Ah, Kafe Gak Sekeren Itu.

Catatan Pribadi
#Tulisan keduapuluhempat, hari keduapuluhsatu

Saya itu dulu sering mikir, kalau jadi penulis enak kali ya. Kerjanya ga harus di kantor. Bisa nongkrong di kafe sepanjang hari, nyari inspirasi sambil menyeruput kopi pahit. Bisa berpetualang nyobain kopi dari satu kafe ke kafe lainnya, padahal saya tahu lidah saya itu tuna-rasa. hehehe.. Pokoknya, sama selalu membayangkan kalo orang yang bisa nongkrong sambil kerja di kafe itu keren banget. Hidupnya asik, seru, ga ngebosenin.

Tapi kini saya merevisi pikiran saya tersebut. Kebetulan, hari ini saya berkesempatan mencobanya: bekerja sambil nongkrong di kafe seharian. Pagi, sejak jam setengah sembilan, saya sudah nongkrong di Dunkin Donut Plaza Semanggi untuk diskusi kru produksi film. Sebenarnya belum tentu diproduksi juga sih, karena tadi itu kita diskusi untuk membahas proposal pengajuan tender. Jadi kalau proposalnya ga lolos, ya ga jadi dapet proyek bikin film. hehe. Lalu siangan dikit, sekitar pukul setengah sebelas, saya dan rekan-rekan yang tersisa pindah ke EMAX CAFE Plaza Semanggi untuk melanjutkan pembuatan proposal. Soalnya menurut kami Dunkin itu kurang kondusif buat mengetik di laptop. hehe.

Jadilah saya mendaratkan pantat saya di EMAX sejak jam setengah sebelas. Sekitar jam satu, teman saya datang untuk berdiskusi tentang penulisan skripsi. Setelah itu saya pun sedikit menyicil skripsi. Pukul empat, proposal dan cicilan tahap awal skripsi selesai. Masih di meja yang sama, saya lanjut melakukan rapat penyusunan modul pelatihan bersama dua rekan saya lainnya. Tanpa disadari jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Rapat pun usai karena saya harus beranjak ke Pacific Place menghadiri sebuah acara. Untunglah saya harus pergi, soalnya kalau tidak saya yakin akan terus terperangkap di kafe itu, entah melakukan apa.

Jika ditotal, hari ini saya di kafe selama nyaris sepuluh jam. Dari pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore  sudah setengah berganti kulit menjadi malam. Rasanya? Wah, bosannya bukan main. Mata pegal karena berkutat di laptop terus, otak butek karena dipake mikir mulu, perasaan juga bosan setengah mati karena suasananya itu-itu terus.

Pokoknya, saya gak mau lagi bekerja sepanjang hari di kafe kalau nanti saya jadi penulis. Udah gak keren lagi. Udah gak seru lagi. Maksimal di kafe itu tiga jam rasanya cukup. Lebih dari itu, sudah kurang baik bagi kesehatan mental. Tapi, kalau begitu saya harus mulai memikirkan tempat-tempat baru yang oke untuk nongkrong, ketika nanti saya menjadi penulis. Sesaat terpikirkan di toilet umum, tapi kok gak elegan ya? Atau kuburan, tapi kok horor ya? Ah, kapan-kapan aja deh dipikirinnya. Wong jadi penulis aja belum, koq udah repot-repot mikirin gaya idup penulis? hehehe..

Jakarta, 10 Mei 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(nulis di atas gerbong kereta api yang lagi berjalan kayaknya seru, tapi… ada colokan ga ya?)

4 thoughts on “Ah, Kafe Gak Sekeren Itu.”

  1. saya pernah nulis di atas kereta, ga enak, goyang2.. salah mencet bolakbalik..as info, untuk kereta eksekutif sih ada colokannya tapi tuk kereta lain silahkan colok dimanapun anda mau.. hehehhe

  2. wah, komennya situ kesempil, sampe2 saya ga baca. *cari-cari-alasan*Maksud saya itu, nulisnya di atas gerbong keretanya. Bukan di dalem gerbongnya. Kan enak anginnya kuenceng! hehehehe

  3. hhahha … memang begitu yang namanya manusia, kalau kuliah pengen libur eh udah libur pengen kuliah, lupa bersyukur hhehhe. bedewei saya suka istilah lidah tuna-rasa :Dsalam kenal izin follow ya.

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s