Pemenang Giveaway Podcast Pinteran

Hai teman-teman sekalian!

 

Terima kasih banget buat segala respon, masukan, dan partisipasi teman-teman untuk giveaway Podcast Pinteran gue yak (https://okkisutanto.com/2019/01/12/podcast-pinteran-giveaway/). Terima kasih banget juga buat yang udah bantu nyebarin info ini, khususnya Kokoh Handoko Tjung (@handokotjung) yaaa yang udah bantu me-RT twit gue kemarin sampe banyak yang denger. I owe you brooo.. ūüôā

Naaah, kali ini gue mau umumin pemenangnya!

Jeng jeng jeng jeng… Ga sabar kan? hehe..

.

.

.

.

PEMENANGNYA ADALAH….

.

.

.

Eh sebelomnya gue jelasin dulu ya ini berdasarkan keberuntungan saja ya. Gue milihnya agak-agak random sampling saja, soalnya setiap yang berpartisipasi tuh beneran bikin gue terharu dan semangat untuk terus berkarya. Jadi jangan sedih, terus ikutin Podcast gue untuk mendapatkan hadiah-hadiah menarik di balik tutup botol kalian. #LOH haha..

.

.

.

PEMENANG GIVEAWAY PODCAST PINTERAN

  1. @alfinovriando (Instagram)

  2. @Faruq_AlBanna (Twitter)

  3. @azure_snowflake (Instagram)

 

SELAMAAAAT buat teman-teman yang beruntung ya. Semoga makin semangat dengerin Podcast gue. Nantikan episode berikutnya segera ya, dari kemarin mau recording tapi saya sariawan. hahaha..

 

Buat yang gak beruntung, jangan berkecil hati. Kalian tau kan kalo Coca Cola atau McDonald bikin kompetisi gitu, semua staf dan anggota keluarganya gak boleh ikutan. Jadi, mungkin aja kalian gak menang bukan karena kurang beruntung, tapi karena kalian gue anggep sebagai keluarga sendiri. Jadi gak menang biar gak dikira ada praktik nepotisme di sini. hahahaha.. Bisa aja ya gue ngelesnya? haha..

 

Oke, untuk yang beruntung, silakan email buku yang kalian inginkan (judul + penulisnya), serta alamat lengkap kalian ke email gue di okki.sutanto@gmail.com ya. Abis email boleh colek gue juga di Instagram / Twitter, biar gue notice emailnya. Takutnya keskip.

 

Email kalian ditunggu sampai Senin depan (11 Februari 2019) pukul 23.59 ya. Kalau gak tau mau buku apa, kalian ceritain aja kira-kira lagi tertarik sama bidang apa nanti gue cariin buku yang menurut gue sesuai buat kalian! Hadiah akan dikirimkan paling lambat Senin (18 Februari 2019) ke alamat kalian ya.

 

Sekian pengumuman kali ini. Sekali lagi selamat buat teman-teman yang beruntung ya. Juga terima kasih sebanyak-banyaknya buat setiap insan yang sudah berpartisipasi di giveaway ini. Kalian semua sungguh terbhaiiique! :’)
Sampai jumpa di lain kesempatan… Salam Pinteran!

Podcast Pinteran Giveaway

Oke, jadi belakangan ini gue lagi suka bikin podcast di Spotify, namanya Podcast Pinteran. Di episode kelima kali ini, gue ingin berbagi sesuatu bagi para pendengar setia gue (sekalian promoin Podcast gue, sekali mendayung dua pulau terlewati) hahaha..

Caranya sederhana, cukup share di medsos kalian, boleh Twitter/Facebook/Instagram, tentang episode podcast mana yang paling kalian suka dan kenapa. Sekalian tag gue ya biar gue tau (@okki_sutanto di Twitter atau @okkisutanto di Instagram).

Udah gitu aja. Gampang kan? Hehe..

Tiga pemenang beruntung akan dapat hadiah menarik: any book on earth. Yap. Buku. Apa pun. Selama buku itu dijual untuk umum (Gramed / Kino / Amazon / Apps Store / Google Play), dan selama ada di bumi. Buku fisik. Buku digital. Bahasa indo. Bahasa Inggris. Sampe bahasa tronjal-tronjol. Bebas. Pokoknya buku. Kalo ga tau mau buku apa, ya nanti gue yang pilihin. Tenang saja.

Kalo dijual tapi di planet Mars gimana? Ya ga bisa. Kalo ada di bumi tapi ga dijual misalnya naskah orisinil konstitusi Amrik, ya ga bisa juga. Jangan aneh-aneh lah ya Ferguso. ūüėā

Giveaway berakhir akhir bulan ini: 31 Januari 2019, pukul 23.59 WIB. Pemenang akan gue publish dan gue DM yak.

Good luck guys!

Hai Gie

freddy-castro-133326
Photo by Freddy Castro on Unsplash

Gie, apa kabar? Lama sudah ku tak menulisimu. Atau sekadar menyapa. Semoga kau tenang di sana, Gie. Usah resah. Sudah cukup kau resah semasa hidup. Kala menjadi mahasiswa, aktivis, pun dosen. Benar katamu, orang-orang seperti kita ini memang senantiasa resah. Ya hidup, kampus, pergerakan, pun negara kita resahkan. Padahal siapa kita ini coba? Hobi kok resah, dasar aneh. Ya tapi lebih baik resah deh ya, daripada apolitis dan apatis karena enggan berpikir kritis.

Di sana ada bioskop gak, Gie? Kalau ada, coba kau tonton Dilan, Gie. Ku ingin tahu komentarmu tentang film itu. Masak katanya rindu itu berat, Gie. Pun memukul guru dan membakar sekolah itu boleh, selama punya pembenaran. Sekeras-kerasnya kau semasa muda, juga pernah menulis “dosen yang tidak bisa dikritik lebih baik masuk tong sampah”, rasanya kita masih tahu adab dan batasan, ya. Tapi ya begitulah, Gie. Zaman sudah banyak berubah. Lelaki semacam Dilan justru kini digandrungi. Coba tonton film itu, lalu kita diskusikan. Kau masih suka diskusi film, kan?

Ya, banyak sudah berubah kini. Naik gunung sudah jadi gaya hidup, Gie. Ramai sekali gunung-gunung itu setiap akhir pekan. Dan tidak hanya komunitas pecinta alam, kini virus menggunung sudah mewabah. Sayangnya, sebagian besar tidak naik gunung untuk menyatu dengan alam atau membumi ke masyarakat. Mereka hanya mencari latar foto yang bisa dipandang unik dan keren oleh teman-temannya, dan kebetulan saja mereka memilih gunung. Untunglah zamanmu dulu belum ada Instagram, Gie. Bisa-bisa kau terusik naik gunung bersama mereka.

Belakangan sedang ramai, Gie, tentang adik kelasmu yang berjaket kuning. Tingkahnya menggelikan, ia menyemprit peluit dan memberikan kartu kuning pada kepala negara. Katanya bentuk protes, Gie. Hah? Kau bingung? Sama, Gie. Ku pun. Kenapa tak menulis di media seperti kita semasa mahasiswa dulu? Jangan bertanya padaku, Gie. Tanyalah sana pada adik kelasmu itu.

Ramai respon masyarakat, Gie. Banyak yang mencibir, termasuk aku. Tidak sedikit yang memuji karena katanya heroik dan berani, Gie. Ah, taik kucing mereka itu. Mengobral label heroik dan berani demikian murahnya. Kalau mau protes begitu sih tidak perlu mahasiswa, ya. Tukang parkir juga bisa sekadar menyemprit peluit ke presiden. Sungguh sensasi yang kosong esensi. Tidak lebih dari erupsi emosi yang minim aksi. Setuju kau, Gie?

Sekian dulu, Gie. Masih banyak sebenarnya yang ingin kuceritakan. Tapi biarlah itu nanti di surat-surat berikutnya. Tak ingin ku mengganggu istirahatmu lebih dari ini. Selamat menikmati kedamaian, Gie.

Jakarta, 9 Februari 2018
Okki Sutanto

Mata, Cerita, dan Wiraswasta.

Jadi beberapa hari lalu baca artikel entah di Quora atau Medium, tentang pentingnya menulis jurnal kebersyukuran (gratitude journal) setiap hari, yang bisa memrogram ulang cara berpikir kita, optimisme & kepercayaan diri, sampe peruntungan dan perilaku kita. Yah mirip-mirip sama The Secretnya si Rhonda Byrne lah sebenarnya. Atau tips-tips berpikir positifnya para motipator handal.

Tapi pas baca artikel itu jadi dapet penjelasan logis (ga ilmiah-ilmiah benget sih ya) yang rasa-rasanya ga ada salahnya juga dicoba, sih.

Iya, tau kok nulis rutin¬†itu susah, apalagi setiap hari. Udah beberapa kali juga nyoba nulis rutin ujung-ujungnya gagal di tengah jalan. haha.. Jadi ga janji bakal nulis kayak gini setiap hari juga, ya. Setiap sempat dan ada mood aja, but i’ll try my best to stick to this habit. Sama kayak habit baru gue ngejawabin pertanyaan di Quora. haha..

Sederhana sih, intinya nulis beberapa hal yang patut disyukuri setiap hari. Nah berhubung gue kayaknya ga bakal bisa nulis tiap hari, gue rangkum pengalaman-pengalaman terakhir aja kali ya. Ya kalau ke depannya bisa rutin tiap hari, ya gue tulis pengalaman per hari. haha.. Ini dia sejumlah hal yang patut gue syukuri belakangan:

I Once Was Blind, But Now I See

Dua mingguan ini mata gue bermasalah. Awalnya merah aja. Terus bengkak. Terus jadi kayak rabun gitu kalau ngelihat. Macam agak berkabut. Udah pakai obat tetes mata, ga mempan. Udah ke dokter mata dan dikasih obat tetes + antibiotik, agak mempan. Akhirnya sih ya sembuh juga seiring waktu. Sembuhnya pun ga langsung gitu, berangsur-angsur banget. Dari hilang bengkaknya, hilang merahnya, sampai hilang matanya. (LAH?!). Gak lah, maksudnya proses terakhir yang agak lama itu hilang kerabun-rabunannya. Jadi semingguan belakangan kalau ngeliat masih agak berkabut gitu, misty bahasa Jawanya. Sekarang udah nyaris 100% senormal dulu, deh. Udah bisa lihat layar dan nulis normal lagi. Sebelumnya tuh lihat layar lamaan dikit udah ga enak banget, baru nonton 1 season TV series udah pegal dan sakit nih mata. Ya iyalah, wong 1 seasonnya sinetron Tersanjung! haha.. Gak, intinya 1-2 jam lihat layar udah ga enak banget. Untung sekarang udah normal lagi. Syukurlah!

Berbagi Pengalaman Ngebolang

Tadi pagi sukses berbagi pengalaman ke para generasi “penerus” beasiswa Frans Seda Foundation tahun ini. Setelah tahun lalu gue ngejalanin 3 bulan studi-slash-riset-slash-jalanjalan-slash-makantidurkayakbabi-slash-belajarhidupmandiri ke Eropa, kali ini giliran gue berbagi pengalaman tersebut ke bocah-bocah¬†yang bakal berangkat ke sana bulan depan. Ada tiga anak manusia, gue udah lupa semua namanya kecuali Reynold yang emang udah sering kontek personal via WhatsApp sebelumnya. Topik riset mereka seru-seru, dari strategi menembus pasar eropa melalui batik ecolabel, preservasi musik tradisional batti-batti dari Selayar, sampai fenomena Teman Ahok ditinjau dari teori political arena-nya Mintzberg.

Gue mah asal ngecap aja pas sesi tanya jawab, gue suruh yang bahas fenomena Teman Ahok itu ngebandingin Teman Ahok sama fenomena partai Green Left di Belanda yang sukses narik minat politik anak muda di Belanda sampe berhasil memenangi sejumlah kursi di parlemen Belanda baru-baru ini. Mati ga lu? Gue aja disuruh riset gitu belom tentu bisa. hahaha.. Maap yah! Suka random aja emang gue ini anaknya.

Yah gitu lah, seru ketemu teman baru, ketemu teman lama, bagi-bagi pengalaman, dapet makan gratis, dapet buku gratis. Disyukuri aja, karena bisa berguna buat orang lain. Semoga apa yang gue bagikan tadi berguna ya kawans! hehe..

Rezeki Gak Kemana

Lapak kecil-kecilan gue di Cempaka Mas ada aja pemasukannya, padahal gue sendiri pesimis. haha. Lha gimana ga pesimis kalau seharian yang naik eskalator ke lantai 6 aja (Pusat Komputernya, dimana lapak gue berada) bisa dihitung pakai jari (jarinya siapa dulu coba? kalau jarinya hewan kaki seribu kan banyak juga! haha..) Tapi ya intinya memang gak rame-rame amat, harus andelin pemasaran dan penjualan online juga, yang kebetulan belakangan lagi gak gue garap. Toh ada saja minggu ini pemasukan, cukup lah buat nutup biaya sewa sama listrik. haha. Dari bapak-bapak yang beli MacBook puluhan juta di Infinite Pondok Indah tapi ga ngerti cara pakainya, lalu minta ditutorin dan akhirnya beli aksesoris, sampe CLBK (Customer Lama Berbisnis Kembali) yang pernah servis sebelumnya dan puas, balik lagi untuk servis gadget lainnya. hehe..

Sudah gitu karyawan gue juga makin pinter. Udah bisa ditinggal dia, kadang gue ga ke toko juga dia bisa tetap handle urusan-urusan servis dan instalasi. Udah gitu makin pinter menilai pelanggan. Dia tau pelanggan mana yang bisa dikasih harga lebih mahal. Yang sebenarnya bisa 150ribu, dia kasih harga 250ribu. Yang bisa 1juta. Dia tagih 1.3juta. Sumpah, gue aja kadang gak setega itu kalau ngasih harga. Tapi dia mah tega-tega aja. Jadi biasa kalau dia mahalin gitu, lebihnya sebagian gue kasih buat dia juga sih. haha.. Tenang, semahal-mahalnya harga di toko gue, jauh lebih murah dibanding lo ke mal kok! Don’t judge me. Or our business. Please! No! hehe..

Ya udah gitu aja dulu deh tulisan gue kali ini tentang kebersyukuran. Sampai jumpa besok nanti! Terima kasih semesta atas segala berkat yang¬†sudi mampir ke kehidupan gue. ūüôā

Jakarta, 8 April 2017

Tahun Baru, Cirebon, dan Angkutan Umum

Liburan tahun baru kemarin saya dan keluarga pergi ke Cirebon. Agak mendadak, sih. Tiket kereta saja baru beli tanggal 30 Desember, kalau gak salah, untuk tanggal 31 siangnya. Iseng-iseng saja, memang. Bermacet ria ke Puncak atau Bandung udah biasa. Berdempet-dempet nonton kembang api di Ancol atau HI, juga udah biasa. Sekali-kali deh cobain keramaian & kemeriahan tahun baru di daerah lain.

…dan ternyata kami salah.

Tahun baruan di Kota Cirebon, nyaris tidak terasa suasana dan atmosfer tahun baruan. Kami tiba naik kereta api tanggal 31 siang di Stasiun Cirebon. Hanya 12 jam menjelang pergantian tahun. Kalau di Jakarta, minimal spanduk & hiasan & keramaian rakyat sudah terlihat lah ya. Di Cirebon? Sepi. Jalanan lenggang. Hias-hiasan nyaris gak ada. Keramaian juga cuma di stasiun saja. Dan pas check-in di hotel, tapi itu juga ramai karena resepsionisnya cuma 1 sih, dan agak lamban kerjanya.

Ya sudah. Dinikmati saja lah ya. Tujuan berganti suasana toh akhirnya tercapai. hehe. Berikut sedikit cuplikan perjalanan selama tanggal 31 Desember 2015 Р2 Januari 2016 kami. Untunglah, 3 hari sudah lebih dari cukup untuk liburan dan menjelajahi Cirebon, setidaknya ke semua lokasi wisata populer.

Goa Sunyaragi tentu menjadi atraksi wajib bagi yang wisata ke Cirebon. Goa ini dinamakan sunyaragi dari kata sunyi dan raga. Artinya dulu tempat ini digunakan oleh raja / sultan dan keluarga untuk bersemedi. Kebetulan kami ke sana tanggal 31 Desember sore, sedang ada gladi resik acara malam tahun baruan. Panggungnya sih gak terlalu besar, tapi konsep amphitheater dan pemandangan latarnya patut diacungi jempol.

IMG_0117
Nah ini dia!

Oh ya, kami ke goa Sanyuragi naik angkot dari hotel. Untunglah ada angkot yang langsung ke arah sana, jadi tidak terlalu capek berganti angkot. Yang lumayan capek adalah ketika angkot yang kami naiki dari Sanyuragi ke pusat batik Trusmi menurunkan kami di tempat yang salah, sehingga kami harus lanjut naik becak, disambung jalan kaki beberapa ratus meter. Saya sih gak kasihan sama kami, tapi lebih kasihan ke abang becaknya yang harus genjot becak jauh-jauh mengangkut kami yang beratnya tidak ringan ini. Maafkan kami, pak!

Seusai puas berbelanja batik, kami makan di Empal Gentong Haji Apud, tidak jauh dari Batik Trusmi, dan sejalan ke arah kami pulang ke hotel. Setelah berjalan kaki disambung angkot disambung becak, kami pun tiba di hotel. Nah pas naik becak menuju hotel, kami melewati alun-alun Cirebon sekitar jam 8 malam, baru deh mulai terasa atmosfer tahun barunya karena warga mulai berduyun-duyun ke sana. Sayangnya kami sudah terlalu capek untuk turut bermalam tahun baruan, sehingga memilih beristirahat di hotel menikmati kembang api yang tak berhenti meledak sejak jam sepuluh malam.

***

Esoknya, 1 Januari 2016, kami memutuskan untuk menyudahi petualangan angkutan umum kami. Selain biayanya yang ternyata tidak murah juga, karena berempat dan harus berkali-kali ganti, cuaca yang tidak menentu membuat kami memilih menyewa mobil & supir. Nah, ini dia untungnya pergi ke kota yang gak ramai-ramai banget tahun barunya. Kepikiran mau sewa mobil jam 7 pagi. Googling-googling dan cari rental mobil yang bagus jam 8 pagi (setelah sarapan). Jam 9 pagi supirnya udah nongol di hotel. Tidak perlu drama-drama rental kehabisan mobil, tidak perlu lama kesana-kemari nelpon banyak rental. Sepi, kok! Berikut perjalanan kami.

IMG_0139
Gereja St. Yusuf

 

IMG_0144
Masjid Raya Cirebon

 

Sebenarnya itu cuma destinasi pertama dan terakhir kami, sih. Diawali ke gereja, ditutup ke masjid. Di tengah-tengahnya kami juga sempat ke Keraton Kasepuhan, Gedung Perjanjian Linggarjati (di Kuningan, 1 jam dari Cirebon), Empal Gentong & Nasi Jamblang Ibu Nur, pusat oleh-oleh di Kuningan & Cirebon, dan sentra batik. Semua ditempuh bersama bapak sopir dan mobil sewaan, dalam sehari. Bebas macet. Bebas keramaian.

Yah, demikianlah kira-kira perjalanan kami di Cirebon. Malamnya kami packing dan istirahat, karena besoknya kereta menuju Jakarta berangkat pukul 9 pagi. Untunglah masih sempat sarapan sereal, tahu gejrot, bubur ayam, omelet, dan lauk-pauk di hotel, lalu diantar oleh mobil hotel ke stasiun, gratis! Terima kasih Hotel Neo Samadikun Cirebon!

Setiba di stasiun Gambir, langsunglah kami disambut kemacetan akut karena Monas, Istiqlal, dan Lapangan Banteng ramai diserbu warga. Rasanya waktu tempuh Gambir ke Sunter kurang lebih sama dengan perjalanan dari Cirebon ke Kuningan. Kendaraan yang tidak bergerak, klakson yang bersambut, orang-orang yang berlalu lalang.

Ya, kami sudah kembali. Selamat tahun baru!

Ruang Kelas Terakhir

o-EMPTY-CLASSROOM-facebook
Foto dari Huffingtonpost.com

Beberapa waktu lalu saya baru saja menjalani kelas terakhir perkuliahan. Kuliahnya sendiri sih belum rampung, tentunya. Masih ada tesis, yang entah akan makan waktu berapa lama. Kalau skripsi S1 dulu bisa rampung tiga bulan sih, hitungan matematisnya tesis S2 selesai enam bulan ya. Tapi namanya hidup tidak selalu matematis kan. Bisa saja ia usai lebih cepat, meski kita sama-sama tahu kemungkinannya lebih muskil daripada Chelsea atau Manchester United jadi juara liga Inggris tahun ini.

Ah, kembali ke kelas terakhir. Kelas Kearifan Lokal kemarin berakhir seperti biasa. Presentasi tugas, diskusi dan kesimpulan, serta membahas tugas ujian akhirnya. Sedikit kebetulan, dosen kemarin adalah salah satu dosen favorit saya, yang saat S1 dulu juga kelas Intervensi Sosialnya menjadi kelas terakhir di perkuliahan. Esensinya sih gak terlalu jauh berbeda, tentang bagaimana menggali dan melibatkan komunitas dalam menyelesaikan masalah sosial, cuma perspektif dan fokusnya saja yang bergeser sedikit.

Secara keseluruhan semester ini adalah semester yang paling padat, baik dari jumlah SKS dan kelas maupun kedalaman serta keluasan materi. Jika semester-semester sebelumnya masih perkenalan dan metodologis, maka kali ini analisa, analisa, dan analisa. Dari permasalahan Kampung Pulo, perang terhadap narkoba, isu kekerasan terhadap anak, diskriminasi LGBT, konflik di Aceh & Ambon, hingga permasalahan antar budaya yang makin mengemuka seiring runtuhnya sekat-sekat antar negara. Semuanya dibahas, ya dari segi kebijakan publiknya, isu HAMnya, resolusi konfliknya, telaah hukumnya, juga aspek komunikasi & Psikologinya.

Banyak pembelajaran baru, yang tentu membuka wawasan dan mengajak berpikir lebih dalam. Membiasakan diri mengkritisi apa yang sering dikonstruksikan sebagai realita, baik melalui media massa ataupun perilaku pemerintah. Tiap-tiap kelas yang saya lalui selalu membawa pengetahuan baru, dan saya bersyukur atasnya. Atas Tuhan yang mengizinkan, atas orangtua yang mendukung, atas pengajar yang mencerahkan, juga rekan-rekan seperjuangan.

Kalau dipikir-pikir, berapa banyak ya kelas yang seseorang jalani sepanjang hidupnya? Saya sendiri tidak bisa menghitung, mulai dari kelas-kelas pelajaran dasar di sekolah, kelas pelajaran bahasa Inggris sejak SMP hingga SMA, kelas-kelas Psikologi di perkuliahan, hingga kelas penulisan skenario & narasi di sejumlah institusi seru. Belum lagi kelas-kelas yang mungkin pernah saya ikuti tapi terlupakan.

Intinya, cukup banyak kelas yang sudah saya jalani sejauh ini, dan mungkin tidak nyambung satu sama lain. Apakah kelas kemarin akan menjadi kelas terakhir dalam hidup saya? Entahlah, bisa jadi ya, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. Apa pun itu, saya yakin tidak ada kelas yang sia-sia. Setiap kelas tentu berisi pelajaran dan esensi yang bisa didayagunakan untuk menyelesaikan permasalahan di sekitar kita, atau setidaknya mempersiapkan kita menjalani kelas lain yang tidak ada akhirnya: kelas kehidupan.

Jakarta, 20 Desember 2015
Okki Sutanto.

Orientasi Tanpa Orientasi

Sebelumnya dipublikasikan di Notes Facebook (05/08/2015).

gambar dari: upload.wikimedia.org

Tahun ajaran baru saja dimulai, seperti biasa. Korban kembali berjatuhan, seperti yang sudah-sudah. Meski hingga kini belum ada yang bisa memastikan apa penyebab kedua siswa baru di Bekasi dan Bintan meninggal, kegiatan orientasi siswa baru pun kembali menjadi sorotan. Mendengar berita ini sepuluh tahun lalu mungkin kita mengecam dan kaget sejadi-jadinya, sekarang? Rasanya kita sudah terhabituasi. Macam mendengar berita sepeda motor tertabrak bis Transjakarta, atau memaklumi ketika seorang politisi menjadi tersangka korupsi.

Wajar memang ketika manusia, entah di level individual atau komunal, menjadi terbiasa dengan sesuatu yang terjadi berulang-ulang. Maka tidak mengherankan ketika kini kegiatan orientasi siswa berujung maut, kita tak lagi kaget. Alamiah, meski miris dan mengerikan.Selalu mudah mencari kambing hitam di setiap kejadian ini. Sekolah yang tidak peduli, guru yang kurang pengawasan, senior yang semena-mena, hingga pemerintah yang kurang regulasi. Sesederhana itukah? Sepertinya tidak. Kita sudah demikian lama membiarkan kegiatan orientasi siswa baru berlangsung tanpa orientasi. Ironis memang, kegiatan orientasi yang sejatinya bertujuan mengenalkan dan mempersiapkan, malah dilakukan tanpa persiapan yang memadai. Ya, orientasi tanpa orientasi.

Refleksi Bersama

Ada sejumlah hal yang perlu kita refleksikan bersama. Pertama, apakah benar masalah-masalah yang terjadi dalam program orientasi siswa baru adalah masalah yang berdiri sendiri, terisolir sepenuhnya, dari konteks dunia pendidikan kita sendiri? Jangan-jangan ini hanya fenomena gunung es, dari segudang masalah lain di dunia pendidikan yang hanya menunggu waktu untuk muncul ke permukaan. Apa benar kurikulum nasional kita sudah berhasil dirancang dan diimplementasikan untuk menciptakan manusia-manusia Indonesia yang memanusiakan manusia? Bisa jadi kita demikian terfokus untuk mempelajari begitu banyak ilmu, namun melewatkan pentingnya menjadi manusia yang mampu berempati dan peduli pada sesama.

Menyalahkan sekolah dan guru memang mudah, tapi tentu tidak bijak mengingat beban kerja dan tanggung jawab mereka yang sudah teramat luas dan kadang masih kurang apresiasi. Menyalahkan siswa senior juga rasanya terlalu menyederhanakan. Di negeri dengan jarak kekuasaan yang tinggi seperti Indonesia, relasi egaliter antara sesama siswa maupun siswa dengan guru tidak mudah diusahakan. Jangankan di dunia pendidikan, di organisasi pun pemerintahan juga tingginya jarak kekuasaan membuat kultur ABS (Asal Bapak Senang) mengakar. Kita dengan mudah tunduk, segan, dan merasa rendah diri di hadapan mereka yang lebih senior atau lebih tinggi jabatannya. Hubungan yang tidak setara ini membuat sulit terciptanya komunikasi yang sehat antara kedua belah pihak. Yang satu akan cenderung menekan, yang lain tertekan.

Ketidakpekaan akan hal inilah yang berpotensi membuat siswa senior bertindak berlebihan. Mereka merasa memegang kendali penuh dan bisa berbuat semena-mena, karena siswa baru tidak punya pilihan lain selain menurut pada mereka. Apakah ini berarti siswa senior adalah orang yang jahat dan berkepribadian buruk? Belum tentu. Philip Zimbardo, seorang psikolog dari Universitas Stanford, dalam salah satu eksperimen sosialnya yang terkenal menunjukkan bagaimana setiap individu berpotensi melakukan tindak kekerasan tergantung peran dan situasi yang terjadi. Dalam studi tersebut, partisipan penelitian yang diminta menjalani peran sebagai sipir penjara, demikian menghayati peran mereka dan tidak segan melakukan tindakan sadis pada para partisipan penelitian lainnya yang berperan sebagai narapidana. Saat eskalasi tindak kekerasan terjadi, eksperimen tersebut akhirnya dihentikan hanya dalam enam hari, dari yang seharusnya dua minggu. Pembelajaran dari studi ini adalah bahwa siapa pun itu, terlepas dari kepribadian mereka, bisa melakukan tindakan buruk pada sesama jika berada dalam situasi tertentu, khususnya ketika diberi kendali penuh sebagai otoritas. Jadi sebelum dengan mudahnya menghakimi para siswa senior, ada baiknya kita mengevaluasi kembali pada situasi apa mereka berada, dan bagaimana membuat situasi tersebut tidak melulu terjadi.

Dasar-Dasar Pelatihan

Selain terkait faktor situasional, kesiapan para siswa senior khususnya para panitia program orientasi siswa baru juga patut diperhatikan. Bagaimana mungkin mereka yang sehari-hari belajar matematika atau ekonomi di kelas, secara tiba-tiba diharapkan sanggup merancang dan mengeksekusi program orientasi yang baik dan betul? Perlu ada fondasi wawasan dan kemampuan terkait yang dibangun terlebih dahulu, atau scaffolding dalam bahasa Vygostky, seorang psikolog pendidikan terkenal.

Dalam konteks menyusun program orientasi, tidak ada salahnya membekali para panitia dengan dasar-dasar pelatihan organisasi. Secara sederhana, pelatihan adalah usaha sistematis yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, atau pengalaman seorang individu. Tidak jauh berbeda bukan, dengan apa yang ingin disasar oleh program orientasi? Kita ingin siswa baru lebih mengetahui tentang sekolah dan rekan-rekan barunya, pun membekali mereka dengan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan di jenjang yang baru, baik itu strategi belajar, berkomunikasi, dan lainnya.

Para panitia program orientasi siswa baru, baik guru maupun siswa senior, berhak tahu bahwa melalui pendekatan pelatihan, orientasi siswa baru bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat. Mereka berhak tahu, bahwa hal terpenting yang perlu dirumuskan adalah tujuan program, bukan atribut konyol apa saja yang perlu dibawa siswa baru. Mereka berhak tahu, bahwa banyak metode dan aktivitas yang bisa dipilih, mulai dari ceramah, diskusi, permainan, hingga menonton film, dan memarahi atau memukul siswa baru bukanlah satu pilihan yang bijak.

Pada akhirnya kerjasama banyak pihak menjadi penting. Pemerintah bisa memberikan regulasi yang lebih jelas terkait peran sekolah, guru, dan senior, dalam program orientasi siswa baru. Para guru juga bisa dibekali ilmu pelatihan organisasi dan meneruskannya kepada panitia program orientasi sekolah. Perguruan tinggi, khususnya Fakultas Psikologi yang memiliki materi pelatihan dalam kurikulum mereka, juga perlu terlibat secara aktif dalam hal ini. Mereka memiliki kompetensi yang lebih dari cukup, untuk membekali dan menyebarluaskan manfaat serta ilmu kepelatihan yang mereka miliki. Jika kita bisa mencapai kolaborasi sinergis seperti ini, rasanya tahun-tahun mendatang kita boleh kaget mendengar betapa positifnya program orientasi siswa baru di negeri ini dilangsungkan.