Dua Puluh Sembilan

 

brian-patrick-tagalog-700814-unsplash
Photo by Brian Patrick Tagalog on Unsplash

Beberapa hari lalu saya memulai tahun terakhir usia dua puluhan. Ya, dua puluh sembilan tahun sudah saya numpang bernapas di muka bumi. Melihat segala yang indah dan buruk. Tak lupa mengecap segala yang manis, asam, pun pahit. Ya begitulah hidup, bukan? Kalau melulu manis, ya gak seru. Sesekali haruslah mengecap yang pahit, biar bisa lebih menghargai yang manis.

Tiga ratus enam puluh hari lagi, saya akan memasuki usia tiga puluhan. Ga tahu sih, apa bedanya usia dua puluhan dan tiga puluhan. Apa mendadak jadi lebih bijak dalam menjalani hidup? Ya kan gak juga. Apa mendadak jadi botak dan ubanan? Ya semoga tidak.

Rasa-rasanya sih, tiga puluh bukan suatu “jenjang” baru yang berubah drastis banget yak. Ga kayak empat puluh, setidaknya. Kan katanya life begins at forty. Majalah Fortunes juga seringnya bikin “40 Under 40” untuk orang-orang berprestasi di bawah usia 40. Jadi, apa ada beda signifikan bagi kita saat beranjak dari 20-an tahun ke 30-an tahun? Ya tidak tahu juga.

Yang pasti, sudah tidak muda-muda banget lagi. Muda, masih. Cuma ya ga muda-muda amat. Kalau dengar ada orang bilang usianya “dua puluhan”, kan mungkin yang terbayang itu gambaran anak kuliahan, atau orang yang baru lulus dan mulai cari kerja. Kalau “tiga puluhan” kan pasti gambarannya udah beda. Bukan lagi dedek-dedek gemes yang masih bingung hidupnya mau dibawa kemana. Masih mencari jati diri. Masih haha-hihi terombang-ambing ketidakpastian hidup.

Ya harusnya sih lebih dewasa. Whatever the hell that means. haha.

Lebih dewasa, artinya tugas perkembangannya juga berbeda kalau kata Erikson. Ini Erikson psikolog perkembangan ya, bukan Sven-Goran Eriksson eks pelatih timnas Inggris.

Umumnya sih, “tiga puluhan” ya sudah bukan waktunya lagi mikirin kuliahan, nongkrong dimana, dan milih karir apa. Biasanya sih, “tiga puluhan” identik dengan hal-hal yang lebih dewasa. Ya mikirin pasangan hidup, anak (kalau yang sudah menikah), dan segala macam cicilan.

Eh tapi menikah, berkeluarga, dan pencapaian materialistik itu cuma konstruksi sosial semata yang dibentuk dan diharapkan masyarakat. Sejatinya ya setiap orang punya pilihan bebasnya. Mau nikah boleh. Enggak juga bebas. Mau punya anak silakan (asal jangan kebanyakan, nanti dimarahin Thanos). Enggak ya monggo. Mau jadi crazy rich asian boleh. Mau jadi crazy asian doang juga silakan.

Intinya, saya ingin menjalani tahun terakhir sebelum memasuki 30 ini sebaik-baiknya. Mempersiapkan diri sesanggup-sanggupnya menyongsong tugas-tugas kehidupan berikutnya yang mungkin lebih berat. Ya iya sih harusnya begitu, kalau ga makin berat artinya jalan di tempat dong. Masa badan doang yang makin berat, tantangan hidup juga dong!

Juga tak lupa saya berterima kasih dan bersyukur, atas segala yang sudah saya alami sepanjang dua puluh sembilan tahun ini. Ya keluarga dan teman. Ya orang-orang yang melalui persinggungan dengan mereka mendewasakan saya. Ya orang-orang luar biasa hebat yang membuat saya terinspirasi. Juga orang-orang luar biasa brengsek yang membuat saya bersyukur bahwa saya tidak demikian. Untuk segala nikmat yang tak mungkin terdustai. Untuk segala bencana yang mendewasakan. Untuk memori-memori menghangatkan yang sulit membuat lupa. Juga memori-memori menyesakkan yang pernah membuat luka.

Terima kasih, ya Tuhan dan semesta.

Semoga ke depannya saya bisa makin berguna, bagi keluarga, lingkungan, bangsa dan negara. Makin dipercayakan perkara-perkara yang lebih besar. Makin diberi kesempatan untuk berkarya sekecil apa pun.

Itu saja. Kali ini.

 

Jakarta, 25 Oktober 2018
Okki Sutanto

Ilusi Resolusi

Selamat tahun baru 2018!

rakicevic-nenad-490348
Photo by Rakicevic Nenad on Unsplash

Sudah punya resolusi tahun baru? Bagus! Semoga tercapai. Saya sih ga muluk-muluk, belajar dari pengalaman kan resolusi tahun baru itu biasanya bertahan ga lebih dari seminggu. Jadi saya ga mau terjebak dalam ilusi semu bernama resolusi. Dalam euforia sesaat yang seringnya berjalan di tempat.

Gak kok, punya resolusi itu gak salah. Malah bagus kan, jadi lebih optimis dan penuh target di tahun yang baru. Dari yang mau menurunkan berat badan sampai target jumlah buku yang dibaca. Dari yang mau nikah sampai beresin tesis tanpa meringis. Siapa pun itu, dimana pun itu, saya doakan Anda berhasil!

Saya pribadi ga punya resolusi khusus, intinya mau setiap hari itu jadi lebih baik dari hari sebelumnya. Mau lebih bijak memanfaatkan waktu dan tenaga. Mau lebih bisa membahagiakan orangtua. Mau menjadi pribadi yang lebih dewasa dengan mengurangi kesinisan dan kenyinyiran. Mau punya tubuh lebih sehat sehingga bisa makan yang haram-haram sampai tua nanti! haha..

Buat yang masih menyusun resolusi, usahakan membuat resolusinya menggunakan metode SMART ya. Biar ga cuma anget-anget tai ayam tuh resolusi. haha.. Buat yang belum tahu, SMART itu singkatan: Specific, Measurable, Achievable, Realistic, dan Timely.

Sespesifik mungkin apa targetnya, jangan kayak saya di atas. Terukur, harus ada indikator keberhasilannya. Bisa dicapai, sesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki. Realistis, dengan turut mempertimbangkan faktor-faktor di luar diri seperti waktu, prioritas, sumber daya, lingkungan, dan lainnya. Terakhir, punya jangka waktu yang jelas, bulan 1 mencapai apa, bulan 3 mencapai mana, dan seterusnya.

Metode di atas sih harusnya membantu ya, biar resolusi tahun baru teman-teman tidak terlalu mengawang dan seabstrak lukisannya Pollock. Saya pribadi sih ga menyusunnya se-SMART itu, karena saya ga punya resolusi tahun baru. Target saya cuma resolusi hari baru. Yang tiap hari saya susun ulang, refleksikan ulang, dan usahakan sebaik-baiknya.

SEMANGAT! Mari jalani tahun ini dengan bahagia, damai, dan bijak.

Batam, 2 Januari 2018
Okki Sutanto

Catatan Akhir Tahun

michal-grosicki-366023
Photo by Michał Grosicki on Unsplash

 

Banyak manusia merindukan sesuatu yang konstan. Mencari pelarian dari begitu banyak hal yang senantiasa datang hanya untuk pergi kembali. Seperti debur ombak, yang kerap datang menyetubuhi bibir pantai, hanya untuk sejenak kemudian kembali pergi ke laut lepas. Seperti matahari, yang setiap pagi memberi salam, hanya untuk tenggelam kala tiba sang malam.

Sayangnya, sedikit sekali hal yang konstan dan abadi. Yang konstan itu hanya perubahan, kata orang bijak. Pun waktu, yang berlalu demikian cepat. Detik demi detik. Hari demi hari. Dan dalam hitungan hari, tahun ini pun akan segera berganti.

Buat saya, salah satu yang konstan itu adalah pembelajaran. Tiap momen, tiap kesempatan, tiap tahun, senantiasa ada hal baru yang dipelajari. Maka izinkan saya mencatat dan merefleksikan kembali sejumlah pelajaran yang saya dapat di tahun 2017 ini.

AH ELAH INTRONYA PANJANG BANGET BELOM SAMPE MANA MANA NYET! INI CATATAN APA PIDATO KEPALA SEKOLAH PAS TUJUH BELASAN! hahahaha.. Maap keleus. Saya bukan Fahri yang mahasempurna dengan segala kelaki-lakiannya.

Yang pertama adalah betapa tidak pentingnya PENGKULTUSAN dan pengidolaan terhadap seseorang. Seseorang itu, sebaik apapun terlihatnya, punya “harga” dan “keterbatasan”. Tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang bebas cela. Semua bisa mengecewakan. Semua bisa menjilat ludah sendiri. Saya sih ga mau kasih contoh. Tapi kurang lebih macam Aung San Su Kyii. Anies. Pun Trudeau dan Macron. LAH APANYA YANG GA MAO KASIH CONTOH SIH, INKONSISTEN LU KI!

Yang kedua adalah pentingnya MERELAKAN. Merelakan tanpa menghela nafas itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi yang sudah terjadi ya memang harus terjadi. Rezeki-rezeki yang hilang karena tangan-tangan jahil. Pintu-pintu yang tertutup karena ketidaksengajaan. Jembatan-jembatan yang terbakar karena api masa lalu. Banyak deh, pokoknya. Yang paling nyesek itu ya saat saya harus merelakan Raisa kepada Hamish. GA LAH BERCANDA, RAISA ITU BIASA AJA GA CAKEP-CAKEP AMAT! **bersiap disambit lelaki se-Indonesia**

Yang ketiga adalah tentang KESEDERHANAAN. Sejak menonton film dokumenter Minimalism, banyak yang saya konstruksi ulang dalam pikiran saya. Ada hal-hal yang tak lagi mengganggu pikiran saya. Ada barang-barang yang tak lagi “mengikat” saya. Ada pemicu-pemicu stres yang tak lagi saya pedulikan. Hidup itu simpel. Yang bikin ribet itu konstruksi realita yang seringkali kita buat-buat di dalam pikiran kita sendiri.

Yang keempat menyoal KESABARAN. Berjalan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, jauh lebih baik daripada berjalan di tempat. Apalagi enggan bergerak karena merasa beban itu terlalu berat. Tesis yang tak usai-usai itu toh selesai juga. Bisnis yang tak terbang-terbang itu toh lepas landas juga. Buku yang tak tamat-tamat itu toh terbaca juga. Satu langkah maju tetap lebih baik daripada seratus langkah mundur. YA IYALAH NENEK-NENEK CREAMBATH JUGA TAU KELEUS! INI KALIMAT APAAN!

Yang terakhir menyoal INOVASI DAN BERPIKIR KREATIF. Dua hal ini jadi jauh lebih saya perhatikan, terlebih selepas membaca buku Originals karya Adam Grant. Melihat hal yang sama dengan kacamata yang berbeda (vuja de, kebalikan dari deja vu). Senantiasa menantang kestabilan dan cara-cara konvensional. Selalu kritis pada pikiran sendiri pun orang lain. Hal ini membuat saya melihat berbagai aspek kehidupan secara berbeda, ya bisnis, ya relasi, ya struktur sosial, dan lain sebagainya.

Ya, mungkin demikian hal-hal yang saya pelajari. Mungkin ada yang lupa saya tulis, ya tak apa, saya sudah belajar merelakannya. hehe.. Terima kasih 2017! Yuk kita kemon, 2018!

Jadi… Apa yang sudah Anda pelajari di tahun ini?

Jakarta, 30 Desember 2017
Okki Sutanto