Crypto: The Greatest Solution For A Problem That Didn’t Even Exist.

Tahun 2014, saya sempat tertarik untuk belajar soal kripto. Iseng ngulik-ngulik. Saya sempat join grup diskusinya, bikin akun di salah satu exchange, juga ikutan trading. Tiap hari ikutin berita dan perkembangan soal kripto, pantengin harga, dan pasang jangkar untuk beli & jual.

Karena lebih sibuk sama studi & bisnis, akhirnya saya gak terlalu lama ngulik kripto. Setelah 2-3 bulan saya berhenti. Lumayan sih hasilnya. Dapet cuan sekitar 20 persen dalam kurun waktu singkat. Not bad. Bisa buat makan-makan enak dan bebelian gadget.

Selepas itu saya masih ikutin grup diskusinya. Juga masih ngikutin soal kripto & blockchain secara umum. Saya memang suka aja belajar hal baru, dan saya tertarik banget untuk belajar soal kripto karena katanya “cRypTO iS tHE fUtURE!”. Tapi, tiap kali saya ingin baca-baca dan ngulik lebih jauh soal kenapa kripto ada, bagaimana blockchain bekerja, masalah apa yang bisa mereka selesaikan, saya selalu….kepentok tembok.

Bahkan hingga sekarang. Coba deh cari literatur soal bitcoin atau kripto di toko buku. Atau di sosial media dan internet. Hal yang sering banget digembar-gemborkan bukanlah teknologi dan mekanisme dari kripto itu sendiri. Bukan soal bagaimana mereka bisa menjadi solusi dari berbagai masalah. Tapi soal bagaimana kripto bisa bikin kamu kaya. Soal kenapa harga bitcoin dan mata uang kripto lainnya akan terus meningkat. Kenapa kamu gak boleh ketinggalan. Dan lain sebagainya.

Ini jauh berbeda dengan apa yang dicita-citakan oleh Satoshi Nakamoto, sang “pencipta” Bitcoin. Dalam white paper yang Satoshi tulis di Oktober 2008, sama sekali gak ada bahasan soal jadi kaya & investasi. Bitcoin dicita-citakan menjadi sistem transaksi elektronik tanpa mengandalkan institusi sentral. Ia bicara soal ownership, demokratisasi keuangan dan teknologi, kekuatan jaringan (network), hingga mekanisme teknis yang memungkinkannya.

…tapi, kenapa sekarang semua malah bahas cuan, investasi, dan jadi kaya? Gak ada satu pun cryptobro yang saya kenal, yang ngomong tentang teknologi & demokratisasi keuangan. Ketika mereka membahas kripto, yang dibahas ya metode jadi kaya dengan cepat. Dan ini terjadi di tataran global, gak cuma di Indonesia. Akhirnya apa? Ya orang-orang yang tertarik, masuk, dan terjun ke industri kripto cuma punya satu tujuan: jadi kaya.

Crypto attracts the worst kind of people. Dari kartel narkoba yang jadi punya cara transaksi baru yang tidak terlacak, hingga crypto investor, builder, juga pendiri exchange crypto yang ujungnya cuma nipu demi keuntungan pribadi mereka aja. Dari Do Kwon, Zhu Su, sampe Sam Bankman-Fried sang pendiri FTX yang baru-baru ini bangkrut dan melenyapkan miliaran dolar AS.

MELOMPAT TANPA FONDASI YANG KUAT

Kripto terlalu cepat melompat tanpa memiliki fondasi yang kuat. Bukannya fokus membuktikan keunggulannya sebagai sistem pembayaran dan transaksi digital, kripto pada akhirnya dieksploitasi oportunis untuk menjadi jalan pintas paling singkat menjadi kaya. Tanpa perlu bangun perusahaan, tanpa perlu punya bisnis model yang jelas, tanpa menyelesaikan masalah apa-apa, orang berlomba-lomba menjadi kaya melalui industri kripto.

Kripto itu spesifik lahir & berkembang di AS. Dengan isu & masalah yang spesifik dimiliki AS. Mulai dari buruknya sistem pembayaran lintas bank & sistem, hingga krisis kredit perumahan tahun 2008 yang meluluhlantakkan kepercayaan masyarakat pada institusi keuangan di AS. Kripto berusaha menjadi solusi atas dua hal tersebut: menciptakan sistem pembayaran yang efisien, cepat, dan murah, tanpa mengandalkan institusi keuangan sentral.

Masalahnya, di kebanyakan negara selain AS, masalah serupa tidak ditemukan. Di China, Alipay sudah terbukti memudahkan pembayaran dan transaksi miliaran masyarakatnya. Dari belanja online di internet hingga belanja di pasar dan lapak kaki lima. Di Indonesia, QRIS menjadi solusi yang jauh lebih baik dibandingkan apa yang bisa kripto tawarkan.

MENINGGALKAN INSTITUSI SENTRAL

Yang jadi pembeda cuma satu: ketergantungan pada institusi sentral. Kripto mencoba menghilangkan hal ini. Masalahnya, ide bahwa masyarakat modern bisa benar-benar hidup tanpa peran institusi sentral hanyalah utopia yang tidak akan pernah terwujud.

Ada alasan kenapa selama ribuan tahun peradaban, akhirnya kini kita sampai di sistem yang sekarang berjalan. Ada institusi sentral, ada sistem perbankan, dan segala peraturan & kebijakan finansial yang kita kenal. Semua tidak tercipta tiba-tiba. Tapi melalui proses sejarah yang panjang dan begitu banyak mengalami perubahan, pembelajaran, dan perbaikan. Untuk mencegah krisis, untuk meminimalisir kejahatan & penipuan, untuk memudahkan transaksi antar negara, serta memungkinkan kooperasi antar negara khususnya dalam hal ekonomi.

Tiba-tiba mau membangun ulang sistem yang dikembangkan selama berabad-abad dengan teknologi setengah matang namanya alpa sejarah dan tolol. Jika sistem & institusinya tidak sempurna, ya diperbaiki. Bukannya ditinggalkan begitu saja dan beralih ke sistem baru yang belum teruji sama sekali.

Yuval Harari dalam bukunya Sapiens juga menjelaskan bagaimana peradaban cenderung menuju ke masyarakat yang lebih terintegrasi dan tersentral. Dulu masyarakat dunia hidup terpisah, dalam ratusan ribu kelompok / sukunya masing-masing. Kini kita sudah menciptakan sistem bangsa dan negara. Dari ratusan ribu kelompok menjadi beberapa ratus negara saja. Kini pun kita terus membentuk organisasi lebih besar lagi seperti Uni Eropa, ASEAN, hingga G20, yang tujuannya memudahkan interaksi, kerja sama, dan integrasi.

Arah peradaban modern itu menuju sistem sentral yang memudahkan semua. Bukannya malah menjadi masyarakat dan entitas independen yang berdiri sendiri-sendiri sebagaimana yang dimimpikan penggiat decentralized finance (defi). Toh pada akhirnya paradox ini terjadi: penggiat kripto mau tidak mau harus bekerjasama dengan institusi sentral yang sudah ada, bahkan menciptakan institusi sentral mereka sendiri, agar bisa bertahan. Karena sejatinya decentralized world itu cuma utopia.

PARADOKS KRIPTO

Selain desentralisasi yang tersentralisasi, paradoks kedua industri kripto adalah simplifikasi yang berujung overkomplikasi. Blockchain awalnya digadang menawarkan efisiensi, kesederhanaan, dan kemudahan bertransaksi. Pada kenyataannya, lihat saja betapa rumit dan kompleksnya industri kripto saat ini.

Ada perusahaan yang fokus menciptakan aset kripto. Ada yang bergerak di bidang jual beli aset kripto (exchange). Ada perusahaan pendanaan aset kripto. Pengawasan dan keamanan kripto. Promosi kripto. Infrastruktur pembayaran kripto. Kredit kripto. Hingga perusahaan khusus untuk riset soal kripto. Terakhir Binance mengumumkan mau membuat industry recovery fund untuk membangun ulang dan menyelamatkan industri kripto. Tolol banget ini mah. Udah kejauhan dari visi awalnya.

Analoginya begini. Lu mau rumah lu aman dari maling. Bukannya pasang gembok dan CCTV yang murah dan efisien, lu malah sewa 2 satpam buat jaga rumah lu. Bayar 5 tukang buat bangun pos satpam. Rekrut 1 HR buat ngabsen dan ngejadi satpam. Juga 1 asisten buat mesenin makan siang satpamnya. Tambah 1 psikolog buat ngecek kesehatan mental satpamnya. 1 Personal Trainer untuk ngejaga kebugaran satpamnya. Gak lupa sediain 1 dokter jaga untuk memastikan satpam lu kesehatannya aman. Padahal rumah lu kecil dan PBB-nya aja masih gratis. Aman sih dari maling, tapi biaya ngegaji semua stafnya aja udah 10x cicilan KPRnya.

MASA DEPAN KRIPTO

Apakah kripto akan hilang sama sekali? Gak yakin juga saya. Kayaknya sih enggak. Ada dua alasan, yang pertama adalah sunk cost fallacy. Orang-orang yang selama ini sudah begitu percaya (juga dapat keuntungan) dari kripto tidak mudah untuk move on. Mereka sudah menghabiskan waktu, energi, dan pikiran mereka selama ini untuk kripto. Akan terasa sayang & tolol kalau tiba-tiba berbalik arah. Mereka akan melindungi ego mereka dan mempercayai sampai titik darah penghabisan bahwa mereka selama ini sudah di jalan yang benar.

Alasan kedua karena sudah begitu banyak kepentingan di dalamnya. Ada institusi-institusi keuangan dan investor (bahkan negara) yang sudah berinvestasi banyak di kripto. Mereka akan melakukan segala cara agar bisa tetap mendapat keuntungan, atau setidaknya tidak boncos-boncos banget.

Menurut saya, masa kejayaan kripto akan sulit terulang selama para pelaku industri kripto tidak fokus pada esensi dan fondasi. Selama mereka tidak membenahi sistem dan membuktikan bahwa mereka bisa menggantikan sistem finansial dan pembayaran yang sudah ada saat ini, mereka gak akan punya masa depan cerah.

Blockchain is full of potential, I agree! But then again, that’s the keyword: potential. Potensi aja tanpa digarap dengan maksimal ya gak akan kemana-mana. Dan blockchain bisa saja sebuah teknologi yang revolusioner. Tapi ingat, it’s just a tool. Ia cuma salah satu solusi, bukan satu-satunya solusi. Dunia itu dinamis. Akan selalu ada teknologi baru. Akan selalu ada solusi baru.

Jika ada satu hal yang saya pelajari dari sejumlah krisis keuangan, terlebih tech / startup winter di tahun 2022 ini, adalah soal overvaluasi. Baiknya kita menilai sesuatu berdasarkan fundamental dan keadaannya saat ini, bukan dari kemampuannya menjual harapan yang tidak menjejak pada realita. Sebagaimana yang menjadi bahan bakar industri kripto selama ini.

Sekian dulu tulisan kali ini. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

Jakarta, 30 November 2022

Fanboy & Hater Anies Itu Sama Aja

Orang kadang bingung dengan pandangan dan afiliasi politik saya. Saya pemilih Pak Jokowi, tapi saya sering mengkritik kebijakan dan langkah beliau. Saya pemilih PSI di Pileg 2019. Bahkan kala itu mengadvokasi orang-orang terdekat saya untuk memberi kepercayaan pada PSI. Tapi kini saya sering ngejulidin PSI saat mereka mulai aneh-aneh.

Saya bukan pemilih Pak Anies Baswedan di Pilgub 2017. Tapi saya tidak segan mengkritik media dan pihak yang menyebarkan hoax atau framing jahat soal Anies.

Mungkin bagi sebagian orang ini aneh. Karena buat mereka mendukung itu haruslah membabi buta dan membenci haruslah sepenuh hati. Bagi saya tidak. Apalagi urusan sosok dan tokoh. Saya tidak mau terjebak dalam fanatisme ketokohan apalagi pengkultusan. Sejarah membuktikan yang demikian jarang berakhir baik. Biasanya horor dan tragedi. Entah sakit hati karena sang tokoh ternyata tidak sesempurna itu. Atau berujung kengawuran sang tokoh yang terlena dengan kekuasaannya. Ya gimana gak ngawur kalau apa pun yang dilakukan selalu dibela dan didukung?

Saya lebih memilih untuk berdiri di tengah dan mengambil jarak. Cuma karena saya suka Messi bukan berarti saya gak bisa menikmati permainan Cristiano Ronaldo. Cuma karena saya suka Taylor Swift, bukan berarti saya tidak boleh menikmati Kekeyi. Ya kan? Hidup lebih berwarna saat kita bisa bersikap adil dan menikmati banyak hal. Bisa mengapresiasi saat ada prestasi, bisa mengkritik saat ada yang menggelitik.

2024 masih lama, tapi hari-hari ini tensi politik sudah mulai memanas. Linimasa kembali terpolarisasi seperti saat Pilgub DKI dan Pilpres sebelumnya. Terlebih sejak Anies selesai menjabat Gubernur DKI dan dideklarasikan sebagai calon presiden 2024. Di media sosial, kelakuan fanboy & haters Anies sama saja. Sama-sama ngeselin dan cuma bikin antipati. Sama-sama puas hidup dalam gelembung dan ruang gemanya sendiri. Sama-sama menutup diri akan kebenaran dan perspektif lain.

Fanboy Anies kerap melontarkan puja-puji berlebihan yang kadang tak berdasar. Juga tak segan membuat hoax yang tujuannya mengharumkan nama Anies. Mulai dari video dukungan Obama ke Anies hingga deklarasi dukungan dari para uskup. Yang terakhir ini sampai harus diklarifikasi oleh Keuskupan Agung Jakarta, lho. Obama sih belum klarifikasi, ya. Tapi kayaknya semua yang punya akal sehat tahu itu tidak benar.

Haters Anies juga tidak kalah ngehe. Mereka menutup mata terhadap segala pencapaian dan prestasi Anies. Hingga tak segan membuat hoax dan framing yang jahat. Misalnya kecelakaan bus yang dibuat seolah-olah dialami rombongan pendukung Anies, padahal bukan. Saat Anies jadi saksi kasus korupsi, lantas digoreng seakan-akan Anies didakwa sebagai koruptor. Pokoknya, di mata mereka semua yang Anies lakukan salah.

Polarisasi ini tidak nyaman dan berbahaya. Ini sudah pernah kita alami. Ini juga yang terjadi di Amerika Serikat. Bill Bishop dalam bukunya The Big Sort, menjelaskan bagaimana polarisasi politik merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat di AS. Polarisasi bisa membuat negara terbelah hingga masyarakatnya hidup dalam dua realita berbeda. Masing-masing memiliki wilayah sendiri (blue states & red states di AS). Mengkonsumsi media masing-masing. Hingga memiliki institusi pendidikan dan keagamaannya sendiri.

Ketika ini sudah terjadi, jangankan gotong royong. Hidup berdampingan saja jadi tidak memungkinkan. Dan saat orang sudah begitu nyaman hidup dalam komunitasnya yang homogen, tindak kekerasan ekstrem jadi mudah terjadi. Khususnya ketika bertemu dengan orang-orang di luar komunitasnya. Yakin, masih mau memelihara dan melestarikan polarisasi di masyarakat?

Untuk fanboy Anies, sadarlah. Cara untuk memenangkan Pemilu bukan dengan terus-menerus mengelu-elukan Anies di tengah kelompok sendiri. Orang tidak menang Pemilu karena yel-yelnya paling bagus dan berisik. Tapi dengan mendapatkan suara dari sebanyak-banyaknya pemilih. Dari mereka yang tidak sepaham dan belum menentukan pilihan (swing voters). Kalau cara-cara kalian saja cuma membuat orang antipati, apa yang mau dicapai? Kalian itu sebenarnya mau Anies memang atau cuma lagi menghibur diri sendiri?

Untuk hater Anies, sadarlah. Bagaimanapun, Anies adalah salah satu kandidat Capres terkuat di berbagai studi dan survei. Konsisten muncul di tiga teratas. Kalau nanti Anies jadi presiden, lantas kamu mau apa? Mau teriak-teriak “not my president?” seperti saat Trump dilantik? Mau pindah kewarganegaraan? Sadar diri. Malaysia aja belum tentu mau ngakuin lu. Apalagi negara lain. Masak iya sepanjang Anies jadi presiden mau terus memelihara kebencian dan sakit hati?

Bahkan jika Anies gak menang pun, ada kemungkinan akan masuk ke pemerintahan seperti Prabowo kemarin, lho. Apa gak capek kamu segitunya benci Anies tapi ujungnya elit politik pada collab?

Sampai saat ini saya belum menentukan pilihan Capres 2024 nanti. Ya gimana mau menentukan, wong capresnya siapa aja belum jelas koq. Lagian ide, visi, dan programnya aja belum tahu, gimana mau dukung? Kayak beli babi dalam karung aja. Alias udah pasti haram.

Saya bukan pendukung Anies. Bagi saya jelas Anies punya banyak kekurangan. Dari program-programnya yang kadang tidak jelas. Inkonsistensinya saat kampanye dan menjabat. Juga kecenderungan overselling pencapaian melalui narasi dan statistik yang berlebihan. Tapi bukan berarti Anies tidak punya pencapaian dan kelebihan sama sekali. Saya apresiasi Formula E dan Stadion JIS. Penerapan Jaklingko dan aplikasi JAKI. Revitalisasi Kota Tua & Perpustakaan DKI. Sampai pembangunan trotoar dan jembatan-jembatan instagrammable.

Let’s give credit where credit is due. Anies adalah satu-satunya kandidat yang memiliki PhD di bidang sains politik. He knows exactly what he’s doing. Dari membangun citra politik, hingga menapaki anak tangga paling sedikit menuju puncak kekuasaan. Dan ia melakukannya tanpa memiliki partai politik dan kekayaan berlimpah. Only a handful of people could pull this off.

Tahun 2007, Anies “cuma” seorang rektor dan akademisi. Tahun 2009, saat Prabowo ikut Pilpres sebagai Cawapresnya Megawati, Anies “cuma” moderator debat Pilpres. Lalu di 2010 ia membuat gerakan Indonesia Mengajar dan memikat hati kelas menengah.

Di 2013 Anies mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Di 2014, Anies hanyalah jubir kampanye saat Prabowo kembali mengikuti Pilpres sebagai Capres. Selepas itu ia menjadi Menteri Pendidikan.

Di 2019, saat Prabowo kembali menjadi Capres, Anies “cuma” seorang Gubernur DKI. Dan kini di tahun 2022, Anies menjadi rival Prabowo dalam pemilihan presiden 2024.

Coba dibaca lagi pelan-pelan. Dalam 15 tahun, seseorang yang “bukan siapa-siapa” bisa menjadi salah satu kandidat presiden potensial. Ini bukan hal yang mudah dan penuh kebetulan. Dibutuhkan kemampuan berstrategi jangka panjang dan pemahaman mendalam terhadap sistem politik di Indonesia. Dan untuk itu saya angkat topi buat Anies.

Jika dalam perjalanannya ada satu-dua “jalan pintas” yang bertentangan dengan nurani dan kompas moral kita, bagi saya ini wajar. He saw an opportunity and he took it. Saya tentu tidak membenarkannya. Tapi mereka-mereka yang membenci Anies mungkin akan membuat pilihan yang sama. Mereka cuma belum pernah saja berada di posisi Anies.

Cuma orang naif yang berpikir dunia politik itu bersih dan suci. Yang selalu dilakukan penuh martabat dan kesantunan. Soe Hok Gie pernah berkata bahwa politik itu barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi ketika suatu saat kita sudah tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah. Begitu kata Gie.

Kalau mau bersih terus ya jangan masuk politik. Masuk ke mesin cuci LG bukaan atas aja. Sekian tulisan saya sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

Jakarta, 28 Oktober 2022

Ramai-ramai Jualan Kiamat 2023

Belakangan ini bahasan soal 2023 yang begitu gelap dan seperti “kiamat” menghiasi linimasa. Apa iya? Memang sekarang gak gelap? Yakin bakal lebih parah dari resesi dan krisis yang sudah pernah kita lewati? Nah, saya coba bahas lewat tulisan ini, ya. Supaya kita gak perlu takut berlebih. Bisa lebih objektif dan proporsional memahami isu kompleks ini. Serta lebih memahami motif-motif yang bisa jadi melatari para pendengung “2023 kiamat”.

First thing first. Apa iya bakal resesi? Kemungkinan besar iya. Proyeksi ekonom dan institusi keuangan begitu. Di 2023 akan terjadi resesi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Beragam faktor jadi penyebab. Mulai dari pandemi dan rantai pasok global. Invasi Rusia terhadap Ukraina. Juga kebijakan bank sentral.

Tapi, resesi itu hal yang wajar dalam sebuah siklus ekonomi. AS sendiri sudah melewati lebih dari 10 kali resesi sejak 1945. Resesi global juga sudah 5 kali terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Tahun 1975, 1982, 1991, 2009, dan terakhir 2020. Is it the end of the world? Nope.

KOMPLEKSNYA RESESI

Pertama, resesi dan ekonomi itu sendiri kompleks. Belum lama ini pemerintah AS sempat disorot kala “merevisi” definisi resesi. Ternyata memang resesi dan ekonomi tidak sesederhana itu. Secara teknis, resesi terjadi kala Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh negatif selama dua quarter berurutan.

Tapi, kasus di AS cukup unik. PDB negatif pada Q1 dan Q2-2022, namun bisnis tetap bertumbuh. Lapangan pekerjaan terus bertambah. Dan masyarakat masih membelanjakan uangnya. Jadi, sekalipun resesi terjadi, dampaknya belum tentu seburuk itu.

DASAR PROYEKSI

Kedua, proyeksi pasti bertumpu pada data beberapa bulan terakhir. Saat ini, ekonomi dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Rantai pasok global masih belum pulih sepenuhnya karena pandemi. Kondisi geopolitik yang memicu krisis energi dan pangan. Ditambah kebijakan quantitative tightening yang diambil bank sentral di banyak negara. Hal yang sebenarnya wajar dan perlu untuk dilakukan. Khususnya setelah era quantitative easing luar biasa selama pandemi untuk mendorong ekonomi.

Jadi, wajar kalau proyeksinya suram. Keadaan saat ini memang sedang kurang baik. Pertanyaannya, apa situasi saat ini akan berlangsung selamanya? Tentu tidak. Bisa jadi minggu depan lebih baik. Bisa jadi juga lebih buruk. Bisa saja terjadi perang nuklir. Atau zombie apocalypse. Atau chip 5G yang masuk ke tubuh orang-orang lewat vaksin meledak bersamaan. We’ll never know, really.

Intinya, proyeksi tidak selalu bisa diandalkan. Selalu ada faktor X. Misalnya pandemi di awal 2020 atau invasi Putin di tahun 2022. Muncul tiba-tiba tanpa diduga. Begitu pun kali ini. Gak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi dalam 3-4 bulan ke depan. Kalau tiba-tiba Putin kena serangan jantung. Atau doi bertobat setelah di-ruqiyah. Semua proyeksi pasti berubah drastis.

KRISIS TAK TERDUGA LEBIH SULIT DIHADAPI

Ketiga, krisis yang paling sulit dihadapi adalah yang datangnya tiba-tiba. Kalau datangnya setelah pengumuman jauh-jauh hari mah namanya konser BTS. Kenapa yang dadakan bikin pusing? Karena kita tidak punya kesempatan bersiap. Seperti di awal pandemi. Semua gak tahu cara menghadapi virus. Semua gak punya vaksin. Semua ketakutan dan gak tahu harus ngapain. Nah, kalau krisisnya udah diprediksi dari jauh-jauh hari sebenarnya enak. Negara bisa bersiap menghadapinya.

TUGAS & PERAN NEGARA

Kalau Pak Jokowi menyampaikan proyeksi ekonomi 2023 yang cenderung suram, ya wajar. Memang itu tugas negara. Supaya para menteri dan aparatur negara bisa bersiap menghadapinya melalui kebijakan. Baik kebijakan fiskal pun moneter. Juga kebijakan-kebijakan lain yang fokusnya menyejahterakan serta melindungi masyarakat.

Kalau para financial influencer mendengungkan “2023 kiamat”, tujuannya apa? Ya gak jauh-jauh dari menjual ketakutan sembari mempromosikan diri dan kelas mereka sendiri. Ngehe emang. Permasalahan ekonomi 2023 itu di tataran sistemik dan makro. Menyelesaikan masalah ekonomi makro melalui pendekatan ekonomi mikro seperti personal finance ya goblok. Mosok masalahnya krisis pangan & energi, lalu solusinya daftar kelas edukasi keuangan? Elah.

RESILIENSI MANUSIA

Terakhir, faktor yang sering terlupakan dari setiap proyeksi: resiliensi manusia. Saya yakin seribu persen resesi dan pelambatan ekonomi 2023 sanggup kita lewati bersama. Masih ingat dong awal pandemi 2020? Saat kantor-kantor ditutup. Pabrik berhenti produksi. Pusat bisnis dan jalanan sepi. Pasar saham terjun bebas. Aktivitas ekonomi berhenti total. Toh, kita bisa melewatinya.

Jangan pernah meremehkan resiliensi manusia untuk bangkit dan beradaptasi. Di masa pandemi kemarin justru semangat solidaritas begitu terasa. Gerakan-gerakan kolektif untuk berdonasi dan saling bantu bermunculan. Kita saling berbagi informasi soal lapangan kerja, rumah sakit, sampai donor plasma konvalesen.

Di tengah keterbatasan justru peluang baru bertumbuh. Ada yang memulai bisnis rumahan semisal makanan. Ada yang ningkatin skill dan cari kerja remote dari luar negeri. Ada yang cari proyekan dari bikin alat deteksi covid via hembusan napas. Ada yang banting setir beli ring lights lalu jadi influencers. We pivoted. And we survived.

EKONOMI INDONESIA

Lagipula, sekalipun resesi dan perlambatan terjadi, belum tentu dampaknya akan semasif itu. Terlebih ke Indonesia. Fundamental ekonomi kita bagus. Konsumsi domestik tinggi. Neraca perdagangan surplus. Neraca pangan dan energi terjaga. Rasio hutang masih di batas aman. Pasar modal dan saham didominasi investor domestik. Cadangan devisa tinggi. Ini semua menjadi modal kita meredam resesi dan krisis di tingkat global. Backlog properti kita juga masih tinggi. Sehingga ancaman properti bubble seperti di China juga terlalu jauh.

BAHAYA KETAKUTAN BERLEBIH

Dokter dan akademisi Hans Rosling pernah menjelaskan soal ini di bukunya Factfulness. Ketakutan berlebih seringkali justru kontraproduktif. Alih-alih mencegah dampak buruk, malah bisa memicu masalah baru yang yang lebih besar. Di sejumlah negara Afrika misalnya. Ketika ada ketakutan akan penyakit menular, tak jarang pengambil kebijakan bertindak berlebihan. Antara lain menutup perbatasan dan mengunci sebuah wilayah.

Aksi ini justru memunculkan unintended consequences yang jauh lebih berbahaya. Jalanan diblokir hingga penduduk mencari rute alternatif yang berbahaya dan berujung kematian. Perbatasan dikunci hingga penduduk harus mencari sumber makanan alternatif yang berujung penyakit mematikan. Ini sudah pernah terjadi di Nacala, Mozambik, tahun 1981. Kinshasha, Kongo, tahun 1995. Juga di Liberia tahun 2014. Ketakutan berlebih hanya menghasilkan kepanikan dan kematian yang tak perlu. Ia tidak benar-benar menyelesaikan masalah.

OBJEKTIF DAN PROPORSIONAL

Menghadapi sesuatu baiknya secara objektif dan proporsional. Tidak perlu berlebihan. Jika kita panik menghadapi ancaman 2023, bisa jadi malah kontraproduktif. Masyarakat yang ketakutan bahwa ekonomi akan seburuk itu bisa jadi enggan membelanjakan uangnya. Hal ini malah berpotensi membuat roda ekonomi sulit bergerak.

Kalau masyarakat enggan belanja, bisnis sulit berkembang. Lapangan pekerjaan berkurang, daya beli menurun. Kredit tidak bertumbuh. Ekonomi makin stagnan. Bayangin kalo semua orang beli saham Apple tapi gak ada yang beli iPhone. Ujungnya malah gak sehat.

Jadi, masih mau ditakut-takuti sama financial influencers yang lagi jual diri? Saya sih ogah, ya. Buang-buang energi aja.

Saya jelas bukan orang yang paling optimis di dunia. Malah seringkali pesimis. Tapi untuk kali ini, saya lebih memilih menjadi realistis aja. Berdagang ketakutan lewat konten fear-mongering itu jurusnya Jouska. Founder-nya aja udah dipenjara. Kenapa jurusnya masih aja dipakai sih? Basi elah.

Sekian dulu tulisan kali ini. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

Jakarta, 15 Oktober 2022

%d bloggers like this: