Jangan Malu Pamerin Karyamu

“Malu ah, pamerin karya gue”, ucap beberapa orang yang saya kenal. Kalimat ini gak cuma sekali dua kali aja saya dengar. Ketika lagi ngobrol santai sama teman. Atau saat lagi ngajar di kursus menulis yang saya ampu. Mereka merasa malu untuk pamerin karya dan kebisaan mereka. Entah itu tulisan, channel Youtube, buku yang mereka tulis, pakaian yang mereka desain sendiri, atau kemampuan lainnya yang menurut saya keren untuk dipamerin.

Jujur, saya sendiri juga dulu begitu. Malu-malu kucing, anaknya. Mungkin sampai sekarang juga masih suka begitu. Kadang muncul pikiran “Ah siapa gue? Gue kan, bukan siapa-siapa”.

Yep, that kind of feeling we all know too well.

Saat kuliah S2 misalnya. Ada tawaran beasiswa riset ke luar negeri, tapi saya malu-malu dan merasa gak layak buat daftar. Sampai kaprodinya ngejar saya terus dan akhirnya saya daftar di hari terakhir. Ternyata lolos ke tahap berikutnya. Ke tahap berikutnya lagi. Dan ke tahap berikutnya lagi. Hingga akhirnya saya berangkat untuk riset ke Belanda selama 3 bulan, and that’s one of the most valuable experience in my adult life.

Saat pandemi dimulai dan semua orang sibuk ngocok dalgona, saya mulai mikir, “Seru juga kali ya nulis di Instagram?” Sebelumnya saya lebih banyak nulis di blog. Tapi saya sadar, bahwa saya sendiri aja udah makin jarang baca blog. Lebih seringnya mantengin Instagram. Teman-teman saya pun begitu. Update apa-apa di Instagram. Baca apa-apa di Instagram. Jangan-jangan, pesan dan tulisan saya lebih tersampaikan kalau saya nulisnya di Instagram.

…but that wasn’t a decision taken lightly. Ada banyak pertimbangan dan pergumulannya: “Duh elah siapa gue share-share tulisan segala….” ”Yang lain pamer foto dan video estetik, masa gue di sini bagiin tulisan?” “Anjir kalo gak ada yang baca gimana?!”

Rasa malu dan takut menjalar. Dari otak turun ke hati. Dan saya pun maju-mundur buat membagikan tulisan saya di Instagram. Tapi akhirnya saya putusin mengadopsi kearifan lokal Sunda dan mikir “sabodo teuing lah”. Alias ya bodo amat dah. Ada yang baca syukur, enggak ya gak apa.

Now I’m thankful for that decision. It turns out to be one of the most fulfilling & game-changing decision in my life. Entah berapa banyak pintu pertemanan dan kesempatan yang terbuka karena saya memutuskan buat pamerin tulisan saya di Instagram. Bertemu orang-orang yang selama ini cuma bisa saya kagumi dari kejauhan. Kenalan sama orang-orang menarik yang bidang kerjaannya keren-keren. Juga kesempatan yang unik-unik dari copywriting, nulis buku, ngoceh di panggung, nongol di TV, sampai ngajar.

PAMERIN KARYA JELEKMU

Intinya: pamerin aja karyamu. Even if it’s not perfect.

Theodore Sturgeon, seorang penulis & kritikus, pernah menyatakan gini “ninety percent of everything is crap”. Yep it is. Kebanyakan hal di dunia itu ya kualitasnya emang gak bagus-bagus amat. Buku, film, karya seni, produk komersil, bahkan orang sekalipun, mostly crap koq menurut Sturgeon’s Law.

Jadi ya gak usah minder duluan sama karya kita. So what kalau belum sempurna-sempurna amat? It’s still our work. And contrary to popular belief, our work doesn’t speak for itself. Karya kita gak bisa pamerin dirinya sendiri. Karya kita perlu kemauan kita menceritakan dan membagikannya ke dunia. Kalau kita aja gak pede sama karya kita, gimana orang lain mau percaya sama kita?

JADI AMATIR & PEMULA

Ada kalimat di buku Show Your Work-nya Austin Kleon yang saya aminkan: “Don’t afraid to be an amateur, an enthusiast who pursues our work in the spirit of love.” Iya, gak perlu koq kita menganggap diri kita sebagai expert dan profesional. Anggaplah kita ini seorang amatir yang rajin membagikan karya karena emang kita suka aja sama proses berkaryanya. Jadi kalau karyanya belum sempurna ya gak masalah. Namanya juga amatir dan pemula.

Gak usah takut lho ya untuk posisikan diri sebagai pemula. Shunryu Suzuki, seorang biarawan Zen pernah berkata “In the beginner’s mind, there are many possibilities. In the expert mind, there are few.” Justru, dengan menjadi pemula yang lagi belajar, kita bisa bereksperimen dan menemukan hal-hal baru yang mungkin gak terlihat oleh para expert.

NGAPAIN MALU, EMANGNYA KAMU KULI?

Malulah kalau kamu korupsi. Malulah kalau kamu mencuri karya orang. Malulah kalau kamu kuli. Kalau kamu jadi kuli tapi gak malu, ya itu pakunya gak masuk-masuk ke tembok. hehehe.. Intinya, gak perlu malu untuk bagiin karya kamu.

Dunia ini dipenuhi sama manusia-manusia yang skill-nya .3gp tapi settingan pedenya Ultra HD mentok kanan. Ya di pemerintahan. Dunia kerja. Sampe dunia sosmed. Kamu kira orang yang jabatannya tinggi dan followers-nya banyak itu karena mereka paling hebat? Gak juga. Gak jarang mereka ada di posisi tersebut simply karena mereka dikenal aja. Kenapa bisa dikenal? Karena mereka gak malu bagiin karya atau opini mereka ke orang lain. Karena mereka konsisten menunjukkan apa yang mereka bisa. Sesederhana itu.

MULAI DULU AJA

Daripada kebanyakan MALU, mending MULAI aja dulu. Bukan, bukan mulai jualan di Tokped. Tapi MULAI membagikan karyamu, kebisaanmu, kemampuanmu. You’ll never know where it gets you.

Beberapa teman yang awalnya malu-malu, akhirnya mulai pamerin karya mereka. Hasilnya? Ada yang udah jadi pembicara di banyak tempat. Dapet tawaran kerjaan. Sampe bisnisnya berkembang melebihi apa yang bisa dia perkirakan.

So yes, show your work. Show your god damn work.

Kecuali kamu intel dan kerjaan kamu itu rahasia negara, ya jangan dipamerin.

Kirim Komentar!