#1: MulaiAjaDulu
Tahun lalu adalah tahun saya melakukan beberapa hal untuk pertama kalinya. Pertama bikin event offline. Pertama kali bikin kelas online (berlanjut ke beberapa kelas berikutnya). Bikin eBook (sekarang udah terbit 4 eBook). Meeting sama penerbit (sampe bukunya terbit). Kerjasama dengan brand untuk promosiin produk mereka. Diwawancara media asing. Jadi session leader di IdeaFest. Nonton fashion show. Dan masih banyak lagi.Ternyata, banyak hal yang saya coba lakukan itu….seru! Kadang, dari situ jadi dapat teman baru. Pelajaran baru. Sampai kesempatan baru. Intinya mah mulai aja dulu. Just do it! Gak semuanya langsung sempurna pas percobaan pertama. Ada yang kurang optimal. Tapi ya gak masalah. Kan bisa belajar jadi sedikit lebih baik. Sedikit lebih optimal.
#2 “Luck is what happens when preparation meets opportunity.”
Pelajaran ini masih terkait dengan yang pertama. Tahun lalu, banyak banget kesempatan baru yang menghampiri. Untungnya, saya senantiasa belajar dan mempersiapkan diri. Diminta jadi pembicara di acara pemerintah? Siap. Diminta ngisi materi di ribuan mahasiswa baru? Siap. Diminta ngajar nulis untuk sebuah agency yang karyawannya sehari-hari nulis untuk brand-brand gede? Siap.Intinya mah siap-siap dulu aja, kapan kesempatannya datang, ya gak tau. Sedia payung, sebelum hujan. Sedia ratecard, sebelum diminta. hahaha.. Tapi ya sepakat sama kutipan di atas luck is what happens when preparation meets opportunity. Kalau kesempatannya datang tapi situnya gak siap, ya jangan ngiri dan ngamuk-ngamuk ke mereka yang siap pas kesempatannya datang.Tapi ya ada baiknya tahu diri juga. Gak semua kesempatan harus diambil. Kalau tiba-tiba saya disuruh jadi pilot, ya gak bakal sok siap juga sih. Cuma karena bapak saya pilot dan paman saya pengawas bandara, bukan berarti saya juga bisa jadi pilot yang baik kan. Kalau saya tetap maksain diri sih namanya bukan luck. Tapi gob-luck!
#3 “You don’t need to know everything to teach others something.”
Tahun lalu saya bikin empat kelas online. Ngoceh di beberapa podcast. Ngisi belasan sesi webinar, diskusi, & training. Dan bikin puluhan tulisan. Apakah karena saya ahli semua itu? Ya gak juga. Saya selalu bikin disclaimer bahwa saya sendiri masih belajar. I’m still a work in progress. Jadi kalau belum ahli-ahli amat ya mohon maap.Ternyata, ada saja yang mengapresiasi karya saya. Ada saja yang bilang bahwa apa yang saya bagikan itu berguna, bermanfaat, bahkan menginspirasi mereka melakukan sesuatu.
Kadang, kita kurang pede untuk berbagi karena kita belum mengantongi gelar, ijazah, dan sertifikasi segambreng. Ya itu penting sih, apalagi ketika membagikan sesuatu yang di luar kompetensi kita dan punya implikasi ke khalayak. Misalnya sok jadi ahli vaksin cuma karena kamu suka liat video konspirasi di Youtube. Atau sok jadi ahli keuangan cuma karena kamu hoki pernah beli crypto pas lagi murah terus jual pas lagi tinggi.In most cases, we don’t need to know everything to teach others something. Berbagi aja dulu, siapa tau ada yang butuhin! Kuncinya ya tahu kapasitas & mau belajar. Terus upgrade diri, tahu batasan, dan pertanggungjawabkan apa yang kita bicarakan.
#4 Quitting Twitter Won’t Kill You.
Yes, it won’t. Saya pensiun dari Twitter per awal September karena merasa tidak sejalan lagi dengan values dan visi Elon Musk. Udah gak jelas platformnya mau dibawa ke mana. Ya udah, berhenti aja. Padahal kala itu akun saya lagi lumayan sering viral. Tiap bulan reach-nya mencapai puluhan juta. Dan Twitter jadi salah satu sumber informasi, inspirasi, dan keributan paling update buat saya.
Sayang sih, udah 13 tahun main Twitter. Kenal banyak teman baru di sana. But I believe there’s something more important than prolonging a sunk cost fallacy. What? Having principles. Maka sampai sekarang ya gak ada penyesalan. Meninggalkan sesuatu karena nilainya tidak lagi sejalan, mungkin hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk diri kita. Cobain, deh.
#5 Our Time Is Limited, Act Like It.
Saya belajar soal ini dari pengalaman orang-orang terdekat saya. Bahwa hidup sejatinya memang sesingkat itu. Kita gak pernah bisa memprediksi sampai kapan kita bisa hidup, sepanjang apa usia kita, sesehat apa kita bulan depan.
Death is always close. Our time on earth is so damn limited. Act like it.
Sekian pelajaran saya sepanjang tahun 2023. Yang semoga bisa menjadi bekal saya mengarungi 2024 yang pasti penuh gejolak dan tantangan-tantangan baru ini.
Jakarta, 7 Januari 2024.
Kirim Komentar!