Rawat Jalan Rame-Rame

Tulisan Keempat.

martins-zemlickis-57243.jpg
Photo by Mārtiņš Zemlickis on Unsplash

Lha apaan nih tiba-tiba ada lagi sambungannya. Kirain trilogi doang tiga tulisan kemarin. haha. Tenang, saya kan ga mau kalah sama Star Wars dan Cinta Fitri. Selama ada yang nikmatin, dibikin terus. hehe..

Ada beragam alasan seseorang memutuskan untuk kuliah Psikologi. Ada yang karena pas SMA sering jadi tempat curhat temen-temennya, lalu merasa menikmati, lalu memutuskan kuliah Psikologi. Sadis nih tipe-tipe begini, menikmati banget penderitaan orang. Buktinya seneng dicurhatin dan dengerin kesedihan temennya. hehe. Gak lah, bercanda. Tipe-tipe ini biasanya cewek cakep atau minimal populer di SMAnya, karena entah kenapa curhat ke cewek cakep kan lebih nyaman daripada curhat ke cowok jelek. Buktinya? Temen saya gak ada yang pernah curhat tuh ke saya pas SMA. hehe..

Selain itu, ada yang karena anggota keluarga atau kerabatnya sudah berkarir di bidang Psikologi. Jadi cukup tahu dan tertarik dengan bidang ini. Biasanya yang begini-begini lebih serius dan jelas pas kuliah. Udah tahu lah istilahnya mau belajar apa, lulus mau jadi apa, dan gak banyak melewati fase “pencarian jati diri” pas kuliah. Abis lulus S1 juga ga nunggu lama untuk lanjut ke S2, bahkan ke S3. Ya karena udah jelas banget mau jadi apa pokoknya.

Nah, lain lagi dengan yang masuk Psikologi karena merasa ada yang salah dengan dirinya. Jadinya ingin tahu lebih dalam tentang dirinya, syukur-syukur “menyembuhkan” diri. Jumlahnya ga banyak-banyak amat sih, tapi ya gak sedikit juga. Ini dia yang istilahnya kuliah sambil rawat jalan. Bisa jadi juga gak dari awal tujuannya itu sih, mungkin banget pas kuliah belajar banyak gangguan dan abnormalitas, lalu jadi mulai analisa diri sendiri dan ikutan “rawat jalan”. Belajar Psikologi, analisa diri sendiri, lalu intervensi diri sendiri.

Makanya jangan kaget ketika kuliah Psikologi, rasa-rasanya banyak banget temen-temen yang unik. Tapi tenang, keunikan-keunikan itulah yang bikin pertemanan jadi lebih berwarna dan kita belajar empati dengan lebih mudah. Gak cukup belajar Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau sering disingkat Obul dari buku saja, pasti banyak kok teman-teman di Psikologi nanti yang jadi contoh nyata. Atau bipolar. Atau narsistik. Atau insecure. Dan lainnya.

Yang perlu jadi perhatian adalah jangan merasa “pintar” hanya karena satu-dua tahun belajar Psikologi. Apalagi sampai rajin memberi label, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Selain belum tentu benar, memberi label bisa memberi konsekuensi jangka panjang yang tidak terkira loh pada orang tersebut. Serahkanlah hal tersebut pada ahlinya. Kalian kan masih belajar. Ga ada noda ya ga belajar, memang, tapi jangan juga justru jadi “menodai” orang lain kan. Lah apaan nih kok konotasinya jadi ga enak! Ya intinya demikian.

Patut diingat bahwa sebagai ilmu sosial, Psikologi seringkali ga punya jawaban pasti. Ada banyak perspektif. Ada banyak kemungkinan jawaban yang bisa berubah tergantung konteks. Jadi jangan sampai kalian memberi vonis yang bisa menghancurkan kehidupan seseorang, cuma karena ingin dianggap pintar. Takabur itu namanya. “Eh dia kan anak indigo, jangan dekat-dekat nanti diterawang”. Atau “Eh dia kan masokis, jangan dekat-dekat nanti minta dicambuk”.

Seperti film 50 Shades of Grey, dunia Psikologi itu banyak abu-abunya. Jadi jangan sering-sering sok jadi hakim yang memutuskan hitam-putihnya sesuatu. Tak cambuk loh nanti.

Jakarta, 24 Januari 2018
Okki Sutanto

Psikologi Satu Kosong Satu

feliphe-schiarolli-445578
Photo by Feliphe Schiarolli on Unsplash

Psikologi itu ilmu yang jauh sekaligus dekat. Jauh karena kebanyakan menganggapnya ilmu mengawang nan sakti yang bisa membaca orang dengan mudah. Dekat karena yang dipelajari dan digumulkan itu ya kita: manusia. Ya apa yang manusia perbuat. Apa yang manusia alami. Apa yang menjadi masalah keseharian pun kehidupan manusia-manusia seperti kita ini.

Sebenarnya simpel kok pertanyaan-pertanyaan yang ada di dunia Psikologi. Mulai dari awal kemunculannya sebagai ilmu sampai perkembangannya sekarang. Intinya gak akan jauh dari: “Mengapa si I melakukan U?” Tolong ya ini jangan diterjemahin ke Bahasa Inggris. “Why I do U” mah ya bisa jadi karena suka sama suka. hehe..

MENGAPA SESEORANG MELAKUKAN SESUATU. Intinya sih hampir seluruh pertanyaan di Psikologi ya bermuara di situ. Sisanya cuma turunan dan perkembangannya saja. Hampir semua riset Psikologi bertujuan memahami dan menjelaskan bagaimana manusia berperilaku (juga berpikir dan merasa).

Mengapa seseorang menolong sesamanya? Mengapa seseorang membunuh? Mengapa ada anak yang kesulitan belajar? Mengapa bagi seseorang agama itu penting sekali? Mengapa suatu kelompok bisa berkonflik? Mengapa seseorang bisa depresi? Mengapa seseorang berbohong? Mengapa remaja cenderung melakukan tindakan berisiko? Mengapa karyawan gampang pindah tempat kerja? Mengapa anak kembar bisa berperilaku berbeda? Mengapa kadang masyarakat bertindak irasional dan konsumtif kala berbelanja? Mengapa masyarakat tertentu memiliki tradisi yang unik?

Nah, pertanyaan yang simpel itulah yang seringkali jawabannya gak simpel-simpel amat. Kadang untuk menjawabnya diperlukan pemahaman mendasar dulu terkait sejumlah hal. Ya bagaimana fisiologi manusia bekerja. Bagaimana otak bekerja, ingatan terbentuk, pun inteligensi berkembang. Ya bagaimana kepribadian terbentuk. Ya tahap-tahap perkembangan anak. Ya struktur sosial. Ya kecenderungan, gangguan, dan perilaku abnormal.

Contohnya di film Fifty First Dates. Ada cewek yang tiap bangun tidur lupa sama kejadian di hari sebelumnya. Ternyata cewek ini pernah mengalami kecelakaan dan bagian otak yang mengatur pembentukan memorinya terganggu. Nah, ga mungkin ilmu psikologi bisa menjelaskan ini tanpa pemahaman akan otak dan fisiologi kan?

Selain itu, perlu juga metodologi dan prosedur penelitian yang ketat untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan simpel tadi kan. Kita perlu paham bagaimana melakukan observasi. Wawancara. Eksperimen. Menyusun alat tes Psikologi. Menyusun kuesioner. Asesmen klinis. Dan sebagainya.

Makanya jangan kaget kalau kuliah Psikologi itu tetap bergumul dengan angka-angka dan statistik. Tetap belajar biologi dasar macam fungsi-fungsi otak. Tetap belajar budaya dan sejarah. Jadi, kalau kalian mau kuliah Psikologi semata untuk menghindari itu semua, mending dipikir ulang. hehe..

Tulisan ini tidak berpretensi bahwa Psikologi itu ilmu sakti dan lebih superior dibanding ilmu lainnya. Tidak sama sekali. Malah sebaliknya. Ilmu ini tuh gak ada pasti-pastinya. Kalau belajar Fisika dan Matematika mungkin enak ada pertanyaan yang bisa dijawab dengan pasti dan yakin. Di Psikologi, jawaban paling umum itu ya…..TERGANTUNG! Karena manusia itu makhluk yang kompleks. Ada konteks, sudut pandang, dan beragam pertimbangan lain yang bisa membuat setiap jawaban memiliki kebenarannya sendiri.

Selain itu, ilmu lain mungkin bisa berdiri sendiri. Tanpa perlu ilmu lain. Nah kalau Psikologi, ketika tidak dibarengi dengan keingintahuan dan pemahaman akan ilmu lain, ya ekonomi, ya sejarah, ya sosial, ya medis, ya IT dan lainnya, bisa jadi cuma tong kosong nyaring bunyinya sih.

Sekian celotehan kali ini tentang Psikologi, semoga segera ada lanjutannya. Mau tahu kapan? Mau tahu tentang apa?
Ya…..TERGANTUNG. hehehe..

SINGAPURA, 13 DESEMBER 2017
#CelotehPsikologiBersambung

Kuliah, Lagi

Previously published on my Facebook Notes

Wacana kuliah lagi sudah lama ada di benak, sebenarnya.

Tahun lalu saya terpilih menjadi finalis penerima beasiswa penuh Magister Manajemen di sebuah kampus ternama di bilangan Menteng. Namun saya mundur setelah melalui sesi wawancara dengan para pimpinan kampus tersebut. They’re smart but a bit narcissist unhumanist. That’s all. Saya mundur dari serangkaian psikotes. Saya keluar dari ruangan tepat sebelum camping evaluatif dimulai. Dan saya gugur. 

Memang, tidak sepenuhnya alasannya karena sikap negatif tersebut. Ada alasan lainnya, yakni DCG. Perusahaan yang saya dirikan di awal tahun 2013, 16 Februari 2013, tepatnya. Bergerak di bidang edukasi kreatif dan konsultan bisnis, kami berangkat dari minus, bukan sekedar nol. Keegoisan bercampur idealisme yang terlalu ambisius. Yasudahlah, namanya juga anak muda. Yang penting semua pelajaran direguk pahit-manisnya.

Kembali ke topik. Saya sebenarnya tahu, suatu saat akan melanjutkan studi. Kenapa? Karena saya ingin menjadi dosen, dan itu mengharuskan saya memiliki gelar S2. Tapi, sebenarnya itu rencana jangka panjang. Tidak di tahun ini. Perusahaan sedang bergeliat dan butuh fokus ekstra, sejumlah klien dan kesempatan baru bermunculan tak tertangani, juga saya belum berpikir masak akan kuliah di jurusan apa. Hidup bergulir dengan pikiran fokus bekerja dan bekerja, bangun subuh dan pulang larut malam. Setiap harinya.

Hingga menjelang pertengahan tahun…. banyak yang terjadi. Masalah muncul tiada henti. Dari bisnis, personal, hingga keluarga. Dari kandasnya sebuah relasi bertahun, hingga bencana kebakaran yang menimpa lokasi usaha keluarga. Semua pertanda seakan ingin berteriak pada saya, untuk berhenti sejenak dan menyusun ulang rencana hidup.

Akhirnya saya berserah, dan berpasrah. Setiap jalan yang dibukakan saya usahakan. Mendengar gelombang terakhir kuliah Psikologi Temu Budaya akan segera berakhir, saya pun mendaftar. Tidak sampai 2 minggu, saya harus menyelesaikan semua berkas administratif yang tercecer entah dimana, dan mempersiapkan diri mengikuti tes masuk S2, yang nyaris saya lewati.

Di hari tes S2 diadakan, ada kejadian lucu. Tes berlangsung hari Sabtu di Semanggi, pukul 8 pagi. Saya terbangun pukul 06.45, di Cimacan, Puncak. Jadi, waktu saya hanya 75 menit untuk tiba di Semanggi. Terbayang? Semoga tidak. Saya telat, teramat sangat, nyaris 1 jam. Toh akhirnya Tuhan tetap berbaik hati saya sanggup menyelesaikan semua tes dengan lancar tanpa dispensasi waktu tambahan. Saya diterima, meski masih setengah percaya.

Kuliah lagi
..and here I am now, seorang mahasiswa pascasarjana. Status yang tidak terpikirkan sama sekali oleh diri saya dua bulan yang lalu. Ah, sudahlah. Hidup toh tidak harus selamanya lurus. Kadang jalan yang disiapkan belukar yang memutar. Lalu kenapa? Itu semua sudah disiapkan. Tinggal kita jalani saja, sebaik-baiknya.

Terima kasih bagi semua pihak yang sudah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, atas keberhasilan saya menyandang kembali predikat mahasiswa. Ha! Terima kasih!

God bless you all. May the odds and the universe be always in your favor!

Jakarta, 24 Juni 2014
Okki Sutanto.

 

Ini Namanya Ngupil Apa Ya?

#Curhat.070
Sebelumnya diposkan di Nota Facebook.

Anda tahu ngupil? Ternyata, ngupil itu ada banyak jenisnya. Jika Anda mengupil karena ingin menghilangkan rasa tak nyaman di hidung Anda, itu namanya Ngupil Instrumentalis. Jika Anda mengupil karena senang dengan sensasi rasa perih dan sakit yang timbul, namanya Ngupil Masokis. Jika Anda mengupil karena melihat orang lain ngupil, namanya Ngupil Konformis. Jika Anda mengambilkan upil orang lain dengan sukarela, namanya Ngupil Altruistik.

Oke, jangan sepenuhnya percaya dengan apa yang saya tulis di atas. Tulisan tersebut hanyalah ilustrasi mengenai apa yang saya rasakan, di masa-masa awal saya belajar Psikologi. Di masa itu, saya merasa ilmu Psikologi amat bernafsu memberi nama dan istilah akan segala sesuatu yang terjadi di sekitar manusia.

Psikologi seakan selalu mempunyai istilah untuk menggantikan berbagai kosakata yang normal digunakan khalayak. Ada “konformitas” untuk menggantikan “latah / ikut-ikutan”. Ada “Obul” untuk menggantikan “perfeksionis”. Ada “katarsis” untuk menggantikan “ngamuk-ngamuk”, dan masih banyak lagi.

Ya, begitulah kesan saya di masa awal berkuliah Psikologi. Setiap harinya, ada saja istilah-istilah baru yang dipelajari untuk menjelaskan berbagai fenomena keseharian. Alhasil, berbagai kosakata baru tersebut populer digunakan mahasiswa Psikologi dalam keseharian mereka. Di satu sisi, hal tersebut memang bagus, karena menandakan bahwa apa yang dipelajari di kelas tidak menguap begitu saja, dan dipahami melalui obrolan sehari-hari. Namun, di sisi lain penggunaan berbagai istilah tersebut juga seakan membangun dinding tak terlihat, antara mereka yang belajar Psikologi dan mereka yang tidak.

Semoga saja hal tersebut tidak membuat mahasiswa Psikologi menjadi terlalu nyaman dengan sesama mereka sendiri, pun sebaliknya mahasiswa non Psikologi jadi merasa kesulitan memahami mereka yang belajar Psikologi. Karena sejatinya ilmu Psikologi itu akan semakin bermanfaat, jika makin banyak orang yang mengerti. Semoga, ilmu Psikologi tak hanya tertransmisi di antara kepala dan mulut mahasiswa-mahasiswanya saja. Semoga saja!


Jakarta, 13 Oktober 2011
 Okki Sutanto. 

Ketika Akhirat pun Outsourcing

Cerpen.
#TulisanKesepuluh, hari kesembilan.
(Mungkin perlu sedikit latar belakang Psikologi untuk memahami cerpen ini)

Alkisah, dunia akhirat kelabakan. Ujung tombak operasional mereka, Pengadilan Terakhir, kewalahan menghadapi arwah-arwah yang mengantri minta diadili. Setiap hari makin banyak orang yang meninggal, sementara divisi Sumber Daya Malaikat (SDM) belum membuka lowongan bagi malaikat pengadil baru. Chaos! Kini satu malaikat pengadil bisa melakukan FGD sekaligus ke 10 arwah. Lantas dalam satu jam verbatim sudah harus diketik, data sudah harus dikoding, disusul analisis dan kesimpulan: “Masuk manakah arwah-arwah tadi, surga atau neraka?”

Manajer SDM pun mengambil kebijakan sensasional: outsourcing! Kebetulan belum lama ini segelintir penghuni surga mendirikan Biro Pengukuran Psikologi (BPP). Meski mahal, tapi tetap lebih efektif dibanding merekrut malaikat pengadil baru dan mengirim mereka ke berbagai training dan workshop, sebelum akhirnya menjadi tenaga siap pakai. Kesepakatan pun dihasilkan: “Mulai besok, semua proses pengadilan terakhir & penentuan nasib para arwah menjadi tanggung jawab BPP.”

Perdebatan hebat terjadi di internal Biro Pengukuran Psikologi (BPP). Pendekatan mana yang harus dipilih? Kuantitatif, atau kualitatif? Karena keterbatasan waktu, akhirnya mereka memilih kuantitatif. Masing-masing arwah diminta mengerjakan Tes Kesucian Dasar. Ada lima domain dan tiga puluh indikator di dalamnya, yang secara keseluruhan ingin mengukur tingkat kesucian seseorang. Expert judgment dilakukan ke tiga tokoh yang dianggap sangat suci: Abdurrachman Wahid, Paus Yohanes Paulus II, dan Gandhi. Uji validitas lolos. Uji reliabilitas pun lolos setelah menghilangkan beberapa item yang dirasa memiliki derajat kesulitan terlalu tinggi: 0.1.

Alat tes diadministrasikan klasikal, langsung ke seratus arwah sekaligus. Cukup menghemat waktu, antrian arwah semakin cepat dipangkas. Setelah hasil tes diskoring, keseratus arwah diurutkan dari yang skornya terendah ke tertinggi. Permasalahan pun muncul: norma belum ada. Tidak ada cutting point yang jelas. Mereka yang skornya 70 ke atas bisa langsung dikirim ke surga. Mereka yang skornya di bawah 30 dikirim ke neraka. Lantas, bagaimana dengan mereka yang berada di tengah kurva normal, antara Z-Score -0.5 dan +0.5? Apa yang membedakan mereka yang ada di persentil 49 dan persentil 51? Mengapa skor setipis itu bisa membedakan nasib mereka ke depannya? Perbedaan pendapat pun tidak terselesaikan. Pendekatan kuantitatif gagal.

Dalam waktu singkat mereka beralih ke pendekatan kualitatif. Panduan FGD disusun, sekaligus manual berisi rating dan cara penilaian. Dalam melakukan FGD, tiga praktisi BPP menghadapi sepuluh arwah. Setelah FGD selesai, mereka melakukan kalibrasi untuk menguji inter-rater validity. Boom! Masalah baru muncul: definisi teoritis mereka tentang kesucian berbeda, sesuai aliran mereka. Ada yang beraliran humanis, ada yang behaviorisme, ada yang psikodinamis. Perbedaan standar tidak terjembatani. Pendekatan kualitatif bubar jalan.

Setelah kurang lebih seminggu tidak menemukan solusi, Guru Besar di BPP pun memberi usul untuk menggunakan kedua pendekatan sekaligus, kuantitatif, dan kualitatif. Skor di kedua tes dianalisa dan diukur pengaruh multivariatnya. Dengan bantuan aplikasi Lisrel versi terbaru, analisis dimudahkan. Data dimasukkan, lantas hasil keluar. SURGA. NERAKA. SURGA. NERAKA.

Semua berjalan cukup lancar, hingga suatu saat ada “kecelakaan”. Seorang yang sudah dinyatakan gagal ditolak ke neraka, baik oleh pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, malah dimasukkan ke surga oleh Dewan Agung Pengadilan Terakhir. Praktisi BPP gerah. Mereka merasa kerja keras mereka tidak dihargai. Setelah dikonfirmasi ke Dewan Agung, ternyata orang tersebut memang semasa hidupnya adalah pendosa berat. Namun, tepat sebelum kematiannya, orang tersebut menyatakan bertobat. Hal itu membuatnya pantas dimasukkan ke surga. Praktisi BPP tetap tak terima. Debat runcing tak terelakkan. Kerja sama berakhir. Izin praktik BPP pun dicabut oleh Dewan Agung.

Setahun ternyata cukup untuk membuat BPP berbenah diri. Setelah sekitar setahun vakum dari surga, mereka membuka kantor baru di neraka. Kini fokus mereka tidak lagi ke pengukuran, melainkan ke konseling dan bimbingan arwah. Mereka yakin, arwah pun memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dan menjadi lebih baik. Mereka mulai mendekati arwah-arwah jahat, dan menyadarkan mereka, satu per satu. Setelah penuh perjuangan, usaha mereka terdengar hingga ke telinga orang nomor satu di dunia akhirat. Terkesima dengan usaha mereka, sang presiden dunia akhirat mengeluarkan dekrit: “Semua penghuni neraka yang sudah mengikuti program konseling selama setahun dan menunjukkan perubahan perilaku menjadi lebih baik, berkesempatan dipindahkan ke surga.”. Satu per satu penghuni neraka pun termutasi ke surga.

Tak lama kemudian, neraka bangkrut. BPP semakin dikenal dan diakui jasanya. Kantor cabangnya semakin banyak, hingga ke bumi. Karena mereka yakin, pada dasarnya setiap orang memiliki kualitas personal yang baik dalam diri masing-masing. Yang membedakan hanya lingkungan tempat mereka dibesarkan, agama tempat mereka disangkarkan, dan sederet faktor situasional lainnya. Maka tak adil rasanya mengevaluasi mereka di Pengadilan Terakhir dengan mengacuhkan peranan faktor situasional. Sekali lagi, mereka yakin setiap orang itu pada dasarnya baik. Setiap orang bisa menjadi baik. Hanya saja kita kerap tidak menyadarinya. Juga enggan disadarkan.

Jakarta, 28 April 2011
Okki Sutanto
(beneran berencana buka BPP di neraka)