru keterpurukan itu sendiri yang menjadi syarat akan keadaan berikutnya: bangkit, menjadi lebih baik. Sama seperti bangsa Saiya yang akan menjadi lebih kuat ketika sudah sedemikian nyaris dengan kematian, pun begitulah mereka yang mengalami rebound.

Bagi saya sendiri, kekuatan yang menarik ke dasar itu demikian besar dan hebatnya, merasuk dan menusuk ke seluruh aspek dimensi fisik, sosial, psikologis sekaligus. Bagai semesta yang berkata, ia datang tak terbantah tanpa terbata. Tak terelakkan dan membelokkan sejumlah rencana yang ada. Ia mengikat, juga melekat, lantas membuat malam semakin pekat. Ya, demikian hebatnyalah kekuatan itu. Membawa ke dasar, dimana kadang cahaya tak lagi terlihat, setitik pun. Membuat saya kehilangan mungkin hampir segalanya, atau bisa jadi malah lebih.

Tapi di dasar itu pulalah kita menjadi gusar. Pada segalanya kita bertanya. Kita bercermin sebelum mengucap amin. Kita berintrospeksi dan berefleksi tanpa saksi. Memandangi lagi setiap jengkal kehidupan kita hingga saat ini. Dari mana, mau kemana, untuk apa, bagaimana. Semua tanya itu keluar perlahan tanpa tertahan. Mencoba mencari jawaban atas semua beban. Sudahkah saya menemukan semua jawabnya dalam proses rebound? Sebagian sudah. Sebagian akan. Sebagian mungkin tidak akan, tapi setidaknya saya sudah berhasil bertanya, selangkah lebih maju, bukan?

Di tengah kegusaran dan pusaran ketidakpastian, saya perlahan menyusun dan menciptakan kepingan demi kepingan diri. Saya kuliah lagi, dan saya fokus di satu bisnis: berjualan. Menyenangkan, bertemu dengan orang-orang baru di kuliah magister. Meski kelasnya tidak sebesar kuliah S1 dulu, namun para pesertanya sungguh luar biasa variatif, baik dari usia, budaya, maupun pekerjaan. Saya pun berkenalan dengan teori dan tokoh-tokoh baru. Dari Hofstede ke Moscovici, dari Anarkisme Metodologis sampai Konstruksi Sosial. Dari Habermas ke Alexander Thomas. Dari culture standard ke Analisa Wacana. Dan di tengah tumpukan tugas dan diskusi teoritis, untuk pertama kali sepanjang kehidupan akademis saya bisa meraih IP 3,80! Sesuatu yang bahkan tak pernah saya capai saat S1. Sungguh suatu kebanggaan tersendiri.

Selain kuliah, dan mengambil sejumlah proyek penelitian, saya juga berjualan untuk menyambung hidup. Sesuatu yang dulu saya anggap tidak menyenangkan, ternyata menarik juga. Berkenalan dengan produk-produk yang harus saya jual. Mencari barang berkualitas dengan harga murah sampai ke ujung pelosok, mulai dari pedagang hingga barang lelang. Belajar mengiklankan barang, menjaring calon pembeli, bernegosiasi hingga ke closing transaksi. Cukup seru ternyata, sejumlah pembeli pun tetap berkontak dan sebagian menjadi teman. Ada komposer musik tuna netra yang membeli Macbook Pro 15″ Core i5 di Indomaret Danau Sunter. Ada bos developer aplikasi iOS yang membeli Macbook Air Core i5 di Roppan Living World. Ada pengusaha muda pemilik pabrik sol sandal dan sepatu dari Yogyakarta. yang membeli Macbook Pro 13″ Core i7. Ada mahasiswi sastra Perancis UI yang membeli iPod Touch 5th di Sevel Rawamangun. Ada pendeta muda yang membeli iPad Mini di KFC Kelapa Gading. Ada HRD di salah satu anak usaha Triputra yang memborong speaker, Xiaomi, iPod Touch, dan Modem Bolt. Ada konsultan di Saratoga Investment yang membeli Xiaomi Mi4 di Starbucks Kemang Village. Dan masih banyak lagi! Menyenangkan ternyata, menjelaskan produk, memberikan saran dan rekomendasi, melakukan negosiasi harga, dan berkenalan dengan orang-orang baru yang tak terduga.

Di tahun ini pula saya benar-benar menemukan diri saya menjelajahi tempat-tempat baru yang seru. Berjudi di Genting. Tidur di bangku taman Marina Bay Sands menatap keindahan kota Singapura sepanjang malam hingga subuh. Menyetir di pagi buta dari Danau Toba menuju Kualanamu. Bercengkrama dengan para guru luar biasa di depan tempat karaoke hingga tengah malam di Pangkalan Susu, Medan. Menyeberang Merak menuju Bakauheni untuk pertamakali dan berkeliling Lampung. Dari pantai Wartawan hingga pulau Tangkil. Tak selalu harus jauh, mengeksplorasi perpustakaan dan taman di Ibu Kota pun menjadi pengalaman yang tidak kalah seru bagi saya di tahun ini. Dari Taman Suropati hingga Perpustakaan Daerah di Nyi Ageng Serang. Dari Taman Kodok hingga Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Senayan. Dari Taman Proklamasi hingga Perpustakaan Freedom Institute (well, ini tinggal nyeberang, sih.)

Demikianlah tahun 2014 saya ini. Bukan tahun yang sungguh-sungguh menyenangkan, memang. Kekecewaan dan kegagalan datang bergantian. Tapi akan selalu ada hal indah di balik itu semua, bukan? Misalnya saja kehadiran sesosok EPS dalam hidup. Juga studi dan bisnis yang kian menenteramkan. Pun keluarga yang senantiasa ada.

Apa pun, sajak Dylan Thomas yang terpopulerkan film Interstellar menjadi amat pas bagi saya di tahun ini:

Do not go gentle into that good night,
Old age should burn and rave at close of day;
Rage, rage against the dying of the light.

Though wise men at their end know dark is right,
Because their words had forked no lightning they
Do not go gentle into that good night.

 

Ya, do not go gentle into that good night yang kelam nan pekat! Marahlah, murkalah, lawanlah kegelapan dan nikmatilah. Ya, nikmatilah!

 

Jakarta, 26 Desember 2014

Okki Sutanto

In My Vein

You’re in my vein, and i can not get you out. You’re all I taste, at night inside my mouth.

You run away, cause I’m not what you find. You’re in my vain, and I can not get you out.

Nothing goes as planned // everything will break
People say goodbye // in their own special way

All that you rely on // all that you can fake
Will leave you in the morning // will find you in the day

You’re in my vein, and i can not get you out
You’re all I taste, at night inside my mouth
You run away, cause I’m not what you find.
You’re in my vain, and I can not get you out

– You’re in My Vein by Andrew Belle

Yeah, this song has been my life soundtrack for the last couple of days.
We can’t always have what we want, right? Sure.
But as we all know, as we’ve all been there, to let go isn’t that easy.
It isn’t, it never was, and it never will be.

Yeah, it ends a couple days ago. This time for real.
Just days after I turned a quarter century, yet I make another failure.
The first, on my new age, and for sure I know it would be my last.
Cause I’m done wishing. making effort. or anything.

She’s the greatest gift all my life, she’s making me happiest at almost every time I’d never thought I’d be.
She’s the one making me feel appreciated for what I really am, and I’m ready to build something with in the long run.
But I guess she’s just too good for me, and of all people in this world, I don’t deserve her,
or any good things ever to come in life.

To think it through, deep inside I saw it coming.
I’ve been giving more than I’ve ever be in all my previous relationships.
I’ve been doing all things I thought I’ll never could, just to make this work.
I guess you would too, when you believe what you have is so magical.
You’ll do anything and everything necessary, to make it happen.
Guess everything’s not yet enough.
And looking back, you know she’s been wanting to get out from this so-called relationship so many times.
And yet, my selfishness and stubbornness blinded me to see it that way.

No more singing in the open air on the speeding auto bike.
No more waiting for the sky to fall.
No more strolling in the park and astonished ourselves with the graceful Iriana.
No more dancing or gambling in the middle of the night.
No more sauna-ing ourselves in the middle of the day.
No more looking for duck rice in every corner of Jakarta at night.
No more walking down the beach and get ourselves stared by the waves.
No more smiling at each other sentences and wail for a moment.
No more routine emailing when we’re a thousand miles apart.
No more. Just no more.

and here I am. all alone, all over again.
I guess it’s what I deserve.
and it’s better this way, I guess.

From this moment on, I’ll only live to fulfil my responsibilities to people.
Once it’s all done, I’m done.
I’ll get the nearest exit possible.

Thanks, for all the memories, EPS.

I love you, as always. Have a great life!

Jakarta, October 27th
Okki Sutanto