Menghidupi Resolusi 2011!

#Refleksi2011 – Tulisan Ketujuh.

Di awal 2011, saya membuat sejumlah resolusi. Di tahun-tahun sebelumnya, resolusi biasanya hanya menjadi secarik catatan yang dalam seminggu sudah tak jelas ke mana rimbanya. Hilang. Terlupakan. Sama sekali tidak terpikirkan lagi.

Pada tahun 2011, saya berpikiran untuk go green dan tidak lagi menuliskannya dalam secarik kertas. Kali ini, saya mengeposkannya di blog saya (http://octovary.blogspot.com/p/resolusi-2011.html). Ternyata, cara ini jauh lebih bermanfaat. Selain tidak membuang-buang kertas, saya juga tidak kesulitan jika ingin melihatnya kembali. Selain itu saya juga lebih mudah memantau perkembangan capaian resolusi, serta jadi lebih sering melihat dan mengingat resolusi 2011 karena terpampang di blog setiap kali membuka blog. Pokoknya, banyak sekali manfaat dari menuliskan resolusi di situs pribadi! hehe.

Harus diakui, meski cara tersebut membuat saya jadi lebih “akrab” dengan resolusi 2011 saya, bukan berarti semua resolusi 2011 tersebut berhasil dicapai. Kebanyakan sih tetap tidak tercapai. Setidak-tidaknya, penyebab ketidaktercapaian resolusi itu bukanlah karena lupa. Beberapa saya tunda untuk alasan tertentu. Beberapa direvisi mengikuti perkembangan yang terjadi. Untuk lebih lengkapnya, saya akan coba melihat kembali bagaimana perjalanan saya selama tahun 2011 dalam menghidupi dan mengusahakan resolusi tersebut.

BARANG YANG INGIN DIBELI.

Secara garis besar, resolusi saya terdiri dari tiga bagian: (1) Barang yang ingin dibeli; (2) Hal yang ingin dilakukan; dan (3) Prestasi yang ingin dicapai. Pada bagian barang yang ingin saya beli, saya menuliskan tiga barang: laptop i7, telepon genggam yang sesuai kebutuhan, dan kamera DSLR. Pada intinya, semua resolusi ini hancur-lebur-remuk-redam-gagal-total! haha. Tapi tenang, bukan karena saya tidak sanggup, masing-masing ada alasannya.

Ilustrasi. [Sumber foto: http://cdn.asia.cnet.com, http://www.likecool.com, dan http://phonereviews88.com%5D

Untuk laptop, setelah saya “membenahi dan mengoprek” laptop saya saat ini (berprosesor Intel Core 2 Duo), ternyata si laptop masih sanggup menjalankan aplikasi dan kinerja komputasi yang saya butuhkan. Sehingga, angan untuk membeli laptop berprosesor i7 masih bisa ditunda hingga setidaknya pertengahan tahun 2012. Hal ini juga membuat saya bisa menunggu terobosan Apple maupun Google melalui produk notebook mereka di tahun ini.

Untuk telepon genggam, angan ini hancur bersamaan dengan hilangnya handphone saya di awal tahun. Uang untuk membeli handphone belum terkumpul, alhasil saya harus puas dan bersyukur karena ayah saya masih mau membelikan Blackberry Pearl 9105. Ini adalah handphone kesembilan sekaligus terakhir yang ayah saya belikan, sejak saya duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar.

Untuk kamera, saya merevisi niat saya membeli kamera DSLR karena saya tahu saya ini bukanlah seorang fotografer yang gemar berburu foto. Saya hanya suka keindahan fotografi, yang kadang ingin mengabadikan momen dengan kualitas terbaik, yang tidak bisa saya dapatkan melalui kamera ponsel atau kamera saku digital. Maka dari itu, saya merasa akan jauh lebih hemat dan efektif jika saya menyewa / meminjam kamera DSLR saja, di saat saya butuh. Karena jika saya beli sekalipun, kamera itu hanya akan menganggur tanpa disentuh di pojokan kamar.

HAL YANG INGIN DILAKUKAN.

Ilustrasi. [Sumber foto: http://www.usmagazine.com, http://www.savingadvice.com, dan http://www.voxmagazine.com%5D

Setidaknya ada tujuh hal yang ingin saya lakukan di tahun ini. Berikut rincian dan penjelasan berhasil / tidaknya:

1. Menurunkan berat badan hingga 65kg.

 –> Gagal total. Ditunda jadi resolusi tahun ini (semoga)! hahaha.

2. Menonton 100 film.

–> Setengah sukses. Hanya terpenuhi sekitar setengahnya (50-60 film) saja. Tahun ini saya lebih banyak menonton serial televisi dibandingkan film.

3. Membaca 20 buku.

–> (Sepertinya) berhasil. Lupa menghitung dan mendefinisikan buku yang dimaksud. Jika buku cerita bergambar, buku teks perkuliahan dan bahan skripsi, jurnal akademis, majalah, dan komik termasuk ke sini maka jumlahnya pasti melebihi kuota. hehe.

4. Berkenalan dengan orang baru dari 20 negara.

–> Direvisi. Saya memutuskan untuk fokus berkoneksi kembali dengan kawan lama hingga pertengahan tahun ini, sebelum berkenalan dengan orang-orang baru dari negara lain.

5. Liburan ke Bali.

–> Ditunda. Tahun ini rasanya saya sudah cukup banyak berjalan-jalan. Agenda ini ditunda sembari menabung, perkiraaan akhir tahun ini akan saya laksanakan.

6. Ke 3 Kota / tempat baru.

–> Berhasil. Meski sebagian lebih ke mengunjungi kembali suatu kota / tempat, namun pengalaman yang saya rasakan berbeda. Bogor misalnya, tahun ini saya jauh lebih mengenal & mengalami kota Bogor seutuhnya. Juga Jogja & Singapura, dimana ini kali kedua atau ketiga saya ke dua tempat tersebut, namun jauh lebih terasa nuansa kemandirian & petualangannya. Masih ada Pulau Tidung, Taman Bunga Mekarsari, dan lain lain.

7. Bertemu Taylor Swift.

–> Gagal. Sebenarnya ada kesempatan di awal tahun ketia Taylor Swift konser di Singapura, namun apa lacur bentrok dengan kegiatan pelatihan dan kaderisasi organisasi yang saya cintai. Lagipula, tahun ini kecintaan saya ke Taylor Swift (juga dunia musik secara umum) tidak lagi seperti dulu. Saya hanya menjadi pendengar yang baik, itu pun jarang-jarang. Oh iya, setidaknya tahun ini saya menonton konser Avril Lavigne. Cukuplah, bagi saya mereka berdua banyak miripnya. hehehe.

PRESTASI YANG INGIN DICAPAI.

Kredit untuk Anastasia Satriyo untuk foto artikel Kompasnya.

 Bagian ketiga dari resolusi 2011 saya adalah berbagai hal yang ingin saya capai. Berikut daftar lengkap dan hasilnya:

1. Mempublikasikan tulisan ke media nasional.

–> BerhasilIni dia resolusi yang tercapai di detik-detik akhir tahun 2011. Paling berkesan juga karena gak menyangka tulisan saya bisa dimuat di Kompas tanggal 27 Desember 2011, padahal baru pertama kali juga kirim tulisan ke Kompas. hehe. Kado akhir tahun yang amat manis!

2. Menerbitkan buku.

–> BerhasilSaya berhasil mengeditori dan mencetak sebuah buku yang dibuat untuk seorang dosen yang akan “pensiun”. Meski diterbitkan untuk kalangan terbatas saja, bagi saya pengerjaan konten dan tata letaknya setara dengan buku keluaran Gramedia. hehe.

3. Membuat tiga skenario film.

–> DitundaSaya belum berhasil meluangkan waktu untuk menyelesaikan skenario secara utuh. Namun sebagai gantinya, saya menyicil sinopsis-sinopsis untuk dikembangkan di tahun ini. Setidaknya sudah ada lima sinopsis skenario untuk dikembangkan! Semoga tahun ini bisa terlaksana.

4. Dua puluh ribu kunjungan ke blog yang saya kelola.

–> BerhasilSaya mengelola sebuah blog pribadi (yang akan pindah alamat dalam waktu dekat), serta blog komunitas (http://makna-kata.blogspot.com). Per akhir 2011, blog pribadi saya mendapatkan total kunjungan lebih dari 17 ribu, sedangkan blog Makna Kata sudah menerima lebih dari 36 ribu kunjungan. Saya cukup puas dengan terget tersebut!

5. Selesai kuliah.

–> GagalSetahun terakhir menyelesaikan kuliah tidak pernah berada dalam prioritas hidup saya. Baru di akhir November saya menyentuh skripsi lagi dan memutuskan ganti topik. Untunglah sejak itu progresnya berjalan dengan cukup cepat, sehingga jika tidak ada halangan maret sudah bisa selesai.

6. Mengorganisir & mengkomputerisasi sistem bisnis keluarga.

–> Setengah berhasilSudah berhasil dibuat, namun belum diimplementasikan lebih lanjut. Masih tahap penyiapan SDM. hehe.

7. Membuat sebuah Biro Psikologi.

—> DirevisiHingga saat ini saya masih memikirkan desain lembaga yang sesuai, karena untuk lembaga pelatihan banyak pertimbangan yang membuatnya sulit berkembang di Indonesia. Saya sempat membicarakan hal ini secara intens dengan seorang sahabat yang juga punya keinginan serupa, namun titik temu dan tindak lanjutnya masih butuh proses lebih jauh.

RANGKUMAN KUANTITATIF & KUALITATIF.

Demikianlah seluruh Resolusi 2011 saya. Secara kuantitatif, dari 17 Resolusi 2011 yang saya buat di awal tahun, hanya 7 yang berhasil atau setengah berhasil, 6 lainnya saya revisi atau tunda seiring perkembangannya, dan 4 sisanya gagal total. Tidak terlalu buruk juga bukan? hehehe.

Secara kualitatif, menghidupi Resolusi 2011 memberikan kepuasan dan pengalaman tersendiri. Di beberapa titik, resolusi ini menjadi pemandu yang memberitahu saya hal-hal apa saja yang bisa saya kerjakan. Meski demikian, saya enggan menjadi terlalu kaku dan ambisius dalam mencapai semuanya. Bagi saya hidup itu harus dinikmati dan dipelajari, tak perlu dikejar-kejar bak angkutan umum. Punya tujuan itu perlu, tapi tahu alasan dari berbagai tujuan itu buat saya lebih penting. Punya target itu perlu, tapi menikmati hidup sembari mengusahakan & merefleksikan terus target-target itu juga lebih penting.

Sebagai tulisan terakhir #Refleksi2011, saya berterima kasih pada siapa pun yang sudah membaca satu, beberapa, atau semua tulisan di seri #Refleksi2011. Mohon maaf karena keterbatasan waktu, tulisan ini tersendat-sendat dan baru rampung nyaris sebulan setelah tahun 2012 berjalan. Pada kesempatan berikutnya saya akan menuliskan catatan tentang #Resolusi2012 saya. Terima kasih dan sampai jumpa! =)

 
Jakarta, 26 Januari 2012
Okki Sutanto
 
Daftar Tulisan #Refleksi2011:
1. Merefleksikan 2011 (Sebuah Catatan Pengantar)
2. Di Balik Kamera (1) – Sahabat Si Pemula
3. Di Balik Kamera (2) – Kesempurnaan Tanpa Kesempurnaan
4. Untuk Seribu Delapan Ratus Senyuman. =)
5. Seorang Dosen, Sebuah Buku, dan Sejuta Cerita.
6. Saat Engkong Beristirahat dalam Damai
7. Catatan Perjalanan Berkesan 2011!

Cerpenario – Pak Arman

//FADE IN//


Sc 01. INT. AIRPORT, TERMINAL KEDATANGAN. – (SORE)


Suasana airport cukup ramai. Seorang lelaki, kelak kita tahu namanya RANGGA, melihat papan elektronik jadwal kedatangan pesawat. Lalu ia mengecek jam arlojinya. Tak lama ia mencari tempat duduk terdekat.

RANGGA
(Bergumam, sambil mengecek arloji)
Hmm.. Masih ada waktu..

Rangga mengeluarkan buku.


Tak lama, Seorang lelaki tua, kemudian kita kenal namanya PAK ARMAN, berjalan menghampiri Rangga.

PAK ARMAN
Menunggu orang juga?

Rangga mengangguk.

PAK ARMAN
Sama. Bapak juga sedang menunggu anak bapak. Pukul empat pesawatnya mendarat. Boleh bapak duduk di sini?

RANGGA
Oh silakan Pak.

Rangga menutup bukunya.


PAK ARMAN
Kamu menunggu siapa? Keluarga?

RANGGA
Ya, bisa dikatakan begitu. Bapak sendiri saja?

PAK ARMAN
Iya. Nama kamu siapa?

RANGGA
Bapak bisa memanggil saya Rangga.

PAK ARMAN
(sambil mengulurkan tangan)
Kenalkan, nama bapak ARMAN. Dari Armandito, nama belakang bapak.
Rangga menyalami tangan si bapak sambil tersenyum.

PAK ARMAN
Usia kamu dua puluhan ya? Sebaya dengan anak bapak. Nama anak bapak Vidi, baru saja menyelesaikan studi di Jerman, jurusan teknik sipil. Kamu kuliah di mana?

RANGGA
(Tertawa). Hmm.. Saat ini saya sudah tidak melanjutkan studi.

PAK ARMAN
Wah, kenapa? Andai Vidi mendengar ceritamu, pasti ia akan menasehatimu. Untuk Vidi, pendidikan itu sungguh penting! Selama bisa diusahakan, harus dikejar!


RANGGA
(Tersenyum). Sepertinya bapak sangat membanggakan Vidi.


PAK ARMAN
Tentu! Vidi itu anak tunggal bapak. Satu-satunya. Bapak tak bisa berharap lebih lagi dari seorang anak. Bayangkan saja, sejak SD, ia sudah mandiri mengurus dirinya sendiri. Ibunya sudah meninggal sejak ia masih kecil. Bapak selalu sibuk dengan urusan kantor. Saat ia SMA, bapak kena PHK. Bapak tak sanggup lagi menyekolahkan dia, tapi dia mencari penghasilan sendiri dengan menjadi guru les bagi teman-temannya. Semangatnya sungguh tidak tertandingi.

Tampak Pak Arman perlahan menerawang, terdiam memikirkan sesuatu.



RANGGA
Bapak kenapa? Koq ceritanya berhenti? Sudah selesai?



PAK ARMAN
(Menarik nafas panjang). Kadang bapak berpikir, rasanya tidak pantas sekali bapak memiliki anak sehebat dia. Bapak tidak pernah memberikan apa-apa untuk dia. Kamu pernah berpikir untuk membalas budi kepada orangtuamu?



RANGGA
Tentunya pernah, pak.



PAK ARMAN
Vidi selalu memikirkan itu! Padahal, bapak rasa apa yang sudah bapak lakukan sebagai ayah selama ini tidak sebanding dengan apa yang sudah ia lakukan sebagai anak.


RANGGA
Jangan berkata seperti itu pak, bagaimana pun seorang anak tumbuh besar dengan meneladani bapaknya. Tanpa bapak, tentu Vidi tak akan bisa melanjutkan studi hingga ke luar negeri bukan?


PAK ARMAN
(Tersenyum). Sebenarnya sejak bapak di-PHK, praktis tak banyak kontribusi bapak untuk Vidi. Semua biaya sekolahnya ia sendiri yang mengusahakan. Kuliah ke luar negeri pun ia dapatkan melalui jalur beasiswa dengan susah payah. Yang bapak lakukan hanya menandatangani surat ini-itu, dan membantu dengan doa saja. Ah…… Andai ia terlahir di keluarga yang lebih baik, mungkin ia tak perlu hidup berkesusahan menjadi anak bapak.


RANGGA
Kadang hidup dalam kesusahan membuat proses pendewasaan berlangsung lebih baik, pak.


PAK ARMAN
Ya, semoga saja. Semoga Vidi tak pernah menyesal menjadi anak bapak.



RANGGA
Pasti pak, saya berani menjamin hal itu. (Sambil tersenyum dan menatap mata pak Arman dalam-dalam)


PAK ARMAN 

(sambil mengecek arloji). Wah, sudah jam segini. Bapak coba mengecek jadwal kedatangan pesawat ya. Terima kasih, kamu sudah mau mendengarkan ocehan bapak yang ga jelas ini. Salam untuk keluargamu.


RANGGA
Sama-sama, pak. Salam hangat untuk Vidi.


Kita melihat Pak Arman berjalan menjauhi Rangga dan hilang dalam keramaian. Tak lama kita melihat Rangga berdiri dari tempat duduknya dan keluar ke pelataran parkir, sambil membawa bukunya.

//CUT TO//


Sc 02. EXT. PELATARAN PARKIR AIRPORT. – (SORE)
Seorang satpam menghampiri Rangga.

SATPAM
Dek, kamu tadi ngobrol dengan bapak tua itu?

RANGGA
Iya pak, ada apa?

SATPAM
Kalau dia bicara yang aneh-aneh, dimaklumkan saja ya dek.

RANGGA
(Sedikit bingung). Rasanya tidak ada yang aneh, memang kenapa pak?

SATPAM
Sebenarnya setiap siang Bapak itu ke sini dek. Menunggu kedatangan pesawat anaknya. Padahal…

RANGGA
Padahal kenapa Pak?

SATPAM
Padahal anaknya tidak akan pernah datang Dek. Pesawatnya kecelakaan tahun lalu. Kalau Adek masih ingat kecelakaan MALAYA AIRLINES, cukup heboh beritanya di televisi tahun lalu. Tak lama setelah mengudara, mesinnya mati dan jatuh di tengah laut. Hampir semua penumpang meninggal, termasuk anak si Bapak tua tadi.


RANGGA
Iya, saya tahu berita tersebut. Jadi begitu… Lalu, apa yang terjadi dengan si bapak?

SATPAM
Si bapak kesulitan menerima kenyataan itu dek. Tak lama setelah kejadian, kata orang-orang dia jadi gila. Tiap hari dia tunggui kedatangan anaknya di sini. Sekitar pukul lima sore ia akan pulang. Biasanya ia akan mengaku pada orang-orang bahwa ia salah tanggal, seharusnya besok anaknya pulang, bukan hari ini. Maka esoknya ia akan datang lagi, di waktu dan tempat yang sama, setiap hari.

RANGGA
Setiap hari?

SATPAM
Setiap hari dek, tanpa absen sekalipun! Semua orang di sini sudah mengenalnya, beberapa kadang mengajaknya mengobrol, kasihan melihatnya. Ya sudah kalau begitu, pokoknya kalau bapak tadi mengatakan yang aneh-aneh, jangan dianggap serius ya dek.

RANGGA
Oke-oke, saya mengerti. Terima kasih pak.

SATPAM
Ya, hati-hati di jalan ya dek.



Satpam berjalan menjauh dari Rangga. Rangga memperhatikan satpam tersebut untuk beberapa saat, lalu berjalan menjauh. Tak lama buku Rangga terjatuh. Saat Rangga mengambilnya, halaman pertama tak sengaja terbuka, tertulis nama pemilik buku tersebut: VIDI ARMANDITO.


Rangga melihat halaman pertama tersebut, tersenyum, dan berjalan lagi.


Kamera zoom-out perlahan. Kita melihat sebuah mobil melintas menghalangi pandangan kita ke Rangga. Setelah mobil menghilang, Rangga tak lagi terlihat. Lenyap, tanpa bekas.


//FADE OUT.//

%d bloggers like this: