Second Chance, The Years We Left Behind, & The Wasted Young

Selamat datang di episode ke-24 TWS! Kolom di mana saya menuliskan pembelajaran sepanjang minggu lewat hal yang saya lihat, dengar, dan rasakan. Let’s go!

Second Chance

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan seorang teman yang belakangan lagi rajin main Padel. Dulu, kami suka main badminton dan joging bareng, dan saya tahu dia lumayan menghindari olahraga yang ngabisin duit banyak. Maka saya penasaran, “Apa sih dari olahraga mahal ini yang bikin dia kepincut?”

Ya, main padel mungkin gak semahal main golf, tapi jelas dia gak semurah joging atau badminton. Sewa lapangannya mahal, sewa raket (atau beli) juga gak kalah mahal. Uang yang dihabiskan untuk sekali main padel, bisa untuk berenang, tenis, atau badminton berkali-kali. Bahkan bisa buat bayar membership gym sebulan! haha..

So…what is it about Padel that he loves the most?

Awalnya, saya kira dia bakal jawab karena permainannya gampang dipelajari, aspek sosialnya, atau tantangan dan adrenaline rush-nya. Ternyata tidak. Jawabannya malah bikin saya mikir.

“Gue tuh suka main padel karena olahraga ini ngajarin kita soal second chance. Kita boleh lho baru mukul bolanya pas dia udah mantul dulu ke dinding. Beda sama olahraga lain yang kita harus get it right di kesempatan pertama. Di sini, gue kayak dikasih second chance berkali-kali, sesuatu yang gak selalu gue dapetin di hidup…”

Fak!!! Jawaban filosofis macam apa ini?! Gue cuma lagi basa-basi sekaligus iseng penasaran doang. I didn’t expect to engage in this deep conversation about life! hahaha..

Jawabannya membuka mata saya akan dua hal. Pertama: perspektif lain soal Padel. I have newfound appreciation about it, jadinya. Soalnya emang sebelumnya saya sama sekali gak pernah nonton, gak pernah cobain, dan gak pernah tertarik untuk cobain Padel. Now maybe I’ll give it a try, someday, somewhere…

Yang kedua: saya jadi banyak merenung soal second chance.

Dipikir-pikir, iya juga ya. Gak semua orang bisa dapet second chance dalam hidup. Ada yang sekali kena krisis finansial lalu harus berkubang di lubang yang sama selama bertahun-tahun, mungkin tidak pernah bisa keluar dari sana. Misalnya di Amerika Serikat, artikel NY Post amat menggambarkan ini: Americans are one medical emergency away from financial ruin. Ada yang iseng bikin bisnis lalu malah kena tipu dan rugi miliaran, keuangannya hancur, lantas hidupnya tak pernah sama lagi. Karena ya kan kamu bukan Putri Tanjung, yha…

Beda Dunia~

Ada yang sekali melakukan kesalahan lalu harus menanggung akibatnya selamanya, misalnya karena iseng ikut tawuran lantas tangannya kena bacok sampe putus, bahkan ada yang sampai meninggal. Boro-boro second chance, ya kan.

The point is: second chance is not always available for everyone. And if you ever gets it, be grateful and never take it for granted!

Saya sendiri cukup beruntung, dalam hidup diberi beberapa kali kesempatan kedua. Pas SD, saya pernah jadi bocah tolol yang nembakin pestol-pestolan berpelor plastik panjang ke lubang hidung sendiri. Lalu nyangkut di rongga hidung, gak bisa dikeluarkan, dan mengganggu napas saya. Akhirnya dilarikan ke dokter, dan untungnya semua selamat. Orangtua saya selamat dari kepanikan. Sayanya selamat dari gangguan kesehatan. Pelor plastiknya juga selamat dari upil dan segala lendir di hidung saya.

Ketika awal SMA, saya pernah kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah, kesulitan beradaptasi, lalu jadi bocah bengal yang mencari jati diri. Suatu hari, saya membolos. Sialnya, bolosnya ketahuan karena ternyata di hari itu tiba-tiba banyak banget yang kepikiran bolos. Persis kalimat ini: “great minds think alike, though fools seldom differ.”

Gak perlu dibahas lah ya kami-kami pembolos ini great minds atau fools. hahaha..

Alhasil, langsung deh kena skors, orangtua dipanggil guru BK, dan kami dapat cap “anak nakal” oleh guru-guru lain di sekolah. Pas hari pengambilan rapot, satu per satu dari kami yang ketahuan bolos dinyatakan tidak naik kelas. Well, to be fair rata-rata yang bolos juga memang bukan murid yang rajin dan pintar sih, ya. Makanya kami bolosnya rata-rata ke warnet (yes, warnet, mind you it’s 2004!). Mungkin beda kalau ada murid jenius yang bolos, mungkin bolosnya ke tempat les Kumon.

Saya pun sudah pasrah ketika mendengar satu per satu berita buruk dari teman-teman saya yang ketahuan bolos. Like, almost everyone of them didn’t make it. Nyaris semuanya tinggal kelas. Harus mengulang satu tahun lagi di tingkat yang sama. Saya sudah memikirkan segala yang terburuk: hasil rapot jelek, dimarahin orangtua, terpisah dari teman-teman saya yang naik kelas sedangkan saya tertinggal sendirian, rasa malunya, dan sebagainya.

Thank God I passed!! Barely passed, but still passed. Dengan nilai seadanya tapi masih sedikit di atas ambang batas. Saya dinyatakan naik kelas. Saya langsung kegirangan udah kayak abis menang Piala Dunia. Bersyukur, diberi second chance. Sejak itu saya mulai tobat dan memperbaiki diri. Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Lebih rajin belajar, gak pernah bolos lagi, mulai serius sama pelajaran di sekolah, bahkan sampai pernah mewakili sekolah ikut lomba akuntansi nasional pas kelas tiga.

Pas Ujian Nasional di akhir SMA, nilai saya juga tidak buruk-buruk amat. Perfect score di bidang Bahasa Inggris dan Matematika. 10, 10, dan…7. Yang terakhir tahu apa? Bahasa Indonesia. Sampai sekarang saya masih punya dendam sama penyusun dan penilai UN Bahasa Indonesia SMA di tahun 2007. Saya yakin mereka yang salah deh, masa nilai saya serendah itu?! hahaha.. Tapi bodo amat, deh. Yang penting lulus. I’ve turned my life around after that “near death” experience of gak naik kelas.

Bicara soal near death, saya jadi teringat kisah kesempatan kedua lainnya: saya pernah kecelakaan motor dan kaki saya patah. Kalau diingat-ingat lagi detil kecelakaannya, mungkin kaki patah sampai batok dengkul saya terbelah dua itu sudah beruntung banget. Kecepatannya lumayan tinggi, tiba-tiba saya disalip sama angkot yang lebih ngebut lagi, terus tiba-tiba angkotnya ngerem mendadak. Akhirnya sekitar 5 motor yang kaget dan gak diberi kesempatan ngerem itu (termasuk saya), harus baku hantam dengan bumper belakang angkot. Saya gak tahu nasib pengendara motor yang lain, tapi saya beruntung bisa dilarikan langsung ke rumah sakit dan mendapat perawatan yang semestinya. Dioperasi, dirawat, dan beberapa bulan kemudian bisa kembali berjalan dengan normal. What a second chance!

Masih banyak kisah kesempatan kedua saya. Kalau diceritain semua, takutnya postingan ini jadi lebih tebal dari buku Gibran The Next President. Maka mari kita sudahi sampai di sini saja. Intinya, second chance is not that common. Should you ever be given it, never take it for granted. It’s a damn privilege. Treat it with care. Treat them with respect!

Kamu sendiri gimana? Pernah dapet second chance? Please share it to me, DM me, I want to read!

Photo by yadunandlal on Unsplash

The Years We Left Behind

Hari Jumat kemarin, saya janjian sama beberapa teman kuliah untuk makan siang bareng di kampus. Kebetulan beberapa dari kami lagi ada urusan di dekat kampus. Kantin kampus kami juga habis direnovasi jadi lebih mentereng, gak sebusuk pas kami kuliah dulu, jadi sedikit penasaran. Maka, makan siang barenglah kami.

Sehabis makan, mampir ke ruang kerja salah satu dosen yang kami masih keep contact sampai sekarang. Ngobrol-ngobrol dan catch up. Bersilaturahmi.

Tiba-tiba, ada mahasiswa yang masuk ke ruangan si dosen ini. Lalu si dosen memperkenalkan kami ke mahasiswa tersebut. Pas ditanya angkatan berapa, mahasiswa ini dengan sopan dan tersenyum menjawab,

“Angkatan 2025, kak…”

Mahasiswa baru, ternyata. Baru masuk beberapa bulan. Masih di semester satu. Lalu pas kami tanya kelahiran tahun berapa, ternyata tahun 2007. Alias persis angkatan kami pas mulai kuliah dulu. Saya yang awalnya masih bisa senyum-senyum sopan langsung berhenti tersenyum. “HAH, NI ANAK BARU LAHIR PAS GUE KULIAH, DAN SEKARANG DIA UDAH LAGI KULIAH?! DAMN, TIME FLIES…”

Eighteen years. 18 years! I feel old. Like, really old…

Pas dulu nonton Friends dan di episode yang semua ultah ke-30 ini, saya cuma cekakak cekikik aja. Biasalah, namanya anak muda. Gak relate sama sekali bahwa suatu saat nanti saya juga jadi tua. And that someday is today. I am Joey. Who wants to deny reality and asked God repeatedly, “Why God, Why?!”

Langsung deh melintas memori-memori kuliah, perjuangan untuk bisa lulus, kerjaan-kerjaan di awal kuliah, sampai semua pengalaman hidup 18 tahun terakhir. Oh, all the years we left behind.

Dibilang gak terasa tapi ya sebenarnya terasa juga, menjalani 18 tahun terakhir ini. Dibilang terasa, tapi ya tetep aja terasanya cepet banget. Untungnya, dengan segala baik-buruknya, saya bisa berkata bahwa saya menjalaninya dengan nyaris tanpa penyesalan. With all the bad episode (and worst), with all the happiest moment, I wouldn’t have it any other way, I guess.

Cuma terasa lucu aja jadinya. Dipikir-pikir, 18 tahun lalu saya baru menjalani 50% hidup saya, lagi jadi mahasiswa baru yang unyu-unyunya, kuliah di gedung reyot yang sekarang sudah dibongkar dan dijadikan taman, di mana masalah hidup terbesar adalah tugas kuliah dan dapet pacar, belum kenalan sama yang namanya laporan pajak dan cicilan KPR. What a life!

What about you? What were you doing 18 years ago? Or 10 years ago? Or 20? Has life been good to you? I sure hope so.

The Wasted Young

Minggu ini, ada dua laporan utama di dua harian berbeda: Harian Kompas & Jakarta Post, yang berkaitan dengan anak muda. Sayangnya, dua-duanya, bukan berita baik.

Yang pertama, soal fenomena fatherless. Nyaris 20% anak muda kita tumbuh tanpa sosok ayah! Bisa karena memang tidak ada ayahnya, atau ayahnya jarang sekali ada di rumah.

Harian Kompas 8 Oktober 2025

Yang kedua soal minimnya lapangan pekerjaan bagi anak muda.

Sampai-sampai, World Bank dan Morgan Stanley aja ngasih rekomendasi untuk pembenahan struktural.

Kenapa ini penting? Pertama karena jumlahnya semengkhawatirkan itu, nyaris 17% anak muda kita menganggur. Alasan kedua karena pemerintahnya suka denial kayak gini:

Jancok emang. Sudah kerjaan dikit, banyak anak muda menganggur, masih aja bilang gak ada masalah lapangan pekerjaan.

Entah kenapa saya jadi teringat kalimat ini, “The youth is wasted on the young…”

Sadly, their future is wasted not because of their own faults. But the older generations.

Intinya, sedih sekali nasib anak-anak muda di Indonesia. Sudahlah tumbuh besar fatherless. Pas besar pun terancam jobless karena pemerintahnya brainless.

Ya sudahlah, untung ada Mas Wapres dan Program MBG yang siap membuka 19 juta lapangan padel kerja. Hidup Jokowiiiiiiiiiiiii~

Rekomendasi Bacaan

AI Data Centers Are an Even Bigger Disaster – Futurism
Bacaan soal matematika di balik data center AI yang gak masuk akal. Bubble burst soon?

What Do You Do with 2.000 Homeless Rhino? – Bloomberg (Gift)
Soal industri cula badak, keserakahan, usaha menyelamatkan ribuan badak tanpa rumah.

You Wouldn’t be Here for Someone Else – The Substack Post
Ulasan yang lebih berimbang soal album baru Taylor Swift.

The Prime Minister Who Tried to Have a Life Outside The Office – The New Yorker
Sanna Marin, bias media terhadap pemimpin perempuan, dan kehidupan seusai politik.

How Many Relationship Could We Possibly Handle? – WSJ (Gift)
Koneksi sosial penting bagi kesehatan, tapi, seberapa banyak yang bisa kita rawat?

The A.I. Prompt that Could End the World – NYT (Gift)
Gile! Seru banget bacanya kayak baca novel dystopia. Bedanya: ini kenyataan.

Rekaman Kelas Sekilas Kelas XVII: Communicating Your Ideas!
Buat yang kemarin ketinggalan, silakan nikmati rekamannya~


Sekian TWS kali ini.

Semoga bisa membuat akhir pekanmu lebih berwarna dan seru.

Minggu, 12 Oktober 2025

Kirim Komentar!