Buat Saya, Pemimpin Itu…

Ketikan Pinggir.

#Tulisan keduapuluhtiga, hari keduapuluh
Beberapa waktu lalu, seorang teman mengajukan pertanyaan menarik ke saya: “Bagaimana sih caranya jadi pemimpin?“. Wah, otomatis saya itu bingung. Wong saya sendiri merasa belum pernah jadi pemimpin. Kalau kebetulan jadi pencetus ide, koordinator, atau pimpinan sih sering. Tapi yang namanya jadi pemimpin, kata banyak orang kan lebih dari sekedar itu saja. Dan berhubung saya juga kurang tahu “lebih”nya itu seberapa banyak. Jadi, ya saya bingung gimana jawabnya.
Singkat kata, karena penasaran, saya pun ikut merenungkan pertanyaan itu. Gimana ya jawabnya? Ada ga ya jawabannya? Hehehe.. Karena saya bingung mau mulai mencari tahu dari mana, saya coba saja berangkat dari definisi teoritis. Begini kurang lebih definisi dari pemimpin: Seseorang yang memegang posisi kunci dalam sebuah kelompok, dan dengan bekal berupa keterikatan dengan anggota kelompok lainnya, mengarahkan kelompok ke tujuan bersama (Bass dalam Widiawati, 2009).
Dari beberapa buku yang saya baca, memang mendefinisikan pemimpin itu tidak mudah. Setiap orang, baik pemimpin maupun bawahan, ya sah-sah saja memiliki pandangannya sendiri terkait sosok seorang pemimpin. Lah, kalau sudah begini, jadilah saya terbujur-kaku-meraung-sedih-di-pojokan-kamar-malam-malam, sambil mikirin gimana caranya menjawab pertanyaan teman saya di atas. Apalagi yang ditanya teman saya itu GIMANA caranya jadi pemimpin, bukan sekedar definisi dari pemimpin.
Karena saya tidak tega membiarkan teman saya itu rasa penasarannya tidak terpuaskan, saya memutuskan untuk menjawabnya dengan apa yang saya yakini. Saya gak yakin ini jawaban yang benar, meski saya lebih ga yakin lagi kalau sebenarnya ada jawaban absolut dari pertanyaan tersebut. Berikut adalah beberapa hal, yang menurut saya SEBAIKNYA dimiliki oleh seorang pemimpin:
1. Tujuannya jelas.
Ya, pertama-tama kita harus punya tujuan. Dan tujuan itu harus jelas. Kalau tujuan aja ga jelas, apa yang mau Anda pimpin? Kadang ini terjadi loh. Ada saja orang yang sudah dijadikan pemimpin tapi masih ga tau apa alasan dia jadi pemimpin, dan apa tujuannya. Kalau yang kayak gini-gini nih namanya pemimpin “KTP”. Ya, cuma sebatas hitam di atas putih saja. Ga lebih. Dan biasanya sih yang kayak gini akan tenggelam dengan sendirinya, ya nama baiknya, ya kepercayaan orang-orangnya, ya riwayatnya.
2. Punya pengikut.
Kalau Anda lihat orang teriak-teriak di pinggir jalan, gerak-gerakin tangan ke kanan kiri atas bawah, lantas ngomongin tentang akhir jaman, kira-kira siapa ya orang tersebut? Kalau ga ada pengikutnya, ya pasti orang gila. Kalau punya banyak pengikut, bisa aja itu pastor / pendeta lagi khotbah. Lihat kan bedanya? Cuma sebatas ada-tidaknya pengikut, bedanya jauh. Dari orang gila, jadi pemimpin. Jadi, ya seorang pemimpin itu harus punya pengikut. Pengikut itu bukan berarti budak, kacung, atau pembantu ya. Kalau Anda punya itu semua, saya yakin Anda itu bukan pemimpin, tapi ya orang kaya. Pengikut itu ya orang yang percaya dengan Anda. Percaya dengan ide/gagasan Anda. Percaya dengan apa yang ingin Anda lakukan. Percaya pada tujuan Anda.
3. Siap bertanggungjawab.
Kalau sudah jadi pemimpin. Ya kita harus siap bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan, juga apa yang dilakukan oleh orang-orang yang kita pimpin. Nah, untuk itu penting sekali bagi seorang pemimpin untuk setidaknya tahu secara garis besar, apa yang dilakukan oleh bawahannya. Tidak harus detil sekali, yang jelas ia tahu bawahannya itu mau ngapain, kenapa, dan bagaimana. Kalau itu saja kita gak tahu, gimana caranya kita siap bertanggungjawab?
4. Siap membimbing.
Bisa membimbing bukan berarti kita harus tahu segalanya. Setidaknya, jika ada pengikut kita yang bertanya, kita bisa memberi tahu, ke mana ia harus mencari tahu. Soalnya yang namanya pengikut itu biasanya hobi sekali bertanya, kalau hobinya itu ga tersalurkan, siap-siap saja kehilangan pengikut. Jadi, kalau ada pengikut kita yang bertanya gimana caranya bikin proposal, ya kita siap contohin. Kalau ada yang bertanya gimana caranya bikin bom, kita harus siap merujuknya ke ahli bom atau psikolog. Kalau ada pengikut kita yang bertanya siapa itu Moammar Khadafy, ya kita harus siap menjelaskan dengan sabar bahwa di luar sana ada teknologi bernama Google. Dan google itu mudah dipakai. Juga google itu gratis. Juga google itu tidak akan marah meskipun setiap hari diajukan pertanyaan sebanyak apa pun.
5. Tahu kapan harus bersikap.
Pemimpin itu bukan berarti dia harus bermata tajam, bermimik serius, dengan bibir tertutup dan tangan disilangkan di depan dada. Itu namanya kepala sekolah lagi ngambek. Ya, pemimpin itu harus tahu tempat, dan tahu waktu, kapan ia harus bersikap seperti apa. Kalau mukanya tegang dan serius pas pengikutnya lagi bercanda ya itu namanya kurang bijak. Kalau cekikikan sambil bbm-an pas lagi kerja dengan instansi lain juga itu namanya kurang bijak. Ya, tahu tempat lah. Kapan bisa bercanda. Kapan bisa serius. Kapan harus mendengar. Kapan harus didengar.
6. Tahu kapan harus mundur.
Biasanya, candu kekuasaan itu sebegitu hebatnya, sampai-sampai seorang pemimpin enggan melepaskan statusnya. Buat saya, jadi pemimpin itu ga harus kekal, abadi. Bisa jadi ada orang lain yang lebih tepat memimpin. Dan kita harus tahu kapan saat itu tiba. Lebih bagus lagi kalau kita sendiri yang menciptakan saat-saat itu, baik mempersiapkan momentumnya maupun mempersiapkan sang pemimpin yang baru itu.
7. Berani salah.
Poin terakhir ini sangat terkait dengan poin ketiga. Jadi pemimpin itu bukan berarti harus selalu sempurna. Saya yakin pemimpin yang matang adalah mereka yang pernah, bahkan sering melakukan kesalahan. Yang penting itu dia berani salah untuk sesuatu yang benar. Berani mengaku salah ketika ada yang lebih benar. Dan berani membenarkan kesalahannya, bukan sekedar mencari pembenaran akan kesalahannya.
Ya, demikianlah pandangan saya akan sosok seorang pemimpin. Bisa jadi ada yang berpandangan sama, bisa juga ada yang berbeda. Ya itu sah-sah saja. Namanya juga pandangan. Dan ini adalah pandangan saya saat ini, yang mana bisa saja berubah karena saya itu kan masih di tahap belajar. Jadi, mungkin suatu saat prinsip-prinsip ini akan saya tambahkan, kurangi, atau lengkapi. hehehe.. Semoga saja ini cukup menjawab kepenasaran teman saya yang satu itu. Meski saya yakin sebenarnya langkah pertama yang harus ia lakukan adalah berhenti bertanya “bagaimana” jadi pemimpin. Pemimpin itu bukan buat dipelajari teorinya, tapi dijalani langsung. Karena setiap orang bebas memiliki versinya masing-masing akan seorang pemimpin. Tidak ada yang boleh, berhak, dan bisa menyalahkannya. =)
Jakarta, 9 Mei 2011
(males nulis daftar pustaka ah, cari aja via teknologi bernama google itu)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s