Ketika Sang Waktu Berlari

Ketikan Pinggir Hari Ini.

Sudah cukup lama jemari ini tak mengetik. Selain karena kondisi pikiran yang tak mendukung untuk menulis, waktu yang sedemikian sempit juga rasanya tak memungkinkan. Akhirnya bulan menulis (khusus bagi diri saya) kemarin, saya tidak berhasil mencapai target 30 tulisan. Ketikan Pinggir bulan lalu hanya 18 tulisan (http://www.facebook.com/notes.php?id=1417375192&start=10). Tak apalah, toh selanjutnya saya akan terus menulis. hehe..

Waktu. Ia tak pernah bisa memuaskan banyak orang. Sebagian merasa waktu dalam sehari terlalu banyak. Lainnya merasa terlalu sedikit (termasuk saya). Tak jarang ketika melewati danau di dekat rumah, saya melihat banyak sekali orang menghabiskan waktu di sana saat jam kerja. Hanya untuk duduk-duduk, melihat orang memancing, atau menyantap es kelapa. Mulai dari anak muda, karyawan kantoran, hingga yang sudah mulai beruban, bisa dijumpai di danau tersebut. Kadang juga ketika melintas di flyover-flyover ibu kota, saya melihat orang-orang memarkirkan motornya di puncak flyover. Lalu berhenti dan melihat ke jalanan di bawahnya. Sambil bengong, kadang sambil merokok.

Mungkin bagi orang-orang tersebut waktu dalam sehari terlalu banyak. 24 jam kelebihan, cukup lah 15-20 jam! Wong kerjaan aja gak ada koq. Ngapain sih ampe 24 jam? hahaha..

Namun bagi kelompok lainnya, 24 jam sangatlah tidak mencukupi. Tugas, Pekerjaan, dan Aktivitas-aktivitas lainnya seakan berkejaran tanpa lelah. Jangankan tidur berkualitas, bisa tidur 6 jam saja sudah sangat bersyukur rasanya. Jangankan meluangkan waktu untuk bersenang-senang, bisa memejamkan mata sejenak tanpa diganggu urusan lain pun sudah nikmat rasanya. Waktu rasanya terus berlari, dan ia tanpa sadar membuat kita ikut berlari juga.

Sempat terlintas pikiran nyeleneh ketika memikirkan ironi waktu ini. Andai ada alat untuk barter waktu! Jadi waktu dalam sehari dapat ditukarkan antar individu. Orang yang merasa 24 jam terlalu banyak bisa menyumbangkan waktunya ke orang-orang yang merasa 24 jam terlalu sedikit. Begitu pula sebaliknya. Sehingga tidak ada lagi yang tidak puas dan memprotes sang waktu. Semua senang, semua enak.

Ah! Lagi-lagi hanya angan belaka. Mungkin memang sudah demikian adanya diatur oleh sang empunya waktu. Mungkin ada makna yang jauh lebih besar yang belum bisa kita pahami, mengapa waktu harus seperti itu. Mungkin, dan hanya mungkin…

Jakarta, 1 November 2009.
Okki Sutanto
(mungkin terinspirasi oleh doraemon)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s