Napas Buteyko dan Betapa Tidak Cocoknya Hidup Woles Bagi Saya

Pagi ini, di perjalanan menuju lokasi meeting, saya sempatkan diri menonton video Youtube soal pernapasan Buteyko.

Apaan tuh? Nah, sama. Saya juga penasaran. Makanya saya cari tahu.

Belum lama ini, seorang teman sempat bercerita soal pernapasan Buteyko yang harga pelatihannya selangit. Berjuta-juta. Iya, kamu gak salah dengar. Belajar soal bernapas. Harganya jutaan. Dan banyak yang ikutan. NAPAS GAES NAPAS! Kaget? Sama. Saya juga.

Karena penasaran, saya carilah di Youtube. “Hari gini, apa sih yang gak ada di Youtube?”, pikir saya.

Ternyata saya gak salah-salah amat. Lumayan, bisa nemu beberapa video soal pernapasan Buteyko. Ada yang ngasih latihannya langsung bahkan, gak cuma teori:

Saya pun mencobanya. Tarik napas, hembuskan, lalu tutup hidung selama beberapa detik. Diulang beberapa kali dengan tempo yang berbeda-beda, mengikuti instruksi dari instrukturnya.

Katanya, teknik pernapasan ini bisa membuat kita jadi lebih rileks, santai, bebas stres, bahkan lebih produktif. Bahkan beberapa artikel bilang bahwa melakukan teknik pernapasan Buteyko bisa membantu meredakan serangan panik. Great! Superb! Amazing!

Saya pribadi sih tidak merasakan langsung manfaatnya, ya. Mungkin karena saya memang tidak lagi kena serangan panik. Mungkin juga faktor udara di Jakarta yang seburuk itu jadi mau dihirup pakai teknik apa juga tetap saja butek. Atau karena saya sepayah itu saja dalam mengikuti instruksi di video.

Persis di detik terakhir video Youtube soal napas Buteyko di atas, tepat di hadapan saya seorang driver ojol sedang berkelahi dengan pengendara motor lain. Saya tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Pokoknya mereka sudah saling berteriak, menantang, dan sudah memegang helm masing-masing siap saling gebug.

Harusnya, ini bukan masalah saya. Tapi, mereka berkelahi di trotoar yang harusnya saya lewati. Kalau saya harus berhenti dulu, rasanya tidak sopan seperti sengaja mau nontonin mereka. Kalau saya terusin berjalan, takut dianggap lebih tidak sopan lagi karena memasuki arena pertarungan mereka.

Jadi saya harus apa, dong?

Tiba-tiba terlintas pikiran untuk melerai mereka dan mengajak mereka mempraktikkan teknik bernapas Buteyko (biar lebih rileks dan tidak emosian). Sayangnya, saya keduluan sama pengendara lain yang lebih gercep. Juga satpam dekat situ yang buru-buru melerai.

Akhirnya, pertarungan sengit itu pun bubar. Antiklimaks, kayak drama fufufafa. Masing-masing jagoan kembali ke sudut kendaraannya. Saya pun bisa melanjutkan perjalanan saya. Melewati trotoar dengan damai.

Setelahnya, saya baru sadar berapa excited-nya saya menyaksikan dua orang asing yang tidak saya kenal nyaris baku hantam. Di hati kecil saya, saya ingin melihat kelanjutannya. Mau tahu siapa pemenangnya. Apa masalahnya. Bagaimana jurus terbaik mereka. Gimana ending-nya.

Well, now we’ll never know.

Di titik itu, saya baru sadar belum menutup aplikasi Youtube yang sedari tadi terbuka di HP. Saya lihat untuk terakhir kalinya wajah sang instruktur pernapasan Buteyko. Lalu saya pun cuma tersenyum kecil. Sambil berpikir, jangan-jangan ini memang pertanda dari semesta.

“Kayaknya semesta mau bilang kalau napas dan hidup yang woles-woles amat gak cocok buat gue. Hidup terlalu singkat untuk dilewati dengan woles.”

Saya pun menutup video tersebut dengan damai.

Sadar, bahwa gak semua hal di dunia itu cocok buat saya. Mungkin, bagi sebagian orang teknik pernapasan tadi bisa bikin rileks, woles, dan bebas stres. Tapi, buat saya hidup yang terlalu woles kayaknya gak cocok-cocok amat.

Hidup yang ada ngamuk-ngamuknya sedikit. Dibumbui silang pendapat dan perseteruan. Rasanya lebih cocok buat saya. Intinya: hidup ngamuk!

Udah, segitu saja cerita saya. Saya mau lanjut menyusuri trotoar lagi. Siapa tahu ada yang lagi berantem. Entah kucing, driver ojol, atau presiden dan wakil presiden. hehehe..

Jakarta, 2 Oktober 2024

Kirim Komentar!