Review Film Arini

Beberapa hari lalu saya menonton film Arini….entah kenapa! Haha. Sebenarnya lebih niat nonton Teman Tapi Menikah dan Partikelir, tapi teman nonton saya memilih Arini karena hasil dia browsing katanya film ini adaptasi dari novelnya Mira W, jadi harusnya bagus. Wah, saya aja baru tahu ini adaptasi novel! Jadi ya udah deh boleh juga.

Tapi emang iya sik. Nih film kurang promosi banget. Tenggelam sama hingar bingar Teman Tapi Menikah yang dimainin sama si cantik Milea, dan Partikelir yang adalah proyek pertamanya Pandji. Teman-teman saya juga banyak yang gak tahu keberadaan nih film. Entah kurang budget promosinya. Entah Falcon Pictures kurang pede sama filmnya. Entah gara-gara posternya begini juga sik:

Screen Shot 2018-04-12 at 5.57.37 PM
Sungguh tidak menggambarkan tema filmnya kan? Apalagi taglinenya itu loh (yang sebenarnya judul novel aslinya Mira W), “Masih ada kereta yang akan lewat”. Kan kurang menggugah yak. Kirain ini iklan layanan masyarakat untuk menenangkan penumpang yang ketinggalan kereta. Petugas stasiun lagi ngasih pengumuman “tenang mbak, masih ada kereta yang akan lewat kok. Gak usah nangis. Sini saya cium.” Ya siapa juga yang gak mau dicium sama Morgan sik. Eks pentolan SM*SH itu loh. Iya, boyband paporit saya. You know me so well, deh.

Anyway, saya nonton film ini tanpa banyak ekspektasi. Harusnya sih ga akan jelek-jelek amat. Soalnya novel ini pernah diadaptasi juga ke layar lebar tahun 1987 dengan pemeran utamanya Rano Karno dan Widyawati. Bahkan ada sekuelnya: Arini II. Harusnya sih skrip dan plotnya cukup oke lah ya, sampe-sampe difilmkan ulang. Selain itu, ini nomat (nonton hemat) juga kok. Cuma bayar 40ribu udah dapet 2 tiket + popcorn + 1 minuman. Thanks to Kartu Kredit UOB dan CIMB Paywave. Ini link info lengkap promo nomatnya btw buat yang tertarik. LAH MALAH PROMOSI! Biarin. Yah seminimal-minimalnya toh nomat, film jelek pun ga rugi-rugi amat, gitu pikir saya.

Ternyata, saya cukup menikmati filmnya kok. Entah DoP-nya yang keren, atau simply romantisme syuting film di Eropa sik. Banyak syuting di tempat-tempat romantis di Jerman dan Paris. Juga Jogja. Dialog juga lumayan bagus meski sebagian masih terlalu bahasa “novel”.

Sederhanya sih, ceritanya tentang cinta beda usia. Morgan (ceritanya mahasiswa S1 di London), suatu hari lagi backpacking ketemu sama Aura Kasih (ceritanya janda 38 tahun) di sebuah kereta di Jerman.

Screen Shot 2018-04-12 at 5.52.24 PM
Gitu gaes. Agresip beut ni laki. Langsung nyosor dan ngajak kenalan. Ya iya tapi Aura Kasih juga sik. Jangankan di kereta bagus Jerman. Ketemu di kelas ekonominya Argo Parahyangan juga gue samperin sik.

Konflik cinta beda usianya jujur kurang dapet sih. Iya, di awal si Aura Kasih dingin dan ga nanggepin si Morgan. Iya, sempat dinyinyirin juga sama emaknya si Morgan pas suatu saat ketemu. Tapi ya udah sik gitu aja. Kalau gue jadi bapaknya Morgan juga gue ga bakal menentang atau gimana juga. Coy, kalo anak lu bisa dapetin cewek macam Aura Kasih sih itu namanya PRESTASI! Diaminin aja ngapa.

Screen Shot 2018-04-12 at 5.53.30 PM
Aura Kasih ini coy. Yang lagi menatap Jendela sambil nunggu sunset aja bisa bikin laki-laki manapun berdiri meleleh.

Kenapa akhirnya si Aura Kasih ga dingin lagi? Ya lu liat aja betapa romantis tempat-tempat ini deh:

Curang ini mah. Jangankan Morgan Oey. Morgan Freeman juga bisa bikin cewek meleleh kalau berduaan terus di tempat-tempat kayak gini. Lho? Ya ghitu deh.

Intinya kebersamaan mereka cukup kilat pas di Jerman. Tapi lumayan berkesan. Berkat  takdir (+ usaha + niat + uang), mereka bertemu kembali di Indonesia. Di sanalah konflik mulai terbangun. Antara masa depan yang mungkin terlalu manis dan luka masa lalu Arini yang belum usai.

Jadi kadang ada flashbacknya gaes, ke masa lalu Arini beberapa belas tahun lalu. Bedanya apa? Yak, cukup rambutnya Aura Kasih di-bonding aja ngikutin gaya masa lalu.

Mau tahu lengkapnya? Nonton aja deh, ga enak kalau di-spoiler-in di sini. Tentu masih jauh dari sempurna filmnya. Ada banyak tanya yang tak terjawab. Misalnya, kenapa sik ni cewek cakep tapi kayak ga bisa nolak banget jadi manusia? Dicomblangin iya aja. Diajak nikah iya aja. Dideketin brondong mau aja. Dipeluk dan dipegang tangannya juga mau aja. Hadeh! Mirip Milea juga nih cewek.

Terlepas dari semua itu, dinikmatin aja kalau kata gue mah. Dijalanin dulu aja. Eh, ini bahas film apa pacaran sih? Auk! hehe..

 

Jakarta, 12 April 2018
Okki Sutanto

BONUS SCENE:

Screen Shot 2018-04-12 at 6.38.34 PM
Ada satu scene dimana Aura Kasih masuk kamar dan menutup diri karena merasa “belum siap”. Si Morgan ngetuk-ngetuk. Lalu Aura Kasih nanya “Kamu mau apa?”, dengan ngehenya dijawab sama si Morgan “Aku mau masuk.”. Ya elah nyet, siapa juga yang ga mao masuuuuuuuuuuuuk!

 

BAHAYA BAHAGYA

(Photo by Josh Felise on Unsplash)

 

Kemarin kita baru saja memperingati hari bahagia internasional. Buku-buku laris di toko buku tak sedikit yang membahas kebahagiaan. Seminar dan pelatihan, belum lagi kelas-kelas edukasi, turut berlomba mengajarkan kebahagiaan. Iya bahagia itu penting. Tapi tak perlulah terfiksasi berlebih pada pencarian bahagia. Apa yang overrated akan mencapai titik jenuhnya.

Gak ada yang menyangkal bahagia itu penting dan baik bagi anda. Bahwa orang yang bahagia lebih sehat. Fisik pun psikologis. Luar dan dalam. Iya, gak salah kok. Tubuh dan pikiran itu dua entitas yang tak terpisah. Salah satu sakit ya yang lainnya ikutan. Kalau pikiran sudah tidak bahagia dan isinya yang buruk-buruk terus, ya hanya tunggu waktu saja tubuh pun memburuk. Baru saja kemarin ada om-om yang curhat di toko saya, bilang bahwa sejak pensiun satu per satu penyakitnya hilang. Tidak ada lagi beban pikiran. Bahagia lantas sehat.

Yang jadi bahaya adalah saat pencarian bahagia dikomersilkan, diglorifikasi berlebih, hingga menimbulkan ilusi-ilusi tak sehat bagi kita semua. Bahwa mencari kebahagiaan dan senantiasa bahagia adalah suatu kewajiban. Bahwa hidup anda belumlah hakiki ketika belum mencapai kebahagiaan nan sempurna. Nah, bahaya kan.

Karena manusia adalah makhluk dualistik yang jarang berada di satu titik spektrum saja. Senang dan sedih. Bahagia dan tidak. Suka dan benci. Tertawa dan menangis. Hidup itu terus berubah dan kita bergerak dari satu ujung spektrum ke ujung lainnya. Senantiasa. Ya sah-sah saja hari ini bahagia dan besok tidak. Sekarang menangis dan satu jam lagi tertawa. Homeostasis, keajegan untuk berada di satu kondisi saja, bisa jadi malah tidak sehat.

Kebahagiaan itu elusif. Saya suka sama salah satu tulisan yang saya lupa bacanya dimana. Kebahagiaan itu ibarat kupu-kupu yang sedang hinggap di pundak kita. Satu momen ia ada, lantas ia menghilang. Mau coba menangkapnya? Jangan-jangan malah kita menghancurkan dan membunuh kupu-kupu itu. Yang terpenting adalah menikmati kedatangannya, dan mengizinkannya pergi jika sudah saatnya. Sama kayak kebahagiaan. Usaha berlebih untuk mencari dan menjaganya bisa jadi malah menghancurkan kebahagiaan itu sendiri.

Lagipula dunia tidak bergerak maju di tangan orang-orang yang fokus hidupnya mencari kebahagiaan. Di balik setiap revolusi, penemuan-penemuan penting, pun kemajuan bersejarah, ada manusia-manusia yang diliputi kemarahan. Keresahan. Ketidakadilan. Penderitaan. Kalau Soekarno semasa hidupnya cuma fokus mencari kebahagiaan dirinya sendiri, mungkin kita belum merdeka. Kalau Einstein semasa hidupnya cuma fokus mencari formula kebahagiaan, mungkin dunia belum semaju ini. Ya gitu deh ngerti kan ya.

Jadi, sudahkah Anda bahagia? Kalau sudah ya bagus. Belum juga ga apa. Dunia terus berputar kok mau kita bahagia ataupun enggak. Yang baik dan buruk akan senantiasa datang. Hadapi dan nikmati saja. Saya gak protes kalau kita semua bahagia. Hanya saja jangan-jangan hidup tidak sekadar itu saja. Ye gak?

Jakarta, 21 Maret 2018
Okki Sutanto

Lingkaran Setan FPI

Photo by Bank Phrom on Unsplash

Membahas FPI itu seperti membahas kemiskinan atau kebodohan. Yang terjadi adalah lingkaran setan. Muter doang, ga kemana-mana. Ga faedah. Jalan di tempat. Hulu jadi hilir. Penyebab jadi dampak, lalu balik lagi jadi penyebab.

Ga punya uang maka pendidikan seadanya. Pendidikan seadanya maka kesempatan kerja juga seadanya. Kesempatan kerja seadanya maka pendapatan seadanya. Ya udah muter aja terus di situ. Selama negara gak hadir dan keadilan sosial belum terwujud, hampir setiap yang terlahir miskin ya akan di situ-situ aja. Lingkaran setan.

Sama halnya dengan kebodohan. Orang bodoh itu gak sadar mereka itu bodoh. Ga punya kemampuan mawas diri dan refleksi bahwa ada kebenaran lain di luar dirinya. Mau dikasih tahu bagaimana pun sama yang lebih pintar juga ujung-ujungnya defensif dan marah. Jadinya ya gak akan pintar-pintar. Terus aja bodoh dan bagi-bagiin berita hoax tiap hari. Yang bodoh makin bodoh. Berkutatnya di seputaran kenapa bumi itu datar dan kenapa ngucapin selamat natal itu haram.

Dan hal yang mirip-mirip terjadi seputaran FPI. FPI itu cuma organisasi masyarakat loh. Jumlah ormas itu banyak banget. Dan ga ada yang salah dengan ormas. Tapi kenapa kok kesannya FPI buruk banget dan sering banget bikin rusuh? Ya karena media gak pernah adil pada mereka. Tidak adil sejak masih di pikiran kalo kata Pram. Gak terpelajar.

Dari dulu yang diberitain dan digaungkan saat FPI ngerusuh doang. Pernah gak aksi-aksi sosial mereka disebut? Saat FPI berjibaku turun ke lapangan sehabis tsunami Aceh, jadi salah satu yang terdepan mencari jenazah korban tsunami? Saat aksi-aksi amar ma’ruf nahi munkar mereka betulan membasmi kemaksiatan di daerah-daerah dimana penegak hukum gak bisa diandalkan? Gak toh?

Yang diberitain kalau mereka bakar-bakaran. Demo-demoan. Bego-begoan. Terus situ berharap siapa yang jadi tertarik dan mau gabung sama FPI kalau gitu? Akademisi? Penemu bohlam? Dokter spesialis? Ya kagak lah tong. Jadinya ya ampas-ampas masyarakat yang tertarik sama FPI. Yang tertarik karena citra buruknya yang dibentuk sama media.

Jadinya semacam self-fulfilling prophecy juga, kan. FPI dicap sebagai tukang rusuh. Diperlakukan seperti tukang rusuh. Dimusuhin karena tukang rusuh. Ya jadinya tukang rusuh beneran lah. Situ guru? Coba aja sana ada murid yang dari awal situ cap bego. Situ anggep bego. Gak pernah dipeduliin. Lama-lama juga bego beneran dia. Itu mekanisme self-fulfilling prophecy. Jangan dicobain beneran, plis.

Maka saya sih gak heran kalau belakangan FPI sedang dimusuhi lagi karena berseteru dengan Tempo. Saya ga nyalahin Tempo pasti, tapi juga jadi sulit menyalahkan FPI. Wong dia dianaktirikan sama media sekian lama. Orang-orang baiknya juga keburu males kali berbenah di dalem. Udah terlanjur ancur. Jadinya yang bertahan ya yang emang suka rusuh.

Ya gitu deh kalau menurut saya mah. Jangan tanya solusi, saya juga bingung udah keburu kusut ini mah. Intinya ke depannya janganlah kita (dan media) ciptakan FPI-FPI berikutnya. Adillah sejak dalam pikiran. Benci perilakunya boleh tapi jangan benci pelakunya. Kalau kadung benci sama pelakunya, mau sebaik apapun dia ya gak akan kita anggap baik. Susah? Ya iya. Kapan sih idup itu gampang.

 

Jakarta, 19 Maret 2018.
Okki Sutanto

 

Kemenangan dalam Kehilangan

WHITE BOOK

Dalam buku Option B, Sheryl Sandberg & Adam Grant mengeksplorasi secara mendalam tentang kehilangan dan kesukaran hidup (grief & adversity). Tahun 2015 lalu, Sheryl kehilangan suaminya yang meninggal tiba-tiba karena serangan jantung. Pengalaman dan perjalanannya melalui kedukaan inilah yang menjadi tema sentral dari buku Option B.

Jika Sheryl menceritakan pengalaman pribadi yang penuh pencerahan dan penghayatan, Adam Grant melengkapinya dengan segenap data, riset, dan pengetahuan yang dimilikinya sebagai Profesor Psikologi. Alhasil, buku ini tidak hanya sukses menyentuh perasaan kita sebagai pembaca (affection) , tapi juga sukses membuka wawasan (cognition) dan membekali kita akan apa yang bisa dilakukan (behaviour). Affection, Behaviour, Cognition. ABC. Lengkap sudah.

Teori yang Berjejak

Di buku ini, teori-teori Psikologi berkenaan dengan kedukaan tidak sebatas menjadi teori tak berjejak yang berada di menara gading. Sheryl telah menjalaninya. Juga sekian banyak orang yang turut berbagi pengalaman mereka di buku ini. Mereka menjalani dan menghidupi apa yang disampaikan teori-teori tersebut. Membuat teori yang sekilas terdengar rumit dan klise, sampai taraf tertentu menemukan kebenarannya.

Sebut saja konsep 3 P dari Martin Seligman: Personalisation, Pervasiveness & Permanence. Tiga hal ini akan lumrah terjadi ketika kita mengalami kesukaran hidup. Kita tidak berhenti menyalahkan diri sendiri (personalisation). Kita menganggap satu hal buruk akan merembet ke segala aspek lain yang akhirnya menghancurkan citra diri kita seutuhnya (pervasiveness). Terakhir, kita menganggap kesedihan dan kegagalan yang dialami akan bertahan selamanya (permanence). Ketika kita bisa mengidentifikasi ketiga hal ini, dan melawannya, proses kita melalui kedukaan akan jauh lebih mudah.

Buku ini tidak hanya mengajarkan dan memandu kita melewati kedukaan. Ia juga membantu kita untuk menjadi teman, sahabat, pasangan, dan keluarga yang lebih baik, dalam membantu orang terdekat kita melewati kedukaan. Berapa dari kita yang tidak tahu harus melakukan apa kala teman kita kehilangan pasangan atau orangtuanya? Berapa dari kita yang bingung harus berkata apa kala sahabat kita baru saja dipecat? Berapa dari kita yang takut salah ucap kepada keluarga yang baru saja divonis kanker? Pendidikan formal tidak pernah menyiapkan kita untuk itu. Kita juga kadang terlalu sibuk untuk merefleksikan kehidupan. Di sinilah buku ini menjadi sangat penting dan menarik.

Menjadi Tombol

Ada salah satu eksperimen menarik yang diceritakan di buku ini. Tim peneliti ingin menelaah bagaimana pengaruh distraksi pada stres. Sekelompok anak muda diminta mengerjakan tes yang membutuhkan konsentrasi tinggi dalam waktu yang terbatas. Di tengah-tengah tes, peneliti membunyikan suara berisik yang amat mengganggu. Mereka ingin melihat pengaruhnya pada sekelompok anak muda tadi. Hasilnya? Konsentrasi mereka terganggu. Keresahan meningkat. Hasil tes pun memburuk.

kristina-flour-185592-unsplash
Photo by Kristina Flour on Unsplash

Di kali berikutnya, tim peneliti mengenalkan keberadaan sebuah tombol “mute” di masing-masing meja anak muda tersebut. Tugas mereka sama: mengerjakan sebuah tes. Distraksinya pun sama: suara berisik yang mengganggu. Tapi kini mereka memiliki tombol yang bisa mereka pencet kala mereka merasa terganggu, untuk menghilangkan suara berisik yang muncul. Hasilnya? Konsentrasi mereka tetap baik. Tidak lagi resah. Hasil tes membaik. Masuk akal bukan? Ya jelas. Tapi yang menarik adalah fakta bahwa tidak ada satupun yang benar-benar memencet tombol tersebut! Mereka jadi jauh lebih tenang, meski sekadar mengetahui bahwa mereka memiliki tombol yang dapat membantu mereka. Memberi mereka kuasa dan kendali akan hidup mereka.

Tombol inilah yang seringkali tidak kita miliki dalam hidup. Saat kita merasa tidak berdaya dan tidak berkuasa melakukan apa-apa saat kesukaran hidup melanda. Padahal, sekadar mengetahui bahwa tombol itu ada, sudah membuat kita jauh lebih baik. Jauh lebih tenang. Perbanyaklah tombol-tombol ini dalam hidup, yang bisa berwujud dalam kehadiran teman, keluarga, guru, rekan kerja, dan lainnya. Dan yang terpenting: jangan pernah ragu menjadi tombol bagi orang lain.

Mereka-mereka yang tak Seberuntung Itu

Yang juga menarik di buku ini adalah kesadaran Sheryl, bahwa ia beruntung memiliki keamanan finansial dan teman-teman serta keluarga yang amat mendukungnya. Mark Zuckerberg dan segenap rekan kerjanya di Facebook. Malala Yousafzai. Elon Musk. Adam Grant. Bill Gates. Dan sekian banyak lagi orang-orang hebat yang ada di sekitarnya. Ia sadar bahwa yang ia lalui memang berat, namun masih banyak orang-orang lain yang tidak seberuntung dirinya. Para wanita yang menjadi orangtua tunggal. Para imigran yang terbebani diskriminasi. Para minoritas di negara dunia ketiga.

alex-wigan-16999-unsplash
Photo by Alex Wigan on Unsplash

Untuk itu ia tidak sekalipun mencoba berkata bahwa pengalamannya dan pelajarannya adalah yang paling benar. Buku ini pun tidak hanya berisi pengalaman Sheryl, tapi juga pengalaman sekian banyak orang yang menghadapi hal-hal tak terkira dalam hidupnya. Orangtua yang kehilangan anaknya. Penyintas bunuh diri. Orang yang keluarganya dibunuh atau menjadi korban aksi terorisme. Penyintas pemerkosaan. Cerita dari Amerika. Eropa. Hingga Asia dan Afrika.

Akhir kata, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca setiap orang. Karena kehilangan dan kesukaran hidup bukanlah masalah “jika” yang belum tentu datang. Ia hanya menunggu waktu, yang pada suatu titik dalam hidup akan kita jumpai. Resiliensi, atau ketabahan / daya lenting dalam bahasa Indonesianya, bukanlah suatu kemampuan yang datang tiba-tiba. Ia seperti otot yang perlu kita latih. Sehingga jika saatnya tiba, kita jauh lebih siap. Selamat membaca!

Judul buku: Option B: Facing Adversity, Building Resilience, and Finding Joy

Penulis: Sheryl Sandberg dan Adam Grant

Terbit: April 2017

Penerbit: Knopf Doubleday

Tebal: 240 halaman

Jakarta, 1 Maret 2018

Okki Sutanto

Anna Akana Yang Mengena

Screen Shot 2018-02-24 at 6.55.50 AM

Sebagai pembaca setia 9gag dan hobi berselancar ga juntrung di internet, nama Anna Akana tidak asing bagi saya. Video Youtubenya beberapa kali melintas, dan wajahnya yang oriental dan mata kucingnya cukup mudah diingat. Selain kreator Youtube, ia juga artis, stand-up comedian, serta pebisnis dan penulis. Sekilas mirip-mirip dengan Ali Wong lah (penulis serial televisi Fresh Off The Boats), sama-sama oriental (Anna keturunan Jepang dan Ali keturunan Vietnam), komika wanita di Amerika Serikat yang banyak bekerja di industri TV, juga banyak mengeksplor seksualitas dengan cerdas dalam materi humornya.

Terakhir saya lihat Anna sepertinya di film Ant Man. Maka ketika kemarin melihat bukunya di toko buku, saya penasaran untuk ikut membacanya. Apalagi dari judul dan sinopsisnya, yang mengeksplorasi bagaimana sebuah pengalaman traumatik (adiknya meninggal bunuh diri kala remaja), bisa meninggalkan bekas, membentuk kita, dan membuat kita berada di titik kekinian dalam hidup.

Anna Akana GIF

Saya pribadi amat menyukai bukunya, karena temanya yang cukup luas. Tentang kesehatan mental. Tentang menjadi penyintas bunuh diri. Tentang menjadi kreator. Tentang pencarian identitas dan perjuangan memasuki masa dewasa. Tentang bisnis, relasi, dan seksualitas. Khas memoir sebenarnya, agak meluas dengan benang merahnya ya perjalanan hidup sang penulisnya. Cuma ini juga yang jadi kelemahan buku ini. Temanya terlalu luas. Tidak semua orang punya ketertarikan akan itu semua. Saya juga jadi bingung kalau harus merekomendasikan buku ini kepada siapa. Tidak ada target spesifik.

Pada mereka-mereka yang pernah ditinggal oleh orang terdekatnya karena bunuh diri? Bisa sih, tapi eksplorasi di sana tidak terlalu mendalam juga. Meski Anna berulang kali menyatakan bahwa buku ini didedikasikan dan terinspirasi oleh adiknya yang meninggal bunuh diri, nyatanya hampir 80% dari buku ini sama sekali tidak terkait itu.

Pada mereka-mereka yang ingin menjadi Youtuber? Bisa sih, di tataran inspirasi dan membuka wawasan. Karena pengalaman Anna yang luas. Dari membuat konten sendiri. Berkolaborasi. Membuat film pendek. Menerima sponsor. Menjual kontennya ke Netflix. Dan lainnya. Jika mencari tips praktikal ya tidak terlalu mendalam juga.

Screen Shot 2018-02-24 at 7.40.57 AM

Pada remaja dan dewasa muda yang kesulitan menavigasikan hidup di masa kini? Kurang tepat juga. Karena selain konteksnya sangat Amrik sekali, banyak pelajaran dari Anna yang terlalu unik dan kurang aplikatif bagi anak muda kebanyakkan. Tapi bagian relasi-relasi yang beracun (toxic relationship) bagus juga, sih.

Terlepas dari itu semua, buku ini ditulis dengan bahasa yang renyah dan sederhana, sekaligus cerdas dan jenaka. Bisa dinikmati tanpa harus banyak mikir, meski ada juga isu yang turut mengajak kita berpikir.

Buat saya buku ini mengena. Terlebih di bagian depresi, saat Anna ogah-ogahan mengakui bahwa dirinya depresi dan menolak mengikuti saran dari terapisnya. Kalimat dari terapisnya ini akhirnya menyadarkan ia:
“Tekanan darah saya tinggi. Hal ini genetis, dan memang ada di keluarga saya. Kalau saya tidak mengkonsumsi obat-obatan hipertensi, saya akan sengsara. Apa saya akan mati tanpa obat? Tentu tidak. Tapi itu membuat hidup saya jadi jauh lebih mudah. Sama seperti depresimu. Apakah antidepresan akan membuat depresimu hilang? Tidak juga. Tapi yang pasti akan membuat hidupmu jauh lebih mudah.”

Di saat itulah Anna tersadar, bahwa mengkonsumsi obat antidepresan penting. Ia akhirnya meminum Lexapro dan merasakan manfaat darinya. Tidak ada lagi kecemasan konstan akan hal-hal tak relevan. Pikiran lebih ringan. Tidur lebih mudah.

Hal lain yang saya suka adalah kedewasaan Anna untuk ukuran wanita usianya (28, sama kayak saya kelahiran 89). Ia berbagi pelajaran tanpa menggurui. Dan meyakini bahwa cara dan pilihannya bukanlah satu-satunya cara yang paling benar. Ia meyakini bahwa setiap orang punya caranya sendiri, punya keunikan sendiri, tanpa perlu dibebani dengan penghakiman dari kita. Ia tidak berusaha menjadi kompas moral, tapi lebih menjadi seorang kakak yang berbagi pengalaman hidup untuk adiknya. Satu hal yang makin kesini makin sulit ditemukan, kala kebanyakkan orang berlomba menjadi guru dan menjadi yang paling benar.

 

Singapura, 24 Februari 2018
Okki Sutanto

Hai Gie

freddy-castro-133326
Photo by Freddy Castro on Unsplash

Gie, apa kabar? Lama sudah ku tak menulisimu. Atau sekadar menyapa. Semoga kau tenang di sana, Gie. Usah resah. Sudah cukup kau resah semasa hidup. Kala menjadi mahasiswa, aktivis, pun dosen. Benar katamu, orang-orang seperti kita ini memang senantiasa resah. Ya hidup, kampus, pergerakan, pun negara kita resahkan. Padahal siapa kita ini coba? Hobi kok resah, dasar aneh. Ya tapi lebih baik resah deh ya, daripada apolitis dan apatis karena enggan berpikir kritis.

Di sana ada bioskop gak, Gie? Kalau ada, coba kau tonton Dilan, Gie. Ku ingin tahu komentarmu tentang film itu. Masak katanya rindu itu berat, Gie. Pun memukul guru dan membakar sekolah itu boleh, selama punya pembenaran. Sekeras-kerasnya kau semasa muda, juga pernah menulis “dosen yang tidak bisa dikritik lebih baik masuk tong sampah”, rasanya kita masih tahu adab dan batasan, ya. Tapi ya begitulah, Gie. Zaman sudah banyak berubah. Lelaki semacam Dilan justru kini digandrungi. Coba tonton film itu, lalu kita diskusikan. Kau masih suka diskusi film, kan?

Ya, banyak sudah berubah kini. Naik gunung sudah jadi gaya hidup, Gie. Ramai sekali gunung-gunung itu setiap akhir pekan. Dan tidak hanya komunitas pecinta alam, kini virus menggunung sudah mewabah. Sayangnya, sebagian besar tidak naik gunung untuk menyatu dengan alam atau membumi ke masyarakat. Mereka hanya mencari latar foto yang bisa dipandang unik dan keren oleh teman-temannya, dan kebetulan saja mereka memilih gunung. Untunglah zamanmu dulu belum ada Instagram, Gie. Bisa-bisa kau terusik naik gunung bersama mereka.

Belakangan sedang ramai, Gie, tentang adik kelasmu yang berjaket kuning. Tingkahnya menggelikan, ia menyemprit peluit dan memberikan kartu kuning pada kepala negara. Katanya bentuk protes, Gie. Hah? Kau bingung? Sama, Gie. Ku pun. Kenapa tak menulis di media seperti kita semasa mahasiswa dulu? Jangan bertanya padaku, Gie. Tanyalah sana pada adik kelasmu itu.

Ramai respon masyarakat, Gie. Banyak yang mencibir, termasuk aku. Tidak sedikit yang memuji karena katanya heroik dan berani, Gie. Ah, taik kucing mereka itu. Mengobral label heroik dan berani demikian murahnya. Kalau mau protes begitu sih tidak perlu mahasiswa, ya. Tukang parkir juga bisa sekadar menyemprit peluit ke presiden. Sungguh sensasi yang kosong esensi. Tidak lebih dari erupsi emosi yang minim aksi. Setuju kau, Gie?

Sekian dulu, Gie. Masih banyak sebenarnya yang ingin kuceritakan. Tapi biarlah itu nanti di surat-surat berikutnya. Tak ingin ku mengganggu istirahatmu lebih dari ini. Selamat menikmati kedamaian, Gie.

Jakarta, 9 Februari 2018
Okki Sutanto

Menelan Dilan Pelan-pelan

Dilan1990
Dari: http://img.jakpost.net/

Kali ini saya harus berterima kasih banyak pada media sosial. Karena begitu masifnya hiruk pikuk dan meme tentang Dilan dan Milea, akhirnya kemarin saya menyempatkan diri menonton Dilan 1990. Terima kasih untuk seratus delapan menit yang penuh nostalgia dan rasa syukur. Ya, rasa syukur. Syukurlah saya ga gitu-gitu amat zaman dulu. hehehe..

Menonton Dilan 1990 ya mau gak mau nostalgia ke masa SMA. Datang pagi ke sekolah naik motor demi ngelihat si doi? Pernah. Disetrap pas upacara karena baju ga rapih? Iya. Menyusup ke kelas lain dan kepergok guru? Pernah. Ngejar-ngejar anak pindahan dari kota lain? Nulis surat dan puisi? Berantem gara-gara cewek? Iyes.

Pernah semua deh rata-rata, eh tapi gak semua pas SMA sih. Ada yang pas SMP dan juga SD. Ya intinya masa sekolah lah. Gak terlalu signifikan juga, toh banyak gombalan dan obrolan di Dilan 1990 yang lebih cocoknya buat anak SD atau SMP.

Yang beda adalah jika Dilan beruntung menemukan gadis selugu dan sefiksional Milea, sayangnya saya tidak.

Coba saya samperin cewek baru pindah sekolah lalu ujug-ujug ngomong: “Saya ramal kita akan ketemu di kantin nanti”, yakinlah jawabannya tidak akan seperti di film. Mentok-mentok “JANGAN NGIKUTIN GUA LU STALKER!” atau “YA IYALAH DI KANTIN, KALO DI WC CEWEK KRIMINAL!” atau minimal dicuekin karena SKSD banget sih itu sumpah.

Untungnya Dilan bertemu Milea. Cewek yang tidak cerdas-cerdas amat padahal rajin baca buku. Cewek plegmatis yang ga bisa mengambil keputusan, padahal udah jelas pacarnya di Jakarta itu ga seru dan ga ada bagus-bagusnya selain bapaknya tajir. Cewek PHP yang baik ke semua cowok, padahal tahu semua cowok itu menaruh harapan. Tidak sulit berkata tegas dan menarik batasan yang jelas bahwa ia cuma menganggap mereka sebagai teman, tapi tidak tuh.

Lagi-lagi ini membawa saya ke masa SMP. Kala seorang cewek cantik bilang ke saya bahwa “Ga apa si Doni PDKT-in gua, gua mao tahu dia nembaknya gimana nanti.” Padahal dia jelas-jelas ga suka sama si Doni. Kan nyebelin yak. Padahal si Doni itu teman baik saya. Tapi ya seru juga sih emang liat dia PDKT dan nembak tapi ujung-ujungnya ditolak. haha.. Sadis juga saya ini.

Di balik semua keunikan dan kegombalan maha recehnya, Dilan itu ya bocah biasa. Tipikal berandal yang punya kebutuhan tinggi untuk jadi beda. Yang disalurkan melalui membaca sekian banyak buku, nulis puisi dan surat-surat romantis, dan……tawuran. Iya men, tawuran! Agak ga nyambung sih. Ibarat Rangga yang diam-diam ternyata panglima FPI. Atau Gie ternyata seorang pebalap liar. Tapi yaudahlah, namanya juga film.

Apalah saya ini cuma martabak keju kalau kata Dilan. Intinya saya ngiri kan pas zaman SMA gak ketemu Milea saya? Iya lah. Satu-satunya pelipur lara selama seratus delapan menit itu ya melihat cantik dan ayunya Milea. Cantiknya khas Sunda pula. Mojang Bogor-Bandung gitu. Gravitasinya kuat banget kalau buat saya euy! hehe..

Yah, akhir kata silakan menonton Dilan 1990. Tapi telanlah ia pelan-pelan, penuh kekritisan, karena bagaimanapun selalu ada jarak antara fiksi dan realita.

 

Jakarta, 30 Januari 2018
Okki Sutanto