Perlukah sosok "ke-kakak-an"?

Catatan Pribadi.
#Tulisan kesebelas, hari kesepuluh.

Ada yang masih ingat nama Dominic Purcell? Aktor kelahiran Inggris ini berperan sebagai Lincoln Burrows di serial televisi Prison Break. Saya masih ingat aksinya bersama Wentworth Miller di serial tersebut. Di mana mereka berdua menjadi sepasang kakak-beradik yang berjuang melarikan diri dari penjara. Ia dengan sangat baik memerankan sang kakak. Belum lama ini, saya menonton film Creek dan ternyata ia memainkan film tersebut, lagi-lagi menjadi seorang kakak.

Entah mengapa, saya sangat menangkap sosok “ke-kakak-an” yang diperankan oleh Dominic dalam dua kesempatan tersebut. Jujur saya tak bisa menjabarkan dengan mendetil, apa yang saya maksud dengan sosok “kekakakan” tersebut. Melindungi adikkah? Menjadi contoh yang baikkah? Mengorbankan dirikah? Entahlah. Lantas saya merefleksikan, mengapa ya selama ini kita tidak akrab dengan istilah “kekakakan”? Apa karena tidak enak diketik dan dilafalkan? Rasanya tidak. Atau karena tidak semua orang akan menjadi seorang kakak? Rasanya tidak juga.

Kita sering sekali terekspos dengan kalimat:
“Wah, dia keibuan sekali.”, atau “Dia kebapakan ya?”
Tapi pernahkah kita mendengar kalimat serupa untuk sosok “kekakakan”? Saya sendiri tidak pernah.

Padahal, dengan adanya sosok keibuan dan kebapakan, kita jadi bisa memiliki gambaran ideal di benak kita. Kita juga jadi bisa punya pegangan, jika suatu saat nanti kita menjadi seorang ibu atau ayah. Meski istilah keibuan dan kebapakan kadang mengandung stereotip yang tak selalu benar, tetap saja bagi saya istilah tersebut bisa membentuk suatu skema di otak. Dan itu penting.

Bisa jadi karena kenihilan sosok “kekakakan” tersebut, jutaan kakak di dunia ini bingung, bagaimana sebaiknya mereka bersikap terhadap adik mereka. Terhadap orangtua mereka. Terhadap keluarga mereka. Padahal, jelas seorang kakak dilahirkan dengan tanggung jawabnya sendiri, meski tak selalu berarti lebih besar. Atau memang lebih baik tak perlu ada konvensi tentang sosok “kekakakan”, sehingga masing-masing kakak bisa mengembangkan gayanya sendiri? Sehingga kosakata “kakak” tidak perlu dinodai oleh stereotip semu yang dangkal, sebagaimana yang sudah dialami kosakata “istri”?

Entahlah. Untuk apa juga saya repotkan?
Toh sudah lama saya tidak lagi menjabat seorang kakak. hehehe.

Jakarta, 29 April 2011
Okki Sutanto | octovary.blogspot.com
(kekakakan-kah saya? Atau kebapakan? Atau justru keibuan? hehehehe)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s