Kangen.

Prosa.
#Tulisan kesembilan, hari kedelapan.

Aku tiba di ruangan 2X3 tempatmu melukis hari.
Hanya ada kamu di dalamnya.
Entahlah, mungkin ada perabot lain juga.
Tapi di mataku hanya ada kamu.
Cuma mau kamu.

Kita pun mengeluarkan peliharaan kesayangan kita: kangen.
Kita biarkan kangen kita bersahutan.
Punyaku dan milikmu.
Bergulat hebat.
Tak terbedakan lagi mana kangenku mana kangenmu.

Ciuman pertama kita di sore itu.
Tidak ada waktu untuk menikmatinya.
Karena yang kedua, ketiga, dan berikutnya langsung menyambar tanpa jeda.
Kita tak membiarkan jeda hadir.

Sudah terlalu sering jeda meraja, antara ruang kerjaku dan panggungmu.

Sore itu pemikiranku dan tarianmu tak perlu tampil.
Izinkan mereka beristirahat, biarkan kangen menikmati kedigdayaannya.
Menguasai kita.
Memeras ruang sunyi di antara kita.
Sampai habis tak bersisa.

Jakarta, 27 April 2011
Okki Sutanto | octovary.blogspot.com
(Terinspirasi salah satu prosa dalam “Filosofi Kopi”-nya Dee)

Tiket Sekali Jalan

Fiksi.
#HariKelima menepati janji menulis satu tulisan per hari

Seringkali cinta tak ubahnya tiket pulang-pergi.
Setelah puas membawa kita bertualang,
ke hamparan padang kebahagiaan, bukit kedamaian, dan pantai pengharapan,
Ia akan mengembalikan kita.
Ke tempat asal kita bernama realita, ke kesendirian kita.

Sebenarnya kita sudah diberitahu, bahkan memilih sendiri, dengan sadar.
Saat kita menyobek tiket keberangkatan, seketika pula kita menyimpan erat tiket kepulangan.
Namun seringkali kita berusaha mengacuhkannya.
Segenap tenaga membuaikan diri dalam indah perjalanan.
Dan di saat tiket itu perlahan menyelip keluar dari saku, kita gopoh memasukkannya kembali.

Pada akhirnya, sang tiket mencuat seutuhnya, mendeklarasikan kuasanya.
Sontak perjalanan usai, kita dipaksa pulang.
Sekuat apa pun kita berontak, kuasanya absolut, tak terelakkan.
Pilihannya hanya dua: membuatnya mudah atau membuatnya sulit.
Dan itu pun hanya proses, karena akhirnya jelas: kita kembali ke realita, kembali ke kesendirian.

Kita terhempas.
Sesenggukan menahan kecewa, meronta melepas amarah.
Tapi selintas kemudian, akan kita cari lagi tiket pulang-pergi itu.
Mungkin destinasi lama, mungkin juga baru.
Semua tergantung perjalanan sebelumnya, lebih tepatnya akhir perjalanan sebelumnya.

Dan meski konon menyebutkan adanya tiket sekali jalan, aku pongah percaya.
Aku tak pernah menemukannya, pun tak berharap suatu saat akan menemukannya.
Bagiku semua tiket keberangkatan memiliki pasangannya: kepulangan.
Karena tidak ada perjalanan yang kekal.
Dan tiket kepulangan bisa saja berbentuk apa pun, termasuk maut.

Jakarta, 24 April 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(Belum berusaha menggenggam tiket apa pun)

Sungguh!

Tidak sulit memahami cinta.
Dan tahu kapan harus merelakan.
Sungguh.
Ketika ia mulai melahapmu sepenuhnya,
Maka hentikan. Sungguh.

Tidak sulit mematahkan harap.
Dan tahu kapan harus kembali.
Sungguh.
Ketika ia kehabisan ruang bernafas,
Maka lanjutkan. Sungguh.

Jakarta, 25 Maret 2011

Hidup adalah Hidup

Hidup tak seindah apa yang bisa diharapkan nurani manusia
Namun juga tidak seburuk apa yang bisa dijalani seorang anak manusia

Hidup adalah hidup
Penuh kesedihan untuk menguatkan kita
Sedikit kebahagiaan untuk membuat kita mengejar kemanisan itu..
Penuh kegagalan untuk membuat kita senantiasa belajar
Sedikit kesuksesan, untuk membuat kita tertantang menggapai yang sedikit itu..

Hidup adalah hidup
Bukan kesempurnaan, sehingga kita bisa cepat berpuas diri
Bukan mimpi indah, sehingga kita ingin terlelap selamanya
Hidup adalah hidup
Tak lebih, dan tak kurang.

Poem – I’d rather

Just a simple poem.
Not all my poems resemble my feeling, it could only be words without meaning which I get from listening musics, watching movies, etc.

Enjoy!

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
I’d rather chase your shadows all my life
Than be afraid of my own
I’d rather looking for something I don’t know
Than knowing I’m no longer myself

I’d rather be the shadow itself
Than living as someone else
But do WE have any chance to choose?

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Inspired by: LIFEHOUSE lyric, ‘SPIN’.