Jakarta Malam

Suatu sore beberapa waktu lalu, saya ke kampus naik ojek. Saya lupa kenapa. Entah motor sedang rusak atau dipinjam, atau karena pergelangan tangan sedang sakit jadi tidak mungkin naik motor. Mobil? Jelas bukan pilihan bijak di saat kuliah dimulai saat jam three-in-one, di Sudirman pula.

Rencananya sih pulang kuliah mau menebeng teman kuliah yang kebetulan rumahnya di Sunter juga. Apa daya nasib tidak mempertemukan kami, teman saya malah tidak masuk kuliah. Mau pulang naik busway? Tidak bawa kartu Flazz. Mau naik taksi? Mahal. Ojek lagi? sama saja. Kalau tidak salah, memang uang di dompet tinggal sebelas ribu dan di ATM sekitar lima puluh enam perak, hari itu. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah dengan… berjalan kaki!

Jalan jam sepuluh malam dari kampus, sekitar jam dua pagi saya tiba di rumah. Capek? Sangat. Apalagi cukup banyak bawaan di tas termasuk laptop dan beberapa buku kuliah. Berkeringat? Wah, tentunya. Sekujur tubuh basah oleh keringat, dan kaki pegal luar biasa.

Namun saya amat menikmati malam itu. Menyusuri Sudirman di jam segitu amat berbeda dengan pagi dan sore hari. Melihat para pekerja bangunan beristirahat dan meminum kopi di trotoar, melihat para petugas kebersihan meyisir jalanan yang lowong, melihat para tukang minuman instan menyusuri jalan dengan sepeda dan dagangan mereka, melihat bundaran HI dipenuhi pasangan yang pacaran dan anak muda yang sibuk berfoto, oh nikmat juga.

Monas juga masih hidup di tengah malam. Angkringan bertebaran dan para anak muda nongkrong di sana, meski tentunya tidak sesedap angkringan jogja. Dari seberang istana sampai dekat Gambir, masih banyak yang duduk-duduk di bangku taman atau di emperan trotoar.

Lalu Istiqlal dan Kathedral. Oh, betapa cantiknya mereka di malam hari. Sunyi tanpa bising kendaraan bermotor. Dan kita bisa menikmati indahnya arsitektur mereka tanpa terdistraksi. Sayang di pinggiran Istiqlal luar biasa gelapnya, beberapa lampu penerangan tentu bisa membantu di sana.

Tak terasa saya sampai di Pasar Baru. Deretan bajaj dan para sopir terlelap di dalamnya. Pun sejumlah taksi dan ojek. Mereka begitu menyatu dengan kendaraan masing-masing, seakan itu adalah rumah mereka dan disanalah mereka bisa beristirahat dengan nyaman.

Kemayoran, ya begitulah. Di dekat Rumah Susun itu kehidupan muda-mudi dan motor-motor kesayangan mereka tak pernah mati. Berkumpul, bercecanda, dan menikmati jajanan malam yang masih buka, seakan akhir pekan. Atau mungkin bagi mereka setiap hari adalah akhir pekan? Entahlah.

Tak terasa saya sampai rumah. Senyap, semua orang sudah tidur. Saya pun langsung meneparkan diri di lantai. Ternyata Sudirman – Sunter tidak sejauh itu. Cuma butuh waktu sekitar tiga jam. Lama memang, namun saya tidak menyesal. Ada keindahan dan kenikmatan yang saya rasakan dan alami. Semoga lain kali bisa mengulang pengalaman tersebut, tentunya dengan rute yang berbeda, dan bawaan yang lebih sedikit.

Jakarta, 25 Oktober 2014.

Okki Sutanto.

Kirim Komentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s