My Version of Seven Summits

Setiap orang boleh hidup dengan tujuan, atau tanpanya.

Tidak ada paksaan untuk menjalani hidup dengan suatu cara tertentu. Ada yang hidup sebebas angin dan semengalir air, toh bahagia. Ada yang hidup terkotak sejak bocah, dan mencapai segala mimpi yang dicanangkan sejak muda, toh berhasil juga.

Bagi saya sendiri, tujuan menjadi penting. Termasuk menuliskannya.

Bukan karena saya demikian ambisiusnya (oke, bagi sebagian orang saya memang ambisius), lebih karena saya demikian tidak fokusnya. Dua tahun ini saya mengejar terlalu banyak hal dalam hidup, and I learned that multitasking / multifocus doesn’t exist…in HARD way.

Saya penggagas yang gagal. Terlalu banyak hal yang saya gagas dan terpaksa gagal. Terlalu banyak hal yang saya mulai dan terpaksa usai… seringkali dengan tidak mengenakkan. Ya, saya tahu lebih baik menggagas dan gagal daripada gagal menggagas. Ya itu kan kalimat penghiburan standar. Saya tahu.

Dalam sejumlah titik dan momen kontemplasi, saya mempertanyakan apa tujuan saya hidup. Untuk apa saya ada. Dan apa hal yang benar-benar membuat saya senang ketika melakukannya. Setelah sejumlah pendalaman dan perenungan, saya membuat sejumlah tujuan hidup yang saya intisarikan dalam tajuk “Seven Summit“.

 

Monte_Rosa_summit

Anggaplah ini tujuh puncak dunia yang menjadi tujuan hidup para pendaki gunung. Nah, berhubung saya bukan pendaki gunung, ijinkan saya memiliki “puncak dunia” versi saya sendiri. Here it goes:

1. Bisnis

Saya akan memiliki grup perusahaan sendiri yang bergerak di sejumlah bidang, bermanfaat bagi bangsa (memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang) dan menjadi aset negara. Saya sedang membangun fondasi di bidang teknologi, konsultasi bisnis, dan pengembangan manusia, serta sedang merambah ke sejumlah bidang lainnya. Saya yakin di akhir tahun 2014 ini, gambaran terkait “puncak” ini akan mampu saya paparkan dengan lebih jelas dan konkrit.

2. Akademis

Saya suka belajar dan amat menyukai kehidupan dunia akademis. Saya sudah menyelesaikan studi kesarjanaan saya. Saat ini sedang mengenyam pendidikan pascasarjana Magister Sains, dan sedang mencari beasiswa Magister lainnya (yang amat saya idamkan adalah Master of Social Entrepreneurship) yang dimiliki oleh HULT University. Di akhir 2016 harusnya saya sudah memiliki satu gelar S1 dan dua gelar S2. Lalu saya akan mengajar, dan aktif mengikuti sejumlah konferensi ilmiah.

3. Kepenulisan

Saya suka menulis. Saya rajin menulis di blog dan di sosial media. Salah satu artikel saya pernah dimuat di Harian Kompas. Saya pernah menulis dan mengeditori dua buah buku meski diterbitkan di kalangan universitas saja. Saya pernah menulis naskah drama musikal di tahun 2012. Saya pernah menjadi tim penyusun bahan bacaan populer untuk BKKBN di tahun 2013. Tahun ini saya akan makin rajin menulis. Rasanya menerbitkan novel dan kumpulan cerpen di tahun 2014 ini bukan target yang mustahil. Dan minimal dua buku di tahun-tahun berikutnya.

4. Musik

Meski memainkan alat musik bukan talenta saya, namun saya suka menyanyi. Dan menulis lagu. Sejumlah orang sudah menawarkan untuk menjadi partner saya dalam mewujudkan impian ini. Mungkin saya akan memulai di jalur mainstream yakni covering lagu di Youtube dan Soundcloud di tahun 2014, sebelum di tahun-tahun berikutnya mengeluarkan album dan membuat mini konser untuk kalangan tertentu. Ih seru ya bayanginnya aja. Boleh kali ya dibayangin aja tanpa dijalanin. #apaan.

5. Film

Saya suka film dan pernah mendirikan Komunitas Pecinta Film saat masih kuliah dulu. Saya juga pernah mengikuti kursus penulisan skenario di Serunya Scriptwriting dan berkenalan dengan sekelumit dunia penulisan skenario. Di sana saya berkenalan dengan Jujur Prananto, Salman Aristo, Titien Wattimena, Ben Sihombing, dan masih banyak lagi. Entah mengapa, mereka menguatkan saya untuk suatu saat menulis dan memproduksi sebuah film sendiri. Kapan ya? Hmm… 2017 terdengar bagus.

6. Politik

Ah, ini kan idealisme zaman mahasiswa dulu. Entah kenapa, dengan konstelasi dan kontestasi politik yang ditayangkan sepanjang 2014 ini, saya merasa makin tergerak untuk masuk. Saya yakin makin banyak orang baik yang akan terjun ke politik, entah eksekutif atau legislatif, dan agaknya akan menyenangkan bekerja dengan orang-orang baik demi Indonesia yang lebih baik. Lebih jauh tentang ini silakan baca manifesto politik saya di Kabinet Indonesia Sombong 2034.

7. Keluarga

Mungkin ini hal terabsurd yang pernah saya tulis. Saya bukan tipikal family man. Saya tidak punya jiwa kebapakan sama sekali. Saya tidak pernah benar-benar mengejar diri saya untuk menikah cepat dan punya anak cepat. Entah mengapa, seorang wanita telah meyakinkan saya untuk memulainya, dan membuat saya benar-benar memikirkan masak-masak akan hal memulai sebuah keluarga, tanpa ia sadari. Namanya adalah Edira Putri Surachmat. Yang kelak akan berganti menjadi Edira Putri Sutanto-Surachmat. Ah, doakan saya masih hidup cukup panjang untuk “puncak” yang ini. Saya tidak berani menargetkan tahun dan momen tertentu untuk hal ini.

 

Demikianlah tujuh puncak dunia versi saya. Meski saya terlihat santai, percayalah saya sedang berlari sekuat tenaga mengejar dan mewujudkannya.

 

 

Bogor-Jakarta-Tangerang, 27 Juli 2014.

Okki Sutanto

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s