Kuliah, Lagi

Previously published on my Facebook Notes

Wacana kuliah lagi sudah lama ada di benak, sebenarnya.

Tahun lalu saya terpilih menjadi finalis penerima beasiswa penuh Magister Manajemen di sebuah kampus ternama di bilangan Menteng. Namun saya mundur setelah melalui sesi wawancara dengan para pimpinan kampus tersebut. They’re smart but a bit narcissist unhumanist. That’s all. Saya mundur dari serangkaian psikotes. Saya keluar dari ruangan tepat sebelum camping evaluatif dimulai. Dan saya gugur. 

Memang, tidak sepenuhnya alasannya karena sikap negatif tersebut. Ada alasan lainnya, yakni DCG. Perusahaan yang saya dirikan di awal tahun 2013, 16 Februari 2013, tepatnya. Bergerak di bidang edukasi kreatif dan konsultan bisnis, kami berangkat dari minus, bukan sekedar nol. Keegoisan bercampur idealisme yang terlalu ambisius. Yasudahlah, namanya juga anak muda. Yang penting semua pelajaran direguk pahit-manisnya.

Kembali ke topik. Saya sebenarnya tahu, suatu saat akan melanjutkan studi. Kenapa? Karena saya ingin menjadi dosen, dan itu mengharuskan saya memiliki gelar S2. Tapi, sebenarnya itu rencana jangka panjang. Tidak di tahun ini. Perusahaan sedang bergeliat dan butuh fokus ekstra, sejumlah klien dan kesempatan baru bermunculan tak tertangani, juga saya belum berpikir masak akan kuliah di jurusan apa. Hidup bergulir dengan pikiran fokus bekerja dan bekerja, bangun subuh dan pulang larut malam. Setiap harinya.

Hingga menjelang pertengahan tahun…. banyak yang terjadi. Masalah muncul tiada henti. Dari bisnis, personal, hingga keluarga. Dari kandasnya sebuah relasi bertahun, hingga bencana kebakaran yang menimpa lokasi usaha keluarga. Semua pertanda seakan ingin berteriak pada saya, untuk berhenti sejenak dan menyusun ulang rencana hidup.

Akhirnya saya berserah, dan berpasrah. Setiap jalan yang dibukakan saya usahakan. Mendengar gelombang terakhir kuliah Psikologi Temu Budaya akan segera berakhir, saya pun mendaftar. Tidak sampai 2 minggu, saya harus menyelesaikan semua berkas administratif yang tercecer entah dimana, dan mempersiapkan diri mengikuti tes masuk S2, yang nyaris saya lewati.

Di hari tes S2 diadakan, ada kejadian lucu. Tes berlangsung hari Sabtu di Semanggi, pukul 8 pagi. Saya terbangun pukul 06.45, di Cimacan, Puncak. Jadi, waktu saya hanya 75 menit untuk tiba di Semanggi. Terbayang? Semoga tidak. Saya telat, teramat sangat, nyaris 1 jam. Toh akhirnya Tuhan tetap berbaik hati saya sanggup menyelesaikan semua tes dengan lancar tanpa dispensasi waktu tambahan. Saya diterima, meski masih setengah percaya.

Kuliah lagi
..and here I am now, seorang mahasiswa pascasarjana. Status yang tidak terpikirkan sama sekali oleh diri saya dua bulan yang lalu. Ah, sudahlah. Hidup toh tidak harus selamanya lurus. Kadang jalan yang disiapkan belukar yang memutar. Lalu kenapa? Itu semua sudah disiapkan. Tinggal kita jalani saja, sebaik-baiknya.

Terima kasih bagi semua pihak yang sudah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, atas keberhasilan saya menyandang kembali predikat mahasiswa. Ha! Terima kasih!

God bless you all. May the odds and the universe be always in your favor!

Jakarta, 24 Juni 2014
Okki Sutanto.

 

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s