Tes Wawasan Kebangsatan

Belakangan, ramai pembahasan tentang tes kontroversial yang diberikan kepada para staf KPK. Katanya sih namanya Tes Wawasan Kebangsaan, tapi semakin ditelaah, sepertinya lebih cocok kita anggap Tes Wawasan Kebangsatan.

Buat yang belum tahu, coba saya jelaskan secara sederhana, ya. Jadi, para staf KPK diwajibkan melalui sebuah tes. Tes ini untuk menentukan apakah mereka bisa tetap bekerja di KPK dengan dijadikan ASN (Aparatur Sipil Negara), atau dipecat. Ternyata, ada sekitar 75 orang yang dinyatakan tidak lolos tes ini. Tidak sedikit yang merupakan penyidik senior dan memiliki rekam jejak panjang dan luar biasa dalam pemberantasan korupsi di tanah air selama bertahun-tahun.

Selain itu, ternyata materi tesnya sendiri bermasalah. Banyak sekali pertanyaan nyeleneh yang muncul di tes ini. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya cuma keluar dari mulut Bu Tedjo. Bukan penyelenggara negara yang berpendidikan. Pertanyaan-pertanyaan, yang bahkan mahasiswa psikologi semester 6 pun tahu, kalau diajukan ke dosen akan dirobek-robek dan diludahi.

Buat saya, tes ini tidak lebih dari ulangan PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) di masa SD. Baik murid dan guru sama-sama tahu, pelajaran ini tidaklah penting-penting amat. Formalitas. Semua tahu, jawaban yang diharapkan seperti apa. Dan semua juga tahu, murid yang dapat nilai bagus di pelajaran ini tidak berarti suatu saat nanti bakal jadi presiden atau minimal dapetin Kalpataru. Nggak, nggak gitu mainnya.

Dan menjadikan nilai ulangan PPKN sebagai landasan sebuah keputusan penting, tentunya tindakan tolol. Bayangkan kamu di kelas 6 SD, lalu ada pemilihan ketua kelas. Kandidatnya dua. Yang pertama Budi, yang sudah kamu tahu pandai bergaul, punya leadership skill, suka membantu, cerdas, murah hati, jago olahraga, rajin menabung, ibadah, serta penyayang binatang, tapi nilai PPKNnya cuma 6. Kandidat kedua Joko, yang kamu tidak kenal-kenal banget tapi nilai PPKNnya 9?

Kalau kamu memilih Budi, selamat! Artinya kita satu frekuensi. Kalau kamu memilih Joko, selamat! Artinya kamu cocok jadi Ketua KPK.

Tidak sulit menentukan sikap dan memilih untuk berdiri di sisi mana dalam sejarah dalam kasus ini. Kalau kamu masih mendukung pemecatan para staf KPK padahal kamu sudah melewati program Wajib Belajar 9 tahun, baiknya sih kamu minta refund aja ke sekolahanmu dulu.

Why? It’s clear that your education institution has failed you.
First as a logical being. Second and foremost, as a human being.

Jakarta, 31 Mei 2021.

Mendebat Mortal Kombat

Akhir pekan lalu akhirnya berkesempatan nonton Mortal Kombat. Ini hasil debat saya (sama diri sendiri) selama nonton film ini. Ada beberapa spoiler, jadi kalau belum nonton, bisa di-skip ya~

Pertama-tama, saya memang gak terlalu relate ya sama franchise Mortal Kombat. Cuma pernah main gamenya aja pas kecil. Memori lainnya mah ngeblur. Minat nonton juga karena ada Joe Taslimnya aja. Juga karena pas mau nonton, studio Mortal Kombat ini yang paling sepi. Alhasil satu studio cuma nonton berdua sama pasangan saja. Alhamdullilah!

Film dibuka dengan adegan di abad ke-18. Di kediaman Hanzo, salah satu ninja terkuat pada masanya. Tiba-tiba kediaman Hanzo diserang oleh klan musuh, keluarga Hanzo beserta para penjaganya pun dibantai habis. Hanzonya baru balik belakangan karena sibuk ngambil air di sumur. Hei, itu rumah ada banyak anak buah, ngapa lu ngambil air ke sumur sendirian? Andai dia tahu yang namanya pendelegasian tugas, mungkin keluarganya masih pada idup.

Berikutnya kita dibawa jauh ke masa depan. Dan kita tahu bahwa Mortal Kombat adalah turnamen bela diri antar “dunia”. Dan bos penjahatnya, Shang Tsung, ingin memastikan dunianya memenangkan turnamen ini untuk kesepuluhkalinya berturut-turut. Monmaap, ini lagi ceritain Juventus apa gimana dah?

Dan selanjutnya cerita pun berkisah seputar persiapan turnamen kesepuluh ini. Para jagoan dari bumi sedang berlatih, yang digangguin sama para jagoan dari outworld (yang salah satunya Joe Taslim). Di atas kertas sih jagoan bumi gak punya kesempatan menang ya, wong pada cupu. Cuma dua yang lumayan jago: yang topinya bisa terbang sama yang tangannya bisa keluarin api.

Dibandingin sama para jagoan outworld yang udah biasa bertarung berabad-abad, harusnya mah ini kayak Juventus lawan Persis Solo. Cuma ya karena Persis Solo dibantuin sama RI 1 (alias Ra1den, dewa petir), pertandingan jadi berjalan gak seimbang. Persis Solo pun bisa-bisa aja menang. Yaudahlah ya, namanya juga pelem.

Intinya, film ini amat menghibur kok, khususnya penyuka adegan berdarah-darah. Adegan berantemnya cukup sadis (tapi ya banyak disensor sih). Juga seru ngeliatin Joe Taslim benar-benar jadi bintang internasional (doi ngomong 3 bahasa di sini dan dialognya banyak), lompatan jauh banget dari pas doi main di franchise Fast & Furious. Buat yang belum nonton, yuk nonton~

Kongkalikong Godzilla & Kong

Setelah cukup lama, akhirnya kemarin nonton bioskop lagi. Godzila VS Kong. Berikut sejumlah catatan saya selama menonton film ini. Oh ya, tulisan ini mengandung spoiler ya. Jadi kalau belum nonton dan punya minat untuk nonton, mending jangan baca ini.

Buat kalian yang mau nostalgia dua makhluk raksasa ganas ini, silakan banget nonton ya. Menghibur kok. Untuk urusan CG dan efeknya sih pastinya keren, gak perlu diragukan. Yang pasti lebih bagus daripada naga-nagaan Indosiar. Tapi untuk urusan logika dan alur cerita, well…. not so much.

Berikut sejumlah momen yang otomatis membuat celetukan (sumpah serapah) bergema hebat di kepala saya kala menonton film ini.

SATU: Toxic masculinity at it’s beast.

Salah satu permasalahan utama di film ini adalah dua makhluk ini ingin membuktikan siapa alpha male terkuat sejagat. Ya, sesimpel itu. Macam dua bocah ABG yang perlu banget cari validasi dari temen-temennya bahwa mereka itu keren. Perasaan ini dunia kan gak kecil-kecil amat yak. Bisa kali bagi-bagi wilayah. Satu di Eropa satu di Afrika misalnya. Gak usah saling senggol, gitu. FPI sama FBR aja bisa kok bagi-bagi wilayah. Kenapa kalian gak bisa? Tolonglah. Kalian bukan bocah ABG lagi. Yang segitunya butuh pengakuan bahwa kalian kuat dan keren. Kalian bukan Putin atau Kim Jong Un. Stop. Just stop.

DUA: Markas Super Rahasia tapi gak punya satpam.

Di film ini ada perusahaan teknologi raksasa bernama APEX yang punya markas rahasia untuk ngembangin senjata super rahasia. Ceritanya ini perusahaan tuh kaya banget. Mereka bisa bikin fasilitas super rahasia di bawah tanah, liftnya aja sampe harus turun 33 lantai. Bisa bikin robot super juga. Tapi kok ya gampang banget disusupin sama dua bocah SMA dan satu host podcast. Ini tiga cecurut bisa leluasa ngobrak-ngabrik fasilitas-fasilitas paling top secret tanpa hambatan. Sama sekali. Monmaap ini perusahaan segede ini apa kagak sanggup ngegaji minimal satu aja gitu Satpam BCA?

TIGA: “Oke kita charge aja pake powerbank XiaoMi!”

Ada satu momen dimana Kong sekarat. Kecapekan abis gelut sama Godzila. Udah terkapar gak berdaya. Matanya udah setengah merem. Jantungnya udah melambat. Tapi kita tahu bahwa Kong dibutuhkan nih buat ngalahin penjahatnya.

Apa yang kira-kira bisa dilakukan sama para karakter di film? Simpel aja kok: “Kita charge aja Kong pake powerbank XiaoMi 20.000 mAh yang harganya cuma cepekceng di tokped.” Ya gak persis begitu, sih. Tapi mirip-mirip.

EMPAT: Kita cabut saja stop kontaknya, bund!

Satu lagi momen lazy-writing oleh para penulis skenarionya adalah pas pertarungan final. Saat robot raksasa buatan APEX ngamuk dan gak bisa dikendaliin. Meski Godzilla sama Kong udah kongkalikong buat ngebully si robot mechagodzilla, tetep aja mereka masih kewalahan. Apa yang dilakukan sodara? “Oh iya, kita matiin aja stop kontaknya biar si robotnya shutdown.”

Lalu macam Podcastnya Deddy Cahyadi, robot itu pun three-two-one, close the door….

LIMA: Itu Hongkong apa Alfamidi?

Pertarungan berakhir. Hong Kong udah hancur lebur. Gedung-gedung pada roboh. Jembatan ancur. Kepanikan dimana-mana. Pokoknya berantakan banget deh kayak UI/UXnya Shopee. Di momen ini, salah satu karakter protagonis kita, si siswi SMA, sedang mencari ayahnya yang kebetulan juga lagi ada di Hong Kong.

Bayangin ya. Hong Kong. Tempat terpadat di dunia dengan 7.5 juta penduduk. Yang seluruh warganya lagi pada panik dan berhamburan ke jalanan. Tau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk si siswi SMA nemuin ayahnya? Tujuh detik. Ya, tujuh detik doang. MONMAAP LU BEDUA ILANG DI HONGKONG APA DI ALFAMIDI SIH ANJJJ!

Udah, gitu aja unek-unek saya. Makasih udah mampir.

Jakarta, 10 April 2021
Okki Sutanto