Mengulas Incurable

Screen Shot 2018-06-11 at 8.08.14 PM

Kali ini, mari kita bahas sebuah buku. Novel pertama karya Stella Azasya, seorang penulis muda dari Surabaya. Saya pertama kali mengenal Stella dari karya tulisannya yang lain, di media tempatnya bekerja. Lantas saya ikuti dia (setidaknya di Media Sosial, soalnya Surabaya jauh), lalu saya beli novelnya. Biar lebih mengenal penulisnya, ceritanya. Lho, ini kita mau bahas novel apa penulisnya? Novel aja deh, ya. Biar penulisnya saya bahas di kesempatan lain. #Eh

Buat saya, membaca Incurable menjadi pengalaman pertama akan banyak hal. Ini kali pertama saya membeli buku via online. Maklum, anaknya oldschool kalau urusan buku, harus dilihat-diraba-diterawang dulu sebelum beli. Ini juga kali pertama saya membaca buku dari penerbit indie. Dengar sering, beli belum. Terakhir, ini juga kali pertama saya membaca novel perdana dari seorang penulis muda. Bukan bermaksud sombong (biasa kalimat yang diawali begini ujungnya sombong sik, maklumin aja udah), tapi saya sangat selektif dalam membaca. Kalau nonfiksi, minimal harus direkomendasikan New York Times atau Oprah. Kalau fiksi, minimal penulisnya pernah meraih penghargaan. Atau eks tapol. Atau karyanya telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Eh, ini ga lagi ngomongin Pram, kok.

Yha, bagaimanapun, dalam hidup selalu ada pengalaman pertama, bukan? Dan belum tentu pengalaman pertama berakhir buruk. Persis! Saya tidak menyesal membeli dan membaca buku ini. Iya, banyak ruang untuk perbaikan di sana-sini. Iya, gaya penulisan dan kedalaman karakter masih bisa dielaborasi. Iya, ada banyak tanya yang tidak terjawab. Tapi, nanti dulu. Mari saya ceritakan kenapa saya menyukai buku ini (bukunya ya, urusan penulisnya sih belakangan, lain kali).

Bagaimana membeli buku ini merupakan hal baru bagi saya, sudah saya ceritakan di awal. Ternyata, tak berhenti sampai di situ, buku ini juga membawa rasa dan pengalaman baru saat dibaca. Kebebasan mengeksplorasi dan kelenturan berbahasa, misalnya, membuat buku ini renyah untuk dibaca. Bahasanya sederhana, bahasa sehari-hari, akan kehidupan tiga anak manusia yang juga pada umumnya, membuat kisah Bayu, Sam, dan Bianka (Bianka pake K, bukan pake C, kenapa demikian tanya saja penulisnya) jadi amat relatable. Akan menarik dibaca oleh pembaca remaja dan dewasa muda! Problematika keseharian, yang dibungkus dengan luka masa lalu dan pergumulan batin, membuat kita menerka-nerka bagaimana akhir dari kisah ini.

Saya selalu kagum dengan mereka-mereka yang bisa menyelesaikan sebuah buku, terlebih karena saya sendiri belum sanggup. Nafasnya kurang panjang! hehe.. Begitu pun saya kagum pada Stella Azasya, yang sanggup menyelesaikan novel perdananya ini di tengah kesibukannya bekerja di media. Tapi, bukan berarti bisa berpuas diri, bukan? Saya yakin di usianya yang masih sebelia ini, ke depannya masih banyak karya lain yang bisa kita nantikan. Tapi, apa yang masih bisa disempurnakan? Nah, pertanyaan itu yang lebih penting untuk kita bahas bersama-sama.

Pertama-tama, fokus pada perkara-perkara kecil. Saya masih menjumpai beberapa kesalahan penulisan (typo), yang makin ke belakang makin banyak (saya berasumsi halaman 150 ke atas ditulis dengan lebih terburu-buru dan kurang tidur, benar tidak, Stella?). Biasanya ini urusan editor, sih. Mungkin editornya kurang minum Aqua? Bisa jadi. Pembaca awam mungkin tidak akan terlalu sadar juga, tapi karena saya bekas editor, asdos kepenulisan, dan memang hobi membaca, jadinya sulit untuk tidak terganggu.

Yang kedua, realisme dialog. Memang, bahasa lisan dan tulisan tentu berbeda, tapi ada banyak dialog sehari-hari, pun pembatinan, yang membuat saya merasa sepertinya  karakter ini sedang monolog di Salihara. Padahal tidak, sedang ngobrol biasa saja. Urusan dialog ini masih perlu dilenturkan lagi sehingga sungguh-sungguh terkesan seperti dialog dua kolega kantor pada umumnya, yang pas kuliah ga ngambil jurusan Sastra Jerman.

Yang ketiga, membangun tokoh atau karakter dengan lebih dalam dan kompleks. Oke, masing-masing karakter di novel ini punya masa lalu yang bisa dikatakan tragis. Masing-masing berhak menjadi karakter yang rumit di masa kini. Namun, pembaca (saya) masih kesulitan memahami tindak dan keputusan yang diambil di hari ini, karena kurang mendapatkan kepribadian si tokoh secara lebih utuh. Kenapa dia begini? Kenapa dia begitu? Ingin ini ingin itu, banyak sekali. Lho malah jadi nyanyi Doraemon. Mungkin cara ini membantu: membuat kuesioner detil akan tiap karakter (klik aja ada linknya). Memang sangat detil, ya gak semuanya juga harus diisi, dan lebih-lebih gak semuanya perlu dijejalkan ke pembaca. Disisipkan sedikit demi sedikit di banyak kesempatan. Bisa membantu membuat karakter kita lebih kuat dan tidak kontradiktif.

Keempat, bermain dan bereksplorasi dengan beragam gaya bercerita dan alur. Alur tidak harus senantiasa maju ke depan. Maju mundur kadang lebih sip (?). Apalagi masing-masing karakter memiliki masa lalu yang menarik untuk dibahas. Ya gak harus seekstensif The Odyssey-nya Homer juga, sih, urusan bereksplorasinya.

 

Apa pun itu, variasi membuat segala sesuatu menjadi lebih menarik, toh (?) Selain itu, dengan mengeksplorasi berbagai gaya bercerita, lambat laun kita akan menemukan gaya kita sendiri. Yang akan menjadi kekhasan dan membedakan kita dari penulis lainnya.

Demikianlah!

Sekian kiranya ulasan saya terhadap buku Incurable ini. Salut dan proficiat, Stella Azasya, atas buku perdananya! Ditunggu karya-karya berikutnya yang lebih matang, dahsyat, dan menunjukkan ciri khasmu sebagai penulis.

Semoga ulasan ini tidak dianggap lancang (lancang apanya wong saya sendiri belum pernah nulis buku kok. haha), karena jujur pembahasan di sini tidak sekejam pembahasan Dewan Kesenian Jakarta atas Sayembara Novel tahun 2016 lalu:

https://dkj.or.id/artikel/pertanggungjawaban-dewan-juri-sayembara-menulis-novel-dewan-kesenian-jakarta-2016/

 

Eh, tapi boleh banget sih dibaca sebagai pembelajaran. Ada aja yang bisa dipetik.

Demikian ulasan saya atas buku Incurable karya Stella Azasya, yang diterbitkan oleh Stilleto Book pada April 2018 lalu. Yang tertarik dan ingin membaca, silakan membelinya dari: http://www.stilettobook.com/incurable.html

Selamat menikmati!

 

Jakarta, 11 Juni 2018

REVIEW FILM RAMPAGE! DOR DOR JEGER!

rampage_ver2
Makanya pelihara kucing atau marmut aja, kalau ngamuk minimal cakar-cakar manja. Kalau gorila / buaya / serigala ngamuk kan ribet.

 

Akhir pekan lalu gue nonton Rampage. Yaaah, biasa lah tipikal film-film beginian. Setipe sama Jurassic World atau King Kong, dengan nuansa San Andreas, dimana sutradara dan pemain bintangnya kebetulan kerja bareng lagi di film ini. Ancur-ancuran, destruksi total, dan “kiamat” kecil, dimana jagoan kita berjuang menyelamatkan kota / negara / planet.

Typecast juga sih ini si Dwayne Johnson. Lelaki perkasa anti mati dengan nyawa lebih banyak dari kucing. Bahkan backstory-nya lama-lama mirip juga: ex military personnel yang kesulitan berinteraksi dengan manusia. Yah cocok-cocok aja sih. Tapi boleh lah sekali-kali jadi ex ballerina dancer gitu. Atau ex pemandu karaoke Alexis.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.47.38 AM
Inget sesuatu? Jumanji misalnya? Pilem doi sblom ini? haha.. Ada the rock di balik the rock. (?)

Jadi ceritanya si The Rock jadi pawang gorila di sebuah pusat konservasi. Doi punya sahabat baik namanya George, gorila albino langka. Si George pinter, sampe-sampe bisa berkomunikasi dengan sangat lancar menggunakan bahasa isyarat.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.50.35 AM
gitu coy. Bisa ga lu bahasa isyarat? Ga bisa kan? Makanya ga usah sok pinter. Kalah lu sama gorila. Lah, kenapa gua ngegas gini. haha..

Suatu saat, terkontaminasi sama suatu serum misterius hasil eksperimen, si George jadi agresif dan bertumbuh dengan luar biasa pesat. Dalam sehari bisa membesar berkali-kali lipat, dan bawaannya ngamuk-ngamuk ngancur-ngancurin apa aja yang bisa diancurin.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.51.16 AM
lu juga sih kayak netijen Indonesia, George. Kepo anaknya. Coba lu ga kepo megang-megang tuh benda. Aman sentosa deh.

Alhasil, George yang liar dan beringas ini menjadi ancaman nasional. Doi diincar sama militer (yang ingin menyelamatkan masyarakat), diburu sama pasukan sebuah perusahaan (yang ingin menyelamatkan “aset” perusahaan), dan dikejar-kejar sama si The Rock (yang ingin menyelamatkan si George). Sebenarnya kalau cuma si George doang, masalah mungkin ga segitu rumit karena sedikit banyak masih bisa diajak komunikasi sama si The Rock. Meski sudah berubah drastis, mungkin rasa sayang itu masih tersisa. Nyet ini ngomongin pilem apa mantan?

Semua menjadi ribet karena ternyata yang terkontaminasi sama serum misterius itu bukan cuma George, tapi ada juga serigala raksasa yang bisa terbang dan buaya raksasa yang berenangnya lebih cepet dari Michael Phelps. Belum lagi si The Rock harus berpacu dengan waktu karena militer udah bohwat dan milih untuk nge-MOAB (mother of all bomb) satu kota kayak di pilem Avengers pertama.

Screen Shot 2018-04-20 at 8.50.48 AM
Cute lho doi sblom kena serum misterius. Kekar, berbulu, ganteng. Kalo masuk Tinder mungkin lebih banyak yang swipe daripada gue. Lha malah curcol!

Yah, kurang lebih begitulah filmnya. Gih nonton di bioskop mumpung masih ada. Atau nunggu streaming juga boleh. Jujur agak kecewa karena filmnya ga “senyawa” dengan video game aslinya, dimana perspektifnya itu ya perspektif si monster ngamuk, dimana kehancuran dilakukan dengan tujuan. Di sini kita diajak melihat dari perspektifnya si The Rock, dan destruksi dilakukan sebatas ekstasi tanpa esensi. Horor yang mencekam dan membahayakan masyarakat. Ga lebih dan ga kurang. Jadinya ga semudah itu bersimpati pada George dan kawan-kawannya.

Terlepas dari itu semua, juga ceritanya yang standar dan bisa ditebak (endingnya Jurassic World abis), film ini bisa dinikmati tanpa banyak mikir (dumb fun movies). Seru-seruan aja laaah daripada hampa kan akhir pekan lu gak ngapa-ngapain. Ye gak?

 

Jakarta, 20 April 2018.
Okki Sutanto

A QUIET PLACE: BERBUNYI DALAM SUNYI.

Udah lama sik sebenernya nonton A Quiet Place. Cuma karena lagi kekurangan objek buat ditulis yaudalah gue review juga. Toh sekarang kan jadwal tayang di bioskop bukan segalanya, siapa tahu ada yang baru mau nonton streaming atau rental via Google Play pun iTunes. Atau beli bajakan. Nyet, hina banget sih idup lo masih aja bajakan. 2018 ini lho!

A QUIET PLACE

Film ini sebenarnya simpel dan minimalis. Baik plotnya pun pemainnya. Bahkan di credit title aja semua nama pemain cukup 3/4 layar udah ketulis semua, tanpa perlu scroll ke bawah. Kalah panjang deh sama nama-nama yang lo terimakasihin di kata pengantar skripsi.

Pas awal tau ini film horor sebenernya gue ga minat-minat amat nonton. Tapi pas tau ternyata horornya adalah makhluk luar angkasa (alien), bukan makhluk halus (setan-setanan), jadi tertarik juga. Simpel aja lah. Kalo horornya makhluk halus, bisa aja kan beneran kejadian. Pas lu nyetir di kursi belakang tiba-tiba ada Sadako. Pas lu lagi mandi tiba-tiba dikeramasin sama suster keramas. Ngeri coy! Kalo alien mah gue ga takut. Sebodo amat deh kalo lagi mandi ada alien nimbrung. Mandi bareng lah kuy. Apalagi alien macam Gamora atau Nebula-nya Guardians of Galaxy!

Kembali ke pilem. Ceritanya ada invasi alien ke bumi. Banyak kota-kota hancur dan penduduk yang selamat pun sedikit dan terpencar-pencar. Film ini fokus sama satu keluarga yang berjuang bertahan hidup. Ada emak, bapak, sama 3 anaknya. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, semua dilakukan penuh kesunyian. Kenapa? Karena aliennya ini ga bisa ngeliat, cuma punya telinga super yang sensitif sama suara-suara berisik. Begitu ada yang berisik atau gaduh langsung dimangsa sama mereka. Cocok deh buat jadi pengawas ujian. Jadinya, sepanjang film komunikasi harus bisik-bisik atau pakai bahasa isyarat.

Filmnya ya seputaran itu sih. Bagaimana mereka bertahan hidup, mencari cara untuk hidup normal tanpa “mengundang” perhatian si alien. Juga mengatasi rasa kehilangan, rasa bersalah, dan segenap luka masa lalu mereka.

Konflik-konflik psikologis yang sederhana tapi mengena itu menjadi rumit…..tatkala si emaknya hamil coy! Gue sih gak abis pikir apa yang ada di pikiran mereka. Kenapa harus begituan? Sabar ngapa men! Jelas-jelas lagi ada alien, lu ga boleh berisik, kenapa juga masih begituan? Enak apa begituan diem-dieman? Gimana caranyaa? Dan berjuta pertanyaan lain.

Okelah kalau mereka punya cara ajaib untuk bisa begituan tanpa suara. Tapi ya minimal pake kondom lah coy atau metode kontrasepsi lain. Kenapa harus hamiil? Kebayang ga sih gimana caranya melahirkan tanpa suara? Ya pas ngedennya, ya pas tuh jabang bayi keluar kan pasti nangiis! Emang pas lahir langsung bisa bahasa isyarat? Kan kagaaak men! Yah begitulah. Tapi emang tanpa bagian hamil dan melahirkan, mungkin konflik filmnya ga sedahsyat itu. Mungkin juga mereka lagi mempraktikkan kearifan lokal khas Indonesia: banyak anak banyak rejeki. Ye gak?

Demikianlah filmnya. Sesederhana itu sih, simpel tapi seru dan sukses membuat penonton menahan nafas, ketakutan, serta penasaran sama ceritanya. Untuk ukuran film pertama, John Krasinski terbilang sukses menghasilkan karya yang berkesan dan serius. Gue tau doi dari serial tivi The Office. Di sana sih doi gak ada serius-seriusnya. Tapi di sini ya layak diapresiasi lah. Cukup berbunyi meski filmnya sunyi!

Btw, entah kenapa di beberapa momen gue berasa lagi nonton Logan coy. Lelaki brewokan berbadan kekar. Hubungan ayah dan anak perempuan yang canggung. Adegan kejar-kejaran di hutan. Lelaki yang irit bicara tapi bisa diandalkan. Serta pengorbanan sang ayah sepanjang film. Jadi penasaran juga kira-kira menang Logan apa Alien yah kalo mereka berantem? Nantikan di sekuel film “James Bond Cowboy versus Aliens”! Ciao!

 

Jakarta, 19 April 2018

Okki Sutanto

Review Ready Player One: Meriah Referensi, Murah Esensi!

Screen Shot 2018-04-15 at 6.12.00 PM
Auk ah kenapa itu trailer di yutub subtitlenya bahasa Jawa. Intinya semua orang di film itu main game pakai kacamata VR kayak gitu.

Di suatu saat di masa depan, ceritanya dunia nyata sudah tidak lagi menawarkan kesenangan dan keseruan. Hampir semua orang “melarikan diri” ke dunia virtual dengan bermain game. Sebenarnya sekarang juga udah mulai banyak kacamata VR (Virtual Reality) ditemui di pasaran kok, di Tokopedia paling 100ribu-an ada. Beberapa permainan, video, sampai film bokep juga udah mulai dikembangkan untuk VR, meski kualitasnya belum bagus-bagus amat. Plis jangan tanya kenapa gue tau! Tapi kalau ada yang mau tau untuk kepentingan riset japri aja nanti gua share. #lho

Nah, di film ini teknologi udah kian canggih. Tahun 2045 ceritanya. Tahun dimana Indonesia baru saja melewati bonus demografi. INI FAKTA APAAN RANDOM AMAT NYET! Ya biarin, nih film juga random banget coy easter egg dan referensi budaya pop tahun 80-90an! Mulai dari The Iron Giant, Batman, Gundam, Street Fighter, Star Wars, Pac-Man, Minecraft, King Kong, Jurassic Park, Joker & Harley Quinn, sampe film The Shining-nya Jack Nicholson! Random abis lah pokoknya. Referensi nih film lebih panjang dari skripsi lu pada deh dijamin. Nih daftar lengkapnya: http://www.vulture.com/2018/03/here-are-all-the-references-in-ready-player-one.html

Screen Shot 2018-04-15 at 6.08.56 PM
IRON GIANT coy! Nostalgia abis.. Dulu nobar bareng anak-anak komunitas pilem di Kampus. Pas masih muda.

 

Kembali ke pilem. Jadi dunia virtual berupa permainan all-in-one di film ini namanya OASIS. Semua orang main OASIS. Kebayang gak tuh sekaya apa yang bikin nih OASIS? Dulu aja pas Flappy Bird ngehits, developernya langsung tajir mampus mendadak. Nah, pembuat OASIS adalah seorang jenius bernama Halliday. Saking nerdnya si Halliday kerjanya dari kecil main game terus, alhasil ga berkeluarga. Sebelum meninggal, doi ngasih pengumuman bahwa ia meninggalkan warisan tersembunyi di dunia OASIS. Pemain yang bisa menemukannya akan mendapatkan hadiah super mevvah di dunia virtual OASIS, serta saham mayoritas perusahaan OASIS di dunia nyata! Gokil kan.

Alhasil semua penghuni OASIS berlomba-lomba menemukan hadiah tersembunyi tersebut. Termasuk si karakter utama Parzival dan gengnya. Cewek misterius si Art3mis. Juga perusahaan 101, bukan hotel lho ya! Sebuah perusahaan teknologi yang berusaha mengalahkan OASIS menjadi perusahaan game terbesar di dunia. Penting ini coy, soalnya semua orang kan main game di film ini! Mereka punya karyawan segambreng yang tugasnya tiap hari cuma main game doang:

Screen Shot 2018-04-15 at 6.09.41 PM
Lagi-lagi, ini bukan iklan hotel lho gaes.

Yha gitu deh intinya, semua orang berusaha sekuat tenaga menemukan warisan tersembunyi si Halliday. Ya main game balapan. Ya main game jadul. Ya perang-perangan. Ya cari-cari hint di “perpustakaan” canggih yang berisi setiap detil kehidupan si Halliday.

Semua jadi kian rumit kala konflik di dunia virtual OASIS berimbas pada kehidupan nyata Parsival dan gengnya. Nyawa mereka terancam, baik di game pun di dunia nyata mereka dikejar pasukan 101. Siapakah yang menang? Bagaimana endingnya? Yha nonton lah bos. Mumpung masih ada tuh di bioskop!

Intinya film ini menurut gue menarik dan menghibur banget. Apalagi dengan segenap kemeriahan referensi pop culturenya! Cuma entahlah kalau buat generasi di luar segmen utamanya, atau emang mereka-mereka yang gak doyan video game, buku, dan film. Mungkin jadi kurang mengena ya. Iya, rada-rada eksklusif kayak anak Psikologih. #Lho

Screen Shot 2018-04-15 at 6.08.00 PM
Ini ceritanya dunia nyata di pilem. Sama aja mau dunia nyata pun dunia OASIS, dua2nya CGI super keren yang memanjakan mata. Maklum lah ini karyanya om Spielberg.

Terlepas dari begitu banyaknya referensi pop culture yang terus muncul tanpa jeda, esensi dan pesan yang ingin disampaikan sama film ini kurang nampol sik. Terlalu klise semacam “jangan kecanduan game”, “jangan lupakan dunia nyata”, atau “dahulukan keluarga dan persahabatan”. Tapi yah ga semua film harus berisi pesan sedahsyat celotehan Mario Teguh juga kan?

 

Jakarta, 15 April 2018
Okki Sutanto

Review Film Arini

Beberapa hari lalu saya menonton film Arini….entah kenapa! Haha. Sebenarnya lebih niat nonton Teman Tapi Menikah dan Partikelir, tapi teman nonton saya memilih Arini karena hasil dia browsing katanya film ini adaptasi dari novelnya Mira W, jadi harusnya bagus. Wah, saya aja baru tahu ini adaptasi novel! Jadi ya udah deh boleh juga.

Tapi emang iya sik. Nih film kurang promosi banget. Tenggelam sama hingar bingar Teman Tapi Menikah yang dimainin sama si cantik Milea, dan Partikelir yang adalah proyek pertamanya Pandji. Teman-teman saya juga banyak yang gak tahu keberadaan nih film. Entah kurang budget promosinya. Entah Falcon Pictures kurang pede sama filmnya. Entah gara-gara posternya begini juga sik:

Screen Shot 2018-04-12 at 5.57.37 PM
Sungguh tidak menggambarkan tema filmnya kan? Apalagi taglinenya itu loh (yang sebenarnya judul novel aslinya Mira W), “Masih ada kereta yang akan lewat”. Kan kurang menggugah yak. Kirain ini iklan layanan masyarakat untuk menenangkan penumpang yang ketinggalan kereta. Petugas stasiun lagi ngasih pengumuman “tenang mbak, masih ada kereta yang akan lewat kok. Gak usah nangis. Sini saya cium.” Ya siapa juga yang gak mau dicium sama Morgan sik. Eks pentolan SM*SH itu loh. Iya, boyband paporit saya. You know me so well, deh.

Anyway, saya nonton film ini tanpa banyak ekspektasi. Harusnya sih ga akan jelek-jelek amat. Soalnya novel ini pernah diadaptasi juga ke layar lebar tahun 1987 dengan pemeran utamanya Rano Karno dan Widyawati. Bahkan ada sekuelnya: Arini II. Harusnya sih skrip dan plotnya cukup oke lah ya, sampe-sampe difilmkan ulang. Selain itu, ini nomat (nonton hemat) juga kok. Cuma bayar 40ribu udah dapet 2 tiket + popcorn + 1 minuman. Thanks to Kartu Kredit UOB dan CIMB Paywave. Ini link info lengkap promo nomatnya btw buat yang tertarik. LAH MALAH PROMOSI! Biarin. Yah seminimal-minimalnya toh nomat, film jelek pun ga rugi-rugi amat, gitu pikir saya.

Ternyata, saya cukup menikmati filmnya kok. Entah DoP-nya yang keren, atau simply romantisme syuting film di Eropa sik. Banyak syuting di tempat-tempat romantis di Jerman dan Paris. Juga Jogja. Dialog juga lumayan bagus meski sebagian masih terlalu bahasa “novel”.

Sederhanya sih, ceritanya tentang cinta beda usia. Morgan (ceritanya mahasiswa S1 di London), suatu hari lagi backpacking ketemu sama Aura Kasih (ceritanya janda 38 tahun) di sebuah kereta di Jerman.

Screen Shot 2018-04-12 at 5.52.24 PM
Gitu gaes. Agresip beut ni laki. Langsung nyosor dan ngajak kenalan. Ya iya tapi Aura Kasih juga sik. Jangankan di kereta bagus Jerman. Ketemu di kelas ekonominya Argo Parahyangan juga gue samperin sik.

Konflik cinta beda usianya jujur kurang dapet sih. Iya, di awal si Aura Kasih dingin dan ga nanggepin si Morgan. Iya, sempat dinyinyirin juga sama emaknya si Morgan pas suatu saat ketemu. Tapi ya udah sik gitu aja. Kalau gue jadi bapaknya Morgan juga gue ga bakal menentang atau gimana juga. Coy, kalo anak lu bisa dapetin cewek macam Aura Kasih sih itu namanya PRESTASI! Diaminin aja ngapa.

Screen Shot 2018-04-12 at 5.53.30 PM
Aura Kasih ini coy. Yang lagi menatap Jendela sambil nunggu sunset aja bisa bikin laki-laki manapun berdiri meleleh.

Kenapa akhirnya si Aura Kasih ga dingin lagi? Ya lu liat aja betapa romantis tempat-tempat ini deh:

Curang ini mah. Jangankan Morgan Oey. Morgan Freeman juga bisa bikin cewek meleleh kalau berduaan terus di tempat-tempat kayak gini. Lho? Ya ghitu deh.

Intinya kebersamaan mereka cukup kilat pas di Jerman. Tapi lumayan berkesan. Berkat  takdir (+ usaha + niat + uang), mereka bertemu kembali di Indonesia. Di sanalah konflik mulai terbangun. Antara masa depan yang mungkin terlalu manis dan luka masa lalu Arini yang belum usai.

Jadi kadang ada flashbacknya gaes, ke masa lalu Arini beberapa belas tahun lalu. Bedanya apa? Yak, cukup rambutnya Aura Kasih di-bonding aja ngikutin gaya masa lalu.

Mau tahu lengkapnya? Nonton aja deh, ga enak kalau di-spoiler-in di sini. Tentu masih jauh dari sempurna filmnya. Ada banyak tanya yang tak terjawab. Misalnya, kenapa sik ni cewek cakep tapi kayak ga bisa nolak banget jadi manusia? Dicomblangin iya aja. Diajak nikah iya aja. Dideketin brondong mau aja. Dipeluk dan dipegang tangannya juga mau aja. Hadeh! Mirip Milea juga nih cewek.

Terlepas dari semua itu, dinikmatin aja kalau kata gue mah. Dijalanin dulu aja. Eh, ini bahas film apa pacaran sih? Auk! hehe..

 

Jakarta, 12 April 2018
Okki Sutanto

BONUS SCENE:

Screen Shot 2018-04-12 at 6.38.34 PM
Ada satu scene dimana Aura Kasih masuk kamar dan menutup diri karena merasa “belum siap”. Si Morgan ngetuk-ngetuk. Lalu Aura Kasih nanya “Kamu mau apa?”, dengan ngehenya dijawab sama si Morgan “Aku mau masuk.”. Ya elah nyet, siapa juga yang ga mao masuuuuuuuuuuuuk!

 

Kemenangan dalam Kehilangan

WHITE BOOK

Dalam buku Option B, Sheryl Sandberg & Adam Grant mengeksplorasi secara mendalam tentang kehilangan dan kesukaran hidup (grief & adversity). Tahun 2015 lalu, Sheryl kehilangan suaminya yang meninggal tiba-tiba karena serangan jantung. Pengalaman dan perjalanannya melalui kedukaan inilah yang menjadi tema sentral dari buku Option B.

Jika Sheryl menceritakan pengalaman pribadi yang penuh pencerahan dan penghayatan, Adam Grant melengkapinya dengan segenap data, riset, dan pengetahuan yang dimilikinya sebagai Profesor Psikologi. Alhasil, buku ini tidak hanya sukses menyentuh perasaan kita sebagai pembaca (affection) , tapi juga sukses membuka wawasan (cognition) dan membekali kita akan apa yang bisa dilakukan (behaviour). Affection, Behaviour, Cognition. ABC. Lengkap sudah.

Teori yang Berjejak

Di buku ini, teori-teori Psikologi berkenaan dengan kedukaan tidak sebatas menjadi teori tak berjejak yang berada di menara gading. Sheryl telah menjalaninya. Juga sekian banyak orang yang turut berbagi pengalaman mereka di buku ini. Mereka menjalani dan menghidupi apa yang disampaikan teori-teori tersebut. Membuat teori yang sekilas terdengar rumit dan klise, sampai taraf tertentu menemukan kebenarannya.

Sebut saja konsep 3 P dari Martin Seligman: Personalisation, Pervasiveness & Permanence. Tiga hal ini akan lumrah terjadi ketika kita mengalami kesukaran hidup. Kita tidak berhenti menyalahkan diri sendiri (personalisation). Kita menganggap satu hal buruk akan merembet ke segala aspek lain yang akhirnya menghancurkan citra diri kita seutuhnya (pervasiveness). Terakhir, kita menganggap kesedihan dan kegagalan yang dialami akan bertahan selamanya (permanence). Ketika kita bisa mengidentifikasi ketiga hal ini, dan melawannya, proses kita melalui kedukaan akan jauh lebih mudah.

Buku ini tidak hanya mengajarkan dan memandu kita melewati kedukaan. Ia juga membantu kita untuk menjadi teman, sahabat, pasangan, dan keluarga yang lebih baik, dalam membantu orang terdekat kita melewati kedukaan. Berapa dari kita yang tidak tahu harus melakukan apa kala teman kita kehilangan pasangan atau orangtuanya? Berapa dari kita yang bingung harus berkata apa kala sahabat kita baru saja dipecat? Berapa dari kita yang takut salah ucap kepada keluarga yang baru saja divonis kanker? Pendidikan formal tidak pernah menyiapkan kita untuk itu. Kita juga kadang terlalu sibuk untuk merefleksikan kehidupan. Di sinilah buku ini menjadi sangat penting dan menarik.

Menjadi Tombol

Ada salah satu eksperimen menarik yang diceritakan di buku ini. Tim peneliti ingin menelaah bagaimana pengaruh distraksi pada stres. Sekelompok anak muda diminta mengerjakan tes yang membutuhkan konsentrasi tinggi dalam waktu yang terbatas. Di tengah-tengah tes, peneliti membunyikan suara berisik yang amat mengganggu. Mereka ingin melihat pengaruhnya pada sekelompok anak muda tadi. Hasilnya? Konsentrasi mereka terganggu. Keresahan meningkat. Hasil tes pun memburuk.

kristina-flour-185592-unsplash
Photo by Kristina Flour on Unsplash

Di kali berikutnya, tim peneliti mengenalkan keberadaan sebuah tombol “mute” di masing-masing meja anak muda tersebut. Tugas mereka sama: mengerjakan sebuah tes. Distraksinya pun sama: suara berisik yang mengganggu. Tapi kini mereka memiliki tombol yang bisa mereka pencet kala mereka merasa terganggu, untuk menghilangkan suara berisik yang muncul. Hasilnya? Konsentrasi mereka tetap baik. Tidak lagi resah. Hasil tes membaik. Masuk akal bukan? Ya jelas. Tapi yang menarik adalah fakta bahwa tidak ada satupun yang benar-benar memencet tombol tersebut! Mereka jadi jauh lebih tenang, meski sekadar mengetahui bahwa mereka memiliki tombol yang dapat membantu mereka. Memberi mereka kuasa dan kendali akan hidup mereka.

Tombol inilah yang seringkali tidak kita miliki dalam hidup. Saat kita merasa tidak berdaya dan tidak berkuasa melakukan apa-apa saat kesukaran hidup melanda. Padahal, sekadar mengetahui bahwa tombol itu ada, sudah membuat kita jauh lebih baik. Jauh lebih tenang. Perbanyaklah tombol-tombol ini dalam hidup, yang bisa berwujud dalam kehadiran teman, keluarga, guru, rekan kerja, dan lainnya. Dan yang terpenting: jangan pernah ragu menjadi tombol bagi orang lain.

Mereka-mereka yang tak Seberuntung Itu

Yang juga menarik di buku ini adalah kesadaran Sheryl, bahwa ia beruntung memiliki keamanan finansial dan teman-teman serta keluarga yang amat mendukungnya. Mark Zuckerberg dan segenap rekan kerjanya di Facebook. Malala Yousafzai. Elon Musk. Adam Grant. Bill Gates. Dan sekian banyak lagi orang-orang hebat yang ada di sekitarnya. Ia sadar bahwa yang ia lalui memang berat, namun masih banyak orang-orang lain yang tidak seberuntung dirinya. Para wanita yang menjadi orangtua tunggal. Para imigran yang terbebani diskriminasi. Para minoritas di negara dunia ketiga.

alex-wigan-16999-unsplash
Photo by Alex Wigan on Unsplash

Untuk itu ia tidak sekalipun mencoba berkata bahwa pengalamannya dan pelajarannya adalah yang paling benar. Buku ini pun tidak hanya berisi pengalaman Sheryl, tapi juga pengalaman sekian banyak orang yang menghadapi hal-hal tak terkira dalam hidupnya. Orangtua yang kehilangan anaknya. Penyintas bunuh diri. Orang yang keluarganya dibunuh atau menjadi korban aksi terorisme. Penyintas pemerkosaan. Cerita dari Amerika. Eropa. Hingga Asia dan Afrika.

Akhir kata, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca setiap orang. Karena kehilangan dan kesukaran hidup bukanlah masalah “jika” yang belum tentu datang. Ia hanya menunggu waktu, yang pada suatu titik dalam hidup akan kita jumpai. Resiliensi, atau ketabahan / daya lenting dalam bahasa Indonesianya, bukanlah suatu kemampuan yang datang tiba-tiba. Ia seperti otot yang perlu kita latih. Sehingga jika saatnya tiba, kita jauh lebih siap. Selamat membaca!

Judul buku: Option B: Facing Adversity, Building Resilience, and Finding Joy

Penulis: Sheryl Sandberg dan Adam Grant

Terbit: April 2017

Penerbit: Knopf Doubleday

Tebal: 240 halaman

Jakarta, 1 Maret 2018

Okki Sutanto

Anna Akana Yang Mengena

Screen Shot 2018-02-24 at 6.55.50 AM

Sebagai pembaca setia 9gag dan hobi berselancar ga juntrung di internet, nama Anna Akana tidak asing bagi saya. Video Youtubenya beberapa kali melintas, dan wajahnya yang oriental dan mata kucingnya cukup mudah diingat. Selain kreator Youtube, ia juga artis, stand-up comedian, serta pebisnis dan penulis. Sekilas mirip-mirip dengan Ali Wong lah (penulis serial televisi Fresh Off The Boats), sama-sama oriental (Anna keturunan Jepang dan Ali keturunan Vietnam), komika wanita di Amerika Serikat yang banyak bekerja di industri TV, juga banyak mengeksplor seksualitas dengan cerdas dalam materi humornya.

Terakhir saya lihat Anna sepertinya di film Ant Man. Maka ketika kemarin melihat bukunya di toko buku, saya penasaran untuk ikut membacanya. Apalagi dari judul dan sinopsisnya, yang mengeksplorasi bagaimana sebuah pengalaman traumatik (adiknya meninggal bunuh diri kala remaja), bisa meninggalkan bekas, membentuk kita, dan membuat kita berada di titik kekinian dalam hidup.

Anna Akana GIF

Saya pribadi amat menyukai bukunya, karena temanya yang cukup luas. Tentang kesehatan mental. Tentang menjadi penyintas bunuh diri. Tentang menjadi kreator. Tentang pencarian identitas dan perjuangan memasuki masa dewasa. Tentang bisnis, relasi, dan seksualitas. Khas memoir sebenarnya, agak meluas dengan benang merahnya ya perjalanan hidup sang penulisnya. Cuma ini juga yang jadi kelemahan buku ini. Temanya terlalu luas. Tidak semua orang punya ketertarikan akan itu semua. Saya juga jadi bingung kalau harus merekomendasikan buku ini kepada siapa. Tidak ada target spesifik.

Pada mereka-mereka yang pernah ditinggal oleh orang terdekatnya karena bunuh diri? Bisa sih, tapi eksplorasi di sana tidak terlalu mendalam juga. Meski Anna berulang kali menyatakan bahwa buku ini didedikasikan dan terinspirasi oleh adiknya yang meninggal bunuh diri, nyatanya hampir 80% dari buku ini sama sekali tidak terkait itu.

Pada mereka-mereka yang ingin menjadi Youtuber? Bisa sih, di tataran inspirasi dan membuka wawasan. Karena pengalaman Anna yang luas. Dari membuat konten sendiri. Berkolaborasi. Membuat film pendek. Menerima sponsor. Menjual kontennya ke Netflix. Dan lainnya. Jika mencari tips praktikal ya tidak terlalu mendalam juga.

Screen Shot 2018-02-24 at 7.40.57 AM

Pada remaja dan dewasa muda yang kesulitan menavigasikan hidup di masa kini? Kurang tepat juga. Karena selain konteksnya sangat Amrik sekali, banyak pelajaran dari Anna yang terlalu unik dan kurang aplikatif bagi anak muda kebanyakkan. Tapi bagian relasi-relasi yang beracun (toxic relationship) bagus juga, sih.

Terlepas dari itu semua, buku ini ditulis dengan bahasa yang renyah dan sederhana, sekaligus cerdas dan jenaka. Bisa dinikmati tanpa harus banyak mikir, meski ada juga isu yang turut mengajak kita berpikir.

Buat saya buku ini mengena. Terlebih di bagian depresi, saat Anna ogah-ogahan mengakui bahwa dirinya depresi dan menolak mengikuti saran dari terapisnya. Kalimat dari terapisnya ini akhirnya menyadarkan ia:
“Tekanan darah saya tinggi. Hal ini genetis, dan memang ada di keluarga saya. Kalau saya tidak mengkonsumsi obat-obatan hipertensi, saya akan sengsara. Apa saya akan mati tanpa obat? Tentu tidak. Tapi itu membuat hidup saya jadi jauh lebih mudah. Sama seperti depresimu. Apakah antidepresan akan membuat depresimu hilang? Tidak juga. Tapi yang pasti akan membuat hidupmu jauh lebih mudah.”

Di saat itulah Anna tersadar, bahwa mengkonsumsi obat antidepresan penting. Ia akhirnya meminum Lexapro dan merasakan manfaat darinya. Tidak ada lagi kecemasan konstan akan hal-hal tak relevan. Pikiran lebih ringan. Tidur lebih mudah.

Hal lain yang saya suka adalah kedewasaan Anna untuk ukuran wanita usianya (28, sama kayak saya kelahiran 89). Ia berbagi pelajaran tanpa menggurui. Dan meyakini bahwa cara dan pilihannya bukanlah satu-satunya cara yang paling benar. Ia meyakini bahwa setiap orang punya caranya sendiri, punya keunikan sendiri, tanpa perlu dibebani dengan penghakiman dari kita. Ia tidak berusaha menjadi kompas moral, tapi lebih menjadi seorang kakak yang berbagi pengalaman hidup untuk adiknya. Satu hal yang makin kesini makin sulit ditemukan, kala kebanyakkan orang berlomba menjadi guru dan menjadi yang paling benar.

 

Singapura, 24 Februari 2018
Okki Sutanto