Bom Gereja

Cerita Pendek.
#HariKetiga menepati janji menulis satu tulisan per hari

Jarum pendek tepat menghujam angka tiga, saat pastor mengumandangkan bahwa Yesus telah wafat. Dalam sekejap satu per satu umat berlutut. Udara larut dalam keheningan. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Pada detik kedelapan, tepat di saat umat bersiap untuk berdiri, dentuman keras terdengar. Asap mengepul. Orang-orang berteriak, entah kesakitan, panik, atau ketakutan. Di saat seperti inilah insting naluriah menunjukkan peringai aslinya. Semua umat berdiri, berlari sekuat tenaga menuju gerbang keluar terdekat. Tak ada lagi yang peduli akan prosesi liturgi. Ribuan orang membuncah keluar gereja, mulai dari umat, petugas tata laksana, misdinar, imam, hingga pastor kepala.

Semua sibuk berusaha menyelamatkan diri. Salib di atas altar pun kehilangan daya magisnya memusatkan konsentrasi dan menenangkan umatnya. Aku tetap duduk. Di tempat dudukku sedari awal. Tak beranjak sama sekali. Aku memperhatikan semua detil dengan seksama, dengan perasaan berdebar, dengan konsentrasi penuh, hingga seakan-akan semua berjalan sangat lambat. Aku tak perlu takut dianggap aneh karena tidak berusaha menyelamatkan diri, aku yakin di saat seperti ini semua orang tak sanggup memikirkan apa pun kecuali tentang keselamatan dirinya sendiri.

Aku menutup mata, berlutut, mulai memanjatkan doa. Aku berharap tidak ada yang terluka, bahkan tewas, saat semua umat berhimpitan keluar dari gereja. Itu saja. Karena aku yakin, ledakan itu sendiri takkan melukai siapa pun. Bom meledak di dalam ruangan tak terpakai di belakang goa maria. Daya ledaknya pun tidak besar, meski asap yang ditimbulkannya memang dibuat seolah bom tersebut mampu meruntuhkan gedung bertingkat. Sudah cukup, sekedar untuk menakuti umat satu gereja.

Saat lautan umat yang saling berdesakan keluar mulai surut, aku ikut beranjak keluar dari gereja. Menghilang dalam lautan umat yang masih diselimuti cemas dan takut. Sejurus kemudian aku sudah tiba di rumahku, langsung menyalakan televisi. Benar saja, berita tersebut langsung muncul menjadi headline news di stasiun-stasiun televisi nasional. Pemadam kebakaran, polisi, dan tim Gegana sudah tiba di lokasi. Berbagai foto dampak ledakan disorot berulang-ulang. Saat pembawa berita mengumumkan tidak adanya korban luka maupun jiwa, aku menghembuskan nafas panjang. Bersyukur. Televisi pun aku matikan.

Senyum tersimpul. Semua berjalan sesuai rencana. Besok, peristiwa tadi akan menjadi berita terhangat seantero negeri. Semua petunjuk yang bisa mengarah pada keterlibatanku sudah terhapus tanpa jejak. Aku yakin dalam beberapa hari polisi akan putus asa. Dan seperti biasa, mereka akan menciptakan tokoh-tokoh rekaan untuk dijadikan kambing hitam. Seorang ekstremis, anggota jaringan teroris internasional, dan berbagai embel-embel yang kelihatan nyata, padahal tidak. Untungnya, media dan masyarakat sedemikian mudahnya mempercayai karangan tersebut. Mereka lebih memilih keberadaan seorang tokoh antagonis, tanpa perlu tahu apakah tokoh tersebut benar-benar ada atau tidak, dibandingkan dibiarkan terus menerka, siapa yang patut dipersalahkan dari kejadian tersebut.

Semua akan lebih percaya pada hasil karangan polisi, tak peduli seberapa absurd dan minim verifikasinya karangan tersebut. Siapa yang percaya, kalau bom tersebut tak lebih dari sekedar ungkapan kekecewaan sang pelaku terhadap gerejanya sendiri? Gereja yang telah terlalu memegahkan diri, dan kehilangan kekhusyukannya sama sekali. Gereja yang terlalu mementingkan ukiran-ukiran indah di sekujur tubuhnya sendiri, dan mengacuhkan keimanan pengunjungnya. Gereja yang sudi repot-repot memasang pendingin ruangan, proyektor, hingga sound-system canggih nan mahal, meski harus mengorbankan kesakralan pemaknaan iman umatnya sendiri. Gereja yang sudah terlalu menyamankan fisik penggemarnya, hingga tak pantas lagi mengenang kesederhanaan anak manusia yang mereka salib dan teladani secara bersamaan.

Semoga saja, usahaku kali ini membuahkan hasil. Mungkin ledakan kecil ini bisa lebih efektif dibandingkan ratusan surat yang sudah kulayangkan sebelumnya ke para petinggi gereja. Jika masih belum berhasil juga, mungkin usaha berikutnya akan melibatkan sedikit darah. Sebagaimana yang telah diteladankan oleh Ia yang tersalib, kadang pengorbanan itu penting, untuk suatu kebaikan yang lebih besar. Dan jelas, tak perlu mengorbankan banyak orang, sebagaimana yang sudah diteladankan oleh Ia yang tersalib, korbankanlah pertama-tama dirimu sendiri. Darahmu sendiri. Nyawamu sendiri. Imanmu sendiri. Amin.

Jakarta, 22 April 2011
Okki Sutanto
(sama-sekali-tidak-berencana-merakit-bom)

Rutinitas Kami

RUTINITAS KAMI

Entah sejak kapan, kami berenam sepakat untuk rutin berkumpul di tempat ini. Tidak begitu bagus memang tempatnya, tapi tidak begitu jelek juga. Setidaknya kami memiliki ruang untuk melepas penat, berbicara banyak tentang kenangan bersama masa SMA, berbicara mengenai pekerjaan sekarang, keluarga, dan lain sebagainya. Tidak mudah bagi kami untuk berkumpul, mengingat kepadatan jadwal masing-masing dari kami.

Kami tidak pernah berjanji atau membuat kesepakatan, bahwa kami akan rutin berkumpul di sini. Ini semua terjadi alami begitu saja. Tanpa diutarakan secara verbal, kami tahu ini sudah menjadi tradisi kami. Dan kami juga tahu, bukan hanya kami yang rutin berkumpul di sini untuk bercengkrama, jauh sebelum kami sudah banyak yang melakukannya. Mungkin karena suasana tempat ini yang begitu nyaman. Mungkin karena kemudahan akses. Mungkin karena musik yang disuguhkannya. Entahlah, aku enggan untuk menganalisis.

Hari ini kami sedang membicarakan tentang masalah di tempat kerja masing-masing. Ada Rudi yang mulai mengeluhkan bawahannya yang sulit diatur. Ada masalah Alvin dengan pemilik saham di perusahannya. Ada juga Linggo yang sedang kesulitan menyusun Sistem Komputerisasi di perusahaan multinasional. Sebenarnya tidak semua masalah yang diutarakan di sini akan menemui solusi, namun setidaknya kami tahu bahwa kami tidak sendiri ketika menghadapi masalah. Itu sudah cukup.

Hal lain yang membuat kami senang untuk berkumpul di sini adalah karena tempat ini ramai. Cukup banyak orang berlalu lalang yang bisa kami komentari penampilannya. Tak jarang kami juga mencoba menggoda Mario, satu-satunya di antara kami yang masih lajang, dengan mencoba memperkenalkannya dengan pengunjung wanita yang menurut kami menarik. Biasanya sih berakhir dengan kegagalan, karena Mario terlalu pemalu untuk itu. Tak peduli, kami toh akan tetap membantunya lain kali.

Pembicaraan baru mulai menghangat ketika Arthur melemparkan topik liburan bersama ke luar negeri. Kami cukup antusias mendengarnya. Liburan bagaikan fatamorgana di tengah kepadatan kami saat ini. Masing-masing mulai mengutarakan ide dan pendapatnya. Mulai dari tujuan liburan hingga waktunya. Mulai dari acara hingga budgetnya.

Namun kami harus menunda pembicaraan kami ke kesempatan lain, seperti biasa. Bagaimana pun, kami tidak bisa terus menghabiskan waktu di sini. Ada keterbatasan waktu yang kami miliki.

Lagi pula, kebaktian hari ini sudah usai. Gerbang gereja akan segera ditutup.

———————————————————

Jakarta, 25 Maret 2010.
Okki Sutanto
(merasa ini tidak sepenuhnya fiksi)