Things Worth Sharing This Week
Background sedikit sekaligus ngaku dosa. Saya adalah seorang newsletter hoarder! Hahaha.. Saya berlangganan banyak sekali newsletter. Gak semuanya bagus. Gak semuanya saya bacain juga. Tapi, ada dua yang saya suka banget dan selalu buka di inbox: newsletter Austin Kleon dan The Wall Street Journal (The 10-Point by WSJ).
Keduanya memiliki kesamaan: membagikan 10 hal menarik secara ringkas. Austin Kleon berbagi soal hal-hal menarik yang ia baca dan pelajari di minggu itu. WSJ mengkurasi 10 isu paling relevan setiap harinya lewat bullet points & tautan ke artikel lengkap di website mereka.
Saya pun kepikiran, kenapa saya gak bikin hal serupa untuk subscribers? Membagikan sejumlah hal menarik yang dirangkum dalam 1 tulisan setiap minggunya? Gak usah muluk-muluk bagiin 10 hal, deh. Coba lima dulu aja. Kalau nanti bisa lebih, ya syukur, enggak juga gak apa. Lima hal menarik setiap minggu, bagi saya, achieveable banget.
Oke, tanpa berlama-lama, kita mulai aja.
Here’s five interesting things I came across this week. Things I read, things I heard, or things I experienced myself and want to share the lesson with you all.
#1 The Narcissist
Berawal dari baca Threads-nya Adam Grant. Soal kenapa kita di berbagai belahan bumi, banyak pemimpin narsistik? Sains ngasih sedikit petunjuk, nih. Sebuah riset membuktikan bahwa pemimpin yang narsistik memang MEMUKAU bagi orang-orang dengan self-esteem rendah.
“In groups with a more narcissistic leader, followers with lower self-esteem perceived their leader as more effective, endorsed the leader more strongly for future leadership roles, experienced more inclusion and less bullying from the leader, felt better about themselves, perceived greater group cohesion, and showed less antagonistic behavior.“
Anjay ngeri. Tapi ya menjelaskan juga kenapa di Amrik, Indonesia, & mungkin banyak belahan bumi lain, sering banget yang muncul & memenangi pemilu ya pemimpin-pemimpin narsis. Mungkin emang masyarakatnya juga mayoritas isinya domba-domba tersesat yang butuh pegangan.
Jadi inget sama konsep “80/20 Rule” di series Adolescence. Katanya, 80% perempuan cuma tertarik sama 20% alpha male ngehe. Mungkin ini bukan soal gender. Bisa jadi memang kebanyakan orang (and most of them have this low self esteem anyway) akan tertarik sama manusia-manusia narsistik.
#2 The Pope

Saya baru saja baca sebuah esai menarik yang “eye-opening” & agak kontroversial soal Paus Fransiskus. Membahas sisi-sisi lain Paus Fransiskus yang jarang dibicarakan: kehancuran hubungan beliau dengan Ordo Jesuit yang membesarkannya, keterlibatannya dalam kasus penculikan pendeta, kepemimpinan otoriternya, hingga bagaimana Gereja Katolik terbelah tajam di eranya.
Saya tahu koq ada ucapan begini, “Jangan ngomongin hal buruk tentang orang yang baru saja meninggal. Ngomongin yang baik-baik aja…”
Paham, kok. Tapi, kayaknya agak beda urusan ya kalau sosok tersebut adalah figur sentral di sebuah organisasi yang amat berpengaruh.
Still love all his great work towards the marginals, tho! Hanya saja, baiknya seseorang dikenang dengan segala baik & buruknya. Dicintai apa adanya, bukan kecintaan fanatik yang seringkali membutakan.
RIP, Pope Francis!
#3 The Sinners
Saya baru saja nonton film Sinners. Awalnya karena lihat ulasan beberapa teman. Semua kasih review senada: BAGUS BANGET! Lho, jadi penasaran dong saya. Emang iya, sebagus itu? Bahkan pada bilang “Nontonnya mesti di IMAX!” Wah, makin penasaran lah, saya.
Turns out, they’re not wrong. It is indeed a superb movie!
Seriusan deh. Ini film pertama yang saya kasih bintang 5 di Letterboxd tahun ini! Aktingnya. Ceritanya. Dialog & skenarionya. Damn, what a movie!
Setengah awal film saya kira ini bakal jadi film perjuangan anak muda kulit hitam & pertentangan kelas. Boy I was wrong. I was so damn wrong. Semoga lebih banyak orang yang nonton film ini. Kalau iya, bakalan seru banget nih bikin diskusi filmnya bareng temen-temen subscribers.
Di Letterboxd, ada satu review yang bilang gini, “That one sequence. You’ll know it when you see it. Magnum opus type scene. Spirit awakening type scene. Inspirational, foundational, monumental.”
It’s true. Without mentioning which scene, semua yang nonton pasti tahu momen mana di film yang dimaksud. A goosebump-inducing cinematic orgasm shit. Absolute madness.
#4 Soal Pergerakan
Minggu lalu saya diundang ke acara Temu Demokrasi-nya Think Policy. Diskusinya seru banget. Bareng sama putri presiden, eks menteri, pakar hukum tata negara, teman-teman jurnalis, NGO, & aktivis serta pemerhati demokrasi.
Banyak banget diskusi mencerahkan soal pergerakan & demokrasi di sana. Berkaca dari masa lalu, luar negeri, hingga masa kini. Sayangnya, format diskusinya Chatham House Rule, jadi saya gak bisa share banyak di sini.
Tapi, intinya, melihat antusiasme & harapan dari begitu banyak anak-anak muda di tanah air, yang bikin inisiatif keren-keren, bikin saya jadi ikutan merawat harap. Mungkin, sebenarnya Indonesia gak gelap-gelap banget, ya.
#5 The Brain Rot
By now harusnya kalian sudah paham ya saya punya “fetish” terhadap brain rot. Mungkin lebih tepatnya…keresahan. Itu yang bikin saya aktifin fitur subscribers. Itu juga yang bikin saya masih terus bikin tulisan panjang dan bagiin konten-konten long-form selama ini.
Tiba-tiba, minggu lalu saya dikontak oleh sebuah media. Media itu mau mewawancara saya soal brain rot. Karena saat mereka wawancara beberapa panelis, panelisnya rekomendasiin nama saya, “Udah wawancara Mas Okki belum? Dia kan salah satu pakar (baca: paling bacot) brain rot di Indonesia.”
Astaga. Dari sekian banyak hal yang bisa diingat soal saya: kemiripan saya sama Nicsap; jokes bapack-bapack; atau buzzer anti rezim, harus banget soal brain rot yang diingat?
Wawancaranya lumayan seru. Nanti kalau sudah diterbitkan akan saya bagikan. Tapi, saya jadi kepikiran: apa ya yang bisa kita lakukan untuk melawan brain rot? Artikel The Jakarta Post ini mungkin membantu. Tapi, saya tetap punya pertanyaan, “Ada gak sih hal sederhana tapi impactful yang bisa dilakukan untuk melawan brain rot?”
Akhirnya saya menemukan jawabannya. Setidaknya, jawaban versi saya. Jawabannya: barang yang 5 menit terakhir ini lagi kamu baca.
Yes, exactly, this kind of content.
Gimana kalau lebih banyak orang yang bikin konten kayak gini? Yang isinya hal-hal yang mereka pelajari dalam seminggu terakhir (atau setiap hari, kalau sanggup).
Kinda like gratitude journal, but for things we learned.
Kenapa? Karena penyebab brain rot itu kan mindless consumption, ya. Di mana kita setiap hari dijejeli konten-konten receh dan gak faedah oleh algoritma media sosial. Dan karena mindless, biasanya dilakukan karena refleks dan kebiasaan aja, bukan karena ada tujuan. Karena gak ada tujuan, most likely ya kita gak dapet apa-apa juga sih.
So, let’s create an objective so it won’t be that mindless.
Ini saya kasih tujuan deh: yuk di akhir pekan tulis beberapa hal baru yang kamu pelajari di minggu itu! Persis kayak yang lagi saya coba lewat tulisan ini. Karena punya tujuan, harapannya scroll-scroll medsos kamu gak se-mindless itu lagi.
Siapa tahu dengan melakukan ini kamu nanti jadi merasa bersalah kalau mulai habisin 10-15 menit tanpa tujuan. Mungkin kamu jadi kepikiran untuk konsumsi hal-hal lebih juntrung. Mungkin kamu jadi tersinpirasi untuk lebih banyak baca buku, nonton film, atau ketemu orang / ikutan komunitas.
Whatever that might be, I’ll be happy for you. And I’m rooting for you. I sincerely hope you’ll gain your freedom back. To freely choose what’s truly important for you. To freely decide what’s coming to the inside of your mind. Instead of letting the algorithm chose. Instead of letting them rotting our brain.
Sekian TWS (Things Worth Sharing) kali ini. Sampai jumpa di TWS minggu depan.
[PS: TWS saat ini bisa diakses semua orang. Tapi ke depan akan jadi konten khusus subscribers Instagram. If you like this type of content, please consider becoming my subscribers on Instagram. Thank you~]
Minggu, 27 April 2025
Kirim Komentar!