Memaknai Dua Puluh

Ketikan Pinggir Hari Ini.

Hari ini cukup istimewa buat saya. Selain bertepatan dengan hari pelantikan presiden, tepat dua puluh tahun yang silam, saya dilahirkan ke dunia. Seorang bayi yang dihempaskan tanpa sehelai benang pun ke pelukan kedua orang tua saya, seorang bayi yang tidak memusingkan urusan apa pun di dunia ini, dan seorang bayi yang belum memiliki apa pun. Ibarat selembar kertas, masih kosong! Putih, bersih, tanpa coretan.

Kini, kertas itu sudah cukup penuh terisi dengan berbagai coretan. Bukan saya sendiri yang menuliskannya, tapi semua orang yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung dengan saya. Ada orang tua, ada sahabat, teman, guru, dosen, dan masih banyak lagi. Setiap interaksi yang pernah terjalin pasti membekas di ‘kertas’ itu, sedikit maupun banyak.

Menginjak usia dua puluh ini, saya sadar masih banyak sekali coret-coretan tidak penting yang mewarnai ‘kertas’ lama saya. Namun saya yakin bahwa dua puluh tahun rasanya saat yang tepat untuk berganti ‘kertas’ baru, dan mencoba membuat coretan yang lebih baik lagi, dengan panduan dari ‘kertas’ yang lama. Di kertas yang baru pula, berbagai coretan yang belum memiliki makna dan fokus rasanya harus diperbaiki. Menjadi lebih bermakna dan berfokus.

Bagi saya, ulang tahun bukan lah ajang makan-makan belaka. Bertambahnya usia, secara tidak langsung menambahkan pula ekspektasi orang akan kedewasaan diri kita. Hal ini yang pada akhirnya membuat seseorang, mau tidak mau, suka tidak suka, menapaki jalan menuju kedewasaan. Kedewasaan itu bukan soal pilihan mau atau tidak, melainkan pilihan jalan mana yang akan kita ambil dalam menujunya.

Seorang dosen pernah berkata, “Hidup adalah proses pencarian jati diri. Ia proses, yang tidak pernah selesai. Ia proses, karena semua orang terus belajar mencapainya”. Sudah saatnya pula di usia yang menapaki kepala dua ini, upaya pencarian jati diri saya dimulai. Sudah bukan pada tempatnya saya terus berjalan melingkar di tempat yang sama, tanpa memiliki kejelasan apa yang saya tuju. Sudah bukan saatnya pula saya berdiam di sebuah anak tangga, dengan kebimbangan untuk melangkah naik atau turun. Fokus dan tujuan itu harus dicari! Wajib.

Meski tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa usia dua puluh masih terlampau hijau dalam memaknai hidup, saya tidak peduli. Sebuah kata bijak dari presiden amerika ke-16 menjadi acuan saya:
“And in the end, it’s not the years in your life that count. It’s the life in your years.”

Ya! Usia dalam hitungan bulan-tahun tidaklah berarti. Tapi bagaimana kita memaknai hari-hari dalam hidup kita-lah yang sesungguhnya penting. Mau terus hidup sebatas hari-bulan-tahun saja? Mau terus hidup tanpa pemaknaan yang jelas akan apa yang kita jalani?
Semoga Anda tidak.

Jakarta, 20 Oktober 2009
Okki Sutanto
(mencoba menentukan ‘Aim’, ‘Objectives’, ‘Indicators’, dan ‘Session Plans’ dalam hidup. haha.)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s