In My Vein

You’re in my vein, and i can not get you out. You’re all I taste, at night inside my mouth.

You run away, cause I’m not what you find. You’re in my vain, and I can not get you out.

Nothing goes as planned // everything will break
People say goodbye // in their own special way

All that you rely on // all that you can fake
Will leave you in the morning // will find you in the day

You’re in my vein, and i can not get you out
You’re all I taste, at night inside my mouth
You run away, cause I’m not what you find.
You’re in my vain, and I can not get you out

– You’re in My Vein by Andrew Belle

Yeah, this song has been my life soundtrack for the last couple of days.
We can’t always have what we want, right? Sure.
But as we all know, as we’ve all been there, to let go isn’t that easy.
It isn’t, it never was, and it never will be.

Yeah, it ends a couple days ago. This time for real.
Just days after I turned a quarter century, yet I make another failure.
The first, on my new age, and for sure I know it would be my last.
Cause I’m done wishing. making effort. or anything.

She’s the greatest gift all my life, she’s making me happiest at almost every time I’d never thought I’d be.
She’s the one making me feel appreciated for what I really am, and I’m ready to build something with in the long run.
But I guess she’s just too good for me, and of all people in this world, I don’t deserve her,
or any good things ever to come in life.

To think it through, deep inside I saw it coming.
I’ve been giving more than I’ve ever be in all my previous relationships.
I’ve been doing all things I thought I’ll never could, just to make this work.
I guess you would too, when you believe what you have is so magical.
You’ll do anything and everything necessary, to make it happen.
Guess everything’s not yet enough.
And looking back, you know she’s been wanting to get out from this so-called relationship so many times.
And yet, my selfishness and stubbornness blinded me to see it that way.

No more singing in the open air on the speeding auto bike.
No more waiting for the sky to fall.
No more strolling in the park and astonished ourselves with the graceful Iriana.
No more dancing or gambling in the middle of the night.
No more sauna-ing ourselves in the middle of the day.
No more looking for duck rice in every corner of Jakarta at night.
No more walking down the beach and get ourselves stared by the waves.
No more smiling at each other sentences and wail for a moment.
No more routine emailing when we’re a thousand miles apart.
No more. Just no more.

and here I am. all alone, all over again.
I guess it’s what I deserve.
and it’s better this way, I guess.

From this moment on, I’ll only live to fulfil my responsibilities to people.
Once it’s all done, I’m done.
I’ll get the nearest exit possible.

Thanks, for all the memories, EPS.

I love you, as always. Have a great life!

Jakarta, October 27th
Okki Sutanto

Jakarta Malam

Suatu sore beberapa waktu lalu, saya ke kampus naik ojek. Saya lupa kenapa. Entah motor sedang rusak atau dipinjam, atau karena pergelangan tangan sedang sakit jadi tidak mungkin naik motor. Mobil? Jelas bukan pilihan bijak di saat kuliah dimulai saat jam three-in-one, di Sudirman pula.

Rencananya sih pulang kuliah mau menebeng teman kuliah yang kebetulan rumahnya di Sunter juga. Apa daya nasib tidak mempertemukan kami, teman saya malah tidak masuk kuliah. Mau pulang naik busway? Tidak bawa kartu Flazz. Mau naik taksi? Mahal. Ojek lagi? sama saja. Kalau tidak salah, memang uang di dompet tinggal sebelas ribu dan di ATM sekitar lima puluh enam perak, hari itu. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah dengan… berjalan kaki!

Jalan jam sepuluh malam dari kampus, sekitar jam dua pagi saya tiba di rumah. Capek? Sangat. Apalagi cukup banyak bawaan di tas termasuk laptop dan beberapa buku kuliah. Berkeringat? Wah, tentunya. Sekujur tubuh basah oleh keringat, dan kaki pegal luar biasa.

Namun saya amat menikmati malam itu. Menyusuri Sudirman di jam segitu amat berbeda dengan pagi dan sore hari. Melihat para pekerja bangunan beristirahat dan meminum kopi di trotoar, melihat para petugas kebersihan meyisir jalanan yang lowong, melihat para tukang minuman instan menyusuri jalan dengan sepeda dan dagangan mereka, melihat bundaran HI dipenuhi pasangan yang pacaran dan anak muda yang sibuk berfoto, oh nikmat juga.

Monas juga masih hidup di tengah malam. Angkringan bertebaran dan para anak muda nongkrong di sana, meski tentunya tidak sesedap angkringan jogja. Dari seberang istana sampai dekat Gambir, masih banyak yang duduk-duduk di bangku taman atau di emperan trotoar.

Lalu Istiqlal dan Kathedral. Oh, betapa cantiknya mereka di malam hari. Sunyi tanpa bising kendaraan bermotor. Dan kita bisa menikmati indahnya arsitektur mereka tanpa terdistraksi. Sayang di pinggiran Istiqlal luar biasa gelapnya, beberapa lampu penerangan tentu bisa membantu di sana.

Tak terasa saya sampai di Pasar Baru. Deretan bajaj dan para sopir terlelap di dalamnya. Pun sejumlah taksi dan ojek. Mereka begitu menyatu dengan kendaraan masing-masing, seakan itu adalah rumah mereka dan disanalah mereka bisa beristirahat dengan nyaman.

Kemayoran, ya begitulah. Di dekat Rumah Susun itu kehidupan muda-mudi dan motor-motor kesayangan mereka tak pernah mati. Berkumpul, bercecanda, dan menikmati jajanan malam yang masih buka, seakan akhir pekan. Atau mungkin bagi mereka setiap hari adalah akhir pekan? Entahlah.

Tak terasa saya sampai rumah. Senyap, semua orang sudah tidur. Saya pun langsung meneparkan diri di lantai. Ternyata Sudirman – Sunter tidak sejauh itu. Cuma butuh waktu sekitar tiga jam. Lama memang, namun saya tidak menyesal. Ada keindahan dan kenikmatan yang saya rasakan dan alami. Semoga lain kali bisa mengulang pengalaman tersebut, tentunya dengan rute yang berbeda, dan bawaan yang lebih sedikit.

Jakarta, 25 Oktober 2014.

Okki Sutanto.

Dua Puluh Lima

Dua puluh lima tahun rasanya bukan waktu yang sedikit. Seperempat abad. Dua setengah dekade. Tiga windu lebih sedikit. Sudah enam kali piala dunia berlangsung. Sudah lima presiden berganti. Harry Potter sudah tamat. Doraemon sebentar lagi. Dragon ball mungkin sudah tamat……beberapa episode. Dan untungnya Conan belum besar-besar juga! #apaan

Kadang di usia begini ini yang paling bingung itu harus melihat kemana. Melihat sekeliling, kok rasanya dunia berputar sedemikian cepatnya ya. Ujung-ujungnya minder. Si A sudah menikah. Si B sudah tunangan. Si C sudah lahiran anak kesekian. Si D sudah jadi manager di sana. Si E sudah punya toko di situ. Raffi Ahmad sudah nikah ditayangin di televisi dua hari non-stop. Jokowi sudah dilantik jadi presiden. Lha saya masih di sini-sini saja. (?)

Melihat ke belakang, nanti dikira tidak bisa move on. Lagi-lagi urusan itu. Lagi-lagi kegagalan itu. Lagi-lagi tertipu. Lagi-lagi usaha hancur lebur. Lagi-lagi seakan kembali ke kilometer nol setelah lari ngos-ngosan mengusahakan segala daya upaya. Sampe kapan sampe hah?

Melihat ke depan, kok rasanya sudah capek mencoba menerawang-menerawang. Trauma, mungkin. Padahal kata Dahlan Iskan kalau jadi pengusaha belum ditipu itu gak akan sukses. Berarti saya sudah satu langkah lebih dekat menjadi pengusaha sukses ya. Tapi ya tetap saja jadi takut dan ragu. Apalagi kalau konsekuensinya sebesar yang sudah-sudah. Ngeri luar biasa. Usia segini kewajiban finansial mencekik leher macam bapak dua anak yang lagi nyicil rumah, mobil, dan biaya nikah istri kelima. Singkatnya sih I took risk and risk took me, all of me. Siapa juga yang gak trauma. Siapa juga yang gak depresi.

Melihat ke atas nanti dikira terburu-buru. Belum saatnya menghadap kok sudah melihat-lihat saja. Nanti yang seharusnya belum waktunya malah dibikin sudah waktunya. Kan jadi bahaya. Sama-sama gak enak. Nah, begitulah kira-kira bingungnya menjejak usia baru ini.

Yah, bagaimanapun yakin saja deh, Yang Di Atas merencanakan yang terbaik. Dan bersyukur saja, sudah bisa berada di mana sekarang berdiri. Sudah mereguk apa yang mungkin orang-orang lain seumur hidup tak akan berkesempatan pelajari. Sudah bisa mengecap bangku pascasarjana di saat banyak orang belum sanggup mengusaikan kesarjanaannya. Sudah bisa ini itu.

After all, in the end we’d be more regretful about chances we didn’t take, than stupid things we did in life.

Manusia paling bahagia juga bukan mereka yang memiliki semuanya di dunia ini, kan. Biasanya yang bahagia justru yang bisa merasa tercukupi akan apa yang dimiliki. Tercukupi dalam keterbatasan, menurut Filipi 4:11.

Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.  Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Maka ya saya bersyukur. Atas segala yang telah tercapai. Atas kehadiran keluarga yang selalu melengkapi. Atas kehadiran EPS yang kian menyempurnakan. Akan kehadiran segala masalah dan tantangan yang mendewasakan dengan cara yang tidak selalu nyaman dan bersahabat. Terima kasih Tuhan, atas dua puluh lima.

Jakarta, 21 Oktober 2014

Okki Sutanto.

The Fault in Our Stars

Previously published on my Facebook Notes 

 

You asked me what the movie is all about.

And I’m puzzled. And I think deeply. Then I know, how to answer the question of yours, shortly and crystal clear.

 

Us.

That’s my friend, what the movie is all about.

 

The movie depicts a story of one cocky son-of-a-bitch imperfect man, on chasing the smart, independent, adorable, and beautiful girl. I repeat, a man, and a girl.

The man believes he’s special, and he intends to do great things in life, and oblivion is one thing he fear the most. He loves the staring contest, and acts solely on his instinct. The world he lives in has no boundaries, in which creativity and persistence comes in handy at all times. His name’s Augustus Waters, by the way. Just in case you’re imagining me, instead of him, reading it line by line.

The girl lives with unoptimistic views on life, due to her past and her own issues. She has the best smile ever, in which comes at all times especially when she checks on her phone. Obedience isn’t one thing she’s very good at. Her mom means the world and she always obey her. Her name’s Hazel Grace Lancaster, by the way. Just in case you thought I was writing all about you.

On their first meeting, he knew she’s special and unique and all. And so does she. All the witty and absurd conversation leads to him driving her home, on the end of their first meeting. Kinda like us, don’t you think? Then they go on several dates to several places, not-so-mainstream places. Again, kinda like us, right?

Long story short, they’re both falling in love. But her issues made her build a wall between them. She knows nothing good but pain comes from it. But she believes pain demands to be felt. And there she goes.

Luckily, (or unluckily), he’s a survivor, and to surrender has never been an option, for him. He continues what he has started, loving her. And all that stuffs he did, all the impulsiveness and randomness, wreck her walls. They’re both in love. Again. They fell in love like falling asleep… slow at first, then all at once.

I don’t want to continue the rest of the story, for it would ruins places I want to go with you, moments I want to share with you, and all. Let’s write our own story! Should we?

Ah, in case you’re wondering about the ending, the man died, first. Yeah, again, it’s about us.

That’s, my friend, what the story is all about. And I hope you don’t watch the movie. Not because I think you’ll find it dull, but because I don’t want you to know the reason for something I will do, soon enough from now. Let it be a mistery, like you are to me.

There might be fault, in our stars. But not in you. Not in us. And thanks, for giving me forever, with a numbered days.

Tough pain and hurt is inevitable in life, we’re given the opt, to choose who and what that will hurt us. And I’ve given you the power to. It’s not a metaphor, this means literally.

And I love you, as always, Edira Putri Surachmat.

 

Jakarta, 26th of June

Okki Sutanto.

Kuliah, Lagi

Previously published on my Facebook Notes

Wacana kuliah lagi sudah lama ada di benak, sebenarnya.

Tahun lalu saya terpilih menjadi finalis penerima beasiswa penuh Magister Manajemen di sebuah kampus ternama di bilangan Menteng. Namun saya mundur setelah melalui sesi wawancara dengan para pimpinan kampus tersebut. They’re smart but a bit narcissist unhumanist. That’s all. Saya mundur dari serangkaian psikotes. Saya keluar dari ruangan tepat sebelum camping evaluatif dimulai. Dan saya gugur. 

Memang, tidak sepenuhnya alasannya karena sikap negatif tersebut. Ada alasan lainnya, yakni DCG. Perusahaan yang saya dirikan di awal tahun 2013, 16 Februari 2013, tepatnya. Bergerak di bidang edukasi kreatif dan konsultan bisnis, kami berangkat dari minus, bukan sekedar nol. Keegoisan bercampur idealisme yang terlalu ambisius. Yasudahlah, namanya juga anak muda. Yang penting semua pelajaran direguk pahit-manisnya.

Kembali ke topik. Saya sebenarnya tahu, suatu saat akan melanjutkan studi. Kenapa? Karena saya ingin menjadi dosen, dan itu mengharuskan saya memiliki gelar S2. Tapi, sebenarnya itu rencana jangka panjang. Tidak di tahun ini. Perusahaan sedang bergeliat dan butuh fokus ekstra, sejumlah klien dan kesempatan baru bermunculan tak tertangani, juga saya belum berpikir masak akan kuliah di jurusan apa. Hidup bergulir dengan pikiran fokus bekerja dan bekerja, bangun subuh dan pulang larut malam. Setiap harinya.

Hingga menjelang pertengahan tahun…. banyak yang terjadi. Masalah muncul tiada henti. Dari bisnis, personal, hingga keluarga. Dari kandasnya sebuah relasi bertahun, hingga bencana kebakaran yang menimpa lokasi usaha keluarga. Semua pertanda seakan ingin berteriak pada saya, untuk berhenti sejenak dan menyusun ulang rencana hidup.

Akhirnya saya berserah, dan berpasrah. Setiap jalan yang dibukakan saya usahakan. Mendengar gelombang terakhir kuliah Psikologi Temu Budaya akan segera berakhir, saya pun mendaftar. Tidak sampai 2 minggu, saya harus menyelesaikan semua berkas administratif yang tercecer entah dimana, dan mempersiapkan diri mengikuti tes masuk S2, yang nyaris saya lewati.

Di hari tes S2 diadakan, ada kejadian lucu. Tes berlangsung hari Sabtu di Semanggi, pukul 8 pagi. Saya terbangun pukul 06.45, di Cimacan, Puncak. Jadi, waktu saya hanya 75 menit untuk tiba di Semanggi. Terbayang? Semoga tidak. Saya telat, teramat sangat, nyaris 1 jam. Toh akhirnya Tuhan tetap berbaik hati saya sanggup menyelesaikan semua tes dengan lancar tanpa dispensasi waktu tambahan. Saya diterima, meski masih setengah percaya.

Kuliah lagi
..and here I am now, seorang mahasiswa pascasarjana. Status yang tidak terpikirkan sama sekali oleh diri saya dua bulan yang lalu. Ah, sudahlah. Hidup toh tidak harus selamanya lurus. Kadang jalan yang disiapkan belukar yang memutar. Lalu kenapa? Itu semua sudah disiapkan. Tinggal kita jalani saja, sebaik-baiknya.

Terima kasih bagi semua pihak yang sudah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, atas keberhasilan saya menyandang kembali predikat mahasiswa. Ha! Terima kasih!

God bless you all. May the odds and the universe be always in your favor!

Jakarta, 24 Juni 2014
Okki Sutanto.

 

Batas

Belakangan saya sedang mencoba menarik garis
antara kemustahilan dan kenyataan
antara idealis dan realis
antara utopis dan berjejak

Nampaknya saya masih butuh waktu
untuk tahu jawab yang saya cari
karena kini tampaknya saya tak berbatas
selain perihal waktu yang juga terbatasi perputaran bumi

Kini saya yakin tidak lagi berlari kencang
tapi menembus kecepatan cahaya
tak lagi mencari aktualisasi diri
tapi mewujudkan aktualisasi manusia lain

Tentu ada harga yang saya bayar atas ini semua
keringat dingin dan air mata yang mengering
masa kegelapan dan depresi total
masa kesendirian dan hancurnya kesejahteraan

Ah, batas.
Kutunggu kau di garis finis
Karena aku mulai sinis
kau masih mampu mengikuti aku

Selepas Badai

Gambar diambil dari http://www.paintingsilove.com

Seorang nahkoda berdiri di geladak kapal. Ia memandangi air laut yang tenang. Kini ia berada di tengah laut, setelah entah berapa lama kapalnya diterjang badai. Sempat beberapa kali ia menyerah, namun nyatanya ia berhasil melewati badai tersebut. Kini perasaannya bercampur aduk. Ada takjub, syukur, sekaligus bingung.

Sistem navigasi hancur. Ia tidak tahu ada dimana. Ia tidak tahu harus kemana. Ia tahu, pelayaran harus dilanjutkan. Namun setiap kali ia memikirkan tujuan, kekhawatiran menyergap tanpa aba-aba. Kekhawatiran akan badai, perompak, atau karang. Itu semua menghambat langkahnya. Lantas kapalnya pun diam tak bergerak.

Setelah berhari-hari terdiam, dan perbekalan menipis, ia pun memutuskan untuk berlayar kembali. Ia tentukan akan bergerak ke Utara. Persetan dengan semua kekhawatiran, katanya. Lebih baik mencoba, sekalipun badai menghempasnya lagi, daripada mati tanpa tantangan di tengah-tengah laut yang tenang.