Berlayar atau berlabuh?

Ketikan Pinggir hari ini.
Belakangan ini di kampus saya sedang berlangsung acara pemilihan ketua HIMAPSI (Badan Setara BEM Fakultas). Minggu ini, ketiga calon ketua melakukan kampanye. Kampanye ketiganya sangat menarik, masing-masing membawa idealisme yang sungguh mulia. Saya pun yakin, siapa pun yang terpilih akan sanggup memberikan yang terbaik nantinya.
Dalam kampanye salah seorang calon, ada tagline dan kata mutiara berkesan yang digunakan. Meski ini bukan kali pertama saya mendengar kata mutiara tersebut, namun kesan yang ditinggalkan kali ini cukup mendalam. Bunyi kata mutiara tersebut adalah:
“A ship in the harbor is safe, but that’s not what ships are built for”
Calon tersebut menjelaskan kata mutiara di atas dengan menganalogikan kapal dengan mahasiswa. Mahasiswa, jika hanya mencari aman dan tidak ingin mengambil resiko dengan mengembangkan potensinya, akan sia-sia seperti kapal yang hanya dilabuhkan saja. saya setuju sekali dengan hal tersebut.
Menggunakan kata mutiara yang sama, saya ingin mencoba melihat dalam konteks yang sedikit lebih besar. Bagi saya, hal tersebut tidak hanya berlaku bagi mahasiswa saja, tapi juga bagi setiap individu, setiap manusia.
Berada di zona aman, melakukan hal-hal biasa, menghindar dari tantangan dan tanggung jawab, lari dari resiko, memang menjauhkan kita dari bahaya. Namun kita, sebagai manusia, tidak hanya diciptakan untuk terus berada di zona aman. Ada kalanya, kita harus keluar dari zona aman tersebut, dan mengembangkan segala potensi dan talenta yang kita miliki. Cobalah untuk mengambil pengalaman sebanyak-banyaknya, ikutilah berbagai hal yang mungkin sulit untuk dilakukan, namun berpotensi memajukan diri kita.
Mungkin akan sering sekali respons yang keluar adalah:
“Tapi, itu kan berisiko?”
“Kalau saya salah gimana?”
“Kalau nantinya saya malah gagal gimana?”
“Siapa yang menjamin saya enggak bakal kenapa-kenapa?”
Bagi saya, pendapat-pendapat seperti itu udah saatnya masuk museum, klasik! Salah & gagal adalah hal lumrah. Manusia justru belajar dari yang namanya salah dan gagal. Kita jatuh, maka kita berdiri kembali. Kita terjerembab, maka kita bisa bangkit. Kita terluka, maka kita menjadi lebih kuat.
Pada akhirnya, pilihan itu memang tetap berada di tangan individu masing-masing. Mau menjadi manusia yang biasa-biasa saja, melakukan hal biasa-biasa saja, menghasilkan hal yang biasa-biasa saja, dan berakhir tanpa menjadi siapa-siapa? Silahkan-silahkan saja.
Tapi jika kita mau menjadi manusia yang lebih dari sekedar biasa saja, mari kita coba melakukan sesuatu mulai dari sekarang. Cobalah untuk melihat potensi apa yang terdapat di dalam diri kita. Jika sudah, bukalah mata, hati, dan pikiran kita terhadap hal-hal yang bisa mengembangkan potensi kita tersebut. Mulailah melakukan hal-hal yang luar biasa, dan janganlah ragu untuk mengambil resiko! Akhir kata, sampai bertemu ketika kita sudah menjadi ‘seseorang’! hehe..
Jakarta, 3 Oktober 2009.
Okki Sutanto
(berharap besok tidak hujan)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s