BAHAYA BAHAGYA

(Photo by Josh Felise on Unsplash)

 

Kemarin kita baru saja memperingati hari bahagia internasional. Buku-buku laris di toko buku tak sedikit yang membahas kebahagiaan. Seminar dan pelatihan, belum lagi kelas-kelas edukasi, turut berlomba mengajarkan kebahagiaan. Iya bahagia itu penting. Tapi tak perlulah terfiksasi berlebih pada pencarian bahagia. Apa yang overrated akan mencapai titik jenuhnya.

Gak ada yang menyangkal bahagia itu penting dan baik bagi anda. Bahwa orang yang bahagia lebih sehat. Fisik pun psikologis. Luar dan dalam. Iya, gak salah kok. Tubuh dan pikiran itu dua entitas yang tak terpisah. Salah satu sakit ya yang lainnya ikutan. Kalau pikiran sudah tidak bahagia dan isinya yang buruk-buruk terus, ya hanya tunggu waktu saja tubuh pun memburuk. Baru saja kemarin ada om-om yang curhat di toko saya, bilang bahwa sejak pensiun satu per satu penyakitnya hilang. Tidak ada lagi beban pikiran. Bahagia lantas sehat.

Yang jadi bahaya adalah saat pencarian bahagia dikomersilkan, diglorifikasi berlebih, hingga menimbulkan ilusi-ilusi tak sehat bagi kita semua. Bahwa mencari kebahagiaan dan senantiasa bahagia adalah suatu kewajiban. Bahwa hidup anda belumlah hakiki ketika belum mencapai kebahagiaan nan sempurna. Nah, bahaya kan.

Karena manusia adalah makhluk dualistik yang jarang berada di satu titik spektrum saja. Senang dan sedih. Bahagia dan tidak. Suka dan benci. Tertawa dan menangis. Hidup itu terus berubah dan kita bergerak dari satu ujung spektrum ke ujung lainnya. Senantiasa. Ya sah-sah saja hari ini bahagia dan besok tidak. Sekarang menangis dan satu jam lagi tertawa. Homeostasis, keajegan untuk berada di satu kondisi saja, bisa jadi malah tidak sehat.

Kebahagiaan itu elusif. Saya suka sama salah satu tulisan yang saya lupa bacanya dimana. Kebahagiaan itu ibarat kupu-kupu yang sedang hinggap di pundak kita. Satu momen ia ada, lantas ia menghilang. Mau coba menangkapnya? Jangan-jangan malah kita menghancurkan dan membunuh kupu-kupu itu. Yang terpenting adalah menikmati kedatangannya, dan mengizinkannya pergi jika sudah saatnya. Sama kayak kebahagiaan. Usaha berlebih untuk mencari dan menjaganya bisa jadi malah menghancurkan kebahagiaan itu sendiri.

Lagipula dunia tidak bergerak maju di tangan orang-orang yang fokus hidupnya mencari kebahagiaan. Di balik setiap revolusi, penemuan-penemuan penting, pun kemajuan bersejarah, ada manusia-manusia yang diliputi kemarahan. Keresahan. Ketidakadilan. Penderitaan. Kalau Soekarno semasa hidupnya cuma fokus mencari kebahagiaan dirinya sendiri, mungkin kita belum merdeka. Kalau Einstein semasa hidupnya cuma fokus mencari formula kebahagiaan, mungkin dunia belum semaju ini. Ya gitu deh ngerti kan ya.

Jadi, sudahkah Anda bahagia? Kalau sudah ya bagus. Belum juga ga apa. Dunia terus berputar kok mau kita bahagia ataupun enggak. Yang baik dan buruk akan senantiasa datang. Hadapi dan nikmati saja. Saya gak protes kalau kita semua bahagia. Hanya saja jangan-jangan hidup tidak sekadar itu saja. Ye gak?

Jakarta, 21 Maret 2018
Okki Sutanto

Lingkaran Setan FPI

Photo by Bank Phrom on Unsplash

Membahas FPI itu seperti membahas kemiskinan atau kebodohan. Yang terjadi adalah lingkaran setan. Muter doang, ga kemana-mana. Ga faedah. Jalan di tempat. Hulu jadi hilir. Penyebab jadi dampak, lalu balik lagi jadi penyebab.

Ga punya uang maka pendidikan seadanya. Pendidikan seadanya maka kesempatan kerja juga seadanya. Kesempatan kerja seadanya maka pendapatan seadanya. Ya udah muter aja terus di situ. Selama negara gak hadir dan keadilan sosial belum terwujud, hampir setiap yang terlahir miskin ya akan di situ-situ aja. Lingkaran setan.

Sama halnya dengan kebodohan. Orang bodoh itu gak sadar mereka itu bodoh. Ga punya kemampuan mawas diri dan refleksi bahwa ada kebenaran lain di luar dirinya. Mau dikasih tahu bagaimana pun sama yang lebih pintar juga ujung-ujungnya defensif dan marah. Jadinya ya gak akan pintar-pintar. Terus aja bodoh dan bagi-bagiin berita hoax tiap hari. Yang bodoh makin bodoh. Berkutatnya di seputaran kenapa bumi itu datar dan kenapa ngucapin selamat natal itu haram.

Dan hal yang mirip-mirip terjadi seputaran FPI. FPI itu cuma organisasi masyarakat loh. Jumlah ormas itu banyak banget. Dan ga ada yang salah dengan ormas. Tapi kenapa kok kesannya FPI buruk banget dan sering banget bikin rusuh? Ya karena media gak pernah adil pada mereka. Tidak adil sejak masih di pikiran kalo kata Pram. Gak terpelajar.

Dari dulu yang diberitain dan digaungkan saat FPI ngerusuh doang. Pernah gak aksi-aksi sosial mereka disebut? Saat FPI berjibaku turun ke lapangan sehabis tsunami Aceh, jadi salah satu yang terdepan mencari jenazah korban tsunami? Saat aksi-aksi amar ma’ruf nahi munkar mereka betulan membasmi kemaksiatan di daerah-daerah dimana penegak hukum gak bisa diandalkan? Gak toh?

Yang diberitain kalau mereka bakar-bakaran. Demo-demoan. Bego-begoan. Terus situ berharap siapa yang jadi tertarik dan mau gabung sama FPI kalau gitu? Akademisi? Penemu bohlam? Dokter spesialis? Ya kagak lah tong. Jadinya ya ampas-ampas masyarakat yang tertarik sama FPI. Yang tertarik karena citra buruknya yang dibentuk sama media.

Jadinya semacam self-fulfilling prophecy juga, kan. FPI dicap sebagai tukang rusuh. Diperlakukan seperti tukang rusuh. Dimusuhin karena tukang rusuh. Ya jadinya tukang rusuh beneran lah. Situ guru? Coba aja sana ada murid yang dari awal situ cap bego. Situ anggep bego. Gak pernah dipeduliin. Lama-lama juga bego beneran dia. Itu mekanisme self-fulfilling prophecy. Jangan dicobain beneran, plis.

Maka saya sih gak heran kalau belakangan FPI sedang dimusuhi lagi karena berseteru dengan Tempo. Saya ga nyalahin Tempo pasti, tapi juga jadi sulit menyalahkan FPI. Wong dia dianaktirikan sama media sekian lama. Orang-orang baiknya juga keburu males kali berbenah di dalem. Udah terlanjur ancur. Jadinya yang bertahan ya yang emang suka rusuh.

Ya gitu deh kalau menurut saya mah. Jangan tanya solusi, saya juga bingung udah keburu kusut ini mah. Intinya ke depannya janganlah kita (dan media) ciptakan FPI-FPI berikutnya. Adillah sejak dalam pikiran. Benci perilakunya boleh tapi jangan benci pelakunya. Kalau kadung benci sama pelakunya, mau sebaik apapun dia ya gak akan kita anggap baik. Susah? Ya iya. Kapan sih idup itu gampang.

 

Jakarta, 19 Maret 2018.
Okki Sutanto

 

Psikologi dan Segenap Mitologinya

gaelle-marcel-8992
Photo by Gaelle Marcel on Unsplash

 

Ada banyak mitos dan salah kaprah terkait Psikologi di luar sana. Hal ini tentu ga sehat, baik bagi yang menjalaninya entah sebagai mahasiswa pun praktisi, juga bagi masyarakat yang mempersepsikannya. Ga sehat karena bisa menimbulkan ekspektasi tidak logis terhadap mereka-mereka yang belajar Psikologi. Buat masyarakatnya juga ga sehat, membuat adanya jarak dan tembok yang sebetulnya ga perlu.

Berikut sejumlah mitos yang rasa-rasanya sudah boleh ditenggelamkan jauh-jauh ke dasar laut. Semoga berguna buat yang baru mau kuliah Psikologi, baru mau ngegebet mahasiswa Psikologi, atau yang udah lagi kuliah tapi bingung kok belum bisa baca pikiran dan telepati.

MEMBACA ORANG
Ga kok, belajar Psikologi ga serta merta membuat seseorang jadi jago membaca orang. Apalagi bisa baca pikiran orang yang baru kenal. Kalau dilatih untuk bisa mengamati manusia dan perilakunya, iya ga salah. Belajar memahami dan berempati sama orang lain juga iya betul. Tapi itu semua butuh proses dan latihan yang panjang. Jangan menganggap mereka itu kayak Sherlock, yang cukup lihat sekilas udah tahu bahwa kamu itu namanya siapa, pekerjaannya apa, mau makan apa, dan kalau ulang tahun mau kado apa.

PSIKOLOG & PSIKIATER
Nah ini juga seringkali dianggap sama. Tapi nyatanya beda loh. Semua mahasiswa Psikologi yang menyelesaikan jenjang S1 akan berakhir menjadi Sarjana Psikologi. BUKAN Psikolog! Psikolog itu perlu studi lanjut lagi, magister profesi namanya. Jadi, semua yang S2 di bidang Psikologi pasti jadi Psikolog? Gak juga. Ada program S2 yang non profesi, seperti yang saya ambil. Programnya itu Magister Sains, fokusnya umumnya lebih ke keilmuan dan riset.

Lantas Psikiater itu apa? Nah kalau itu jalurnya dari studi kedokteran, yang lantas mengambil spesialisasi kejiwaan. Keduanya bisa saja bekerjasama, tapi masing-masing memiliki tugas, pendekatan, dan lingkup wewenang yang berbeda tentunya. Misalnya nih, seorang Psikolog tidak berwenang memberikan preskripsi obat-obatan bagi kliennya, tapi Psikiater bisa. Ini contoh yang paling gampang, tapi tentu bukan cuma ini bedanya.

JAGO HIPNOTIS!
Ini juga mungkin cukup mengejutkan ya buat beberapa orang. Tapi ya, ini keliru. Jangan keburu minta tolong sama temen situ yang kuliah Psikologi untuk hipnotis gebetan kalian biar jatuh ke pelukan kalian. Plis deh, itu mah pelet namanya.

Jadi, sebagai sebuah ilmu pengetahuan, di Psikologi hanya mempelajari teori dan metode yang ilmiah. Apa syarat ilmiah? Salah satunya bisa direplikasi. Bisa diuji dan diulang di berbagai kondisi dengan hasil yang sama. Cukup banyak produk pseudosains (seakan-akan ilmiah padahal tidak) yang dikira bagian dari Psikologi, termasuk hipnotis, baca garis tangan, baca tulisan, dan lainnya. Ini bukan berarti semua hal itu sudah pasti salah loh, nggak gitu juga. Bisa jadi ada yang berhasil, juga ada bukti-bukti yang mendukung, tapi sampai detik ini Psikologi secara keilmuan belum mempelajari hal tersebut.

MELULU GANGGUAN JIWA
Belajarnya tentang gangguan jiwa, magangnya ke RSJ, kerjanya juga nanti menangani kasus gangguan jiwa saja. Gak, ini sama sekali tidak benar. Bahwa itu merupakan salah satu hal yang dipelajari di Psikologi, ya betul. Tapi Psikologi ga semata tentang gangguan jiwa. Dan Psikolog ga hanya menangani kasus-kasus demikian.

Mitos ini yang bahaya, membuat orang enggan konseling atau ke Psikolog karena takut dianggap memiliki gangguan jiwa. Akhirnya banyak yang nunggu “parah banget” baru dengan “terpaksa” ke Psikolog. Padahal, gak ada salahnya lho mendeteksi dan mengelola masalah emosional dan psikis sedini mungkin. Batuk pilek saja banyak kan yang ke dokter, kenapa stres atau tertekan perlu takut ke Psikolog? WHO saja sudah menyatakan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

CUMA BISA JADI HRD!
Eits, jangan salah. Meski banyak lulusan Psikologi yang terjun ke dunia HRD atau Sumber Daya Manusia, pilihan karir setelah lulus itu beragam banget. Gak sedikit yang menjadi guru PAUD atau ABK, jurnalis, konsultan, pengusaha, penulis, peneliti, juru masak, desainer grafis, pekerja kreatif, aktivis LSM, dosen, artis, pekerja perbankan, marketing, ibu rumah tangga, relasi publik, dan masih banyak lagi! Ilmu yang didapat pas kuliah itu seputaran memahami manusia memang, tapi bagaimana ilmu itu kalian pakai setelah lulus ya suka-suka kalian. Buat saya sih, selama di bidang pekerjaan itu ada aspek manusianya, ya ilmu Psikologi kepakai-kepakai saja sih.

Sebenarnya masih banyak mitos keliru yang berkaitan dengan Psikologi. Mungkin tulisan ini akan saya lanjutkan di kemudian hari. Takutnya kepanjangan, kasihan kan yang baca nanti terhipnotis jadi tidur. hehe..

Apa mitos yang sering kamu dengar?

Yuk kita bahas bareng.

#CelotehPsikologiBersambung
Tulisan Ketiga.

 

Singapura, 15 Desember 2017
Okki Sutanto

How to Get Away with Corruption!

Step one: discredit the witness. Step two: introduce a new suspect. Step three: bury the evidence. That’s how you get away with murder. Demikianlah kalimat sakti dari Annalise Keating, sang profesor hukum sekaligus pengacara, ketika mengawali kuliah di depan ratusan mahasiswanya, di episode pertama serial drama televisi produksi ABC yang sedang hangat di Amerika.

Saran yang amat dipertanyakan moralitasnya itu diucapkan tanpa ragu, berdasarkan pengalaman menjadi praktisi dan akademisi hukum selama bertahun-tahun. Ya, siapapun tahu, hukum tak selalu menjunjung tinggi etika, apalagi moralitas. Selalu ada celah dalam sebuah sistem hukum, dimana kebenaran amat bergantung pada saksi, tersangka, bukti, juri, dan penegak hukum, yang tentunya selalu punya ruang untuk dimanipulasi dan diagendakan.

Serial drama How to Get Away with Murder tersebut, seberapapun seru dan bagusnya, baik dari segi rating, kritik, maupun penghargaan, tentu kalah seru dengan drama politik yang sedang berlangsung di negeri ini. Dua institusi penegak hukum, Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sedang berseteru hebat dengan plot, karakter, hingga kejutan yang mengalahkan sinetron manapun.

Semua bermula dari penetapan Budi Gunawan, sang calon Kapolri yang sudah diusulkan Jokowi dan disetujui DPR, sebagai tersangka korupsi oleh KPK. Semenjak itu, sejumlah jurus dan manuver pun dilancarkan entah oleh Budi, Ibu Budi, atau Kawan-kawan Budi. Melihat segala macam manuvernya, mau tak mau, saya teringat kalimat sakti di awal tulisan ini, yang teramat mirip.

Step one: discredit the witness (law enforcer). Selang sehari setelah penetepan Budi sebagai tersangka, muncul serangan terhadap Ketua KPK, Abraham Samad. Serangan berupa foto-foto mesra palsu dengan Puteri Indonesia. Diikuti serangan dari Plt. Sekjen PDI-P yang menyatakan pertemuan rahasia Abraham Samad dengan petinggi PDI-P di masa Pemilu lalu, dan ambisi Samad menjadi Wakil Presiden Jokowi. Belum lagi serangan dari Istana yang menyatakan KPK bermain politik praktis dan mengincar Budi Gunawan. Intinya, sejumlah serangan tersebut mendiskreditkan Abraham Samad secara individu maupun KPK secara institusi.

Step two: introduce a new suspect (target). Drama makin seru ketika Wakil Ketua KPK, Bambang Widjonanto, ditangkap dengan tuduhan membuat saksi memberikan keterangan palsu di persidangan. Kasus lama bertahun-tahun lalu, yang diadukan oleh politisi gagal, dan diproses oleh Polri lebih cepat dari delivery KFC, dengan prosedur yang lebih aneh dari sinetron Indonesia manapun. Media dan masyarakat pun diperkenalkan dengan target dan tersangka baru: para pimpinan KPK. Segera setelah Bambang, satu per satu pimpinan KPK lain pun diadukan ke polisi atas kasus aneh bertahun-tahun lalu, oleh pelapor yang entah mencari popularitas atau memang mendapat “instruksi” entah dari mana.

Step three: bury the evidence. Hingga kini drama belum usai. Tahap terakhir, pengaburan dan penghilangan bukti, masih belum sempurna dilaksanakan. Setelah pasukan gelap gagal “menyerbu” gedung KPK dan rumah ketua PPATK, dimana bukti-bukti kasus Budi potensial berada, jurus lain masih diusahakan. Saksi-saksi kasus Budi, para perwira yang dekat atau anak buah Budi, yang sudah dua kali dipanggil oleh KPK, mangkir dari panggilan, dan hingga kini entah dimana keberadaannya. Perusahaan-perusahaan terkait transaksi tak wajar Budi dan anaknya, sudah berstatus bangkrut / tutup dan tidak jelas rimbanya, termasuk perusahaan finansial asal Australia yang mengucurkan kredit puluhan miliar rupiah kepada anak Budi beberapa tahun silam.

Demikianlah. Formula yang mirip, dipraktikan dengan segala adaptasinya untuk drama bertajuk How to Get Away with Corruption di negeri ini. Drama jelas belum usai, entah akan sampai episode dan musim keberapa ini baru akan usai. Harapan publik jelas, kedua institusi tidak bergesekan, dan KPK tidak dilemahkan. Dan pemain kunci yang bisa membuat segalanya berubah, masih kita tunggu aksinya. Apapun itu, semoga tidak merupakan kompromi terhadap partai pendukung atau mafia hukum dan korupsi di Indonesia. Semoga.