Buku, Sastra, dan Budaya Baca

Ketikan Pinggir Hari Ini.

Tidak banyak yang tahu bahwa 17 Mei adalah Hari Buku Nasional. Sejak dicanangkan pada tahun 2002 oleh Menteri Pendidikan kala itu, Abdul Malik Fajar, memang tidak banyak pihak yang menunjukkan kepeduliannya. Tahun ini pun hampir tidak ada pihak yang mengadakan suatu kegiatan khusus. Bahkan toko-toko buku terkemuka ikut bergeming. Jangankan diskon buku, sekedar pemberitahuan bahwa hari ini adalah Hari Buku Nasional saja tidak ada. Padahal, sejak tahun 1958 beberapa tokoh mendesak diadakannya Hari Buku Nasional justru untuk menaikkan minat baca masyarakat. Harapan mereka, setidaknya sekali dalam setahun toko buku penuh sesak oleh masyarakat yang ingin membaca dan membeli buku.

Mungkin orang-orang berpikir buku tidak akan membawa kita kemana-mana. Buku hanya berisi teks yang sulit dipahami. Buku hanya menghabiskan waktu saja. Buku inilah. Buku itulah. Padahal, pepatah lama yang berbunyi: “Buku adalah Jendela Dunia” masih tetap berlaku hingga kini. Bahkan dalam daftar “100 Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah” versi Michael Hart, sepuluh tokoh teratas berkaitan erat dengan Buku. Muhammad, Yesus, Buddha, Konfusius, serta Santo Paulus, jelas sekali pengaruhnya disampaikan lewat buku / kitab suci. Newton dan Einstein sebagai ilmuan terkemuka pada zamannya banyak membaca dan menulis buku. Ts’ai Lun dan Johann Gutenberg bahkan diberikan peringkat 7 dan 8 karena mereka berturut-turut menemukan kertas dan mesin cetak, cikal bakal buku.

Bicara tentang buku, sedikit banyak membuat kita bersentuhan dengan sastra. Agus Wibowo, dalam artikelnya di Kompas 15 Mei 2010 lalu, menuliskan hipotesa yang cukup menarik terkait hubungan sastra dengan kemajuan bangsa. Ia memaparkan bagaimana negara-negara dengan tingkat kemajuan teknologi tinggi, memiliki banyak sastrawan besar di negara mereka masing-masing. Jerman memiliki Goethe dan Hesse. Inggris dengan Shakespeare dan Frost. Rusia dengan Pushkin dan Tolstoy. Bahkan Cina dan India memiliki Lu Shun, Wang Wei, Rabindranath Tagore, dan lain sebagainya.

Dalam artikel berjudul “Sastra, Imajinasi dan Pendidikan Kita” tersebut, Agus mengemukakan bahwa dengan menggeliatnya sastra di suatu negara, secara tidak langsung menstimulasi masyarakat dan kaum intelektualnya untuk menjadi kreatif, imajinatif, dan inspiratif. Dari sanalah lantas muncul pemikiran-pemikiran brilian, penemuan-penemuan hebat, dan sebagainya. Dan dari orang-orang seperti itu jugalah, kemajuan suatu bangsa diwujudkan.

Lantas, bagaimana penghargaan terhadap buku dan sastra di Indonesia? Menurut hemat saya, buku dan sastra belum mendapat porsi yang sepantasnya di negeri ini. Warnet, mal, dan tempat hiburan jauh lebih populer dibandingkan perpustakaan dan toko buku. Ambillah contoh mahasiswa. Jauh lebih mudah bagi sebagian besar mahasiswa untuk menyebutkan merk handphone terbaru atau artis populer yang sedang hangat, dibanding menyebutkan nama sastrawan dalam negeri.

Jika menilik Human Development Index (HDI) milik UNDP, yang indikator utamanya adalah tingkat melek huruf, Indonesia berada di posisi yang memalukan. Bahkan pada tahun 2003 Indonesia berada di posisi 112 sedangkan Vietnam di posisi 109. Akan tetapi, apakah rendahnya tingkat melek huruf lantas menyebabkan bangsa ini malas membaca dan tidak menghargai sastra? Ternyata di kalangan intelek macam mahasiswa dan dosen pun, membaca masih belum dijadikan suatu gaya hidup.

Tidak mudah memang mengubah kebiasaan ini. Terlebih lagi, di Indonesia budaya instan sudah merasuk ke sukma setiap anak bangsa. Segala hal yang memakan waktu akan dianggap “haram”, termasuk membaca. Belum-belum menyentuh sebuah buku, umumnya orang sudah membayangkan betapa lamanya buku itu akan dibaca. Malas. Enggan. Padahal, salah seorang tokoh pemerhati perkembangan anak, Gleen Doman (1991), dengan lantang menyatakan bahwa membaca adalah fungsi paling penting dalam kehidupan manusia. Semua proses belajar membutuhkan kemampuan membaca. Bagaimana kita bisa belajar dan berproses, jika membaca saja enggan? Bagaimana kita ingin menghasilkan sesuatu yang hebat, jika otak ini tak pernah diisi oleh hal-hal bermanfaat yang ada di buku?

Menulis hal ini, mau tak mau saya teringat akan perkataan seorang dosen:”Makanya banyak baca, GOBLOG!!

Jadi…. Mari kita membaca.. =)

Jakarta, 17 Mei 2010
Okki Sutanto
(memilih menghabiskan honor asdos dengan memborong 5 buku hari ini)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s