Setelah Mengapa Terjawab

g-crescoli-364214
Photo by G. Crescoli on Unsplash

Menyambung celotehan kemarin, hampir seluruh pertanyaan di Psikologi itu menyoal mengapa seseorang melakukan sesuatu. Mulai dari konteks pendidikan, organisasi, hingga gangguan kepribadian. Mulai dari tataran individu, kelompok, hingga masyarakat. Pertanyaannya, ada apa setelah mengapa? Lalu apa kalau sudah tahu mengapa si Anto hobi lihatin foto mantan sambil ngupil? Cuma contoh ini, situ ga usah ikutan ngupil beneran.

Simon Sinek amat menekankan pentingnya mengapa. Starts With Why, judul bukunya yang amat laris. Semua bermula memang dari mengapa. Tapi sebatas mengapa saja tidak berarti banyak. Salah satu dosen saya pernah berkata: “Kalian kira kalau sudah lulus nanti, klien akan puas dengan penjelasan mengapa? Mengapa anak saya sulit belajar. Mengapa penjualan brand saya menurun. Mengapa kinerja organisasi kurang baik? Kalian kira cukup dijelaskan alasannya saja maka mereka akan puas?”

Mulai kebayang ga? Nah, itu dia. Kalau sudah kan saya ga perlu nulis lagi nih, bisa langsung credit title. haha.

Di dunia nyata, ilmu Psikologi ga bisa berhenti sampai di mengapa saja. Misalnya ada orangtua mengeluhkan anaknya kesulitan berkonsentrasi, lalu dibawa ke terapis / psikolog, lalu dijelaskan bahwa anaknya sulit berkonsentrasi karena memiliki ADD (Attention Deficit Disorder) atau spektrum Autisme ringan. Terus dikira orangtuanya bakal angguk-angguk saja dan puas lalu pulang? Gak toh.

Setelah tahu MENGAPA, jadi penting juga untuk menjawab APA DAN BAGAIMANA. Apa yang bisa dilakukan. Bagaimana menyiapkan dan membuat si anak tetap bisa berkembang dengan optimal? Apa saja yang perlu diperhatikan, mulai dari pola makannya, pola belajarnya, hingga siklus istirahatnya? Bagaimana menyusun program belajar individu bagi si anak hingga tetap bisa mengikuti pelajaran dengan baik?

Jadi, setelah memahami bagaimana manusia berperilaku, Psikologi juga kerap dituntut untuk memodifikasi perilaku atau kondisi tersebut. Nah bagian ini makin ribet toh proses mencari jawabannya. Namanya juga manusia, makhluk yang kompleks, tentu mengubahnya juga gak gampang. Misalnya deh orang yang adiksi merokok. Ga ada formula pastinya tuh cara membuat seseorang berhenti merokok. Tergantung alasannya kan. Tergantung apa yang menjadi pemicunya. Bagaimana kebiasaan itu terbentuk. Bagaimana persepsi dia tentang bahaya rokok. Bagaimana ia memaknai peran rokok dalam hidupnya. Beda orang ya bisa jadi beda jawabannya. Kompleks bung. Jadi jangan harap juga sekali ikut sesi konseling bisa berhenti total merokok. Atau berhenti main game. Atau selingkuh. Psikologi bukan sulap, bung!

Nah contoh tadi di tataran individu kan ya. Permasalahan individu. Bagaimana kalau masalahnya kelompok atau masyarakat? Performa suatu divisi di perusahaan menurun. Rawan konflik di daerah yang banyak pendatangnya misalnya. Tentu lebih kompleks lagi mencari jawabannya toh. Komponennya makin banyak. Tapi, ya bukan tidak mungkin juga. Ibarat benang kusut, harus ditelusuri satu per satu. Dan dibenahi dari ujungnya: mengapa. Jangan berharap masalah yang terakumulasi sekian lama bisa selesai dengan instan. Mie instan saja masaknya 3 menit kenyangnya cuma 15 menit (kalau saya ini sih ya, harap jangan dijadiin patokan). Masak masalah udah bertahun-tahun tiba-tiba mau selesai dengan 1-2 jam ke ahli Psikologi sih? Lu kunyah aja sana indomi satu kerdus biar tahan lama. hehe..

Intinya, Psikologi ga bisa puas ketika bisa menjawab mengapa. Menjelaskan alasan di balik sebuah tindakan memang penting, tapi berhenti di sana saja tidak cukup. Contohlah Daniel Kahneman, ahli Psikologi Sosial yang mendapat nobel ekonomi di tahun 2012. Ia tidak berhenti di penjelasan mengapa perilaku ekonomi masyarakat itu lebih sering irasional dibanding rasional. Ia juga menjelaskan bagaimana itu terjadi, termasuk bias kognitif dan proses berpikir ganda yang dimiliki individu, sekaligus mengeksplorasi strategi-strategi yang bisa dilakukan seseorang dan masyarakat untuk bertindak rasional dalam konteks ekonomi.

Ribet ya? Merasa berat ya tuntutannya belajar Psikologi? Merasa salah kaprah ya karena dikira Psikologi ga jauh-jauh dari dengerin curhat kayak masa-masa SMA? Tenang, situ ga sendiri kok. Banyak teman seperjuangannya. hehe. Dan yang terpenting adalah kemauan untuk belajar. Semua dipelajari bertahap kok, gak tiba-tiba ribet. Kuliah di Psikologi awal-awal mah banyak senangnya. Isi-isi kuesioner seru. Mengenal diri sendiri. Dasar-dasar psikologi. Enak semua. Nanti kalau udah semester-semester akhir baru deeeeeeh. Mamam sana! hehehe..

Bercanda bung, ga usah serius-serius amat lah. Dinikmati aja.

#CelotehPsikologiBersambung
Tulisan Kedua

Singapura, 14 Desember 2017
Okki Sutanto

Psikologi Satu Kosong Satu

feliphe-schiarolli-445578
Photo by Feliphe Schiarolli on Unsplash

Psikologi itu ilmu yang jauh sekaligus dekat. Jauh karena kebanyakan menganggapnya ilmu mengawang nan sakti yang bisa membaca orang dengan mudah. Dekat karena yang dipelajari dan digumulkan itu ya kita: manusia. Ya apa yang manusia perbuat. Apa yang manusia alami. Apa yang menjadi masalah keseharian pun kehidupan manusia-manusia seperti kita ini.

Sebenarnya simpel kok pertanyaan-pertanyaan yang ada di dunia Psikologi. Mulai dari awal kemunculannya sebagai ilmu sampai perkembangannya sekarang. Intinya gak akan jauh dari: “Mengapa si I melakukan U?” Tolong ya ini jangan diterjemahin ke Bahasa Inggris. “Why I do U” mah ya bisa jadi karena suka sama suka. hehe..

MENGAPA SESEORANG MELAKUKAN SESUATU. Intinya sih hampir seluruh pertanyaan di Psikologi ya bermuara di situ. Sisanya cuma turunan dan perkembangannya saja. Hampir semua riset Psikologi bertujuan memahami dan menjelaskan bagaimana manusia berperilaku (juga berpikir dan merasa).

Mengapa seseorang menolong sesamanya? Mengapa seseorang membunuh? Mengapa ada anak yang kesulitan belajar? Mengapa bagi seseorang agama itu penting sekali? Mengapa suatu kelompok bisa berkonflik? Mengapa seseorang bisa depresi? Mengapa seseorang berbohong? Mengapa remaja cenderung melakukan tindakan berisiko? Mengapa karyawan gampang pindah tempat kerja? Mengapa anak kembar bisa berperilaku berbeda? Mengapa kadang masyarakat bertindak irasional dan konsumtif kala berbelanja? Mengapa masyarakat tertentu memiliki tradisi yang unik?

Nah, pertanyaan yang simpel itulah yang seringkali jawabannya gak simpel-simpel amat. Kadang untuk menjawabnya diperlukan pemahaman mendasar dulu terkait sejumlah hal. Ya bagaimana fisiologi manusia bekerja. Bagaimana otak bekerja, ingatan terbentuk, pun inteligensi berkembang. Ya bagaimana kepribadian terbentuk. Ya tahap-tahap perkembangan anak. Ya struktur sosial. Ya kecenderungan, gangguan, dan perilaku abnormal.

Contohnya di film Fifty First Dates. Ada cewek yang tiap bangun tidur lupa sama kejadian di hari sebelumnya. Ternyata cewek ini pernah mengalami kecelakaan dan bagian otak yang mengatur pembentukan memorinya terganggu. Nah, ga mungkin ilmu psikologi bisa menjelaskan ini tanpa pemahaman akan otak dan fisiologi kan?

Selain itu, perlu juga metodologi dan prosedur penelitian yang ketat untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan simpel tadi kan. Kita perlu paham bagaimana melakukan observasi. Wawancara. Eksperimen. Menyusun alat tes Psikologi. Menyusun kuesioner. Asesmen klinis. Dan sebagainya.

Makanya jangan kaget kalau kuliah Psikologi itu tetap bergumul dengan angka-angka dan statistik. Tetap belajar biologi dasar macam fungsi-fungsi otak. Tetap belajar budaya dan sejarah. Jadi, kalau kalian mau kuliah Psikologi semata untuk menghindari itu semua, mending dipikir ulang. hehe..

Tulisan ini tidak berpretensi bahwa Psikologi itu ilmu sakti dan lebih superior dibanding ilmu lainnya. Tidak sama sekali. Malah sebaliknya. Ilmu ini tuh gak ada pasti-pastinya. Kalau belajar Fisika dan Matematika mungkin enak ada pertanyaan yang bisa dijawab dengan pasti dan yakin. Di Psikologi, jawaban paling umum itu ya…..TERGANTUNG! Karena manusia itu makhluk yang kompleks. Ada konteks, sudut pandang, dan beragam pertimbangan lain yang bisa membuat setiap jawaban memiliki kebenarannya sendiri.

Selain itu, ilmu lain mungkin bisa berdiri sendiri. Tanpa perlu ilmu lain. Nah kalau Psikologi, ketika tidak dibarengi dengan keingintahuan dan pemahaman akan ilmu lain, ya ekonomi, ya sejarah, ya sosial, ya medis, ya IT dan lainnya, bisa jadi cuma tong kosong nyaring bunyinya sih.

Sekian celotehan kali ini tentang Psikologi, semoga segera ada lanjutannya. Mau tahu kapan? Mau tahu tentang apa?
Ya…..TERGANTUNG. hehehe..

SINGAPURA, 13 DESEMBER 2017
#CelotehPsikologiBersambung