Batik, tak sekedar corak

Ketikan Pinggir Hari Ini.
Hari ini, 2 oktober 2009, ada yang unik dengan gaya berpakaian masyarakat. Tidak seperti biasanya, di mana kaos dan kemeja mendominasi, hari ini sejauh mata memandang batik terlihat di mana-mana. Penumpang bus transjakarta, pejalan kaki di trotoar, para mahasiswa dan dosen di kampus, banyak sekali yang mengenakan batik. Tidak sekedar baju, bahkan celana, tas, selendang, hingga boxer pun bercorak batik!
Memang, sejak beberapa pekan lalu gencar disosialisasikan gerakan menggunakan batik pada tanggal 1-3 Oktober, khususnya 2 Oktober. Gerakan ini sebagai perayaan, atas diresmikannya batik menjadi salah satu Warisan Dunia Tak Benda yang berasal dari Indonesia, oleh UNESCO. Sekedar informasi, kurang lebih terdapat 70 produk kebudayaan di seluruh dunia yang telah diresmikan oleh UNESCO, dan sebagian besar berasal dari Jepang dan Cina. Indonesia sendiri telah memiliki enam buah Warisan Dunia yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni Komodo, Hutan Tropis, Situs Purbakala Sangiran, Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Keris.
Jujur, melihat banyaknya orang mengenakan batik, dan melihat betapa batik dihargai pada hari ini, rasa bangga sulit dielakkan. Rasa kebersamaan dan nasionalisme pun cukup terasa. Jika 81 tahun yang lalu para pemuda seantero nusantara mengumandangkan SUMPAH PEMUDA dan bersatu dalam bahasa, hari ini kita juga disatukan oleh batik. Namun masih patut disayangkan, pemaknaan sebagian besar orang terhadap batik masih belum mendalam.
Batik masih dipandang sebagai motif atau corak pakaian saja. Padahal, jika batik hanya sebatas itu, UNESCO tak mungkin menetapkan batik sebagai salah satu Warisan Dunia. Batik itu karya seni yang berfilosofis! Setiap jenis corak dan ragamnya memiliki arti berbeda. Kegunaan masing-masing corak batik pun berbeda. Ada KAWUNG, yang menandakan kerajaan. Ada PARANG, yang melambangkan kekuasaan dan keperkasaan. Ada NITIK yang menggambarkan kebijaksanaan. Ada SIDO MULYO, UDAN LIDRIS, dan masih banyak lagi. Sayangnya, filosofi yang terkandung dalam batik masih kurang dipahami dan dipedulikan oleh masyarakat.
Sulit memang, melakukan edukasi dan memberitahu masyarakat mengenai makna filosofis dari batik. Sejauh ini belum banyak pihak yang memberikan atensi terhadap hal tersebut kecuali beberapa musem batik di Jogja. Oleh sebab itu mungkin kita bisa memulai dari sekarang, dan dari diri kita sendiri, untuk membantu menanamkan dan menyebarkan keluhuran nilai dari batik pada masyarakat luas. Jika batik dipandang sebagai pakaian saja, dan lambat laun tak ada lagi yang mengerti nilai filosofis batik, lantas apa lagi kelebihan batik? Lantas, apa lagi yang bisa kita banggakan dari batik?
Jakarta, 2 Oktober 2009.
Okki Sutanto
(masih berhalusinasi melihat corak batik di mana-mana)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s