Ketika Sirene Itu Tak Berbunyi Lagi

Ketikan Pinggir Hari Ini

Hidup di Jakarta, terlebih lagi bagi mereka yang sering melintas di jalan-jalan protokol macam Sudirman-Thamrin, tentu tidak asing dengan prosesi ketika ‘orang penting’ lewat. Kadang presiden, kadang wakil presiden, tak jarang pula menteri. Ketika mereka melintas di jalanan, arus kendaraan lain diberhentikan. Beberapa motor PM membuka jalan, lantas Sirine dibunyikan untuk menyuruh kendaraan lain menyingkir, barulah mobil sang ‘orang penting’ lewat.

Tidak jarang para pengendara yang tersingkirkan mengumpat, menyumpah serapahi pejabat yang lewat. “Wong jalanan sudah macet, koq malah dibikin macet?”
“Kalo gak mao telat, kenapa gak berangkat lebih dulu jadi gak perlu dikawal-kawal segala?”
Pertanyaan-pertanyaan sejenis akan terus memburu, meski pada akhirnya hanya membentur tembok ketidakpedulian dan tidak pernah ditemukan jawabannya.

Aksi para pejabat tersebut sebenarnya membuat risih. Tak jarang arogansi para pengawalnya membuat pengendara lain terpojok. Di beberapa kasus bahkan tindak kekerasan bagi pengendara yang tidak mau memberi jalan bagi sang pejabat. Pernah ada seorang pengguna jalan mengirimkan Suara Pembaca di Kompas terkait masalah ini. Beberapa hari kemudian, ada tanggapan dari pejabat terkait yang kurang lebih mengatakan “Mohon maaf atas ketidaknyamanan, ada tamu negara yang penting pada saat kejadian berlangsung, sehingga pak pejabat harus sampai tepat waktu”.

Bah, betapa tidak berperikemanusiaannya respon tersebut. Memangnya empunya urusan yang mahapenting hanya pejabat saja? Naif rasanya. Namun respon serupa akan selalu dimunculkan. Pejabat, seperti biasa selalu memiliki ribuan alasan sebagai pembenaran tindakannya.

Bagi saya, bunyi Sirine dan aksi ‘Buka Jalan’ tersebut tak lebih dari manifestasi kebutuhan orang-orang tersebut untuk dihargai. Mereka saking tidak bisanya menemukan media lain yang bisa membuat dirinya dihargai, sehingga butuh melakukan suatu perilaku tidak biasa, perilaku merendahkan orang lain, sehingga dirinya terlihat sedikit lebih tinggi.

Mungkinkah suatu hari nanti bunyi sirene tersebut tak terdengar lagi? Mungkinkah tiba saatnya semua pejabat mau merasakan jadi rakyat biasa, tanpa perlu diperlakukan khusus di setiap kesempatan? Bisa kah? Ah. Semoga saja saat itu akan tiba.

Jakarta, 15 Oktober 2009
Okki Sutanto
(berpikir keren juga kalo motor butut gw dipasangin sirine polisi)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s