Cara Santuy Menghadapi Kritik Ala Soeharto

Lu ngepost selfie terbaik lu yang udah lu kurasi selama 3 jam dan pikirin captionnya matang-matang, tiba-tiba ada yang komen:

“gendutan lu ya…”

Lu share pendapat lu bahwa Rachel Tjhia adalah selebgram favorit lu, tiba-tiba ada yang bilang

“jadi lu benci sama kekeyi? rasis dasar lu cina anjing!”

Yap. Media sosial (juga hidup) memang seabsurd itu. Kita gak akan pernah bisa nebak apa komentar dan respons yang akan kita terima dari orang lain. Bisa teman, bisa orang yang gak dekat-dekat amat, bisa juga a complete stranger.

Era media sosial memudahkan orang untuk berinteraksi dan terhubung dengan siapapun yang menggunakannya. Mau itu Adam Suseno, Adam Levine, atau Adam Sandler, semua cuma sejauh sentuhan jari saja. Kita bisa reply, kirim DM, atau berkomentar ke siapapun yang terhubung ke internet. But it comes with a price.

Komentar-komentar negatif, termasuk kritikan ngasal dan sumpah serapah, juga membanjiri linimasa. Apalagi ini Indonesia, salah satu negara yang berdasarkan survei memiliki keberadaban digital paling rendah. Jadi ya wajar saja kalau banyak komentar tidak beradab. Pertanyaannya, gimana caranya kita bisa santuy menghadapi kritik dan makian? Nah, mari belajar dari Soeharto. Beliau gak pernah ambil pusing menghadapi kritikan. Santuy. Toh biasanya kritiknya akan hilang dengan sendirinya. Kadang sekaligus sama pengkritiknya, sih.

PERTAMA DAN TERUTAMA: IT’S OKAY TO BE WRONG

Ini yang paling penting untuk diingat. Bahwa semua orang bisa aja salah. Termasuk kita. Maka ketika kita suatu saat salah lalu mendapat kritik dan serangan tajam, ya gak perlu ngamuk balik. Saya apalagi, sering banget salah. Ketika mendapat komentar atau DM yang memberi masukan atau perspektif lain, ya dibaca dulu aja. Dijadikan pelajaran. Kadang, yang jadi blunder besar dalam bermedsos itu bukan kesalahan awal kita, tapi justru bagaimana kita meresponsnya. Bukannya mengakui kesalahan atau meminta maaf, malah double down mencari argumen-argumen justifikasi untuk membenarkan kesalahan kita. Malah jadi makin ribet urusannya.

If it’s too much for you to handle, just take some time off. Rehat dari media sosial untuk sementara. Hidup itu gak sebatas sosmed, koq.

SATU SENSASI BANYAK PERSEPSI

Berikutnya, jangan lupa bahwa dalam setiap komunikasi dan stimulus, ada yang namanya sensasi dan persepsi. Setiap sensasi, entah itu tulisan, foto, lagu, dan lainnya, akan dipersepsikan secara berbeda oleh tiap-tiap orang. Satu hal yang sama, bisa diartikan macam-macam. Seratus orang nonton 1 film yang sama, bisa menghasilkan 100 review dan persepsi yang beragam. Ada yang bakal bilang filmnya bagus banget, ada yang bilang jelek karena kurang aksi, ada yang bilang filmnya banyak simbolisasi dan makna terpendam, ada yang bilang penuh sindiran sosial. Semuanya sah. Kita gak bisa mengontrol bagaimana orang akan berpikir dan berpersepsi. Yang bisa kita kontrol? Reaksi kita atasnya. Santuy aja.

Semua orang saat ini bisa pakai internet dan main media sosial. Dari bocah SMP sampai lansia. Dari pengangguran sampai CEO. Dari driver ojol sampai driver F1. Dari orang gak berpendidikan sampai profesor jebolan kampus luar negeri. Dari laskar FBR sampe laskar FBI. Kita gak akan pernah tau siapa orang di balik layar ponsel tersebut. Apa latar belakang dan motif mereka, bisa bermacam-macam. Jadi, ya wajar saja kalau beda pendapat. Dinikmati saja.

DEINDIVIDUASI

Di Psikologi ada konsep yang namanya deindividuasi. Ini bisa terjadi ketika identitas individu menjadi luntur dan digantikan oleh identitas lain. Bisa identitas kelompok (deindividuasi banyak terjadi dalam agresi kelompok seperti tawuran dan kekerasan antar geng), atau anonimitas yang ditawarkan internet dan media sosial. Ketika deindividuasi terjadi, orang akan makin mudah untuk berlaku agresif dan di luar norma. Karena ia merasa tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Orang yang di kesehariannya sopan dan kalem, bisa berubah menjadi perundung yang ganas di media sosial. Berani keluar batas, karena tidak ada akuntabilitas. Merasa tidak tersentuh dan berkuasa penuh. Padahal, yang seperti ini bisa jadi di dunia nyata gak lebih dari pengecut yang tidak bisa mengekspresikan dirinya. Makanya mencari pelampiasan di internet.

MOTIVASI DI BALIK AGRESI

Ada beragam motif di balik kritikan dan komentar ngaco di media sosial. Saya ingat salah satu episode di serial The Big Bang Theory, dimana Sheldon dibuat geram oleh komentar seorang troll di sebuah forum ilmiah online. Sang troll merendahkan dan memaki karya ilmiah Sheldon. Di akhir episode, diungkap bahwa troll tersebut adalah Profesor Stephen Hawking! Ilmuwan jenius yang begitu dikagumi oleh Sheldon. Hawking mengakui bahwa ia sebenarnya suka dengan karya ilmiah Sheldon. Beliau cuma bosan saja kelamaan hidup di kursi roda, makanya iseng menjadi troll untuk ngerjain Sheldon. Ya, iseng aja! Sengaja mau memancing emosi belaka.

Percayalah, di internet banyak banget yang kayak ini. Entah orang yang sekadar iseng, haus atensi atau kekurangan afeksi, akhirnya berkomentar sejahat itu ke idolanya di sosial media. Ketika dimarahi oleh sang idola, baru mengaku bahwa itu dilakukan sekadar untuk mencari perhatian. Jadi, gak perlu menganggap serius semua umpatan / kebencian / agresi ngaco di media sosial. Tujuan mereka cuma caper, kitanya gak perlu baper. Meladeni hater sama kayak gulet sama babi di lumpur, kitanya capek dan kotor merekanya mah kegirangan.

ADIL KE DIRI SENDIRI

Saya teringat cerita TWO BAD BRICKS-nya Ajahn Brahms. Seorang biksu membangun tembok dengan 1.000 batu bata. 998-nya baik dan bagus, tapi ada 2 bata yang kurang baik. Alih-alih berpuas diri, dia malah fokus ke 2 bata jelek tadi dan mau menghancurkan semua tembok yang sudah susah payah dibangunnya. Kalau kita fokus ke 2 bata jelek, kita malah kehilangan kesempatan menikmati 998 bata lain yang sudah bagus dan cantik.

Begitu pun di media sosial. Postingan kamu mendapat 100 likes, ada puluhan komentar positif, tapi ada 1-2 komentar yang bilang “eh gendutan ya”. Alih-alih mengapresiasi yang positif, kadang kita malah terlalu fokus ke yang negatif. Dipikirin berhari-hari sampai gak bisa tidur. Padahal, yang ngetik komentar jahatnya aja udah lupa apa yang mereka ketik dalam 1-2 jam. Kenapa malah kitanya keingetan terus? Rugi amat. Mari belajar adil sama diri sendiri.

FOKUS KE UMPAN BALIK BALIK POSITIF

Dari kritik sebenarnya kita bisa banyak belajar. Sayangnya, gak semua orang bisa menyampaikan kritik dengan baik, sopan, dan dengan argumen runut dan logis. Ada kritik yang dibungkus kata makian dan berbalut hinaan personal. Tapi, coba kita fokus ke esensi kritikan mereka saja. Siapa tahu, ada yang bisa kita jadikan pelajaran penting untuk perbaikan diri. Gak perlu fokus ke umpatan dan serangan personalnya. It tells more about them than us anyway. Cukup ambil yang baiknya saja, buang yang buruknya. Kalau semuanya buruk, ya buang aja ke tong sampah.

PERSONAL FABLE THEORY

Tiap mau ngepost sesuatu kita langsung overthinking mikirin “duh gimana ya nanti pendapat orang?”, atau “gue bagus gak sih pake baju ini?”, atau “gue nanti dicela deh pasti….”

Pemikiran-pemikiran seperti ini tuh sebenarnya gak lebih dari personal fable theory dalam istilah Psikologi. Pemikiran bahwa kita adalah pusat dunia dan semua orang adalah audiens kita yang senantiasa memperhatikan dan menghakimi kita. Istilah personal fable pertama kali dicetuskan oleh psikolog David Ellkin di tahun 1967, yang akarnya dari teori perkembangannya Piaget.

Let me stop you right there. You are not that special anyway. We are not that special. Ada 7 miliar orang di dunia. Ada 270 juta manusia di Indonesia. Ada ribuan orang yang difollow sama temen-temen lu. Lu bukan pusat dunia. Foto dan konten lu cuma discroll beberapa detik doang sama follower lu. Gak ada yang perhatiiin lu sebegitunya. Semua orang pada sibuk sama dirinya sendiri.

Semakin cepat kita menyadari ini, semakin cepat kita terbebas dari segala tuntutan dan konstruk sosial bahwa kita tuh harusnya begini dan begitu. Forget all that. Nikmati saja. Post apa yang lu mau post. Selama gak merugikan atau membahayakan diri sendiri atau orang lain, ya hajar aja. Hidup terlalu singkat untuk terlalu peduli sama pemikiran dan penghakiman orang lain. Live your life to the fullest. Explore and enjoy.

Sekian tulisan kali ini. Semoga tulisan ini bisa membantu siapapun yang mungkin masih kesulitan menavigasikan diri di tengah era media sosial. Semoga ini juga jadi pengingat bagi saya di masa depan dalam menghadapi kritikan dan hujatan. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Jakarta, 28 September 2022

Meromantisasi Kemiskinan, Memonetisasi Penderitaan.

Belakangan, makin mudah menemukan konten-konten yang meromantisasi kemiskinan. Memonetisasi penderitaan orang-orang kurang beruntung. Warteg selamat dari kebakaran, dikontenin. Siswi SD rambutnya kutuan, dikontenin. Anak-anak muda Citayam nongkrong di ibukota, dikontenin bahkan mau dipatenin.

Tidak hanya konten kreator dan Youtuber. Stasiun televisi dan media cetak kita pun sering meromantisasi kemiskinan. Ada anak tukang becak yang berprestasi, lantas diromantisasi berlebihan. Tak jarang, di ajang pencarian bakat pun lebih sering menjual kisah sedih (dan kemiskinan) kontestannya dibanding mempertontonkan bakatnya.

Fenomena meromantisasi kemiskinan untuk keuntungan komersil sebenarnya bukan hal baru. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejak tahun 1980-an, konsep poverty porn sudah mulai ramai digunakan. Kala itu, banyak lembaga donasi dan kemanusiaan berskala internasional yang kerap menggunakan foto-foto warga miskin dan anak busung lapar dari negara-negara di Afrika sebagai cara mendongkrak donasi.

Masih hangat di ingatan, belum lama ini ada lembaga donasi yang jadi sorotan karena penyelewengan dana dan gaji bombastis petingginya. Bagaimana modus operandinya? Lagi-lagi dengan menjajakan kemiskinan sebagai produk utama mereka.

Harus diakui, menjual kemiskinan dan kisah sedih memang efektif. Terlebih di Indonesia. Kita begitu mudah bersimpati. Dalam World Giving Index (WGI) yang dirilis Charities Aid Foundation tahun 2021 lalu, Indonesia menjadi salah satu negara yang penduduknya paling dermawan. Membantu sesama tentu hal yang baik. Tapi, hati-hati. Ada baiknya kita tetap kritis.

Ada sejumlah hal yang perlu kita perhatikan dari romantisasi kemiskinan dan poverty porn. Mulai dari: [1] mendulang simpati tanpa menyelesaikan masalah; [2] melanggengkan saviour complex; [3] rentan eksploitasi; hingga [4] objektifikasi yang tidak memberdayakan.

MENDULANG SIMPATI TANPA MENYELESAIKAN MASALAH

Remotivi dalam kajiannya tahun lalu menyampaikan bahwa tayangan dan konten poverty porn seringkali sukses mendulang simpati tanpa benar-benar menyelesaikan masalah. Bahkan cenderung mengaburkan masalah. Kita diajak bersimpati pada subjek konten yang mengalami penderitaan dan kemiskinan, tapi sama sekali abai terhadap isu lebih luas di baliknya.

Tak jarang kita diajak percaya bahwa solusi tunggal dari jerat kemiskinan adalah denga bekerja sekeras-kerasnya. Yang akhirnya malah berujung melanggengkan stigma-stigma kemiskinan: bahwa seseorang itu miskin karena malas, tidak bisa mengelola uang, dan terlalu bergantung pada bantuan sosial. Sama sekali abai bahwa kemiskinan adalah isu struktural yang kompleks. Tentang ketimpangan akses ekonomi, infrastruktur pendidikan yang tidak merata, hingga fasilitas sosial dan kesehatan.

MELANGGENGKAN SAVIOUR COMPLEX

Sejarah poverty porn tidak bisa dilepaskan dari saviour complex pelakunya. Awalnya, poverty porn banyak dilakukan oleh orang-orang kulit putih penuh privilege dari negara maju. Yang merasa bahwa merekalah satu-satunya juru selamat yang bisa membantu warga miskin di benua Afrika. Merekalah yang bisa menyelesaikan segala permasalahan di muka bumi.

Kini, mungkin polanya sudah sedikit bergeser. Saviour complex is not so white anymore. Savior complex tidak lagi hanya dimiliki oleh bule-bule kulit putih saja, tapi juga warga kelas menengah dan seleb-seleb penuh privilege yang merasa bahwa mereka adalah pusat dunia dan juru selamat bangsa. Bahwa tanpa pertolongan mereka, orang-orang miskin dan menderita tidak akan bisa berbuat apa-apa.

RENTAN EKSPLOITASI

Pertanyaan etis yang sering muncul ketika mendiskusikan poverty porn adalah soal eksploitasi. Apakah subjek yang dijadikan tokoh utama dari sebuah poverty porn benar-benar mendapatkan benefit terbesar? Atau justru yang paling mendapat keuntungan adalah para organisasi kemanusiaan, media, atau konten kreator yang mengeksploitasi mereka?

The economic of altruism is real. Klaus Jaffe, seorang profesor behavioural economy, pernah membahasnya dalam sebuah jurnal melalui paper An economic analysis of altruism: who benefits from altruistic acts?

Keuntungan ini tidak harus berbentuk finansial. Bisa juga eksposure publik melalui pemberitaan, views, clicks, dan engagement. Bisa dalam bentuk pencitraan publik sebagaimana para politisi sering mengeksploitasi korban bencana alam saat kampanye.

OBJEKTIVIKASI YANG TIDAK MEMBERDAYAKAN

Dalam poverty porn, seringkali orang miskin dan menderita tak lebih menjadi sekadar objek. Sekilas mereka seakan bintang utamanya, padahal sejatinya cuma figuran dalam drama sang konten kreator atau lembaga yang menggalang donasi. Suara, perspektif, dan kisah mereka tidak pernah benar-benar teramplifikasi. Dan hidup mereka direduksi menjadi kisah sedih yang digunakan untuk meraih simpati publik. Entah “kisah anak kutuan” atau “lansia sebatang kara”.

Mereka cuma dianggap sebagai warga yang perlu ditolong dan dikasihani. Tidak lebih. Kita begitu ingin menolong orang lain, sampai abai bahwa mereka jangan-jangan bisa berdaya tanpa kita.

Kita semua mungkin familiar dengan pepatah berikut.

If you give a man a fish, he would eat it and come back for another fish tomorrow. But if you give him a boat, he’ll be able to fish for the rest of his life”.

Saya cukup sepakat dengan pepatah di atas.

Sayangnya, seringkali yang terjadi sih warga miskinnya cuma dikasih ikan saja. Yang mendapat kapal pesiar dan segala keuntungan duniawi, ya yang ngasih bantuan. Pasti Pak Juliari setuju banget deh ini sama saya ya kan. hehehe.

Sekian tulisan kali ini. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Jakarta, 8 September 2022

Okki Sutanto

Pelajaran Dari Kasus Polisi Tembak Polisi

Sudah lebih dari sebulan publik disuguhi kasus pembunuhan Brigadir Yosua yang tak kunjung usai. Kasus yang direkayasa. Jenderal yang mendalanginya. Polisi muda yang dikorbankan. Hingga perjuangan keluarga dan pengacaranya yang tanpa lelah menuntut kebenaran.

Kasus ini tentu masih jauh dari selesai. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Masih banyak pengembangan yang dinantikan publik. Tapi, bagi saya ada sejumlah hal yang bisa kita pelajari bersama dari kasus ini.

APPEAL TO AUTHORITY

Salah satu bias atau fallacy dalam berargumentasi adalah appeal to authority. Dimana kita percaya begitu saja akan apa yang dikatakan oleh otoritas. Otoritas bisa figur atau institusi. Bisa pernyataan resmi pemerintah. Bisa keterangan kepolisian. Atau pihak lainnya yang memiliki wewenang atau jabatan. Kenapa percaya begitu saja pada pernyataan otoritas merupakan sebuah fallacy? Ya karena belum tentu benar.

Kasus ini harusnya bisa menjadi pelajaran bersama bahwa tidak selamanya kita bisa mempercayai pernyataan aparat atau pemerintah. Otoritas tentu memiliki kepentingannya sendiri untuk menyampaikan kebenaran versi mereka. Belum lagi otoritas belum tentu terbebas dari oknum-oknum nakal (dalam kasus pembunuhan Brigadir J, oknumnya aja udah lebih dari sekompi).

Maka lucu sekali jika seorang menteri pernah berkata “Kalau menurut versi pemerintah itu hoaks, ya itu hoaks,” di tayangan Mata Najwa beberapa waktu lalu.

PENTINGNYA PERAN MEDIA & KERJA JURNALISTIK

Di sinilah pentingnya peran media dan kerja jurnalistiknya sebagai pilar penting negara demokratis. Untuk tidak sekadar menjadi corong otoritas dalam memberitakan sesuatu, tapi disiplin melakukan verifikasi dan tidak lelah menggali kebenaran. Inilah kenapa kita harus senantiasa mendukung jurnalisme berkualitas. Bosan melihat berita-berita yang clickbait dan mendewakan traffic semata? Ya carilah media yang menurutmu tidak demikian lalu dukunglah mereka.

Bisa dengan berlangganan publikasi mereka. Beli koran atau majalah mereka. Jadi pelanggan digital mereka. Subscribe kanal media sosial mereka. Atau baca dan bagikan karya jurnalistik mereka. Media berkualitas butuh pembaca dan uang untuk bisa hidup dan mempertahankan kualitas mereka. Tanpa dukungan dari kita sebagai masyarakatnya, ya sulit bagi mereka untuk bertahan.

Tanpa kerja pers yang gigih, sulit membayangkan kasus Brigadir Yosua bisa terang benderang seperti saat ini. Verifikasi data lapangan. Investigasi ke berbagai sumber. Terus memberitakan perkembangan dan kejanggalan kasus ini. Tidak puas pada pernyataan resmi yang dikeluarkan otoritas.

Percaya pada pemerintah ya sah-sah saja. Tapi tidak berarti kita harus percaya buta. Jika ada yang janggal, tidak masuk akal, atau berlawanan dengan kebenaran, ya wajib dipertanyakan. Di sinilah peran media menjadi begitu penting. Dan ia tidak akan pernah bisa digantikan oleh seleb-seleb dengan platform besar di media sosial atau Youtube.

Maka tidak perlu heran kenapa pejabat dan petinggi negara begitu rajin mampir ke sebuah podkes om-om botak paruh baya. Di sana mereka bebas menyampaikan kebenaran versi mereka sendiri tanpa perlu takut diverifikasi dan dikritisi secara proporsional. Ya wajar sih, kan bukan kerja jurnalistik.

TIDAK MUDAH MEMBANGUN ORGANISASI SEHAT

Pelajaran lainnya dari kasus ini adalah sulitnya membangun sebuah organisasi yang sehat. Membangun kohesivitas kelompok itu penting, tapi jika sudah menjelma menjadi jiwa korsa yang terlalu tinggi ternyata tidak sehat juga. Kita akan cenderung melindungi teman-teman sejawat, dan akhirnya menutup-nutupi kebusukan organisasi kita.

Belum lagi bahaya groupthink dalam suatu organisasi. Groupthink adalah pengambilan keputusan kelompok yang cenderung “tolol” dan bertentangan dengan logika publik semata demi kenyamanan kelompok. Ini sering terjadi saat organisasi sudah terlalu homogen, menutup diri terhadap perbedaan, juga mengedepankan harmoni hingga menutup ruang terhadap perdebatan.

Dan masih banyak dinamika psikologis lainnya yang membuat suatu organisasi bisa menjadi busuk. Mulai dari disonansi kognitif, confirmation bias, hingga pyramid of choice. Pembahasan lebih lanjut soal ini ada di tulisan saya sebelumnya.

MINORITY INFLUENCE

Selain kerja jurnalistik yang tentu berkontribusi besar dalam kasus ini, peran keluarga Brigadir Yosua dan pengacaranya juga penting. Sang pengacara, Kamaruddin Simanjuntak, yang begitu gigih bersuara dan mengejar kebenaran patut diapresiasi. Sejak awal pihak keluarga dan pengacara terus menyampaikan sejumlah kejanggalan kasus dan fakta-fakta yang bertentangan dengan keterangan resmi otoritas. Yang satu per satu perlahan terbukti kebenarannya.

Hal ini mengingatkan saya akan konsep minority influence yang pernah disampaikan Moscovici. Bahwa kelompok minoritas pun bisa “menang” dan mempengaruhi mayoritas, selama ia konsisten dan gigih melawan tekanan kelompok.

Pengaruh mayoritas umumnya terjadi melalui normative social influence, yang mengandalkan angka dan tekanan kelompok. “Ini 90% orang udah gabung sama kita koq, udah lu ikutan aja!”

Sebaliknya, pengaruh minoritas bisa terjadi melalui informational social influence. Dengan menyampaikan ide-ide baru, informasi baru, dan fakta-fakta baru yang membuat kelompok mayoritas mempertanyakan ulang keyakinan mereka. Persis yang dilakukan oleh pengacara keluarga Brigadir Yosua.

PERAN PARTISIPASI PUBLIK

Kasus ini juga lagi-lagi menjadi bukti masih terjadinya fenomena “NO VIRAL NO JUSTICE”. Bahwa kepolisian dan pemerintah baru bergerak cepat dan bekerja benar setelah sebuah kasus viral, ramai dan menjadi sorotan publik.

Maka, jangan puas sekadar menjadi the silent majority. Jadi warga kebanyakan yang diam saja melihat segala bentuk ketidakadilan dan ketidakbenaran. Jangan pernah takut untuk bersuara. Diam tidak selamanya emas. Dalam kasus ketidakadilan, diam bisa jadi jahat. Seperti yang pernah disampaikan Martin Luther King Jr:

“The ultimate tragedy is not the brutality by the bad peoplebut the silence of the good people.

SEJUMLAH TANTANGAN KE DEPAN

Kasus pembunuhan Brigadir J tentu masih jauh dari usai. Selain beberapa pembelajaran di atas, ada juga beberapa hal yang masih akan menjadi tantangan ke depannya. Menghindari desensitisasi masyarakat, keberanian mengamputasi organ yang busuk, dan terus membangun budaya kritis.

Kasus yang terus-menerus diulas tanpa henti juga bisa membuat masyarakat jenuh. Ada desensitisasi, atau menurunnya respons emosional terhadap suatu stimulus setelah paparan berulang kali. Pertama kali nonton film bagus mungkin kita excited dan senang sekali. Menonton kali kedua hingga kelima mungkin masih excited. Tapi menonton film yang sama 100 kali mungkin kita akan kehilangan excitement sama sekali.

Begitu pun terkait suatu kasus atau pemberitaan. Semoga kasus ini tidak terus berlarut dan membuat masyarakat enggan mengikutinya lagi. Berkurangnya tekanan publik yang kuat, bisa membuka ruang bagi penyelesaian kasus secara tidak optimal.

Keberanian Kapolri dan Presiden untuk mengamputasi organ yang busuk juga ditunggu. Kasus ini membuka fakta bahwa ada begitu banyak “oknum” tidak beres di internal kepolisian termasuk perwira-perwira tingginya. Kadang, organ yang busuk memang baiknya diamputasi sebelum ia menjalar dan membuat bagian tubuh lainnya ikut membusuk. Semakin cepat, semakin baik.

Terakhir, semoga kekritisan masyarakat terhadap penyelenggara negara tidak berhenti di kasus ini saja. Jangan-jangan kasus ini cuma fenomena gunung es yang baru terlihat secuil saja. Bisa jadi ada banyak permasalahan lain yang belum nampak. Sehingga penting bagi kita untuk tidak berpuas diri menjadikan pemerintah sebagai arbiter of truth, meminjam istilah Mark Zuckerberg.

Percaya pemerintah ya sah-sah saja. Mendukung pemerintah juga boleh banget. Tapi kritis, wajib hukumnya.

Sekian tulisan kali ini. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Jakarta, 25 Agustus 2022

%d bloggers like this: