Menghidupi Resolusi 2011!

#Refleksi2011 – Tulisan Ketujuh.

Di awal 2011, saya membuat sejumlah resolusi. Di tahun-tahun sebelumnya, resolusi biasanya hanya menjadi secarik catatan yang dalam seminggu sudah tak jelas ke mana rimbanya. Hilang. Terlupakan. Sama sekali tidak terpikirkan lagi.

Pada tahun 2011, saya berpikiran untuk go green dan tidak lagi menuliskannya dalam secarik kertas. Kali ini, saya mengeposkannya di blog saya (http://octovary.blogspot.com/p/resolusi-2011.html). Ternyata, cara ini jauh lebih bermanfaat. Selain tidak membuang-buang kertas, saya juga tidak kesulitan jika ingin melihatnya kembali. Selain itu saya juga lebih mudah memantau perkembangan capaian resolusi, serta jadi lebih sering melihat dan mengingat resolusi 2011 karena terpampang di blog setiap kali membuka blog. Pokoknya, banyak sekali manfaat dari menuliskan resolusi di situs pribadi! hehe.

Harus diakui, meski cara tersebut membuat saya jadi lebih “akrab” dengan resolusi 2011 saya, bukan berarti semua resolusi 2011 tersebut berhasil dicapai. Kebanyakan sih tetap tidak tercapai. Setidak-tidaknya, penyebab ketidaktercapaian resolusi itu bukanlah karena lupa. Beberapa saya tunda untuk alasan tertentu. Beberapa direvisi mengikuti perkembangan yang terjadi. Untuk lebih lengkapnya, saya akan coba melihat kembali bagaimana perjalanan saya selama tahun 2011 dalam menghidupi dan mengusahakan resolusi tersebut.

BARANG YANG INGIN DIBELI.

Secara garis besar, resolusi saya terdiri dari tiga bagian: (1) Barang yang ingin dibeli; (2) Hal yang ingin dilakukan; dan (3) Prestasi yang ingin dicapai. Pada bagian barang yang ingin saya beli, saya menuliskan tiga barang: laptop i7, telepon genggam yang sesuai kebutuhan, dan kamera DSLR. Pada intinya, semua resolusi ini hancur-lebur-remuk-redam-gagal-total! haha. Tapi tenang, bukan karena saya tidak sanggup, masing-masing ada alasannya.

Ilustrasi. [Sumber foto: http://cdn.asia.cnet.com, http://www.likecool.com, dan http://phonereviews88.com%5D

Untuk laptop, setelah saya “membenahi dan mengoprek” laptop saya saat ini (berprosesor Intel Core 2 Duo), ternyata si laptop masih sanggup menjalankan aplikasi dan kinerja komputasi yang saya butuhkan. Sehingga, angan untuk membeli laptop berprosesor i7 masih bisa ditunda hingga setidaknya pertengahan tahun 2012. Hal ini juga membuat saya bisa menunggu terobosan Apple maupun Google melalui produk notebook mereka di tahun ini.

Untuk telepon genggam, angan ini hancur bersamaan dengan hilangnya handphone saya di awal tahun. Uang untuk membeli handphone belum terkumpul, alhasil saya harus puas dan bersyukur karena ayah saya masih mau membelikan Blackberry Pearl 9105. Ini adalah handphone kesembilan sekaligus terakhir yang ayah saya belikan, sejak saya duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar.

Untuk kamera, saya merevisi niat saya membeli kamera DSLR karena saya tahu saya ini bukanlah seorang fotografer yang gemar berburu foto. Saya hanya suka keindahan fotografi, yang kadang ingin mengabadikan momen dengan kualitas terbaik, yang tidak bisa saya dapatkan melalui kamera ponsel atau kamera saku digital. Maka dari itu, saya merasa akan jauh lebih hemat dan efektif jika saya menyewa / meminjam kamera DSLR saja, di saat saya butuh. Karena jika saya beli sekalipun, kamera itu hanya akan menganggur tanpa disentuh di pojokan kamar.

HAL YANG INGIN DILAKUKAN.

Ilustrasi. [Sumber foto: http://www.usmagazine.com, http://www.savingadvice.com, dan http://www.voxmagazine.com%5D

Setidaknya ada tujuh hal yang ingin saya lakukan di tahun ini. Berikut rincian dan penjelasan berhasil / tidaknya:

1. Menurunkan berat badan hingga 65kg.

 –> Gagal total. Ditunda jadi resolusi tahun ini (semoga)! hahaha.

2. Menonton 100 film.

–> Setengah sukses. Hanya terpenuhi sekitar setengahnya (50-60 film) saja. Tahun ini saya lebih banyak menonton serial televisi dibandingkan film.

3. Membaca 20 buku.

–> (Sepertinya) berhasil. Lupa menghitung dan mendefinisikan buku yang dimaksud. Jika buku cerita bergambar, buku teks perkuliahan dan bahan skripsi, jurnal akademis, majalah, dan komik termasuk ke sini maka jumlahnya pasti melebihi kuota. hehe.

4. Berkenalan dengan orang baru dari 20 negara.

–> Direvisi. Saya memutuskan untuk fokus berkoneksi kembali dengan kawan lama hingga pertengahan tahun ini, sebelum berkenalan dengan orang-orang baru dari negara lain.

5. Liburan ke Bali.

–> Ditunda. Tahun ini rasanya saya sudah cukup banyak berjalan-jalan. Agenda ini ditunda sembari menabung, perkiraaan akhir tahun ini akan saya laksanakan.

6. Ke 3 Kota / tempat baru.

–> Berhasil. Meski sebagian lebih ke mengunjungi kembali suatu kota / tempat, namun pengalaman yang saya rasakan berbeda. Bogor misalnya, tahun ini saya jauh lebih mengenal & mengalami kota Bogor seutuhnya. Juga Jogja & Singapura, dimana ini kali kedua atau ketiga saya ke dua tempat tersebut, namun jauh lebih terasa nuansa kemandirian & petualangannya. Masih ada Pulau Tidung, Taman Bunga Mekarsari, dan lain lain.

7. Bertemu Taylor Swift.

–> Gagal. Sebenarnya ada kesempatan di awal tahun ketia Taylor Swift konser di Singapura, namun apa lacur bentrok dengan kegiatan pelatihan dan kaderisasi organisasi yang saya cintai. Lagipula, tahun ini kecintaan saya ke Taylor Swift (juga dunia musik secara umum) tidak lagi seperti dulu. Saya hanya menjadi pendengar yang baik, itu pun jarang-jarang. Oh iya, setidaknya tahun ini saya menonton konser Avril Lavigne. Cukuplah, bagi saya mereka berdua banyak miripnya. hehehe.

PRESTASI YANG INGIN DICAPAI.

Kredit untuk Anastasia Satriyo untuk foto artikel Kompasnya.

 Bagian ketiga dari resolusi 2011 saya adalah berbagai hal yang ingin saya capai. Berikut daftar lengkap dan hasilnya:

1. Mempublikasikan tulisan ke media nasional.

–> BerhasilIni dia resolusi yang tercapai di detik-detik akhir tahun 2011. Paling berkesan juga karena gak menyangka tulisan saya bisa dimuat di Kompas tanggal 27 Desember 2011, padahal baru pertama kali juga kirim tulisan ke Kompas. hehe. Kado akhir tahun yang amat manis!

2. Menerbitkan buku.

–> BerhasilSaya berhasil mengeditori dan mencetak sebuah buku yang dibuat untuk seorang dosen yang akan “pensiun”. Meski diterbitkan untuk kalangan terbatas saja, bagi saya pengerjaan konten dan tata letaknya setara dengan buku keluaran Gramedia. hehe.

3. Membuat tiga skenario film.

–> DitundaSaya belum berhasil meluangkan waktu untuk menyelesaikan skenario secara utuh. Namun sebagai gantinya, saya menyicil sinopsis-sinopsis untuk dikembangkan di tahun ini. Setidaknya sudah ada lima sinopsis skenario untuk dikembangkan! Semoga tahun ini bisa terlaksana.

4. Dua puluh ribu kunjungan ke blog yang saya kelola.

–> BerhasilSaya mengelola sebuah blog pribadi (yang akan pindah alamat dalam waktu dekat), serta blog komunitas (http://makna-kata.blogspot.com). Per akhir 2011, blog pribadi saya mendapatkan total kunjungan lebih dari 17 ribu, sedangkan blog Makna Kata sudah menerima lebih dari 36 ribu kunjungan. Saya cukup puas dengan terget tersebut!

5. Selesai kuliah.

–> GagalSetahun terakhir menyelesaikan kuliah tidak pernah berada dalam prioritas hidup saya. Baru di akhir November saya menyentuh skripsi lagi dan memutuskan ganti topik. Untunglah sejak itu progresnya berjalan dengan cukup cepat, sehingga jika tidak ada halangan maret sudah bisa selesai.

6. Mengorganisir & mengkomputerisasi sistem bisnis keluarga.

–> Setengah berhasilSudah berhasil dibuat, namun belum diimplementasikan lebih lanjut. Masih tahap penyiapan SDM. hehe.

7. Membuat sebuah Biro Psikologi.

—> DirevisiHingga saat ini saya masih memikirkan desain lembaga yang sesuai, karena untuk lembaga pelatihan banyak pertimbangan yang membuatnya sulit berkembang di Indonesia. Saya sempat membicarakan hal ini secara intens dengan seorang sahabat yang juga punya keinginan serupa, namun titik temu dan tindak lanjutnya masih butuh proses lebih jauh.

RANGKUMAN KUANTITATIF & KUALITATIF.

Demikianlah seluruh Resolusi 2011 saya. Secara kuantitatif, dari 17 Resolusi 2011 yang saya buat di awal tahun, hanya 7 yang berhasil atau setengah berhasil, 6 lainnya saya revisi atau tunda seiring perkembangannya, dan 4 sisanya gagal total. Tidak terlalu buruk juga bukan? hehehe.

Secara kualitatif, menghidupi Resolusi 2011 memberikan kepuasan dan pengalaman tersendiri. Di beberapa titik, resolusi ini menjadi pemandu yang memberitahu saya hal-hal apa saja yang bisa saya kerjakan. Meski demikian, saya enggan menjadi terlalu kaku dan ambisius dalam mencapai semuanya. Bagi saya hidup itu harus dinikmati dan dipelajari, tak perlu dikejar-kejar bak angkutan umum. Punya tujuan itu perlu, tapi tahu alasan dari berbagai tujuan itu buat saya lebih penting. Punya target itu perlu, tapi menikmati hidup sembari mengusahakan & merefleksikan terus target-target itu juga lebih penting.

Sebagai tulisan terakhir #Refleksi2011, saya berterima kasih pada siapa pun yang sudah membaca satu, beberapa, atau semua tulisan di seri #Refleksi2011. Mohon maaf karena keterbatasan waktu, tulisan ini tersendat-sendat dan baru rampung nyaris sebulan setelah tahun 2012 berjalan. Pada kesempatan berikutnya saya akan menuliskan catatan tentang #Resolusi2012 saya. Terima kasih dan sampai jumpa! =)

 
Jakarta, 26 Januari 2012
Okki Sutanto
 
Daftar Tulisan #Refleksi2011:
1. Merefleksikan 2011 (Sebuah Catatan Pengantar)
2. Di Balik Kamera (1) – Sahabat Si Pemula
3. Di Balik Kamera (2) – Kesempurnaan Tanpa Kesempurnaan
4. Untuk Seribu Delapan Ratus Senyuman. =)
5. Seorang Dosen, Sebuah Buku, dan Sejuta Cerita.
6. Saat Engkong Beristirahat dalam Damai
7. Catatan Perjalanan Berkesan 2011!

Catatan Perjalanan Berkesan 2011!

#Refleksi2011 – Tulisan Keenam.

Tahun 2011 saya cukup sering berjalan-jalan. Bukan karena tidak ada kesibukan, melainkan untuk melepas penat di tengah kepadatan jadwal sepanjang 2011. Bulan Januari hingga April agenda saya masih dipenuhi urusan organisasi kemahasiswaan. Selepas itu (Maret – Desember), program pelatihan yang saya ceritakan beberapa waktu lalu cukup menyita waktu dan perhatian saya. Skripsi? Ya, itu juga menyita waktu sih, tapi baru per November saya benar-benar mengerjakannya. Sebelumnya, skripsi hanya berwisata di dalam pikiran saya saja.

Kali ini saya ingin menceritakan perjalanan-perjalanan berkesan saya di tahun 2011. Harap tidak perlu memusingkan apa yang saya maksud dengan perjalanan. Bagi saya, perjalanan tidak wajib pergi ke satu pantai atau gunung atau kota indah nun jauh di sana selama berhari-hari. Poin pentingnya adalah suatu kesempatan dimana saya bisa terbebas dari rutinitas dan menikmatinya.

Perjalanannya akan saya buat kronologis, bukan berdasarkan mana yang paling berkesan dan mana yang kurang berkesan. Bagi saya semua perjalanan ini sukses mencapai tujuannya: menghilangkan penat dan mengembalikan energi!

1. Mengunjungi Taman Mini | Februari 2011.

Saya bersama teman-teman kuliah pergi ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tanggal 22 Februari 2011. Ini kali kedua saya ke TMII. Yang pertama pun hanya untuk menonton konser kesenian sekolah kakak saya. Jadi, bisa dikatakan ini pertama kalinya saya ke TMII untuk mengeksplorasi tempat-tempat menarik di sana. Kami berkeliling ke Museum Telekomunikasi, Museum Penerangan, Museum Indonesia, Museum Keprajuritan, kereta gantung, hingga Taman Akuarium Air Tawar. Meski perawatan fasilitas di sana amat minim, namun bagaimana pun saya mengenal dan mempelajari banyak hal baru di sana.

2. Mengakhiri Masa Tugas dengan Manis | April 2011.

Di pertengahan Maret masa tugas saya sebagai Wakil Angkatan sekaligus pengurus suatu organisasi berakhir. Untuk mengakhiri secara informal dan melepas penat, di awal April kami menyewa sebuah wisma di Puncak untuk menginap. Meski tidak semua pengurus bisa mengikuti acara ini, namun kehangatan dan keceriaan terbangun dengan cukup baik. Rasa kekeluargaan di antara kami yang sudah setahun belakangan bekerja bersama-sama pun amat terasa. Kami bercerita, memasak, makan, menonton film, mencari poffertjes, juga berbagi kesan-pesan selama setahun. Semua kami lakukan bersama-sama. Semua kami nikmati bersama-sama.

3. Ke Bandung bersama Keluarga | Agustus 2011.

Saya menyempatkan diri pergi bersama keluarga ke Bandung pada tanggal 8 Agustus. Setahun belakangan memang ayah saya gemar mengajak berjalan-jalan. Ke Bandung, Bogor, Singapur, dan ke Jogja minggu depan. Bagi saya ini hal yang sangat baik. Bukan bagi saya, melainkan untuk ayah saya sendiri. Biasanya ayah saya amat enggan meninggalkan pekerjaannya sebagai pedagang. Beruntung sekarang ia mulai bisa menyeimbangkan antara pekerjaan, rekreasi, dan pelayanan gereja.

4. Menikmati Tidung! | Agustus 2011.

Di bulan Agustus agenda saya memang dipenuhi dengan liburan dan melakukan perjalanan. Kebetulan di bulan itu agenda kerja cukup lowong karena merupakan bulan puasa. Perjalanan kedua saya setelah ke Bandung adalah pergi ke Tidung bersama teman-teman SMA saya (juga pacar saya) pada tanggal 13-14 Agustus 2011. Kami menjelajah pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung kecil yang disambungkan oleh jembatan panjang nan reyot. Kami melompat dari Jembatan Cinta yang ternyata tidak memiliki asal-usul nama yang cukup memuaskan. Kami menaiki perahu ke beberapa lokasi untuk snorkeling. Kami menikmati hidangan BBQ. Kami menikmati pemandangan. Dan masih banyak hal menyenangkan lainnya yang kami lakukan di pulau Tidung.

5. Mengunjungi Kembali Jogja | Agustus 2011.

Perjalanan ketiga di bulan Agustus, tepatnya 19-22 Agustus 2011, adalah ke Jogja bersama teman-teman kuliah saya. Kami menikmati Borobudur, Sendong Sono, Malioboro, Angkringan, Keraton, dan berbagai wisata kuliner menarik. Sama seperti TMII, ini bukanlah kali pertama saya ke Jogjakarta. Ini kali ketiga, pertama saat saya SMP dengan keluarga saya. Kedua saat saya SMA dan mengikuti kegiatan live-in. Namun, tetap saja perjalanan ini membawa kesan tersendiri karena dilakukan dengan jauh lebih mandiri dan bebas. Pendanaan mandiri. Penentuan tujuan mandiri. Bebas mau bangun jam berapa. Bebas mau mandi atau enggak. Bebas mau ke mana saja. Bebas mau tidur jam berapa (saya juara tidur cepat loh! hehe).

6. Menginap di Rumah Pohon Mekarsari | Agustus 2011.

Perjalanan keempat sekaligus terakhir di bulan Agustus. Saya diajak keluarga pacar saya untuk menginap di Rumah Pohon Mekarsari 28-29 Agustus 2011. Sangat berkesan karena ini kali pertama saya liburan bersama dengan keluarga pacar. Sayangnya kami pergi tepat menjelang lebaran, sehingga beberapa fasilitas sedang diperbaiki atau ditutup untuk menyambut lebaran. Namun ternyata hal tersebut membawa berkah tersendiri: Mekarsari sepi! hehe. Kami jadi lebih bebas berkeliling Mekarsari. Selama dua hari kami berkeliling ke danau buatan, tur keliling kebun dan menanam pohon, ke rumah serangga, mengikuti outbound, berkeliling Amazing Water World yang kosong, hingga melihat proses dekorasi dunia coklat.

7. Menjelajah Singapura! | November 2011.

Di bulan November, tepatnya 26-29 November, saya sekeluarga pergi ke Singapura. Ini kali kedua saya ke ke negeri Singa. Sekali lagi, nuansa kebebasan jauh lebih terasa dibanding saat saya lulus SMP dulu menemani ayah saya menjalani operasi di Singapura. Saya bebas keluar-masuk Kasino. Saya bisa berkeliling sendirian menggunakan taxi, bus, atau MRT. Di sana, kami tidak melulu berbelanja ke mall. Ayah saya lebih suka berkeliling menikmati pemandangan dan tempat rekreasi. Maka selain ke Kasino, kami juga ke Universal Studios, berkeliling kota mengikuti tur amfibi (menggunakan kendaraan yang sama berkeliling jalanan kota sekaligus berkeliling danau), menikmati atraksi pantai di ujung Sentosa Island, dan tak lupa menikmati kuliner-kuliner lezat di sana. Saya dan kakak saya juga berkesempatan ke Art & Science Museum, yang kebetulan sedang menyelenggarakan Pameran / Museum Titanic. Itu adalah pameran / museum terbaik yang pernah saya kunjungi seumur hidup saya! Desain interiornya, konsep user experience-nya, kekayaan informasinya, interaktifnya, teknologinya, hingga alur pamerannya semua dikerjakan dengan detil hebat, kreativitas tinggi, dan keseriusan mendalam.

8. Menikmati Seni Teater | Februari, Juni, dan Agustus 2011

Di tahun ini saya berkesempatan menyaksikan tiga pertunjukkan teater. Yang pertama adalah seni teatrikal tari berjudul “Andai” pada 25 Februari 2011. Yang kedua adalah pertunjukkan lakon “Visa” karya Goenawan Mohamad pada 4 Juni 2011 yang dimainkan oleh Teater Lampung. Yang ketiga adalah pementasan “Mastodon dan Burung Kondor” karya Rendra pada 11 Agustus 2011. Dua teater pertama saya nikmati di Salihara, Pasar Minggu. Sedangkan yang terakhir saya nikmati di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Saya paling menikmati lakon “Visa” yang bagi saya naskahnya sangat cerdas dan kontekstual. Untuk “Andai” juga cukup menarik karena dengan hebat menggambarkan kehidupan seorang skizofrenia. “Mastodon dan Burung Kondor” paling buruk menurut saya, bukan karena kualitas teatrikalnya, tapi lebih ke pengkontekstualan naskah dan durasi yang tidak bersahabat, terlebih ke generasi muda yang sudah kehilangan konteks sama sekali dengan cerita karya Rendra tersebut. Durasi 3 jam sungguh membuat ngantuk! Jujur!

Sekian catatan perjalanan saya selama 2011. Saya sangat menikmati semua perjalanan tersebut. Biasanya tak sekedar melepas penat, perjalanan-perjalanan tersebut juga menyisakan ruang untuk belajar dan memberikan saya pengetahuan baru. Terima kasih kepada semua yang terlibat dalam perjalanan-perjalanan tersebut. Semoga tahun ini saya bisa lebih sering melakukan perjalanan berkesan! Semoga! =D

Sampai jumpa di tulisan berikutnya sekaligus terakhir #Refleksi2011.

 
Jakarta, 19 Januari 2012
Okki Sutanto
 
Daftar Tulisan #Refleksi2011:
1. Merefleksikan 2011 (Sebuah Catatan Pengantar)
2. Di Balik Kamera (1) – Sahabat Si Pemula
3. Di Balik Kamera (2) – Kesempurnaan Tanpa Kesempurnaan
4. Untuk Seribu Delapan Ratus Senyuman. =)
5. Seorang Dosen, Sebuah Buku, dan Sejuta Cerita.
6. Saat Engkong Beristirahat dalam Damai

Saat Engkong Beristirahat dalam Damai

#Refleksi2011 – Tulisan Kelima.

(sebelumnya diposkan di Nota Facebook)

Tahun 2011 berlalu dengan kepergian abadi beberapa orang yang ada di kehidupan saya. Mulai dari rekan kuliah seangkatan, tante sekaligus ibu dari sepupu dekat saya, juga engkong. Bagi yang asing dengan kata “engkong”, engkong adalah sebutan saya untuk ayah dari ibu saya. Ya, kakek. Saya tidak tahu kenapa saya memanggil beliau engkong. Sama seperti saya tidak tahu kenapa saya menggunakan kosakata “saya” ketika berbicara dengan ayah dan ibu saya. Kata-kata tersebut mengalir begitu saja dan menjadi kebiasaan sejak saya kecil.

Sejak kecil saya tidak terlalu dekat dengan engkong. Bukan karena engkong galak, tapi lebih karena jarak tempat tinggal kami yang selalu jauh. Saya katakan “selalu”, karena berapa kali pun engkong dan nenek pindah rumah, tetap saja jaraknya jauh dari rumah saya. Sebut saja Depok dan beberapa pinggiran Tangerang. Karena jarak itulah maka saya jadi jarang bertemu engkong. Dalam setahun paling hanya tiga hingga lima kali saja kami bertemu. Umumnya saat lebaran. Ya, beberapa anak engkong (om dan tante saya) penganut Islam taat. Maka lebaran menjadi hari yang saya nantikan juga dalam setahun, selain Imlek, Natal, dan Tahun Baru.

Meski tidak terlalu dekat, tetap saja kepergian engkong terasa membekas. Tidak ada lagi sosok yang dengan sabarnya merawat dan menghadapi nenek saat nenek sakit. Tidak ada lagi sosok yang mau mengantarkan saya ke sekolah saat sopir hilang entah kemana ketika saya SD. Tidak ada lagi orang yang dengan gesit dan antusias menyambut saya dan keluarga saat bertamu, juga tanpa lelah mencarikan lahan kosong untuk parkir mobil. Tidak ada lagi tawa dan candaan khas engkong. Tidak ada lagi kejenakaan-kejenakaan yang membuat kami sekeluarga terpingkal melihat aksi engkong ketika nenek marah-marah terus.

Banyak yang bisa saya pelajari dari engkong. Dua yang utama adalah kemauan untuk terus berguna dan kesabaran melayani nenek. Di setiap kesempatan, engkong enggan untuk duduk diam tidak melakukan apa-apa. Meski usianya sudah senja dan rambutnya sudah memutih, engkong masih rajin melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga. Mulai dari memasak, belanja ke pasar, memperbaiki alat rusak, mencuci piring, dan lain sebagainya. Itu tidak hanya dilakukannya ketika di rumah sendiri. Seringkali, saat berkunjung ke rumah saya pun tak sungkan engkong mencuci piring dan menyapu. Ibu saya pun tak kuasa melarang. Mau bagaimana lagi, memang engkong tidak bisa diam dan ingin terus berguna. Maka ketika di lampu merah saya melihat pengemis tua meminta-minta, bahkan yang jauh lebih muda dan lebih kuat daripada kakek, saya langsung teringat engkong dan bangga punya engkong yang rajin.

Kesabaran engkong melayani nenek juga amat mengagumkan. Beberapa tahun belakangan, nenek sering sakit. Mulai dari sakit mata, diabetes, dan lain sebagainya. Engkong amat sabar mengantarkan nenek ke dokter, membelikan obat hingga ke Jakarta (rumah engkong kali ini di pinggiran Tangerang), juga merawat dan menunggui nenek di rumah sakt. Yang membuat lebih luar biasa lagi, penghargaan nenek terhadap engkong dulu sangat rendah. Tak peduli seberapa sabar dan telatennya engkong merawat nenek, tetap saja nenek sering menganggap engkong banyak kekurangannya. Kurang setialah, kurang sabarlah, kurang apalah. Engkong enggan mempedulikan itu semua. Ia hanya tahu bahwa di sisinya ada istri yang amat dicintainya, yang sudah memberinya anak, cucu, dan kehidupan. Dan istrinya itu sedang sakit, maka tugasnya sebagai suami ya merawat. Dengan tingkat kesabaran yang mengagumkan.

Mungkin engkong tahu, sebagaimana saya, bahwa nenek sebenarnya sangat sayang pada engkong, dan sangat takut engkong meninggalkannya. Perilaku nenek amat wajar, jika ditelaah melalui teori Psikoanalisa Sigmund Freud. Reaction-formation, kalau dalam istilah Psikologi. Intinya, nenek tidak ingin perasaan sayangnya dilihat orang, maka ia menunjukkan perilaku-perilaku sebaliknya. Buktinya, setiap kali engkong keluar rumah misalnya untuk berbelanja, tidak sampai lima menit nenek akan mencari-cari engkong.

Berbagai pelajaran hidup dari engkong sedikit banyak memengaruhi saya. Saya jadi mempunyai teladan dan gambaran, apa yang harus saya lakukan ketika saya sudah tua renta nanti. Bagaimana memperlakukan istri dan anak-anak saya. Maka saya amat berterima kasih pada Tuhan, karena saya berkesempatan menemani engkong di hari-hari terakhirnya. Mulai dari mengantar engkong ke klinikstroke di daerah Mangga Besar. Menemaninya menjalani MRI (Magnetic Resonance Imaging) di RS HUSADA yang bunyi mesinnya sangat berisik dan memusingkan. Juga rutin menjenguknya saat sudah dirawat di Unit Stroke RS SATYA NEGARA.

Saat keadaannya memburuk, saya tidak lagi berdoa pada Tuhan untuk menyembuhkan engkong. Saya berdoa agar Tuhan membebaskan engkong dari derita penyakitnya. Jika memang sudah waktunya, izinkanlah engkong beristirahat dalam damai. Ya, tugas engkong sudah selesai. Jangan siksa ia lagi. Biarkanlah ia beristirahat dengan tenang. Maka ketika akhirnya saya mendengar kabar engkong sudah tiada (saat itu saya sedang di luar kota), sedikit banyak saya merasa lega. Dan ketika bulan lalu saya menemani nenek dirawat di rumah sakit, saya hanya bisa tersenyum saat nenek berkata: “Enak kali ya kalau engkong masih hidup. Orangnya sabar banget.“.

Yah, begitulah. Kalau kata pepatah, kita baru merasa pentingnya seseorang ketika orang itu sudah meninggalkan kita. Tapi saya rasa jauh di lubuk hati nenek, beliau dari dulu sudah tahu bahwa engkong itu penting. Hanya saja, dulu nenek enggan mengakui. Ya sudahlah, tidak perlu dibahas. Saya yakin engkong juga tidak memusingkan apakah semua pengorbanannya dianggap berguna atau tidak, penting atau tidak. Bagi engkong, yang penting ya berbuat dan melayani. Dan engkong sudah melakukan keduanya dengan sempurna. Terima kasih engkong, atas semua pelajaran hidupnya. Selamat jalan dan selamat beristirahat dalam damai!

Jakarta, 9 Januari 2012
Okki Sutanto

Daftar Tulisan #Refleksi2011:
1. Merefleksikan 2011 (Sebuah Catatan Pengantar)
2. Di Balik Kamera (1) – Sahabat Si Pemula
3. Di Balik Kamera (2) – Kesempurnaan Tanpa Kesempurnaan
4. Untuk Seribu Delapan Ratus Senyuman. =)
5. Seorang Dosen, Sebuah Buku, dan Sejuta Cerita.
%d bloggers like this: