Hei Kamu!

Prosa // Pengganti ucapan selamat ulang tahun.
(Baru diarsipkan, sebelumnya dipublikasikan di Facebook)

Hei kamu,
yang cantik karena:
keleluasan saat berpikir,
keliaran dalam bermimpi,
kecintaan pada manusia,
kebencian pada kedangkalan,
kehausan akan pengetahuan,
kepercayaan akan layaknya memperjuangkan sesuatu,
keyakinan akan pentingnya cinta dalam sebuah aktivitas,
juga karena keberanian menjadi diri sendiri.

Hei kamu,
terus berusaha mencintai bumi manusia ya,
dengan segala permasalahan di dalamnya.
Dan jangan mau cuma numpang jadi masalah,
jadi setitik harapan juga kedengarannya tidak jelek.

Hei kamu,
terus berusaha mengangkasa tanpa takut terjatuh ya,
karena tanpa hancur lebam karena berjuta kesalahan,
kebenaran yang cuma satu pun
bisa jadi tidak kesampaian.

Hei kamu…………
Selamat ulang tahun!

Jakarta, 26 Mei 2011
Okki Sutanto
(jangan bosan jadi sahabat berdebat gue ya! kapan lagi gue bisa berdebat sama juara nasional? hahahaha)

Kamu Kayak Klinik Anti Jerawat

Prosa
(baru diarsipkan, sebelumnya dipublikasikan di Facebook)

Tadi kalau gak salah,
kamu bilang klinik anti jerawat itu gak ada gunanya
emang sih, jerawatnya hilang pas lagi ke sana
tapi sesudahnya, jerawatnya muncul lagi

Kalau dipikir-pikir,
kamu itu ya kayak begitu juga
kalau lagi sama kamu,
semua penderitaanku hilang

Isi kepala yang kayak lagi latian sirkus
Sekujur badan yang gemeteran overdosis angin
Sampe mulut yang mogok ngunyah
semuanya hilang kalau aku lagi sama kamu

Tapi ya itu tadi,
efek kamu itu cuma sementara
selepas kita berjalan tolak arah
sakitnya menyerbu kembali

Ya pusingnya
ya meriangnya
ya sariawannya
ah, tak ketinggalan penyakitnya nambah satu…… kangen!

Jakarta, 24 Mei 2011
Okki Sutanto
(tapi aku akan tetep balik ke “klinik” ga berguna itu koq)

Memangnya Kenapa?

Sebuah Prosa
#Tulisan ketujuhbelas, hari ketujuhbelas

Memangnya kenapa,
kalau saya ingin jadi orang jahat?

Bukankah orang baik itu sudah banyak bertebaran,
dan dunia ini belum juga membaik?

Memangnya kenapa,
kalau saya ingin jadi orang sombong?

Bukankah semua orang diajar untuk jadi rendah hati,
dan nyatanya kompetisi itu tetap saja ada?

Memangnya kenapa,
kalau saya ingin jadi tukang bohong?

Bukankah ketika kejujuran diagungkan,
tetap saja tidak membawa kita kemana-mana?

Iya kan?
Jadi gak apa kan, saya jadi jahat, sombong, dan pembohong?

Dan ketika nanti saya ingin menjadi baik, rendah hati, dan jujur,
Memangnya kenapa?

Bukankah dunia akan menjadi lebih baik,
ketika kita tidak menciptakan dua kutub,
dan dua warna saja?

Lantas….
Kenapa?

Jakarta, 6 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(Gak kenapa-kenapa kok)