Capek Viral. Capek Fisik. Capek Jadi WNI.

Welcome back to Things Worth Sharing (TWS)!

Ini adalah episode ke-13 TWS. Kolom di mana saya menuliskan pembelajaran sepanjang minggu lewat hal yang saya lihat, dengar, & rasakan.

Kali ini saya gak pake poin-poin kayak biasa, ya. Mau agak rambling dikit. Pertama karena saya lagi gak mood untuk nulis terlalu terstruktur. Beberapa kejadian di akhir-akhir ini (Proses Revisi KUHAP, Koperasi Merah Putih, Hari Kebudayaan, sampai vonis Tom Lembong), bikin mood saya agak berantakan.

Alasan kedua: saya lagi gak punya banyak waktu. Kerjaan lagi padat-padatnya. Anak lagi aktif-aktifnya. Tidur lagi kurang-kurangnya. You do the math.

Sebenarnya ini bukan minggu yang buruk bagi saya. Di awal pekan saya diundang mampir ke Skechers. Tim marketingnya mengapresiasi postingan saya di Threads yang viral minggu sebelumnya.

Kita ngobrol-ngobrol, bertukar cerita, dan pulangnya saya dapet beberapa pasang sepatu gratis. MANA KECE-KECE BANGET PULA! Makasih Skechers. Meski mereka gak berencana nambah satu Brand Ambassador lagi untuk nemenin Joe Taslim (iya, saya udah mastiin berkali-kali, belum butuh katanya), tapi saya amat bersyukur banget dapet stok sepatu untuk beberapa tahun ke depan. Ailapyu, Skechers!

Lalu, dua tulisan saya viral. Yang pertama soal kabinet inkompeten. Yang kedua soal ulasan film SORE. Harusnya ada yang ketiga: soal Tom. Tapi karena gak punya waktunya, kita pending aja untuk minggu depan.

Postingan pertama jauh lebih ramai, somehow. Lebih dari 20 ribu likes dan nyaris setengah juta views. Tapi yang kedua bikin hati jauh lebih hangat. Banyak banget yang mengapresiasi ulasan saya itu. Termasuk salah satu sineas yang saya nantikan banget karya-karyanya:

Diambil dari IG Story-nya Koh Ernest

MOVIE REVIEW OF THE YEAR GAK TUH!? Gile. Terharu saya. haha..

Saya gak pernah peduli-peduli banget soal viral, sebenarnya. Tujuan saya menulis ya menyampaikan keruwetan pikiran atau mengekspresikan sesuatu saja. Makanya saya gak peduli jika postingan saya yang likes cuma 5 kek, 50 kek, 500, bahkan 50.000. Jumlah likes pun gak pernah saya hide. Mau ramai, mau enggak, ya bodo amat. Yang penting saya udah menyampaikan & mengekspresikan yang saya mau.

Tapi, ada kesenangan tersendiri ketika tulisan kita bisa beresonansi dengan banyak orang. Bisa relevan dan mewakili keresahan yang sama. Bisa menyuarakan hal-hal yang tak mampu disuarakan banyak orang. Terlebih, tuntutan jadi seorang penulis di era sekarang memang gak masuk akal. Harus bisa nulis, marketing, personal branding, viral, dan segala macam. Sebagaimana curhatan seorang penulis di sini. Tuntutan ini juga terjadi di industri jurnalisme, kala media berlomba-lomba ngonten dan bikin podcast untuk relevan, maka jurnalis pun kini diwajibkan jadi aktor segala bisa. Persis yang dibahas sama Vulture di artikel ‘Can the New York Times Turn Its Writers Into Video Stars?’ berikut.

Hari Jumat ditutup dengan seru. Setelah beberapa meeting melelahkan, sorenya saya mampir ke pameran Sejauh Mata Memandang X Tulus. Ngobrol-ngobrol sebentar sama Mbak Chitra dan timnya. Ngeliat Tulus dari dekat. Papasan sama Mbak Kamila Andini lalu kita bergosip bentar soal skena perkebudayaan. hehehe. Malamnya, saya menghadiri screening film pendek & diskusi buku Laut Bercerita bareng penulisnya, Mbak Leila S. Chudori.

Photo by Greg Becker on Unsplash

Senang karena tiga hal: pertama pas tahu acaranya dalam rangka cetak ulang ke-100 buku Laut Bercerita (punya saya cetakan ke-74, agak telat memang, tapi fakta bahwa setelahnya penjualannya masih stabil terus bikin saya ikutan senang). Senang kedua pas tahu pembacanya semakin muda, terlihat dari peserta acara kemarin juga yang tampak muda dan nyaris setengahnya baru lahir pasca 1998 (dilihat dari jumlah tangan yang terangkat di dalam studio bioskop saat ditanyakan oleh moderator).

Senang yang terakhir karena diskusinya hidup sekali. Bahkan di beberapa momen menurut saya diskusinya sangat tepi jurang. Nyebut langsung nama menteri, wakil menteri, politisi, & presiden. Salut banget saya. Gokil! Emang sih, buku Laut Bercerita temanya soal penculikan aktivis era Orde Baru. Tapi ya gak senyaring itu juga kali pas diskusi, bubar jalan itu kalau ada intel. hahaha..

Sudah sesenang itu ikut diskusi seru, eh pulangnya baca berita Tom Lembong divonis 4,5 tahun. Langsung tersadar kembali bahwa saya itu WNI. Capeknya langsung terasa. Berasa kena kutukan Sisifus. Tiap kali mulai merawat harap, eh kena bogem mentah keajaiban rezimnya.

Begitu kira-kira hidup saya seminggu belakangan: temanya capek! Capek viral. Capek fisik. Capek jadi WNI.


That’s it. Those are things worth sharing this week from me.

Weekend Read Recommendations:

[1] The Key to Aging Well? Joyspan! WTF Is That? – NYT (Gift Article)
Iya, bahas tentang cara menikmati hidup seutuhnya hingga usia senja.

[2] Drama Seru di The Late Show-nya Stephen Colbert – WGA
Show dengan rating terbaik kok bisa tiba-tiba kena cancel? Baca tanggapan keras dari WGA (Writers Guild of America) soal ini Kelindan industri media, presiden bangsat, & kebebasan berpendapat.

[3] A Family Doctor’s Search for Salvation – The New Yorker
Sebuah tragedi mengubah hidup sang dokter ini selamanya. Tapi, alih-alih mengutuk dunia, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan menolong orang sebanyak-banyaknya.

[4] Stoik-Stoik Taik Kucing – Substack
Tulisan keren dari Mas Zen RS, pemimpin redaksi Narasi, di Substacknya.

[5] How a Coldplay Concert Destroys Career & Relationship – Guardian
Iya, soal perselingkuhan yang viral banget itu. wkwkwk..

[6] The Epic Battle for AI Talent – The Wall Street Journal (Gift Article)
Saling bajak, saling tikam, saling berkhianat. Kita? Cuma nonton. wkwk..

[7] Mahathir Mohamad: ‘Trump is Against the Whole World’ – Bloomberg (Gift Article)
Wawancara insightful sama Mahathir, yang baru aja berulangtahun ke-100, soal Trump, Laut China Selatan, & rahasia hidup panjang.


Gitu dulu TWS kali ini.

Semoga bisa bikin akhir pekanmu lebih berwarna & seru!

Minggu, 20 Juli 2025

Kirim Komentar!