Per hari ini, 17 April 2024, kamu sudah bisa menyaksikan Dua Hati Biru di bioskop terdekat. Sekuel dari Dua Garis Biru (2019) ini masih digarap oleh Mbak Gina S. Noer (kali ini bareng Mbak Dinna Jasanti). Masih bertema soal keluarga. Masih diperankan oleh pemain-pemain yang nyaris sama.
Dan seperti film pertamanya: film ini masih penuh dengan masalah.
Eh, jangan berprasangka buruk dulu. Film yang bagus memang harus penuh masalah. Karena kalau gak ada masalah & konflik, ya apa serunya? MK dan Pilpres aja penuh masalah. Makanya seru, kan? hehehehe..
Jika di film pertama masalahnya adalah “Anjir hamil, gimana nih?”, di Dua Hati Biru Bima dan Dara tak lagi jadi remaja yang duduk di bangku SMA. Puluhan purnama sudah terlewati. Keduanya telah beranjak dewasa. Dara sudah selesai kuliah di Korea (Selatan, bukan Utara). Bima sudah….berpengalaman jadi penjaga tempat mandi bola. Anak mereka pun sudah tumbuh jadi bocah aktif yang lucu nan menggemaskan.
Seiring detik yang melangkah maju, masalah di film kedua ini juga ikut bertumbuh: “Gimana ya cara jadi orang tua yang baik?”
Pertanyaan yang begitu lekat dengan tema hidup saya akhir-akhir ini. Tak lama lagi, saya juga akan menjalani peran baru saya: jadi orang tua. Pertanyaan yang sama menghantui saya dan istri beberapa bulan belakangan.
Gimana ya cara jadi orang tua yang baik?
Itu pertanyaan awalnya. Biasanya akan berlanjut jadi pertanyaan berikutnya:
Bisa gak ya kami jadi orang tua yang baik?
Itulah pertanyaan besar yang coba dijawab sepanjang film. Dan seperti siswa teladan di sekolah, saya pun mengamati dengan seksama sepanjang 106 menit film. Menanti-nanti, apakah tanya saya menemukan jawabnya. Menanti kunci jawaban yang diberikan oleh guru.
Sayangnya….kunci jawaban itu tak jua memunculkan diri hingga akhir.
Sepanjang film, yang muncul ya masalah demi masalah.
Mulai dari Adam, anak mereka, yang tak menganggap Dara sebagai ibunya. Ternyata, selama long distance marriage bertahun-tahun, Dara & Bima hanya berkomunikasi via video call. Sehingga Adam taunya ibunya ya ada di layar HP. Ketika bertemu langsung, malah bingung. Sehingga Dara harus berusaha keras membangun attachment dengan anak semata wayangnya itu.
Satu masalah tadi belum usai, masalah demi masalah lain datang bertubi-tubi tiada henti kayak cicilan paylater cicik-cicik SBCD. Dari masalah komunikasi, ekonomi, perbedaan pola pikir, selisih pendapat terkait pengasuhan anak, hingga masalah yang datang dari keluarga besar mereka. Meski fokusnya adalah keluarga kecil Bima & Dara, tapi mereka bukan satu-satunya keluarga di sini. Keluarga Bima pun Dara membawa problematikanya masing-masing: dari masalah kesehatan hingga pertikaian rumah tangga.
Masalah & tanya muncul bergantian. Dipecahkan dengan kunci jawaban versi Bima & Dara. Tanpa berusaha memberi tahu pada dunia bahwa ini adalah kunci jawaban paling sempurna. Entah kunci menjadi orang tua yang paling baik. Atau kunci menjadi keluarga paling sempurna. Karena sejatinya kesempurnaan hanyalah sebuah ilusi. Setiap kita, punya kunci jawaban masing-masing. Sesuai masalah dan konteks kita sendiri.
Lagipula, jangan-jangan memang tidak ada keluarga yang sempurna. Pun orang tua yang sempurna. Yang ada hanyalah sekumpulan individu yang didera masalah, lantas berusaha menghadapinya sekuat tenaga. Sekumpulan individu yang memilih untuk berjuang, alih-alih berdiam diri. Memilih untuk berusaha, bukan menghindar. Memilih melangkah, tanpa menyerah. Bersepakat untuk menganyam suka dan duka sebagai satu kesatuan.
Pada akhirnya, pesan utama film ini terangkum sempurna oleh soundtrack karya Rara Sekar:
https://open.spotify.com/embed/track/5bWgVQroeQ9T4nDhpC9LeN?utm_source=generator
Ya, tak ada keluarga yang sempurna. Kita semua sama-sama belajar. Kita semua mencari makna dengan mendewasa. Dengan menjalani luka dan sukarnya dunia. Saya memulai film ini dengan kecemasan menjadi seorang ayah. Seusai menonton kecemasan saya berangsur memudar. Bahwa saya tak harus jadi sempurna. Yang terpenting: saya hadir dan berusaha.
Kehadiran Adam (diperankan Farrell Rafisqy) & Iqi (diperankan Keanu AGL) membawa keriaan dan kelucuan tersendiri. Keduanya sukses mencuri perhatian dengan cara mereka masing-masing. Menjadi elemen pelengkap yang tak kita temukan di Dua Garis Biru. Kedua tokoh utamanya, Angga Yunanda & Aisyah Nurra Datau, amat baik menjalani peran sebagai orang tua muda yang penuh kegalauan, kebingungan, dan kebimbangan.
Selamat menyaksikan Dua Hati Biru! Selamat menikmati drama keluarga yang dirajut rapih penuh kehangatan ini.
Kirim Komentar!