Welcome back to Things Worth Sharing (TWS)!
Ini adalah episode ke-15 TWS. Kolom di mana saya menuliskan pembelajaran sepanjang minggu lewat hal yang saya lihat, dengar, & rasakan.
ON BOREDOM
Belakangan ini saya nemu dua bacaan menarik (nanti saya share di bawah) soal rasa bosan. Ketidakmampuan manusia modern untuk merasa bosan itu nyata & berbahaya. Gak tahan bosan, dikit-dikit scroll medsos. Gak tahan bosan, dikit-dikit nyari drama di luar sana. Gak sanggup bosan, akhirnya cari sejuta cara untuk tetap merasa terhibur. Sialnya, hal ini dieksploitasi oleh para raksasa tech platform, untuk akhirnya menjebak kita dalam ilusi dunia tanpa rasa bosan. Yang ujungnya malah bikin kita adiksi & makin goblok. And here we are now: constantly distracting ourselves with endless notifications.
Bacaan-bacaan tadi bikin saya jadi refleksi. Jangan-jangan, saya juga sudah jadi salah satu manusia modern yang tidak bisa merasa bosan? Dikit-dikit scroll Instagram. Dikit-dikit buka Threads nyari keributan terbaru. Jeda dikit nonton Netflix. Jika iya, apa ya yang bisa saya lakukan biar gak menganggap bosan itu sebuah dosa?
Kebetulan, minggu lalu saya banyak kesempatan merasa bosan. Terbang ke Singapura. Pulang ke Jakarta. Naik kereta ke Jogjakarta. Pulang ke Jakarta. Baik di ruang tunggu pun di tengah perjalanan, adalah waktu-waktu yang teramat membosankan. Tapi saya berusaha menikmatinya. Lebih banyak bengong, istirahat, nikmati pemandangan, berkawan dengan pikiran-pikiran yang berantakan lalu menuliskannya di buku catatan. Masih disambil urusin kerjaan dan baca buku, tentu. Tapi menurut saya sudah lumayan pencapaian: gak banyak buka medsos & gak binge watch di perjalanan.
Kalau kata Kahneman, ada dua tipe self: [1] experiencing self & [2] remembering/reflective self. Kehidupan modern bikin kita terlalu fokus di yang pertama, tanpa mengkultivasi yang kedua. Padahal, hidup yang isinya experiencing terus tanpa reflecting, bukanlah hidup yang bijak-bijak banget juga. Endless pursuit of ‘experiencing’ is limiting us to turn those experiences into a meaningful one. Kalau mau dapet pencerahan & pembelajaran, kita gak bisa terus-terusan mengalami. Pengalaman itu perlu didalami & dimaknai. Salah satu kuncinya: mencoba lebih bersahabat dengan rasa bosan.
Jadi, kapan terakhir kali kamu merasa bosan? Kapan terakhir kali kamu bisa menikmati kebosanan itu? Sudahkah hidupmu memiliki momen-momen membosankan? Atau kamu, seperti kebanyakan manusia modern, merasa rasa bosan itu adalah dosa? Sehingga perlu dihindari dengan segala rupa, buka IG tiap 5 menit, tenggelam dalam Tiktok setiap hari?
Semoga tidak.

ANTI RAGE SOCIETY
Banyak orang yang menyangka, saya ini seperti tulisan-tulisan saya: alias orang yang sering banget ngamuk. Makanya ketika saya post Reels atau video yang isinya kalem, bicara dengan sopan dan lemah lembut, orang malah bingung. KOK GAK NGAMUK?
Gini-gini, justru saya menulis untuk melampiaskan rasa marah saya ke banyak hal. Maka ketika sudah disalurkan lewat tulisan, saya gak punya alasan untuk terus marah-marah. Saya tentu bisa marah dan ngamuk, tapi kan gak tiap saat juga, ya. Marah & ngamuk itu butuh dua hal: alasan dan energi. Cuma orang gila yang marah-marah tanpa alasan. Dan cuma manusia super yang bisa ngamuk terus-terusan. Mungkin cuma Hulk yang bisa.
Intinya, saya itu marah dan ngamuk cuma di waktu yang tepat saja. Kalau ada alasan yang sesuai. Juga ketika ada energinya.
Sayangnya, masyarakat kita nampaknya gak terbiasa menghadapi orang marah. Ketika ada yang marah, langsung dicap negatif, dianggap gak bisa kontrol emosi, dikira kurang dewasa, dan sebagainya. Dianggap menabuh genderang perang dan mengambil posisi bermusuhan. Padahal, prinsip & tujuan utama orang marah itu sederhana: menegaskan batasan dan menyuarakan ketidakberesan.
Orang marah ketika mereka tidak dihargai, merasa ada ketidakadilan, merasa ada jurang antara yang seharusnya terjadi dengan yang sebenarnya terjadi. Lihat kebejatan Israel di Palestina, misalnya. Wajar banget kan orang marah. Masa gak boleh marah? Atau ketika melihat ada mahasiswa gak bersalah dibanting sama polisi. Atau muka kita tiba-tiba diludahi sama orang lain. MASA GAK BOLEH MARAH?
Sayangnya, faktor relijius, budaya, & stoik stoik taik kucing bikin orang itu seakan gak boleh marah. Ketika marah, dianggap berbahaya & gak reasonable. Saya sudah merasakannya sendiri beberapa bulan belakangan ini. Ketika saya marah: menegaskan batasan & menyuarakan ketidakberesan. Respon dari penerimanya seringnya kaget, ngambek, dan berujung tidak mau lagi berurusan sama saya. Alih-alih introspeksi diri. Aneh banget. Asli.
Pernah suatu ketika saya diundang jadi pembicara sebuah acara. Sedari awal mereka sudah menanyakan rate card & terms of payment. Sudah saya berikan, sudah mereka setujui. Tapi di tengah jalan, tiba-tiba kedua hal tersebut dinegosiasi. Gak cuma itu, mereka pun ngejar-ngejar saya bikin sesuatu dadakan, padahal mereka sendiri yang kerjanya lelet dan ujungnya mepet.
Rasanya kayak saya jadi anak intern mereka: disuruh ngerjain ini itu dadakan, padahal dibayar pun belum. Saya pun marah, menegaskan bahwa pola kerja mereka itu buruk. Tidak profesional. Dan seakan-akan subordinasi antara atasan dan bawahan, alih-alih mitra yang setara. Saya utarakan hal tersebut. Gak lama, merekanya yang ngambek.
Ini bukan cuma satu dua kali. Beberapa kali saya alami. Sebuah perusahaan pernah ngundang saya ngisi training. Sama, saya tegaskan soal harga & terms of payment. Setelah setuju, tiba-tiba di tengah jalan mereka ganti sendiri dengan alasan ‘prosedur dari finance’. Ada juga agency yang ngajak saya kerja sama endorsement project. Lagi-lagi sudah saya utarakan di awal urusan pembayaran, eh tiba-tiba di tengah jalan mereka nego. Saya tolak baik-baik, tapi mereka masih maksa. Akhirnya saya semprot saja. Baru mereka kabur.
Pernah juga jadi konsultan di sebuah perusahaan. Semua tugas & tanggung jawab sudah saya kerjakan sebaik mungkin. Results-nya kelihatan. Yang gak kelihatan itu kerja-kerja di baliknya. Nyari ide, koordinasi sama tim, ngecekin kerjaan tim, bolak-balik revisi kerjaan sebelum jadi versi akhir yang di-share ke tim besar, dan masih banyak lagi. Bahkan ketika saya lagi liburan di luar negeri pun, tak jarang saya harus sambil ngurusi kerjaan sampai tengah malam. Pernah saya lagi mijit karena badan lagi gak enak, saya gak balas kerjaan dalam sejam, langsung dikejar-kejar kayak punya hutang ratusan juta.
Intinya: kerjaannya tidak semudah itu. Tapi semua tetap saya deliver sebaik mungkin. Yang tidak di-deliver dengan baik: invoice saya. Bisa tertahan berbulan-bulan di perusahaan dengan berbagai alasan. Pernah dijanjikan beres dalam seminggu, ternyata tidak. Lalu dijanjikan dibereskan minggu depannya, ternyata cuma sebagian. Pas minggu depannya saya follow up lagi, tiba-tiba dengan mudah tim finance-nya bilang ‘wah maaf skip, ingetin lagi ya minggu depan’. Ketika dijanjikan keesokan harinya beres pun, ternyata tetap tidak beres juga.
Setelah sudah berusaha stoic selama berbulan-bulan, tapi gak ada hasilnya, maka saya ganti pendekatan: marah. Saya tegaskan batasan dan utarakan ketidakberesan. Bahwa ada ketidakprofesionalan dan penggampangan di sini. Hasilnya? Seperti yang kalian bisa prediksi. Bak John Wick, sayanya malah kena “excommunicado“. hahaha..
Lucu, ya. Hidup di tengah masyarakat yang menganggap kemarahan adalah ketabuan. Sehingga semua masalah harusnya disenyumin saja. Dinikmati saja. Disabarin saja.

CIVIL DISOBEDIENCE
Sebagaimana masyarakatnya, banyak pemimpin negara ini juga gak kalah ngambekan. Gak suka, ketika masyarakatnya mengkritik atau marah-marah ke pejabatnya. Gak jarang, malah rakyatnya dituduh disusupi asing atau disponsorin koruptor. Goblok…
Maka saya senang ketika rakyatnya, alih-alih tunduk, malah jadi makin militan & kreatif menunjukkan kegeraman mereka terhadap penguasa. Sejak beberapa minggu terakhir, ramai soal pengibaran bendera One Piece jelang Hari Kemerdekaan.
Di Pati, warga beramai-ramai solid menyuarakan protes mereka soal kenaikan PBB yang gak masuk akal. Sampai Bupati & jajarannya pun dilabrak langsung oleh warganya. Akhirnya sang bupati menyerah: kebaikan PBB dibatalkan.
Di Kalimantan Timur, ratusan mahasiswa baru Universitas Mulawarman kompak balik badan saat Wakil Gubernur sedang berpidato. Mereka protes soal kebijakan beasiswa Pemprov yang dinilai tak merata.
Makin sering juga nemu video & konten masyarakat sipil yang enggan memberi jalan ke tetot-tetot iring-iringan pejabat gak jelas. Baguslah, semakin goblok & represif penguasa kita, saya rasa ke depan aksi-aksi civil disobedience begini akan semakin marak. Baguslah, saya jadi tidak harus marah-marah sendirian. Hidup terus, perjuangan!

Weekend Read Recommendations:
[1] How Social Media Shortens Your Life – Gurwinder Substack
Nah ini salah satu dari dua artikel yang bikin saya refleksi soal rasa bosan.
[2] Bored – Bowling Broke Substack
Ini yang kedua. Bacaan lumayan panjang soal rasa bosan. Tapi kalau weekend ini kamu cuma punya waktu untuk baca 1 artikel, baca ini aja. Super insightful & interesting!
[3] How College Kids Used Google Calendar for Everything– WSJ (Gift Article)
Kebiasaan baru anak muda di AS pakai G-Cal untuk segalanya. Termasuk PDKT!
[4] Anak-anak Muda Ini Jadi Korban Kriminalisasi Polisi – Project M
Mereka ditangkap saat aksi damai, dianiaya, dikriminalisasi. Mereka tetap melawan.
[5] Trump Bullies India – Bloomberg (Gift Article)
Lewat tarif, Trump bully India. An economic coercion straight from Xi Jinping’s Playbook.
[6] Why Wars Don’t End Anymore – NYT Magazine (Gift Article)
Esai berbasis data yang menarik. Soal kenapa sekarang perang sulit berakhir.
[7] How to Get Kids Off Their Phones – The Atlantic (Gift Article)
Dari perspektif mereka yang paling sering terlupakan: anak-anak itu sendiri!
Gitu dulu TWS kali ini. Semoga bisa bikin akhir pekanmu lebih berwarna & seru!
Minggu, 10 Agustus 2025
Kirim Komentar!