Teruntuk Semua Anak di Semesta

Surat Jawaban atas:
https://www.facebook.com/notes/almira-rahma/teruntuk-orangtua-di-alam-semesta/10151328842273408
[Waktu baca: 10 – 15 menit, 1.510 kata]

Kepada Yang Tersayang
Semua anak di semesta

Dengan hormat,

Bersama dengan ini aku ingin menyampaikan tanggapan atas surat cinta yang kamu sampaikan sebelumnya. Aku ingin menyampaikan bahwa aku sangat memahami surat yang kamu tulis dengan sepenuh hati dan jiwa. Semoga tanggapanku ini bisa sedikit menjelaskan duduk perkara dengan lebih proporsional. Semoga.

Kamu pasti sering mendengar seorang anak berkata pada orangtuanya, “Zaman sudah berubah, segala sesuatu tidak lagi sama seperti zamanmu dulu!”. Atau jangan-jangan kamu juga pernah mengatakannya kepada orangtuamu barang sekali dua kali? Anakku sering mengatakannya padaku. Tatkala aku melarangnya untuk pulang terlalu larut, tatkala aku memintanya untuk tidak pacaran terlebih dahulu sebelum selesai sekolah, atau saat aku memintanya membantuku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ya, “zaman” seringkali digunakan sebagai alasan oleh anakku agar aku lebih memahami semestanya. Kini, izinkan aku mencoba menjelaskan mengapa “zaman” tak hanya bisa digunakan untuk memahami kekinian, tapi juga suatu tempo di masa yang dulu.

Aku terlahir di keluarga Tionghoa yang biasa-biasa saja. Dulu ayah-ibuku adalah perantau dari negeri asal mereka. Mereka mencoba mencari kehidupan yang lebih baik ke Indonesia, saat Chiang Kai-shek mulai tertekan oleh Mao Zhe Dong, menjelang diproklamirkannya Republik Rakyat Cina. Ah, maaf kalau aku membahas sejarah terlampau jauh. Pasti kamu tidak tertarik. Itu yang selalu anakku katakan. Baginya, menari-nari seperti menunggang kuda jauh lebih penting daripada asal-usulnya.

Oke, biar aku lanjutkan.

Di tahun-tahun awal perantauannya, kehidupan ayahku teramat sulit. Kondisi politik Indonesia di masa itu belum stabil. Revolusi dan pemberontakan bisa saja tiba-tiba terlahir prematur, atau justru gugur dalam kandungan. Tidak mudah mencapai kestabilan ekonomi pada masa itu, apalagi bagi perantau seperti ayahku. Beberapa memang bisa sukses. Seperti Oui Tjoe Tat yang menjadi tangan kanan Soekarno. Atau Ong Eng Die yang kala itu diangkat menjadi menteri keuangan, tak lama setelah menjadi delegasi Indonesia dalam perjanjian Renville. Kerajaan bisnis Liem Sioe Liong juga mulai membangun fondasinya yang kokoh. Mengapa nasib ayahku biasa-biasa saja? Ah, aku juga tidak tahu. Kata mereka nasib di tangan Tuhan.

Akhir tahun 50-an, ayahku mulai berhenti bekerja serabutan dan berdagang dari modal yang dikumpulkannya. Mulanya ia menjual barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, keliling kampung. Lalu usahanya makin maju dan ia bisa memiliki toko kelontongnya sendiri. Saat itu dewi keberuntungan mulai menampakkan senyumnya. Kehidupan ayah dan ibu membaik, anak pun satu per satu terlahir dengan sempurna. Setelah enam anak pertama semuanya laki-laki, terlahirlah aku, si perempuan. Apakah cukup dengan tujuh anak? Tidak. Aku masih memiliki tiga orang adik. Aku juga bingung apa yang dipikirkan orangtuaku pada masa itu. Mungkin mereka tidak tahu lagi apa yang harus dikerjakan setelah kehidupan mulai mapan. Maka mereka memenuhi tugas utama manusia sesuai kitab Kejadian. Reproduksi. Beranakcucu.

Bisnis makin maju, anak makin besar, satu per satu menikah dan meninggalkan rumah. Tinggal aku dan si bungsu yang belum menikah saat itu. Kata kakak-kakakku, aku terlalu pemalu dan tidak mau berinteraksi dengan laki-laki di sekitaran kampung. Mereka bilang aku terlalu sibuk membantu ayah-ibu di toko. Oh ya, asal kamu tahu, “zaman dulu” aku tidak punya alat komunikasi secanggih sekarang. Untuk berinteraksi dengan teman-teman, ya cuma setelah toko tutup, termasuk dengan lawan jenis. Zaman dulu bioskop sudah ada, tapi aku tidak terlau suka. Rivoli dan Bina Ria adalah dua tujuan favorit anak muda pada masa itu, apalagi teman sebayaku di usia 17-an. Namun, karena aku tidak suka tempat ramai, akhirnya aku lebih suka mengurung diri di rumah, menjaga toko, membersihkan rumah, dan merawat ayah yang sudah mulai tergerogoti penyakit.

Menjelang usiaku yang ke-21, ayah ibuku mulai khawatir padaku. Ia takut aku jadi perawan tua. Kamu mungkin sekarang tidak percaya pada usia 21 seorang perempuan bisa dikatakan “tidak laku”. Tapi, ya itu kenyataannya. Di “zaman” kamu ini, mungkin di usia 21 seorang perempuan masih bisa menuntut ilmu di perguruan tinggi, membangun karir di perusahaan besar, atau berbisnis. Kala itu, semua masih terlalu utopis bagiku dan juga kebanyakan perempuan di negeri ini.

Tepat sebulan setelah ulang tahunku yang ke-21, aku menikah dengan ayahmu. Ayahku yang memilihkan jodoh. Anak salah seorang distributor barang elektronik yang akrab dengan ayahku. Ia tamatan SMA. Suatu prestasi tersendiri. Tidak banyak pemuda yang bersekolah setinggi itu. Untuk apa? Saat itu perekonomian Indonesia, tepatnya Jawa, mulai bergeliat hebat berkat gelontoran dana investasi dari Jepang dan Amerika. Tidak sulit mencari kerja pada masa itu, banyak perusahaan dan kantor-kantor berdiri kokoh menawarkan lowongan.

Ayahmu sendiri mewarisi bisnis dari orangtuanya, distributor barang elektronik. Sehari-hari ia sibuk memikirkan perluasan gudang dan pabrik, mencari rekanan-rekanan baru, hingga mengurusi karyawan yang bermasalah. Aku berusaha sekeras mungkin menjadi istri yang melayani dan berguna baginya. Setiap pagi aku bangun pukul 04.00 untuk menyiapkan sarapan, membangunkan ayahmu, memasakkan air panas untuknya mandi, dan menyiapkan keperluannya ke kantor. Selepas itu, hingga sore aku sibuk membersihkan rumah. Hanya terkadang saja aku menengok ayah yang sudah semakin payah. Atau berkunjung ke rumah kakak-kakakku. Malam hari aku juga melayani ayahmu lagi. Menyiapkan makan malam. Menyediakan kopi di meja kerjanya. Menyiapkan baju ganti. Hingga memijitnya tatkala badannya mulai kecapekan. Begitulah keseharianku. Agak berbeda ya dengan istri zaman sekarang? Mungkin. Seperti yang kamu bilang, zaman sudah berubah.

Bulan berganti, tahun pun terus bergulir. Bisnis ayahmu semakin maju. Ia semakin sibuk. Begitu pula diriku, yang mulai membantunya mengurusi hal-hal administratif seperti ke bank. Atau menghadiri pertemuan informal dengan mitra bisnisnya. Sampai di usia keempat pernikahan kami, kamu pun lahir! Ah, itu adalah salah satu momen terindah dalam hidupku. Aku tidak lagi sendirian saat ayahmu sibuk di kantor. Aku mulai kerepotan mengurusi popok dan susumu, hingga tak terasa sudah waktunya kamu masuk sekolah.

Ayahmu ingin pendidikan yang terbaik, sebagaimana yang dilakukan semua rekan bisnisnya. Akhirnya kamu dimasukkan ke sekolah terbaik di kota, meski agak jauh dari rumah. Aku pun kebagian tugas baru lagi, mengantar-jemput kamu! Tapi aku tidak merasa terbebani sama sekali. Aku bahagia bisa mengantarmu mengenyam pendidikan di sekolah bagus. Kadang aku mengobrol dengan sesama orangtua murid yang sedang menunggui anaknya di pelataran parkir. Ternyata banyak yang jalan hidupnya mirip seperti aku. Kami semua hanya bertekad satu hal: ingin anak kami menjadi generasi pertama dalam sejarah keluarga yang memiliki gelar sarjana! Kami ingin memberikan yang terbaik agar anak kami sukses, syukur-syukur bisa melebihi kesuksesan ayahnya.

Begitulah. Tahun bergulir. Kamu tumbuh menjadi anak yang luar biasa membanggakan. Berbagai prestasi di sekolah kamu ukir. Guru-guru selalu memujimu. Aku hanya bisa bersyukur bahwa keputusan aku dan ayahmu untuk selalu mencarikan sekolah terbaik mulai kelihatan hasilnya. Dari SD hingga SMA kamu selalu menjadi murid terbaik, penghuni papan atas ranking saat rapor dibagikan. Dulu satu-satunya saat menegangkan di sekolah ya saat pembagian rapor. Bukan pembacaan nilai UAN seperti sekarang. Aku pun masih tidak mengerti logika UAN. Setelah bertahun-tahun kamu belajar mengikuti sistem dari sekolah dan gurumu, mengapa tiba-tiba di akhir pemerintah yang menentukan kelulusanmu? Siapa mereka? Ah, mungkin pemikiran lulusan SMP sepertiku tak sanggup mencapainya. Mungkin kamu mengerti.

Kamu tidak pernah mengecewakan kami. Kamu selalu sukses menjadi yang terpintar di antara teman-temanmu. Mungkin kamu sendiri tidak merasa itu sebagai sebuah kesuksesan. Tapi dari kacamataku, juga kebanyakan orangtua lain, satu-satunya indikator kesuksesan seorang anak adalah prestasi di sekolah. Tidak ada lagi. Maka kamu jangan heran jika orangtua sekarang membanting tulang setengah mati membiayai anaknya kursus di luar sekolah, agar bisa berhasil di sekolah.

Kamu pun seperti semua teman-temanmu, melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Kamu memilih sendiri jurusan yang kamu suka, karena tampaknya aku mulai tidak berguna lagi untuk bertukar pikiran tentang pendidikanmu. Aku harap kamu maklum, aku hanya lulusan SMP. Aku tidak sempat mendapat pelajaran tentang kesehatan seksual seperti yang kamu dapatkan saat SMA. Aku tidak pernah mendapat pengetahuan tentang bagaimana cara menjadi orangtua teladan sebagaimana yang kamu dapatkan melalui internet, bangku perkuliahan, atau obrolan dengan teman-temanmu via perangkat canggih.

Kini kamu bebas memperkaya otakmu dengan buku-buku, radio, televisi, atau internet. Sejumlah hal yang terlalu mewah bagiku di masa remaja. Kamu berkesempatan belajar tentang banyak hal mulai dari teorinya. Aku? Tidak ada teori. Langsung praktik. Aku adalah akumulasi kerasnya pengalaman kehidupanku sendiri. Aku bukanlah akumulasi teori-teori di buku kuliah dan pengetahuan modern sebagaimana kamu. Aku juga sedari muda tidak dibiasakan melihat dunia sebebas yang kamu lihat.

Tapi aku tidak malu, sama sekali. Aku justru bangga. Dari keterbatasanku ini, aku bisa melahirkan dan mendidik kamu hingga sekarang! Lihatlah, di usiamu sekarang, betapa kamu sudah paham bagaimana nanti harus membesarkan anak-anakmu. Bagaimana nanti membangun bisnis modern yang tidak kamu lihat ada di perusahaan ayahmu. Bagaimana membangun rumah tangga yang harmonis. Di usiamu sekarang!! Usia yang sama saat aku dulu hanya bisa mengangguk tatkala disodorkan foto ayahmu oleh ayahku. Di saat aku hanya tahu bahwa tugas manusia adalah mencari uang sebanyak mungkin agar anak mendapatkan yang terbaik. Saat aku hanya tahu garis finish tanpa tahu bagaimana cara terbaik untuk mencapainya.

Ya.. Aku tidak tahu apakah suratku ini bisa menjawab berbagai pertanyaanmu. Aku tidak tahu apakah kamu terpuaskan atau tidak. Aku hanya ingin mencoba mengatakan bahwa “perbedaan zaman” tidak hanya bisa digunakan untuk memaklumi kekinian. Ia juga bisa digunakan untuk meneropong masa lalu agar membentuk pengetahuanmu akan masa kini. Zaman sudah berubah, sebagaimana yang kerap kamu katakan. Ya, aku tahu itu. Zaman selalu berubah, dari sejak kakekmu mengarungi perahu menuju Indonesia hingga mungkin nanti cucumu terbang ke Amerika. Zaman selalu berubah. Semoga kamu bisa mengerti. Semoga.

Sayang saya untukmu,
anakku dan generasinya.
=*

Harusnya Kamu Mandiri!

“Kamu harusnya tahu, aku sibuk! Tidak mudah meluangkan waktu untuk kamu. Kamu kan bukan anak kecil lagi! Harusnya kamu bisa mandiri. Bisa mengurus diri sendiri tanpa perlu tergantung padaku. Awalnya aku merasa hubungan kita memiliki masa depan, tapi jika begini caranya, aku jadi ragu…”

Kalimat itu tak berlanjut, si lelaki kesulitan menahan emosi. Di hadapannya, sang lawan bicara pun hanya bisa terdiam. Sedikit tertunduk sedih. Menyesali diri akan ketidakberdayaannya. Mengutuki nasib yang membuatnya hanya bisa bergantung dan merepotkan orang lain. Tapi apa daya, tak satu kata pun sanggup ia katakan. Kesunyian memenuhi ruangan. Membentuk dinding tebal tak terlihat di antara dirinya dan si lelaki. Mereka hanya bisa saling pandang dengan tatapan kosong penuh kesedihan. Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam. Tak sepatah kata pun bertambah.

Si lelaki berjalan keluar ruangan dengan langkah gontai. Meninggalkan skripsi menangis sendirian. Lagi. Ya, entah untuk keberapa kalinya.

 

Jakarta, 24 Oktober 2011
Okki Sutanto

Ketika Akhirat pun Outsourcing

Cerpen.
#TulisanKesepuluh, hari kesembilan.
(Mungkin perlu sedikit latar belakang Psikologi untuk memahami cerpen ini)

Alkisah, dunia akhirat kelabakan. Ujung tombak operasional mereka, Pengadilan Terakhir, kewalahan menghadapi arwah-arwah yang mengantri minta diadili. Setiap hari makin banyak orang yang meninggal, sementara divisi Sumber Daya Malaikat (SDM) belum membuka lowongan bagi malaikat pengadil baru. Chaos! Kini satu malaikat pengadil bisa melakukan FGD sekaligus ke 10 arwah. Lantas dalam satu jam verbatim sudah harus diketik, data sudah harus dikoding, disusul analisis dan kesimpulan: “Masuk manakah arwah-arwah tadi, surga atau neraka?”

Manajer SDM pun mengambil kebijakan sensasional: outsourcing! Kebetulan belum lama ini segelintir penghuni surga mendirikan Biro Pengukuran Psikologi (BPP). Meski mahal, tapi tetap lebih efektif dibanding merekrut malaikat pengadil baru dan mengirim mereka ke berbagai training dan workshop, sebelum akhirnya menjadi tenaga siap pakai. Kesepakatan pun dihasilkan: “Mulai besok, semua proses pengadilan terakhir & penentuan nasib para arwah menjadi tanggung jawab BPP.”

Perdebatan hebat terjadi di internal Biro Pengukuran Psikologi (BPP). Pendekatan mana yang harus dipilih? Kuantitatif, atau kualitatif? Karena keterbatasan waktu, akhirnya mereka memilih kuantitatif. Masing-masing arwah diminta mengerjakan Tes Kesucian Dasar. Ada lima domain dan tiga puluh indikator di dalamnya, yang secara keseluruhan ingin mengukur tingkat kesucian seseorang. Expert judgment dilakukan ke tiga tokoh yang dianggap sangat suci: Abdurrachman Wahid, Paus Yohanes Paulus II, dan Gandhi. Uji validitas lolos. Uji reliabilitas pun lolos setelah menghilangkan beberapa item yang dirasa memiliki derajat kesulitan terlalu tinggi: 0.1.

Alat tes diadministrasikan klasikal, langsung ke seratus arwah sekaligus. Cukup menghemat waktu, antrian arwah semakin cepat dipangkas. Setelah hasil tes diskoring, keseratus arwah diurutkan dari yang skornya terendah ke tertinggi. Permasalahan pun muncul: norma belum ada. Tidak ada cutting point yang jelas. Mereka yang skornya 70 ke atas bisa langsung dikirim ke surga. Mereka yang skornya di bawah 30 dikirim ke neraka. Lantas, bagaimana dengan mereka yang berada di tengah kurva normal, antara Z-Score -0.5 dan +0.5? Apa yang membedakan mereka yang ada di persentil 49 dan persentil 51? Mengapa skor setipis itu bisa membedakan nasib mereka ke depannya? Perbedaan pendapat pun tidak terselesaikan. Pendekatan kuantitatif gagal.

Dalam waktu singkat mereka beralih ke pendekatan kualitatif. Panduan FGD disusun, sekaligus manual berisi rating dan cara penilaian. Dalam melakukan FGD, tiga praktisi BPP menghadapi sepuluh arwah. Setelah FGD selesai, mereka melakukan kalibrasi untuk menguji inter-rater validity. Boom! Masalah baru muncul: definisi teoritis mereka tentang kesucian berbeda, sesuai aliran mereka. Ada yang beraliran humanis, ada yang behaviorisme, ada yang psikodinamis. Perbedaan standar tidak terjembatani. Pendekatan kualitatif bubar jalan.

Setelah kurang lebih seminggu tidak menemukan solusi, Guru Besar di BPP pun memberi usul untuk menggunakan kedua pendekatan sekaligus, kuantitatif, dan kualitatif. Skor di kedua tes dianalisa dan diukur pengaruh multivariatnya. Dengan bantuan aplikasi Lisrel versi terbaru, analisis dimudahkan. Data dimasukkan, lantas hasil keluar. SURGA. NERAKA. SURGA. NERAKA.

Semua berjalan cukup lancar, hingga suatu saat ada “kecelakaan”. Seorang yang sudah dinyatakan gagal ditolak ke neraka, baik oleh pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, malah dimasukkan ke surga oleh Dewan Agung Pengadilan Terakhir. Praktisi BPP gerah. Mereka merasa kerja keras mereka tidak dihargai. Setelah dikonfirmasi ke Dewan Agung, ternyata orang tersebut memang semasa hidupnya adalah pendosa berat. Namun, tepat sebelum kematiannya, orang tersebut menyatakan bertobat. Hal itu membuatnya pantas dimasukkan ke surga. Praktisi BPP tetap tak terima. Debat runcing tak terelakkan. Kerja sama berakhir. Izin praktik BPP pun dicabut oleh Dewan Agung.

Setahun ternyata cukup untuk membuat BPP berbenah diri. Setelah sekitar setahun vakum dari surga, mereka membuka kantor baru di neraka. Kini fokus mereka tidak lagi ke pengukuran, melainkan ke konseling dan bimbingan arwah. Mereka yakin, arwah pun memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dan menjadi lebih baik. Mereka mulai mendekati arwah-arwah jahat, dan menyadarkan mereka, satu per satu. Setelah penuh perjuangan, usaha mereka terdengar hingga ke telinga orang nomor satu di dunia akhirat. Terkesima dengan usaha mereka, sang presiden dunia akhirat mengeluarkan dekrit: “Semua penghuni neraka yang sudah mengikuti program konseling selama setahun dan menunjukkan perubahan perilaku menjadi lebih baik, berkesempatan dipindahkan ke surga.”. Satu per satu penghuni neraka pun termutasi ke surga.

Tak lama kemudian, neraka bangkrut. BPP semakin dikenal dan diakui jasanya. Kantor cabangnya semakin banyak, hingga ke bumi. Karena mereka yakin, pada dasarnya setiap orang memiliki kualitas personal yang baik dalam diri masing-masing. Yang membedakan hanya lingkungan tempat mereka dibesarkan, agama tempat mereka disangkarkan, dan sederet faktor situasional lainnya. Maka tak adil rasanya mengevaluasi mereka di Pengadilan Terakhir dengan mengacuhkan peranan faktor situasional. Sekali lagi, mereka yakin setiap orang itu pada dasarnya baik. Setiap orang bisa menjadi baik. Hanya saja kita kerap tidak menyadarinya. Juga enggan disadarkan.

Jakarta, 28 April 2011
Okki Sutanto
(beneran berencana buka BPP di neraka)

Besok!

Fiksi.
#HariKeenam menepati janji menulis satu tulisan per hari 

Tiga tahun lalu.
Ia mengaku memiliki cinta, untukku.

Aku ragu ia sungguh memilikinya. Kami baru kenal beberapa minggu. Berawal dari saling sapa di lorong sekolah, kadang kami mengobrol. Kami sama-sama penghuni pertama gedung sekolah tua ini setiap harinya. Alasanku: rumahku jauh dan daerah rawan macet. Berangkat pukul lima, aku akan tiba pukul enam di sekolah. Terlambat berangkat lima belas menit, bisa-bisa aku baru tiba pukul delapan. Sederhana bukan? Alasan dirinya lebih sederhana lagi. Suatu hari ia salah melihat jam dan datang kepagian ke sekolah. Sejak “kecelakaan” itulah ia jadi rajin datang pagi ke sekolah. Menikmati pagi, kilahnya. Belakangan, baru ia akui, akulah alasannya untuk selalu datang pagi ke sekolah. Aku, yang bukan siapa-siapa ini, tiba-tiba menjadi bagian tak terpisahkan dari pagi yang ingin dinikmatinya.

Dua tahun lalu.
Ia bilang masih menyimpan cinta, untukku.

Aku masih ragu. Aku tahu, kami sudah cukup akrab. Semangkok bubur ayam hangat di meja kantin menjadi saksi bisu setiap paginya. Pun setumpuk surat cinta darinya di lokerku. Juga ratusan sobekan tiket bioskop dan puluhan buku yang kami nikmati bersama. Kami menikmati membunuh waktu bersama. Dengan indah, tentunya. Berdua. Tapi aku gagal menepis ragu, bahwa ruang hangat yang menyelimuti kami itu betul-betul cinta. Jangan-jangan ia hanya butuh seorang teman. Dan aku rasa aku teman yang tidak buruk-buruk amat. Untuk apa mempertaruhkan semua ini? Memulai sesuatu yang bisa berakhir menyakitkan? Jika tanpa itu pun aku masih bisa dekat dengannya. Mereguk manisnya.

Tahun lalu.
Ia nyatakan lagi cintanya, kali ini tanpa kata-kata.

Ia melepas tawaran beasiswa dari universitas di kota sebelah. Ia memilih tetap di Jakarta, di tempatku ingin merajut masa depan. Tapi sejentik keraguan lain kini menggoyahkan harapanku. Di depan kami akan ada lembaran kehidupan yang baru. Bukankah kini dunia akan berputar lebih cepat, dan aku dengan segera akan menjadi lembaran kenangan lama baginya? Aku lebih memilih menjadi kenangan indah sebagai sahabatnya nan kekal. Dibanding memulai kenangan baru yang mungkin lebih indah, namun belum tentu kekal.

Besok.
Giliranku menyatakan cintaku. Aku mencintainya. Lebih dari sekadar ribuan pelukan hangat seorang sahabat. Lebih dari ratusan kalimat-kalimat penopang kesedihan. Lebih dari puluhan momen di mana aku merasa tak kuat lagi menjadi sekedar sahabat, namun hati dan bibirku urung berharmoni seutuhnya.

Aku mencintainya. Sesederhana itu. Seabsolut itu. Dan besok akan aku curahkan semua perasaanku. Tentang kesempurnaannya yang membuatku ingin berada di sisinya. Juga tentang ketidaksempurnaannya yang juga membuatku ingin berada di sisinya.

Besok, aku akan menyatakan cintaku padanya. Tak boleh ada lagi keengganan bibir untuk berucap. Tak boleh ada lagi keraguan hati untuk bersikap. Tak boleh. Karena besok adalah kesempatan terakhirku. Aku tahu itu.

Karena saat petinya tertutup sempurna, dan tanah segenggam mulai menutupi liangnya, kami akan berpisah. Saat amin terucap dan air mata keluarganya menderas kembali, saat itu pula namanya terhapus dari dunia ini selamanya. Nama yang begitu hidup dan membawa bahagia kala kusebut, kini terbujur kaku dan membeku dalam memori.

Semoga pernyataan cintaku besok belum terlambat.
Aku yakin ia masih mendengar.

 

Iya kan, sayang?

 

Jakarta, dimulai 4 Februari 2011, diselesaikan 25 April 2011
Okki Sutanto
(Berusaha tak melulu berharap pada esok)

Saat Malam Membunuh Teman-temannya.

Prosa.
#HariKeempat menepati janji menulis satu tulisan per hari

Pagi datang, saat Malam belum tuntas bergegas.
Sebenarnya Malam belum rela beranjak.
Ia masih ingin bercinta dengan cahaya bulan, terang bintang, dan nyanyian burung hantu.
Tapi Malam tak punya pilihan. Pagi sudah tiba.

Malam menyimpan iri, terhadap Pagi yang selalu muncul setelahnya.
Memaksanya menyudahi giliran.
Merebut perannya.
Menghapus jejaknya.

Ia ingin seperti Pagi.
Menyaksikan manusia memulai aktivitas.
Ditemani kicauan burung gereja, cahaya matahari, dan biru langit.
Tapi Malam tak punya pilihan. Ia bukan Pagi.

Suatu saat, Malam membunuh Pagi.
Kini ia memiliki seperempat hari sebagai tambahan waktu.
Ia bahagia setengah mati.
Tak ada lagi Pagi yang menyudahi gilirannya.

Tapi tak lama Malam kembali meradang.
Kini ia menghujat siang, juga sore.
Ia ingin pula menyaksikan manusia di tengah kesibukan mereka.
Ditemani terik matahari, panas udara, dan indahnya awan.

Malam pun membunuh siang, sekaligus sore.
Kini ia merajai hari.
Tanpa perlu berganti peran.
Berbagi giliran.

Malam terus menguasai hari.
Hingga ia kelelahan.
Ia sudah bosan bercinta dengan bulan, bintang, dan nyanyian burung hantu.
Ia sudah muak melihat manusia dengan segala kesibukannya.

Malam pun memutuskan ingin bunuh diri.
Ia tak sanggup lagi.
Tapi ia lupa, ia tak bisa.
Saat ia membunuh Pagi, sebenarnya saat itu pula ia sudah mati.

Jakarta, 23 April 2011
Okki Sutanto
(Bergegas ke gereja, bersama MALAM)

Bom Gereja

Cerita Pendek.
#HariKetiga menepati janji menulis satu tulisan per hari

Jarum pendek tepat menghujam angka tiga, saat pastor mengumandangkan bahwa Yesus telah wafat. Dalam sekejap satu per satu umat berlutut. Udara larut dalam keheningan. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Pada detik kedelapan, tepat di saat umat bersiap untuk berdiri, dentuman keras terdengar. Asap mengepul. Orang-orang berteriak, entah kesakitan, panik, atau ketakutan. Di saat seperti inilah insting naluriah menunjukkan peringai aslinya. Semua umat berdiri, berlari sekuat tenaga menuju gerbang keluar terdekat. Tak ada lagi yang peduli akan prosesi liturgi. Ribuan orang membuncah keluar gereja, mulai dari umat, petugas tata laksana, misdinar, imam, hingga pastor kepala.

Semua sibuk berusaha menyelamatkan diri. Salib di atas altar pun kehilangan daya magisnya memusatkan konsentrasi dan menenangkan umatnya. Aku tetap duduk. Di tempat dudukku sedari awal. Tak beranjak sama sekali. Aku memperhatikan semua detil dengan seksama, dengan perasaan berdebar, dengan konsentrasi penuh, hingga seakan-akan semua berjalan sangat lambat. Aku tak perlu takut dianggap aneh karena tidak berusaha menyelamatkan diri, aku yakin di saat seperti ini semua orang tak sanggup memikirkan apa pun kecuali tentang keselamatan dirinya sendiri.

Aku menutup mata, berlutut, mulai memanjatkan doa. Aku berharap tidak ada yang terluka, bahkan tewas, saat semua umat berhimpitan keluar dari gereja. Itu saja. Karena aku yakin, ledakan itu sendiri takkan melukai siapa pun. Bom meledak di dalam ruangan tak terpakai di belakang goa maria. Daya ledaknya pun tidak besar, meski asap yang ditimbulkannya memang dibuat seolah bom tersebut mampu meruntuhkan gedung bertingkat. Sudah cukup, sekedar untuk menakuti umat satu gereja.

Saat lautan umat yang saling berdesakan keluar mulai surut, aku ikut beranjak keluar dari gereja. Menghilang dalam lautan umat yang masih diselimuti cemas dan takut. Sejurus kemudian aku sudah tiba di rumahku, langsung menyalakan televisi. Benar saja, berita tersebut langsung muncul menjadi headline news di stasiun-stasiun televisi nasional. Pemadam kebakaran, polisi, dan tim Gegana sudah tiba di lokasi. Berbagai foto dampak ledakan disorot berulang-ulang. Saat pembawa berita mengumumkan tidak adanya korban luka maupun jiwa, aku menghembuskan nafas panjang. Bersyukur. Televisi pun aku matikan.

Senyum tersimpul. Semua berjalan sesuai rencana. Besok, peristiwa tadi akan menjadi berita terhangat seantero negeri. Semua petunjuk yang bisa mengarah pada keterlibatanku sudah terhapus tanpa jejak. Aku yakin dalam beberapa hari polisi akan putus asa. Dan seperti biasa, mereka akan menciptakan tokoh-tokoh rekaan untuk dijadikan kambing hitam. Seorang ekstremis, anggota jaringan teroris internasional, dan berbagai embel-embel yang kelihatan nyata, padahal tidak. Untungnya, media dan masyarakat sedemikian mudahnya mempercayai karangan tersebut. Mereka lebih memilih keberadaan seorang tokoh antagonis, tanpa perlu tahu apakah tokoh tersebut benar-benar ada atau tidak, dibandingkan dibiarkan terus menerka, siapa yang patut dipersalahkan dari kejadian tersebut.

Semua akan lebih percaya pada hasil karangan polisi, tak peduli seberapa absurd dan minim verifikasinya karangan tersebut. Siapa yang percaya, kalau bom tersebut tak lebih dari sekedar ungkapan kekecewaan sang pelaku terhadap gerejanya sendiri? Gereja yang telah terlalu memegahkan diri, dan kehilangan kekhusyukannya sama sekali. Gereja yang terlalu mementingkan ukiran-ukiran indah di sekujur tubuhnya sendiri, dan mengacuhkan keimanan pengunjungnya. Gereja yang sudi repot-repot memasang pendingin ruangan, proyektor, hingga sound-system canggih nan mahal, meski harus mengorbankan kesakralan pemaknaan iman umatnya sendiri. Gereja yang sudah terlalu menyamankan fisik penggemarnya, hingga tak pantas lagi mengenang kesederhanaan anak manusia yang mereka salib dan teladani secara bersamaan.

Semoga saja, usahaku kali ini membuahkan hasil. Mungkin ledakan kecil ini bisa lebih efektif dibandingkan ratusan surat yang sudah kulayangkan sebelumnya ke para petinggi gereja. Jika masih belum berhasil juga, mungkin usaha berikutnya akan melibatkan sedikit darah. Sebagaimana yang telah diteladankan oleh Ia yang tersalib, kadang pengorbanan itu penting, untuk suatu kebaikan yang lebih besar. Dan jelas, tak perlu mengorbankan banyak orang, sebagaimana yang sudah diteladankan oleh Ia yang tersalib, korbankanlah pertama-tama dirimu sendiri. Darahmu sendiri. Nyawamu sendiri. Imanmu sendiri. Amin.

Jakarta, 22 April 2011
Okki Sutanto
(sama-sekali-tidak-berencana-merakit-bom)

Seharusnya Terbakar!

Cerpen I / 2011.

 

Saat lampu bioskop kembali menyala, aku hanya bisa ternganga. Entah apa dosaku, tak diragukan lagi barusan adalah film tergoblok yang pernah aku tonton sepanjang hidupku. Begitu banyak cerita dan detil di dalam film barusan yang membuat logika siapapun yang menontonnya bengkok sempurna. Sialnya, aku sendirian. Pikiranku tertelan pusaran kekaguman dan ketakjuban semua penonton lainnya.

Seorang wanita rela dijadikan vampir hanya demi seorang lelaki yang baru saja dikenalnya? Bagi mereka itu sangat menyentuh, bagiku idiot dan menyedihkan!

Seorang manusia serigala bisa mengendalikan kapanpun mereka ingin berganti wujud antara manusia dan serigala? Bagi mereka itu fleksibel, bagiku tolol dan tak berdasar!

Sekelompok vampir hidup bahagia dan menjadi siswa abadi di sebuah sekolah tanpa diketahui siapa pun? Bagi mereka itu normal, bagiku sangat menginjak nalar!

Ah, cukup sudah segala ketololan film tersebut!Salahku juga sebenarnya. Seharusnya aku sudah tahu film ini akan seperti apa, karena aku pernah membaca ulasan dari novel seri tersebut. Jauh sebelum keempat novel ini difilmkan. Andai saja Karina tidak memaksaku menonton film ini, pasti aku takkan sudi merogoh kocek sebanyak lima puluh ribu rupiah di loket bioskop ini dua jam yang lalu.

Ia membuatku tak mempunyai pilihan. Sudah terlalu sering aku menolak ajakan Karina pergi. Ia bilang aku gila, karena terlalu mencintai rumah dan kamarku sendiri. Ia bilang aku harus menonton film ini, karena aku terlalu skeptis akan hal-hal berbau mistis, khususnya vampir. Well, aku kira manusia waras manapun justru akan makin skeptis setelah menonton film ini. Setelah berhasil memojokkanku, akhirnya aku mengiyakan ajakannya untuk menonton malam ini.

Sepulang dari mengantar Karina ke rumahnya, aku pulang dan menyendiri di balkon rumahku. Sejujurnya, aku sangat suka menghabiskan waktu dengan Karina. Setiap kali Karina mengajakku pergi, dengan terpaksa aku harus menolaknya. Sangat berat memang, namun apa daya. Karina selalu enggan untuk bepergian di malam hari. Sedangkan aku tak mungkin keluar rumah di siang hari.

Aku benci sinar matahari!
Sesaat setelah cahaya matahari menyentuhku, aku akan terbakar.
Percayalah, itu yang akan terjadi pada semua vampir, termasuk aku.
Terbakar, hangus, dan lenyap selamanya dari muka bumi.
Bukan sekedar menjadi berkilauan kulitku.
Seperti di film tolol itu.

Jakarta, 6 Januari 2011
Okki Sutanto
[Sumber inspirasi: Posting Tukang Review]