Rawat Jalan Rame-Rame

Tulisan Keempat.

martins-zemlickis-57243.jpg
Photo by Mārtiņš Zemlickis on Unsplash

Lha apaan nih tiba-tiba ada lagi sambungannya. Kirain trilogi doang tiga tulisan kemarin. haha. Tenang, saya kan ga mau kalah sama Star Wars dan Cinta Fitri. Selama ada yang nikmatin, dibikin terus. hehe..

Ada beragam alasan seseorang memutuskan untuk kuliah Psikologi. Ada yang karena pas SMA sering jadi tempat curhat temen-temennya, lalu merasa menikmati, lalu memutuskan kuliah Psikologi. Sadis nih tipe-tipe begini, menikmati banget penderitaan orang. Buktinya seneng dicurhatin dan dengerin kesedihan temennya. hehe. Gak lah, bercanda. Tipe-tipe ini biasanya cewek cakep atau minimal populer di SMAnya, karena entah kenapa curhat ke cewek cakep kan lebih nyaman daripada curhat ke cowok jelek. Buktinya? Temen saya gak ada yang pernah curhat tuh ke saya pas SMA. hehe..

Selain itu, ada yang karena anggota keluarga atau kerabatnya sudah berkarir di bidang Psikologi. Jadi cukup tahu dan tertarik dengan bidang ini. Biasanya yang begini-begini lebih serius dan jelas pas kuliah. Udah tahu lah istilahnya mau belajar apa, lulus mau jadi apa, dan gak banyak melewati fase “pencarian jati diri” pas kuliah. Abis lulus S1 juga ga nunggu lama untuk lanjut ke S2, bahkan ke S3. Ya karena udah jelas banget mau jadi apa pokoknya.

Nah, lain lagi dengan yang masuk Psikologi karena merasa ada yang salah dengan dirinya. Jadinya ingin tahu lebih dalam tentang dirinya, syukur-syukur “menyembuhkan” diri. Jumlahnya ga banyak-banyak amat sih, tapi ya gak sedikit juga. Ini dia yang istilahnya kuliah sambil rawat jalan. Bisa jadi juga gak dari awal tujuannya itu sih, mungkin banget pas kuliah belajar banyak gangguan dan abnormalitas, lalu jadi mulai analisa diri sendiri dan ikutan “rawat jalan”. Belajar Psikologi, analisa diri sendiri, lalu intervensi diri sendiri.

Makanya jangan kaget ketika kuliah Psikologi, rasa-rasanya banyak banget temen-temen yang unik. Tapi tenang, keunikan-keunikan itulah yang bikin pertemanan jadi lebih berwarna dan kita belajar empati dengan lebih mudah. Gak cukup belajar Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau sering disingkat Obul dari buku saja, pasti banyak kok teman-teman di Psikologi nanti yang jadi contoh nyata. Atau bipolar. Atau narsistik. Atau insecure. Dan lainnya.

Yang perlu jadi perhatian adalah jangan merasa “pintar” hanya karena satu-dua tahun belajar Psikologi. Apalagi sampai rajin memberi label, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Selain belum tentu benar, memberi label bisa memberi konsekuensi jangka panjang yang tidak terkira loh pada orang tersebut. Serahkanlah hal tersebut pada ahlinya. Kalian kan masih belajar. Ga ada noda ya ga belajar, memang, tapi jangan juga justru jadi “menodai” orang lain kan. Lah apaan nih kok konotasinya jadi ga enak! Ya intinya demikian.

Patut diingat bahwa sebagai ilmu sosial, Psikologi seringkali ga punya jawaban pasti. Ada banyak perspektif. Ada banyak kemungkinan jawaban yang bisa berubah tergantung konteks. Jadi jangan sampai kalian memberi vonis yang bisa menghancurkan kehidupan seseorang, cuma karena ingin dianggap pintar. Takabur itu namanya. “Eh dia kan anak indigo, jangan dekat-dekat nanti diterawang”. Atau “Eh dia kan masokis, jangan dekat-dekat nanti minta dicambuk”.

Seperti film 50 Shades of Grey, dunia Psikologi itu banyak abu-abunya. Jadi jangan sering-sering sok jadi hakim yang memutuskan hitam-putihnya sesuatu. Tak cambuk loh nanti.

Jakarta, 24 Januari 2018
Okki Sutanto

Orientasi Tanpa Orientasi

Sebelumnya dipublikasikan di Notes Facebook (05/08/2015).

gambar dari: upload.wikimedia.org

Tahun ajaran baru saja dimulai, seperti biasa. Korban kembali berjatuhan, seperti yang sudah-sudah. Meski hingga kini belum ada yang bisa memastikan apa penyebab kedua siswa baru di Bekasi dan Bintan meninggal, kegiatan orientasi siswa baru pun kembali menjadi sorotan. Mendengar berita ini sepuluh tahun lalu mungkin kita mengecam dan kaget sejadi-jadinya, sekarang? Rasanya kita sudah terhabituasi. Macam mendengar berita sepeda motor tertabrak bis Transjakarta, atau memaklumi ketika seorang politisi menjadi tersangka korupsi.

Wajar memang ketika manusia, entah di level individual atau komunal, menjadi terbiasa dengan sesuatu yang terjadi berulang-ulang. Maka tidak mengherankan ketika kini kegiatan orientasi siswa berujung maut, kita tak lagi kaget. Alamiah, meski miris dan mengerikan.Selalu mudah mencari kambing hitam di setiap kejadian ini. Sekolah yang tidak peduli, guru yang kurang pengawasan, senior yang semena-mena, hingga pemerintah yang kurang regulasi. Sesederhana itukah? Sepertinya tidak. Kita sudah demikian lama membiarkan kegiatan orientasi siswa baru berlangsung tanpa orientasi. Ironis memang, kegiatan orientasi yang sejatinya bertujuan mengenalkan dan mempersiapkan, malah dilakukan tanpa persiapan yang memadai. Ya, orientasi tanpa orientasi.

Refleksi Bersama

Ada sejumlah hal yang perlu kita refleksikan bersama. Pertama, apakah benar masalah-masalah yang terjadi dalam program orientasi siswa baru adalah masalah yang berdiri sendiri, terisolir sepenuhnya, dari konteks dunia pendidikan kita sendiri? Jangan-jangan ini hanya fenomena gunung es, dari segudang masalah lain di dunia pendidikan yang hanya menunggu waktu untuk muncul ke permukaan. Apa benar kurikulum nasional kita sudah berhasil dirancang dan diimplementasikan untuk menciptakan manusia-manusia Indonesia yang memanusiakan manusia? Bisa jadi kita demikian terfokus untuk mempelajari begitu banyak ilmu, namun melewatkan pentingnya menjadi manusia yang mampu berempati dan peduli pada sesama.

Menyalahkan sekolah dan guru memang mudah, tapi tentu tidak bijak mengingat beban kerja dan tanggung jawab mereka yang sudah teramat luas dan kadang masih kurang apresiasi. Menyalahkan siswa senior juga rasanya terlalu menyederhanakan. Di negeri dengan jarak kekuasaan yang tinggi seperti Indonesia, relasi egaliter antara sesama siswa maupun siswa dengan guru tidak mudah diusahakan. Jangankan di dunia pendidikan, di organisasi pun pemerintahan juga tingginya jarak kekuasaan membuat kultur ABS (Asal Bapak Senang) mengakar. Kita dengan mudah tunduk, segan, dan merasa rendah diri di hadapan mereka yang lebih senior atau lebih tinggi jabatannya. Hubungan yang tidak setara ini membuat sulit terciptanya komunikasi yang sehat antara kedua belah pihak. Yang satu akan cenderung menekan, yang lain tertekan.

Ketidakpekaan akan hal inilah yang berpotensi membuat siswa senior bertindak berlebihan. Mereka merasa memegang kendali penuh dan bisa berbuat semena-mena, karena siswa baru tidak punya pilihan lain selain menurut pada mereka. Apakah ini berarti siswa senior adalah orang yang jahat dan berkepribadian buruk? Belum tentu. Philip Zimbardo, seorang psikolog dari Universitas Stanford, dalam salah satu eksperimen sosialnya yang terkenal menunjukkan bagaimana setiap individu berpotensi melakukan tindak kekerasan tergantung peran dan situasi yang terjadi. Dalam studi tersebut, partisipan penelitian yang diminta menjalani peran sebagai sipir penjara, demikian menghayati peran mereka dan tidak segan melakukan tindakan sadis pada para partisipan penelitian lainnya yang berperan sebagai narapidana. Saat eskalasi tindak kekerasan terjadi, eksperimen tersebut akhirnya dihentikan hanya dalam enam hari, dari yang seharusnya dua minggu. Pembelajaran dari studi ini adalah bahwa siapa pun itu, terlepas dari kepribadian mereka, bisa melakukan tindakan buruk pada sesama jika berada dalam situasi tertentu, khususnya ketika diberi kendali penuh sebagai otoritas. Jadi sebelum dengan mudahnya menghakimi para siswa senior, ada baiknya kita mengevaluasi kembali pada situasi apa mereka berada, dan bagaimana membuat situasi tersebut tidak melulu terjadi.

Dasar-Dasar Pelatihan

Selain terkait faktor situasional, kesiapan para siswa senior khususnya para panitia program orientasi siswa baru juga patut diperhatikan. Bagaimana mungkin mereka yang sehari-hari belajar matematika atau ekonomi di kelas, secara tiba-tiba diharapkan sanggup merancang dan mengeksekusi program orientasi yang baik dan betul? Perlu ada fondasi wawasan dan kemampuan terkait yang dibangun terlebih dahulu, atau scaffolding dalam bahasa Vygostky, seorang psikolog pendidikan terkenal.

Dalam konteks menyusun program orientasi, tidak ada salahnya membekali para panitia dengan dasar-dasar pelatihan organisasi. Secara sederhana, pelatihan adalah usaha sistematis yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, atau pengalaman seorang individu. Tidak jauh berbeda bukan, dengan apa yang ingin disasar oleh program orientasi? Kita ingin siswa baru lebih mengetahui tentang sekolah dan rekan-rekan barunya, pun membekali mereka dengan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan di jenjang yang baru, baik itu strategi belajar, berkomunikasi, dan lainnya.

Para panitia program orientasi siswa baru, baik guru maupun siswa senior, berhak tahu bahwa melalui pendekatan pelatihan, orientasi siswa baru bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat. Mereka berhak tahu, bahwa hal terpenting yang perlu dirumuskan adalah tujuan program, bukan atribut konyol apa saja yang perlu dibawa siswa baru. Mereka berhak tahu, bahwa banyak metode dan aktivitas yang bisa dipilih, mulai dari ceramah, diskusi, permainan, hingga menonton film, dan memarahi atau memukul siswa baru bukanlah satu pilihan yang bijak.

Pada akhirnya kerjasama banyak pihak menjadi penting. Pemerintah bisa memberikan regulasi yang lebih jelas terkait peran sekolah, guru, dan senior, dalam program orientasi siswa baru. Para guru juga bisa dibekali ilmu pelatihan organisasi dan meneruskannya kepada panitia program orientasi sekolah. Perguruan tinggi, khususnya Fakultas Psikologi yang memiliki materi pelatihan dalam kurikulum mereka, juga perlu terlibat secara aktif dalam hal ini. Mereka memiliki kompetensi yang lebih dari cukup, untuk membekali dan menyebarluaskan manfaat serta ilmu kepelatihan yang mereka miliki. Jika kita bisa mencapai kolaborasi sinergis seperti ini, rasanya tahun-tahun mendatang kita boleh kaget mendengar betapa positifnya program orientasi siswa baru di negeri ini dilangsungkan.

Kuliah Itu Cuma Etalase Kok.

#Curhat070

Diposkan juga di Nota Facebook.

Kutipan yang saya jadikan judul tulisan ini dulu pernah saya dengar ketika mewawancara salah satu guru sekolah alam. Eh, sebelumnya, pada tahu gak sekolah alam itu apa? Bukan, ini bukan sekolah yang lulusannya jadi tarzan. Bukan pula sekolah yang lulusannya jadi pecinta alam hebat macam Soe Hok Gie. Di sekolah alam, anak-anak dibebaskan bereksplorasi, bereksperimen, berekspresi tanpa dibatasi sekat dinding dan berbagai aturan yang mengekang rasa ingin tahu mereka, yang membatasi interaksi mereka dengan kehidupan yang sebenarnya, yang membuat mereka tak berjarak dan akrab dengan alam lingkungan mereka (Website Sekolah Alam Indonesia).

Kembali ke awal. Guru tersebut mengemukakan bahwa kuliah itu tak lebih dari sekedar etalase saja. Mahasiswa hanya diperkenalkan secara sekilas saja tentang berbagai hal, tanpa tahu bagaimana pengaplikasian yang sebenarnya di kehidupan. Pada waktu itu guru yang saya wawancarai memberi contoh pula tentang bagaimana menangani anak-anak yang memiliki gangguan belajar dan kebutuhan khusus. Di buku-buku kuliah sih, tertulis dengan jelas penyebabnya apa, definisinya apa, dan intervensinya bagaimana. Tapi, apa iya menerjemahkan apa yang tertulis di dalam buku ke kehidupan nyata itu mudah? Ternyata tidak. Banyak loh tantangannya. Bisa dari ketidakpedulian orangtua, bisa keterbatasan ekonomi keluarga, dan segudang faktor lainnya. Hal-hal yang gak ada di perkuliahan. Gak tertulis di buku-buku kuliah.

Sebutlah sebuah kasus, dimana ada seorang anak SD yang suka menunjukkan perilaku kurang “sopan” ke teman-teman sebayanya. Ternyata, setelah ditelusuri, anak ini terkadang melihat orangtuanya melakukan hubungan suami-istri di rumah. Anak ini pun, tanpa paham apa yang dilakukan orangtuanya, mencoba meniru (walau dalam derajat tertentu). Nah, solusinya gimana? Gampang kan kalau di buku? Hilangkan penyebabnya! Minta orangtuanya jangan melakukan hal itu lagi di depan anaknya! Eh, sabar dulu. Usut punya usut, keluarga ini ternyata tinggal di sebuah kos sederhana, dan rumahnya itu cuma terdiri dari satu kamar kecil yang sempit. Semua anggota keluarga pun hidup dan beraktivitas di kamar sempit itu. Lantas, mau minta mereka sekeluarga pindah ke rumah yang lebih besar? Mana sanggup. Mau minta mereka gak melakukan hubungan suami-istri sama sekali? Mana tahan. Atau mau mereka ngungsi ke kamar tetangga kalau lagi kepepet? Mana enak sih.

Ya, itu baru satu kasus. Masih banyak kasus-kasus lain yang membuktikan bahwa kuliah itu cuma sebatas etalase, dan apa yang tertulis di buku itu gak banyak membantu di kehidupan nyata. Lantas, gimana dong? Ya, simpel aja, jangan cuma nuntut ilmu di kelas! Di luar kelas juga kan banyak tempat belajar yang bisa mengajarkan lebih dari sekedar etalase. Entah ikut organisasi, magang ke perusahaan, kembangin komunitas, atau apa lah. Di kelas pun, jangan mau cuma duduk diem dengerin dosen ngoceh. Kritisi dosen! Ajukan pertanyaan! Benturkan dengan realitas yang ada. Jangan biarin otak kita cuma jadi stasiun transit doang, sebelum ilmu itu berpindah dari buku dan mulut dosen ke lembar jawab ujian.

Jangan mudah puas. Hanya orang bodoh yang beli ember anti-pecah karena terlihat bagus di etalase (emang ada etalase yang muat ya?). Orang beli ember anti-pecah, setelah terbukti ember itu dibanting sekuat tenaga pun gak bakalan pecah. Ya, demikian pula dengan kuliah. Coba benturkan ilmu yang kita pelajari ke kenyataan, sampai terbukti kebenarannya. Banting sekuat mungkin. Sekali lagi, benturkan dan banting ilmunya ya. Bukan nilai Anda yang dibanting. Bukan pula pintu atau bangku kelas. Apalagi dosen.

Jakarta, 5 Desember 2011

Uang Gak Bisa Beli Kebahagiaan? Mitos!

Sebelumnya diposkan di Nota Facebook

Sekitar seminggu yang lalu, saya mampir ke Tri Store di Plaza Semanggi. Ada dua kebetulan yang mengantar saya ada di sana. Pertama, kebetulan saya sedang mencari USB Modem untuk mendukung produktivitas skripsi saya. Kedua, kebetulan hari itu saya baru ambil honor hasil “ngasong”.

Awalnya niat saya hanya sekedar survei, tidak langsung membeli. Namun, karena pelayanan yang tidak memuaskan di Tri Store tersebut, akhirnya saya beli juga USB Modem tersebut. Ya, Anda gak salah baca. Saya BELI KARENA PELAYANAN YANG TIDAK MEMUASKAN! Bukan sebaliknya. Lah, kok bisa? Tenang, akan saya ceritain kok! Tulisan ini bukan seri Harry Potter atau Twilight, yang hobi nunda cerita sampe ke sekuel selanjutnya. Tenang, akan saya ceritakan. Kalem. Woles.

Jadi, ketika saya datang dan menanyakan perihal USB MODEM keluaran Tri ke staf yang berdiri di kasir, jawaban yang saya dapat adalah begini:

“Ada kok mas, tapi harganya enam ratus tujuh puluh ribu rupiah!”

Sesaat saya terdiam menganalisa kalimat singkat tersebut. Singkat sih, tapi ada makna tersirat di kalimat itu! Emang, saya ini bukan ahli bahasa, tapi saya juga tidak bodoh-bodoh amat untuk tahu ada nada sinis dan meremehkan di kalimat tersebut. Kata “tapi” seharusnya ga dibutuhkan di kalimat itu! Kata “tapi” cuma menjelaskan bahwa menurut si mas di kasir, saya ga bakalan sanggup beli tuh USB Modem.

Parahnya, kalimat tersebut perlu diulang sekali lagi oleh mbak-mbak Customer Servicenya (pembelian ga di kasir, tapi tetep di-refer ke meja Customer Service dulu). Saat saya menanyakan hal yang sama, jawaban yang sama muncul lagi. Kata “tapi” keluar lagi.

Akhirnya, USB Modem itu pun saya beli. Bukan karena fasilitas, kecepatan, atau spesifikasi keren apa pun yang dimiliki modem itu. Saya beli modem itu sekedar ingin meredam kesal dan meruntuhkan kekurangajaran kedua oknum Tri Store tersebut saja.

Apakah saya menyesal di kemudian hari karena impulsif dalam membeli? Oh tidak! Selain karena saya menikmati fungsi riil dari modem tersebut, pembelian tersebut juga sukses membuat saya dipuaskan secara batin. Ekspresi terkejut dan sedikit malu yang dimunculkan si mbak-mbak Customer Service cukup membuat saya bahagia! Jadi, sesuai judul tulisan ini, hari itu saya berhasil mematahkan mitos bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Setidaknya hari itu, setidaknya untuk saya.

Menariknya, ternyata teman saya juga punya pengalaman serupa: diremehkan penjual. Tapi, kisah teman saya ini jauh lebih tragis dari saya. Kalau saya setidaknya masih sedikit elit: diremehkan di mal, di ruangan berAC, untuk barang yang harganya tidak murah-murah amat. Ceritanya, teman saya ini mau beli somai di pinggir jalan. Ia bertanya harga somai kalo pake telor ke abangnya. Dahsyatnya, jawaban si abang seperti ini:

Tapi kalo pake telor agak mahal mas, sembilan ribu!

Sumpah. Saya tidak kebayang seberapa kucel, dekil, atau compang-campingnya temen saya yang lagi nawar somai itu. Saya juga gak mau ngebayangin. Saat ngedenger cerita itu, saya cuma bisa ngakak. Miris sih emang ceritanya, tapi layak untuk dingakakin dulu. Dan sambil ngakak, saya berharap tidak ada lagi orang lain di luar sana yang mengalami nasib serupa, khususnya untuk barang yang lebih murah lagi. Cukuplah saya dan teman saya itu yang mengalaminya. Cukup.

Jakarta, 23 November 2011
Okki Sutanto

Ini Namanya Ngupil Apa Ya?

#Curhat.070
Sebelumnya diposkan di Nota Facebook.

Anda tahu ngupil? Ternyata, ngupil itu ada banyak jenisnya. Jika Anda mengupil karena ingin menghilangkan rasa tak nyaman di hidung Anda, itu namanya Ngupil Instrumentalis. Jika Anda mengupil karena senang dengan sensasi rasa perih dan sakit yang timbul, namanya Ngupil Masokis. Jika Anda mengupil karena melihat orang lain ngupil, namanya Ngupil Konformis. Jika Anda mengambilkan upil orang lain dengan sukarela, namanya Ngupil Altruistik.

Oke, jangan sepenuhnya percaya dengan apa yang saya tulis di atas. Tulisan tersebut hanyalah ilustrasi mengenai apa yang saya rasakan, di masa-masa awal saya belajar Psikologi. Di masa itu, saya merasa ilmu Psikologi amat bernafsu memberi nama dan istilah akan segala sesuatu yang terjadi di sekitar manusia.

Psikologi seakan selalu mempunyai istilah untuk menggantikan berbagai kosakata yang normal digunakan khalayak. Ada “konformitas” untuk menggantikan “latah / ikut-ikutan”. Ada “Obul” untuk menggantikan “perfeksionis”. Ada “katarsis” untuk menggantikan “ngamuk-ngamuk”, dan masih banyak lagi.

Ya, begitulah kesan saya di masa awal berkuliah Psikologi. Setiap harinya, ada saja istilah-istilah baru yang dipelajari untuk menjelaskan berbagai fenomena keseharian. Alhasil, berbagai kosakata baru tersebut populer digunakan mahasiswa Psikologi dalam keseharian mereka. Di satu sisi, hal tersebut memang bagus, karena menandakan bahwa apa yang dipelajari di kelas tidak menguap begitu saja, dan dipahami melalui obrolan sehari-hari. Namun, di sisi lain penggunaan berbagai istilah tersebut juga seakan membangun dinding tak terlihat, antara mereka yang belajar Psikologi dan mereka yang tidak.

Semoga saja hal tersebut tidak membuat mahasiswa Psikologi menjadi terlalu nyaman dengan sesama mereka sendiri, pun sebaliknya mahasiswa non Psikologi jadi merasa kesulitan memahami mereka yang belajar Psikologi. Karena sejatinya ilmu Psikologi itu akan semakin bermanfaat, jika makin banyak orang yang mengerti. Semoga, ilmu Psikologi tak hanya tertransmisi di antara kepala dan mulut mahasiswa-mahasiswanya saja. Semoga saja!


Jakarta, 13 Oktober 2011
 Okki Sutanto. 

Mahasiswa ya sampah!

Ketikan Pinggir Hari Ini.

“Mahasiswa itu ibarat sampah.”
Mendengar ini, mungkin sebagian besar mahasiswa kebakaran jenggot.
Kesal? Marah? Tersinggung? Terserah.
Setidaknya, diresapi dulu benar-benar kalimat di atas.

Yang dimaksud dengan sampah, bukan dalam artian bau; tidak berguna, & dilupakan orang. BUKAN!
Sebenarnya sampah itu memiliki segudang manfaat.
Didaur ulang untuk dijadikan produk baru? Bisa.
Diproses menjadi sumber energi? Bisa.
Menjadi sumber penghasilan? Bisa.
dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, masalahnya adalah sedikit sekali orang yang mengetahui potensi dari sampah.
Pada titik inilah mengapa saya bersikeras bahwa mahasiswa dan sampah bisa disetarakan.
Sedikit yang tahu, percaya, dan yakin pada potensi mahasiswa. Bahkan mahasiswa sendiri pun cenderung merendahkan potensi yang mereka punya.

Mendapat segudang ilmu di perkuliahan, alih-alih memutar otak untuk mengaplikasikan ilmu tersebut, mayoritas mahasiswa malah berlomba-lomba jadi tukang fotokopi di kantor. Mentok-mentok disuruh bikin kopi. Kesal? Boro-boro. Seneng malah. Kerjaan gampang, dapet gaji setara UMR. (Ini otaknya kalo dijual pasti mahal, masih disegel.)
Punya tingkat intelektualitas tinggi, alih-alih berkontribusi pada pembangunan bangsa, mayoritas sudah cukup puas diundang ke acara televisi sekedar untuk tepuk tangan. Dapet makan, dapet duit, disuruh senyum2. Mau-mau aja. Seneng pula. (Ini mahasiswa apa topeng monyet?)
Dilatih berpikir rasional, kreatif, dan solusif, alih-alih bisa menjadi kontrol sosial dan kritis terhadap berbagai hal, malah bangga bisa adu cepet ngetik dan adu cepet dapet gosip dari facebook, twitter, dan bbm. (yang kayak gini bangga kalo bisa dapet video Sinta-Jojo lebih dulu daripada temen-temennya, tapi kalo ditanya kapan hari pahlawan, pada kaga bisa jawab.)
Punya akses ke berbagai fasilitas, sumber daya, dan lain sebagainya, alih-alih mengoptimalkan itu semua, malah puas bisa main Plant versus Zombies di labkom kampus atau baca Lampu Merah di perpustakaan atau update status di kelas (pas dosen lagi ngajar, dan statusnya ngejek si dosen pula!).

Wah, prihatin deh.
Memang tidak semua mahasiswa seperti itu.
Ada juga yang sadar pada potensinya masing-masing dan melakukan berbagai hal, baik untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, maupun untuk komunitas dan masyarakat yang lebih luas.
Namun jumlahnya masih sedikit. Kebanyakan ya masih seperti sampah.

Kondisi ini jika didiamkan akan semakin parah.
Mahasiswa makin minder dan rendah diri, masyarakat pun jadi ikutan memandang rendah mahasiswa.
Jangan sampe nanti muncul peribahasa baru: “Jangan buang mahasiswa sembarangan!”
Lalu nanti akan muncul tong mahasiswa (bukan tong sampah), yang memisahkan antara mahasiswa organik dan anorganik. Yang setengah dungu dan yang dungu sekali.
Jangan sampe deh! Amit-amit.

Ya, segini dulu deh kali ini.
Semoga makin banyak mahasiswa yang sadar potensi yang mereka miliki, dan bisa berbuat banyak demi kesejahteraan dirinya sendiri, keluarga, juga masyarakat sekitar.
Cari sampah dulu ah!

Diposkan sebelumnya pada 15 September 2010 di Makna-kata.