Saat Engkong Beristirahat dalam Damai

#Refleksi2011 – Tulisan Kelima.

(sebelumnya diposkan di Nota Facebook)

Tahun 2011 berlalu dengan kepergian abadi beberapa orang yang ada di kehidupan saya. Mulai dari rekan kuliah seangkatan, tante sekaligus ibu dari sepupu dekat saya, juga engkong. Bagi yang asing dengan kata “engkong”, engkong adalah sebutan saya untuk ayah dari ibu saya. Ya, kakek. Saya tidak tahu kenapa saya memanggil beliau engkong. Sama seperti saya tidak tahu kenapa saya menggunakan kosakata “saya” ketika berbicara dengan ayah dan ibu saya. Kata-kata tersebut mengalir begitu saja dan menjadi kebiasaan sejak saya kecil.

Sejak kecil saya tidak terlalu dekat dengan engkong. Bukan karena engkong galak, tapi lebih karena jarak tempat tinggal kami yang selalu jauh. Saya katakan “selalu”, karena berapa kali pun engkong dan nenek pindah rumah, tetap saja jaraknya jauh dari rumah saya. Sebut saja Depok dan beberapa pinggiran Tangerang. Karena jarak itulah maka saya jadi jarang bertemu engkong. Dalam setahun paling hanya tiga hingga lima kali saja kami bertemu. Umumnya saat lebaran. Ya, beberapa anak engkong (om dan tante saya) penganut Islam taat. Maka lebaran menjadi hari yang saya nantikan juga dalam setahun, selain Imlek, Natal, dan Tahun Baru.

Meski tidak terlalu dekat, tetap saja kepergian engkong terasa membekas. Tidak ada lagi sosok yang dengan sabarnya merawat dan menghadapi nenek saat nenek sakit. Tidak ada lagi sosok yang mau mengantarkan saya ke sekolah saat sopir hilang entah kemana ketika saya SD. Tidak ada lagi orang yang dengan gesit dan antusias menyambut saya dan keluarga saat bertamu, juga tanpa lelah mencarikan lahan kosong untuk parkir mobil. Tidak ada lagi tawa dan candaan khas engkong. Tidak ada lagi kejenakaan-kejenakaan yang membuat kami sekeluarga terpingkal melihat aksi engkong ketika nenek marah-marah terus.

Banyak yang bisa saya pelajari dari engkong. Dua yang utama adalah kemauan untuk terus berguna dan kesabaran melayani nenek. Di setiap kesempatan, engkong enggan untuk duduk diam tidak melakukan apa-apa. Meski usianya sudah senja dan rambutnya sudah memutih, engkong masih rajin melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga. Mulai dari memasak, belanja ke pasar, memperbaiki alat rusak, mencuci piring, dan lain sebagainya. Itu tidak hanya dilakukannya ketika di rumah sendiri. Seringkali, saat berkunjung ke rumah saya pun tak sungkan engkong mencuci piring dan menyapu. Ibu saya pun tak kuasa melarang. Mau bagaimana lagi, memang engkong tidak bisa diam dan ingin terus berguna. Maka ketika di lampu merah saya melihat pengemis tua meminta-minta, bahkan yang jauh lebih muda dan lebih kuat daripada kakek, saya langsung teringat engkong dan bangga punya engkong yang rajin.

Kesabaran engkong melayani nenek juga amat mengagumkan. Beberapa tahun belakangan, nenek sering sakit. Mulai dari sakit mata, diabetes, dan lain sebagainya. Engkong amat sabar mengantarkan nenek ke dokter, membelikan obat hingga ke Jakarta (rumah engkong kali ini di pinggiran Tangerang), juga merawat dan menunggui nenek di rumah sakt. Yang membuat lebih luar biasa lagi, penghargaan nenek terhadap engkong dulu sangat rendah. Tak peduli seberapa sabar dan telatennya engkong merawat nenek, tetap saja nenek sering menganggap engkong banyak kekurangannya. Kurang setialah, kurang sabarlah, kurang apalah. Engkong enggan mempedulikan itu semua. Ia hanya tahu bahwa di sisinya ada istri yang amat dicintainya, yang sudah memberinya anak, cucu, dan kehidupan. Dan istrinya itu sedang sakit, maka tugasnya sebagai suami ya merawat. Dengan tingkat kesabaran yang mengagumkan.

Mungkin engkong tahu, sebagaimana saya, bahwa nenek sebenarnya sangat sayang pada engkong, dan sangat takut engkong meninggalkannya. Perilaku nenek amat wajar, jika ditelaah melalui teori Psikoanalisa Sigmund Freud. Reaction-formation, kalau dalam istilah Psikologi. Intinya, nenek tidak ingin perasaan sayangnya dilihat orang, maka ia menunjukkan perilaku-perilaku sebaliknya. Buktinya, setiap kali engkong keluar rumah misalnya untuk berbelanja, tidak sampai lima menit nenek akan mencari-cari engkong.

Berbagai pelajaran hidup dari engkong sedikit banyak memengaruhi saya. Saya jadi mempunyai teladan dan gambaran, apa yang harus saya lakukan ketika saya sudah tua renta nanti. Bagaimana memperlakukan istri dan anak-anak saya. Maka saya amat berterima kasih pada Tuhan, karena saya berkesempatan menemani engkong di hari-hari terakhirnya. Mulai dari mengantar engkong ke klinikstroke di daerah Mangga Besar. Menemaninya menjalani MRI (Magnetic Resonance Imaging) di RS HUSADA yang bunyi mesinnya sangat berisik dan memusingkan. Juga rutin menjenguknya saat sudah dirawat di Unit Stroke RS SATYA NEGARA.

Saat keadaannya memburuk, saya tidak lagi berdoa pada Tuhan untuk menyembuhkan engkong. Saya berdoa agar Tuhan membebaskan engkong dari derita penyakitnya. Jika memang sudah waktunya, izinkanlah engkong beristirahat dalam damai. Ya, tugas engkong sudah selesai. Jangan siksa ia lagi. Biarkanlah ia beristirahat dengan tenang. Maka ketika akhirnya saya mendengar kabar engkong sudah tiada (saat itu saya sedang di luar kota), sedikit banyak saya merasa lega. Dan ketika bulan lalu saya menemani nenek dirawat di rumah sakit, saya hanya bisa tersenyum saat nenek berkata: “Enak kali ya kalau engkong masih hidup. Orangnya sabar banget.“.

Yah, begitulah. Kalau kata pepatah, kita baru merasa pentingnya seseorang ketika orang itu sudah meninggalkan kita. Tapi saya rasa jauh di lubuk hati nenek, beliau dari dulu sudah tahu bahwa engkong itu penting. Hanya saja, dulu nenek enggan mengakui. Ya sudahlah, tidak perlu dibahas. Saya yakin engkong juga tidak memusingkan apakah semua pengorbanannya dianggap berguna atau tidak, penting atau tidak. Bagi engkong, yang penting ya berbuat dan melayani. Dan engkong sudah melakukan keduanya dengan sempurna. Terima kasih engkong, atas semua pelajaran hidupnya. Selamat jalan dan selamat beristirahat dalam damai!

Jakarta, 9 Januari 2012
Okki Sutanto

Daftar Tulisan #Refleksi2011:
1. Merefleksikan 2011 (Sebuah Catatan Pengantar)
2. Di Balik Kamera (1) – Sahabat Si Pemula
3. Di Balik Kamera (2) – Kesempurnaan Tanpa Kesempurnaan
4. Untuk Seribu Delapan Ratus Senyuman. =)
5. Seorang Dosen, Sebuah Buku, dan Sejuta Cerita.

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s