Ternyata Otak Saya Gak Meledak

Catatan Pribadi
(baru diarsipkan, sebelumnya dipublikasikan melalui Facebook)

Kalau bisa meledak, mungkin otak saya ini udah meledak. Isinya muncrat ke mana-mana.
Lha gimana enggak? Baru diistirahatin tiga jam dan masuk ke mode non aktif, otak ini udah harus dipaksa beralih ke mode aktif lagi.

Pagi-pagi, si otak udah harus diputer kenceng-kenceng ngebahas proyek bikin film yang baru saja menang tender. Asik loh! Baru sekali rapat sama penyandang tuna netra, dan doi itu orangnya keren mampus! Naik transjakarta sendirian dari Pulo Gadung ke Semanggi. Fasih banget mengoperasikan telepon genggamnya, baik telepon maupun sms. Juga sama sekali gak keteteran ngerjain berbagai hal di laptopnya. Becandaannya, pemikirannya, cara bicaranya, jauh lebih humanis dan asik dibanding mereka yang terlahir sempurna.

Dua jam selesai si otak diperkosa di sana, saya pun pindah ke sebuah kafe di bilangan Semanggi. Bukan, bukan buat nongkrong. Tapi buat belajar gimana caranya bikin layout buku. Juga buat cari tempat cetak buku satuan. Dilanjutin sama ngerapihin beberapa hal hasil rapat tadi paginya. Diselangi juga bantuin temen saya mikirin beberapa konsep desain. Juga nemenin salah seorang temen saya ngobrolin politik dan skripsi.

Selang sejam, si otak udah harus mikirin konsep modul pelatihan siswa SMP. Kali ini bareng rekan saya yang kepedesan bukan main karena salah mesen menu! hahaha. Gak lama, si otak harus konsentrasi penuh pas ikutin rapat pembahasan modul pelatihan SD – SMP – SMA. Denger dan komentarin dua modul lain. Lalu presentasiin dan pertimbangin masukan buat modul SMP yang saya buat bareng rekan saya itu. Tiba-tiba saja, jam diberlakukannya three-in-one sudah nyaris usai. Rapat pun ikutan usai. Diskusi dan ngobrol-ngobrol santai sedikit, saya pun lantas bergegas pulang.

Setelah di setengah perjalanan pulang saya harus melajukan motor saya menghantam derasnya hujan, akhirnya saya sampai juga di rumah. Obrol-obrol sedikit dengan keluarga, makan buah sebagai pengganti makan malam, lantas mandi. Selepas mandi (dan berpakaian tentunya), otak saya ternyata masih harus kerjain beberapa hal. Masih ada beberapa email untuk dibalas. Masih ada satu tulisan ini untuk ditulis. Juga sejumlah tulisan untuk disunting.

Kalau dihitung, rasanya otak saya ini sudah diperas non stop lebih dari empat belas jam. Seperti yang tadi saya bilang di awal, kalau bisa meledak, pasti dia udah meledak, sampai isinya muncrat ke mana-mana. Tapi nyatanya otak saya gak meledak. Lagi-lagi dosen saya yang satu itu benar. Ketika kita mengerjakan sesuatu dengan hati, rasanya akan berbeda. Ada kebahagiaan di sana. Ada energi tak terbatas di sana. Ada kepuasan dan optimisme di sana. Dan jelas, ada cinta di sana.

Jakarta, 13 Mei 2011
Okki Sutanto
(hari ini Jumat Kliwon, tanggal 13, dan saya sama sekali gak merasa sial)

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s