Banyak Mau versus Ga Punya Mau!

CATATAN PRIBADI.

Seringkali kita dihadapkan pada pertanyaan: Milih kaya atau bahagia? Rasanya kebanyakan dari kita akan memilih yang kedua. Jawaban yang lebih diterima norma sosial pun memang yang kedua. Jika seseorang menjawab “GUE MILIH KAYA!”, niscaya ia akan banyak mendapatkan cap kurang sedap. Entah matre, mata duitan, kapitalis, tolol, dan lain sebagainya. Padahal, pada kenyataannya orang-orang kaya jauh lebih diekspos daripada orang-orang bahagia. Setiap tahunnya, beberapa majalah berpengaruh mengeluarkan artikel “Daftar 100 Orang Terkaya di Dunia”. Aneh bukan? Jika memang kebanyakan dari kita mementingkan bahagia daripada kaya, mengapa tidak pernah ada majalah yang berani membuat “Daftar 100 Orang Paling Bahagia di Dunia”? Hehehe.

Oke, itu cuma pemikiran absurd saya saja. Lah, gimana kita mau bikin daftar orang paling bahagia, wong definisi bahagia setiap orang aja beda-beda. Malah kadang saling bertolak belakang. Ada yang bahagia kalau bisa dapet pacar. Ada juga yang bahagia kalau bisa putus. Ada yang bahagia kalau bisa kelarin skripsi. Ada juga yang bahagia kalau bisa nunda-nunda skripsi. Intinya, masing-masing orang punya standarnya sendiri. Saya? Saya mah asal bisa turun 5 kilo juga udah bahagia! *curcol* hahahaha. Pada akhirnya, semua orang mau bahagia. Entah dibarengi kaya atau tidak. Kalau iya, ya syukur. Kalaupun enggak, yaudah. Bagi yang enggak, biasanya bakal rajin ngucapin: “Kekayaan kan bukan segalanya.”, entah karena sudah benar-benar bahagia, atau hanya mencari kalimat penghiburan. hehe.

Beberapa waktu lalu, salah seorang teman saya menjuarai lomba membuat poster di Surabaya. Salah satu kalimat sakti yang menjadi poin penting di posternya berbunyi: “Do What You Love, and Happiness always with you“. Katanya sih, dapat inspirasinya dari salah seorang dosen. Kayak-kayaknya sih saya kenal juga dengan dosen ybs. Kayak-kayaknya doang yah. Mungkin cuma asumsi saja. haha. Intinya, saya setuju dengan kalimat tersebut. Kalau mau bahagia, ya lakukanlah hal yang kita cinta/suka. Berasal dari tesis tersebut, maka syarat pertama untuk jadi bahagia adalah: mengerti apa yang sebenarnya kita cintai. Bisa musik, agama, sastra, olahraga, fotografi, dan lain sebagainya. Nah, pertanyaan berikutnya: “Apa kabar dong orang-orang yang ga punya kecintaan akan apa pun?”

Meski kedengarannya langka, tapi nyatanya ada juga orang-orang yang sulit menemukan apa yang mereka cintai. Kadang saya memikirkan nasib orang-orang tersebut. Apa ya yang akan mereka lakukan dalam hidup mereka? Gimana cara mereka bisa bahagia ya? Apa tujuan hidup mereka ya? Pokoknya, banyak pertanyaan berseliweran deh. Jadi pusing + bingung + prihatin sendiri. Haish.

Belakangan, saya jadi merefleksikan nasib saya sendiri. Sudahkah saya memiliki kecintaan dalam hidup saya? Tahukah saya apa yang bisa membuat saya bahagia? Syukurlah jawabannya cukup optimis. Tapi, ketika saya mencoba menilik lebih dalam lagi, nasib saya ternyata tidak jauh berbeda dengan mereka yang tidak tahu apa yang mereka cintai. Mengapa? Saya mencintai terlalu banyak hal! Mulai dari jurnalistik sampai teknologi. Mulai dari musik sampai dunia pendidikan. Mulai dari politik sampai sastra. Mulai dari film sampai pengabdian masyarakat. Aduh, banyak ya. Ngetiknya aja capek, apalagi ngejalaninnya.

Awalnya saya merasa tidak ada yang salah dengan mencintai banyak hal. Nyatanya, seringkali hal tersebut mendatangkan masalah dalam hidup saya. Saking sukanya sama banyak hal, saya sampai kebingungan setengah mati sama topik skripsi saya. Saking tertariknya dengan berbagai hal, saya sampai suka lupa sama target yang sudah saya tentukan sebelumnya. Hal ini dua kali terjadi: pertama ketika ada kesempatan menjadi ketua lembaga eksekutif di kampus, saya mengambil kesempatan tersebut karena merasa bisa memfasilitasi kecintaan saya di bidang pengabdian masyarakat dan politik, meski taruhannya masa studi saya mundur. Untungnya nasib tidak mengizinkan saya meneruskan kesempatan tersebut. Saya pun lantas berpikir “Bagus deh, jadi bisa fokus ngelarin skripsi dan ngejar kesempatan yang lain”. Ternyata, pemikiran tersebut hanya bertahan beberapa bulan. Selang berapa lama, datang kesempatan baru lagi: “menjadi tim inti sebuah proyek pengabdian masyarakat”. Dan tanpa pikir panjang, saya terima kesempatan tersebut! Imbasnya, target untuk fokus di skripsi pun jadi harus dimodifikasi lagi. Yasudah lah, toh skripsi kelar ga bikin saya kaya atau bahagia, tapi kalau saya menerima kesempatan ini, mungkin saya bisa bahagia. hehehe.

Dari pengalaman di atas, saya jadi tahu bahwa mencintai banyak hal kadang kurang baik. Oleh sebab itu saya tak berani lagi terlalu memikirkan nasib mereka-mereka yang justru tidak mencintai apa pun. Awalnya, saya kira mereka perlu diperhatikan. Ternyata, orang-orang seperti saya ini juga perlu diprihatinkan. hahaha. Harapannya sih, ke depannya saya bisa tahu, apa hal yang paling saya cintai, sehingga saya tidak terlalu go with the flow dalam hidup saya. Takutnya, flow-nya di situ-situ doang. hehe

Jakarta, 20 April 2011
Okki Sutanto.
(Hore sukses nepatin janji nulis satu tulisan per hari #day-one)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s