Anna Akana Yang Mengena

Screen Shot 2018-02-24 at 6.55.50 AM

Sebagai pembaca setia 9gag dan hobi berselancar ga juntrung di internet, nama Anna Akana tidak asing bagi saya. Video Youtubenya beberapa kali melintas, dan wajahnya yang oriental dan mata kucingnya cukup mudah diingat. Selain kreator Youtube, ia juga artis, stand-up comedian, serta pebisnis dan penulis. Sekilas mirip-mirip dengan Ali Wong lah (penulis serial televisi Fresh Off The Boats), sama-sama oriental (Anna keturunan Jepang dan Ali keturunan Vietnam), komika wanita di Amerika Serikat yang banyak bekerja di industri TV, juga banyak mengeksplor seksualitas dengan cerdas dalam materi humornya.

Terakhir saya lihat Anna sepertinya di film Ant Man. Maka ketika kemarin melihat bukunya di toko buku, saya penasaran untuk ikut membacanya. Apalagi dari judul dan sinopsisnya, yang mengeksplorasi bagaimana sebuah pengalaman traumatik (adiknya meninggal bunuh diri kala remaja), bisa meninggalkan bekas, membentuk kita, dan membuat kita berada di titik kekinian dalam hidup.

Anna Akana GIF

Saya pribadi amat menyukai bukunya, karena temanya yang cukup luas. Tentang kesehatan mental. Tentang menjadi penyintas bunuh diri. Tentang menjadi kreator. Tentang pencarian identitas dan perjuangan memasuki masa dewasa. Tentang bisnis, relasi, dan seksualitas. Khas memoir sebenarnya, agak meluas dengan benang merahnya ya perjalanan hidup sang penulisnya. Cuma ini juga yang jadi kelemahan buku ini. Temanya terlalu luas. Tidak semua orang punya ketertarikan akan itu semua. Saya juga jadi bingung kalau harus merekomendasikan buku ini kepada siapa. Tidak ada target spesifik.

Pada mereka-mereka yang pernah ditinggal oleh orang terdekatnya karena bunuh diri? Bisa sih, tapi eksplorasi di sana tidak terlalu mendalam juga. Meski Anna berulang kali menyatakan bahwa buku ini didedikasikan dan terinspirasi oleh adiknya yang meninggal bunuh diri, nyatanya hampir 80% dari buku ini sama sekali tidak terkait itu.

Pada mereka-mereka yang ingin menjadi Youtuber? Bisa sih, di tataran inspirasi dan membuka wawasan. Karena pengalaman Anna yang luas. Dari membuat konten sendiri. Berkolaborasi. Membuat film pendek. Menerima sponsor. Menjual kontennya ke Netflix. Dan lainnya. Jika mencari tips praktikal ya tidak terlalu mendalam juga.

Screen Shot 2018-02-24 at 7.40.57 AM

Pada remaja dan dewasa muda yang kesulitan menavigasikan hidup di masa kini? Kurang tepat juga. Karena selain konteksnya sangat Amrik sekali, banyak pelajaran dari Anna yang terlalu unik dan kurang aplikatif bagi anak muda kebanyakkan. Tapi bagian relasi-relasi yang beracun (toxic relationship) bagus juga, sih.

Terlepas dari itu semua, buku ini ditulis dengan bahasa yang renyah dan sederhana, sekaligus cerdas dan jenaka. Bisa dinikmati tanpa harus banyak mikir, meski ada juga isu yang turut mengajak kita berpikir.

Buat saya buku ini mengena. Terlebih di bagian depresi, saat Anna ogah-ogahan mengakui bahwa dirinya depresi dan menolak mengikuti saran dari terapisnya. Kalimat dari terapisnya ini akhirnya menyadarkan ia:
“Tekanan darah saya tinggi. Hal ini genetis, dan memang ada di keluarga saya. Kalau saya tidak mengkonsumsi obat-obatan hipertensi, saya akan sengsara. Apa saya akan mati tanpa obat? Tentu tidak. Tapi itu membuat hidup saya jadi jauh lebih mudah. Sama seperti depresimu. Apakah antidepresan akan membuat depresimu hilang? Tidak juga. Tapi yang pasti akan membuat hidupmu jauh lebih mudah.”

Di saat itulah Anna tersadar, bahwa mengkonsumsi obat antidepresan penting. Ia akhirnya meminum Lexapro dan merasakan manfaat darinya. Tidak ada lagi kecemasan konstan akan hal-hal tak relevan. Pikiran lebih ringan. Tidur lebih mudah.

Hal lain yang saya suka adalah kedewasaan Anna untuk ukuran wanita usianya (28, sama kayak saya kelahiran 89). Ia berbagi pelajaran tanpa menggurui. Dan meyakini bahwa cara dan pilihannya bukanlah satu-satunya cara yang paling benar. Ia meyakini bahwa setiap orang punya caranya sendiri, punya keunikan sendiri, tanpa perlu dibebani dengan penghakiman dari kita. Ia tidak berusaha menjadi kompas moral, tapi lebih menjadi seorang kakak yang berbagi pengalaman hidup untuk adiknya. Satu hal yang makin kesini makin sulit ditemukan, kala kebanyakkan orang berlomba menjadi guru dan menjadi yang paling benar.

 

Singapura, 24 Februari 2018
Okki Sutanto

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s