Dua Puluh Lima

Dua puluh lima tahun rasanya bukan waktu yang sedikit. Seperempat abad. Dua setengah dekade. Tiga windu lebih sedikit. Sudah enam kali piala dunia berlangsung. Sudah lima presiden berganti. Harry Potter sudah tamat. Doraemon sebentar lagi. Dragon ball mungkin sudah tamat……beberapa episode. Dan untungnya Conan belum besar-besar juga! #apaan

Kadang di usia begini ini yang paling bingung itu harus melihat kemana. Melihat sekeliling, kok rasanya dunia berputar sedemikian cepatnya ya. Ujung-ujungnya minder. Si A sudah menikah. Si B sudah tunangan. Si C sudah lahiran anak kesekian. Si D sudah jadi manager di sana. Si E sudah punya toko di situ. Raffi Ahmad sudah nikah ditayangin di televisi dua hari non-stop. Jokowi sudah dilantik jadi presiden. Lha saya masih di sini-sini saja. (?)

Melihat ke belakang, nanti dikira tidak bisa move on. Lagi-lagi urusan itu. Lagi-lagi kegagalan itu. Lagi-lagi tertipu. Lagi-lagi usaha hancur lebur. Lagi-lagi seakan kembali ke kilometer nol setelah lari ngos-ngosan mengusahakan segala daya upaya. Sampe kapan sampe hah?

Melihat ke depan, kok rasanya sudah capek mencoba menerawang-menerawang. Trauma, mungkin. Padahal kata Dahlan Iskan kalau jadi pengusaha belum ditipu itu gak akan sukses. Berarti saya sudah satu langkah lebih dekat menjadi pengusaha sukses ya. Tapi ya tetap saja jadi takut dan ragu. Apalagi kalau konsekuensinya sebesar yang sudah-sudah. Ngeri luar biasa. Usia segini kewajiban finansial mencekik leher macam bapak dua anak yang lagi nyicil rumah, mobil, dan biaya nikah istri kelima. Singkatnya sih I took risk and risk took me, all of me. Siapa juga yang gak trauma. Siapa juga yang gak depresi.

Melihat ke atas nanti dikira terburu-buru. Belum saatnya menghadap kok sudah melihat-lihat saja. Nanti yang seharusnya belum waktunya malah dibikin sudah waktunya. Kan jadi bahaya. Sama-sama gak enak. Nah, begitulah kira-kira bingungnya menjejak usia baru ini.

Yah, bagaimanapun yakin saja deh, Yang Di Atas merencanakan yang terbaik. Dan bersyukur saja, sudah bisa berada di mana sekarang berdiri. Sudah mereguk apa yang mungkin orang-orang lain seumur hidup tak akan berkesempatan pelajari. Sudah bisa mengecap bangku pascasarjana di saat banyak orang belum sanggup mengusaikan kesarjanaannya. Sudah bisa ini itu.

After all, in the end we’d be more regretful about chances we didn’t take, than stupid things we did in life.

Manusia paling bahagia juga bukan mereka yang memiliki semuanya di dunia ini, kan. Biasanya yang bahagia justru yang bisa merasa tercukupi akan apa yang dimiliki. Tercukupi dalam keterbatasan, menurut Filipi 4:11.

Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.  Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.  Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Maka ya saya bersyukur. Atas segala yang telah tercapai. Atas kehadiran keluarga yang selalu melengkapi. Atas kehadiran EPS yang kian menyempurnakan. Akan kehadiran segala masalah dan tantangan yang mendewasakan dengan cara yang tidak selalu nyaman dan bersahabat. Terima kasih Tuhan, atas dua puluh lima.

Jakarta, 21 Oktober 2014

Okki Sutanto.

One thought on “Dua Puluh Lima”

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s