Saat Malam Membunuh Teman-temannya.

Prosa.
#HariKeempat menepati janji menulis satu tulisan per hari

Pagi datang, saat Malam belum tuntas bergegas.
Sebenarnya Malam belum rela beranjak.
Ia masih ingin bercinta dengan cahaya bulan, terang bintang, dan nyanyian burung hantu.
Tapi Malam tak punya pilihan. Pagi sudah tiba.

Malam menyimpan iri, terhadap Pagi yang selalu muncul setelahnya.
Memaksanya menyudahi giliran.
Merebut perannya.
Menghapus jejaknya.

Ia ingin seperti Pagi.
Menyaksikan manusia memulai aktivitas.
Ditemani kicauan burung gereja, cahaya matahari, dan biru langit.
Tapi Malam tak punya pilihan. Ia bukan Pagi.

Suatu saat, Malam membunuh Pagi.
Kini ia memiliki seperempat hari sebagai tambahan waktu.
Ia bahagia setengah mati.
Tak ada lagi Pagi yang menyudahi gilirannya.

Tapi tak lama Malam kembali meradang.
Kini ia menghujat siang, juga sore.
Ia ingin pula menyaksikan manusia di tengah kesibukan mereka.
Ditemani terik matahari, panas udara, dan indahnya awan.

Malam pun membunuh siang, sekaligus sore.
Kini ia merajai hari.
Tanpa perlu berganti peran.
Berbagi giliran.

Malam terus menguasai hari.
Hingga ia kelelahan.
Ia sudah bosan bercinta dengan bulan, bintang, dan nyanyian burung hantu.
Ia sudah muak melihat manusia dengan segala kesibukannya.

Malam pun memutuskan ingin bunuh diri.
Ia tak sanggup lagi.
Tapi ia lupa, ia tak bisa.
Saat ia membunuh Pagi, sebenarnya saat itu pula ia sudah mati.

Jakarta, 23 April 2011
Okki Sutanto
(Bergegas ke gereja, bersama MALAM)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s