Ngapain Ngocehin Politik? Kayak Ngaruh Aja

Itu pertanyaan sejumlah orang ke saya. Juga DM yang saya terima dari beberapa pihak. “Gak ngaruh lu mau ngomong apa, gue tetep all-in milih pasangan XXX”. Lah, si anjing. Pertama-tama saya ga nanya. Kedua, kalo gak ngaruh kenapa repot-repot buang waktu dan tenaga buat kirim DM? Jangan-jangan sebenarnya ngaruh. Minimal egonya tersentil. Hehehehe..

Ngaruh gak ngaruh, saya gak peduli-peduli amat sih. Bukan itu juga tujuan saya ngebacot. Memang saya suka aja ngebahas dua hal ini: keresahan dan kerecehan. Iya, ngebahas hal-hal yang meresahkan dan yang lucu. Ya salah sendiri belakangan ini yang bikin resah dan penuh kelucuan itu politik kita.

Sebenarnya, saya ini terlahir sebagai orang yang harusnya gak peduli-peduli amat soal politik. Terlahir sebagai double minority dan juga hidup berkecukupan (gak lebih, tapi cukup). Siapa saja pemimpinnya gak akan berdampak-berdampak banget koq ke penghidupan saya. Saya akan tetap bisa menjalani hidup saya dengan nyaman. Bisa kerja, cari duit, olahraga, makan enak, tidur cukup. So…why bother? Izinkan saya mundur sejenak.

Persentuhan pertama saya dengan politik terjadi kala saya SMA. Meski sekolah saya isinya mostly chindo berduit, kerennya selama tiga tahun di SMA terjadi dua kali demonstrasi siswa. Pertama kala ada pemecatan tak adil terhadap salah seorang guru. Kedua saat ada pergantian pimpinan sekolah, dan wakil kepala sekolah yang baru gemar melakukan show of force.

Ia bikin aturan-aturan baru yang bikin ribet. Larang-larang ini itu. Puncaknya memukul salah seorang siswi kala upacara. Semua murid mogok belajar dan ngumpul di aula meminta audiensi dengan pimpinan sekolah. Hari-hari itu saya belajar dua hal. Pertama, bahwa menyuarakan pendapat itu bisa mengubah sesuatu. Kedua, bahwa dipimpin pejabat goblok yang belum usai dengan dirinya sendiri itu menyusahkan hidup banyak orang.

Kala kuliah, saya makin terpapar dengan politik. Dari persentuhan dengan karya-karya Soe Hok Gie, Goenawan Mohamad, & Pramoedya Ananta Toer. Dari keterlibatan saya di organisasi mahasiswa hingga sempat memimpin salah satu Badan Perwakilan Mahasiswa.

Semasa kuliah saya pernah menulis surat terbuka, menyoroti kebijakan kampus, mengkritik dosen tertentu. Kesemuanya mendapat tanggapan langsung dari pejabat kampus. Jadi kalau ada yang bertanya “Emang ngebacot lewat tulisan itu ngaruh?” Jawabannya: iya.

Saat tahun lalu usaha orangtua saya digeruduk ormas ngehe, saya ikut bersuara. Ternyata direspons oleh banyak orang, wartawan, hingga Pemprov. Ujungnya? Sejumlah provokator ormasnya diproses polisi.

Ini cuma satu dari sekian banyak contoh viral-based policy yang terjadi di negara ini. Kalau gak rame, gak direspon. Begitu rame, baru gercep. Dari kasus perkosaan, penipuan iPhone si kembar, sampai soal naiknya pajak hiburan baru-baru ini. Kebayang gak kalau semua diam-diam saja gak berani bersuara?

Iya, salah satu alasan saya bacotin politik biar penyelenggara negaranya tidak ugal-ugalan. Biar mereka terusik. Biar mereka sadar bahwa mereka itu gak sempurna. Biar mereka tahu bahwa langkah politik dan kebijakan mereka itu terkadang ngehe dan menyengsarakan rakyat.

Tapi, itu bukan tujuan utamanya. Saya senang bersuara dan bahas politik bukan karena ingin mengubah dunia. Saya gak sepeduli itu sama dunia. Saya gak sesayang itu sama umat manusia, koq. Kalau Thanos nyapres dan visi-misinya adalah hilirisasi kiamat, pasti saya coblos dia. Sayangnya kan enggak. Saya membahas politik….karena itu hak politik saya. Hak untuk bersuara. Untuk ngebacot. Untuk menyatakan pendapat.

Dan sejatinya ini adalah hak politik kita semua. Hak politik kamu. Iya, kamu yang lagi baca ini. Gak perlu ragu deh untuk bersuara. Gak usah mikir jauh-jauh “ah kayak ngaruh aja gue ngomong gini”. Kenapa harus ngaruh, sih? Emangnya kamu ngepost foto kucing kamu dengan harapan untuk mengubah dunia? Kan enggak. Jadi nge-post mah ya nge-post aja.

Berpendapat itu hak mendasar kamu sebagai manusia merdeka di negara demokrasi. Gunain, selagi kamu masih punya kesempatan. Negara ini puluhan tahun gak punya demokrasi, lho. Dan mereka-mereka yang dulu jadi bagian dari era tersebut sekarang sedang bersatu. Untuk kembali berkuasa dan merongrong demokrasi. Hari-hari ini mereka sedang menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara bangsat yang tak sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi bermartabat.

Gak mau percaya sama saya? Gak apa. Percaya aja sama para guru bangsa & guru besar yang akhir-akhir ini sedang menyuarakan keprihatinan mereka terkait Pemilu. Dari civitas akademisi di Universitas Gajah Mada, Universitas Islam Indonesia, dan hari ini Universitas Indonesia. Dengar keprihatinan mereka. Selami kegelisahan mereka. Pahami seberapa bobrok Pemilu ini sedang dilangsungkan.

Kamu mau diam saja, juga ya gak apa. Gak dosa, koq. Gak ada yang larang. Cuma ya sayang aja. Punya demokrasi koq gak dimanfaatkan. Kayak punya dildo tapi ya gak pernah dipake. Sayang, kan. Jadi, bersuara aja meski kamu gak yakin apakah suaramu itu bakal berpengaruh.

Cara terbaik memastikan kamu gak ngaruh apa-apa ya….jangan ngapa-ngapain. Diem aja. Kadang, perbuatan sekecil apa pun itu bisa ngaruh tanpa kita duga, lho. Saya senang tiap kali bacain pesan-pesan dari follower yang bilang kalo mereka jadi berani bersuara dan nulis karena tulisan saya. Saya senang bukan main tiap ada yang bilang mereka jadi terinspirasi melakukan sesuatu karena lihat postingan saya.

Belum lama ini, seorang dosen yang sudah lama gak berkontak menghubungi saya “Makasih ya udah nulis soal politik dengan baik, saya bagikan juga tulisan kamu ke rekan-rekan sejawat”. Nyesss. Ternyata bacotan saya itu dibaca oleh orang-orang yang kadang gak saya duga. Dan membawa dampak yang kita gak prediksi sebelumnya.

Nikmatilah demokrasi ini selagi masih kita miliki. Gunakanlah hakmu bersuara selagi bisa. Bersuaralah, sebelum bersuara itu dilarang. Ngebacotlah, sebelum ngebacot itu harganya kian mahal. Jangan-jangan, bacotanmu itu kayak kepakan sayap kupu-kupu di benua seberang yang suatu saat nanti bisa memicu badai. hehehe..

Sekian dulu tulisan kali ini, sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

Jakarta, 2 Februari 2024

Kirim Komentar!