World Book Day Koq gitu? hahaha..

Catatan Pribadi.

#Tulisan keduabelas, hari kesebelas

Sampai pagi ini, saya masih antusias pergi ke acara World Book Day 2011 yang diselenggarakan oleh Forum Indonesia Membaca di Museum Bank Mandiri, Kota. Memang dari beberapa hari sebelumnya saya dan beberapa teman saya berencana pergi bareng ke acara ini. Mengapa? Well, dari namanya saja  kami sudah kepincut. World Book Day bo! Acara tahunan. Langsung di otak kami ada bayangan: lautan buku, bazar buku, buku murah! Waw. Harus datang!

Nyatanya apa yang ada di kepala saya dan teman-teman saya runtuh seketika, saat saya sampai di lokasi acara. Tidak ada apa-apa di sana kecuali pameran sederhana “100 Ilustrasi Buku Anak”. Di mana dipajang cover buku anak, berisi keterangan mengenai ilustratornya. Tidak ada tumpukan buku yang dijual. Tidak ada buku asing. Tidak ada penjual. Juga (nyaris) tidak ada pengunjung.

Rupanya kami tertipu dua hal. Pertama mengenai konsep “pameran”. Ketika mendengar kata pameran, dan berkaitan dengan buku, otak kami langsung membayangkan suasana book fair pada umumnya. Nyatanya, pameran yang dimaksud lebih mirip ke pameran foto atau lukisan. Kedua adalah mengenai tanggal pelaksanaan kegiatan. Ketika dituliskan bahwa acara ini berlangsung 23 April – 17 Mei 2011, kami menganggap setiap harinya akan ada acara menarik yang digelar di World Book Day. Nyatanya lagi-lagi kami salah. Kegiatan menarik selain pameran ilustrasi buku anak tersebut, ternyata hanya ada di dua hari pertama (23-24 April lalu) dan lima hari terakhir (13-17 Mei nanti). Di jeda antara pembukaan dan penutupan, ya praktis tidak ada acara apa-apa.

Yah, untunglah tadi saya datang lebih dulu ke sana, sehingga saya bisa langsung mengabari teman-teman saya lainnya untuk tidak perlu datang ke lokasi acara, daripada ikut-ikutan menyesal seperti saya. Sebenarnya, dikatakan “tertipu” pun rasanya kurang tepat. Jika pun benar, maka kami tertipu oleh skema otak dan asumsi kami sendiri! hahaha.

Yasudah, mumpung saya sudah berada di Museum Bank Mandiri, akhirnya saya memutuskan berkeliling dan mampir ke perpustakaannya. Untunglah perpustakaannya buka. Meski koleksi bukunya tidak terlalu banyak (hanya sekitar 2000an buku, dalam perkiraan saya), koleksinya cukup menarik! Saya sempat membaca beberapa buku di sana, dan sudah mencatat beberapa judul buku untuk nantinya saya beli dan koleksi. hehe.

Begitulah perjalanan saya hari ini ke World Book Day. Hari ini saya belajar dua hal. Pertama, untuk meminimalkan asumsi dan bertanya sejelas mungkin ke panitia, sebelum datang ke sebuah acara. Jelas-jelas di websitenya sudah dicantumkan kontak yang bisa dihubungi, mulai dari e-mail, nomor telepon, nomor handphone, hingga akun facebook dan twitter dari acara tersebut. Andai saya bertanya lebih dahulu, mungkin saya tidak perlu terkecewakan oleh asumsi saya sendiri. Pelajaran kedua adalah untuk membiasakan diri menikmati kesalahan / kegagalan. Jika saya langsung pulang di saat saya kecewa oleh isi pamerannya, mungkin saya tidak akan pernah tahu apa isi Museum Bank Mandiri, terlebih perpustakaannya.

Ya. Ya. Ya. Lagi-lagi pepatah lama masih saja mujarab: Malu Bertanya Sesat Di Jalan! hehehe.. Sekian laporan saya hari ini. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya.

Jakarta, 30 April 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(masih berniat datang ke penutupan World Book Day 2011)



LAMPIRAN!

Pameran “100 Ilustrasi Buku Anak”
Keterangan di bawah ilustrasi buku yang ditampilkan.

Perpustakaannya.

Buku Menarik, Kumpulan Cerpen sepanjang 55 kata

Salah satu cerpennya
Buku menarik lainnya
Kumpulan buku menarik GM

Saat Malam Membunuh Teman-temannya.

Prosa.
#HariKeempat menepati janji menulis satu tulisan per hari

Pagi datang, saat Malam belum tuntas bergegas.
Sebenarnya Malam belum rela beranjak.
Ia masih ingin bercinta dengan cahaya bulan, terang bintang, dan nyanyian burung hantu.
Tapi Malam tak punya pilihan. Pagi sudah tiba.

Malam menyimpan iri, terhadap Pagi yang selalu muncul setelahnya.
Memaksanya menyudahi giliran.
Merebut perannya.
Menghapus jejaknya.

Ia ingin seperti Pagi.
Menyaksikan manusia memulai aktivitas.
Ditemani kicauan burung gereja, cahaya matahari, dan biru langit.
Tapi Malam tak punya pilihan. Ia bukan Pagi.

Suatu saat, Malam membunuh Pagi.
Kini ia memiliki seperempat hari sebagai tambahan waktu.
Ia bahagia setengah mati.
Tak ada lagi Pagi yang menyudahi gilirannya.

Tapi tak lama Malam kembali meradang.
Kini ia menghujat siang, juga sore.
Ia ingin pula menyaksikan manusia di tengah kesibukan mereka.
Ditemani terik matahari, panas udara, dan indahnya awan.

Malam pun membunuh siang, sekaligus sore.
Kini ia merajai hari.
Tanpa perlu berganti peran.
Berbagi giliran.

Malam terus menguasai hari.
Hingga ia kelelahan.
Ia sudah bosan bercinta dengan bulan, bintang, dan nyanyian burung hantu.
Ia sudah muak melihat manusia dengan segala kesibukannya.

Malam pun memutuskan ingin bunuh diri.
Ia tak sanggup lagi.
Tapi ia lupa, ia tak bisa.
Saat ia membunuh Pagi, sebenarnya saat itu pula ia sudah mati.

Jakarta, 23 April 2011
Okki Sutanto
(Bergegas ke gereja, bersama MALAM)